Senin, 13 April 2026

Dilema Generasi Muda, Antara Ambisi dan Bakti: Rapi Films Rilis Trailer "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan"


Jakarta, 13 April 2026 – Menyusul kesuksesan luar biasa dari Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films bekerja sama dengan Screenplay Films dan Vortera Studios kini mempersembahkan sebuah mahakarya drama keluarga terbaru, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan".

​Lewat acara press conference yang digelar di Plaza Senayan hari ini, Rapi Films resmi meluncurkan Official Trailer dan Poster film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan". Film yang ditulis oleh penulis skenario andal Alim Sudio dan disutradarai oleh Kuntz Agus ini dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop mulai 13 Mei 2026.

​Di bawah arahan sutradara Kuntz Agus dan diproduseri oleh Sunil Samtani, film ini membawa pesan mendalam bahwa ketika memori perlahan pudar, setiap detik kebersamaan menjadi sangat tak ternilai.

​Film ini membawa penonton menyelami dunia Kesha (Yasmin Napper), seorang anak sulung yang sedang berada di fase transisi menuju dewasa. Sebagai mahasiswi film, ia ingin mandiri dan lepas dari bayang-bayang rumah. Namun, realita di rumah tidaklah sederhana.

​Ada Kenya (Sofia Shireen), anak tengah yang berprestasi dan selalu didukung penuh oleh Ibu, serta Karlo (Jordan Omar), si bungsu yang membutuhkan perhatian ekstra karena kondisi kesehatannya.

​Di tengah dinamika sibling rivalry dan rasa ingin bebas fokus pada masa depannya, Kesha justru harus dihadapkan pada kenyataan pahit saat ibunya, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), jatuh sakit yang menyebabkan ia secara bertahap kehilangan ingatannya. Kesha harus belajar bahwa mencintai keluarga terkadang berarti mengubah seluruh cara hidupnya.

​Yasmin Napper memberikan komentar penguat mengenai perspektif seorang anak dalam film ini, "Setiap orang yang mulai memiliki dunianya sendiri pasti akan mengalami titik di mana ia sadar kalau momen-momen berharga bersama keluarga tidaklah abadi. Melalui Kesha, aku belajar bahwa menjadi anak sulung bukan hanya soal mengalah, tapi soal menjadi penjaga memori di saat semua orang mulai merasa rapuh. Aku merasa film ini sangat spesial karena mengingatkanku bahwa sesibuk apa pun kita mengejar mimpi, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang paling berarti, kehadiran seorang Ibu."

​Penulis skenario Alim Sudio menekankan bahwa naskah ini dirancang untuk mer[angkul sisi] paling personal dari setiap anggota keluarga, "kali ini saya ingin memotret kerer[entanan yang] sangat dekat dengan anak muda Gen Z, khususnya mereka yang sedang di usia k[uliah. Kita] semua tahu betapa hectic-nya masa itu, saat ambisi mengejar masa depan terasa begitu mendesak, hingga seringkali dinamika di dalam rumah terasa seperti gangguan. Lewat karakter Kesha, kita akan melihat bagaimana hubungan yang naik-turun dengan ayah, ibu, dan adik-adiknya menjadi cermin bagi banyak penonton muda di luar sana. Hingga pada akhirnya, ia sampai pada sebuah titik balik, menyadari bahwa di tengah semua pencapaian yang ia kejar, keluarga adalah satu-satunya hal yang ia miliki dan akan abadi di ingatannya."

Sutradara Kuntz Agus menambahkan bahwa perjuangan keluarga ini dalam menjaga memori akan terasa sangat hangat sekaligus mengharukan, mengajak audiens untuk lebih menghargai setiap kenangan yang masih dimiliki. "Kami ingin mengajak penonton merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di saat memori terancam pudar, kita akan melihat betapa solidnya setiap anggota keluarga bersatu demi menjaga kepingan memori itu tetap hidup," jelasnya.

​Film ini siap hadir dan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kenangan yang pernah kita jalin bersama orang tersayang. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, seperti yang terjadi pada Kesha.

​Kesha mahasiswi tingkat akhir sekolah film punya seorang ibu. Ibunya bernama Yuke Yolanda, Guru favorit di Sekolah tempat ia mengajar dan juga Ibu yang sangat dicintai oleh Suami dan anak-anaknya.

​Masalah datang ketika ada sesuatu yang terjadi pada Yuke. Yuke mulai sering lupa, lupa ulang tahun pernikahan, lupa jalan ke sekolah sampai hal-hal penting tentang ketiga anaknya, Kesha, Kenya dan Karlo.

​Rumah yang awalnya hangat penuh kebahagiaan, kini berubah semakin parah. Kesha yang sedang fokus dengan tugas akhir kini berada dalam pilihan paling sulit: tetap bertahan mengejar impiannya atau pulang dari kosannya sebelum ia benar-benar hilang dari ingatan Ibunya.

​Karena ada hal-hal yang boleh hilang dalam hidup, kesempatan, nilai, bahkan mimpi. Tapi jangan sampai kita yang hilang dari hati dan ingatan seorang Ibu.

​Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan. Tunggu di bioskop 13 Mei 2026!

Sabtu, 11 April 2026

PELUNCURAN FILM PANGGUNG TERLARANG & SLIDE FILM TERBARU BINTANG CAHAYA SINEMA

Bintang Cahaya Sinema berkolaborasi dengan Komunitas Bogor Bamora dan Pictlock Cinema

Jakarta, 11 April 2026 — Bintang Cahaya Sinema mempertegas langkah strategisnya dalam membangun industri film Indonesia yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Press Conference film "Panggung Terlarang". Momentum ini tidak hanya menjadi peluncuran karya, tetapi juga pemaparan komprehensif atas arah kreatif, peta proyek, serta strategi ekspansi global perusahaan melalui partisipasi di Marché du Festival de Cannes. Di mana tahun ini adalah tahun ke-3 Bintang Cahaya Sinema membuka booth di Marché du Festival de Cannes.

​Sebagai rumah produksi yang berorientasi pada pembangunan intellectual property (IP) jangka panjang, Bintang Cahaya Sinema mengembangkan portofolio proyek secara terstruktur—mengintegrasikan kekuatan narasi, relevansi sosial, serta potensi komersial lintas platform dalam satu kerangka bisnis yang adaptif dan scalable.

​Dalam tahap produksi, dua film panjang utama menjadi fondasi awal, yakni "Panggung Terlarang" yang ditulis dan disutradarai oleh Bani Marhaen, serta "Pintu Belakang" yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara. Kedua proyek ini merepresentasikan pendekatan sinematik yang kuat, reflektif, dan berakar pada realitas sosial.

​Bintang Cahaya Sinema tengah menyiapkan sejumlah film panjang yang akan segera memasuki tahap produksi, di antaranya "Broken Home" dengan penulis Evelyn Afnilia yang diangkat dari kisah nyata dan banyak terjadi di sekeliling kita; "Paraji" dengan penulis BW Purba negara ; "Petarung" dengan penulis Anggoro Saronto yang diangkat dari kisah nyata dari perjalanan hidup Dr. Hj. Titik Prasetyowati Verdi, S.H, M.H, juara dunia karate, serta "Di Sini Bukan Rumahku: The Story of Hanako" yang diangkat dari kisah nyata Hanako yang ditulis oleh Tisa TS. Film Aku Harap Ibu Kembali, yang ditulis dan disutradarai oleh Keny Gulardi. Rangkaian proyek ini menghadirkan spektrum narasi yang kuat—mengangkat isu kemanusiaan, dekat dengan kita, tentang ketahanan individu, peran perempuan, serta nilai-nilai kultural yang memiliki resonansi universal.

​Selain film panjang, perusahaan juga mengembangkan karya film pendek sebagai bagian dari strategi eksplorasi kreatif dan penguatan talenta dan siap berkompetisi di ajang festival nasional dan international, Film pendek berjudul “Boru Ni Raja” diproduksi melalui kolaborasi dengan BPODT (Badan Pelaksana Otorita Danau Toba) di bawah kepemimpinan Jimmy Panjaitan selaku dirut BPODT, sebagai upaya mengangkat potensi budaya dan pariwisata berbasis kearifan lokal dan perjuangan hidup seorang Ibu. Sementara itu, “Lost Childhood” menjadi proyek penting sebagai debut penulis sekaligus sutradara Rizka Shakira—produser dari Women from Rote Island—yang sekaligus menandai kemunculan talenta baru melalui penampilan Nika sebagai pemeran utama di dalam film ini dengan Analia Trisna sebagai co-producer.

​Partisipasi dalam Marché du Festival de Cannes menjadi langkah strategis dalam membuka akses terhadap jejaring global—mencakup peluang co-production, distribusi internasional, serta kemitraan investasi. Dengan pendekatan kuratorial yang terukur, Bintang Cahaya Sinema tidak hanya membawa karya, tetapi juga membangun positioning konten Indonesia sebagai bagian dari percakapan industri film dunia.

​Melalui penguatan riset pasar, diversifikasi genre, serta kolaborasi lintas sektor, perusahaan menempatkan film sebagai aset kreatif yang memiliki nilai artistik, ekonomi, dan kultural secara simultan. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya saing global.

​Adapun Press Conference diselenggarakan pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Resto Gili Asian Cuisine, Bekasi, dengan registrasi media dimulai pukul 12.30 WIB dan acara utama berlangsung pukul 14.00 WIB hingga selesai.

​Bintang Cahaya Sinema memandang media sebagai mitra strategis dalam membangun narasi publik, memperluas jangkauan, serta mengakselerasi apresiasi terhadap karya. Sinergi ini menjadi elemen penting dalam memperkuat eksistensi dan relevansi sinema Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

​Sinopsis film Panggung Terlarang

​Film ini berkisah tentang Gin yang diperankan oleh Andriyan Didi, seorang mahasiswa yang sedang melakukan persiapan pertunjukan untuk tugas akhirnya. Gin dibantu dua sahabatnya Via (pimpinan produksi) yang diperankan oleh Irma Rihi, Beni (dokumentasi) yang diperankan oleh Hakiki Kamil, Kio (pemeran utama pertunjukan) yang diperankan oleh Agoye Mahendra, Dinda (pemeran Dewi Sri Poaci) yang diperankan oleh Salsabila Zahra dan Roni (art departemen) yang diperankan oleh Vanjhoov. Mereka berusaha mewujudkan pementasan sebelumnya yang sempat gagal digelar, Namun kali ini Gin hanya punya waktu satu bulan untuk merampungkan semuanya, jika pertunjukan ini gagal lagi, maka Gin terancam tidak lulus. Perjalanan mereka tidak mudah, tiba-tiba investor yang mendanai pertunjukan Gin membatalkan pendanaannya menjelang hari pertunjukan. Namun Gin dan sahabatnya tidak menyerah, apapun yang terjadi mereka harus tetap menggelar pertunjukan itu. Akhirnya mereka menggelar pertunjukan itu di Gedung Mandala Kencana, gedung tua yang terbengkalai. Dan malapetaka pun terjadi.


​Catatan Produksi film Panggung Terlarang

​Judul Film : Panggung Terlarang
Produksi : Bintang Cahaya Sinema
Produser : Rizka Shakira
Sutradara : Bani Marhaen
Penulis : Bani Marhaen

​Cast :
​Irma Rihi sebagai Via
​Andriyan Didi sebagai Gin
​Agoye Mahendra sebagai Kio
​Vanjhoov sebagai Roni
​Hakiki Kamil sebagai Beni
​Widya Amor sebagai Kanaya
​Salsabila Zahra sebagai Dinda
​M. Iqbal sebagai Pak Rahman
​Amanda sebagai Ibu Kantin

​Tentang Bintang Cahaya Sinema

​Bintang Cahaya Sinema adalah perusahaan produksi film yang berfokus pada pengembangan konten sinematik berbasis narasi kuat, dengan pendekatan strategis yang mengintegrasikan nilai kreatif, komersial, dan kultural, serta berorientasi pada pasar.

Jumat, 10 April 2026

Trailer Crocodile Tears Ungkap Lapisan Konflik yang Lebih Intens Jelang Tayang 7 Mei 2026


Jakarta, 10 April 2026 — Film panjang debut sutradara Tumpal Tampubolon, Crocodile Tears jelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026 ini, hari ini merilis final trailer yang memperlihatkan emosi drama yang intens di antara tiga karakter utamanya. Jika melalui trailer sebelumnya dibuka dengan adegan keseharian Johan dan Mama yang mulai terusik oleh kehadiran Arumi, melalui final trailer ini, Crocodile Tears membawa penonton masuk lebih jauh ke dalam relasi yang kompleks di antara ketiganya.

​Final trailer dibuka dengan hubungan romantis Johan (Yusuf Mahardika) dan Arumi (Zulfa Maharani) diiringi suara lirih Arumi yang menyanyikan lagu Benci untuk Mencinta. Kedekatan yang memicu perubahan dalam relasi Johan dengan Mama (Marissa Anita). Ketegangan yang sebelumnya terasa samar kini berkembang menjadi konflik emosional yang lebih terbuka. Melalui potongan adegan yang semakin intens, Crocodile Tears mengangkat tema tentang dinamika antara ibu, anak, dan menantu, serta figur "mertua" yang dominan, dibingkai dalam sebuah drama keluarga yang menegangkan, dimana batas antara kasih sayang tulus menjadi semakin kabur dan terasa manipulatif.


​Sejak karya-karya pendeknya, sutradara Tumpal Tampubolon dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama dimana emosi para karakter dan relasi di antara mereka terbangun perlahan namun konsisten, sehingga penonton terbawa masuk ke dalam dinamika yang dialami karakternya. Dan dalam setiap karyanya pula, Tumpal selalu memberikan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama dihadirkan Tumpal dalam Crocodile Tears. Dan final trailer ini menjadi gambaran awal dari bagaimana film ini akan membawa penonton pada perjalanan emosional yang tidak hanya intim, tetapi juga penuh kejutan.

​Dibintangi oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani, Crocodile Tears menghadirkan kisah tentang hubungan keluarga yang berubah menjadi ruang penuh tekanan, ketika cinta dan bakti tidak lagi berjalan beriringan. Dengan balutan realisme magis dan teror psikologis, film ini menawarkan pengalaman menonton yang intens sekaligus menggugah.

​Film Crocodile Tears diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment. Ikuti akun media sosial resmi Talamedia untuk informasi terbaru mengenai film Crocodile Tears.

​CROCODILE TEARS

​Production: Talamedia & E-Motion Entertainment
​Co-Production: 
Acrobates Films
​Poetik Films
​Giraffe Pictures
​2Pilots Filmproduction
​International Sales & Festivals: Cercamon
​Casts: 
Yusuf Mahardika (Johan)
​Marissa Anita (Mama)
​Zulfa Maharani (Arumi)
​Director: Tumpal Tampubolon
​Writer: Tumpal Tampubolon
​Producer: Mandy Marahimin
​Co-Producers: 
Claire Lajoumard
​Anthony Chen
​Christophe Lafont
​Harry Flöter
​Jörg Siepmann
​Teoh Yi Peng
​Executive Producers: 
Arnold J. Limasnax
​Lianto Winata Vachon
​Tjen Foeng Fa
​Kevin Danudoro
​Cinematographer: Teck Siang Lim
​Production Designer: Jafar
​Art Director: Guntur Mupak
​Costume: Hagai Pakan
​Make-up: 
Cherry Wirawan
​Agustin Puji
​Sound: 
Roman Dymny
​Bruno Ehlinger
​Romain Ozanne
​Music: Kin Leonn
​Editor: 
Jasmine Ng Kin Kia
​Kelvin Nugroho
​Poster & Logo: Evan Wijaya
​Photo Poster: Robin Budidharma

Kamis, 09 April 2026

Film Ghost in the Cell: Sedih, Lucu, dan Mengerikan! Membawa Pengalaman Sinematik Baru Horor Komedi yang Sangat Politis! Menghibur Sekaligus Reflektif

Film Ghost in the Cell tayang mulai 16 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 9 April 2026 - Penulis dan sutradara Joko Anwar mempersembahkan film ke-12 nya, Ghost in the Cell, bersama rumah produksi Come and See Pictures dengan sajian pengalaman sinematik baru. Menggabungkan horor komedi yang sangat menghibur, namun juga membawa pesan yang sangat reflektif tentang situasi Indonesia yang akan tayang mulai 16 April 2026.

Film Ghost in the Cell telah mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlinale 2026. Film ini juga telah mendapat respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua. Ghost in the Cell sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di Indonesia dan seluruh tiketnya terjual habis (sold out)!

Joko Anwar, sang maestro horor dengan jenius menggabungkan berbagai genre. Mulai dari komedi, genre yang pertama kali ia garap di film debutnya, hingga aksi dan horor. Tema yang dibahas juga sangat beragam merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Dari isu lingkungan, agama, dan politik.

"Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri," kata Joko.

Melalui Ghost in the Cell, Joko juga ingin mengajukan sebuah pernyataan yang tegas tentang masih adanya harapan di tengah sistem yang kacau dan busuk di negara ini.

"Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, sekian persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan. Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara," tambah Joko Anwar.

Menurutnya, semangat harapan itu yang bisa membawa perubahan, bersama kolektivitas warga, seperti yang terjadi di filmnya saat para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan 'hantu' yang sesungguhnya.


Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaimana seorang koruptor menjalani 'hukuman' namun masih mendapat privilese untuk bisa berbuat semau mereka. Produser Tia Hasibuan menyebutkan, meski secara isu dan cerita Ghost in the Cell sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.

"Saat world premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh jajaran aktor terbaik Indonesia, serta menggandeng talenta terbaik Asia Tenggara. Film ini menyajikan penampilan terbaik dari para ansambel aktor lintas generasi dan lintas negara. Dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Secara keseluruhan, Ghost in the Cell dibintangi oleh 108 pemeran. Dengan jajaran ansambel bertabur bintang, Joko juga menuntut para pemerannya untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka seluas mungkin.

Abimana, yang memerankan Anggoro, menyebutkan dalam salah satu adegan aksi, ada tempo yang dimainkan. Abimana menceritakan, adegan aksi di film ini yang melibatkan ratusan orang diciptakan secara long take, dan memerlukan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat.

"Secara keaktoran, sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Di dalam penjara pun dia ciptakan keluarga yang dia pilih," kata Abimana.

"Dalam akting itu bukan saja soal karakter, tetapi juga ada beat tempo. Misalnya dalam satu adegan fighting, tidak hanya satu beat tempo serius. Tapi juga jadi dance lalu ke drama, itu beat-nya berbeda. Kalau para aktornya tidak mengerti beat yang digunakan, itu akan susah dan membuat berantakan syutingnya. Dan Joko sudah mempersiapkan beat-beat itu di tiap adegan," tambah Abimana.

Tonton film Ghost in the Cell di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, dan jadilah bagian dari 10% masyarakat Indonesia yang terus bersuara dan jujur! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

Promosi film Ghost in the Cell didukung oleh Tunaiku by Amar Bank.



SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Teaser Trailer & Poster, Menampilkan Kisah Emosional Raihaanun dan Omar Daniel Sebagai Pasangan Rumah Tangga yang Dekat dengan Banyak Orang

Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 7 April 2026 — VMS Studio dan Umbara Brothers Film, bekerja sama dengan Adsfort merilis official teaser trailer & poster film drama keluarga terbaru dari produser Tony Ramesh dan sutradara Anggy Umbara, Keluarga Suami Adalah Hama. Dibintangi oleh Raihaanun, Omar Daniel, Meriam Bellina, Jeremie Moeremans dan Sitha Marino.

​Dalam official teaser trailer yang dirilis, menampilkan sebuah dinamika seorang istri (Raihaanun), yang tinggal bersama keluarga suaminya. Ia mengurus semua urusan rumah tangga, termasuk mengasuh sang mertua. Namun, dalam cuplikan tersebut, menampilkan beban emosional yang dialami Raihaanun.


​Di sisi lain, Omar Daniel sebagai suami juga harus menanggung semua beban finansial seluruh keluarganya. Situasi-situasi tersebut membuat goyah kehidupan rumah tangga Raihaanun dan Omar Daniel. Sementara itu, official teaser posternya menampilkan jajaran ansambel pemeran yang merepresentasikan dinamika keluarga dan rumah tangga yang terjadi di film.

​“VMS Studio selalu berkomitmen untuk selalu menghadirkan cerita yang fresh sekaligus dekat dengan kisah dari banyak orang. Dalam film drama Keluarga Suami Adalah Hama, kali ini kami ingin menyoroti dinamika hubungan suami istri yang menghadapi cobaan bukan dari orang ketiga, tapi justru dari keluarga yang terlalu ikut campur. Ini adalah kisah yang bisa merefleksikan situasi banyak orang dan semoga bisa menjadi persembahan yang memberikan hiburan sekaligus pelajaran,” ujar produser dan CEO VMS Studio Tony Ramesh.

​Bagi Raihaanun, film Keluarga Suami Adalah Hama memberinya tantangan untuk menampilkan beban emosional yang dialami oleh banyak perempuan dan istri. Ia berharap film ini akan semakin membuka ruang diskusi tentang pentingnya hubungan yang sehat dalam keluarga.

​“Film ini akan membuka banyak mata masyarakat tentang betapa pentingnya memberikan ruang yang aman dan komunikasi yang sehat untuk istri. Sehingga para istri tidak merasa ditinggalkan dan seperti berjuang sendirian di dalam rumah tangga. Salah satu yang juga menjadi tantangannya di sini adalah bagaimana aku menampilkan dinamika seorang istri yang harus berinteraksi secara intens dengan keluarga dari suami,” ujar Raihaanun.

​Keluarga Suami Adalah Hama merupakan salah satu slate yang diumumkan oleh VMS Studio pada akhir tahun lalu. Film ini diadaptasi dari film pendek fenomenal berjudul sama karya Aditya Santana yang diproduksi Adsfort. Film pendeknya sendiri telah ditonton lebih dari 100 juta views di platform Noice.

“Sebuah cerita yang sangat berani, dekat dengan kehidupan nyata di sekitar kita, dan menggugat apa yang masih banyak terjadi di masyarakat. Itu pula yang menjadi titik ketertarikan saya saat akan menggarap film ini. Di film panjangnya, penonton bisa lebih lengkap melihat konflik-konflik dan dinamika yang dihadapi oleh suami istri di sini, yang diperankan Omar dan Raihaanun,” ujar sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.

Rabu, 08 April 2026

'AIN – Ketika Pandangan Menjadi Ancaman yang Tak Terlihat

Jakarta, 08 April 2026 - Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya terbaru bertema Body Horor Film 'AIN hadir sebagai film Body Horor namun tanpa menampilkan sosok hantu secara visual. Alih-alih mengandalkan penampakan, film ini menghadirkan kengerian yang dibangun melalui suasana, emosi, dan pengalaman yang terasa nyata—cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Film ini mengangkat fenomena penyakit ain, sebuah kondisi yang diyakini muncul akibat pandangan mata seseorang yang dilandasi rasa iri, dengki, atau bahkan kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah. Tema ini terasa semakin relevan dengan kondisi saat ini, di mana budaya flexing di media sosial semakin marak dilakukan oleh banyak selebriti maupun influencer.

Sutradara Archie Hekagery mengungkapkan bahwa film ini lahir dari keresahan terhadap fenomena tersebut.

“Film ini kita buat karena relate dengan kondisi sekarang, di mana banyak orang suka flexing di media sosial dan kemudian mengalami gangguan seperti autoimun tanpa menyadari kemungkinan adanya ain. Film ini sangat nyata dan sangat real, bukan fiksi. Kalau mencari tentang penyakit ain, akan banyak pengakuan dari orang-orang yang sudah mengalaminya,” ujar Archie.

Ia juga menambahkan bahwa proses pengembangan film ini tidak membutuhkan riset panjang, karena konsep ain sudah dikenal luas dalam perspektif keagamaan.

“Saya tidak perlu riset lama. Bagi umat Islam, ain adalah hal yang sudah diketahui, sama seperti dalam kepercayaan lain yang mengenal praktik spiritual tertentu,” tambahnya.

Sementara itu, aktris Brittany Fergie yang memerankan karakter Joy, mengaku memiliki kedekatan personal dengan tema yang diangkat dalam film ini.


“Aku sangat percaya karena mendengar cerita dari teman-teman dan lingkungan sekitarku. Film ini menjadi tantangan, baik dari sisi teknis maupun cerita. Ini juga membuka wawasan bahwa masih banyak orang yang belum aware dengan penyakit ain,” ungkap Brittany.

Ia berharap kehadiran film ini bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih menjaga sikap dan tetap rendah hati.
“Semoga film ini bisa jadi sarana untuk mengingatkan kita agar terus rendah hati,” tambahnya.

Dengan pendekatan yang lebih subtil dan atmosferik, “AIN” menawarkan pengalaman horor yang berbeda—tidak sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara manusia, niat, dan energi yang tak terlihat.


Film ini diperankan oleh Brittany Fergie, Putri Ayudya, Bara Valentino dan lain-lain. Tunggu kengerian AIN apa yang akan mengintai anda di Bioskop tanggal 7 Mei 2026.

Film Shaka Oh Shaka Merilis Official Trailer & Poster: Saat Rasa Kagum dengan Idola Tumbuh Menjadi Cinta di Kehidupan Nyata


Jakarta, 8 April 2026 – Film terbaru dari Starvision akan tayang di Bioskop 7 Mei 2026, Shaka Oh Shaka, karya sutradara Dinna Jasanti dan penulis skenario Rino Sarjono, yang sebelumnya menghadirkan drama kehangatan keluarga melalui Film SENIN HARGA NAIK di Lebaran 2026. Kolaborasi terbaru dengan Produser Chand Parwez Servia, menghadirkan kisah cinta seorang fans dengan idolanya, yang harus menghadapi realita pasang surut popularitas dan perjuangan menggapai mimpi.

​Film Shaka Oh Shaka menceritakan tentang Ocel (Arla Ailani) mahasiswi sederhana yang mengidolakan Shaka (Kiesha Alvaro) seorang penyanyi terkenal. Pertemuan di konser Shaka mengubah semuanya. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Hubungan mereka diuji kenyataan hidup yang silih berganti. Akankah mereka bisa tetap bertahan?

​Melalui Official Trailer Film Shaka Oh Shaka, ditampilkan perjuangan Shaka dalam meniti karir bermusiknya, sekaligus memperlihatkan kegelisahan Ocel yang harus menerima status hubungan mereka yang disembunyikan demi membantu karir kekasihnya. Ocel mencari cara untuk menggapai mimpinya yang sudah lama tertunda, walaupun tanpa disadari skenario situasi hubungan mereka mendekati titik toxic. Tetapi kasih sayang dan dukungan satu sama lain menjadi kekuatan untuk terus menggapai mimpi melalui pembuktian keberhasilan dalam karir. ​Disampaikan penuh kehangatan, kekeluargaan, dengan balutan komedi yang menghibur, diiringi lagu "Melompat Lebih Tinggi" dari Sheila on 7 yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro, "Lihat Kebunku (Taman Bunga)" dari Aku Jeje, "Satu Tuju" dari Raissa Anggiani, "Just Like A Star" dari Michael Aldi & Cornellia Nadya yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro & Arla Ailani, juga satu lagu yang diciptakan khusus dan dinyanyikan oleh Kiesha Alvaro, berjudul "Oxtella".

​Selain Kiesha Alvaro dan Arla Ailani, Film Shaka Oh Shaka menghadirkan deretan pemain yang piawai memerankan karakter-karakter mereka di Film, di antaranya: Artika Sari Devi, Vira Yuniar, Joshua Suherman, Maisha Kanna, Dennis Adishwara, Teuku Ryzki, Amel Carla, Adzana Ashel, Mazaya Amanias, Altaaf Akavi, Sadana Agung, Arie Nugroho, Leya Princy, Nicholas Calame, Adzando Davema, Clairine Clay, Kiki Narendra, Lam Ting, Baim, Ben Kasyafani, Shakeel Fauzi, Shaqueena Medina, Alfian Phang, Desthalia Florenza, Farel Alvarez dan lain-lain.

​Chand Parwez Servia selaku produser menyampaikan, “Film Shaka Oh Shaka mengangkat tema yang sangat dekat dengan banyak penonton. Bagaimana kita pernah memiliki khayalan untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan idola kita, dan mengetahui apa yang terjadi di belakang panggung. Karakter Shaka dan Ocel juga menjadi representasi untuk kita memperjuangkan mimpi, meskipun hambatan hadir silih berganti. ​Sutradara Dinna Jasanti membungkus permasalahan ini dengan sudut pandang apik, berangkat dari skenario Rino Sarjono yang diadaptasi dari novel best seller karya Jocelyn Suherman."

​“Shaka Oh Shaka adalah cerita tentang impian, kenyataan dan cinta. Hubungan romantis yang tumbuh dari rasa kagum dengan seorang idola menjadi rasa cinta sebagai pasangan. Seiring waktu, rasa sayang bertumbuh di antara realitas kehidupan yang semakin menantang. Padahal yang akan mempertahankan cinta adalah keyakinan dan keberanian untuk tetap berkembang dan saling mendukung.”, Dinna Jasanti selalu sutradara menambahkan. 

Jocelyn Suherman selaku penulis novel menyampaikan “Film Shaka Oh Shaka ini proses pengembangan cerita yang sangat panjang, cerita yang awalnya saya tulis sebagai ekspresi rasa cinta saya untuk idola saya, ditulis ke dalam novel, dan sekarang menjadi film. Semoga Film ini dapat mewakili penonton yang memiliki idola, dengan dinamika keseruannya.”

​“Film Shaka Oh Shaka ini sangat berarti bagi kami, karakter Shaka memberikan pelajaran untuk saya, tentang eksistensi juga pembuktian dalam berkarya dan memperjuangkan cinta. Tentang pengorbanan dan pengkhianatan, sekaligus pengingat pasang surut karir yang dipadukan sebagai rangkaian kisah tentang terus bertumbuh.” Ungkap Kiesha Alvaro.

​Arla Ailani menambahkan “Shaka dan Ocel menghadirkan pembuktian cinta dan mimpi yang seyogianya bisa berjalan beriringan, dengan menjadi yang terbaik untuk pasangan. Sebuah perjalanan berliku dalam menemukan belahan jiwa.”

​Nantikan Film Shaka Oh Shaka tayang di Bioskop mulai 7 Mei 2026.



Sinopsis

​Pertemuan di konser mengubah semuanya. OCEL (Arla Ailani), mahasiswi yang sederhana tidak menduga bisa menjadi kekasih SHAKA (Kiesha Alvaro), sang idola. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Namun, hubungannya diuji kenyataan hidup dan derasnya arus waktu. Hingga 15 tahun mereka tumbuh, jatuh, dan berusaha bangkit. Akankah mereka tetap bertahan, atau menemukan jalan dalam perpisahan?

Pemain dan Tim Produksi
Kiesha Alvaro - Shaka
Arla Ailani - Ocel (Oxtella)
Artika Sari Devi - Rosa
Vira Yuniar - Ibu Ocel
Joshua Suherman - Chandra
Maisha Kanna - Inez
Dennis Adishwara - Taka
Teuku Ryzki - Ican
Amel Carla - Carla
Adzana Ashel - Violetta
Mazaya Amania - Yasmin Kecil
Altaaf Akavi - Edgar Kecil
Sadana Agung - Bang Adik
Arie Nugroho - Edgar Dewasa
Leya Princy - Yasmin Dewasa
Nicholas Calame - Azka
Adzando Davema - Adzando
Clairine Clay - Istri Chandra
Kiki Narendra - Bapak Ocel
Lam Ting - Koh Steven
Baim - Gunawan
Ben Kasyafani - Host Podcast
Shakeel Fauzi - Shaka Kecil
Shaqueena Medina - Ocel Kecil
Alfian Phang - Tanoto
Desthalia Florenza - Florenza
Farel Alvarez - Pacar Inez

Produksi: Starvision
​Produser: Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar
​Sutradara: Dinna Jasanti
​Produser Eksekutif: Reza Servia, Amrit Dido Servia, Raza Servia
​Produser Lini: Sara Kessing
​Penulis Skenario: Rino Sarjono, Alim Sudio
​Adaptasi Novel Best Seller Karya: Jocelyn Suherman
​Pengarah Artistik: Okie Yoga Pratama
​Penata Kamera: Amalia TS, ICS
​Penyunting Gambar: Ahmad Yuniardi
​Penata Suara: Aditya Trisnawan
​Perekam Suara: Yusuf Patawari
​Penata Musik: Hariopati Rinanto
​Penata Warna & VFX: Super 8MM Studio
​Penata Grafis: Mataque Studio
​Penata Rias: Nathasa Agnes
​Penata Busana: Angela Suri Nasution
​Penata Peran: Arief Havidz, Erik Arfin
​Perancang Poster: Alvin Hariz
​OST:
Melompat Lebih Tinggi – Kiesha Alvaro
​Lihat Kebunku (Taman Bunga) – Aku Jeje
​Satu Tuju – Raissa Anggiani
​Just Like A Star – Kiesha Alvaro & Arla Ailani
​Oxtella — Kiesha Alvaro

Selasa, 07 April 2026

BASE Entertainment Rilis Trailer, Poster, dan OST Garuda Di Dadaku, Film Animasi Keluarga tentang Mengejar Mimpi Bersama


Film animasi keluarga untuk liburan sekolah tayang mulai 11 Juni 2026 di bioskop

Jakarta, 7 April 2026 — Tidak ada mimpi yang berdiri sendiri. Semangat inilah yang menjadi jiwa film animasi keluarga Garuda Di Dadaku saat BASE Entertainment bersama KAWI Animation resmi meluncurkan official trailer, official poster, serta soundtrack utama berjudul "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati.

Momentum ini menjadi langkah besar menuju penayangan film pada 11 Juni 2026, menghadirkan kisah tentang keberanian, kerja sama, dan mimpi anak Indonesia yang tumbuh lewat dukungan orang-orang di sekitarnya. Sebagai film keluarga untuk masa liburan sekolah, Garuda Di Dadaku membawa semangat sepak bola, persahabatan, dan keberanian bangkit untuk mengejar mimpi bersama.


Official trailer terbaru memperlihatkan lebih utuh dunia cerita yang berpusat pada Putra (Keanu Azka), seorang anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pesepak bola terbaik Indonesia, dan Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis yang hadir di saat Putra mulai kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.

Namun film ini tidak hanya berbicara tentang perjalanan satu anak mengejar cita-cita. Trailer memperlihatkan bahwa keberanian Putra tumbuh karena ada sosok-sosok yang percaya padanya-Gaga, Naya (Quinn Salman), teman-temannya, dan tim yang berjalan bersamanya. Kehadiran mereka menegaskan bahwa setiap mimpi membutuhkan orang-orang yang mampu melihat potensi kita, bahkan ketika kita sendiri masih ragu.

"Di film ini kami ingin menunjukkan bahwa mimpi besar selalu lahir dari keberanian untuk melangkah bersama. Putra boleh menjadi pusat cerita, tapi keberaniannya tumbuh karena ada Gaga, Naya, keluarga, dan tim yang percaya pada potensinya. Buat saya, itu juga sangat mencerminkan proses kami membuat Garuda Di Dadaku versi animasi selama lebih dari tiga tahun-sama seperti mimpi Putra, film ini tidak mungkin terwujud sendirian, melainkan lahir dari kerja kolektif para animator dan seluruh kru yang berjalan bersama sampai mimpi ini benar-benar hidup di layar," ujar Ronny Gani, sutradara film Garuda Di Dadaku.

Sebagai interpretasi baru dari IP ikonis Indonesia, Garuda Di Dadaku tetap mempertahankan identitas kuatnya sebagai film tentang sepak bola, sambil menghadirkan pendekatan yang lebih emosional melalui relasi antar karakter, nilai sportivitas, kerja sama tim, dan semangat juara yang dekat dengan keluarga Indonesia.

"Garuda Di Dadaku adalah kisah tentang bagaimana mimpi anak-anak bisa tumbuh lebih kuat ketika ada keluarga, sahabat, dan tim yang berjalan bersama mereka. Ini bukan hanya mimpi Putra, tapi mimpi banyak anak Indonesia yang ingin berani melangkah dan mengejar mimpinya," ungkap Shanty Harmayn, produser.

Keterlibatan Atta Halilintar sebagai Executive Producer turut memperkuat semangat sepak bola yang menjadi denyut utama film ini. Kedekatannya dengan dunia sepak bola dan keluarga muda Indonesia menghadirkan resonansi yang kuat, sekaligus menjadikan film ini sebagai pengalaman yang relevan untuk dinikmati bersama anak-anak dan keluarga.

Semangat tersebut juga diperkuat melalui peluncuran soundtrack utama "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati. Lagu ini menjadi lapisan emosional yang menghidupkan energi film, sekaligus menjadi representasi harapan, keberanian, dan dorongan untuk terus melangkah meski penuh keraguan. "Yang aku suka dari film ini adalah semangat bahwa kita tidak berjalan sendirian. Lagu ini aku bayangkan seperti dorongan energi untuk anak-anak yang sedang belajar percaya pada mimpi mereka," ujar Isyana Sarasvati.


Official poster yang dirilis hari ini menangkap energi utama film melalui Putra, Gaga, Naya, dan teman-temannya dalam satu frame penuh warna yang memancarkan nuansa petualangan, kehangatan, dan semangat besar dari perjalanan kecil yang mereka mulai bersama.

Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, dengan naskah yang ditulis oleh Sofia Lo bersama Makbul Mubarak, film ini menjadi interpretasi animasi baru dari IP film legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah lama hidup di hati publik Indonesia.

Film animasi keluarga Garuda Di Dadaku mengisahkan Putra (13), anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pemain tim nasional Indonesia. Saat kegagalan membuatnya kehilangan keyakinan, kehadiran Gaga mengubah hidupnya dan membawanya pada perjalanan untuk menemukan kembali keberanian. Dalam proses itu, Putra belajar bahwa mimpi besar tidak pernah dicapai sendirian.

Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission. Selain itu, Garuda di Dadaku juga bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.


Saksikan film animasi keluarga Garuda Di Dadaku mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.
#GarudaDiDadaku
#BeraniBermimpi

Poster The Bell Rilis, Penebok Hantu yang Bangkit dan Siap Meneror Tahun Ini


Jakarta, 7 April 2026 — Industri horor Indonesia kembali memanas dengan hadirnya The Bell: Panggilan untuk Mati, film terbaru hasil koloborasi produksi Sinemata Buana Kreasindo yang resmi merilis poster utamanya. Film ini memperkenalkan Penebok, sosok hantu tanpa kepala dari mitos Belitung yang digambarkan sebagai entitas yang bangkit dan siap menjadi teror baru tahun ini.

Di tengah tren film horor lokal yang terus mendominasi pasar, The Bell hadir dengan pendekatan berbeda: mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi ke layar lebar. Penebok bukan sekadar figur menyeramkan, tetapi representasi dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.


Poster yang dirilis memperlihatkan atmosfer gelap dan mencekam, dengan visual Penebok sebagai pusat ancaman. Sosok tanpa kepala berbalut gaun merah ini menghadirkan rasa tidak utuh yang justru memperkuat elemen teror sekaligus membangun identitas horor baru yang kuat.

Sutradara The Bell, Jay Sukmo, menyampaikan bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia. “Horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton tidak hanya mencari rasa takut, tetapi juga cerita yang punya akar budaya. Penebok kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak diangkat.”


Sementara itu, produser Rendy Gunawan yang berkolaborasi dengan Aris Muda sebagi produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap horor saat ini.“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan, tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon horor baru yang lahir dari budaya sendiri dan bisa diingat penonton dalam waktu lama.”

Mengambil latar dengan nuansa urban dan mistis khas Belitung, The Bell: Panggilan untuk Mati  menghadirkan pengalaman horor yang baru dan segar, sekaligus memperkuat posisi cerita lokal di tengah persaingan industri film nasional.


SINOPSIS
Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.


Pemain/ Casts : Ratu Sofya, Bhisma Mulia, Shaloom Razade, Givina Dewi, Mathias Muchus, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana, Maulidan Zuhri
Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli
Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan
Sutradara : Jay Sukmo
Penulis : Priesnanda
Co-Produser : Agus Suhardi
Lini Produser : Ipunk Purwono
DoP : Indra Suryadi
Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026

Senin, 06 April 2026

Film Semua Akan Baik-Baik Saja Karya Baim Wong Merilis Official Trailer yang Mengharukan, Saat Keluarga yang Terpisah Menanggung Beban Bersama

Film Semua Akan Baik-Baik Saja tayang mulai 13 Mei 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 6 April 2026 — Tiger Wong Entertainment merilis official trailer film terbaru karya sutradara Baim Wong, Semua Akan Baik-Baik Saja, yang dibintangi Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Teuku Rifnu Wikana, dan Happy Salma. Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja menampilkan sebuah kisah yang penuh haru dan menyentuh dari sebuah keluarga yang saling terpisah, kini harus bersatu untuk saling menanggung beban bersama.

Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja dibuka dengan sebuah kunjungan Happy Salma yang memerankan Tari, ke rumah susun adiknya, Langit, yang diperankan Reza Rahadian. Langit sudah lama tak pulang ke rumah Ibunya. Tari pun meminta agar Langit sesekali pulang, sekaligus menengok para keponakannya, anak Tari, yang tinggal di rumah sang Ibu.

Namun, ketika Langit akhirnya pulang ke rumah, ia justru dikejutkan dengan pemandian jenazah Tari. Tari terkena serangan jantung. Kematian mendadak Tari pun membuat syok Langit, dan seketika mengubah jalan hidupnya. Ia yang sebelumnya menjauh dari rumah, kini justru mendapat amanah untuk merawat para keponakannya, termasuk salah satunya yang mengalami down syndrome.

Kini, Langit bersama kedua adiknya, Bintang (Raihaanun) dan Banyu (Ari Irham), serta Ibu mereka (Christine Hakim), saling bahu membahu memikul beban bersama. Termasuk untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak Tari. Di tengah ujian yang tengah menerpa mereka, keluarga tersebut masih harus menghadapi konflik dari mantan suami Tari, Ilham (Teuku Rifnu Wikana), yang meminta paksa sertifikat rumah. Apa yang akan selanjutnya terjadi, dan apa yang akan dilakukan keluarga Langit?

Menjadi film ketiga yang disutradarai Baim Wong, kini ia menggarap sebuah drama yang sangat dekat. Tentang sebuah ikatan keluarga sebagai tempat pulang, dan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu. Baim sendiri memilih pendekatan yang realistik, termasuk dengan latar yang dibangun di sebuah perkampungan di pinggiran rel kereta.

Dengan jajaran ansambel pemeran terbaik Indonesia, Baim menunjukkan kepiawaiannya untuk menghadirkan cerita yang hangat dan menyentuh. Di film ini, ia juga menulis naskahnya bersama penulis film-film blockbuster Oka Aurora.

"Saya memilih para pemeran di film ini berdasarkan karakter yang saya bayangkan. Saya tahu kelebihan mereka semua. Ansambel yang ada di sini, tentu semuanya sangat berkualitas. Kami membuat cerita ini sangat dekat dengan masyarakat Indonesia," ujar penulis dan sutradara Baim Wong.

Sementara itu, Reza Rahadian mengatakan, Baim Wong mampu menangkap ruh dan pesan yang ingin disampaikan di film Semua Akan Baik-Baik Saja dengan sangat jelas.

"Ini adalah film keluarga, yang sejak awal saya membaca naskahnya sangat jelas. Di setiap keluarga, meski ada luka atau anggota keluarga yang melakukan hal yang berseberangan, film ini membawa spirit, bagaimanapun keluarga adalah tempat kita pulang. Menurut saya, Baim menangkap hal itu di film ini. Orang yang dinilai tidak memiliki fungsi di keluarga tapi memiliki sesuatu yang jadi bernilai," kata Reza Rahadian.

Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, film Semua Akan Baik-Baik Saja juga turut dibintangi oleh Aquene Djorghi, Malikha Shaquenna, Asri Welas, Rebecca Tamara, dan Ade Rai, Eric Estrada, Amanda Soekasah, Janna Soekasah, Aimee Saras, Ageng Carlitos, Alim, Nagra Pakusadewo, Chew Kin Wah, Kenzo Eldrago, dan Kiano Tiger Wong.

Film ini juga terasa spesial karena menjadi pertama kalinya binaragawan Ade Rai bermain film. Untuk peran Ade Rai sendiri bahkan Baim mempersiapkan treatment khusus. Ade Rai akan tampil berbeda dengan make up prostetik untuk kebutuhan karakternya.

Sebagai komitmen Baim bersama Tiger Wong Entertainment untuk selalu menghadirkan karya yang tak hanya berkualitas, namun juga memberikan kebaruan dan peluang bagi para talenta baru di perfilman Indonesia, kali ini Baim juga mengambil langkah berani. Salah satunya dengan menggandeng dua pemeran down syndrome, Alim dan Vanessa, yang untuk pertama kalinya bermain di film layar lebar.

Sebelumnya Tiger Wong Entertainment secara back to back meraih blockbuster lewat film horor Lembayung (2024) dan Sukma (2025). Film debut Tiger Wong Entertainment, Berbalas Kejam (2023), juga sukses diakui secara kritis dengan meraih berbagai nominasi dan penghargaan termasuk Pemenang Piala Citra FFI untuk Pemeran Utama Pria Terbaik 2023 yang dimenangkan Reza Rahadian. Film Semua Akan Baik-Baik Saja menjadi perjalanan kekaryaan berikutnya dari sutradara Baim Wong yang kini telah diakui secara luas craftmanship-nya.


Tonton film Semua Akan Baik-Baik Saja di bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026! Ikuti terus perkembangan informasi film Sukma melalui akun resmi Instagram @tigerwongentertainment dan @filmsemuakanbaikbaiksaja.

Dilema Generasi Muda, Antara Ambisi dan Bakti: Rapi Films Rilis Trailer "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan"

Jakarta, 13 April 2026 – Menyusul kesuksesan luar biasa dari Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi F...