Selasa, 26 Agustus 2025

Video Manifesto 25 Tahun Andien Berkarya Hadirkan Konser Tunggal Suarasmara Selebrasi untuk Legacy Musik Indonesia

Jakarta, 25 Agustus 2025—Bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 25 Agustus, Andien, salah satu penyanyi berbakat Tanah Air yang kariernya telah membentang sejak 2000 hingga kini, merilis sebuah video manifesto 25 tahun perjalanannya bermusik. Dalam video manifestonya yang disutradarai oleh Shadtoto Prasetio, kisah dimulai ketika Andien berbaring di sofa terapis, merenungkan apa yang membuatnya terus berjuang. 

Dari sana, Andien menyelami imajinasinya, membawanya ke serangkaian rintangan, dan bertemu dengan versi-versi berbeda dari dirinya dari berbagai era musiknya. Dimulai dari era Y2K, jazz, hingga disko. Kembali ke dunia nyata, ia menemukan kejernihan: kecintaannya pada musik dan keteguhan hatinya yang tak tergoyahkanlah yang mendorong perjalanannya. 

Dibalut dengan gaya avant-garde yang menonjolkan pendekatan eksperimental, video manifesto 25 tahun bermusik Andien membawa sentuhan personalnya yang selalu dikenal sebagai salah satu sosok yang paling terdepan dalam mode dan keberaniannya dalam menampilkan eksperimentasi gaya busananya. 

Video manifesto tersebut juga memberikan penghormatan pada era-era yang berbeda, yang menyilangkan antara realitas dan dunia surreal, dengan tempo yang dinamis. Memberikan kesan yang penuh energik seperti gerak musik Andien yang terus berevolusi. 

“25 tahun adalah perjalanan yang panjang. Penuh dengan tantangan dan dinamika. Video manifesto ini menjadi persembahan bagi saya untuk industri musik Indonesia yang terus berevolusi dari masa ke masa, dan selalu menemukan bakat-bakat dan bentuk baru setiap era, dan dalam beragam genre. Setiap era musik Indonesia memiliki cerita, dan saya bersyukur bisa berada ada di dalam dan menjadi bagiannya,” ujar Andien tentang video manifesto 25 tahun bermusiknya

Konser Tunggal Suarasmara 

Dalam video manifestonya, Andien juga mengumumkan konser tunggal bertajuk Konser Suarasmara, yang juga akan menjadi penanda 25 tahun bermusik Andien. Konser Suarasmara adalah sebuah tonggak, yang bukan saja menyajikan konser namun juga menjadi perayaan hidup, cinta, dan perjalanan penuh dampak.

“Melalui Konser Suarasmara, saya ingin mengajak pendengar musik saya dan pencinta musik Indonesia untuk merayakan perjalanan 25 tahun saya di industri musik Indonesia. Sebuah perayaan yang juga akan membawa kembali pada era-era musik yang telah saya lalui, dari jazz, pop, hingga disko. Tentunya juga kolaborasi lintas genre dan penghormatan pada masa-masa sebelumnya yang selalu memberikan inspirasi saya untuk terus melangkah,” kata Andien

Selama 25 tahun, Andien telah mengeksplorasi berbagai era musik dari jazz, pop, disko hingga kolaborasi lintas genre. Konser Suarasmara menjadi panggung monumental yang merangkum evolusi Andien, sebuah persembahan untuk merayakan perjalanan panjang sekaligus membuka babak baru. 

Deretan kolaborator, tanggal dan lokasi serta detail Konser Suarasmara akan diumumkan dalam waktu dekat melalui media sosial Andien. 

Dalam perjalanan 25 tahun bermusik, Andien telah merilis delapan album penuh studio. Dimulai dari debut Bisikan Hati (2000), album sophomore Kinanti (2002) yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai karya visioner dan menjadi pintu masuk bagi banyak karya dan musisi jaz di industri mainstream, serta album populer seperti Gemintang (2005) yang melahirkan hit seperti Milikmu Selalu dan Gemintang

Pada 2018, Andien juga mencapai tonggak terbarunya lewat album Metamorfosa (2017) yang memenangkan Album Jazz Terbaik Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards. Penghargaan tersebut sekaligus menggenapi perolehan Piala AMI Awards milik Andien sebanyak 9 Piala di berbagai kategori. 

Di luar karier musiknya, Andien juga mendedikasikan dirinya pada isu-isu sosial dan lingkungan. Dedikasi ini menginspirasinya untuk mendirikan Andien Aisyah Foundation, sebuah organisasi yang berbakti untuk membawa dampak positif bagi manusia dan bumi. 

Ikuti informasi terbaru tentang Andien dan Konser Suarasmara melalui akun media sosial Instagram @andien dan TikTok @andienaisyah. Nantikan Konser Suarasmara Andien pada tahun ini!

Senin, 25 Agustus 2025

Gala Premiere LINTRIK ILMU PEMIKAT, Film Horor Bernuansa Psikologis Berlokasi Syuting di Banyuwangi


Jakarta, 25 Agustus 2025 - Banyaknya tema Horor yang menghiasi bioskop Indonesia sepanjang tahun membuat rumah produksi Prama Gatra Film yang bekerja sama dengan Rumah Semut Film mencoba menggali potensi yang berbeda untuk genre ini lewat sebuah tema kearifan lokal budaya khususnya di daerah Banyuwangi. Melalui Film berjudul Lintrik : Ilmu Pemikat, penonton akan dibawa pada sebuah alur kisah misteri yang membawa ketegangan dari suasana dan tersusun dari kepingan kepingan adegan yang akan terjawab di akhir film.

Ide film Lintrik bermula di akhir tahun 2022 ketika Bu Asye Siregar selaku produser Prama Gatra Film diperlihatkan oleh pimpinan produksi Hasan Chow sebuah Film pendek di youtube berjudul Lintrik – Janakim Series, karya anak-anak komunitas film di Banyuwangi. Tak lama kemudian kelompok pembuat film daroi Banyuwangi ini kemudian di ajak bekerjasama secara resmi dan terlibat di dalam pembuatan film Lintrik versi bioskop ini. Mereka juga menjadi konsultan ataupun penasehat untuk hal-hal berbau budaya dan social yang ditampilkan di dalam film ini termasuk ketika penulisan skenario.


Lintrik sendiri adalah sejenis ilmu pelet atau pengasihan Jawa kuno yang memiliki efek cepat dan sangat kuat bahkan bisa menarik korbannya meskipun berada di luar negeri, namun bersifat hanya sementara. Perbedaannya dengan pelet adalah jika pelet bisa dilakukan secara ritual sendirian oleh pelakunya berbeda dengan lintrik tidak bisa dilakukan oleh semua orang karena hanya bisa dilakukan oleh seorang dukun wanita yang sudah melakukan ritual tertentu tentang lintrik ini. 

Penulisan skenario berjalan hingga di pertengahan tahun 2023 lalu syuting mulai di lakukan langsung di sebagian Jakarta dan lebih banyak di Banyuwangi Karena syuting ini dilakukan resmi dengan ijin Pemda Banyuwangi maka kami di ijinkan untuk mengambil gambar juga di festival Banyuwangi dan salah satu adegannya juga akan masuk kedalam film.

Selain lokasi di Banyuwangi film Lintrik juga melibatkan beberapa aktor asli Banyuwangi di antaranya Sang Maestro tari Gandrung yang tersisa, yakni Mak Temu Misti. Selain itu ada juga seniman senior Banyuwangi Mas Yon DD. Mereka akan menggunakan bahasa Osing, yakni bahasa asli Banyuwangi.

Sementara itu beberapa artis Nasional yang turut mendukung film Lintrik ini adalah:
1. Meisya Amira
2. Yatti Surachman
3. Donny Damara
4. Karina Icha
5. Fannita Posumah
6. Akbar Nasdar
7. Teguh Ryder
8. Mak Temu Misti
9. Yons DD
10. Pieter Ell
11. Imam Sofian
12. Thonce Weraso
13. Kuncoro
14. Alam Konawe
15. Dwi Ikawati


Beberapa obyek wisata indah di Banyuwangi juga ditampilkan di film ini seperti hutan De Djawatan, Patung Terakota, Pantai, hingga pusat kota.

Film Lintrik akan menawarkan sesuatu yang berbeda karena film ini bukan jenis Film Horor yang biasanya mengandalkan pada penampakan hantu dan cenderung menakut-nakuti saja dengan jumpscarenya namun lebih menitik beratkan juga pada Horor bernuansa psikologis karakter utamanya dengan bumbu misteri yang hanya bisa terjawab di akhir film. Menyajikan kisah menyentuh tentang Sari yang berusaha menjalani kehidupan normal bermimpi menjadi ibu rumah tangga kaya namun dengan cara melintrik cinta pertamanya dulu yang kini sudah beristri. Dari sinilah konflik bergulir yang memaksa Sari masuk ke dalam sebuah konspirasi besar yang hanya akan terjawab di ending filmnya nanti. Jadi kekuatan cerita menjadi andalan dalam film ini, seluruh adegan mempunyai informasi penting, karena itu jika melewatkan satu adegan saja bisa akan memutus seluruh informasi yang ada dalam film secara berkaitan pada akhir film nanti. 

Film Lintrik merupakan film kolaborasi antara Prama Gatra film bekerjasama dengan Rumah Semut Film yang di sutradarai oleh Irham Acho Bahtiar sutradara yang selama ini banyak di kenal menghasilkan karya-karya komedi Nasional seperti Epen Cupen the Movie dan Security Ugal-ugalan dan juga sering mengangkat beberapa film dari berbagai daerah di Indonesia seperti Papua dan Makasar. Sebelumnya bersama Prama Gatra Film juga mereka pernah bekerja sama membuat film Horas Amang yanng bertema keluarga Batak.


Film Lintrik akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 11 September 2025.

Rabu, 20 Agustus 2025

Trailer dan Poster Resmi Perempuan Pembawa Sial Resmi Dirilis, Angkat Mitos Bahu Laweyan: Kutukan Perempuan Yang Sudah Menikah


Trailer resmi Perempuan Pembawa Sial memperlihatkan sosok Mirah (Raihaanun) yang harus menanggung kutukan Bahu Laweyan. Kehidupannya dihantui oleh masa lalu dan ia dianggap membawa sial oleh masyarakat sekitarnya. Bahkan, suaminya dibunuh dengan tragis setelah menyaksikan penampakan menyeramkan: delman dengan kusir tanpa kepala dan kain laweyan yang menari di kegelapan malam. Melalui narasi menegangkan tersebut, film ini tak hanya menghadirkan horor mencekam, namun juga menggali kearifan lokal dan mitos Indonesia yang jarang diangkat di layar lebar.

Sutradara Fajar Nugros menyampaikan kesannya kembali membuat film horror setelah Inang (2022). "Ketika membuat Perempuan Pembawa Sial, saya ingin membentuk pengalaman menonton yang mencekam sekaligus membawa budaya tradisional Indonesia kepada penonton modern. Indonesia memiliki banyak sekali mitos dan cerita rakyat yang unik dan patut untuk diperkenalkan ke masyarakat modern, saya harap Perempuan Pembawa Sial dapat memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya mencekam, namun otentik dan Indonesia sekali."

Sang eksekutif produser, Winston Utomo menambahkan bahwa Perempuan Pembawa Sial menghadirkan horor yang berbeda karena berakar dari budaya Indonesia. "Bahu Laweyan adalah mitos yang unik, jarang sekali terdengar, tetapi menyimpan filosofi yang dalam. Kami ingin memperlihatkan bagaimana budaya ini bisa menjadi sarana untuk menghadirkan horor yang otentik sekaligus relevan bagi penonton masa kini."

Sementara itu, pemeran utama Raihaanun mengungkapkan tantangan saat memerankan Mirah yang penuh penderitaan dan stigma. "Mirah adalah sosok perempuan yang berjuang melawan cap buruk dari masyarakat, sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kenyataan. Membawakan peran ini membuat saya belajar memahami bagaimana perempuan sering kali menjadi korban dari label yang tidak adil."


Dengan catatan sosial yang tajam, dibungkus dalam kengerian mitos kuno bahu laweyan, Perempuan Pembawa Sial menjanjikan pengalaman menonton yang berbeda: sebuah perjalanan menembus batas ketakutan dan prasangka.


Apakah kutukan Bahu Laweyan hanya sekadar cerita rakyat? Atau justru ia sedang menunggu untuk kembali menelan korban berikutnya? Segera dalam film Perempuan Pembawa Sial, tayang di bioskop Indonesia mulai 18 September 2025.

PRODUCTION NOTES PEREMPUAN PEMBAWA SIAL
Original Title : Perempuan Pembawa Sial
English Title : The Queen Of Witchcraft
Production Year : 2023
Duration (Minutes) : 97 Minutes
Director : Fajar Nugros
Producer : Susanti Dewi
Scriptwriters : Fajar Nugros, Husein M. Atmodjo
Executive Producers : Winston Utomo, William Utomo
Casting Directors : Team IDN Pictures, Ibnu Widodo ACI
Director Of Photography : Wendy Aga
Art Director : Angela Halim
Costume Supervisor : Fadillah Putri Yunidar
Key Makeup, Effect & Hair : Cherry Wirawan
Post-Production Manager : Luqman Thalib
Editor : Wawan Idati Wibowo
Colorist : Sorawich Khunpinij
Vfx : Aftertake Post Production, Skybox Digital, The Organism
Sound Recordist : Hasanudin Bugo
Sound Design & Mixing : Andre Harihandoyo
Music Composer : Ricky Lionardi

Selasa, 19 Agustus 2025

Teror Gaib Jin yang Jatuh Cinta dengan Manusia dalam Official Trailer dan Poster Film Horor Maryam: Janji & Jiwa Yang Terikat Claresta Taufan Tampil Beda dan Menyeramkan!

Jakarta, 19 Agustus 2025—26 tahun, Maryam hidup dalam belenggu teror. Sosok tak kasat mata mengikatnya dengan janji kelam, mengikuti setiap langkahnya, membisikkan kata-kata yang hanya bisa ia dengar. Semakin ia mencoba lepas, semakin kuat belenggu itu menjerat, hingga Maryam tak tahu lagi, apakah ia hidup atau sekadar menjadi milik sosok tersebut selamanya. 

Penampilan menyeramkan sekaligus berbeda ditampilkan aktris Claresta Taufan saat memerankan Maryam, dalam film horor terbaru persembahan VMS Studio yang bekerja sama dengan Legacy Pictures dan Mandela Pictures, Maryam: Janji & Jiwa Yang Terikat

Dalam official trailer, Claresta Taufan berhasil menampilkan karakter Maryam dengan dinamika emosi dan pergulatan batin yang membuat penonton merinding. Melihat Maryam linglung karena dicintai oleh sosok jin terkuat, membuat hidup Maryam berada dalam ambang waras. 

Sementara itu, official poster film Maryam menjadi representasi dari sebuah cinta yang tak kasat mata antara manusia dan jin yang paling kuat. Memberikan sisi kengerian dan misteri, serta sebuah bentuk yang berbeda dari genre horor Indonesia. 

Terinspirasi dari podcast viral Lentera Malam, film Maryam: Janji & Jiwa Yang Terikat disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, dari naskah yang ditulis oleh Lele Laila. Film yang diproduseri Tony Ramesh dan produser eksekutif Shalu T.M., film akan tayang pada 18 September 2025 di seluruh jaringan bioskop Indonesia. 

Film Maryam dibintangi Claresta Taufan bersama Wafda Saifan, Debo Andryos, Maryam Supraba, Rukman Rosadi, Shaqueena Medina, Ayu Dyah Pasha, dan Rahmet Ababil. 

“Ini adalah pengalaman paling horor aku dalam memerankan karakter. Aku sempat bertemu dengan Maryam asli dan mendengarkan kesaksiannya bagaimana ia menghadapi teror dari sosok yang mencintainya. Aku bener-bener harus sangat berhati-hati. Saat syuting, ada pantangan yang diterapkan, enggak boleh panggil namanya tiga kali,” cerita Claresta Taufan yang memerankan Maryam

“Cerita ini adalah bagian dari hidup saya dan saya ingin orang tahu, bukan untuk menakuti, tapi untuk memahami. Terima kasih untuk semua yang sudah mengangkat kisah ini, termasuk Claresta yang memerankan saya,” ujar Maryam, sosok asli yang mendapat teror dari jin yang jatuh cinta padanya.

Film ini sekaligus menjadi kolaborasi kedua bagi Kinoi dan Lele Laila, dua kreator yang selalu sukses dengan karya-karya horornya. Kinoi menerjemahkan naskah yang ditulis Lele dengan pendekatan yang mendorong batas-batas kreatif untuk menciptakan bentuk horor penuh teror yang berbeda. 

“Dalam setiap menggarap horor, saya selalu berusaha untuk menampilkan pendekatan yang berbeda dan selalu memberikan elemen baru. Dari naskah yang ditulis Lele, dengan kisah yang dialami Maryam dan kekuatan dari Claresta dan seluruh jajaran pemain, akan membuat Maryam sebagai horor yang atmosferik dan ketegangan yang lebih intens dan tak terlupakan,” ujar sutradara Azhar Kinoi Lubis

“Kualitas akting dan pendekatan baru dari Claresta Taufan dan Wafda Saifan bisa menjadi wajah baru horor Indonesia. Film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga kedalaman emosi dan spiritualitas,” tambah produser Tony Ramesh

Film Maryam: Janji & Jiwa Yang Terikat akan menyajikan kisah teror gaib dari jin yang jatuh cinta terhadap manusia. Cinta gaib yang menjadi kutukan emosional dan psikologis, yang bukan hanya sekadar menampilkan horor secara visual. 

Tonton film horor Maryam: Janji & Jiwa Yang Terikat pada 18 September 2025 di  di bioskop Indonesia! Ikuti terus perkembangan film horor Maryam: Janji & Jiwa Yang Terikat melalui akun Instagram @film.maryam dan @vmsstudioid. 

Viu dan MAXStream Studios Telkomsel Perkuat Kemitraan Strategis melalui Peluncuran Rintik Terakhir, Memantapkan Kepemimpinan Konten Streaming Indonesia

Viu dan MAXStream Studios memperkuat kolaborasi mereka melalui perilisan Rintik Terakhir, sekuel yang telah lama dinantikan dari drama populer Aku Tak Membenci Hujan.

Jakarta, 19 Agustus 2025 – Viu, platform OTT video streaming pan-regional terkemuka milik PCCW yang tersedia di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, bersama MAXStream Studios—divisi konten orisinal dari Telkomsel, penyedia layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia—hari ini mengumumkan penayangan perdana Rintik Terakhir pada 20 Agustus 2025. Sekuel yang sangat dinanti dari drama Aku Tak Membenci Hujan ini menjadi judul perdana dari empat serial drama hasil kerja sama produksi di bawah label baru “Viu | MAXStream Originals”.

Kolaborasi ini pertama kali diumumkan pada 24 Juni 2025 dalam Welcome Reception yang digelar Telkomsel pada ajang Asia-Pacific Video & OTT Summit (APOS) 2025, di mana Viu dan Telkomsel memaparkan rencana untuk memproduksi empat serial drama Indonesia “Viu | MAXStream Originals”. Rintik Terakhir menjadi rilis perdana dari kemitraan ini, yang akan tayang serentak di Viu—menjangkau penonton di 16 pasar—serta di MAXStream dan IndiHome TV. Kolaborasi ini memperluas jangkauan cerita lokal sekaligus menampilkan talenta kreatif Indonesia di panggung global.

“Dengan Rintik Terakhir, kami tidak hanya melanjutkan kisah yang dicintai banyak penonton, tetapi juga menetapkan standar untuk rangkaian konten strategis yang mengangkat narasi Indonesia bagi audiens global,” ujar Avijit Dutta, Country Manager Viu Indonesia. “Kolaborasi kami dengan MAXStream memungkinkan penggabungan wawasan lokal yang mendalam dengan jaringan distribusi yang kuat, memastikan cerita kami relevan bagi penonton sekaligus memberikan dampak bisnis yang terukur.”

“Telkomsel melalui MAXStream Studios bangga dapat berkolaborasi dengan Viu menghadirkan Rintik Terakhir, kisah yang merefleksikan keteguhan cinta di tengah pergulatan pribadi. Kemitraan ini menjadi perwujudan misi kami dalam menghadirkan hiburan berkualitas tinggi dan relevan yang dekat dengan hati audiens masa kini. Sebagai bagian dari komitmen Telkomsel untuk memperkaya gaya hidup digital masyarakat Indonesia, kami percaya serial ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga pengalaman emosional yang mendalam bagi penonton, sekaligus membuka jalur kolaborasi yang lebih luas bagi sineas dan talenta kreatif Indonesia untuk bersaing di panggung global,” ujar Lesley Simpson, Vice President Digital Lifestyle Telkomsel.

Rintik Terakhir melanjutkan perjalanan Karang (Jeff Smith) dan Launa (Aisyah Aqilla) sekaligus memperkenalkan lapisan emosi dan kedalaman psikologis yang baru. Drama ini mengikuti kisah cinta yang diuji oleh trauma, identitas yang retak, dan bayangan masa lalu. Ketika Karang terbangun sebagai Arutala, seorang remaja tuna rungu yang lahir dari trauma mendalam, Launa berjuang untuk menjangkau pria yang pernah ia cintai, hanya untuk terseret ke dalam dunia rahasia, rasa bersalah, dan sosok misterius dari masa lalu.

Alur cerita ini memadukan romansa, trauma, dan identitas, menghadirkan daya tarik bagi penggemar setia drama sebelumnya maupun penonton baru yang mencari cerita lokal berkualitas.

Kolaborasi Andalan untuk Mengakselerasi Pertumbuhan Audiens

Melalui delapan episode yang sarat emosi, Rintik Terakhir melanjutkan perjalanan Karang (Jeff Smith) dan Launa (Aisyah Aqilla) sekaligus memperkenalkan lapisan emosi dan kedalaman psikologis yang baru. Alur cerita memadukan romansa, trauma, dan identitas, menghadirkan daya tarik bagi penggemar setia drama sebelumnya maupun penonton baru yang mencari cerita lokal berkualitas.

Penayangan memanfaatkan eksklusivitas ganda di Viu dan MAXStream, didukung distribusi dan pemasaran terintegrasi melalui paket berlangganan bundel MyTelkomsel, sehingga memungkinkan akses lintas perangkat yang lancar dan memaksimalkan jangkauan audiens.

Memperkuat Posisi Indonesia dalam Ekspor Konten Regional

Melalui peluncuran Rintik Terakhir sebagai judul perdana “Viu | MAXStream Originals”, kedua perusahaan menargetkan untuk:

· Memperluas peran Indonesia sebagai pusat produksi konten di Asia Tenggara.

· Menghadirkan Intellectual Property (IP) lokal berkualitas tinggi dengan potensi distribusi internasional.

Seluruh drama “Viu | MAXStream Originals” akan tayang perdana secara eksklusif di Viu dua minggu sebelum hadir di MAXStream dan IndiHome TV, kemudian tersedia secara serentak di seluruh platform konvergensi Telkomsel dan pasar regional Viu di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Selatan.

Penonton dapat menyaksikan Rintik Terakhir melalui aplikasi Viu dan MAXStream yang tersedia di App Store, Google Play, beberapa smart TV, atau mengunjungi www.viu.com dan www.maxstream.tv. Paket berlangganan bundle tersedia melalui MyTelkomsel melalui .

Minggu, 17 Agustus 2025

Hari Ketiga BRI The BFF Festival 2025: Dari Perayaan Kemerdekaan hingga Musik Barasuara, Festival Ditutup dengan Meriah

Edukasi, kolaborasi, dan hiburan berpadu di hari terakhir BRI The BFF Festival 2025, menutup tiga hari festival dengan meriah.

Jakarta, 17 Agustus 2025 – Tepat di Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80, BRI The BFF(Beauty, Fashion, Fragrance) Festival 2025 menutup rangkaian acaranya dengan penuh makna. Hari ketiga dipenuhi dengan semangat nasionalisme, talkshow inspiratif, edukasi kecantikan dan fashion, hingga hiburan musik yang menggetarkan panggung.

Opening Ceremony “From Indonesia, with Love

Hari dimulai dengan perayaan HUT RI ke-80, diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama seluruh pengunjung dipandu oleh Hilary Pattikawa. Acara berlanjut dengan trunkshow karya terbaru dari Oemah Etnik, Bocorocco, dan Tulola, dipadukan dengan riasan dari Wardah dan Make Over. Klip “Wonderland Indonesia” turut ditampilkan, menegaskan nuansa kebanggaan akan budaya dan identitas lokal.

Talkshow “Beyond the Label: Building Brands with Meaning” bersama Salman Subakat

Dalam sesi yang dimoderatori Desy Bachir, Salman Subakat (Co-Founder Paragon Corp)membagikan perjalanan Paragon sejak 1985 dan lahirnya Wardah pada 1995. Ia menekankan pentingnya inklusivitas dalam membangun brand. “Perusahaan besar bukan hanya soal produk, tapi soal value dan people di baliknya. Visi jangka panjang dan konsistensi adalah kunci untuk bertahan hingga puluhan tahun,” ungkapnya.

“Glow in the Right Shades: Quick Personal Test to Uncover Your Perfect Palette Bersama Jilly”

Jilly sebagai Colour Analyst dan MUA, kembali hadir dengan sesi praktis personal color analysis. Peserta diajak mencoba langsung menentukan undertone dan palet warna terbaik. “80% first impression ditentukan oleh warna wajah. Dengan palet personal, kita bisa tampil lebih harmonis dan percaya diri,” jelasnya.

Talkshow “Glow Up at Every Age: Skincare for 20’s, 30’s, and 40’s” bersama dr. Arini Widodo

dr. Arini Widodo bersama kliennya, Junisa Aditya dan Novita Imelda, membahas tantangan kulit di berbagai usia. Dari jerawat di usia 20-an hingga penuaan di usia 40-an, Arini menekankan pentingnya pendekatan personal. “Skincare itu bukan hanya soal produk, tapi juga lifestyle dan kebiasaan sehari-hari. Basic skincare tetap jadi fondasi utama,” ujarnya.

Talkshow “How Women Entrepreneurs Navigate Declining Consumer Spending Power” bersama HIPMI Jaya Women Preneur

Sesi ini menghadirkan Tiara Adikusumah (Polka Cosmetic), Dania W. Utami (Adreena by DWU), dan Hana Mitra (TINAMITRA). Mereka berbagi strategi menghadapi penurunan daya beli. “Tidak ada yang instan. Semua harus konsisten dan membangun ekosistem yang saling support,” ujar Tiara. Hana menambahkan, “UMKM harus membuktikan bisa lebih dari sekadar bertahan, tapi juga berinovasi.”

Talkshow “From Fast to Forever: Rethinking The Way We Dress in The World That Needs Change” bersama Dino Augusto

Fashion Educator, Dino Augusto membahas dampak fast fashion dan urgensi sustainable fashion. “Kita bisa tampil keren tanpa harus menambah sampah tekstil. Beli barang bagus, pakai dalam jangka panjang, itu bentuk perubahan kecil yang berdampak besar,” jelasnya.

 BRI Lelang – iPhone 16 Pro Max

Antusiasme pengunjung memuncak dalam BRI Lelang, di mana pemenang berhasil membawa pulang iPhone 16 Pro Max dengan tabungan tertinggi mencapai Rp455 juta.

Sebagai penutup, Barasuara menghadirkan energi penuh lewat penampilan musik yang memukau. Ribuan penonton bergoyang bersama, menutup tiga hari festival dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Hari ketiga sekaligus penutup BRI The BFF Festival 2025 menghadirkan semangat kebangsaan, edukasi lintas generasi, hingga hiburan yang memikat. Selama tiga hari,festival ini telah mempertemukan ratusan brand lokal, menghadirkan puluhan sesi inspiratif, dan menghibur ribuan pengunjung. BRI The BFF Festival menegaskan perannya sebagai panggung utama industri kecantikan, fashion, dan fragrance Indonesia.

Sabtu, 16 Agustus 2025

Film Horor MVP Pictures Karya Randolph Zaini Dia Bukan Ibu Berkompetisi di Fantastic Fest 2025

Film Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) tayang 25 September 2025 di seluruh bioskop Indonesia. 

Jakarta, 15 Agustus 2025—Kabar baik datang dari Amerika! Film horor terbaru MVP Pictures yang disutradarai Randolph Zaini, Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) resmi terpilih sebagai official selection Fantastic Fest 2025. Fantastic Fest adalah festival film genre terbesar di Amerika Serikat, yang akan digelar pada 18-25 September di The Alamo Drafthouse South Lamar di Austin, Texas. Festival film ini berfokus pada film-film genre seperti horor, fantasi, fiksi ilmiah, aksi, dan film-film fantastis. 

Dalam edisi ke-20 festival, Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) akan menjadi satu dari 45 film yang melakukan world premiere (penayangan perdana), dari total 78 film yang akan diputar selama festival. 

Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) masuk dalam program Next Wave Competition dan akan berkompetisi dengan enam judul film dari berbagai negara. Para juri terdiri dari di antaranya aktor, sutradara, produser, penulis, tokoh di industri film dan festival, seperti Patton Oswalt, sutradara dan musisi Fred Durst, penulis Otessa Moshfegh, sutradara Aaron Schimberg dan Mercedes Bryce Morgan, serta produser Brandon Hill. 

“Kami percaya bahwa cerita di film ini memiliki universalitas dengan audiens global, dibalut dengan genre horor yang juga menjadi bahasa universal kita saat ini dalam menikmati sebuah film. Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) dari Randolph akan memberikan kengerian penonton di Fantastic Fest tentang sisi tergelap manusia, dan semoga menjadi awal yang baik sebelum filmnya tayang di Indonesia pada 25 September,” ujar produser Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) Amrit Punjabi

“Merasa terhormat film Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) bisa menjadi bagian dari salah satu festival film genre terbesar di dunia, dan bertemu dengan penonton global. Kepercayaan dari MVP Pictures telah memberikan saya keleluasaan dalam berkarya dan bereksplorasi melalui genre horor yang dibalut dengan cerita drama,” tambah sutradara Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) Randolph Zaini.

Film Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) mengikuti kisah Vira dan keluarganya, yang pindah ke kota kecil untuk memulai hidup baru setelah mengalami masa-masa yang sulit. Namun ada kekuasaan gelap yang menghinggapi ke keluarganya dan memaksa mereka untuk menghadapi ketakutan paling mendasar mereka. 

Terinspirasi dari kisah utas (thread) di Twitter/X milik @jeropoint yang viral, dan naskahnya ditulis oleh Randolph bersama Titien Wattimena, film ini diproduseri oleh Raam Punjabi dan Amrit Punjabi. Film ini dibintangi oleh Artika Sari Devi, Aurora Ribero, Ali Fikry, Kivano Iskak, dan Sita Nursanti. 

Ikuti terus perkembangan film horor terbaru persembahan MVP Pictures, Dia Bukan Ibu melalui akun Instagram @mvppictures_id. Film horor Dia Bukan Ibu tayang 25 September 2025 di bioskop!

Dibintangi Adhisty Zara & Devano, Video First Look Film Rumah Singgah Ditonton 4 Juta Orang hanya dalam 1 Hari

​ Film Rumah Singgah produksi bersama SENARA, Mandela Pictures, dan Limelight Pictures akan tayang bulan Agustus di bioskop Indonesia ​ Jak...