Rabu, 23 September 2026

Jangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti

Para pemeran series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta berbagi pengalaman membangun chemistry antar pemain sekaligus mendalami karakter dengan pilihan dan konflik yang tidak sederhana

(Kiri - Kanan): Darius Sinathrya (Duta), Dono Indarto (Scriptwriter of Dalam Suka Dan Dusta), Oswin Bonifanz (Producer of Unlimited Production House), Hanny R. Saputra (Director of Dalam Suka Dan Dusta), Shania Gracia (Vania), Acha Septriasa (Citra), Roweina Umboh (Maharani), Jolene Marie (Agnes), R. Deny Juliarto (Producer of RRK Production House), Ikhsan Sasmita (Head of Original Content Indonesia iQIYI), Ciccio Manassero (Denis)

Jakarta, 23 September 2026 – iQIYI menggelar Gala Premiere iQIYI Original Dalam Suka Dan Dusta di CGV Pacific Place, Jakarta, yang dihadiri oleh jajaran pemeran utama: Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Ciccio Manassero, dan Shania Gracia. Dalam Gala Premiere tersebut, para pemain membagikan cerita di balik layar mengenai chemistry, dinamika hubungan hingga tantangan mengeksplorasi karakter dengan sisi dan pilihan yang beragam pada series yang disutradarai Hanny Saputra ini.

​Dalam screening eksklusif dua episode pertama, iQIYI Original Dalam Suka Dan Dusta memperlihatkan bahwa kehidupan couple goals selebritas Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa) yang terlihat sempurna di depan layar, namun di belakang layar ternyata menyimpan konflik yang jauh lebih kompleks. Setelah perselingkuhan terungkap, keduanya mengambil keputusan yang tidak biasa, yaitu menjalani open marriage demi mempertahankan keluarga sekaligus citra mereka di depan publik.

​Alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan tersebut justru membuat hubungan mereka semakin kacau. 

Duta Bikin Penonton Naik Darah, Citra Justru Mengundang Simpati

​Dua episode pertama dalam iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta langsung memberikan gambaran bahwa Duta bukan suami green flag seperti yang terlihat di depan layar. Justru sebaliknya, Duta kerap memainkan emosi Citra melalui gaslighting, manipulasi, dan guilt-tripping, membuat Citra terus mempertanyakan dirinya sekaligus merasa bersalah atas situasi hubungan mereka.

Darius Sinathrya berbagi cerita mengenai tantangan memerankan karakter yang berbeda dari dirinya di iQIYI Original Dalam Suka Dan Dusta

​Di sisi lain, Citra juga sedang berusaha untuk mempertahankan citranya sebagai artis papan atas panutan penggemar. Ia harus menghadapi tantangan di industri hiburan, termasuk gosip dan pemberitaan miring mengenai hubungannya dengan Duta yang berpotensi menghancurkan image Citra di hadapan publik.

​Kondisi tersebut membuat Citra menjadi karakter yang tidak hanya mengundang rasa gemas, tapi juga simpati dari penonton. Di satu sisi, penonton dibuat bertanya-tanya mengapa Citra masih bertahan dalam hubungan toxic dengan Duta. Namun di sisi lain, terlihat jelas bahwa ada banyak hal yang Citra pertaruhkan, dari pernikahan, anak, keluarga, hingga karirnya.

​Menariknya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta juga menjadi pengalaman pertama Acha Septriasa membintangi series modern setelah sebelumnya lebih banyak dikenal melalui film. Menurut Acha, perbedaan proses kerja antara film dan series justru menjadi salah satu tantangan yang menarik dalam memerankan Citra. 

Jajaran pemain dan tim produksi iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta berbagi cerita mengenai karakter, proses produksi, dan dinamika di balik layar

​“Waktu berdiskusi dengan Mas Hanny sebagai sutradara, saya baru menyadari bahwa proses mengerjakan film dan series ternyata cukup berbeda. Kalau di film, saya biasanya harus sudah memahami karakter dan latar belakang perjalanannya sejak awal. Di series karakter justru berkembang secara bertahap, layer demi layer. Jadi, saya juga tertantang untuk tidak langsung memahami Citra secara keseluruhan, tetapi benar-benar menemukan karakternya seiring cerita berjalan. Citra adalah karakter yang kompleks dengan berbagai keputusan yang mungkin tidak mudah dipahami penonton, jadi tantangan terbesar buat saya adalah memahami Citra tanpa menghakiminya,” ungkap Acha. 

Acha Septriasa menceritakan pengalamannya membintangi series modern untuk pertama kalinya serta tantangan mendalami karakter Citra

​Sementara itu, Darius Sinathrya mengaku justru menikmati tantangan memerankan Duta yang memiliki karakter sangat berbeda dari dirinya. “Saya suka banget sama karakter Duta. Dia tuh brengsek. Bahkan kadang sebagai Darius saya ingin bilang, ‘Duta, jangan begitu lah, Bro.’ Tapi justru itu yang menantang!” kata Darius.

​Dari hari pertama syuting, Darius dan Acha berusaha membedah karakter Duta dan Citra bersama-sama, termasuk memahami background dan perjalanan mereka, supaya benar-benar tahu kenapa karakter ini mengambil keputusan tertentu. Setelah dibedah bersama, mereka jadi lebih clear seperti apa Duta dan Citra sebenarnya.

Karakter Denis yang Membawa “Angin Segar” dan Vania yang Bikin Situasi Memanas

​Di tengah hubungan Duta dan Citra yang semakin retak, hadir Denis (Ciccio Manassero) yang membawa warna baru dalam kehidupan Citra. Sebagai sosok yang lebih muda dari Citra, Denis hadir dengan perhatian dan pendekatan yang membuat Citra nyaman, terutama ketika ia membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa dihakimi.

​“Denis memang hadir untuk Citra di ruang-ruang ketika dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan tidak menghakiminya. Apalagi Denis lebih muda dari Citra, jadi tantangannya adalah bagaimana membuat hubungan mereka terasa natural. Yang menarik, di balik sosok Denis yang terlihat supportive dan green flag, ternyata ada banyak layer dalam dirinya yang cukup sulit saya pahami. Itu yang membuat karakter ini challenging untuk saya mainkan,” kata Ciccio. 

Ciccio Manassero membagikan cerita mengenai tantangan membangun karakter Denis dan dinamika hubungannya dengan Citra

​Sementara itu, Vania (Shania Gracia) hadir sebagai sosok yang ambisius dan berani mengejar apa yang diinginkannya. Karakter ini menjadi tantangan baru bagi Shania karena memiliki kepribadian yang jauh berbeda dari dirinya maupun citra yang selama ini dikenal publik.

Shania Gracia berbagi pengalaman memerankan karakter yang berbeda dari image dirinya dan tantangan mengeksplorasi karakter Vania

​"Jujur, waktu pertama ditawari karakter Vania, saya sempat kaget dan bertanya-tanya apakah saya bisa membawakannya. Vania sangat berbeda dari diri saya dan image saya selama ini. Dia sangat ambisius, dan ketika mencintai seseorang, dia ingin orang tersebut menjadi miliknya sepenuhnya. Justru karena itu, saya merasa Vania menjadi tantangan baru buat saya dan banyak belajar dari Mas Hanny sebagai sutradara serta para cast senior selama prosesnya," ucap Shania.

Ketika Masalah Rumah Tangga Membuka Rahasia yang Lebih Besar

​iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta tidak berhenti pada konflik rumah tangga Duta dan Citra. Seiring cerita berkembang, berbagai keputusan dan hubungan antar karakter membawa penonton pada rangkaian kejadian yang semakin tidak terduga, hingga munculnya sebuah peristiwa besar yang mengubah cara penonton melihat setiap karakter.

Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI, berbagi cerita mengenai pengembangan iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta dalam sesi press conference

Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI, menjelaskan bahwa iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta menghadirkan kisah unik dengan mengangkat tema yang masih jarang dieksplorasi di Indonesia.

​"Konsep open marriage adalah hal yang tabu dan cenderung dihindari dalam percakapan, meskipun fenomena ini menjadi bagian dari dinamika hubungan di masyarakat modern. Di sisi lain, kami melihat besarnya ketertarikan masyarakat terhadap seluk-beluk kehidupan selebritas. Melalui iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, kami memadukan kedua fenomena sosial tersebut menjadi sebuah cerita yang kuat, relevan, dan penuh intrik," ungkap Ikhsan.

​Ikhsan berharap series ini tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat mengajak penonton melihat kompleksitas sebuah hubungan dari berbagai sudut pandang serta membuka ruang diskusi mengenai kepercayaan, komitmen, dan pilihan dalam kehidupan pernikahan. 

Pemeran dan tim produksi iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta dalam sesi press conference Gala Premiere yang digelar di CGV Pacific Place, Jakarta, pada 23 September 2026.

​Jangan lewatkan bagaimana kisah Citra, Duta, Denis, dan Vania berkembang hingga berbagai rahasia mulai terungkap. Saksikan 10 episode iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta mulai 25 September 2026. Episode baru hadir setiap hari Jumat eksklusif di iQIYI.

Tentang iQIYI International

iQIYI menghadirkan iQIYI International (iQ.com dan aplikasi internasionalnya), layanan streaming yang menyajikan beragam serial TV dan film Asia bagi penonton global. Layanan ini dapat diakses melalui berbagai perangkat di 191 negara di seluruh dunia, dengan subtitle yang tersedia dalam 13 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, Mandarin Sederhana, Mandarin Tradisional, Inggris, Melayu, Thai, Vietnam, Korea, dan Spanyol. iQIYI International saat ini melayani lebih dari 100 juta pengguna dengan katalog konten yang mencakup lebih dari 1.700 judul drama, variety show, dan anime, serta sekitar 2.000 judul film.

​Di Indonesia, iQIYI International terus memperkuat kehadirannya melalui pengembangan konten lokal dan berbagai kolaborasi strategis. Bercinta Dengan Maut (The Other Sister), sebagai original series Indonesia pertama iQIYI, berhasil meraih posisi Trending #1 di Indonesia dan menjadi Most Watched Series in Southeast Asia, sekaligus memperkuat kehadiran cerita Indonesia di tingkat lokal maupun regional. iQIYI International juga memiliki kantor lokal di Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Amerika Utara.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:

Website: www.iq.com

Facebook: @iQIYIIndonesia

Instagram: @iqiyi_indonesia

TikTok: @iqiyi.indonesia

YouTube: @iQIYIIndonesia

App: App Store & Google Play Store

Fresh, Eksentrik, dan Mengganggu! Hasut Buktikan Film Horor tak Perlu Penampakan! Suara HT Bikin Kita Merinding dan Terteror

Tonton film Hasut mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 23 September 2026 – Tuta Films mempersembahkan film horor-misteri Hasut, karya debut sutradara Ilya Sigma yang mengeksplorasi perasaan takut, curiga, dan terteror dari suara-suara misterius yang muncul dari HT, dan menyesatkan pikiran keempat sahabat di sebuah hutan. Siapa yang berada di balik suara tersebut? Dan mana yang harus dipercaya? Dua pertanyaan ini menjadi tema utama Hasut, sekaligus membawa penonton masuk ke dalam misteri yang dialami keempat sahabat tersebut.

​Film Hasut menghadirkan horor tanpa penampakan, dengan ketegangan yang dibangun melalui suara-suara misterius yang semakin manipulatif dan memicu paranoia. Justru suara-suara inilah yang membuat teror terasa nyata dan membuat penonton terus bertanya seberapa jauh mereka akan saling mencelakai.

​Dibintangi empat pemeran utama yang menampilkan akting mereka dengan solid, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova saling curiga satu sama lain, saat suara misterius itu ‘membajak’ HT mereka.

​Keempatnya yang datang dengan luka dan trauma masa lalu, menjadi semakin tak terkontrol, ketika suara-suara itu juga menghasut mereka untuk saling tak mempercayai hingga akhirnya melukai satu sama lain. Hingga akhir film, kita bertanya, siapa yang menghasut, dan siapa yang bisa dipercaya, saat semua yang terlihat tak sama dengan yang terdengar?

​“Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat,” ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.

​Film Hasut disutradarai oleh Ilya Sigma, ditulis Ilya Sigma bersama Priesnanda Dwisatria. Film ini diproduseri oleh Putrama Tuta, Siera Tamihardja, dan ko-produser Nick Musa, serta ko-produser Randi Wibawa.

​“Setelah menonton film Hasut, akan membuat penonton mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita kira sudah kita yakini. Seperti perjalanan empat karakter sahabat di film ini, penonton akan terus dihadapkan pada situasi yang membuat mereka bertanya, siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?” Ujar produser Siera Tamihardja. 

​Bagi Rachel Amanda, film Hasut menjadi tantangan baru baginya. Hasut sendiri menjadi film horor ketiga yang dibintanginya. Salah satu yang menantang bagi Amanda adalah lokasi syuting yang sepenuhnya berada di hutan, dengan pemeran yang terdiri dari empat aktor. Kekuatan aktor di film ini juga sangat diuji untuk menghidupkan suasana teror psikologis yang muncul dari suara-suara misterius.

​“Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita. Dan berada di hutan, alam, membuat kita bisa terbuka sisi-sisi yang mungkin selama ini kita tutupi, dan memperlihatkan tentang apakah kita adalah orang yang selama ini menghasut, atau yang dihasut?” Ujar Rachel Amanda.

​“Buat aku salah satu adegan paling emosional adalah saat bersama Rachel Amanda, yang cukup menguras emosi. Karena kami berdua di sini adalah kakak-adik, yang memiliki trauma di masa lalu, dan di hutan inilah, keduanya mencoba membicarakannya untuk pertama kalinya. Perasaan luka masa lalu itu juga yang rasanya membuat karakter Vira dan Rere relate dengan banyak orang,” ujar Karina Salim.

​Pada akhirnya, Hasut meninggalkan satu pertanyaan menohok: ketika semua orang terlihat bisa dipercaya, tetapi suara yang kita dengar mengatakan sebaliknya, siapa yang akan kita pilih untuk dipercaya?

​Film Hasut akan tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @filmhasut & @tutafilms.

Sinopsis

​Empat orang pergi ke tengah hutan untuk menjalani sebuah ritual penyembuhan. Namun, apa yang seharusnya menjadi perjalanan untuk menemukan kedamaian justru berubah menjadi misteri yang perlahan menggerogoti rasa percaya di antara mereka. Di tengah hutan, suara-suara hasutan mulai muncul, mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya dan apa yang sebenarnya terjadi. Ketakutan, luka lama, dan kecurigaan membuat mereka semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada di dalam pikiran mereka. Hutan pun menjadi ruang yang menguji batas kepercayaan mereka. Tempat di mana setiap suara bisa menjadi petunjuk, ancaman, atau bahkan kebohongan.

Jakarta Film Week 2026 Hadir sebagai ENCOUNTERS antara Film, Penonton, dan Pelaku Industri Indonesia dan Internasional serta Menjadi Tuan Rumah Premiere Film Indonesia

Festival keenam ini digelar 21–25 Oktober 2026, membuka literasi sinema dan peluang kolaborasi baru bagi pengembangan proyek film lintas generasi

Jakarta, 23 September 2026 — Jakarta Film Week resmi mengumumkan rangkaian program penyelenggaraannya yang keenam dalam konferensi pers di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Festival akan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. Konferensi pers dihadiri oleh Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, S.IP., Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Andika Permata, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra, Stafsus Diky Soemarno, Festival Director Rina Damayanti, Head of Industry Gayatri Nadya, Program Manager Novi Hanabi, serta Festival Ambassador Ali Fikry.

​Tahun ini, Jakarta Film Week semakin menegaskan posisinya sebagai ruang yang terus berkembang bagi ekosistem perfilman Jakarta. Sejalan dengan visi Jakarta Kota Sinema, festival menghadirkan lebih banyak program dan kolaborasi yang membuka wawasan sekaligus peluang kerja sama baru, khususnya bagi penonton dan pelaku film muda Indonesia yang ingin mengembangkan proyek mereka.

ENCOUNTERS: Titik Temu Sineas, Film, dan Penonton

​Memasuki tahun keenamnya, Jakarta Film Week mengusung tema ENCOUNTERS, melanjutkan perjalanan dari tema REIGNITE pada 2025. Pergeseran ini menandai titik temu antara sineas, film, dan penonton, sekaligus membuka peluang bagi pembuat film baru untuk terhubung dengan industri film Indonesia dan internasional.

​Sebagai bagian dari upaya menjangkau penonton yang lebih muda, Jakarta Film Week menggandeng Ali Fikry, aktor muda Indonesia yang karyanya sedang banyak diperbincangkan, sebagai Festival Ambassador. Langkah ini sejalan dengan komitmen festival menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif dan imersif untuk lintas generasi.

​“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melihat Jakarta Film Week sebagai mitra strategis dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota sinema. Melalui sinergi bersama Jakarta Film Summit dan Jakarta Film Commission, kami berharap ekosistem perfilman ibu kota semakin terbuka bagi pelaku industri dan masyarakat luas,” ucap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, S.IP.

​Sebelum festival utama berlangsung Oktober nanti, Jakarta Film Week sudah lebih dulu menyapa publik lewat program JFW360, mulai dari Cerdas Cermat di Gramedia Jalma Melawai dan Kopikina Kemang, pemutaran film pendek di JITEX, hingga peluncuran 24 film pendek yang bisa ditonton gratis melalui Vidio sejak 20 September hingga 20 Oktober 2026. JFW360 juga menggandeng Kedutaan Besar Peru dan Jakarta Film Commission sebagai kolaborator.

​"Enam tahun perjalanan Jakarta Film Week mengajarkan kami bahwa festival ini bukan hanya soal menayangkan film, tetapi soal mempertemukan orang-orang di baliknya, mencari talenta baru, dan memperkuat ekosistem perfilman di Indonesia. ENCOUNTERS adalah perwujudan dari titik temu itu," kata Rina Damayanti, Festival Director Jakarta Film Week 2026.

Program Film: Dibuka oleh Film Ah Girl dari Singapura dan ditutup dengan Film The Sea Speak His Name

​Sebagai Opening Film, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan Ah Girl (2026) karya sutradara Ang Geck Geck dari Singapura, membuka rangkaian pemutaran dengan kisah personal dan hangat. Festival akan ditutup dengan penayangan perdana di Indonesia untuk The Sea Speaks His Name (2026) karya sutradara Yosep Anggi Noen sebagai Closing Film.

​Festival turut menghadirkan judul-judul internasional yang lebih dulu mencuri perhatian di berbagai festival dunia. Global Feature Competition membawa La Grazia (2025) karya Paolo Sorrentino, Teenage Sex and Death at Camp Miasma (2026) karya Jane Schoenbrun, Rose (2026) karya Markus Schleinzer, Bum (2026) karya Makoto Nagahisa, Filipiñana (2026) karya Rafael Manuel, serta Chronicles from the Siege (2026) karya Abdallah Al-Khatib. Program Currents menghadirkan Couture (2025) karya Alice Winocour dan Rosebush Pruning (2026) karya Karim Aïnouz.

​Di sisi sinema Indonesia, Jakarta Film Week menjadi tuan rumah sejumlah premiere yang dinantikan. Program Direction Award menayangkan perdana Togel (2026) karya Yogi S. Calam dan Harga Teman (2026) karya Andrew Kose. Global Feature Official Selection menghadirkan Four Seasons in Java (2026) karya Kamila Andini, produksi lintas negara antara Indonesia, Perancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, dan Singapura. Semangat kolaborasi lintas negara juga hadir lewat Next Step Studio, program kolaborasi Indonesia-Prancis yang menampilkan Holy Crowd (2026), Original Wound (2026), Annisa (2026), dan Mothers Are Mothering (2026).

​Capaian lain tahun ini datang dari Jakarta Film Fund, yang melahirkan delapan film pendek, tiga di antaranya dari Jakarta Film Fund for Student hasil kolaborasi dengan J-Youth Film Festival 2026.

​"Program film tahun ini kami susun untuk eksplorasi keberagaman, melalui film-film yang diantisipasi penonton hingga premiere film Indonesia dengan isu-isu yang relevan dengan kehidupan kita hari ini. Untuk pertama kalinya juga kita akan menyaksikan delapan film pendek berlatar Jakarta lewat Jakarta Film Fund, sebuah capaian baru bagi kami untuk memfasilitasi talenta baru dari pembuat film di Jakarta," tambah Novi Hanabi, Program Manager Jakarta Film Week 2026.

JFWNET—Industry Program: Ruang Bertumbuh bagi Pelaku Film Muda Indonesia

​Melalui JFWNET—Industry Program, Jakarta Film Week kembali menghadirkan ruang bagi sineas dan pelaku industri untuk bertemu, bertukar pengetahuan, membangun jejaring, serta membuka peluang kolaborasi lewat Producers Lab, Pitching Forum, Talents Hub, Industry Talk, hingga Festival Meeting. Program ini membuka jalan bagi peserta untuk melanjutkan perjalanan mereka ke platform seperti Goedam, BIFAN Fantastic School, Platform Busan, hingga dukungan menuju Cannes Film Festival.

​Producers Lab 2026 diikuti sepuluh emerging produser Indonesia terpilih dari Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan. Talents Hub 2026 menghadirkan emerging filmmakers dari jalur rekomendasi Minikino Film Week, Mollucas Film Festival, CRAFT Animfest, dan Layar Indonesiana untuk peserta lokal, serta CinemaWorld Singapura, QCinema International Film Festival Filipina, dan Autumn Meeting Vietnam untuk peserta internasional. Pitching Forum 2026 fokus pada proyek-proyek Indonesia yang membutuhkan dukungan dan kolaborasi nasional maupun internasional, dengan genre yang beragam mulai dari horor hingga animasi, representasi wajah industri film Indonesia hari ini.

​JFWNET—Industry Program tahun ini juga berkolaborasi dengan Cerita Anak Nusantara, kompetisi ide cerita untuk tontonan anak dan keluarga Indonesia yang dipersembahkan Netflix bersama Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI). Sepuluh proyek film dari berbagai kota di Indonesia akan melakukan pitching di Jakarta Film Week 2026.

​"JFWNET—Industry Program berupaya membuka pintu bagi para sineas muda, menjadi tempat mereka bisa bertumbuh, terhubung dengan mitra internasional, dan melangkah lebih jauh, seperti yang sudah dibuktikan oleh alumni-alumni kami. Setiap tahun, ekosistem ini terus meluas dan menyambut wajah-wajah baru," ucap Gayatri Nadya, Head of Industry Jakarta Film Week 2026.

Jakarta Film Week 2026 Menjadi Ruang Pilihan Penonton Lintas Generasi

​Jakarta Film Week 2026 hadir sebagai ruang untuk memperkaya literasi sinema lintas generasi. Program seperti Emergency Broadcast dan Herstory mengajak penonton membahas isu-isu terkini lewat sudut pandang sinema; program kompetisi internasional serta Fantasea membawa tren film terbaru dari berbagai belahan dunia; sementara Family Time menghadirkan tontonan ramah keluarga dengan pengalaman yang tetap interaktif dan imersif. Keragaman program ini menjadikan Jakarta Film Week ruang yang terbuka bagi siapa pun, dari penonton muda hingga keluarga, untuk menemukan pengalaman sinema masing-masing.

​"Apa pun yang kamu cari di sebuah festival film, mulai dari isu yang ingin didiskusikan, tren sinema terbaru, atau tontonan yang bisa dinikmati bersama keluarga, semuanya ada di Jakarta Film Week. Aku mengajak semua orang untuk datang dan menikmati keseluruhan festival ini sesuai dengan apa yang mereka cari. Terutama untuk teman-teman yang seumuran aku, kita bisa menikmati festival film bersama-sama," tutup Ali Fikry, Festival Ambassador Jakarta Film Week 2026.

Kolaborasi Lintas Sektor

​Jakarta Film Week 2026 digelar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Jakarta Film Commission (JFC), dengan dukungan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan. Festival juga memperkuat hubungan perfilman lintas kota dunia bersama Hong Kong, Italia, Belanda, dan Jepang, melalui mitra kelembagaan seperti Hong Kong Trade Development Council (HKTDC), Istituto Italiano di Cultura, Cinecittà, Japan Foundation, Erasmus Huis, Institut Français Indonesia, serta kedutaan besar Italia, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat. Di sisi industri, JFWNET—Industry Program menjalin kolaborasi dengan Netflix, ACFM Platform Busan, Short Film Corner Marché du Film - Festival de Cannes, Hong Kong-Asia Film Financing Forum, HKIFF Industry, QCinema International Film Festival, dan Bucheon Fantastic Film Festival (BIFAN).

Menuju Jakarta Film Week 2026

​Jakarta Film Week 2026 akan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di sejumlah ruang pemutaran dan ruang kreatif di Jakarta: CGV Grand Indonesia, Galeri Indonesia Kaya, Mercure Jakarta Cikini, Paviliun Raden Saleh ARTOTEL, Taman Ismail Marzuki, CGV FX Sudirman, dan FX Sudirman. Tiket akan tersedia di TIX.ID mulai 7 Oktober 2026, dan penonton juga bisa mendapatkan tiket secara on-the-spot. Informasi lengkap mengenai program, jadwal pemutaran, dan tiket dapat diakses melalui www.jakartafilmweek.com serta akun media sosial @jakartafilmweek.

​Mari bertemu di Jakarta Film Week 2026 dan menemukan berbagai cerita serta perspektif baru melalui ENCOUNTERS.

TENTANG JAKARTA FILM WEEK

Jakarta Film Week (JFW) merupakan festival film tahunan yang digagas pada 2021 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta untuk mendukung perkembangan perfilman Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Setiap tahunnya, JFW menghadirkan film dari Indonesia dan berbagai negara melalui rangkaian pemutaran, diskusi, masterclass, program industri, hingga kegiatan komunitas. Lebih dari sekadar festival, JFW juga menjadi ruang bagi pembuat film untuk berkembang, bertemu, dan membangun koneksi di dalam ekosistem perfilman.

TENTANG JFWNET—Industry Program

JFWNET—Industry Program merupakan program paralel Jakarta Film Week yang menjadi ruang pertemuan dan pengembangan bagi para pelaku industri film Indonesia. Melalui berbagai program seperti lab, workshop, talks, focus group discussion, dan pitching forum, JFWNET—Industry Program mempertemukan filmmaker, produser, festival, distributor, pendana, dan pelaku industri lainnya untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan proyek, serta membuka peluang kolaborasi.

NARAHUBUNG

Website : www.jakartafilmweek.com

Instagram : @jakartafilmweek

X : @jakartafilmweek

TikTok : @jakartafilmweek

Facebook : Jakarta Film Week

Senin, 21 September 2026

Memburu Pemangsa Hadirkan Horror-Crime-Action Paling Berani Tahun Ini! 4 Jurnalis Perempuan Memburu Predator Anak dalam Perburuan Penuh Nyali dan Ketegangan

Tonton Memburu Pemangsa mulai 24 September 2026 di bioskop! Beli tiketnya sekarang

Jakarta, 21 September 2026 — Sinemaku Pictures menghadirkan karya paling berani tahun ini lewat horror-crime-action Memburu Pemangsa garapan produser dan sutradara Umay Shahab, yang akan tayang mulai 24 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Sebelumnya, Memburu Pemangsa juga telah melakukan Nonton Duluan di 7 kota di Indonesia: Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Yogyakarta, Medan, dan Makassar, yang mendapat antusias tinggi, dan sebagian besar tiket terjual habis.

​Film ini menjadi karya paling solid Umay, yang menjadi perjalanan spiritualnya untuk menghadirkan karya dengan isu yang relevan dan penting tentang kekerasan anak, namun juga secara pendekatan sinematik memberikan peningkatan skala yang lebih besar dari produksi sebelumnya.

​Dibintangi empat aktris yang menjadi pemeran utama, Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem, keempatnya membawa sebuah perjalanan menegangkan saat memburu predator terkeji yang memangsa anak-anak. Selain keempat aktris, film ini turut dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana, Andri Mashadi, Septian Dwi Cahyo, Shareefa Daanish, dan Jordan Omar.

​Musuh utama film ini bukanlah sosok hantu atau iblis, tapi manusia keji yang bekerja sama dengan iblis. Sementara empat jurnalis perempuan berdiri di garis depan, berani mempertaruhkan nyawa untuk membongkar dan menghentikan kejahatan tersebut. Film ini menunjukkan eksplorasi visual terbaru Sinemaku Pictures, dengan teknis yang matang, efektif menghadirkan ketakutan sekaligus perasaan mendebarkan sepanjang film.

​“Sebagai manusia dan pembuat film, tentunya saya ingin bertumbuh. Memburu Pemangsa adalah karya saya dalam bentuk yang baru, lewat sajian horror-crime-action yang akan memberikan pengalaman menonton penuh ketegangan dan warna yang berbeda dari karya-karya saya sebelumnya, dan ini menjadi seperti spiritual journey bagi saya” ujar produser dan sutradara Umay Shahab.

​“Film ini membawa isu yang penting, tentang kejahatan pada anak yang angkanya hingga saat ini juga masih sangat tinggi. Semoga film Memburu Pemangsa juga bisa memberi dampak pada isu yang sangat penting untuk terus kita bicarakan,” tambah Umay. 

​Kemasan horror-action, menjadi salah satu alasan Laura Basuki yang memerankan Agnes turut bermain di film ini, selain juga karena mengangkat isu yang penting. Dengan elemen horror-crime-action yang juga membawa unsur investigasi, Memburu Pemangsa menghadirkan pengalaman sinematik dari genre horor yang tak biasa.

​“Semua cinematic experience akan kalian rasakan di film ini, saat horror-crime-action menyatu, dan ini pengalaman yang baru bagiku. Semoga film ini juga bisa memberikan ruang diskusi untuk orang-orang, agar semakin menyadarkan mereka harus meminta bantuan ke mana ketika hal-hal serupa terjadi pada mereka,” ujar Laura Basuki.

​Film ini sekaligus menjadi pertama kalinya Laura berkolaborasi bersama Sinemaku Pictures, serta ketiga pemeran perempuan lain, Prilly, Taskya, dan Yasamin.

​Prilly Latuconsina mengungkapkan, Memburu Pemangsa juga bisa menjadi karya untuk banyak orang bisa lebih peka dan peduli terhadap isu kekerasan anak.

​“Saya melihat isu kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Indonesia bukan karena pemberitaan minim, informasi sudah banyak tapi kita juga perlu melihat ada budaya diam. Di beberapa lingkungan, seperti di rumah, atau ketika kita membaca informasi tersebut kita bingung harus melakukan apa sehingga itu dibiarkan saja. Jadi viral sehari, dua hari, tidak ada penanganan yang tepat. Padahal harus ada aksi, ketika ada berita-berita tersebut. Isu ini perlu bantuan kita semua untuk bersuara dan memberikan respons yang tepat,” ujar Prilly Latuconsina.

​Bagi Taskya, yang pernah bermain di film horor dan action, memerankan karakter Brina di film Memburu Pemangsa membutuhkan stamina yang sangat ekstra, sebab dua genre yang sangat bikin 'ngos-ngosan' disatukan dalam satu film.

​“Butuh tenaga berlebih, karena capeknya dua kali lipat. Penonton sepertinya juga akan ikut merasakan ngos-ngosannya mengikuti kami berempat menginvestigasi predator di film ini,” ujar Taskya Namya.

​“Aku bisa melihat gambaran aku ada di karakter Cia di film ini. Seorang tante yang menjaga keponakannya. Dan di kehidupan nyata, aku juga seorang tante yang harus menjaga tiga keponakanku,” tambah Taskya.

​Yasamin Jasem, yang memerankan Anya dan menjadi seorang jurnalis yang melakukan riset dan memiliki minat mendalam pada demonologi mengungkapkan ia dan Anya memiliki kedekatan. 

​“Aku dan Anya memiliki kedekatan. Anya adalah jurnalis yang melakukan riset dan memiliki minat pada demonologi. Sementara aku juga banyak menonton documentary crime dan berbau cult. Kami para pemeran juga bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak, yang menurutku menjadi pemantik untuk menyuarakan isu yang kami angkat, dan semoga semua orang bisa menjadi lebih baik setelah menonton film ini,” ujar Yasamin Jasem.

Memburu Pemangsa membawa ancaman nyata terhadap anak ke dalam kisah perburuan empat jurnalis perempuan. Memadukan horror, crime, dan action, film ini menghadirkan pengalaman horor yang intens sekaligus mengajak penonton melihat isu tersebut lebih dekat.

​Tiket untuk penayangan hari pertama film Memburu Pemangsa sudah bisa dibeli mulai sekarang, dan tersedia promo Beli 1 Gratis 1 Tiket! Pembelian dapat dilakukan lewat online melalui M-TIX, CGV, Cinepolis dan TIX ID. Serta Offline di Kota Cinema Mal, Sam's Studios dan New Star Cineplex.

​Ikuti informasi terbaru mengenai film Memburu Pemangsa melalui akun media sosial Sinemaku Pictures di Instagram @sinemaku_pictures dan @memburupemangsa. Tonton film Memburu Pemangsa di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026!

Sinopsis

​4 anak menghilang dari satu kawasan, ditemukan termutilasi dan waktu semakin menipis ketika ada anak lainnya yang terancam. AGNES (Laura Basuki), pemimpin redaksi Daily Wave News, yang telah menolak kemampuan supernatural sejak kematian putrinya sendiri, terseret ke dalam kasus ini ketika seorang anak diculik tepat di depan matanya. Bersama 3 jurnalis perempuan, CIA (Prilly Latuconsina), BRINA (Taskya Namya), ANYA (Yasamin Jasem) dan ditemani seorang polisi bernama PETRA (Andi Mashadi), mereka menginvestigasi kasus gelap ini dan berujung hanya memiliki dua pilihan: mundur untuk menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawa demi anak-anak yang tidak pernah mampu dilindungi.

Tentang Sinemaku Pictures

​Sinemaku Pictures merupakan rumah produksi yang didirikan pada tahun 2019 oleh Umay Shahab dan Prilly Latuconsina. Berfokus pada pengembangan cerita yang relevan dan emosional, Sinemaku Pictures telah menghasilkan sejumlah film box office, antara lain Kukira Kau Rumah (2022), Ketika Berhenti di Sini (2023), Bolehkah Sekali Saja Kumenangis (2024), serta Perayaan Mati Rasa (2025).

​Sinemaku Pictures berkomitmen untuk terus menghadirkan karya-karya yang autentik dan berdampak bagi industri perfilman Indonesia.

Kerja Ngejar Apa Sih? Film Lagi Probation Rilis Teaser Trailer, Hadirkan Ala “Squid Game” di Dunia Kerja Saat Aurora Ribero Berjuang Demi Masa Depan

Film Lagi Probation tayang mulai 12 November di bioskop Indonesia

Jakarta, 21 September 2026 – BASE Entertainment menghadirkan film drama komedi terbaru berjudul Lagi Probation karya sutradara Archie Hekagery, yang menampilkan kisah enam first jobber saling bersaing untuk mendapatkan satu posisi sebagai karyawan tetap di masa probation mereka.

​Di teaser trailer film Lagi Probation, ditampilkan Bintang (Aurora Ribero), bangun tiap pagi, mengejar impian dia untuk mendapat pekerjaan tetap, demi bisa beli token listrik dan mempersiapkan biaya masuk kuliah adiknya, ketika ayahnya (Indra Birowo), baru saja masuk masa pensiun sebagai guru. Di tengah tekanan tersebut, Bintang harus bersaing dengan lima calon karyawan lainnya untuk mendapatkan satu posisi sebagai karyawan tetap.

​Sementara itu teaser poster menampilkan sisi tak terduga saat Aurora Ribero naik ke meja dan membuat kelima temannya sesama karyawan probation, Rey Bong, Gabriella Ekaputri, Daffa Wardhana, Arafah Rianti, dan Lutfi Afansyah kaget. Apa yang terjadi?

​“Di film Lagi Probation ini saya ingin menghadirkan sebuah drama komedi saat mencari kerja berubah menjadi permainan bertahan hidup. Seperti Squid Game tapi di dunia kerja. Semua orang bersaing demi posisi, dan semuanya sama-sama punya alasan untuk bertahan masing-masing dan rasanya ini relate ke banyak orang,” ujar sutradara Archie Hekagery.

​Film Lagi Probation diadaptasi dari buku best seller berjudul sama karya Samuel Ray, seorang HR profesional. Di filmnya, kita akan melihat perjuangan para pencari kerja yang bersaing demi mendapat satu posisi karyawan tetap.

​“Di film ini aku berperan sebagai Bintang. Bintang ini secara finansial struggle, karena bapaknya pensiun, dia belum dapat kerja, dan adiknya mau kuliah. Beban yang dipikul lumayan berat. Akhirnya dia dapat tawaran masuk probation di sebuah perusahaan bareng lima orang lainnya. Kami bersahabat, tapi tiba-tiba dikasih tahu kalau yang bisa diterima jadi karyawan tetap cuma satu orang. Di situlah drama-drama kantor akan terjadi,” ujar Aurora Ribero.

​Bagi generasi muda, mendapatkan pekerjaan pertama bukan sekadar milestone karier. Ketika enam orang masuk dan hanya satu yang bisa bertahan, dunia kerja pun terasa seperti survival game versi orang dewasa. Tapi pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang mendapatkan pekerjaan—melainkan bagaimana setiap orang menemukan alasan untuk terus bertahan.

BASE ENTERTAINMENT

​Ikuti perkembangan terbaru film Lagi Probation di akun Instagram @filmlagiprobation dan @base.id. Tonton filmnya di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.

Tentang BASE Entertainment

​BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto. Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina's Adventure 2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Terbaru, film animasi keluarga Garuda Di Dadaku (Garuda: Dare to Dream), yang dirilis pada Juni 2026, meraih Gryphon Award – Best Film (Elements +6) serta LETE Special Award di Giffoni Film Festival ke-56 di Italia. Dengan komitmen kuat pada inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.

Sabtu, 19 September 2026

Film Menang Untuk Kalah Mengangkat Isu Finansial Keluarga, Tayang 19 November 2026 Di Bioskop

Jakarta, 19 September 2026 – ​Terinspirasi dari beragam persoalan finansial yang sering dialami oleh sebuah keluarga, Rumah Produksi Para Kreator memproduksi film drama yang mengangkat isu tersebut. Di mana pengambilan keputusan finansial oleh seorang kepala rumah tangga harus melalui pertimbangan matang agar tidak menempatkan anggota keluarga lainnya dalam resiko yang membahayakan. Jangan sampai niat hati memberi kebahagiaan, namun malapetaka yang didapat.

​Film yang diberi judul “Menang Untuk Kalah” ini akan tayang di seluruh bioskop tanah air mulai Tanggal 19 November 2026. Naskah film ini ditulis oleh Jujur Prananto, penulis skenario yang sarat pengalaman dengan karya-karya besar seperti “Petualangan Sherina” dan “Ada Apa Dengan Cinta?”. Jujur mengemas cerita dalam film ini senatural dan sedekat mungkin dengan kehidupan banyak orang. Unsur dramatis dalam film ini sangat kental. Alur ceritanya menghanyutkan penonton pada konflik-konflik yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

​Para Kreator mendapuk Hasto Broto untuk menyutradarai film ini. Ia mengarahkan film ini dengan pendekatan emosional yang sangat kuat namun tidak berlebihan. Tangisan, tawa, kesedihan serta kebahagiaan yang tergambarkan dalam film ini terasa sangat natural. Hasto juga mampu memaksimalkan akting para pemeran film ini. Para pemeran dituntut untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Adapun aktor/ aktris yang membintangi film ini adalah sebagai berikut:

  • ​Surya Saputra sebagai Bima

  • ​Lulu Tobing sebagai Dewi

  • ​Ajil Ditto sebagai Rako

  • ​Putri Ziani sebagai Reina

  • ​Yessy Gusman sebagai Eyang Lastri

  • ​Allesandrio Reinhard Karamoy sebagai Stefan

​Selain itu, film ini didukung juga oleh aktor/ aktris kawakan, seperti:

  • ​Tike Priatnakusumah sebagai Ibu Direktur

  • ​Beddu sebagai Samsul

  • ​Tigor sebagai Debt Collector

​Secara keseluruhan, proses pembuatan film "Menang Untuk Kalah", dari tahap script development/ writing hingga final editing memakan waktu lebih kurang 10 ​(sepuluh) bulan. Sedangkan khusus syutingnya sendiri berlangsung selama 22 (dua puluh dua) hari dan mengambil lokasi di area Bandung Raya.

​Selain menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, film ini juga ditopang oleh lagu yang lirik-liriknya menyatu dengan adegan serta relate terhadap perasaan banyak orang. Film ini merupakan film Indonesia dengan lagu/ Original Soundtrack terbanyak yang dibuat khusus. Terdapat 16 (enam belas) judul lagu, yakni:

Band Sound Of Panca

  • ​Menang Untuk Kalah

  • ​Judi (feat. Rudy Nugraha – Ex Caffeine)

  • ​Kalah Telak

  • ​Lelah Hati

  • ​Ku Ingin Menjagamu (feat. Rudy Nugraha – Ex Caffeine)

  • ​Ku Ingin Menjagamu (acoustic version)

  • ​Dewi

  • ​Tersisa Sesal (feat. Rudy Nugraha – Ex Caffeine)

  • ​Tersisa Sesal (acoustic version)

  • ​Hancur lebur (feat. Andinna - Candu)

  • ​Baik-baik Tanpaku

Rudy Nugraha (Ex Caffeine)

  • ​Belahan Jiwaku

YannaHead

  • ​Menangku Untuk Kalah

Band Strip-457

  • ​Sang Pemenang

Band Candu

  • ​Tak Ada Aku

  • ​Hidup Enggan Mati Tak Mau (feat. DJ Fhania)

​Di belakang layar, film ini didukung tenaga profesional yang kaya pengalaman di industri film dan musik Indonesia, yaitu:

  • Executive Producer
    • ​Salman Alfarisy
  • Co Executive Producer
  1. Imam Soehirnan
  2. Alwin Falah P
  3. Nur Alamsyah Nirza
  4. Nanda Aulia
  5. Anwar Fauzi
  6. Noor Diansyah
-Producer
• Salman Alfarisy
• Hasto Broto

- Co Producer
• Cikal R. Ramadhan
• Rudy Nugraha
• Rezki Deitullah 

- Director
• Hasto Broto

-Story Idea
• Salman Alfarisy

- Script Writer
• Jujur Prananto

- Director of Photography
• Asep Kalila

SINOPSIS

​Bima memiliki keluarga yang sangat ideal, Istri cantik bernama Dewi, serta 2 (dua) orang anak remaja yaitu Reina dan Rako. Keluarga ini begitu harmonis. Dalam perjalanannya, setelah memiliki dana yang cukup untuk uang muka, keluarga ini memutuskan untuk membeli rumah yang sudah lama mereka impikan dengan cara kredit.

​Mereka pun pindah ke rumah tersebut. Tidak sebatas pindah rumah, keluarga ini juga membeli perabotan untuk rumah baru dengan nilai yang besar. Sejujurnya, keputusan ini membuat keuangan keluarga tersebut menipis.

​Kemudian, tidak berhenti sampai di situ, di tengah keuangan yang mulai menipis, keluarga ini mengganti mobil mereka dengan yang lebih mahal. Walau sebenarnya mobil mereka masih sangat layak. Diikuti dengan motor baru untuk anak mereka, Rako. Juga dengan cara kredit.

​Dengan upah Bima sebagai pekerja lepas pada sebuah proyek, keputusan membeli rumah, perabotan dan kendaraan baru pada saat bersamaan sangat membebani keuangannya. Pastinya, sangat berat untuk membayar cicilannya. Akhirnya untuk mengurangi beban biaya bulanannya, Bima pun mengorbankan salah satu kewajiban bulanan. Padahal, hal ini sangat dibutuhkan oleh keluarganya. Namun, apa boleh buat, keputusan telah diambil.

​Dan benar saja, di luar dugaan, keluarga ini mengalami kejadian luar biasa. Butuh biaya besar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di situasi ini, keputusan ideal adalah mengalihkan kredit mobil dan motornya. Namun alih-alih meng-over kredit cicilannya, Bima malah mengambil keputusan ekstrem tanpa berdiskusi dengan istrinya. Keputusan ini memang menjadi solusi instan. Namun secara jangka panjang, keputusan ini berdampak buruk bagi Bima dan seluruh anggota keluarganya.

​Persoalan pun datang bertubi-tubi. Bima kewalahan meangatasinya. Setiap keputusan yang diambil malah semakin memperburuk keadaan. Lalu, bagaimana Bima mengatasi persoalan-persoalan tersebut? Adakah jalannya? Akankah Bima dan keluarganya mampu menyelesaikan masalah mereka? Entahlah...


TENTANG PARA KREATOR

Panca Rahayu Kreasindo (PARA KREATOR) adalah perusahaan kreatif yang bergerak di bidang penyelenggaraan konser, produksi film, dan pengembangan karya hiburan di Indonesia. Kami hadir sebagai wadah kolaborasi bagi talenta, kreator, dan brand untuk menciptakan pengalaman yang kuat, relevan, dan berkesan bagi audiens.

​Berangkat dari semangat profesionalisme dan inovasi, Para kreator mengelola setiap proyek dengan pendekatan strategis, kreatif, dan terukur. Dalam industri konser, kami menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya spektakuler secara visual, tetapi juga memiliki kualitas produksi yang solid dan pengalaman audiens yang maksimal.

​Di bidang perfilman, kami berfokus pada pengembangan cerita yang kuat dan bermakna, dengan standar produksi yang kompetitif serta visi distribusi yang jelas. Kami percaya bahwa film bukan sekadar hiburan, tetapi medium yang mampu menyampaikan pesan, membangun empati, dan menciptakan dampak sosial. Dengan jaringan profesional yang luas serta komitmen pada kualitas, Panca Rahayu Kreasindo terus berkembang sebagai mitra terpercaya dalam industri hiburan dan kreatif di Indonesia.

Jumat, 18 September 2026

Dibuat Dekil dan Belang, Caitlin Halderman Sampai Tak Dikenali dalam Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan)

JAKARTA – Caitlin Halderman tampil jauh berbeda dalam Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan). Demi memerankan Riska, penampilan Caitlin dibuat lebih kusam, dekil, dan belang hingga orang-orang terdekatnya sempat tidak megenalinya.

​Riska merupakan perempuan Indonesia yang bekerja di rumah sebuah keluarga terpandang di Malaysia. Dalam kesehariannya, ia tampil sederhana dengan riasan yang sangat minimal.

​Caitlin mengungkapkan, perubahan tersebut membantunya meninggalkan citra yang selama ini dikenal penonton dan masuk lebih dalam ke kehidupan Riska.

​“Sampai ada yang bilang, ‘Oh my God, I didn’t even recognize you.’ Mereka sampai tidak sadar itu aku karena perbedaannya sangat jauh. Aku dibuat terlihat dekil dan belang. Itu juga membantu aku masuk ke karakter,” ujar Caitlin dalam media screening The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) di Jakarta, 18 September 2026.

​Bagi Caitlin, keberhasilan transformasi tersebut terasa ketika teman-temannya tidak langsung mengenali dirinya dalam materi promosi serial itu.

​“Secara penampilan, ini benar-benar bukan aku yang biasanya. Kali ini aku dibuat sebisa mungkin agar tidak terlihat seperti Caitlin sama sekali. Sepertinya mereka berhasil,” katanya.

​“Bahkan teman-teman aku yang melihat materinya sebelum diunggah langsung bereaksi, ‘Gila, ini siapa?’ Itu memang salah satu target aku dalam proyek ini,” lanjutnya.

Bukan hanya perubahan penampilan

​Perubahan fisik bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi Caitlin. Riska juga memiliki cerita latar dan beban emosi yang membuat perannya tidak hanya mengandalkan ekspresi ketakutan.

​Caitlin menyebut unsur drama dalam The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) lebih kuat dibandingkan beberapa proyek horor yang pernah ia mainkan sebelumnya.

​“Lapisan emosinya lebih tebal karena karakter aku punya cerita latar sendiri. Rasa takutnya tetap ada, tetapi pada saat yang sama ada rasa sedih dan bersalah. Jadi, ada banyak lapisan emosi dalam serial ini,” tuturnya.

​Untuk memahami kehidupan Riska, Caitlin mempelajari berbagai cerita mengenai pekerja migran Indonesia. Riset dilakukan melalui film, podcast, pemberitaan, serta diskusi bersama tim produksi di Malaysia.

​“Aku juga ngobrol dengan Kak Ain dan tim Viu Malaysia untuk memahami seperti

kehidupan pekerja rumah tangga di Malaysia karena sepertinya ada perbedaan. Pendalaman perannya lebih banyak dilakukan dari situ,” ujar Caitlin.

​Produksi serial ini sekaligus menjadi pengalaman pertama Caitlin menjalani syuting di luar Indonesia. Ia berada di Malaysia selama sekitar satu setengah bulan, mulai dari praproduksi hingga pengambilan gambar.

Rahasia di balik sosok Riska

​Di balik penampilannya yang pendiam dan penurut, Riska membawa misteri yang menjadi bagian penting dalam cerita.

​Head of Creative Viu Indonesia, Fery Lesmana, di kesempatan yang sama mengatakan, penonton tidak akan langsung mengetahui posisi Riska di tengah berbagai peristiwa yang menimpa keluarga Puan Sri Asyikin, diperankan Datin Sri Umie Aida.

​“Kita tidak tahu rahasia apa yang dibawa Riska. Apakah dia akan menjadi korban? Apakah dia akan menjadi penolong? Atau apakah dia justru akan dijadikan korban oleh karakter lain?” kata Fery.

​Menurut Fery, pertanyaan mengenai Riska akan terus berkembang seiring terbukanya konflik dan rahasia para penghuni rumah.

​“Rahasia yang dibawa Riska itu, menurut saya sebagai penonton, membuat saya selalu menunggu kelanjutannya,” ujarnya.

​Kisah The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) bermula setelah kematian misterius suami Puan Sri Asyikin. Duka keluarga belum selesai ketika berbagai gangguan mulai muncul di rumah mereka.

​Keadaan semakin rumit saat para penghuni rumah mulai saling mencurigai. Masa lalu perlahan kembali mengusik, sementara kepercayaan di antara anggota keluarga mulai runtuh.

​Di tengah situasi tersebut, belum jelas apakah Riska hanya ikut terjebak dalam teror yang menghantui keluarga itu atau mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

​Caitlin mengatakan, misteri dan berbagai lapisan cerita akan semakin terbuka pada episode pertengahan hingga akhir.

​“Gongnya ada di sana dan berbagai plot mulai terbuka. Aku belum bisa bicara lebih spesifik karena nanti menjadi spoiler,” katanya.

​Selain Caitlin Halderman dan Datin Sri Umie Aida, The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) dibintangi Meerqeen, Hannah Delisha, dan Amerul Affendi.

Serial horor psikologis sebanyak 12 episode tersebut dapat disaksikan secara eksklusif di Viu mulai 18 September 2026. 

Pertama Kali Syuting di Luar Negeri, Caitlin Halderman Mengaku Ketagihan

Jakarta, 18 September 2026 – Caitlin Halderman mendapat pengalaman baru ketika membintangi Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan). Untuk pertama kalinya, ia menjalani proses syuting di luar Indonesia.

​Caitlin berada di Malaysia selama sekitar satu setengah bulan, mulai dari praproduksi hingga pengambilan gambar. Proses syuting berlangsung hampir setiap hari selama kurang lebih 30 hari.

​“Ini pertama kalinya aku syuting di luar negeri. Mungkin bisa dibilang jadi ketagihan,” ujar Caitlin dalam media screening The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) di Jakarta (18/9/2026).

​Meski berada jauh dari rumah, Caitlin mengaku tidak kesulitan beradaptasi. Sambutan hangat dari para pemain dan kru membuatnya merasa diterima selama menjalani produksi.

​“Aku merasa sangat diterima dan dekat dengan semua orang. Rasanya seperti berada di Indonesia, tetapi jauh dari rumah, karena mereka sangat welcoming,” katanya.

​Caitlin juga menemukan perbedaan antara proses produksi di Indonesia dan Malaysia. Salah satunya terlihat dari suasana kerja yang menurutnya lebih santai, meskipun jumlah adegan yang diselesaikan dalam sehari cukup banyak.

​“Aku sempat berpikir, ‘Syuting di Malaysia memang sesantai ini, ya?’ Aku kaget banget. Ada yang bilang bahwa dalam sehari mereka bisa mengerjakan 20 adegan. Aku sudah kena mental duluan mendengar angka 20 adegan, tetapi ternyata pengerjaannya cepat sekali,” tuturnya.

Jumlah kru lebih sedikit

​Menurut Caitlin, tim produksi di Malaysia juga beranggotakan lebih sedikit dibandingkan produksi yang biasa ia jalani di Indonesia. Kondisi itu sempat membuatnya canggung karena perhatian kru terasa lebih terpusat kepada para pemain.

​“Kalau di Indonesia, tim produksinya bisa sangat besar, bahkan ratusan orang. Di sana timnya lebih kecil. Lama-lama aku nyaman dengan tim seperti ini, meskipun awalnya agak malu,” ucap Caitlin.

​Pengalaman tersebut semakin berkesan karena Caitlin berkesempatan beradu akting dengan sejumlah nama besar Malaysia, termasuk Datin Sri Umie Aida, Amerul Affendi, Meerqeen, dan Hannah Delisha.

​Caitlin mengaku baru mengetahui reputasi para pemain senior tersebut setelah orang-orang di sekitarnya menyebut mereka sebagai legenda industri hiburan Malaysia.

​“Awalnya aku enggak tahu. Lalu orang-orang bilang, ‘Kamu lagi main sama legenda-legenda Malaysia.’ Menurut aku, mereka sangat rendah hati dan terbuka,” katanya.

​Interaksi dengan para pemain Malaysia tidak hanya berlangsung di depan kamera. Caitlin juga bertukar cerita mengenai industri hiburan di kedua negara.

​“Mereka terbuka untuk berkomunikasi dan belajar soal seperti apa industri di Indonesia. Aku pun belajar tentang industri di Malaysia, termasuk seperti apa industrinya dahulu. Jadi, wawasan aku sangat diperluas oleh mereka,” ujarnya.

​Dalam The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan), Caitlin memerankan Riska, perempuan Indonesia yang bekerja di rumah keluarga Puan Sri Asyikin, diperankan Datin Sri Umie Aida.

​Kehadiran Riska menjadi bagian penting dari misteri yang menyelimuti keluarga tersebut setelah kematian sang kepala keluarga. Di tengah gangguan yang terus bermunculan, penghuni rumah mulai saling mencurigai dan mempertanyakan rahasia yang disimpan orang-orang terdekat mereka.

​Serial horor psikologis sebanyak 12 episode ini juga dibintangi Meerqeen, Hannah Delisha, dan Amerul Affendi.

​Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) tayang eksklusif di Viu mulai 18 September 2026, dengan episode baru setiap Selasa dan Rabu.

Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) Pertemukan Caitlin Halderman dengan Bintang Malaysia dalam Misteri Keluarga Penuh Teror

INDONESIA, 18 September 2026 – Viu resmi menghadirkan Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan), serial horor psikologis yang mempertemukan Caitlin Halderman dengan sejumlah bintang ternama Malaysia. Serial 12 episode ini tayang eksklusif di Viu mulai 18 September 2026, dengan episode baru setiap Selasa dan Rabu.

​Menggabungkan misteri keluarga, kepercayaan mistis, dan ketegangan psikologis, The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) membawa penonton ke dalam kehidupan sebuah keluarga terpandang yang mulai kehilangan ketenangan setelah kematian misterius sang kepala keluarga.

​Serial ini dibintangi Meerqeen, Hannah Delisha, Caitlin Halderman, Datin Sri Umie Aida, dan Amerul Affendi. Setiap penghuni rumah memiliki sudut pandang, ketakutan, dan rahasia masing-masing sehingga kebenaran semakin sulit ditebak.

​Bagi Caitlin, serial ini juga menjadi pengalaman pertamanya menjalani produksi di luar Indonesia. Ia berada di Malaysia selama sekitar satu setengah bulan, mulai dari praproduksi hingga proses pengambilan gambar.

​“Ini pertama kalinya aku syuting di luar negeri. Aku merasa sangat diterima dan dekat dengan semua orang. Rasanya seperti berada di Indonesia, tetapi jauh dari rumah,” ujar Caitlin.

​Kisah The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) bermula ketika kehidupan Puan Sri Asyikin (Datin Sri Umie Aida) dan keluarganya berubah setelah kematian sang suami. Duka mereka belum selesai ketika berbagai gangguan mulai muncul di rumah.

​Keadaan semakin rumit saat orang-orang di dalam rumah mulai saling mencurigai. Masa lalu perlahan kembali mengusik, sementara kepercayaan di antara anggota keluarga mulai runtuh.

​Di tengah kekacauan itu hadir Riska (Caitlin Halderman), perempuan Indonesia yang bekerja di rumah keluarga Puan Sri Asyikin. Riska dikenal pendiam dan penurut, tetapi kehadirannya segera menjadi bagian penting dari berbagai peristiwa yang terjadi.

​Sikap Riska membuat orang-orang di rumah itu bertanya-tanya. Apakah ia turut terjebak dalam teror tersebut atau mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain?

​Head of Creative Viu Fery Lesmana mengatakan, rahasia yang dibawa Riska menjadi salah satu kekuatan utama yang akan menjaga rasa penasaran penonton.

​“Kita tidak tahu apakah Riska akan menjadi korban, menjadi penolong, atau justru dijadikan korban oleh karakter lain. Rahasia yang dibawanya membuat kita selalu menunggu kelanjutan cerita,” ujar Fery.

​Syawal (Meerqeen) dan Nerina (Hannah Delisha) juga harus menghadapi perubahan besar di dalam keluarga mereka. Ketika gangguan terus berdatangan, keduanya dipaksa mencari jawaban sambil menghadapi kemungkinan bahwa ancaman terbesar justru datang dari orang yang berada paling dekat.

​Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) dapat disaksikan secara eksklusif di Viu mulai 18 September 2026. Aplikasi Viu tersedia untuk diunduh secara gratis melalui App Store, Google Play, dan berbagai Smart TV pilihan, atau dengan mengunjungi www.viu.com.

Tentang Viu

​Viu adalah layanan streaming over-the-top (OTT) terkemuka yang tersedia di berbagai negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Selatan.

​Viu menawarkan dua model layanan, yaitu versi gratis berbasis iklan dan layanan premium berlangganan. Selain memproduksi konten original berkualitas melalui label Viu Original, Viu juga menghadirkan serial televisi, film, serta program gaya hidup dari berbagai penyedia konten lokal dan regional, lengkap dengan subtitle dalam berbagai bahasa.

​Melalui program Viu Scream Dates, Viu juga menghadirkan pengalaman fan meet lintas negara yang mempertemukan para bintang dengan penggemarnya secara langsung.

​Viu berada di bawah naungan Viu International Limited, yang juga mengoperasikan MOOV, layanan streaming musik dan konser digital populer di Hong Kong.

​Viu merupakan bagian dari PCCW Media di bawah PCCW Limited, perusahaan global berbasis di Hong Kong dengan bisnis di bidang telekomunikasi, media, solusi teknologi informasi, pengembangan properti, dan investasi global lainnya.

Teaser Trailer Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Resmi Rilis, Perjalanan Ale Bertahan Lewat Mie Ayam Segera Hadir di Bioskop

​Jakarta, 18 September 2026 - Rumah produksi Sinergi Pictures dan Ben Film akhirnya merilis teaser trailer film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang diangkat dari novel mega best-seller karya Brian Khrisna. Perilisan video teaser trailer ini menyusul perilisan lagu tema resmi berjudul Coba Lagi yang dibawakan Barsena Bestandhi yang rilis lebih dulu. Film ini dijadwalkan akan tayang di bioskop pada November 2026.

Teaser trailer menampilkan Ale, tokoh utama cerita ini yang merasa tak punya lagi alasan untuk hidup tepat di hari ulang tahunnya. Selalu dipandang sebelah mata dan dianggap tak berguna, Ale berniat menyerah pada keadaan. Namun, sebelum semuanya benar-benar berakhir, ia memiliki satu keinginan sederhana yaitu menikmati seporsi mie ayam favoritnya untuk yang terakhir kali. Tapi sayangnya, keinginan terakhir itu tak bisa terwujud karena gerobak mie ayam langganannya ternyata tutup.

​Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati disutradarai oleh Kuntz Agus, sineas yang sebelumnya menggarap sejumlah film emosional seperti Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah dan Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?. Di kursi pemeran utama, film ini mendapuk Benidictus Siregar untuk menghidupkan karakter Ale.

​Proyek ini menjadi momen spesial sekaligus debut Benidictus Siregar sebagai pemeran utama. Aktor yang kerap dijuluki “Benang Merah Perfilman Indonesia” lantaran seringnya ia muncul di berbagai judul film ini, akan tampil sangat berbeda. Karakter Ale menuntutnya keluar dari zona nyaman sekaligus melepaskan persona komedi yang selama ini melekat padanya.

​Untuk memperkuat kedalaman cerita, Benidictus didampingi oleh deretan aktor dan aktris ternama Tanah Air, di antaranya Teuku Rifnu Wikana, Zulfa Maharani, Tika Panggabean, Chicco Kurniawan, Jourdy Pranata, Fajar Nugra, Pangeran Lantang, Ence Bagus, Nita Gunawan, Alex Abbad, hingga aktris senior Dewi Irawan.

​Informasi mengenai film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dapat diakses melalui akun Instagram @seporsimieayamfilm dan @sinergi.pictures serta @benfilm.id.

Jangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti

Para pemeran series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta berbagi pengalaman membangun chemistry antar pemain sekaligus mendalami karakter den...