Bocah Premiere, Jakarta, 22 Oktober 2026 — Hari kedua Jakarta Film Week 2026 menghadirkan beragam pengalaman sinema, mulai dari Masterclass bersama legenda film aksi Hong Kong, Sammo Hung, pemutaran lima film Jakarta Film Fund, hingga diskusi mengenai kolaborasi dan peluang industri film internasional.
Sammo Hung Berbagi Pengalaman tentang Sinema Aksi Hong Kong
Sammo Hung menjadi salah satu sorotan melalui Masterclass bertajuk Encounters of the Martial Mind: A Masterclass with Sammo Hung di Audi 2 CGV Grand Indonesia yang dihadiri lebih dari 300 peserta. Dalam sesi tersebut, ia berbagi pengalaman mengenai koreografi pertarungan dan pentingnya kreativitas dalam membangun adegan aksi yang menarik.
“Good choreography takes more than skill. You have to use your brain to make every action interesting,” ujar Sammo Hung. Ia menekankan bahwa koreografi aksi tidak hanya bergantung pada keterampilan fisik, tetapi juga pada kemampuan berpikir kreatif untuk merancang setiap gerakan agar memiliki daya tarik. Dalam sinema aksi, setiap gerakan perlu dipertimbangkan dengan cermat agar tidak sekadar terlihat spektakuler, tetapi juga mendukung karakter dan memperkuat cerita yang disampaikan melalui layar.
“Menakjubkan banget. Saya sudah menjadi penggemar Sammo Hung sejak lama, jadi bisa melihat beliau secara langsung adalah pengalaman sekali seumur hidup. Mendengar cerita-cerita dari perjalanan hidup dan karier beliau juga sangat menginspirasi, dan membuat pengalaman Masterclass ini terasa semakin istimewa bagi saya,” ungkap Jonathan, salah satu peserta pada sesi tersebut.
Jakarta Film Fund 2026 Hadirkan Lima Cerita
Dari pengalaman menyimak perjalanan seorang legenda sinema, Jakarta Film Week juga memberi ruang bagi generasi sineas berikutnya untuk memperkenalkan cerita mereka. Melalui Jakarta Film Fund 2026, lima film pendek ditayangkan di CGV Grand Indonesia pada 22 Oktober dan disaksikan oleh 194 penonton.
Kelima film yang berkompetisi untuk Jakarta Film Fund Award mengangkat beragam persoalan, mulai dari lingkungan hingga hubungan antar manusia. The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan menyoroti kehidupan warga Tambora di tengah cuaca ekstrem dan kebakaran lahan. Seethe karya David Darmadi mengangkat pencemaran Sungai Ciliwung, sementara Tendangan Bebas karya Adam Nur Firman mengikuti impian anak-anak bermain sepak bola di tengah keterbatasan ruang.
Dua film lainnya menghadirkan perspektif berbeda: On a Bright Blessed Day karya Hadafi Raihan Karim berlatar Kepulauan Seribu, sedangkan First Step karya Jessica Rai mengisahkan proses menghadapi kehilangan melalui komunitas tari baris lansia.
Sebagai program pengembangan sineas muda, Jakarta Film Fund menyediakan pendanaan produksi dan pendampingan profesional, mulai dari penulisan skenario hingga penyuntingan film.
Kolaborasi Internasional dan Pengembangan Industri
Jika Jakarta Film Fund membuka ruang bagi cerita yang tumbuh dari lingkungan lokal, Next Step Studio Indonesia memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas negara dapat mempertemukan perspektif kreatif yang berbeda.
Empat film pendek melalui program ini, Annisa, Holy Crowd, Original Wound, dan Mothers Are Mothering—diproduksi oleh KawanKawan Media melalui kolaborasi Indonesia–Prancis. Keempatnya sebelumnya menjalani pemutaran perdana dunia di Cannes Critics' Week pada Mei 2026. Film-film tersebut mengeksplorasi tema agama, trauma keluarga, disabilitas, patriarki, dan seksualitas melalui pendekatan sinematik yang beragam.
Pertemuan perspektif tersebut juga menjadi bagian dari JFWNET—Industry Program, yang menghadirkan ruang diskusi dan pengembangan kapasitas bagi pelaku industri film. Dalam Masterclass Scriptwriting bersama Jérémie Dubois, peserta diajak melihat identitas budaya dan pengalaman personal sebagai kekuatan dalam penulisan cerita.
“Write about your own culture. What makes your story unique is what can make it interesting to the world,” ujar Jérémie.
Sementara itu, diskusi mengenai peluang industri film Hong Kong membahas pentingnya kemitraan internasional untuk memperluas jangkauan karya tanpa kehilangan identitas cerita lokal. Semangat kolaborasi ini turut dihadirkan melalui program yang dipersembahkan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Di sisi lain, film penutup menjadi puncak perayaan sinema Jakarta Film Week 2026, sementara kemitraan dengan Vidio memperluas akses penonton terhadap film melalui platform digital.
Dalam lingkup kolaborasi internasional yang lebih luas, Jakarta Film Week turut bekerja sama dengan Motion Picture Association (MPA) dalam rangkaian kegiatan bersama American Film Night di Park Hyatt Jakarta.
Dari The Dating Menu hingga Eksplorasi Sinema dan Seni Imersif
Di luar ruang diskusi industri, rangkaian pemutaran Jakarta Film Week 2026 menghadirkan pengalaman yang beragam, baik melalui kedekatan emosional dengan karakter maupun eksplorasi bahasa visual.
Dalam sesi tanya jawab The Dating Menu di CGV fX Sudirman, aktris Rachel Leung mengapresiasi sambutan penonton Indonesia terhadap film tersebut.
“Seeing Indonesian audiences embrace The Dating Menu is truly heartwarming. It's wonderful to see the growing appreciation for Hong Kong cinema and the stories we have to share,” ujar Rachel.
Rachel turut berbagi proses mendalami karakter Zelda dengan mencari “the true Zelda in life” agar karakter tersebut terasa autentik dan manusiawi. Film ini mengeksplorasi kesepian dan pencarian koneksi emosional melalui pengalaman kencan dan makanan.
Pengalaman menonton yang berbeda hadir melalui Eruptjca, yang menawarkan pendekatan visual di luar penceritaan konvensional. Aspek rasio gambar yang tidak memenuhi seluruh layar bioskop menjadi salah satu elemen yang menarik untuk diamati. Sementara itu, pemutaran Nobody Loves Kay dalam program Direction Award menghadirkan suasana haru di bioskop, memperlihatkan bagaimana cerita dan karakter dapat membangun kedekatan emosional dengan penonton.
Eksplorasi pengalaman sinematik juga meluas ke seni imersif melalui JFW Vision di Taman Ismail Marzuki pada 22 Oktober. Program ini mencakup VR Workshop di Teater Djuman Djaya dan pameran di Ruang Serbaguna TIM. Salah satu karya yang ditampilkan, The World Came Flooding In garapan Isobel Knowles dan Van Sowerwine, memadukan miniatur kardus dan rekaman suara penyintas banjir untuk mengeksplorasi memori dan pengalaman manusia menghadapi bencana.
Sementara itu, Cine-Concert: Opera Jawa mempertemukan visual sinematik Garin Nugroho dengan musik langsung dari Kuntari. Film yang dirilis pada 2006 ini mengisahkan cinta segitiga antara Setyo dan Siti, pasangan suami istri, dengan Ludiro, lelaki kaya raya yang diam-diam mencintai Siti. Dibintangi Artika Sari Devi, Martinus Miroto, dan Eko Supriyanto, serta ditulis oleh Garin Nugroho dan Armantono, Opera Jawa kembali menghadirkan pengalaman sinema melalui perpaduan visual, kritik sosial, dan musik secara langsung.
Program lainnya, termasuk Trick, The Forbidden City, film pendek, animasi, Fantasea, dan JFW Vision VR Exhibition, turut melengkapi pilihan tontonan bagi penonton dengan minat yang beragam.
Jakarta Film Week 2026 berlangsung hingga 25 Oktober 2026. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan film-film yang membuka perspektif baru, merasakan cerita yang menggugah, dan bertemu dengan beragam pengalaman melalui sinema. Pilih film yang ingin Anda temukan dan jadilah bagian dari pertemuan cerita, pembuat film, dan penonton di Jakarta Film Week 2026.
TENTANG JAKARTA FILM WEEK
Jakarta Film Week merupakan festival film tahunan yang digagas pada 2021 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta untuk mendukung perkembangan perfilman Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Setiap tahunnya, Jakarta Film Week menghadirkan film dari Indonesia dan berbagai negara melalui rangkaian pemutaran, diskusi, masterclass, program industri, hingga kegiatan komunitas. Lebih dari sekadar festival, Jakarta Film Week juga menjadi ruang bagi pembuat film untuk berkembang, bertemu, dan membangun koneksi di dalam ekosistem perfilman.
TENTANG JFWNET—Industry Program
JFWNET—Industry Program merupakan program paralel Jakarta Film Week yang menjadi ruang pertemuan dan pengembangan bagi para pelaku industri film Indonesia. Melalui berbagai program seperti lab, workshop, talks, focus group discussion, dan pitching forum, JFWNET—Industry Program mempertemukan filmmaker, produser, festival, distributor, pendana, dan pelaku industri lainnya untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan proyek, serta membuka peluang kolaborasi.
NARAHUBUNG
- Website: www.jakartafilmweek.com
- Instagram: @jakartafilmweek
- X: @jakartafilmweek
- TikTok: @jakartafilmweek
- Facebook: Jakarta Film Week
- Whatsapp: Fairuza Hanun (+62 819-0819-4455)
- Email: media@jakartafilmweek.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar