Sabtu, 25 April 2026

Badan Perfilman Indonesia Umumkan Susunan Pengurus 2026-2030, Siap Perkuat Ekosistem Film Nasional

Foto: Fauzan Zidni, Nazira C. Noer, Sindy Dewiana

Jakarta, April 2026 – Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, resmi mengumumkan susunan pengurus BPI periode 2026-2030. Pengumuman ini menjadi tonggak penting di tengah momentum kebangkitan industri perfilman Indonesia pascapandemi.

​"Agenda utama yang disiapkan adalah peningkatan SDM perfilman melalui sinkronisasi kurikulum, program magang-hub, dan pengiriman talenta muda ke sekolah film terbaik di luar negeri serta berbagai film lab internasional. Selain itu, BPI akan menyusun revisi UU Perfilman bersama Kementerian Kebudayaan untuk penguatan kelembagaan BPI, penguatan profesi perfilman, penguatan dukungan pemerintah terhadap perfilman, kepastian hukum dan kemudahan investasi, serta perlindungan kebebasan berekspresi," ujar Fauzan.

​Fauzan menambahkan bahwa BPI juga memiliki agenda lain, seperti gerakan anti-pembajakan film secara menyeluruh, penyelenggaraan Festival Film Indonesia, dan pelaksanaan fungsi-fungsi BPI seperti tertuang di UU Perfilman.

​Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut menyampaikan harapannya kepada kepengurusan baru. "BPI memiliki posisi yang sangat penting sebagai jembatan antara pemerintah dan insan perfilman. Kami berharap BPI dapat semakin menguatkan ekosistem perfilman Indonesia, mendorong tata kelola yang transparan, serta membuka ruang yang lebih luas bagi talenta kreatif di seluruh Indonesia," ujarnya.

Berikut adalah struktur kepengurusan Badan Perfilman Indonesia (BPI) 2026-2030:

‎Dewan Pengawas : Judith Jubilina Dipodiputro (ketua), Fajar Nugros, Danu Murti, Agustina Kusuma Dewi, dan Nasaruddin Saridz

‎Dewan Penasehat : Reza Rahadian (ketua), Christine Hakim, Joko Anwar, dan Dede Yusuf

‎Dewan Pakar : Dara Bunga Rembulan, Gusti Randa, Immanuel Prasetya Gintings, Adisurya Abdy, Daniel Rudi Haryanto, Muspita Leni Lolang, dan Rully Sofyan

‎Ketua Umum : Fauzan Zidni

‎Sekretaris Jenderal : Nazira C. Noer

‎Bendahara Umum : Sindy Dewiana

‎Wakil Sekjen Bidang Ekosistem Perfilman : Aline Jusria

‎Kepala Komunikasi : Vivi Coster

‎Kepala Sekretariat : Rizky Yudo Atmaja

‎Ketua Bidang Organisasi : Anggi Frisca

‎Ketua Bidang Kebijakan Publik : Suprayitno dan Rommy Fibri Hardiyanto

‎Ketua Bidang Pengembangan SDMN : Aswan Iskandar

‎Ketua Bidang Hubungan Internasional : Yulia Evina Bhara

‎Ketua Bidang Festival : Wulan Guritno

‎Ketua Bidang Literasi Film : Putri Ayudya

‎Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan : Dyna Herlina Suwarto

‎Ketua Bidang Pengembangan Film Daerah : Tonny Trimarsanto

‎Ketua Bidang Kerjasama : Luna Maya

‎Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan : Tesadesrada Ryza

‎Ketua Bidang Pelestarian Film : Farry Hanief dan Julita Pratiwi

‎Pokja Kajian & Advokasi Rencana Induk Perfilman Nasional : Aria Agni, Panji Wibowo, Andi S. Boediman, dan Kus Sudarsono

‎Pokja Kajian Akselerasi Pengembangan SDM : Arif Sulistiyono, Celerina Judisari, Rina Harahap, dan Agung Sentausa

‎Pokja Kajian Pelestarian Film : Riri Riza, Lisabona Rahman Satgas Anti Pembajakan Hermawan Sutanto, Axel Hadiningrat

‎Komite Festival Film Indonesia 2026 : Ario Bayu (ketua), Budi Irawanto, Prilly Latuconsina, Rahajeng Paramesrani, Sofia Setyorini, Andi F. Yahya, dan Rangga Djoned



Dengan susunan kepengurusan dan Pokja yang telah terbentuk, Badan Perfilman Indonesia (BPI) berkomitmen untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi kinerja dengan seluruh insan perfilman. Momen ini adalah kesempatan untuk bergerak bersama, memastikan setiap program kerja dilaksanakan dengan unggul demi memperkuat ekosistem perfilman nasional dan memajukan perfilman Indonesia.

​*****

​Tentang Badan Perfilman Indonesia (BPI):

Berdiri pada 17 Januari 2014 berdasarkan UU No. 33 Tahun 2009, Badan Perfilman Indonesia adalah lembaga swasta mandiri yang dibentuk masyarakat sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen perfilman Indonesia: dikukuhkan Presiden, difasilitasi Pemerintah. BPI memiliki tugas: memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah dalam mendorong kebijakan perfilman dan mempercepat PP Rencana Induk Perfilman Nasional dan PP Sanksi. Menyelenggarakan dan mengikuti festival film di dalam dan luar negeri. Mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing. Melakukan penelitian dan pengembangan perfilman. Memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Memfasilitasi pendanaan pembuatan film bermutu tinggi.

Yasmin Napper dan Lulu Tobing Bagikan Memori Keluarga yang Paling Berharga

Refleksi Mendalam dari Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" Siap Tayang 13 Mei 2026!

​Di era digital saat ini, memori sering kali dianggap abadi karena tersimpan di cloud. Namun, bagaimana jika satu-satunya "penyimpanan" yang kita miliki, yakni ingatan orang tercinta, perlahan memudar? Pertanyaan eksistensial inilah yang dijawab oleh Rapi Films melalui karya terbaru yang berjudul, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan".

​Setelah sukses besar dengan Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films kembali berkolaborasi dengan sutradara Kuntz Agus dan penulis skenario Alim Sudio. Film ini mengeksplorasi narasi caregiving dan ketahanan keluarga yang sangat relevan dengan dinamika sosial modern.

​Dinamika Keluarga di Tengah Krisis Memori

​Film ini mengikuti perjalanan Yuke Yolanda (Lulu Tobing), seorang ibu dan guru yang didiagnosis menderita Alzheimer. Fokus cerita bukan hanya pada kondisi medisnya, melainkan pada bagaimana keluarga tersebut, Aldo (Ibnu Jamil) dan ketiga anaknya, mengubah seluruh gaya hidup mereka demi menjaga sang "jantung" keluarga.

​Bagi generasi muda, perspektif Kesha (Yasmin Napper) memberikan gambaran nyata tentang Coming of Age di tengah tekanan keluarga. Sebagai mahasiswi film, Kesha harus memilih antara mengejar ambisi pribadinya atau pulang untuk mengabdikan memori sang ibu sebelum ia benar-benar terlupakan.

​Kutipan dari Cast tentang Pentingnya Memori Keluarga

​Dalam press conference resmi di Plaza Senayan, para pemeran membagikan perspektif personal yang memperkuat pesan moral film ini, bahwa memori adalah bagian hidup yang krusial untuk dijaga.

Yasmin Napper mengenang kepingan masa lalunya dengan penuh kerinduan, "Aku selalu akan inget berangkat ke sekolah bareng kakak-kakak aku, di mobil ngobrol-ngobrol. Kangen juga berantem-berantem kecil yang sebenernya ga harus berantem tapi diberantemin".

​Bagi Lulu Tobing, meski memori memudar secara biologis, dampak cinta tetap hidup dan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Ia pun berbagi momen intim yang ia jaga hingga kini, "Saya itu suka banget disuapin ibu saya kalau makan. Ini masih saya rasakan di saat saya udah seumur ini. Gimanapun juga, sampai kapanpun, yang kita mau rasain yaitu kasih sayang ibu. Jadi, gak mau itu dihilangkan".

​Refleksi ini diperdalam oleh Ibnu Jamil yang memandang bahwa peran orang tua di masa tua pada akhirnya adalah tentang mendapatkan tempat di hati anak-anaknya. Shofia Shireen turut menambahkan betapa berharganya kesederhanaan, "momen-momen simple ketika tengah malam aku bercanda-canda dengan kakak, adik, kadang juga mamah ikutan ngobrol ketawa-tawa. Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku akan kangen momen-momen ini di hari tua nanti".

​Menutup rangkaian perspektif tersebut, Jordan Omar mengingatkan kita pada kefanaan waktu, "aku suka banget momen-momen simple, seperti ketika keluarga kumpul bareng, makan bareng, bercanda-bercanda. Ini berharga banget karena kita hidup di dunia ini sementara, dan kita gatau kapan kita ga bisa ngalamin ini lagi".

​Sebuah Perayaan Atas Kenangan yang Terus Dirawat

​Film ini merupakan ajakan terbuka bagi penonton untuk merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di tengah ancaman hilangnya memori, solidaritas anggota keluarga menjadi kunci utama pertahanan mereka.

​Sebab pada akhirnya, hidup mengajarkan bahwa ada hal-hal yang boleh hilang seperti kesempatan atau nilai akademik, namun jangan sampai kita kehilangan eksistensi di dalam hati orang tua kita.

​Saksikan "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" serentak di seluruh bioskop mulai 13 Mei 2026.

Jumat, 24 April 2026

Ikhlas Paling Serius Tayang 1 Mei 2026 di Viu, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya


Jakarta, 24 April 2026 – Series drama romantis Ikhlas Paling Serius akan tayang di platform streaming Viu dan MAXStream TV mulai 1 Mei 2026. Drama ini dibintangi Omar Daniel dan Kimberly Ryder sebagai pemeran utama, serta diadaptasi dari novel mega best seller dengan judul yang sama karya Fajar Sulaiman.

Selain Omar Daniel dan Kimberly Ryder, series ini juga menghadirkan sejumlah aktor lain seperti Fahad Haydra, Amara Sophie, Kiara Mckenna, dan Caroline Zachrie.

Dalam series ini, Omar Daniel memerankan Fajar, pria yang dekat dengan keluarga dan berusaha mengutamakan orang lain. Sementara itu, Kimberly Ryder berperan sebagai Farah, perempuan ambisius yang dikenal tegas di lingkungan kerja, tetapi menghadapi tekanan dari ibunya.

Omar Daniel menjelaskan bahwa karakter yang ia perankan memiliki sifat people pleaser yang membuatnya sulit mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

“Ikhlas itu kayak level tertinggi dari mencintai. Bagaimana seseorang itu rela melepaskan, menerima sebuah keadaan dengan lapang dada, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Itu yang dilakukan oleh Fajar, dan bisa jadikan contoh untuk semuanya,” kata Omar Daniel.

Ia juga menyebut karakter Fajar sebagai sosok yang sering mengalah demi orang lain. “Fajar itu sedikit plin-plan. Karena dia people pleaser, tipikal orang yang nggak enakan, bingung cara menolak,” ujar Omar Daniel.

Sementara itu, Kimberly Ryder menggambarkan karakter Farah sebagai sosok pekerja keras yang terlihat tegas, tetapi menyimpan tekanan dari keluarganya.

“Farah adalah hard worker. Orang-orang bilang dia bos yang killer dan tegas. Pokoknya semua orang takut sama dia. Tapi sebenarnya hatinya lembut. Dia seperti itu karena ada tuntutan dari ibunya,” kata Kimberly Ryder.

Kimberly juga menilai karakter yang ia perankan menghadapi dilema dalam hubungan dan kehidupan pribadinya.

Series Ikhlas Paling Serius mengisahkan pertemuan Fajar dan Farah yang berawal dari hubungan kerja. Fajar mendapatkan kesempatan bekerja di kantor Farah, seorang bos muda yang dikenal perfeksionis.

Situasi berubah ketika Fajar ternyata diminta oleh Willie, teman Farah, untuk memata-matai perempuan tersebut. Namun seiring waktu, Fajar justru jatuh cinta pada Farah.

Hubungan keduanya berkembang secara diam-diam karena mereka harus menyembunyikan perasaan dari keluarga dan lingkungan kerja. Konflik muncul ketika rahasia tersebut terbongkar, dan di sisi lain, Farah menghadapi tekanan dari ibunya.

Series Ikhlas Paling Serius akan tayang mulai 1 Mei 2026 di Viu serta MAXStream TV, dan menghadirkan kisah tentang pilihan antara cinta, keluarga, dan masa depan.

Kamis, 23 April 2026

Naura Ayu Rilis ‘Terima Kasih’, Lagu yang Lahir dari Kenangan yang Tak Sempat Dirayakan

Jakarta, 23 April 2026 – Melalui lagu terbaru berjudul “Terima Kasih” yang dirilis hari ini, Naura Ayu merajut kenangan masa sekolah dan perasaan kehilangan momen perpisahan yang utuh menjadi sebuah persembahan emosional yang ia dedikasikan khusus untuk para sahabatnya.

​“Lagu ini aku buat untuk sahabat-sahabat aku. Kami punya banyak banget kenangan, tapi tidak sempat merasakan momen kelulusan bersama karena pandemi. Itu yang bikin semuanya terasa sangat emosional,” ungkap Naura.

​Dalam proses kreatifnya, lagu ini ditulis bersama Ivan Tangkulung dan Tarapti Ikhtiar Rinrin (Tarrarin). Berangkat dari catatan personal Naura yang menyerupai diary, setiap potongan cerita kemudian dikembangkan menjadi lirik yang jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang. “Banyak hal yang diceritakan Naura itu sebenarnya sederhana, tapi justru di situ letak emosinya. Dari catatan-catatan kecil itu, kita kembangkan jadi lagu yang terasa sangat personal, tapi juga relate,” ujar Tarrarin.

Secara musikal, “Terima Kasih” hadir dengan nuansa yang lebih sinematik dan terinspirasi dari pendekatan musikal teater. Naura sejak awal telah memiliki gambaran jelas tentang warna lagu yang diinginkan, menggabungkan sisi familiar yang sudah dikenal pendengarnya dengan eksplorasi yang lebih matang. “Aku ingin lagunya punya nuansa musikal, dengan storytelling yang kuat. Tapi tetap terasa seperti Naura yang dulu, hanya saja dengan pendekatan yang lebih dewasa,” jelasnya.

​Lapisan vokal dan elemen paduan suara menjadi bagian penting dalam membangun emosi lagu ini. Dalam prosesnya, penyusunan vocal layer dikerjakan bersama oleh seluruh tim, termasuk Nola B3, ibunda dari Naura, yang juga turut berkontribusi dalam sesi rekaman. Keterlibatan orang-orang terdekat ini semakin memberi warna dan kedekatan emosional dalam keseluruhan karya.

​Seiring dengan perilisan lagunya, video musik “Terima Kasih” juga dirilis pada hari yang sama. Video ini menampilkan momen kebersamaan Naura bersama teman-temannya di sekolah, dengan suasana hangat dan penuh keceriaan. Dalam salah satu adegan, Naura dan teman-temannya terlihat menikmati 5 Days Croissant yang turut melengkapi momen kenangan manis mereka.

​“Terima Kasih” menjadi salah satu langkah baru dalam perjalanan musikal Naura, sekaligus pengantar menuju album berikutnya yang tengah ia siapkan.

​Melalui lagu ini, Naura berharap pendengar bisa kembali terhubung dengan kenangan masa sekolah mereka. Bagi yang masih berada di bangku sekolah, lagu ini menjadi pengingat untuk menikmati setiap momen yang ada, sementara bagi yang telah melewati fase tersebut, “Terima Kasih” menjadi ruang untuk kembali merasakan hangatnya kenangan yang pernah dimiliki.

​Single terbaru Naura Ayu, “Terima Kasih”, resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 23 April 2026. Lagu ini menghadirkan kisah tentang kenangan masa sekolah dan pertemanan, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus kerinduan atas momen yang tak sempat terucap dengan utuh.

Trinity Optima Production (TOP)

Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi “Nurturing STARS to Inspire Happiness”, TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent, perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Film Kupeluk Kamu Selamanya Memotret Cerita Perjuangan Ibu Untuk Berdamai dengan Kehidupan, Cinta Tanpa Syarat hingga Titik Akhir

Tonton film Kupeluk Kamu Selamanya mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia, rasakan makna #CintaTanpaSyarat

Jakarta, 23 April 2026 — Kuy! Studios mempersembahkan film debut layar lebar mereka yang bekerja sama dengan Aktina Film, Kupeluk Kamu Selamanya. Sebuah drama keluarga yang tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Menampilkan cerita perjuangan seorang ibu untuk berdamai dengan kehidupannya.

​Film Kupeluk Kamu Selamanya mengikuti kisah seorang ibu tunggal bernama Naya yang diperankan oleh Hana Malasan. Ia harus merelakan kariernya demi merawat sang anak, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Ketika Naya berpisah dengan sang suami (Ibnu Jamil), kehidupan Naya semakin menantang. Saat sakit bawaan Aksa semakin parah dan membuatnya harus menjalani perawatan, Naya diuji kekuatannya baik sebagai ibu dan seorang manusia.

​Disutradarai oleh Pritagita Arianegara, yang dalam setiap filmnya selalu berbicara tentang relasi ibu dan anak, ia memberikan sebuah perjalanan emosional yang menyentuh dari kisah Naya dan Aksa. Penonton diajak untuk merasakan dan memaknai arti cinta tanpa syarat, dari sudut pandang seorang ibu.

​Film ini dibintangi oleh Hana Malasan, Jared Ali, Ibnu Jamil, Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah, dan Leroy Osmani. Film ini juga menjadi debut aktris Dinda Hauw sebagai produser, bersama Dara Dwitanti. Kupeluk Kamu Selamanya juga menjadi debut Sean Gelael di industri perfilman Indonesia, dengan menjadi produser eksekutif film ini, bersama Angga Dwimas Sasongko.

​"Saya ingin penonton pulang dan menyadari, bahwa kita memiliki cinta yang tidak akan pernah selesai, yakni cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, ketika cinta itu selesai, itu menjadi sebuah kenangan yang juga tidak akan pernah akan hilang," ujar sutradara Pritagita Arianegara.

​Sementara itu, bagi Hana Malasan, ia memaknai sebuah cinta tanpa syarat adalah saat memberikan sesuatu tanpa berharap imbal balik. Namun, lewat karakter Naya, Hana juga melihat sebuah refleksi bahwa perempuan, terutama ibu, kerap kali dianggap selalu kuat, sehingga merasa tidak butuh pertolongan dari orang di sekitarnya.

​"Naya mengajarkan kita untuk jangan lupa meminta tolong. Tidak apa-apa jika kita terlihat rapuh, karena itu sangat manusiawi. Rapuh itu juga bagian dari emosi manusia yang harus kita terima," ujar Hana Malasan.

​"Film ini sebenarnya juga cerita tentang perjuangan seorang ibu untuk bisa berdamai dengan kehidupan. Karena sebenarnya seorang ibu yang sudah berdamai dengan hidupnya sendiri, akan terefleksi ke orang-orang sekitar. Terkadang itu yang dilupakan, karena terlalu fokus untuk menjadi ibu yang kuat dan sempurna, padahal sebenarnya ibu juga manusia, dan manusia tidak sempurna," tambah Hana.

​Bagi Ibnu Jamil, film Kupeluk Kamu Selamanya juga terasa sangat manusiawi, saat Pritagita memotret para karakternya tidak benar-benar hitam putih antara protagonis-antagonis.

Kupeluk Kamu Selamanya yang juga menceritakan tentang perjalanan orangtua tunggal dalam memperjuangkan anaknya, juga menjadi bentuk refleksi untuk para orangtua yang sering merasa paling tahu apa yang dibutuhkan sang anak.

​"Film ini adalah perjuangan orangtua tunggal dengan segala macam bentuk cara dan keterbatasannya untuk merawat anaknya. Hebatnya, tidak ada yang antagonis, karena di dunia nyata pun tidak ada yang hitam-putih, tergantung melihatnya bagaimana, setiap orang punya sudut pandang masing-masing," ungkap Ibnu Jamil.

Kupeluk Kamu Selamanya tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Saksikan dan resapi makna #CintaTanpaSyarat di film ini. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @kupelukkamuselamanya dan @kuy.studios.

Vidio Original Series “Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral” Hadirkan Drama Komedi Seru dan Absurd Dibintangi Antonio Blanco Jr. dan Zsa Zsa Utari

Jakarta, 23 April 2026 — Apa yang terlintas di kepala saat mendengar kata “ganteng” dan “genteng” dalam satu judul? Mungkin terdengar nyeleneh, mungkin juga bikin senyum-senyum sendiri. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral hadir bukan sekadar judul yang catchy, tetapi membawa kisah yang absurd, hangat, dan penuh kejutan tentang seorang bos muda dari kota yang hidupnya jungkir balik saat terpaksa turun ke desa demi menyelamatkan pabrik genteng keluarganya. Di tengah usahanya beradaptasi dengan para mandor dan kerasnya dinamika lapangan, ia mendapatkan ide tak terduga dari kebiasaan para kuli genteng: sebuah kontes otot. Tak dinyana ini menjadi hal yang heboh dan perlahan berubah menjadi harapan baru bagi masa depan pabrik tersebut.

Vidio Original Series Ganteng-Ganteng Genteng mulai tayang 24 April 2026 eksklusif di Vidio dengan total 7 episode. Series produksi BASE Entertainment dan Studio Antelope ini membawa penonton ke sebuah dunia yang terasa sangat dekat, sangat lokal, namun justru di situlah letak kesegarannya.

​Di tengah gempuran cerita cinta yang berat dan drama perkotaan yang glamor, Ganteng-Ganteng Genteng hadir seperti angin segar, fun, ringan, penuh kekacauan yang menghibur, tapi tetap mengena di hati.

Joni Wirata (Antonio Blanco Jr.) adalah pewaris PT Wirata Konstruksi Bahari yang hidupnya tak pernah jauh dari privilege, pesta, dan ambisi besar untuk merebut kursi direktur dari sang kakak, Claudia. Namun semuanya runtuh dalam semalam ketika emosinya meledak dan video dirinya memukul seorang investor viral di media sosial. Reputasinya hancur, jabatannya dicopot, dan satu-satunya peluang untuk membuktikan diri tersisa pada sebuah aset bermasalah: pabrik genteng tua milik keluarga di desa Ciwani yang selama ini gagal dijual.

​Berbekal sisa uang tunai dan ego yang masih menyala, Joni pergi ke Ciwani dengan satu tujuan, menjual pabrik itu dan kembali ke Jakarta sebagai pemenang. Namun kenyataan jauh dari bayangannya. Yang ia temukan justru desa yang gersang, pabrik yang nyaris runtuh, serta para pekerja dengan karakter nyentrik yang sama sekali tidak percaya padanya.

​Di tengah segala kekacauan itu, Joni bertemu Kang Odoy (Joe Project P), mandor keras kepala yang melihat pabrik sebagai sumber hidup warga, Ayas (Zsa Zsa Utari), yang tangguh dan mandiri, serta para pekerja lain seperti Kipli (Dian Sidik), Taulib (Apos Hutagaol), Ujang (Rafly Altama) yang perlahan memperlihatkan dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

​Saat semua rencananya menemui jalan buntu, sebuah kejadian absurd justru membuka peluang baru: kontes adu kekuatan otot para pekerja pabrik yang heboh, dan tak terduga viral. Dari sanalah Joni mulai melihat kemungkinan lain, bukan sekadar menjual pabrik, tetapi mengubah keunikan Ciwani menjadi sesuatu yang bernilai.

​Di tengah ambisinya, Joni pun mulai dihadapkan pada pilihan yang jauh lebih besar: mengejar kekuasaan, atau menjaga tempat yang telah menjadi rumah bagi banyak orang.

Berangkat dari konsep orisinal karya Ratih Kumala, yang terinspirasi dari fenomena Binaraga Jebor Jatiwangi Cup garapan Jatiwangi Art Factory.

​(Gambar Foto)

Sumber: Vidio

​Ganteng-Ganteng Genteng berawal dari ide Ratih Kumala, novelis ternama, setelah membaca artikel tentang pekerja pabrik genteng di Jatiwangi yang berlatih untuk mengikuti kompetisi binaraga lokal, Jatiwangi Bodybuilding Cup di Majalengka, Jawa Barat.

​Ide yang terdengar out of the box ini justru menyimpan potensi visual dan emosional yang kuat. Berangkat dari sana, tim penulis yang dipimpin Rifki Ardisha bersama tim produksi melakukan riset langsung ke Jatiwangi Art Factory, sebagai penggagas acara, sekaligus menyaksikan langsung Jatiwangi Jebor Cup 2025.

​Dari situ lahirlah sebuah dunia yang penuh dengan karakter-karakter unik, ada humor, drama, absurditas, tapi juga ada kemanusiaan yang kuat. Itu yang menjadi benang merah pengembangan cerita.

​Jay Sukmo sebagai sutradara mengolah latar pabrik genteng di Jatiwangi menjadi dunia yang terasa autentik sekaligus menarik secara sinematik. Syuting dilakukan langsung di Jatiwangi, yang secara alami memiliki karakter lanskap yang kuat, panas, gersang, dan penuh tekstur visual. Ini menjadi seting yang sulit di replika di Jabodetabek. Jay kemudian memperkaya setiap frame dengan sentuhan artistik yang tetap natural agar selaras dengan tone komedi drama series ini.

​Selain visual, Jay juga memberi perhatian pada detail keseharian karakter, mulai dari pemain utama hingga extras, agar kehidupan di pabrik terasa nyata. Untuk mendukung hal ini, para pemain menjalani workshop langsung sebagai pekerja pabrik sebelum syuting dimulai.

​Menariknya, selama proses syuting di Jatiwangi, antusiasme warga sekitar juga sangat terasa. Banyak warga datang untuk menonton langsung jalannya produksi. Bahkan, kehadiran mereka memicu munculnya para penjaja kaki lima yang ikut berjualan di sekitar lokasi. Suasananya pun terasa seperti karnaval kecil setiap hari. Ramai, hangat, dan penuh interaksi antara warga dan kru. Tentu saja, demi kelancaran produksi, semua aktivitas tetap diatur agar berlangsung di area yang aman dan tidak mengganggu proses syuting.

​"Jatiwangi sudah punya karakter visual yang sangat kuat. Tugas saya adalah menjaga semuanya tetap natural, hidup, dan estetik, sehingga penonton bisa percaya dengan dunia yang kami hadirkan," ujar Jay Sukmo.


Totalitas Antonio Blanco Jr.: Dari Belajar Bikin Genteng hingga Intermittent Fasting Demi Joni

Antonio Blanco Jr. merasa excited melakoni peran sebagai Joni, apalagi karakter ini terasa sangat dekat karena memiliki sisi yang relatable dengan dirinya, mulai dari sosok anak kota yang terbiasa hidup nyaman hingga sifat impulsif yang apa adanya. Tetapi justru yang paling menarik baginya adalah perjalanan transformasi Joni, dari seorang spoiled kid yang hanya mengejar ambisi menjadi sosok yang perlahan menemukan empati, kepedulian, dan arti keluarga di tempat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Demi mendalami peran ini, Antonio menjalani workshop di lokasi, belajar membuat genteng, puasa intermittent hingga mempersiapkan fisik untuk adegan-adegan kontes otot yang menjadi salah satu highlight series ini.

​"Workshop di Jatiwangi itu salah satu pengalaman paling berkesan buat gue. Kita literally turun langsung jadi ‘kuli genteng’. Mulai dari ngumpulin tanah liat, ngebentuk, motong, sampai pressing dan bakar genteng. Di situ baru kerasa banget ternyata prosesnya nggak gampang. Kita juga banyak ngobrol sama warga dan para pekerja, jadi makin paham keseharian mereka. Itu sih yang bikin gue lebih relate dan bisa ngebawa karakter Joni jadi lebih hidup," jelas Antonio Blanco Jr.

​​Antonio juga menambahkan kalau salah satu adegan yang memorable adalah saat scene panggung kontes otot final, karena semua pemain berkumpul dan treatment secara kolosal. Di situ menurutnya emosinya lengkap banget, ada sisi komedi, adegan yang intens, sampai momen yang menyentuh. Secara teknis juga cukup menantang karena shot-nya banyak dan mereka harus berpacu dengan waktu.

Zsa Zsa Utari hadirkan Ayas yang tangguh, hangat, dan bikin jatuh hati

​Di tengah kekacauan Joni, hadir Ayas (Zsa Zsa Utari), perempuan desa yang tangguh, mandiri, dan punya hati besar. Ia bukan tipe karakter perempuan yang hanya hadir sebagai love interest. Ayas punya dunianya sendiri, punya beban sendiri, dan justru menjadi salah satu pusat emosional cerita.

​"Ayas itu perempuan yang kalau ada masalah ya jalan dulu, gas dulu, nanti dipikirin sambil jalan," ujar Zsa Zsa sambil tertawa.

​Menurutnya, karakter ini sangat membekas secara personal. "Yang aku suka dari Ayas adalah dia selalu mengupayakan yang terbaik untuk keluarga. Dia kuat, tapi tetap hangat. Ada banyak sisi yang aku relate banget."

​Zsa Zsa juga menyoroti chemistry yang terbangun natural bersama Antonio.

​"Lucunya, dari awal reading kita tuh langsung click. Ngobrol, bercanda, curhat, dan chemistry-nya ngalir aja. Jadi pas di layar, semuanya terasa natural. He's such a great partner to work with!"

​Ganteng-Ganteng Genteng juga semakin semarak dengan kehadiran para pemain lain seperti Dian Sidik, Joe Project P, Apos Hutagaol, Nugie, Rafly Altama, Jasmine Nadya, Adinda Thomas, serta deretan pemeran pendukung lainnya yang menghadirkan warna tersendiri di setiap episode. Masing-masing karakter tampil dengan keunikan yang kuat, menghadirkan humor yang terasa natural.

​Lebih dari Tawa: Cerita Tentang Perubahan dan Tantangan Kehidupan

​Lebih dari sekadar komedi, Ganteng-Ganteng Genteng menghadirkan cerita segar tentang kehidupan desa yang keras namun hangat. Lewat perjalanan Joni, penonton diajak melihat transformasi dari sosok penuh ambisi menjadi pribadi yang lebih tulus, sekaligus menyentuh isu sosial seperti kesenjangan urban-rural dalam balutan komedi yang ringan dan membumi.

Jangan lewatkan keseruan, kehangatan, dan kekacauan paling absurd dari Vidio Original Series Ganteng-Ganteng Genteng, mulai 24 April 2026, dengan episode terbaru setiap Jumat, hanya di Vidio.

Trailer Film Tumbal Proyek Rilis, Bongkar Kisah Kelam di Balik Proyek Besar

Jakarta, 23 April 2026 - Trailer film Tumbal Proyek resmi dirilis dan langsung memperlihatkan nuansa horor yang pekat sejak awal. Film ini mengangkat cerita yang beredar di masyarakat tentang sisi gelap di balik proyek-proyek besar, termasuk pembangunan Jembatan Surabaya–Madura atau Suramadu, yang sejak lama kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis dan tumbal manusia.

​Lewat trailer perdananya, Tumbal Proyek tidak hanya menawarkan teror visual, tetapi juga membawa lapisan cerita yang emosional. Film ini menyoroti kisah keluarga yang terus menunggu kabar orang terdekat yang hilang, tanpa pernah mendapat kepastian dan tanpa pernah bisa menguburkan mereka dengan layak.

​Tema kehilangan menjadi salah satu kekuatan utama dalam film ini. Di tengah suasana mencekam dan misteri yang perlahan terbuka, Tumbal Proyek menghadirkan rasa duka yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Penantian, luka batin, dan ketidakpastian menjadi bagian penting yang membangun emosi cerita.

​Film ini juga memadukan unsur horor, misteri, dan drama emosional dalam satu alur yang saling menguatkan. Teror yang muncul tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh dari cerita manusia yang penuh trauma dan kehilangan. Karena itu, Tumbal Proyek hadir bukan sekadar sebagai film horor, tetapi juga sebagai kisah tentang keluarga, harapan yang tertahan, dan luka yang belum selesai.

​Dengan premis yang dekat dengan cerita tutur di tengah masyarakat, Tumbal Proyek mencoba membawa mitos yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut ke layar lebar dalam bentuk yang lebih dramatis dan sinematis. Trailer film ini pun menjadi pintu awal bagi penonton untuk masuk ke dalam misteri besar yang menyelimuti hilangnya nyawa di balik sebuah proyek pembangunan.

​Melalui trailer yang telah dirilis, Tumbal Proyek menjanjikan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus menyentuh sisi emosional penonton. Film ini memperlihatkan bagaimana ketakutan bisa lahir bukan hanya dari sosok tak kasat mata, tetapi juga dari kehilangan yang terus menghantui orang-orang yang ditinggalkan. Saksikan Film Tumbal Proyek yang akan tayang mulai 13 Mei 2026 di Bioskop.

Film "Kupilih Jalur Langit" Resmi Tayang di Bioskop Indonesia!

Drama Pernikahan Zee Asadel dan Emir Mahira yang Jadi Rekomendasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Jakarta, 23 April 2026 – Penantian panjang para pencinta film drama religi tanah air akhirnya terjawab. MD Pictures secara resmi merilis film terbarunya, "Kupilih Jalur Langit", di seluruh bioskop Indonesia mulai hari ini, 23 April 2026.

​Menampilkan duet perdana yang sangat dinantikan antara Zee Asadel dan Emir Mahira, film ini hadir dengan narasi yang hangat, menyentuh, namun sangat dekat dengan realita kehidupan pasutri di Indonesia.

​Bukan sekadar drama religi biasa, "Kupilih Jalur Langit" membawakan premis yang cukup berani dan relatable: bagaimana jadinya jika seorang istri harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya menolak memberikan "nafkah batin" tepat setelah akad diucapkan?

​Melalui karakter Amira dan Furqon, penonton diajak menyelami lika-liku pernikahan muda yang harus bertarung dengan bayang-bayang masa lalu yang belum tuntas.

​Kualitas film ini pun mendapat pengakuan istimewa dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang hadir saat gelaran Gala Premiere. Beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap karya garapan sutradara Archie Hekagery ini.

​"Touching, moving, drama kehidupan. Ada cinta, air mata, ada seseorang yang belum bisa lepas dari masa lalu. Very good movie, membanggakan, dan saya senang sekali kalau MD terus memproduksi film seperti ini. Kesimpulannya film yang bagus, casting yang bagus, dan sutradara pas dalam merakitnya," ungkap Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

​Senada dengan Pak SBY, motivator ternama Merry Riana juga membagikan reaksi emosionalnya setelah menyaksikan perjuangan Amira di layar lebar. "Ada rasa gregetnya, ada rasa keselnya juga, tentunya ada rasa terharunya, jadi campur aduk dan happy banget!" ujarnya penuh semangat.

​Film ini berkisah tentang Amira (Zee Asadel), seorang santriwati cerdas dan enerjik, mengira ia telah menjemput mimpi indahnya saat dijodohkan dengan Furqon (Emir Mahira), ustadz yang ia kagumi sejak masih di pesantren. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi teka-teki besar ketika sejak malam pernikahan, Furqon tak kunjung menyentuhnya.

​Di tengah kesunyian ranjang pernikahan, berbagai prasangka muncul: apakah Furqon memiliki kelainan, atau justru ada wanita lain yang jiwanya masih bertahta di hati suaminya? Amira pun membuktikan bahwa ketika "jalur bumi" menemui jalan buntu, hanya "jalur langit" yang mampu menjawab segalanya.

​Film ini didukung oleh jajaran aktor lintas generasi yang solid, mulai dari Zee Asadel, Emir Mahira, Ratu Rafa, Ardit Erwandha, Neneng Risma Wulandari, Surya Saputra, Putri Ayudya, Dina Lorenza, hingga Irgi Fahrezi.

​Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan film "Kupilih Jalur Langit" yang sudah tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai HARI INI! Manfaatkan juga promo spesial BOGOF (Buy One Get One Free) yang dapat dibeli secara eksklusif melalui aplikasi TIX ID. Pantau terus informasi terbaru dan keseruan lainnya di media sosial resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.

Rabu, 22 April 2026

Film Ikatan Darah Menyajikan Roller Coaster Ride Action! Duel Laga Karakter Utama Perempuan yang Fresh Sekaligus Emosional dalam Misi Selamatkan Keluarga dari Jeratan Lintah Darat

Film Ikatan Darah tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 22 April 2026 — Uwais Pictures bersama produser eksekutif Iko Uwais dan sutradara Sidharta Tata menghadirkan kesegaran baru di perfilman Indonesia melalui film akai Ikatan Darah yang akan tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Menampilkan duel dari karakter utama perempuan yang diperankan Livi Ciananta sebagai Mega saat berhadapan dengan geng mafia paling mematikan di Jakarta demi menyelamatkan keluarganya.

Di setiap adegan aksinya, Sidharta Tata memberikan keunikan masing-masing dengan lapisan emosional yang berbeda. Ikatan Darah membawa angin segar dengan menampilkan film aksi laga Indonesia yang kualitasnya setara film internasional, dengan pendekatan isu sosial yang dekat dengan Indonesia melalui permasalahan judi online (judol) dan jeratan pinjaman online (pinjol).

Sementara itu, sajian action di film Ikatan Darah seperti tak memberikan waktu penonton untuk bernapas, dan menjadi pengalaman sinematik yang sangat roller coaster ride.

Diproduseri oleh Ryan Santoso, dengan produser eksekutif Iko Uwais bersama Yentonius Jerriel Ho, dan Yocke Kaseger, film yang diproduksi Uwais Pictures yang turut didukung oleh KG Pictures, Legacy Pictures, dan Raid Rapid Active memberikan pengalaman baru bagi penonton Indonesia lewat genre aksi yang berkualitas

"Film Ikatan Darah membuktikan bahwa regenerasi action di Indonesia terjadi dan terus berkembang. Di film ini, pemeran utamanya perempuan, yang biasanya bahkan di dunia sekalipun, film oction didominasi oleh karakter utama laki-laki. Ini menjadi komitmen Uwais Pictures yang terus mendorong lahirnya bakat-bakat baru di genre action," kata produser eksekutif Iko Uwais.

Tak hanya menyajikan aksi yang bikin tahan napas, sutradara Sidharta Tata juga menyajikan elemen drama yang emosional dan menyentuh. Tentang hubungan keluarga dan persaudaraan dan sikap rela berkorban.

Ceritanya juga diambil dari keseharian yang sangat dekat dengan banyak orang Tentang perjuangan kelas ekonomi bawah yang bertaruh demi mendapat hidup yang layak.


"Ikatan Darah menunjukkan soal bagaimana persaudaraan dan pertemanan menjadi harga mati yang saling terikat. Bagaimana kita merajut hubungan persaudaraan yang rela berkorban, rela untuk melakukan apapun demi kelangsungan hidup saudaranya," ujar sutradara Sidharta Tata.

"Secara action, saya menjanjikan akan menjadi pengalaman sinematik di bioskop yang juga roller coaster ride. Kami didukung oleh tim yang sangat berpengalaman, bersama Uwais Team yang telah mengerjakan berbagai proyek laga internasional dan akan menjadi hiburan yang begitu menegangkan hingga akhir di bioskop." tambah Sidharta Tata.

Ikatan Darah dibintangi oleh Livi Ciananta, Derby Romero, Dimas Anggara, Teuku Rifnu Wikana, Abdurrahman Arif, Ramadhan Ruswadi, Agra Piliang, Ismi Melinda, dan aktris senior Lydia Kandou.

Livi dan Derby akan menghadapi para musuh mereka dengan gaya bertarung yang berbeda-beda. Perbedaaan gaya duel inilah yang akan semakin membuat menarik Ratan Darah sehingga film ini terasa begitu kaya dengan teknik action yang berkualitas.

"Butuh waktu sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan adegan fighting. Selama tiga bulan itu, kami hampir setiap hari mengulang koreografi yang sudah diciptakan oleh Uwais Team. Sehingga saat syuting pun minim cedera," kata Livi Ciananta, yang memerankan karakter utama bernama Mega di Ikatan Darah.

"Tentunya di film ini bagian adegan fighting-ku sangat banyak. Setiap ada adegan fight, itu ada aku, dan setiap fight, punya rasa yang berbeda-beda. Dalam perjalanan menyelamatkan kakaknya, Mega selalu bertemu dengan penjahat yang karakter membunuhnya itu bermacam-macam," tambah Livi.

Bagi Derby, ini adalah pengalaman pertamanya membintangi film aksi. Derby sendiri sebenarnya memiliki latar belakang atlet dan berbagai bidang beladiri, termasuk muay thai hingga jiu jitsu. Namun, di film ini, Derby justru harus beradegan aksi menggunakan instingnya.

"Sebenarnya latar belakang beladiriku sangat bermanfaat di Ikatan Darah, yang menjadi film action pertamaku. Karena filmnya sangat physical, aku harus sprint, jatuh dan segala macam, yang sebagian besar itu aku lakukan sendiri tanpa stunt. Aku juga banyak belajar tentang koreografi fighting di film ini yang seperti dance, ada ritme, beat, serta chemistry," kata Derby Romero yang memerankan Bilal

"Di film ini, aku fighting mengandalkan instingku, dan dipaksa untuk terus berlari," tambah Derby.

Ikatan Darah akan membawa penonton pada pengalaman sinematik dari sajian aksi laga dengan kualitas internasional, dengan bumbu cerita drama dan sentuhan lokal yang sangat Indonesia. Film ini adalah tentang pertaruhan hidup dan mati, yang juga berbicara tentang permasalahan yang banyak dihadapi orang di Indonesia.

Ikuti informasi dan perkembangan terbaru Uwais Pictures dan film Ikatan Darah melalui akun Instagram @uwaispictures.

SINOPSIS


Mega (Livi Ciananta), seorang mantan atlet pencak silat yang kini bekerja sebagai pramusaji, harus menyelamatkan kakaknya, Bilal (Derby Romero), yang menjadi buruan para gangster terkejam akibat hutang dan pembunuhan yang tak sengaja ia lakukan.

Aksi perburuan membuat kakak beradik itu terjebak di sebuah kampung yang seluruh pintu keluarnya telah ditutup oleh para preman anak buah dari bos gangster, yaitu Primbon (Teuku Rifnu). Kini, Mega dan Bilal harus bekerja sama untuk dapat meloloskan diri dari kejaran para gangster itu meski nyawa menjadi taruhannya.



TENTANG UWAIS PICTURES

UWAIS PICTURES adalah rumah produksi film yang diluncurkan pada tahun 2023 oleh aktor sekaligus atlet bela diri Iko Uwais. Perjalanan Uwais Pictures berawal dari "Uwais Team" sebuah tim koreografi aksi yang telah dikenal luas lewat kontribusi di berbagai film nasional dan internasional. Uwais Pictures hadir dengan visi untuk menghadirkan film laga yang mengakar pada seni bela diri Indonesia, namun tetap mampu bersaing di pasar global.

Rumah produksi ini digerakkan oleh tim inti yang solid, termasuk Iko Uwais sebagai Chairman dan Ryan Santoso sebagai CEO. Setiap film yang diproduksi dihadirkan dengan filosofi bahwa aksi bukan sekadar hiburan visual, melainkan medium untuk bercerita dan menginspirasi generasi yang baru.

Proyek perdana Uwais Pictures, Ikatan Darah garapan Sidharta Tata dan Timur yang disutradarai langsung oleh Iko Uwais, menjadi penanda langkah pertama untuk memperkenalkan wajah baru film laga Indonesia. Melalui karya-karya tersebut, Uwais Pictures ingin mengedukasi penonton muda agar semakin menghargai film laga lokal, sekaligus memperkenalkan pencak silat sebagai bagian dari identitas bangsa. Dengan semangat kolaborasi dan orientasi pasar internasional, Uwais Pictures berkomitmen untuk menjangkau penonton yang lebih luas dan bisa menduniakan film laga Indonesia di kancah perfilman dunia.

AKUN MEDIA SOSIAL UWAIS PICTURES
​Instagram : @uwaispictures
​X : @uwaispictures
​YouTube : Uwais Entertainment

GHOST IN THE CELL MENEMBUS 1 JUTA PENONTON DALAM 6 HARI PENAYANGAN

​JOKO ANWAR CETAK REKOR 7 FILM BOX OFFICE BERTURUT-TURUT

Jakarta, 21 April 2026 — Film ke-12 Joko Anwar, Ghost in the Cell baru saja meraih 1 juta penonton, hanya dalam waktu enam hari tayang di bioskop Indonesia! Hal tersebut membuktikan film yang diproduksi oleh Come and See Pictures ini sangat dinantikan dan diterima dengan baik oleh penonton film Indonesia di periode pasca-lebaran.

​Dengan raihan ini, sutradara Joko Anwar mencetak rekor baru sebagai satu-satunya sineas Indonesia yang berhasil mengantarkan tujuh film berturut-turut melewati angka 1 juta penonton di bioskop. Sebuah konsistensi yang belum pernah dicapai oleh sutradara mana pun dalam sejarah industri film Indonesia. Sebelumnya, film-film Joko yang menembus 1 juta penonton adalah Pengepungan di Bukit Duri (2025), Siksa Kubur (2024), Pengabdi Setan 2: Communion (2022), Perempuan Tanah Jahanam (2019), Gundala (2019), dan Pengabdi Setan (2017).

Ghost in the Cell sekaligus mengukuhkan Joko Anwar sebagai sineas andal yang mampu melahirkan karya inovatif dari berbagai genre. Tak hanya sebagai maestro horor, namun juga piawai dalam meramu komedi, horor-komedi, hingga aksi-thriller.

​“Misi kami ketika membuat film ini adalah supaya setidaknya selama 1 jam 46 menit kita, para Warga Negara Indonesia (WNI) bisa merasa menang. Tidak menyangka akan disambut dengan begitu hangat. Perasaan kita sama. Mudah-mudahan keadilan bisa datang, dan tidak harus menunggu hantu turun tangan,” ujar penulis dan sutradara Joko Anwar.

Ghost in the Cell juga mencetak rekor penjualan internasional setelah berhasil dibeli 86 negara untuk ditayangkan di bioskop luar.

​Joko Anwar juga menjadi satu-satunya sutradara Indonesia yang film-filmnya berhasil masuk seleksi resmi keempat festival film paling bergengsi di dunia: Sundance Film Festival, Berlinale, Venice Film Festival, dan Toronto International Film Festival (TIFF). Sebuah capaian yang menempatkan namanya dalam jajaran elite sineas Asia yang diakui secara global.

​Keempat festival tersebut dicapai lewat film-film yang berbeda: A Copy of My Mind (2015) tayang perdana di Venice Film Festival dan dilanjutkan ke Toronto International Film Festival; Gundala (2019) debut di Toronto International Film Festival; Impetigore (2019) premiere di Sundance Film Festival dan dipilih sebagai wakil Indonesia untuk Academy Awards; dan Ghost in the Cell (2026) premiere internasional di Berlinale.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Ical Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

​Film Ghost in The Cell diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.

SINOPSIS


​Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Badan Perfilman Indonesia Umumkan Susunan Pengurus 2026-2030, Siap Perkuat Ekosistem Film Nasional

Foto: Fauzan Zidni, Nazira C. Noer, Sindy Dewiana ​ Jakarta, April 2026  – Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni , resmi...