Senin, 31 Agustus 2026

Imperial Pictures garap “GHOSTHING”, Baskara Mahendra, Yasamin Jasem, Leony VH Bertemu dalam Komedi Horor

Jakarta, 30 Agustus 2026 — Imperial Pictures, Eksekutif Produser Peter Surya Wijaya kembali merilis film layar lebar terbarunya berjudul “GHOSTHING”, sebuah komedi horor yang mengangkat cerita tentang misteri, pencarian kebenaran, dan dinamika unik antara seorang perias jenazah dengan arwah influencer muda.

​Eksekutif Produser, Peter Surya Wijaya menghadirkan “GHOSTHING”. Film ini disutradarai oleh Arie Aziz dan diproduseri oleh Hartawan Triguna, Associate Produser Rizky A. Prakoso dengan naskah yang ditulis oleh Evelyn Afnilia.

​“GHOSTHING” menghadirkan jajaran pemain lintas generasi. Baskara Mahendra dipercaya memerankan Alfian, seorang perias jenazah muda yang tampan, dan tenang. Sementara Yasamin Jasem berperan sebagai Maya, seorang influencer muda yang tewas secara misterius, cerewet, sarkastik, dan penuh drama.

“Menurut saya, premis ‘GHOSTHING’ sendiri sudah sangat menarik. Ada seorang perias jenazah yang pekerjaannya justru membantu menyelesaikan masalah orang yang sudah meninggal. Buat saya, karakter Alfian inilah yang membuat perjalanan ceritanya menjadi menarik, karena di tengah situasi yang kompleks, dia justru harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Baskara Mahendra, pemeran Alfian dalam film “GHOSTHING”.

“Maya itu sosok yang sarkas, centil, dan tidak bisa menerima kematiannya. Sejak bertemu Alfian, dia mulai mengusik kehidupan Alfian dengan berbagai tingkahnya. Tapi sebenarnya, apa yang membuat Maya begitu ngotot mencari tahu tentang kematiannya?” ujar Yasamin Jasem, pemeran Maya dalam film “GHOSTHING”.

​Film ini juga turut diperkuat oleh kehadiran aktor dan aktris ternama seperti Leony VH, Bang Tigor, Reinold Lawalata, Chika Waode, Siti Fauziah, Iyang Darmawan, Tanta Ginting, Mathias Muchus, hingga Mona Ratuliu.

Ketika Kematian Misterius Membawa Arwah Dramatis

​Cerita berpusat pada Alfian yang kehidupannya yang tenang seketika terusik saat ia harus merias jenazah Maya. Arwah Maya yang dramatis menolak pergi dan memilih untuk “menghantui” Alfian.

“Awalnya kami berpikir sederhana, bagaimana kalau ada orang yang ketika meninggal justru tetap merepotkan orang-orang di sekitarnya? Dari pemikiran itu kemudian kami berdiskusi dan mengembangkannya bersama penulis hingga menjadi sebuah skenario. Setelah draft ketiga, kami lemparkan kembali untuk mendapatkan masukan dan mengembangkan beberapa bagian cerita serta karakter. Dari proses diskusi dan pengembangan itulah kemudian lahir cerita ‘GHOSTHING’ seperti yang sekarang,” ujar Hartawan Triguna, Produser Film GHOSTHING.

​Kehadiran para pemain diharapkan membuat unsur komedi dalam film terasa hidup dan organik, baik melalui benturan karakter yang kontras antara Alfian yang serba tenang dan arwah Maya yang ekspresif, maupun melalui situasi yang unik mulai muncul di sekitar dunia perias jenazah.

Komedi Horor dengan Premis yang Unik

​Meski dibalut dalam genre komedi horor, “GHOSTHING” membawa warna yang menyegarkan bagi industri film Indonesia. Kombinasi misteri seputar penyebab kematian, fenomena influencer di era modern, serta profesi perias jenazah menjadi premis yang unik dan memikat.

​Di balik unsur komedinya yang renyah dan situasi mencekam, film ini juga membawa pesan emosional tentang rasa kehilangan, ikatan keluarga, dan perjuangan mencari keadilan.

“Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya menggarap komedi, tetapi yang membedakan ‘GHOSTHING’ adalah ceritanya tidak pure komedi. Ada elemen horor dan misteri yang berjalan bersama, sehingga tantangannya adalah bagaimana membuat kedua genre tersebut tetap seimbang dan bisa menjadi satu tontonan yang menarik,” ungkap Arie Aziz, Sutradara Film GHOSTHING.

​Apa yang membuat seorang arwah influencer terus mengusik kehidupan Alfian?

​Dengan perpaduan komedi, horor, konflik yang unik, serta jajaran pemain lintas generasi, Imperial Pictures berharap “GHOSTHING” dapat menjadi tontonan yang menghibur sekaligus berkesan bagi penonton film Indonesia saat tayang di bioskop pada 15 Oktober 2026.


GHOSTHING

Produksi: Imperial Pictures

Produser: Hartawan Triguna

Associate Produser: Rizky A. Prakoso

Sutradara: Arie Aziz

Penulis Naskah: Evelyn Afnilia

Genre: Komedi Horor

Tanggal Tayang: 15 Oktober 2026

Pemain:

Baskara Mahendra

Yasamin Jasem

Leony VH

Bang Tigor

Reinold Lawalata

Chika Waode

Siti Fauziah

Iyang Darmawan

Tanta Ginting

Mathias Muchus

Mona Ratuliu

Indian Akbar

Amel Carla

Suanggi: Ilmu Kutukan, Hadirkan Horor yang Terinspirasi dari Kisah Nyata Indonesia Timur ke Layar Lebar Tahun 2026

​Jakarta, 31 Agustus 2026 – Industri perfilman Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan kisah-kisah yang berakar pada kekayaan budaya Nusantara. Tahun ini, film Suanggi: Ilmu Kutukan hadir sebagai karya horor yang terinspirasi dari salah satu warisan budaya lisan masyarakat Indonesia Timur yang nyata dan ada sampai saat ini.

​Suanggi merupakan salah satu kisah yang dikenal luas di daerah Papua, Sulawesi, Maluku, NTT, NTB, dan sejumlah wilayah Indonesia Timur. Warisan budaya ini punya pengalaman berbeda di setiap daerah, ada yang mengenal Suanggi sebagai sosok nenek atau kakek tua, ada yang melihat mata merahnya, dan ada yang melihat dalam bentuk bola api, dan sebagainya. Melalui film ini, cerita tersebut diadaptasi secara kreatif sebagai karya fiksi yang menghormati nilai-nilai budaya lokal, sekaligus menyajikannya dalam narasi yang relevan bagi penonton masa kini.

​"Indonesia memiliki kekayaan cerita rakyat yang luar biasa dan layak mendapat ruang lebih luas di industri kreatif. Kami menelusuri dalam tentang Suanggi dan mencoba memadukan bagaimana budaya Indonesia Timur ini punya nilai universal yang dapat dinikmati siapa saja se-Nusantara karena film ini juga bicara tentang keluarga, kepercayaan, ketakutan, dan perjuangan manusia," ujar Dom Dharmo, Sutradara Film Suanggi: Ilmu Kutukan.

​Berbeda dari film horor pada umumnya yang banyak mengambil inspirasi dari mitos populer di Pulau Jawa, Suanggi: Ilmu Kutukan menghadirkan perspektif baru. Dari sisi produksi, Mutiara Films & Subtube Studio memadukan riset budaya, pengembangan karakter yang kuat, sinematografi yang menampilkan lanskap khas Indonesia Timur, serta tata suara yang dirancang untuk membangun atmosfer horor yang autentik.

​"Memang kami ingin cari suasana lain dari perfilman Indonesia, tidak itu-itu saja, dari Indonesia Barat. Kami mewakili bukan cuma Papua, tetapi mewakili orang Indonesia Timur. Suanggi itu adalah kekuatan yang amat berbahaya jika berada di tangan yang salah. Segala sesuatu yang berlebihan atau berkekurangan adalah tidak baik. Suanggi awalnya bukan ilmu yang jahat, memang ilmu ini banyak membantu, seperti untuk penyembuhan, mencari nafkah, sesuatu yang baik, mereka melakukan ini. Ketika ilmu jatuh di tangan yang salah, karena punya kekuatan, akhirnya berubah fungsi atau disalahgunakan," ujar Bona Pascal, salah satu produser film Suanggi: Ilmu Kutukan.

​Salah satu pemeran utama Suanggi: Ilmu Kutukan, Carissa Perusset, mengungkapkan bahwa film ini sungguh menantang dan membuatnya banyak belajar budaya baru.

​"Persiapan saya dibantu dengan adanya coach dan teman-teman casts dari Papua. Saya memerankan karakter Gia yang merupakan outsider, pacarnya si Beni. Sebenarnya saya dan karakter Gia tidak beda jauh, sama-sama introvert, tapi tetap saja saya banyak belajar di film ini dengan karakter yang baru," ujar Carissa Perusset.

Sementara itu, Iwa K yang memerankan karakter Aroba mengaku melakukan observasi mendalam yang menarik.

​"Persiapan memang jadi PR, bagaimana intonasi (dialek Indonesia Timur), segala macam. Untungnya ada coach Bobi, ada casts lain, Yewen, jadi sesama pemain support. Itu yang bikin seru proses pembuatan film ini. Saya punya cara sendiri untuk observasi karakter. Intinya menyenangkan eksplor dan riset hal baru. Suanggi ini energi luar biasa yang akhirnya kami tumpahkan ke media film ini," kata Iwa K.

​Berbeda dari pemain lainnya, John Yewen, komedian asal Papua ini merasa tertantang dengan perannya sebagai Bapa John.

​"Sebenarnya menjadi pastor adalah cita-cita yang diinginkan mama untuk Yewen dan akhirnya tercapai walau hanya akting. Namun, Yewen yakin mama bangga jika ia masih ada dan bisa melihat Yewen di film ini," Kata John Yewen yang juga ternyata mengalami pengalaman mistis saat mempelajari naskah di tempat tinggalnya bersama Ian Williams–karakter Reynold.

​Film Suanggi: Ilmu Kutukan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 10 September 2026.

Tentang Film Suanggi: Ilmu Kutukan

Suanggi: Ilmu Kutukan adalah film horor Indonesia yang terinspirasi dari warisan budaya lisan masyarakat Indonesia Timur. Menggabungkan unsur horor, drama, dan budaya, film ini menghadirkan kisah yang menegangkan sekaligus mengajak penonton mengenal salah satu kekayaan folklor Nusantara melalui pendekatan sinematik yang modern.

Genre Film: Drama, Horror

Executive Producer: Ernes Yauwalata, Adrian Sugiono

Produser: Yanti Wijaya, Bona Pascal, Milka Gracia, Firdauzi Trizkiyanto

Sutradara: Dom Dharmo

Penulis: Baskoro Adi Wuryanto

Produksi: Mutiara Films & Subtube Studio

Casts: Carissa Perusset, Pangeran Lantang, Iwa K, John Yewen, Dayu Wijanto, Endhita, Stany Imbiry, Euginia Y., Atina Akinoref, Keanu Azka, Ian Williams, Obi Mesakh, Alm. Pace Cello, Douglas Krump, Arnold Kobagau, Hendra Louis "Botak Bicara"

SINOPSIS

​BENI (Pangeran Lantang) yang terlilit utang ratusan juta, pulang ke kampung halamannya di Pulau Kladum, bersama kekasihnya GIA (Carissa Perusset) dengan alasan menjenguk ibu angkatnya, MAMA LIN (Dayu Wijanto) yang sedang sakit keras. Namun, tujuan sebenarnya adalah mencuri harta tersembunyi keluarganya untuk menutupi utang. Setelah 13 tahun pergi dan kembali ke kampung halamannya, BENI diteror kekuatan gaib kiriman AROBA (Iwa K)—seorang SUANGGI—yang mengirim serangan lalat untuk membunuh keluarga MAMA LIN dan warga Pulau Kladum, sekaligus menguak rahasia kelam yang selama ini disembunyikan BENI.

SINOPSIS (Versi Bahasa Inggris)

​Drowning in massive debt, BENI (Pangeran Lantang) returns to his remote hometown on Kladum Island alongside his girlfriend, GIA (Carissa Perusset), under the guise of visiting his gravely ill adoptive mother, MAMA LIN (Dayu Wijanto). In truth, BENI harbors a desperate agenda, to steal his family's hidden heirloom and clear his financial ruin. However, his homecoming after a 13-year absence awakens a dormant nightmare. BENI soon finds himself targeted by AROBA (Iwa K), a formidable Suanggi (sorcerer) who unleashes a devastating plague of flesh-eating flies upon MAMA LIN's family and the island's residents. As the supernatural terror tightens its grip, BENI is forced to confront not only the deadly curse, but also the dark, long-buried secret he has been running from his entire life.

WARGA RUSUN 609 Rilis Trailer dan Poster Resmi, Ketika Hantu Tak Mau Pergi Bertemu Warga yang Tak Mau Digusur

Film komedi horor terlucu dari Rapi Films akan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026

​Jakarta, 31 Agustus 2026 – Film terbaru dari Rapi Films, dengan kolaborasi bersama Sky Media Films, Vortera Studios, dan Legacy Pictures, sebuah komedi horor berjudul Warga Rusun 609 hari ini resmi merilis poster dan trailer yang memperlihatkan kekacauan para warga penghuni rusun ketika harus berhadapan dengan arwah Bunga sekaligus ancaman relokasi dari Pak Bahlil. Disutradarai oleh Herwin Novianto dengan penulisan skenario oleh Upi, film ini mempertemukan komedi dan horor dalam dinamika bertetangga di sebuah rusun ke dalam sebuah suguhan yang penuh kejutan dan kelucuan. Warga Rusun 609 akan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026.

​Melalui trailernya, penonton diajak mengenal lebih dekat dengan film Warga Rusun 609 yang bercerita tentang ARKA (Morgan Oey), mahasiswa populer dan kaya raya yang menghancurkan hubungannya dengan BUNGA (Ranty Maria) karena sebuah taruhan bodoh. Ketika Bunga ditemukan tewas dan arwahnya menghantui kamar 609, warga rusun yang penuh tingkah pun dibuat kalang kabut. Di saat yang sama, mereka harus menghadapi PAK BAHLIL (David Nurbianto) yang mengancam akan merelokasi mereka. Hantu yang tidak mau pergi bertemu dengan warga yang tidak mau digusur. Kekacauan pun tak terhindarkan.

​Sebagai adaptasi dari film horor komedi Thailand, Buppah Rahtree, Warga Rusun 609 tidak hanya memindahkan ceritanya ke Indonesia. Dunia rusun menjadi ruang yang membuat ceritanya terasa sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita. Ketika teror muncul, para warga bereaksi dengan caranya masing-masing, ada yang panik, bergosip, berdebat, mencari orang pintar, saling menyalahkan, sampai akhirnya terpaksa menghadapi masalah itu bersama-sama. Dari situlah komedi Warga Rusun 609 tumbuh.

​"Yang membuat kami tertarik bukan hanya hantunya. Kami membayangkan, kalau kejadian seperti ini benar-benar terjadi di sebuah rusun di Indonesia, bagaimana warga kita akan bereaksi? Pasti ada yang takut, ada yang sok berani, ada yang cari orang pintar, ada yang bergosip, dan semuanya ikut campur. Dari situ kami merasa cerita Buppah Rahtree bisa punya kehidupan yang sangat berbeda ketika dibawa ke Indonesia," ujar produser Sunil Samtani.

​Kekuatan tersebut semakin terasa melalui deretan pemeran yang menghidupkan karakter-karakter Warga Rusun 609 yang mempertemukan aktor, komedian, stand-up comedian, sampai figur internet dalam satu lingkungan rusun. Selain Morgan Oey dan Ranty Maria, film ini juga menghadirkan Gita Bhebhita, Sarah Sechan, Aming, hingga Dustin Tiffani. Film Warga Rusun 609 mengandalkan kekacauan ensemble cast yang akan membuat penonton tertawa dan terhibur.

​Melalui Warga Rusun 609, Herwin Novianto kembali mengeksplorasi pertemuan horor dan komedi, kali ini dalam dunia sebuah rusun yang dihuni oleh warga dengan segala tingkah dan persoalannya. Sementara itu, bagi Morgan Oey, kesempatan bermain dalam komedi horor garapan Rapi Films dan disutradarai Herwin Novianto memberikan pengalaman yang berbeda, terutama karena ia harus berada di tengah dinamika pemain yang begitu beragam.

​"Warga Rusun 609 punya kombinasi yang menarik. Horornya ada banget, tapi cara para karakter menghadapi situasi yang mengalami membuat semuanya menjadi sangat kocak dan menghibur. Pengalaman bekerja bersama Mas Herwin juga menjadi pengalaman baru yang menyenangkan karena Mas Herwin punya teknik pendekatan yang kuat dalam mempertemukan horor dan komedi. Saya menikmati prosesnya, terutama ketika harus membangun karakter Arka di tengah warga-warga rusun lainnya yang punya energi dan warna masing-masing," ungkap Morgan Oey.

Warga Rusun 609 merupakan film persembahan Rapi Films berkolaborasi dengan Sky Media Films, Vortera Studios dan Legacy Pictures, karya sutradara Herwin Novianto dan penulis skenario Upi. Warga Rusun 609 dibintangi oleh Morgan Oey, Ranty Maria, Gita Bhebhita, Galabby, Sarah Sechan, Riyuka Bunga, Aming, Keanu, Papham Ashari, Yono Bakrie, Danang Suryonegoro, Tanta Ginting, Dustin Tiffani, Dian Sidik, David Nurbianto, dan Adzana Ashel. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Ikuti perkembangan Warga Rusun 609 melalui akun-akun resmi media sosialnya.

INFORMASI FILM

KEY CREW

Sutradara : Herwin Novianto

Penulis Skenario : Upi

Produser : Sunil Samtani

Produser Kreatif : Sunar Samtani

PEMERAN

Morgan Oey sebagai Arka

Ranty Maria sebagai Bunga

Gita Bhebhita sebagai Ibu Damai

Galabby sebagai Ibu Nurjannah

Sarah Sechan sebagai Ibu Wati

Riyuka Bunga sebagai Ibu Tuti

Aming sebagai Pak Anjay Sudrajat

Keanu sebagai Mawar

Papham Ashari sebagai Melati

Yono Bakrie sebagai Gugum

Danang Suryonegoro sebagai Pak Wira

Tanta Ginting sebagai Terang Tarigan

Dustin Tiffani sebagai Ki Gendeng

Dian Sidik sebagai Slamet

David Nurbianto sebagai Pak Bahlil

Adzana Ashel sebagai Mila

AKUN MEDIA SOSIAL RESMI

Instagram : @wargarusun609 @rapifilm

Twitter/X : @Rapifilm

TikTok : @rapifilm

YouTube : Rapi Films

Jumat, 28 Agustus 2026

Siap Bongkar Dalang Teror Pembunuhan di Desa Korup, Film "Lobang Buaya" Rilis Trailer dan Poster Menuju Tayang 1 Oktober

Jakarta, 27 Agustus 2026 – Menjelang jadwal tayang serentak di bioskop pada 1 Oktober 2026, film horor terbaru karya sutradara Hanung Bramantyo, "Lobang Buaya", resmi merilis official trailer dan final poster.

​Diproduksi oleh Adhya Pictures dan Dapur Film, film ini mengangkat misteri pembunuhan berantai berlatar Indonesia tahun 1964. Karya ini menjadi wadah eksplorasi kreatif Hanung Bramantyo dalam menangkap perasaan "horor" kolektif yang kerap dirasakan masyarakat Indonesia setiap memasuki bulan September, serta kritik pedas untuk kondisi masyarakat yang relevan sampai saat ini.

​Visual pada final poster langsung menampilkan kengerian yang menjadi benang merah cerita: sebuah tangan misterius tampak menembus punggung berlubang seorang wanita. Poster penuh teka-teki ini merefleksikan teror sentral yang akan dihadapi para penonton di dalam film.

​Sementara itu, official trailer mengajak penonton mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng, seorang anggota militer yang ditugaskan membongkar motif di balik pembunuhan berantai setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.

Baskara Mahendra, pemeran karakter Soegeng, menuturkan bahwa penonton akan diajak menyusun potongan petunjuk bersama karakternya.

​"Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk 'mencari dalang' dibalik misteri pembunuhan berantai ini. Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?" tutur Baskara Mahendra.

Hanung Bramantyo menegaskan bahwa pendekatan horor dipilih secara sadar untuk membedah rasa takut yang dirasakan publik terhadap kondisi ketidakadilan yang terjadi pada masa tersebut, yang masih berlanjut sampai saat ini.

​"Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa '65? Jawabannya adalah horor. Memilih horor bukan hanya karena ingin membuat penonton merasakan ketakutan yang ada di dalam cerita, tetapi juga horor yang kita rasakan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan bagaimana manusia bisa saling menindas." tutur Hanung.

Sinopsis Film Lobang Buaya

​Setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai terhadap para tokoh desa. Korban ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran di tubuh mereka, seperti Tamak, Lamis, dan Maruk.

​Saat rumor mengenai "Hantu Bolong" merebak dan tensi sosial memanas, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) diutus mencari tahu dalang pembantaian tersebut.

​Namun, teror tidak berhenti di situ. Istri baru Soegeng, Arum Wangi (Carissa Perusset), mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan. Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai Ronggeng membuka tabir bahwa kekacauan di desa maupun di rumahnya bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap berbahaya yang sengaja dirancang untuk mengubah arah sejarah.

Jadwal Tayang Film Lobang Buaya

​Film "Lobang Buaya" dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga aktor kawakan Mathias Muchus.

​Film "Lobang Buaya" dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai penjualan tiket dan materi promosi dapat diakses via media sosial resmi @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm.

TENTANG ADHYA PICTURES

Adhya Pictures adalah studio film dari kelompok perusahaan Adhya Group. Karya-karya yang dihasilkan berfokus pada kolaborasi bersama kreator-kreator terkemuka untuk menghasilkan film-film yang memiliki narasi yang kuat dan relevan. Adhya Pictures percaya bahwa karya kolaboratif akan membuahkan produk yang mempunyai kekuatan nilai dan memberi kontribusi nyata pada industri.

​Melalui perannya di bidang Film Investment, Intellectual Property Studio & Banking, dan Production House afiliasinya, Adhya Pictures berkomitmen untuk terus menyajikan film berkualitas terbaik dan turut serta memajukan industri film Indonesia. Adhya Pictures dan jajaran afiliasinya adalah Satria Dewa Studio, Wong Vardha Entertainment, dan DAMN! I Love Indonesia Pictures.

​Dua film terbaru Adhya Pictures yang akan segera tayang di seluruh bioskop Indonesia, yaitu Lobang Buaya, dari sutradara dan penulis Hanung Bramantyo dan Forza, dari sutradara Marco Balsamo sedang dipersiapkan oleh Adhya Pictures untuk direncanakan tayang pada penghujung tahun 2026.

SOSIAL MEDIA

Instagram: @adhyapictures @filmlobangbuaya

Tiktok: @adhyapictures

AFGAN RILIS “LANGIT MERAH MUDA”, OST FILM AGENSI RUMAH TANGGA, BERSAMA MUSIC VIDEO YANG MENGHIDUPKAN KISAH KAFKA DAN KATIA

Jakarta, 28 Agustus 2026 — Menjelang penayangan film Agensi Rumah Tangga di bioskop Indonesia pada 10 September 2026, Afgan resmi merilis lagu “Langit Merah Muda”, original soundtrack (OST) film tersebut. Lagu ini dirilis hari ini, 27 Agustus 2026, di berbagai platform streaming digital, sekaligus dengan music video yang membawa penonton lebih dekat ke kisah dan karakter Kafka yang diperankan Afgan dalam film.

​Dalam Agensi Rumah Tangga, Afgan tidak hanya hadir sebagai aktor yang memerankan Kafka, seorang penyanyi sekaligus klien Katia (Enzy Storia), tetapi juga terlibat langsung dalam pengisian soundtrack film melalui “Langit Merah Muda”. Lagu ini menjadi representasi dari sudut pandang dan perasaan Kafka, terutama dalam menjalani hubungan yang berkembang di tengah berbagai drama yang dihadapi Katia sebagai penyalur asisten rumah tangga.

​“Langit Merah Muda” menjadi bagian penting dari perjalanan Kafka di dalam film. Kehadiran lagu ini sekaligus memperkuat sisi personal karakter Kafka dan kisah romantika yang terjalin antara dirinya dengan Katia.

​Bagi Afgan, keterlibatannya dalam Agensi Rumah Tangga memiliki makna tersendiri. Selain kembali berakting, ia dapat berkolaborasi dengan sutradara Naya Anindita dan Enzy Storia, yang telah menjadi teman dan bagian dari lingkar pertemanannya dalam waktu yang cukup lama.

​“Rasanya Agensi Rumah Tangga jadi bentuk karya yang bisa menjadi legacy dari sebuah pertemanan. Di film ini, aku berperan bareng Enzy dan terlibat love interest dengan cerita yang mendalam, disutradarai oleh Naya. Kami berteman sudah sangat lama dan saling support satu sama lain, dan ini jadi bentuk support proyek teman yang paling maksimal dari aku,” ujar Afgan.

​Melalui “Langit Merah Muda”, Afgan menghadirkan sisi lain dari Kafka yang tidak hanya dapat dirasakan melalui cerita film, tetapi juga melalui musik. Lagu ini menjadi pengantar menuju kisah Kafka dan Katia yang akan disaksikan penonton di layar lebar pada September mendatang.

​Music video “Langit Merah Muda” juga dirilis bersamaan hari ini. Mengambil elemen dari dunia Agensi Rumah Tangga, video musik tersebut memperlihatkan Afgan sebagai Kafka dan menghadirkan potongan momen yang merepresentasikan perjalanan serta dinamika hubungan Kafka dan Katia.

​Film Agensi Rumah Tangga sendiri merupakan drama komedi persembahan Starvision, Legacy Pictures, Vortera Studios, dan Navvaros, disutradarai oleh Naya Anindita. Film ini diadaptasi dari novel best seller karya Almira Bastari dengan skenario yang ditulis Upi dan Ayu Anggraini Putri. Ceritanya mengikuti Katia, perempuan yang terkena PHK dan terdesak kebutuhan finansial, hingga akhirnya memutuskan membuka usaha sebagai penyalur asisten rumah tangga.

​Keputusan Katia tersebut membawanya pada berbagai drama, termasuk ketika ia berhadapan dengan Kafka sebagai salah satu kliennya. Di tengah persoalan pekerjaan, keluarga, dan pilihan hidup, hubungan keduanya berkembang menjadi salah satu sisi romantika dalam film.

​Dengan dirilisnya “Langit Merah Muda” dan music video hari ini, perjalanan menuju Agensi Rumah Tangga resmi memasuki babak baru. Film Agensi Rumah Tangga akan tayang mulai 10 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia.

Tentang Film Agensi Rumah Tangga

​Agensi Rumah Tangga adalah film drama komedi produksi Starvision, Legacy Pictures, Vortera Studios, dan Navvaros, disutradarai oleh Naya Anindita. Film ini dibintangi Enzy Storing sebagai Katia Amaranto dan Afgansyah Reza sebagai Kafka, bersama jajaran pemain lainnya.

​Film Agensi Rumah Tangga tayang mulai 10 September 2026 di bioskop Indonesia.

LANGIT MERAH MUDA (Lirik)

Harusnya memang sengaja

Waktu pertemukan kita

Anginpun ikut melagu

Dan mendayu

Mengapa merdu


​Dari berjuta manusia

Ternyata engkau orangnya

Ku tau sedari awal

Kau berbeda

Kau teristimewa


​Ooh, saat mereka pergi tanpa kata

Tapi tak mengapa karna

Pada akhirnya engkau ada

Seketika langit merah muda


​Dari berjuta manusia

Ya memang engkau orangnya

Andaikan sedari awal

Selamanya

Bisa lebih lama


​Ooh, saat mereka pergi tanpa kata

Tapi tak mengapa karna

Pada akhirnya engkau ada

Seketika langit merah muda


​Ooh, janjiku takkan pergi tanpa kata

Karna aku tau kamu

Tak'kan begitu

Selamanya, kita buat langit merah muda


​Selamanya selamanya

Merah muda merah muda

Selamanya selamanya

Merah muda merah muda


​Selamanya selamanya

Merah muda merah muda

Selamanya selamanya

Merah muda merah muda


Music Credit

Executive Producer Yonathan Nugroho for TRINITY OPTIMA PRODUCTION

A&R : Dwi Santoso / Simhala Avadana

Composed By Rendy Pandugo / Mohammed Kamga / Afgansyah Reza

Publishing : Wrap! Publishing / Sub-Publisher : PT. Suara Publisindo on behalf of Universal Music Publishing AB / Sony Music Publishing Indonesia / Massive Music Entertainment

Produced By Rendy Pandugo

All Instruments Arranged, Played, Recorded, And Edited By Rendy Pandugo

Programming Strings Orchestra Performed By Vinson Vivaldi

Vocals Recorded at Betterdays Std, Directed By Mohammed Kamga Engineered By Ogi Lugas

Vocals Edited By Rio Ndul

Mixed & Mastered By Dimas Pradipta At SUM IT! Std, JKT

​©TRINITY OPTIMA PRODUCTION 2026

Rabu, 26 Agustus 2026

Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere 'Baby Udon' di Jakarta Banjir Air Mata

Jakarta, 26 Agustus 2026 – Suasana megah di CGV Grand Indonesia mendadak pecah oleh isak tangis histeris pada penyelenggaraan Gala Premiere film layar lebar paling dinantikan tahun ini, dari Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon.

​Ruang bioskop yang disulap berhiaskan instalasi pohon sakura mekar, sebagai tribut mengenang mendiang Hajime Kondoh, berubah menjadi lautan air mata sesaat setelah film selesai diputar.

​Puncaknya terjadi pada sesi press conference usai penayangan. Sambil mendekap erat sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz, content creator Fanny Kondoh melontarkan pengakuan mengharukan yang seketika membuat ratusan pasang mata yang hadir di studio meneteskan air mata.

​"Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa," ucap Fanny dengan suara bergetar dan berurai air mata, membuat seluruh awak media dan tamu undangan ikut menangis tersedu-sedu.

​Momen haru tersebut sekaligus menjadi saksi pertaruhan besar karier Denny Sumargo. Bersama sang istri, Olivia Sumargo, Denny resmi menandai debut perdana mereka sebagai produser di industri film Indonesia.

​Bukan hanya modal nama, Densu bahkan rela memangkas habis rambutnya hingga botak licin dan menonton rekaman sakratul maut asli mendiang Hajime demi menyajikan akting yang menghipnotis penonton.

​"Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan. Alasan terbesar saya bikin film ini cuma satu: nggak mau mengecewakan amanah Fanny dan Hajime. Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan," tegas Denny Sumargo, Produser dari Sumargo Film, di hadapan awak media.

​"Kami amat bangga bisa membawa film Baby Udon ke penonton Indonesia. Semoga cerita yang mengharukan dan indah dari Bu Fanny Kondoh dan Almarhum Bapak Hajime Kondoh bisa memberikan kesan yang baik dan menginspirasi banyak orang," kata Andi Suryanto, selaku Produser dari LYTO Pictures.

​Gala Premiere spektakuler ini turut dihadiri sederet bintang ternama tanah air, mulai dari jajaran produser Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella Daryanani, hingga deretan pemeran utama seperti Caitlin Halderman, Ayya Renita, Putri Ayudya, Alfie Alfandy, Miyu Okazaki, Hiroaki Kato, Royhan Hidayat, Hafni Thalib, dan Alexandra Valerie.

​Selain di Jakarta, film 'Baby Udon' telah menggelar Gala Premiere di 7 (Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Banjarmasin, Palembang, Medan) kota sampai saat ini. Tidak berhenti di sini, tur Gala Premiere dan Meet & Greet masih akan berlanjut ke Makassar (Nipah XXI) dan akan ditutup di Bali (Level 21 XXI).

​Film Baby Udon dipastikan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Penonton juga bisa menikmati promo terbatas Buy One Get One Free (BOGOF) khusus untuk hari pertama penayangan di aplikasi tiket MTIX.

​Intip cuplikan viral, trailer resmi, dan informasi tiket di akun Instagram @filmbabyudon, @sumargofilm, dan @lytopictures.

Senin, 24 Agustus 2026

Di Balik Teror Horornya, Film Munafik: Melawan Iblis Bicara Trauma dan Keikhlasan, saat Arya Saloka Menjadi Ustaz yang Merukiah Acha Septriasa

Film Munafik: Melawan Iblis tayang mulai 3 September 2026 di bioskop

Jakarta, 24 Agustus 2026 — Unlimited Production bekerja sama dengan Skop Productions mempersembahkan film horor terbaru berjudul Munafik: Melawan Iblis yang akan tayang di seluruh bioskop mulai 3 September 2026. Di balik kisah seorang ustaz yang melakukan rukiah saat menolong orang yang kesurupan, film Munafik: Melawan Iblis membawa perjalanan seseorang menghadapi trauma dan kehilangan—hingga menyadari bahwa ada luka yang hanya bisa disembuhkan dengan keikhlasan, menerima, dan berserah.

​Kisah bermula ketika dalam perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Ustaz Adam (Arya Saloka) mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini (Widi Dwinanda), istrinya.

​Sejak saat itu Ustaz Adam berhenti melakukan rukiah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) perawat sekaligus putri Haji Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal.

​Adam yang awalnya menolak, menemukan alasan untuk kembali melakukan rukiah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik teror gaib yang menimpa Fitri.

​Diproduseri Oswin Bonifanz dengan sutradara Guntur Soeharjanto, Munafik: Melawan Iblis memberikan teror maksimal yang akan menyerang psikologis dan menaikkan adrenalin. Tak hanya jumpscare, tetapi film ini berhasil menghadirkan teror dari entitas Iblis yang menggoda manusia.

​Film Munafik: Melawan Iblis dibintangi oleh Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Faqih Alaydrus, Donny Damara, Widi Dwinanda, Annisa Hertami, Nova Eliza, Oce Permatasari, dan Elvira Devinamira.

​"Film Munafik: Melawan Iblis adalah eksplorasi terbaru dari Unlimited Production yang membawa tema cerita horor kesurupan dan rukiah, namun sebenarnya memiliki lapisan yang mendalam secara drama. Kami menggali perasaan tentang luka dan trauma, di tengah kedukaan dan proses kehilangan seseorang, yang kami rasa menjadi perasaan yang universal," ujar produser Oswin Bonifanz.

Menjelang perilisan film Munafik: Melawan Iblis secara serentak pada 3 September 2026 di bioskop, Unlimited Production juga telah menggelar roadshow ke XX kota yang seluruh tiketnya terjual habis (sold out)! Ini membuktikan antusiasme tinggi terhadap film Munafik: Melawan Iblis bahkan sebelum filmnya tayang secara reguler.

​Banyak dari penonton juga kagum dengan penampilan Arya Saloka, yang dianggap mampu dengan fasih melafalkan ayat suci Al-Qur'an, saat ia memerankan Ustaz Adam. Arya sendiri mengaku lewat proyek film Munafik: Melawan Iblis juga menjadi ruang untuk dirinya berproses menjadi lebih baik sebagai manusia.

​"Saya sangat bersyukur bisa memerankan Ustaz Adam dan bermain di film Munafik: Melawan Iblis. Karena dari film ini saya juga bisa belajar lebih baik lagi, termasuk membenarkan bacaan-bacaan Al-Qur'an saya. Menurut saya ini berkah, ketika ada sebuah proyek film yang juga bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik," ujar Arya Saloka.

​Sementara itu, Acha Septriasa, yang memerankan Fitri dan harus mengalami banyak kesurupan di film ini, menghadapi tantangan secara fisik dan mental. Film Munafik: Melawan Iblis sekaligus menandai dua dekade perjalanan Acha di industri perfilman Indonesia.

​"Senang sekali, dalam perjalanan dua dekade aku di perfilman mendapatkan karakter yang sangat menantang seperti Fitri di film Munafik: Melawan Iblis. Pada dasarnya, Fitri sedang mengalami proses kedukaan karena kehilangan dan belum ikhlas. Apa yang dialami Fitri sangatlah manusiawi, dan itu yang membuatnya dekat dengan kita. Kalau tantangan secara fisik, tentu saja saat adegan saya harus merayap di dinding, itu sangat-sangat memorable," cerita Acha Septriasa.

​"Ada trauma yang tidak bisa disembuhkan dengan melawan. Kadang kita hanya perlu belajar menerima dan berserah," tambah Arya Saloka.

​Film Munafik: Melawan Iblis akan membawa kita pada perjuangan batin Ustaz Adam dalam memaknai proses duka dan kehilangannya, dan sembuh dari trauma yang selama ini menerornya. Munafik: Melawan Iblis bukan hanya tentang melawan iblis. Tapi tentang melawan luka dalam diri sendiri.

​Tonton film Munafik: Melawan Iblis mulai 3 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik.

Sinopsis

Di perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Adam (Arya Saloka) seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini, istrinya. Sejak saat itu ia berhenti melakukan ruqyah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) seorang perawat sekaligus putri dari Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Adam yang awalnya menolak menemukan alasan untuk kembali melakukan ruqyah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik teror gaib yang menimpa Fitri.

Film Siti Si Vampir Hadirkan Vampir Lokal Tinggal di Rusun! Teaser Trailer Tampilkan Satine Zaneta yang Capek Hidup Miskin

Tayang mulai 22 Oktober 2026 di bioskop

Jakarta, 24 Agustus 2026 — Dua perempuan muda dengan beda nasib bertemu! Saat Satine Zaneta yang jadi tukang angkat galon tinggal di rusun, bertemu dengan Shania Gracia yang punya mobil mewah dan kehidupan nyaman, berniat untuk menjalani kehidupan ‘tukar nasib’. Peristiwa itulah yang ditampilkan dalam official teaser trailer film komedi terbaru garapan sutradara Rahabi Mandra, Siti Si Vampir, diproduksi oleh Viddsee bekerja sama dengan Bahagia Tanpa Drama.

​Satine memerankan karakter Siti, perempuan muda yang harus menjalani hidup serba kurang di sebuah rusun, bersama teman tukang AC-nya, Dudi (Ajil Ditto). Suatu ketika, Shania Gracia, seorang seleb datang ke rusun Siti. Ia tengah mencari satu orang yang mau bertukar nasib secara singkat dengan kehidupannya.

​Namun, di tengah itu, Siti justru digigit oleh vampir tampan Nakula (Ciccio Manassero). Siti pun berubah jadi vampir, tapi justru kenyataan baru itu ditertawakan oleh Dudi. “Vampir nggak ada yang miskin,” kata Dudi yang diperankan Ajil Ditto.

​Mengangkat kisah drama komedi urban yang menyoroti perbedaan kelas sosial dan ekonomi, Siti Si Vampir hadir sebagai sajian fresh dengan konsep vampir lokal. Film ini diproduksi oleh Viddsee bekerja sama dengan Bahagia Tanpa Drama, AZ Films, Spectrum Film, dan PK Films.

​"Siti Si Vampir adalah komedi yang unik dengan mengangkat vampir lokal Indonesia. Ceritanya akan sangat relevan dengan generasi sekarang dan banyak orang, yang lagi susah cari kerja dan capek hidup dalam kondisi yang serba sulit,” ujar produser Celerina Judisari.

​Bagi Satine Zaneta, yang memerankan Siti, ia tampil berbeda. Tak hanya debut dalam genre komedi, tapi ia juga menemukan banyak tantangan baru.

​"Siti Si Vampir adalah salah satu film paling menantang yang pernah aku jalani. Dari belajar logat baru yang tidak familier denganku, belajar cara jalan, gerak dan berusaha memahami isi hati dan kepala Siti. Dan tentu saja aku beneran angkat galon,” cerita Satine Zaneta.

​“Kami nyambung banget untuk bisa memainkan dinamika komedinya. Seru banget karena ansambel pemerannya anak-anak muda, dan sekaligus bisa menyuarakan keresahan banyak anak muda saat ini,” ujar Ajil Ditto yang memerankan Dudi.

​Film Siti Si Vampir akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 22 Oktober 2026! Ikuti perkembangan terbaru Siti Si Vampir melalui akun Instagram resmi @bahagiatanpadrama dan @filmsitisivampir.

Babak Baru BCL! Rilis Single “Terpesona”, Berduet Manis dengan Top 5 Indonesian Idol 2026 Josh Flo dan Kembali Berkolaborasi Bersama Produser & Pencipta Lagu Laleilmanino

Single Terpesona rilis pada 21 Agustus 2026 di seluruh platform streaming

Jakarta, 21 Agustus 2026 — Diva Indonesia Bunga Citra Lestari (BCL) kembali dengan karya terbarunya di dunia musik lewat single romansa cinta berjudul “Terpesona”. Setelah terakhir kali merilis lagu fenomenal yang juga membawa dampak kultural pendengar Indonesia, “Selalu Ada di Nadimu”, kini BCL kembali ke akar, lewat lagu cintanya.

​“Terpesona” menjadi spesial karena ia mengajak Top 5 Indonesian Idol 2026, Josh Flo sebagai teman duetnya. Single ini sekaligus menjadi full circle moment bagi keduanya, sejak keduanya berjumpa di ajang kompetisi Indonesian Idol Season 14. Sejak babak awal audisi, Josh Flo telah membuat BCL terpesona, dan kini keduanya mempersembahkan karya yang tak terduga.

​Ditulis dan diciptakan trio produser Laleilmanino, “Terpesona” terinspirasi dari banyak kisah orang-orang yang terpesona dengan tambatan hati mereka, namun sulit untuk diungkapkan.

​“Lagu ‘Terpesona’ adalah tentang sebuah perasaan yang hadir saat kita menemukan seseorang yang somehow membuat kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa nyaman ketika bersamanya, rasa yang membuat kita ingin selalu dekat dan semakin mengenal orang itu. Kadang perasaan itu bahkan sulit untuk dijelaskan atau diungkapkan dengan kata-kata, tapi kita tahu ada sesuatu tentang dirinya yang membuat kita nggak bisa berpaling. Ada rasa ingin terus bersama, sampai akhirnya orang itu terasa seperti ‘home’. Buat aku, itulah rasa terpesona,” ujar Bunga Citra Lestari.

​Sebagai orang yang ‘menemukan’ bakat Josh dan yakin sejak awal dengan kemampuannya, BCL menghadirkan lagu cinta dengan cerita yang baru. Karakter khas BCL yang sejak awal juga lekat dengan lagu-lagu romansa masih bisa kita temukan di single “Terpesona”, namun kini memiliki dimensi yang fresh dari aransemen yang diciptakan Laleilmanino dan suara unik Josh Flo.

​Josh, yang sebelum memulai karier bernyanyi dari kompetisi pencarian bakat merupakan penjaga Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Manokwari, Papua, kini merasa sangat bangga dengan kesempatan yang diberikan kepadanya.

​“Saat aku tereliminasi dari Top 5 Indonesian Idol Season 14, Kak Unge langsung kirim pesan ke aku. Dia menawarku untuk membuat karya bersama. Rasanya sangat bangga, spesial, dan menjadi full circle moment bagiku. Sejak awal aku ikut audisi Kak Unge sudah sangat percaya dengan bakatku, dan dia pernah berjanji akan berkolaborasi, dan dia menepati janjinya, lewat lagu manis ‘Terpesona’,” kata Josh Flo.

​“Sejak awal, aku jatuh hati dengan suaranya. Itulah alasanku ingin berduet bersama Josh,” tambah BCL.

​“Terpesona” juga menandai dua dekade BCL di industri musik, sejak ia merilis album debutnya, “Cinta Pertama” (2006). Berkolaborasi dengan Laleilmanino sebagai produser dan pencipta di single ini, “Terpesona” juga meneruskan kolaborasi BCL dan Laleilmanino setelah sukses besar “Selalu Ada di Nadimu”.

​“Senang rasanya bisa bereksplorasi lagi bersama Unge di lagu romansa terbarunya, ‘Terpesona’. Lagu ini berbicara tentang finding the one since day one. Sebuah nyanyian yang bisa menemani hangatnya hati saat kita menemukan seseorang yang terasa begitu tepat. Disampaikan ataupun tidak jadi soal, karena lagu ini bukan tentang menyatakan perasaan. Lagu ini adalah tentang perasaan itu sendiri,” ujar produser Nino Kayam mewakili Laleilmanino.

​Single “Terpesona” telah dirilis di seluruh platform streaming digital mulai 21 Agustus 2026. Dengarkan sebuah karya yang akan menandai babak baru perjalanan BCL lewat lagu romansa cinta yang manis dengan cerita yang berbeda.

Jumat, 21 Agustus 2026

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

"Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini" berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic reading

Jakarta, 21 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.

​Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. "Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru," katanya.

​Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.

​Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi "Perempuan dalam Karya Asrul Sani" membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, "Asrul Sani di Mata Generasi Muda" mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui "Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario", yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi "Asrul Sani dan Inovasi Arsip" yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.

​Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.

​Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. "Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"

​Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbunga Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonor (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.

​Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

​Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.

​Seluruh rangkaian "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacouncil.

Imperial Pictures garap “GHOSTHING”, Baskara Mahendra, Yasamin Jasem, Leony VH Bertemu dalam Komedi Horor

Jakarta, 30 Agustus 2026 — Imperial Pictures, Eksekutif Produser Peter Surya Wijaya kembali merilis film layar lebar terbarunya berjudul “GH...