Selasa, 27 Oktober 2026

Menguak Rahasia di Balik Hajatan dan Kutukan Keluarga, 'Hajatan Setan' Rilis Trailer dan Poster Resmi

​Dibintangi Ari Irham, Alika Jantinia, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, film horor produksi MBK Productions dan Drias Film Production siap menghantui bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026 dan menjangkau penonton di sejumlah negara Asia Tenggara.

​Jakarta, 27 Oktober 2026 — Setelah memperkenalkan atmosfer supranaturalnya melalui teaser trailer pada April lalu, film horor Hajatan Setan resmi merilis trailer dan poster terbarunya. Diproduksi oleh MBK Productions dan Drias Film Production, film yang disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristanto ini membawa penonton lebih jauh ke dalam misteri sebuah kampung terisolasi, tempat ritual turun-temurun menyimpan rahasia kelam yang berkaitan dengan masa lalu sebuah keluarga. Hajatan Setan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026, dengan rencana distribusi di sejumlah negara Asia Tenggara.

​Melalui trailer resmi yang dirilis hari ini, Hajatan Setan memperlihatkan lebih banyak petunjuk mengenai hubungan antara ritual misterius, kutukan keluarga, dan rahasia yang tersembunyi di balik sebuah hajatan. Dua kalimat, “Satu Malam, Satu Hajatan” dan “Malam Hajatan, Malam Kematian”, menegaskan bahwa perayaan yang semestinya identik dengan kebahagiaan justru menjadi pintu masuk menuju rangkaian peristiwa mengerikan. Namun, di balik teror yang menyelimuti kampung tersebut, terdapat persoalan yang lebih personal: masa lalu yang belum selesai dan rahasia yang perlahan menuntut untuk diungkap.

​Di pusat cerita, Dara (Alika Jantinia), menjadi sosok yang membawa penonton menyusuri lapisan-lapisan misteri tersebut. Terjebak dalam situasi yang tidak sepenuhnya ia pahami, Dara mulai berhadapan dengan berbagai kejanggalan di sekitarnya. Pencariannya perlahan mengarah pada rahasia ibunya, Mbok Darmi (Karina Suwandi) serta keterkaitan keluarga mereka dengan keluarga Santoso (Indra Birowo).

​Hubungan antara dua keluarga ini menjadi salah satu simpul penting dalam cerita. Dalam trailer, Santoso dan Mbok Darmi ditampilkan melalui potongan-potongan adegan yang membangun kesan tertentu tentang posisi mereka di tengah peristiwa yang berlangsung. Namun, gambaran yang muncul dari potongan tersebut belum sepenuhnya menjelaskan siapa mereka sebenarnya, apa yang mendorong tindakan mereka, dan bagaimana masa lalu mengikat mereka satu sama lain. Seiring Dara menggali lebih jauh, penonton diajak mempertanyakan kembali kesan awal yang dibangun oleh cerita—tanpa harus mengetahui seluruh jawabannya sebelum menyaksikan film.

​Bagi sutradara Bambang Drias dan Eko Kristanto, misteri dalam Hajatan Setan tidak hanya dibangun melalui ritual dan kehadiran makhluk gaib, tetapi juga melalui hubungan antarakarakter dan rahasia yang tersimpan di balik keputusan mereka.

​“Bagi kami, salah satu hal yang menarik dari Hajatan Setan adalah bagaimana penonton diajak menyusun sendiri potongan-potongan informasi yang mereka temukan. Apa yang terlihat di permukaan belum tentu menjelaskan keseluruhan persoalan. Melalui perjalanan Dara, penonton akan mengikuti proses terbukanya rahasia sedikit demi sedikit, sekaligus mempertanyakan kembali hal-hal yang sebelumnya mereka anggap benar,” ujar Bambang Drias.

​Sebagai protagonis, Dara menjadi perwakilan penonton dalam mengurai hubungan antara masa kini dan masa lalu. Ia bukan hanya berhadapan dengan ancaman yang muncul di kampung tersebut, melainkan juga harus memahami sosok ibu yang selama ini dikenalnya dan rahasia yang mungkin mengubah pandangannya terhadap keluarganya sendiri.

​“Dara berada dalam situasi ketika banyak hal di sekelilingnya tidak seperti yang ia bayangkan. Ia ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi, terutama yang berkaitan dengan ibunya dan masa lalu keluarga mereka. Namun, semakin banyak yang ia ketahui, semakin rumit pula persoalan yang harus dihadapinya,” ujar Alika Jantinia.

​Di sisi lain, Hajatan Setan juga menghadirkan hubungan Dara dengan Gaung (Ari Irham), kawan masa kecilnya. Di tengah misteri dan ancaman yang terus membayangi, relasi keduanya menghadirkan dimensi emosional yang berbeda. Hubungan mereka menyimpan perasaan yang tidak sederhana, ketika harapan untuk saling mendekat harus berhadapan dengan keadaan yang semakin sulit dan rahasia yang membayangi kehidupan mereka. Unsur kasih tak sampai ini memberi lapisan tragis pada perjalanan Dara dan Gaung, sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman dalam film tidak hanya menyentuh keselamatan, tetapi juga kemungkinan untuk mempertahankan hubungan yang berarti bagi mereka.

​Melalui trailer resminya, film ini turut memberi petunjuk mengenai asal-usul ritual dan kepercayaan yang bertahan di kampung tersebut. Sejumlah adegan kilas balik mengisyaratkan terbentuknya sebuah kultus, sementara potongan-potongan cerita lainnya membuka pertanyaan tentang bagaimana keputusan di masa lalu terus memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

​Selain Alika Jantinia, Ari Irham, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, Hajatan Setan turut dibintangi oleh Giselma Firmansyah, Luna Maya, Asri Welas, Bima Zeno, Sita Permata Sari, Tanta Ginting, Abigail Gabriela, Masayu Anastasia, dan Hassan Sule.

​Disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristanto, Hajatan Setan ditulis oleh Andhy Pulung, BW Purba Negara dan Vidya T. Ariestya. Film ini diproduseri oleh Rendy Gunawan, Drias, dan Marlia Nurdiyani, dengan Budi Yulianto sebagai produser eksekutif.

​Tak hanya menyasar penonton Indonesia, Hajatan Setan juga direncanakan hadir di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Rencana distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan film ini kepada penonton regional, sekaligus memperkenalkan kisah horor yang berangkat dari ritual, kepercayaan, dan rahasia keluarga kepada audiens yang lebih luas.

​Ikuti perkembangan terbaru film Hajatan Setan melalui akun media sosial resmi @filmhajatanfilm, @multibuanakreasindo dan @driasfilm menjelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 3 Desember 2026.

​Bersiaplah, karena tidak semua perayaan berakhir dengan kebahagiaan...

Jakarta Film Week 2026 Ditutup dengan Laut Bercerita, Filipiñana dan Nobody Loves Kay Raih Penghargaan


​Jakarta, 25 Oktober 2026 — Jakarta Film Week 2026 menutup rangkaian festival pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, di CGV Grand Indonesia dengan mengumumkan para pemenang kompetisi film, termasuk Filipiñana karya Rafael Manuel yang meraih Global Feature Award. Malam penutupan dilanjutkan dengan pemutaran Laut Bercerita sebagai film penutup, setelah pengumuman penerima JFWNET—Industry Program Awards yang memberikan dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia dan membuka peluang kolaborasi dengan jaringan industri internasional.

​Berlangsung selama lima hari, sejak 21 Oktober 2026, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan tamu industri dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, serta 5000+ penonton. Selain menjadi ruang pertemuan bagi sineas dan penonton, festival ini juga mempertemukan para pelaku industri melalui program pengembangan proyek, forum presentasi, serta kesempatan kolaborasi lintas negara.

​Penutupan Jakarta Film Week 2026

​Malam penutupan festival berlangsung di ScreenX 1 CGV Grand Indonesia. Turut hadir dalam momen tersebut para sineas, pelaku industri perfilman, tamu mancanegara, mitra festival, serta perwakilan dari berbagai komunitas film yang telah menjadi bagian dari rangkaian festival tahun ini. Pertemuan tersebut menjadi penanda berakhirnya Jakarta Film Week 2026, sekaligus ruang bagi para tamu untuk merayakan karya dan koneksi yang terbangun selama festival.

​"Jakarta Film Week bukan hanya tentang film yang ditayangkan selama festival, tetapi juga tentang orang-orang yang bertemu, gagasan yang dibagikan, dan kolaborasi yang mulai terbangun. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penyelenggaraan tahun ini. Semoga pertemuan selama festival menjadi awal dari perjalanan dan karya-karya baru yang akan terus berkembang setelah Jakarta Film Week berakhir," ujar Rina Damayanti.

​Sementara itu, Ahmad Mahendra menyampaikan apresiasi kepada para sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Ia berharap pengalaman dan hubungan yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi bagi perkembangan perfilman Indonesia.

​"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Selama lima hari, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi berbagai cerita, gagasan, dan perspektif melalui film. Kami berharap pengalaman dan koneksi yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut, serta membawa semangat baru bagi perkembangan perfilman Indonesia," ujar Ahmad Mahendra.

​Filipiñana Raih Global Feature Award serta Pengumuman JFWNET—Industry Program Awards

​Salah satu sorotan penghargaan kompetisi Jakarta Film Week 2026 adalah kemenangan Filipiñana karya Rafael Manuel, produksi Filipina, Inggris, Singapura, Prancis, dan Belanda, yang meraih Global Feature Award. Dalam pernyataan resminya, juri mengapresiasi film ini atas penggambaran persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese dan dibayangi warisan kolonial.

​"Film ini dengan tajam menelusuri persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese dan dibayangi warisan kolonial. Hierarki yang diwariskan terus mengatur tubuh dan tenaga kerja. Ketika tatanan tersebut runtuh, film ini mengubah kehancuran menjadi puisi melalui gambar-gambar yang menghadirkan keindahan liris di tengah keruntuhan," demikian pernyataan juri.

​Nobody Loves Kay karya Bernardus Raka meraih Direction Award, penghargaan tertinggi untuk kategori film Indonesia di Jakarta Film Week, berkat penggambaran hubungan dan proses tumbuh dewasa dalam dunia esports. Selain itu, Bleat! karya Ananth Subramaniam memenangkan Global Short Award atas premis unik, humor yang tidak biasa, dan penulisan naskah yang cerdas; serta What We Leave Behind karya Jean-Sébas­tien Hamel dan Alexandra Myotte yang meraih Global Animation Award atas pendekatan animasi yang segar dalam mengangkat isu yang relevan. Penghargaan lainnya, Jakarta Film Fund Award diberikan kepada The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan, yang diapresiasi karena memotret kehidupan Jakarta masa kini dengan kepekaan dan kejujuran.

​Selain penghargaan kompetisi film, malam penutupan juga mengumumkan penerima JFWNET—Industry Program Awards. Program ini memberikan dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia, kebutuhan produksi dan pascaproduksi, serta kesempatan untuk terhubung dengan jaringan industri internasional.

​Dalam kategori Producers Lab Development Grant, dukungan diberikan kepada Utari Hanif Assyuri melalui proyek SALTSTORM!. Sementara itu, tiga proyek terpilih untuk mengikuti Platform Busan 2027, yaitu A Burnt Engine Who Can't See the Light karya Jonathan Gradiyan, Rollinghead karya Panji Respati, dan Irama Rama karya Dendy Ariza Putra.

​Pitching Forum Development Grant diberikan kepada Gokill, yang disutradarai Amanda Iswan dan diproduseri James Erlangga. Proyek My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, karya sutradara Andrea Nirmala Widjajanto dan produser Nirartha Bas Diwangkara, memperoleh Jakarta Film Commission Development Grant sekaligus QCinema Special Prize. Adapun program Producers Lab, Talents Hub, dan Pitching Forum didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN), Kementerian Kebudayaan RI.

​Dukungan internasional lainnya diberikan melalui HKIFF Industry Award kepada Holy Mother, yang disutradarai Sinung Winahyoko dan diproduseri Fadhila Ristianty. Sementara itu, Bunga Ineza terpilih mengikuti EFM Toolbox Berlinale 2027.

​Untuk mendukung kebutuhan pascaproduksi, Super 8mm Studio Post Production Support diberikan kepada Gabriela Serrano melalui proyek Music Memory.

​Dukungan produksi juga diberikan kepada tujuh proyek melalui BSM Premiere Gear Fund, yaitu Badass Boi, Push Rank, My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, Script: Maria, Holy Mother, Gokill, dan Oh... Marijuana!.

​Ragam dukungan tersebut mencakup berbagai tahap perjalanan sebuah film, mulai dari pengembangan cerita dan presentasi proyek hingga kebutuhan produksi, pascaproduksi, serta kesempatan membangun koneksi dengan jaringan industri internasional. Daftar lengkap penerima penghargaan dan dukungan dicantumkan dalam lampiran siaran pers ini.

​Laut Bercerita Menjadi Film Penutup

​Pemutaran Laut Bercerita menjadi salah satu momen utama dalam penutupan Jakarta Film Week 2026 di CGV Grand Indonesia, Minggu malam, 25 Oktober 2026. Setelah lima hari diisi pemutaran film, diskusi, dan pertemuan para pelaku industri, malam penutupan menjadi momen berkumpulnya kembali sineas, tamu festival, dan penonton sebelum rangkaian acara tahun ini berakhir.

​Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut dan kawan-kawannya yang terlibat dalam gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru. Di tengah perjuangan menyuarakan perubahan, mereka menghadapi penangkapan, penghilangan paksa, dan ketidakpastian. Kisah ini juga mengikuti keluarga yang terus mencari jawaban atas hilangnya orang-orang yang mereka cintai, menghadirkan perspektif tentang perjuangan, kehilangan, dan ingatan.

​Sejumlah pemeran Laut Bercerita turut hadir dalam pemutaran tersebut, di antaranya Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy.

​Kehadiran para pemeran menambah makna pada pemutaran penutup, mempertemukan para pemain dengan penonton yang menyaksikan kisah tersebut di layar lebar. Lewat cerita tentang aktivisme, kehilangan, dan keluarga yang terus mencari jawaban, Laut Bercerita menutup festival dengan membawa isu ingatan dan sejarah ke ruang perjumpaan antara film dan penontonnya.

​Ragam Sorotan Program Hari Kelima

​Hari terakhir Jakarta Film Week 2026 menghadirkan sejumlah program pemutaran film, diskusi, dan kegiatan industri di berbagai lokasi.

​Dalam program Family Time, Forza diputar di CGV Grand Indonesia, disertai sesi tanya jawab bersama produser Shierly Kosasih dan para pemeran Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, serta Tio Pakusadewo. Film ini mengikuti perjalanan Bima dalam mengejar mimpinya menjadi pesepak bola, dengan hubungan keluarga dan kehidupan desa sebagai bagian penting dari cerita.

​Hari terakhir juga menghadirkan world premiere Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, film drama-komedi garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel karya Brian Khrisna. Setelah pemutaran, sesi diskusi menghadirkan sejumlah pemeran, yakni Nia Daniaty, Bene, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, dan Chicco Kurniawan. Perbincangan membahas proses mengadaptasi cerita dari novel ke layar lebar serta pesan tentang harapan di tengah situasi hidup yang sulit. Proses pengembangan film juga melibatkan konsultasi dengan psikiater untuk membantu penggarapan cerita, sementara tim turut membuka kemungkinan pengembangan semesta cerita ini lebih lanjut.

​Pada program Global Feature Official Selection, Too Many Beasts (L'Espèce explosive), film panjang debut sutradara Sarah Arnold, menghadirkan satire politik dalam balutan komedi gelap. Berlatar di sebuah desa Prancis yang dilanda masalah populasi babi hutan, film ini mengangkat ketidakadilan dan kepentingan elite melalui cerita yang absurd. Sarah Arnold dan penulis naskah Jérémie Dubois hadir dalam sesi diskusi bersama penonton, didampingi Cultural Attaché Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Carol Meyer. Sarah menjelaskan bahwa humor gelap menjadi cara untuk merespons situasi ketika harapan terasa menipis. "Humor is dark because we have to continue to laugh amidst all that's happening," ujarnya. Sementara itu, Dubois berbagi tentang keberanian mengambil risiko dalam penulisan naskah dan berharap penonton dapat terhubung dengan film tersebut. "I hope you guys can connect to the film. Feel free to laugh!"

​Program lainnya mencakup The Girl With The Leica dalam Herstory, A Bowl of Chicken Noodles Before I Die dalam Global Feature Official Selection, serta Couture dalam Currents.

​Sementara itu, program Classique menghadirkan Stepping on the Flying Grass karya Eugene Panji di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki. Film yang juga dikenal dengan judul Cita-Citaku Setinggi Tanah ini mengikuti kisah Agus dan tiga sahabatnya dalam memaknai cita-cita dan kebahagiaan melalui pengalaman sederhana. Sepanjang pemutaran, tawa penonton beberapa kali terdengar, menghadirkan suasana hangat sekaligus memperlihatkan kedekatan cerita dengan pengalaman masa kecil. Melalui kepolosan tokoh-tokohnya, film ini mengajak penonton melihat bahwa sebuah keinginan tidak harus besar untuk memiliki arti.

​Program Family Time di CGV FX Sudirman turut menghadirkan Papaya, sebuah film animasi asal Brazil karya Priscilla Kellen. Untuk penonton anak-anak dan keluarga, Layar Anak Indonesia­nans TV yang dipersembahkan oleh Balai Media Kebudayaan (BMK) di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, menampilkan Katumbiri Nutug Leuwi (Pelangi yang Jatuh ke Sungai), Samasta Allegra, Meong, Bikul, dan Kisah si Pemburu, serta Pasukan Singa Kardus, dengan kehadiran Arfi SN dan Ayu Pamungkas.

​Melalui beragam pemutaran, diskusi, dan pertemuan industri, hari terakhir Jakarta Film Week 2026 mempertemukan cerita dari berbagai genre dan perspektif dengan penontonnya. Rangkaian program tersebut sekaligus menegaskan peran festival sebagai ruang bagi sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton untuk bertukar gagasan serta membuka peluang kolaborasi baru.

​LAMPIRAN: Daftar Penerima JFWNET—Industry Program Awards 2026

  • ​Producers Lab MTN Development Grant
    • ​Utari Hanif Assyuri — SALTSTORM!

  • ​Platform Busan ACFM 2027
    • ​Jonathan Gradiyan — A Burnt Engine Who Can't See the Light
    • ​Panji Respati — Rollinghead
    • ​Dendy Ariza Putra — Irama Rama

    • ​Pitching Forum MTN Development Grant
      • ​Gokill — Amanda Iswan (sutradara), James Erlangga (produser)

    • ​Jakarta Film Commission Development Grant
      • ​My Tears, A Sea for Jakarta to Sink — Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)

    • ​QCinema Special Prize
      • ​My Tears, A Sea for Jakarta to Sink — Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)

    • ​Hongkong Asian Financing Forum HKIFF Industry Award
      • ​Holy Mother — Sinung Winahyoko (sutradara), Fadhila Ristianty (produser)

    • ​BSM Premiere Gear Fund
      • ​Badass Boi — Andara Fembriarto (sutradara), Robby UL Pratama (produser)
      • ​Push Rank — Deo Mahameru (sutradara), Andreas Sihombing (produser)
      • ​My Tears, A Sea for Jakarta to Sink — Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)
      • ​Script: Maria — Devina Sofiyanti (sutradara), Tomomi Furuyama dan Jason Christian (produser)
      • ​Holy Mother — Sinung Winahyoko (sutradara), Fadhila Ristianty (produser)
      • ​Gokill — Amanda Iswan (sutradara), James Erlangga (produser)
      • ​Oh... Marijuana! — Arli Yandhi Achbar (sutradara), Teresa Katarina (produser)

      • ​Super 8mm Studio Post Production Support
        • ​Gabriela Serrano (Peserta Talents Hub Filipina) — Music Memory

      • ​Selected Participant Jakarta Film Week to EFM Toolbox Berlinale 2027
        • ​Bunga Ineza

      ​Daftar Pemenang Jakarta Film Week Awards 2026

      • ​Global Feature Award
        • ​Filipiñana — Rafael Manuel

      • ​Direction Award
        • ​Nobody Loves Kay — Bernardus Raka

      • ​Global Short Award
        • ​Bleat! — Ananth Subramaniam

      • ​Global Animation Award
        • ​What We Leave Behind — Jean-Sébastien Hamel dan Alexandra Myotte

      • ​Jakarta Film Fund Award
        • ​The Year Without Summer — Rayhan Dharmawan

      ​TENTANG JAKARTA FILM WEEK

      ​Jakarta Film Week merupakan festival film tahunan yang digagas pada 2021 oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta untuk mendukung perkembangan perfilman Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Setiap tahunnya, Jakarta Film Week menghadirkan film dari Indonesia dan berbagai negara penonton. Lebih dari sekadar festival, Jakarta Film Week juga menjadi ruang bagi pembuat film untuk berkembang, bertemu, dan membangun koneksi di dalam ekosistem perfilman.

      ​TENTANG JFWNET—Industry Program

      ​JFWNET—Industry Program merupakan program paralel Jakarta Film Week yang menjadi ruang pertemuan dan pengembangan bagi para pelaku industri film Indonesia. Melalui berbagai program seperti lab, workshop, talks, focus group discussion, dan pitching forum, JFWNET—Industry Program mempertemukan filmmaker, produser, festival, distributor, pendana, dan pelaku industri lainnya untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan proyek, serta membuka peluang kolaborasi.

      ​NARAHUBUNG

      • ​Instagram : @jakartafilmweek

      • ​X : @jakartafilmweek

      • ​TikTok : @jakartafilmweek

      • ​Facebook : Jakarta Film Week

Senin, 26 Oktober 2026

Gara-Gara MV Terbaru BCL, Muncul Rute Terpesona di Ancol!

Saksikan MV Terpesona di kanal YouTube IT'S ME BCL

​Jakarta, 26 Oktober 2026 — Bunga Citra Lestari (BCL) kini telah memulai babak barunya di dunia musik, setelah merilis single terbarunya berjudul Terpesona yang dinyanyikan bersama penyanyi pendatang baru jebolan Indonesian Idol, Josh Flo. Sebuah lagu romansa manis bernuansa 80's dengan sentuhan RnB dan folk pop.

​Single tersebut pun kini telah mendefinisikan perjalanan baru yang akan dimulai oleh BCL ke depan. Video liriknya kini juga telah disaksikan lebih dari 1 juta views, sementara music video-nya yang dibintangi Anya Geraldine dan Omar Daniel, membuat banyak penonton terpukau. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang mencari tahu lokasi pembuatan MV Terpesona, karena ingin ikut merasakan romantisnya.

​Lokasi MV Terpesona sendiri diambil di area Ancol. Beberapa ikon Ancol pun ikut menjadi bagian dari perjalanan cinta dari karakter yang diperankan Anya dan Omar.

​"Awalnya memang ingin dikonsepkan bahwa ada dua sahabat lama sejak kecil yang bertemu kembali setelah mereka dewasa. Keduanya bertemu di salah satu tempat yang memiliki memori lama, dan aku merasa Ancol bisa menggambarkan perasaan itu, dan pasti itu juga terefleksi ke banyak orang, sebuah tempat yang menyimpan banyak kenangan," ujar BCL.

​Tak menyangka banyak respons positif yang ingin ikut merasakan romansa Anya Geraldine dan Omar Daniel seperti di MV Terpesona, kini muncul sebuah rute yang terinspirasi dari pembuatan MV tersebut, yakni Rute Terpesona di Ancol Taman Impian, yang memang menjadi lokasi pembuatan MV tersebut.

​Rute Terpesona Ancol didesain dengan perjalanan yang dimulai dari Pantai Ancol, tempat untuk menikmati suasana laut dan momen santai, seperti dua karakter di dalam MV-nya yang memiliki kenangan semasa remaja di sana.

​Perjalanan kemudian dirancang untuk berlanjut ke Eco Park, untuk menikmati suasana hijau dan ruang terbuka. Perjalanan pun berlanjut menuju Dufan Ancol untuk merasakan keseruan berbagai wahana, termasuk bianglala yang menjadi ikon di dalam MV. Rute Terpesona juga menyertakan perjalanan ke area Jakarta Bird Land, yang akan membawa pengalaman lebih dekat dengan beragam burung.

​"Happy banget, dari karya lagu dan MV ternyata bisa diterjemahkan ke sebuah pengalaman yang juga bisa dinikmati oleh pendengar langsung lewat Rute Terpesona. Aku harap Rute Terpesona juga bisa menghidupkan dan menyimpan kenangan manis di rute itu bersama orang tersayang," ungkap BCL.

​Saksikan music video "Terpesona" yang telah dirilis di kanal YouTube @ITSMEBCL, dan dengarkan single "Terpesona" di seluruh platform streaming digital.

​MEDIA SOSIAL

Instagram : @itsmebcl

TikTok : @itsmebcl_

YouTube : @ITSMEBCL

Bawa Kehangatan Keluarga Indonesia, Sigi Wimala, Chempa Puteri, Tutie Kirana, dan Hyori Mika Bersama Sutradara dan Produser Film Desember Jani Melenggang di Red Carpet Tokyo International Film Festival 2026

​Film Desember Jani siap melangsungkan World Premiere dalam kompetisi Asian Future sebelum tayang di bioskop Indonesia 10 Desember 2026.

​Tokyo, 26 Oktober 2026 — Film Desember Jani persembahan Palari Films dari sutradara Ariani Darmawan memulai perjalanannya di panggung internasional secara resmi di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026 yang berlangsung di Hibiya-Ginza, Tokyo. Jajaran pemeran film ini, Sigi Wimala, Chempa Puteri, Tutie Kirana, dan Hyori Mika, bersama sutradara Ariani Darmawan dan produser Meiske Taurisia turut tampil di red carpet saat festival yang tahun ini memasuki edisi ke-39 tersebut dibuka pada Senin (26/10) malam waktu setempat.

​Hadir mewakili delegasi sinema Indonesia, keluarga Jani pun mencuri perhatian dengan menampilkan kehangatan ikatan antargenerasi di hadapan publik dan media global. Momen ini menampilkan kebersamaan lintas generasi yang menjadi inti dari filmnya, aktris senior Tutie Kirana (memerankan Oma), Sigi Wimala (Winnie), dan dua talenta muda Chempa Puteri (Jani) serta Hyori Mika (Julia).

​Sutradara Ariani Darmawan mengungkapkan rasa harunya bisa melangkah di panggung kompetisi Asian Future bersama para pemeran yang telah menghidupkan kisah keluarga ini.

​"Saya ingin mengajak penonton di Tokyo International Film Festival untuk masuk ke rumah, ke sebuah mikrokosmos, bahkan ke kamar keempat karakter di film ini, untuk mendengarkan perasaan-perasaan terdalam mereka," ujar sutradara Ariani Darmawan.

​Film Desember Jani akan diputar di Tokyo International Film Festival pada 27 Oktober 2206 pukul 17.10 waktu dan pada 29 Oktober 2026 pukul 13.30 waktu setempat. Tokyo International Film Festival adalah festival film tahunan di Jepang, dan merupakan satu-satunya festival film di Jepang yang diakui secara resmi oleh FIAPF (International Federation of Film Producers Associations) sebagai festival film kompetitif untuk film panjang.

​Sementara program Asian Future turut memilih Desember Jani sebagai salah satu film yang ikut berkompetisi merupakan program kompetisi festival di TIFF yang dikhususkan untuk mendukung sineas muda dan berkembang di kawasan Asia, yang membawa film debut hingga film panjang ketiga, untuk memperebutkan penghargaan Asian Future Best Film Award.

​Film ini bercerita tentang Jani (Chempa Puteri), 13 tahun, yang menunggu kakaknya, Julia (Hyori Mika), pulang setelah Julia pergi dari rumah tanpa pamit. Jani menyalahkan ibunya, Winnie (Sigi Wimala), ibu tunggal yang terus bekerja sebagai tulang punggung keluarga sambil menyimpan rasa bersalah.

​Tempat Jani merasa paling nyaman adalah Oma (Tutie Kirana), yang sehari-hari berjualan lumpia. Namun Jani menyimpan rahasia: ia tahu Julia baik-baik saja dan diam-diam masih berkomunikasi dengannya. Dalam empat hari di bulan Desember, pilihan Jani untuk tetap diam atau berterus terang mengantarkan empat perempuan dalam keluarga tersebut pada percakapan yang selama ini mereka hindari.

​"Saat pertama kali menerima cerita ini, saya merasa sangat hangat sekali, karena berbicara mengenai love language dalam sebuah keluarga. Desember Jani merupakan kisah slice of life yang sederhana, tapi kita semua relate karena itu terjadi di kehidupan kita masing-masing, dan semoga kehangatan ceritanya beresonansi ke audiens di Tokyo," ujar pemeran Winnie, Sigi Wimala.

​Sementara itu, produser Meiske Taurisia menegaskan arti penting keikutsertaan Desember Jani dalam kompetisi Asian Future TIFF tahun ini. Film ini sekaligus menambah deretan filmografi Palari Films di sirkuit festival film internasional, setelah terakhir kali membawa Monster Pabrik Rambut ke Berlinale 2026.

​"Kompetisi Asian Future adalah ruang kurasi bergengsi bagi sutradara baru dengan visi sinematik yang kuat di Asia. Kehadiran Desember Jani di panggung ini mengukuhkan bahwa narasi lokal yang jujur dan menyentuh memiliki daya pikat universal. Ini adalah langkah awal yang indah sebelum film ini akhirnya pulang menemui penontonnya di Indonesia," ungkap produser Meiske Taurisia.

​Setelah seremoni karpet merah, Desember Jani menggelar penayangan perdana dunia (World Premiere) pada 27 Oktober 2026 pukul 17.10 waktu setempat, serta pemutaran kedua pada 29 Oktober 2026 pukul 13.30 waktu setempat di Tokyo.

​Rangkaian pemutaran perdana di internasional ini merupakan bagian dari persiapan menuju penayangan di bioskop Indonesia. Film Desember Jani dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 10 Desember 2026.

​Desember Jani disutradarai oleh Ariani Darmawan, ditulis oleh Cyntha Hariadi, diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, serta menghadirkan Luna Maya sebagai produser eksekutif. Film ini dibintangi Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan Hyori Mika.

​Informasi lengkap kunjungi https://www.palarifilms.com/desemberjani.

​Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Karya terakhirnya Monster Pabrik Rambut (2026) memenangkan Best Screenplay, Special Jury Mention for Practical Effect, dan Best Production Design Award; di Montreal dan Swiss.

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah Kabut Berduri (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya Dear David (2023), omnibus Piknik Pesona (2022), Ali & Ratu-Ratu Queens (2021), Aruna & Lidahnya (2018), Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Film Pasukan 1000 Janda Angkat Sosok Laksamana Malahayati, Mendapat Dukungan Paguyuban Warga Aceh seluruh Indonesia, Jadi Tribut Sutradara untuk Tanah Kelahiran Leluhur

Film Pasukan 1000 Janda tayang mulai 12 November 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 26 Oktober 2026 — Film Pasukan 1000 Janda persembahan Manara Films mengangkat sosok pahlawan Aceh, Laksamana Malahayati. Disutradarai oleh Archie Hekagery, film ini juga menjadi penghormatan untuk tanah leluhur Archie, yang berasal dari Aceh.

​Digarap dengan genre fantasy action, film Pasukan 1000 Janda diharapkan bisa mengenalkan sosok Malahayati ke masyarakat Indonesia dan generasi muda secara luas. Dengan sosok pahlawan Aceh yang diangkat ke dalam film, Pasukan 1000 Janda juga mendapatkan dukungan secara penuh oleh warga Aceh, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Organisasi Taman Iskandar Muda (TIM) sebagai naungan paguyuban warga Aceh seluruh Indonesia. Penandatanganan MoU dilakukan sutradara Archie Hekagery bersama Ketua TIM Masa Bakti 2026–2030, Ir. H. Muslim Armas.

​"Kami merasa bangga ada film tentang Malahayati lewat film Pasukan 1000 Janda. Saya merasa gemas, karena Malahayati ini sebenarnya juga tidak kalah dengan Cut Nyak Dhien. Kalau Cut Nyak Dhien itu berjuang di daratan dan pegunungan, sementara Malahayati di pesisir. Semoga film Pasukan 1000 Janda membanggakan warga Aceh dan Indonesia dengan perjuangannya bersama pasukan Inong Balee," ujar Dewan Kehormatan PP Taman Iskandar Muda (TIM) Dr. Ir. H. Mustafa Abubakar.

​"Taman Iskandar Muda sebagai paguyuban masyarakat Aceh di perantauan mendukung penuh film ini, tidak saja karena berlatar belakang pahlawan Aceh, tetapi juga karena film ini memilih pendekatan yang berbeda yang membuat generasi muda penasaran ingin menyaksikan film yang berlatar sejarah tetapi action-nya digarap seperti layaknya film luar negeri," ujar Ketua Umum PP Taman Iskandar Muda, Ir. H. Muslim Armas.

​"Film Pasukan 1000 Janda menggunakan pendekatan fantasy action, karena diharapkan film ini juga bisa menyentuh ke penonton muda. Semoga film ini bisa membuat pahlawan dari Aceh yang demikian hebat menjadi lebih dikenal oleh generasi muda di seluruh dunia," ungkap sutradara Archie Hekagery.

​"Ayah saya, nenek saya orang Aceh asli. Jadi saya membuat film Pasukan 1000 Janda juga untuk kampung halaman nenek saya," tambah Archie.

​"Kami ingin memperlihatkan bahwa Aceh itu indah, kuat, dan kokoh, serta film ini menunjukkan bahwa perempuan-perempuan Aceh itu hebat," ungkap pemeran Maesaroh, yang menjadi salah satu sosok Inong Balee, Cut Mini.

​Disutradarai Archie Hekagery, film ini diproduseri oleh Yuda Wirafianto dengan ko-produser Mifta Nur Rizki, dan produser eksekutif Bunga Mentari. Film ini dibintangi oleh jajaran aktris ternama dan berbakat Indonesia.

​Atiqah Hasiholan dipercaya sebagai Laksamana Malahayati yang perkasa dan berani memimpin pasukan. Sementara itu, para pasukan Inong Balee di antaranya diperankan oleh Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani. Turut bergabung di jajaran pemeran di film ini, Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, dan Ron Smoorenburg, aktor laga internasional asal Belanda yang pernah menjadi lawan Jackie Chan di film Who Am I?.

​Film Pasukan 1000 Janda akan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026. Terinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, film Pasukan 1000 Janda akan menghadirkan kisah epik pertempuran para perempuan yang kehilangan melawan penjajah.

​Ikuti informasi terbaru melalui Instagram @pasukan1000janda & @manara.studios.

​Sinopsis

​SELAT MALAKA, 1599. Beberapa tahun sebelumnya, ketika ancaman Portugis mengoyak perairan Selat Malaka, armada Kesultanan Aceh Darussalam di bawah komando seorang laksamana perempuan legendaris, Malahayati, bangkit melawan. Dengan keberanian dan kecerdikannya, ia berhasil menghancurkan armada Portugis dan mengusir mereka dari perairan Aceh.

​Namun setelah kemenangan itu, Malahayati menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu ke mana perginya sang laksamana. Ia lenyap seolah ditelan bumi, meninggalkan sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab, siapa yang akan berdiri ketika musuh berikutnya datang?

​Tahun 1599, ancaman baru muncul dari seberang lautan. Jauh dari Eropa, armada Belanda berlayar menuju Selat Malaka untuk merebut jalur perdagangan yang menjadi urat nadi Nusantara. Di bawah pimpinan Cornelis, seorang Admiral yang kejam dan tak kenal ampun, pasukan Belanda mulai menebar teror di tanah Aceh.

​Desa-desa dibakar. Rakyat diburu. Para lelaki tewas di medan perang, meninggalkan perempuan-perempuan yang kehilangan suami dan keluarga. Ketika harapan nyaris padam dan tidak ada lagi pasukan yang mampu menghadapi Belanda, para perempuan bangkit dari duka mereka, dan membentuk pasukan yang belum pernah ada sebelumnya.

​Pasukan para janda. Satu tekad. Untuk mempertahankan rumah yang mereka cintai. Dari laut hingga daratan Aceh, mereka bersiap menghadapi pasukan Belanda yang jauh lebih kuat.

​Dan ketika sejarah menuliskan bahwa Malahayati telah menghilang, mungkin sejarah belum mengetahui satu hal: Malahayati tidak pernah benar-benar pergi! 

Eltasya Hadirkan Kisah Penyesalan dan Harapan di Single Terbaru 'Merayu Waktu'

Setelah konsisten menghadirkan karya-karya yang dekat dengan dinamika perasaan anak muda, Eltasya kembali membuka lembaran baru lewat single terbarunya bertajuk 'Merayu Waktu'. Kali ini, penyanyi muda tersebut mengangkat cerita tentang penyesalan, harapan, dan keinginan untuk memperbaiki hubungan yang telah terlanjur berakhir, yaitu sebuah fase emosional yang mungkin pernah dirasakan banyak orang.

​Lewat 'Merayu Waktu', Eltasya mengisahkan seseorang yang masih berharap waktu bisa diputar kembali demi memperbaiki kesalahan yang telah membuat orang yang dicintainya memilih pergi. Meski dipenuhi penyesalan, lagu ini juga menggambarkan sisi manusiawi ketika seseorang sulit melepaskan harapan, meski kenyataan berkata sebaliknya. "Menurut aku, relate-nya lebih ke perasaan yang mungkin pernah dirasain banyak orang, ketika kita masih berharap sesuatu bisa kembali seperti dulu, padahal kenyataannya ya nggak selalu bisa," ungkap Eltasya.

​Menariknya, proses lahirnya 'Merayu Waktu' berlangsung secara tak terduga. Awalnya Eltasya hanya berniat berkunjung ke studio, namun di sanalah ia pertama kali diperdengarkan lagu tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, ia langsung merasa terhubung dengan materi lagunya dan memutuskan untuk membawakannya. "Awalnya aku cuma niat main ke studio, eh ternyata malah ditawarin lagu ini. Pas pertama kali dengar, aku langsung suka dan akhirnya memutuskan buat membawakannya," cerita Eltasya.

​Selain proses kreatif yang spontan, Eltasya juga menyebut bahwa 'Merayu Waktu' menawarkan warna yang berbeda dibandingkan karya-karya yang telah ia rilis sebelumnya. Jika lagu-lagu terdahulu banyak mengeksplorasi berbagai dinamika emosi dalam sebuah hubungan, kali ini ia menghadirkan cerita yang lebih dalam mengenai penyesalan dan keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Emosi tersebut menjadi benang merah yang membuat 'Merayu Waktu' memiliki karakter tersendiri dalam perjalanan musiknya.

​Konsistensi Eltasya dalam menghadirkan lagu-lagu bertema emosional juga menjadi salah satu identitas yang terus ia bangun. Melalui setiap rilisannya, ia berusaha menyampaikan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga pendengar dapat menemukan bagian dari pengalaman mereka sendiri di dalam setiap lagu.

​Ke depannya, Eltasya mengaku ingin terus mengeksplorasi musikalitasnya dan menghadirkan karya-karya yang semakin dekat dengan kehidupan banyak orang. Baginya, musik selalu menjadi ruang untuk berbagi cerita sekaligus menemani para pendengar dalam berbagai fase kehidupan. "Aku pastinya mau terus berkarya dan mengeksplor musik aku. Aku juga pengen bisa menghadirkan lagu-lagu yang lebih dekat dengan kehidupan dan perasaan banyak orang," ujarnya.

​Melalui 'Merayu Waktu', Eltasya berharap lagunya dapat menjadi teman bagi siapa pun yang tengah berada dalam fase sulit untuk melepaskan seseorang maupun kenangan yang pernah dimiliki. "Semoga lagu 'Merayu Waktu' bisa sampai ke hati banyak orang yang dengerin, menemani mereka yang mungkin lagi ada di fase yang sama, dan semoga lagu ini bisa jadi salah satu karya yang berkesan buat kalian," tutup Eltasya.

​Track Title : Merayu Waktu

Executive Producer Indonesia : Muhammad Soufan for Sony Music Entertainment

A&R : Keke Kananta

Performed by : Eltasya

Composed by : Meyta Iskandar

Produced by : Yafi Aria

Vocal Directed by : Irvnat

Vocal Recorded by : Agus Sugiarto at Sony Music Studios Indonesia

Mixed and Mastered by : Stevano

Dolby Atmos by : Gamaliel Pradipta at Sony Music Studios Indonesia

Published by : PT. Putaran Abadi Publikasi

Minggu, 25 Oktober 2026

Film Harga Teman Tayang Perdana di Jakarta Film Week 2026! Disambut dengan Antusiasme Tinggi, Tiket Habis dalam 30 Detik, Kisah Persahabatan Freya JKT48, Devano, Emir Mahira, dan Diandra Agatha Dapat Ulasan Positif dari Penonton Pertama

Film Harga Teman akan tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Januari 2027

​Jakarta, 25 Oktober 2026 — Film Harga Teman persembahan Rekata Studio mendapat sambutan antusiasme yang tinggi saat tayang perdana di Jakarta Film Week (JFW) 2026 pada 23 Oktober 2026. Tiket online pemutaran film ini pun habis dalam waktu 30 detik, sementara antrean on the spot (OTS) pun mengular panjang.

​Film Harga Teman akan mengikuti kisah persahabatan yang dibintangi oleh Freya JKT48, Devano, Emir Mahira, dan Diandra Agatha. Setelah dipecat, Uji (Freya JKT48), seorang desainer grafis, mendirikan agensi kreatif bersama tiga teman dekatnya. Di tengah tuntutan klien, ekspektasi keluarga, dan dilema pertemanan, ia berharap ini bisa jadi awal baru. Tapi semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: setiap hubungan ada harganya, termasuk dalam pertemanan.

​Diadaptasi dari buku karya Debora Danisa, Harga Teman merupakan debut film panjang dari sutradara Andrew Kose, yang sebelumnya menggarap film-film pendek, dan meraih nominasi Piala Citra FFI 2019 untuk Film Pendek Terbaik.

​"Karakter-karakter di film ini, yakni Uji, Julian, Boshi, dan Sunny, mereka merepresentasikan perjalanan para pekerja kreatif. Waktu aku membaca bukunya sendiri, aku merasa relate banget dengan ceritanya, karena aku pun pernah mengalami jadi pekerja serabutan, menghadapi revisi tanpa henti, dan dinamika itu yang kami pertahankan di filmnya," ujar sutradara Andrew Kose.

​Memerankan seorang desainer grafis di Harga Teman, membuat Freya memiliki sudut pandang baru. Ia pun belajar untuk menjadi seorang desainer grafis dan memahami dinamika yang dilalui profesi ini.

​"Memerankan Uji di film ini, yang bekerja sebagai desainer grafis, membuatku menyadari betapa sulitnya menggambar secara digital dengan pen tablet sambil menatap monitor. Pengalaman itu membuat aku jauh lebih menghargai pekerjaan para desainer grafis," ujar Freya JKT48.

​Bagi Freya, karakter Uji sangatlah berbeda dengan kesehariannya dengan dirinya yang banyak bersama grup idol JKT48. Ia pun banyak membaca ulang novel dan skenario film Harga Teman agar lebih mendalami dinamika karakternya.

​"Aku berusaha mengamati gestur dan cara kerja orang-orang di dunia kreatif. Aku juga memisahkan perasaanku sendiri agar emosi yang tampil murni adalah emosi Uji saat menghadapi pasang surut kehidupan," tambah Freya.

​Bagi para penonton pertama Harga Teman di JFW 2026, Harga Teman pun dianggap memberikan pengalaman menonton yang menghibur. Film ini dinilai memberikan sebuah tontonan yang sangat Gen Z baik secara cerita dan visual.

​"Rasanya kayak udah lama gue ga liat film Gen Z yang beneran Gen Z secara harfiah dan visual. Bagaimana mereka menghidupkan masing-masing karakter ini cukup menarik. Sebagai pemeran utama, Freya berhasil membawa film ini ke sebuah tontonan yang sebenarnya bisa dibilang ringan tapi padat secara isi," ujar reviewer film di akun Threads, @djaycoholyc.

​"Sukaaaa!!! Kejutannya nggak habis-habis. Sepanjang nonton emosinya naik turun kayak roller coaster. Tap kali ada kejutan beneran ngga bisa diem. Dari yang tepuk tangan sampe teriakan. Karakternya unik, visualnya cantik, lagunya asyik, dan aktingnya ciamik. Salah satu film favorit tahun ini," ujar akun X @alstoniasp.

​Di platform review film Letterboxd, Harga Teman saat ini juga mendapat ulasan tinggi, dengan rata-rata penonton memberikan bintang empat hingga lima, dari total maksimal lima bintang yang diberikan.

​Film Harga Teman diproduseri oleh Wregas Bhanuteja, Anandita Deviartianti, Iman Usman, dan Amalia Rusdi. Harga Teman akan menjadi film panjang keempat produksi Rekata Studio setelah Penyalin Cahaya (2021), Budi Pekerti (2023), dan Para Perasuk (2026). Di JFW 2026, Harga Teman juga terpilih dalam program kompetisi Direction Award.

​Tonton film Harga Teman saat tayang serentak di bioskop mulai 21 Januari 2027. Ikuti informasi terbaru melalui media sosial @filmhargateman dan @rekatastudio. 

Pesona Tampan Ciccio Manassero Jadi Vampir di Film Siti Si Vampir Berhasil Sihir Ibu-Ibu, Komedinya Kocak Bikin Ngakak

Ciccio Manassero tampil jadi vampir tampan di film Siti Si Vampir

​Jakarta, 25 Oktober 2026 — Aktor blasteran Ciccio Manassero mampu menyihir para penonton ibu-ibu lewat perannya sebagai vampir di film drama komedi Siti Si Vampir yang sedang tayang di bioskop Indonesia. Di film itu, Ciccio memerankan Nakula, sosok vampir elit yang punya persona tampan dan keren dengan pakaian jas dan serba hitam.

​Para penonton perempuan pun tersihir dengan ketampanan Ciccio, dan banyak yang merespons ingin digigit olehnya. Tak hanya itu, film Siti Si Vampir juga berhasil membuat studio penuh suara tawa, dengan komedinya yang kocak, para penonton pun tak berhenti tertawa ngakak.

​Nakula memiliki misi untuk memburu manusia-manusia dari kalangan kaya untuk dijadikan sebagai bagian kelompok elit vampir. Namun, ia justru salah gigit ke gadis bernama Siti (Satine Zaneta) yang tinggal di sebuah rusun. Akhirnya, masalah pun menghampiri Nakula.

​Memerankan Nakula, Ciccio pun berhasil menyihir para penonton perempuan baik muda maupun ibu-ibu. Ciccio dianggap sukses menampilkan sosok dingin Nakula yang tak banyak bicara dan berekspresi, tapi terlihat berwibawa.

​"Nakula ini vampir yang punya pengaruh besar di kaumnya. Dia itu very well-mannered, sudah hidup lama, very precise, very cold, memang benar-benar pemimpin. Dia di film ini punya misi, tapi ketika menjalankan sebuah tugas, malah salah target," ungkap Ciccio Manassero.

​Memerankan vampir senior, Ciccio pun bisa menunjukkan skill-nya dalam mengeluarkan taring kapanpun. Salah satunya, saat ia marah, taringnya bisa keluar sangat panjang.

​"Respons pertama saat melihat penampilanku sebagai Nakula, sebenarnya aku merasa ganteng banget, haha.. Karena full pakai suit, rambut ubanan, make up putih. Ada aura yang berbeda jadi vampir," ujar Ciccio.

​Namun, memerankan Nakula yang harus mengenakan setelan jas setiap saat, juga memberikan tantangan tersendiri bagi Ciccio. Apalagi dengan lokasi syuting di rusun, yang membuatnya harus menahan suhu panas. Tapi, Ciccio pun menemukan keindahan yang sederhana.

​"Mereka tinggal di tengah kota, hidupnya sangat nyaman di situ menurutku ya. Cari makanan ada. Sore-sore bapak-bapak main catur. Suasana kekeluargaan dan ikatannya menyatu banget. Seperti di Italia yang di tempat kecil, sore-sore pada nongkrong, anak-anak main bola," ungkap Ciccio.

​Tonton film Siti Si Vampir di bioskop Indonesia! Ikuti perkembangan terbaru film Siti Si Vampir melalui akun Instagram resmi @viddseeid, @bahagiatanpadrama dan @filmsitisivampir.

​Sinopsis

Siti (Satine Zaneta), gadis rusun yang menjadi tulang punggung keluarganya, berubah menjadi vampir akibat "salah gigit" Nakkula (Ciccio Manassero), vampir tampan yang memikat hatinya. Meski menjadi vampir low-spec dengan taring terbalik dan kekuatan tanggung, Siti melihat perubahan ini sebagai kesempatan untuk lepas dari kesehariannya yang serba pas-pasan. Namun, ketika rusunnya menjadi target "panen" vampir, Siti harus memilih antara mengikuti sistem atau melawannya. 

Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Raih 1 Juta Penonton! Jadi Film Terlaris di Bulan Oktober, Kini Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Masyarakat Terdampak Karhutla

Tonton film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah di bioskop

​Jakarta, 25 Oktober 2026 — Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah persembahan Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment berhasil meraih 1 juta penonton pada hari ke-17 penayangannya di bioskop Indonesia. Capaian ini sekaligus menjadikan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah sebagai film Indonesia ke-19 di tahun 2026 yang berhasil mencapai 1 juta penonton.

​Tayang perdana pada 8 Oktober 2026, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah langsung menjadi film pilihan utama penonton Indonesia di bioskop. Selama kurang lebih dua minggu tayang di bioskop, film ini juga menjadi yang paling laris dan diminati oleh penonton.

​Ceritanya yang sangat menyentuh, horor eksorsismenya yang berkualitas, menjadikan film ini mampu menyentuh hati setiap penontonnya, yang tak hanya ditonton oleh agama tertentu, tetapi memiliki universalitas yang bisa dirasakan saat berbicara tentang keimanan.

​Di tengah capaian menggembirakan ini, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga ingin memperingatinya dengan cara yang lebih bermakna, melalui bantuan kemanusiaan. Tim Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menginisiasi penggalangan dana dan penyaluran donasi untuk masyarakat yang saat ini masih terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.

​"Dua tahun lalu, saat film Kuasa Gelap mencapai 1 juta penonton, kami berbagi tali kasih ke 25 panti asuhan dan pondok pesantren. Kini, berkat dukungan penonton dan masyarakat Indonesia, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah kembali meraih sukses, dan kami ingin membagikan berkat ini kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban asap karhutla. Kami merasa tidak ada yang lebih mendesak saat ini daripada membantu mereka yang untuk bernapas saja susah," ujar penulis dan produser Robert Ronny.

​"Bantuan ini kami salurkan melalui Yayasan Caritas Indonesia, untuk semua yang membutuhkan, tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Terima kasih untuk setiap penonton yang sudah menjadi bagian dari kebaikan ini. Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua," tambah Robert Ronny. 

Disutradarai Rizal Mantovani, film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah diproduseri oleh Robert Ronny dan Prima Taufik, dengan Andi Boediman sebagai produser eksekutif. Film ini ditulis oleh Robert Ronny bersama Andri Cahyadi. Film ini dibintangi oleh Lukman Sardi, Jerome Kurnia, Venly Arauna, Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra, dan Faiz Vishal.

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menjadi produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment yang turut didukung oleh Legacy Pictures, SRN, Virtuelines Entertainment, WOW Multinet Pictures, Mokster Films, dan Netzme Gateway.

Tonton film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah sekarang di seluruh bioskop Indonesia. Tak hanya di bioskop reguler, film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga akan tayang dengan cinematic experience yang lebih imersif di bioskop IMAX XXI, 4DX CGV, dan Magnify 8 Cinepolis.

Ikuti informasi terbaru melalui akun Instagram resmi @kuasagelap.id dan saksikan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah di seluruh bioskop Indonesia.

AKUN MEDIA SOSIAL

Instagram : paragonpictures.id | @kuasagelap.id

Twitter/X : paragonpics_

Tiktok : paragonpictures.id

Youtube : Paragon Pictures

Facebook : Paragon Pictures

Hashtag : #KuasaGelap #KuasaGelapPerjanjianDarah

TENTANG PARAGON PICTURES

Berdiri sejak tahun 2019, Paragon Pictures berfokus pada pengembangan, produksi, pemasaran, dan distribusi film untuk pasar Indonesia maupun global. Beberapa karya yang telah dirilis antara lain Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?, Tak Ingin Usai Di Sini, The Most Beautiful Girl in the World, Kuasa Gelap, Kalian Pantas Mati, Backstage, dan Losmen Bu Broto.

TENTANG IDEOSOURCE ENTERTAINMENT

Ideosource Entertainment adalah perusahaan hiburan yang berinvestasi di industri film dan ekosistemnya. Hingga kini, Ideosource Entertainment telah berinvestasi di 23 film layar lebar, termasuk Qodrat, Keluarga Cemara, Gundala dan Bebas.

TENTANG LEGACY PICTURES

Berdiri sejak tahun 2011, Legacy Pictures berkomitmen mendukung insan-insan kreatif perfilman Indonesia dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Sejumlah film nasional box office yang turut didukung oleh Legacy Pictures di antaranya adalah Ada Apa dengan Cinta 2, Pengabdi Setan 2: Communion, Agak Laen, The Architecture of Love, dan Siksa Kubur.

TENTANG SRN

SRN Production (PT Selaras Raya Nusantara) adalah perusahaan kreatif yang bergerak di bidang produksi, talent management, dan kolaborasi strategis di industri hiburan Indonesia. Berkomitmen menghadirkan karya berkualitas melalui film, konten digital, dan kemitraan dengan berbagai brand, SRN terus mendukung pertumbuhan ekosistem kreatif nasional.

​TENTANG VIRTUELINES

Virtuelines adalah perusahaan produksi film asal Indonesia yang didirikan oleh Arya dan Ardi Setiadharma, investor di ekosistem startup Indonesia. Mereka membawa keahlian bisnis ke industri film bersama Acha Septriasa. Virtuelines telah berinvestasi di berbagai film seperti Pemukiman Setan, Kuasa Gelap, dan Qodrat 2.

​TENTANG WOW MULTINET PICTURES

Wow Multinet Pictures adalah perusahaan investasi yang berfokus pada pembiayaan dan produksi bersama film-film Indonesia. WMP mengutamakan proyek berkualitas tinggi dengan potensi penonton yang luas, membangun kemitraan strategis dengan pelaku industri, serta menerapkan investasi demi pertumbuhan industri.

​TENTANG MOKSTER FILMS

Mokster Films adalah perusahaan investasi dan penjualan yang berfokus pada konten produksi Asia. Mengkhususkan diri dalam penjualan internasional, pengembangan, dan pembiayaan film, Mokster Films menjembatani para pembuat film Asia dengan penonton global.

​TENTANG NETZME GATEWAY

PT Netzme Kreasi Indonesia ("Netzme") adalah Perusahaan Jasa Pembayaran Kategori 1 berlisensi Bank Indonesia yang fokus menyediakan solusi pembayaran digital aman dan mudah diakses, khususnya bagi UMKM. Melalui layanan berbasis QRIS, Netzme mendukung kebutuhan pelaku usaha sekaligus memperluas literasi digital. Saat ini Netzme telah bermitra dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jakpreneur—sebagai wujud komitmen dalam membuka akses teknologi digital bagi UMKM di seluruh Indonesia.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Cerita Anak Nusantara Hadir di Jakarta Film Week 2026: Pitching 10 Proyek Film dan Diskusi Film Keluarga Indonesia

Jakarta, 24 Oktober 2026 — Netflix, bekerja sama dengan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI), meluncurkan Cerita Anak Nusantara, sebuah program kompetisi dan pengembangan ide cerita film panjang yang berfokus pada tema anak, remaja, dan keluarga Indonesia.

​Berlangsung sejak Juni 2026, Cerita Anak Nusantara menerima 499 ide cerita dari puluhan kota di Indonesia. Para kurator, Edwin Nazir dan Khozy Rizal, memilih sepuluh ide cerita terbaik dan paling potensial, yaitu Barudak Sunset (Lynx Films, Jakarta), Fitketed Halokes: Penghapus Misterius (Catchlight Pictures, Yogyakarta), Garis Lintang (DIENFI Damsphere and Films, Makassar), Meng (Aftersun Creative, Jakarta), Off-Key Rebels (Indonesia Art Movement, Papua), Operasi Semut Merah (SeStudio, Sidoarjo), Pupus Putus Sekolah: Anggrek Merapi (Manimonki Studio, Cimahi), Super Neli (Ayena Studio, Cimahi), The Last Rebound (Qun Films, Jakarta), dan The Shy Lion (POMP Films, Bandung).

​Para penulis, sutradara, dan produser dari sepuluh proyek terpilih mendapatkan mentoring intensif bersama pembuat film ternama Indonesia yang berpengalaman menggarap film anak dan keluarga, yakni Gina S. Noer, Riri Riza, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, dan Muhammad Zaidy. Peserta juga mengikuti sesi bersama Ita D. Azly, psikolog sekaligus Family Wellbeing Consultant, untuk menggali aspek psikologi dan pemahaman karakter dalam pengembangan cerita anak dan keluarga. Seluruh rangkaian mentoring ini membekali peserta untuk memperkuat dan memperdalam ide cerita, persiapan produksi, hingga persiapan menghadapi sesi pitching.

​Cerita Anak Nusantara hadir bersamaan dengan penyelenggaraan Jakarta Film Week 2026 melalui tiga program, dua di antaranya digelar di CGV Grand Indonesia, yaitu Pitching Session dan Industry Talks. Kolaborasi ini menjadi ruang bagi para pembuat film dan pelaku industri untuk mendorong lahirnya lebih banyak film anak dan keluarga Indonesia berkualitas.

​Sesi pitching berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, dengan dukungan World Conference on Creative Economy (WCCE). Sepuluh proyek dipresentasikan dan dinilai oleh dua juri, yaitu Fauzan Zidni dari BPI dan Haykal Kamil dari APROFI. Sesi dibuka oleh Ruben Hattari, Director of Global Affairs, Southeast Asia of Netflix, dan disambut oleh Deputi Bidang Kreativitas Media Ekonomi Kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

​"Senang sekali kami menerima hampir 500 ide cerita dari puluhan kota di Indonesia dan membuka kesempatan untuk 10 proyek terpilih mengembangkan ide cerita mereka dan para mentor. Kami ingin menciptakan ruang yang dapat memberikan rasa nyaman bagi orang tua, dengan cerita berkualitas yang menghibur, memperkaya pengalaman anak dan memicu percakapan bermakna," ujar Ruben Hattari.

​Setelah Pitching Session, kegiatan dilanjutkan dengan Cerita Anak Nusantara: Industry Talks bertajuk "Indonesian Family Film From Time to Time", yang mengajak publik menelusuri perjalanan film keluarga Indonesia dari masa ke masa. Diskusi ini menghadirkan produser Mira Lesmana, sutradara Riri Riza, produser Anggia Kharisma, sutradara Ryan Andriandhy, serta Edwin Nazir, produser sekaligus Ketua APROFI, dengan moderator aktor Putri Ayudya.

​Menurut Edwin Nazir, film keluarga memiliki peran penting dalam ekosistem perfilman nasional. "Film keluarga adalah fondasi industri kita, karena ia mempertemukan penonton lintas generasi di bioskop. Lewat diskusi ini, kami ingin melihat apa yang sudah kita capai dan bagaimana industri bisa terus menumbuhkan genre ini ke depan," ujarnya.

​Rangkaian kegiatan ditutup dengan Cerita Anak Nusantara: Awarding & Networking Night. Pada malam tersebut, Netflix memberikan Development Grant kepada dua proyek terpilih, masing-masing senilai Rp50.000.000. Proyek yang meraih Development Grant adalah Super Neli (Ayena Studio, Cimahi) dan Garis Lintang (DIENFI Damsphere and Films, Makassar).

​Melalui rangkaian kegiatan ini, Cerita Anak Nusantara berharap dapat memperkuat ekosistem film anak dan keluarga, mempertemukan pembuat film daerah dengan jejaring industri, serta membuka jalan bagi lahirnya karya-karya baru yang kaya akan keberagaman budaya Indonesia.

​Informasi mengenai Cerita Anak Nusantara dapat diakses melalui www.ceritaanaknusantara.id.

​— AKHIR —

​Tentang Netflix

Netflix adalah salah satu penyedia layanan hiburan terkemuka di dunia, menyuguhkan serial TV, film, game, dan program live dalam berbagai genre dan bahasa. Anggota dapat memutar, menjeda, dan melanjutkan menonton sesuka mereka, kapan saja, di mana saja, dan dapat mengubah paket mereka kapan pun. Untuk informasi lebih lanjut mengenai berita terbaru dari Netflix, silakan kunjungi Netflix Media Center.

​Tentang Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI)

Dibentuk pada 17 Oktober 2013, anggota APROFI adalah individu profesional yang memiliki perusahaan film atau tidak, yang cakupan tanggung jawabnya meliputi kepemilikan atas HAKI, Perencanaan Produksi, Manajemen Pendanaan, Manajemen Produksi, Distribusi, dan Promosi. APROFI memiliki misi mencapai industri film yang menghasilkan film Indonesia yang unggul dengan lingkungan kerja yang tidak berkompromi dalam kualitas dan selalu berinovasi dengan jangkauan distribusi yang luas sehingga menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia dan internasional.

​Tentang Badan Perfilman Indonesia (BPI)

Berdiri pada 17 Januari 2014 berdasarkan UU No. 33 Tahun 2009, Badan Perfilman Indonesia adalah lembaga swasta mandiri yang dibentuk masyarakat sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen perfilman Indonesia: dikukuhkan Presiden, difasilitasi Pemerintah. BPI memiliki tugas: memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah dalam mendorong kebijakan perfilman dan mempercepat PP Rencana Induk Perfilman Nasional dan PP Sanksi. Menyelenggarakan dan mengikuti festival film di dalam dan luar negeri. Mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing. Melakukan penelitian dan pengembangan perfilman. Memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Memfasilitasi pendanaan pembuatan film bermutu tinggi.

Menguak Rahasia di Balik Hajatan dan Kutukan Keluarga, 'Hajatan Setan' Rilis Trailer dan Poster Resmi

​Dibintangi Ari Irham, Alika Jantinia, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, film horor produksi MBK Productions dan Drias Film Production siap ...