Rabu, 21 Oktober 2026

Mengenal Vanessa Simorangkir, Top 4 Indonesian Idol yang Debut Akting di Film Musikal Batak Produksi Imajinari, PULANG KAMPUNG

​Setelah menembus Top 4 Indonesian Idol musim ke-13 (2024–2025), Vanessa Simorangkir kini bersiap menyapa penonton lewat layar lebar. Ia dipercaya menjadi pemeran utama dalam PULANG KAMPUNG, film musikal Batak pertama di Indonesia, produksi IMAJINARI yang ditulis dan disutradarai oleh Bene Dion Rajagukguk bersama ko-sutradara Kristo Immanuel. Memerankan karakter Uli, film ini menjadi pengalaman akting pertama Vanessa.

​Penyanyi bernama lengkap Vanessa Fritzie Ulina Simorangkir ini telah menapaki panggung kompetisi musik sejak usia remaja. Pada 2018, ia meraih juara ketiga The Voice Kids Indonesia musim ketiga ketika usianya baru 14 tahun. Perjalanannya berlanjut ke Indonesian Idol hingga berhasil meraih posisi empat besar. Setelah kompetisi, Vanessa mengembangkan karier musiknya melalui sejumlah rilisan, termasuk “Engga Ngerti” bersama Yovie Widianto dan “Menjauh”.

​Terpilih melalui proses casting, Vanessa menghadapi tantangan baru ketika harus menyatukan kemampuan bernyanyi dengan akting dan koreografi. Pengalamannya sebagai penyanyi menjadi bekal untuk belajar membawakan lagu melalui karakter Uli, dengan ekspresi dan kebutuhan cerita yang berbeda dari penampilannya di panggung musik. Selama sekitar tiga bulan persiapan, ia menjalani latihan akting, vokal musikal, dan koreografi untuk menghidupkan peran tersebut.

​Di tengah berbagai pengalaman baru itu, Vanessa menemukan kedekatan dengan Uli karena keduanya sama-sama lahir dan besar di tanah Batak. Dalam PULANG KAMPUNG, Uli merupakan sepupu Daniel yang tinggal di kawasan Danau Toba dan membantunya mempelajari budaya Batak. Latar belakang yang akrab ini menjadi salah satu bekal Vanessa untuk memahami karakter yang diperankannya.

​Film ini juga mempertemukannya kembali dengan Axelo Nababan, teman seperjuangannya di Indonesian Idol yang memerankan Daniel. Menariknya, interaksi mereka di luar adegan turut menyerupai hubungan kedua karakter tersebut. Seperti Uli yang mengenalkan budaya Batak kepada Daniel, Vanessa juga membantu Axelo yang lahir dan besar di Jakarta untuk lebih mengenal budaya mereka selama proses syuting.

​Lewat sosok Uli yang ceria, Vanessa membawa perjalanan bermusiknya ke pengalaman bercerita yang baru sekaligus memperkenalkan diri sebagai salah satu wajah baru di layar lebar. Debut akting Vanessa Simorangkir bersama Axelo Nababan dalam PULANG KAMPUNG dapat disaksikan di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.

​TENTANG IMAJINARI

Imajinari adalah studio film muda di Indonesia yang menitikberatkan pada cerita yang segar dan berpijak pada visi kreatif sutradara. Rekam jejak Imajinari diantaranya adalah film “AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!” yang menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia dengan perolehan lebih dari 11 juta penonton, film mega box office “AGAK LAEN” yang meraih lebih dari 9,1 juta penonton, serta “Jatuh Cinta Seperti Di Film Film” yang memenangkan Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik, Aktor dan Aktris Utama Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia tahun 2024.

​Didirikan oleh duo Ernest Prakasa & Dipa Andika, Imajinari memulai debutnya melalui film “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022), sebuah film yang kemudian menjadi Official Selection Indonesia untuk Academy Awards 2023.

Sering Gak Enakan? Mungkin Kamu Adalah Seorang People Pleaser! Kenalan Yuk dengan Fenomena yang Bakal Jadi Film Layar Lebar Ini, Tayang 19 November!

​Pernah gak sih kamu lagi di titik capek banget karena masalah sendiri aja rasanya udah numpuk, tapi begitu ada orang lain yang minta bantuan, kamu tetap merasa gak tega buat nolak? Padahal, kamu sendiri udah kewalahan dan sebenarnya ingin bilang "gak bisa." Anehnya, saat akhirnya berani menolak pun, kamu malah dihantui rasa bersalah. Bukan karena kamu egois, tapi karena kamu terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain sampai lupa sama diri sendiri.

​Kalau rasa gak enakan ini udah jadi default setting hidup kamu, welcome to the club! Kamu kemungkinan besar adalah seorang People Pleaser. Fenomena ini nyata banget di sekitar kita, di mana rasa takut mengecewakan orang lain jauh lebih besar dibanding rasa sayang ke diri sendiri. Nah, biar makin pencerahan, coba cek dulu beberapa tanda di bawah ini. Siapa tahu kamu lagi ngaca!

​Cek Ombak: Seberapa ‘People Pleaser’ Kamu Sebenarnya?

​1. Susah Bilang "Gak" Meski Udah Capek Banget

Seharian udah sibuk ngurus ini-itu, badan rasanya pengen rebahan aja, dan energi udah habis terkuras. Eh, tiba-tiba teman atau keluarga minta bantuan. Padahal, kamu tahu banget kalau kamu butuh istirahat, tapi mulut rasanya susah banget bilang "gak bisa." Akhirnya, kamu tetap mengiyakan sambil mengorbankan waktu istirahat sendiri. Lebih parahnya lagi, kalau sesekali kamu berhasil menolak, malah muncul rasa bersalah karena takut dianggap gak peduli. Duh, istirahat aja kok rasanya harus minta izin dulu?

​2. Rela Korbanin ‘Self-Reward’ Demi Orang Lain

Udah nabung berbulan-bulan buat checkout wishlist impian atau healing tipis-tipis di akhir pekan. Eh, mendadak adik tersayang datang pasang muka memelas minta uang jajan buat nongkrong bareng gengnya—atau mungkin tante kamu lagi butuh uang untuk kebutuhan penting dan mau pinjam. Karena takut dicap pelit atau bikin mereka kecewa, kamu pun ikhlas membedah tabunganmu. Self-reward yang udah dinanti-nanti auto melayang, selamat menunda bahagia lagi!

​3. Jam 11 Malam Masih Jadi ‘Emotional Support’ Non-Stop

Besok pagi ada presentation meeting krusial yang bikin deg-degan, mata udah 5 watt dan siap tidur. Tiba-tiba bestie kamu nelepon sambil sesenggukan karena drama percintaan jam 11 malam. Mau nolak rasanya berdosa, akhirnya kamu melek berjam-jam dengerin curhatannya sampai subuh. Bangun-bangun badan remuk, tapi dalam hati mikir, "Ya gimana, kasihan kalau ditinggal tidur..."

​Kenapa Sih Susah Banget Bilang "Gak"?

Jujur aja, banyak dari kita yang tumbuh dengan rasa takut ditolak, takut dianggap egois, atau takut bikin orang lain kecewa. Tanpa sadar, kita menaruh validasi dan kebahagiaan orang lain di atas kesehatan mental sendiri.

​Padahal, belajar pasang batasan alias boundaries itu penting banget! Hidup itu butuh keseimbangan: ada saatnya kita hadir dan suportif buat orang tersayang, tapi ada kalanya kita juga harus berani berdiri dan memilih diri kita sendiri. Menolak hal yang memberatkan bukan berarti kamu jahat kok!

​Suaramu Bakal Disuarakan di Layar Lebar!

Kalau deretan skenario di atas terasa menampar saking miripnya sama keseharianmu, tenang, kamu nggak sendirian! Keresahan kaum nggak enakan ini bakal dirangkul hangat lewat film drama komedi terbaru berjudul People Pleaser : Si Paling Gak Enakan produksi LYTO Pictures.

​Di film ini, kita akan diajak mengikuti lika-liku Karina, seorang perempuan muda yang merupakan people pleaser level akut. Hidupnya selalu dipenuhi kompromi demi orang lain, sampai suatu hari ia dihadapkan pada satu kesempatan terakhir untuk menepati janji sakral kepada mendiang sang ayah. Di momen krusial inilah, bisakah Karina akhirnya memberanikan diri berkata "tidak" dan memilih kebahagiaannya sendiri?

​Taburan Bintang Favorit Lintas Generasi!

Film People Pleaser siap menyuguhkan cerita yang super fresh, menggelitik, sekaligus menyentuh hati berkat akting apik deretan aktor, aktris, dan komika ternama tanah air: mulai dari Mawar de Jongh, Ardit Erwandha, Ummi Quary, Vonny Cornellya, Fatih Unru, Surya Saputra, Cut Mini, Amel Carla, Taskya Namya, Marcella Daryanani, Femi Maringka, Fira Maringka, Fajar Nugra, Sadana Agung, hingga Arif Alfiansyah.

​Catat Tanggalnya dan Jangan Sampai Ketinggalan!

Yuk, ajak sahabat, rekan kantor, atau bahkan orang-orang yang sering bikin kamu sungkan buat nonton bareng biar mereka paham isi hatimu!

​Film People Pleaser akan resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 November 2026. Biar nggak ketinggalan info seru, cuplikan adegan, dan update terbarunya, langsung follow dan pantau akun Instagram resmi @peoplepleaserfilm dan @lytopictures sekarang juga!

Selasa, 20 Oktober 2026

Berawal dari Lapangan Padel Lanjut ke Hotel, Perselingkuhan Menguji Kepercayaan dalam Vidio Original Series Main Belakang

Sumber: Vidio

​Jakarta, 20 Oktober 2026 — Di tengah tren olahraga padel yang semakin populer, hubungan yang awalnya hanya sebatas coach dan murid bisa berkembang menjadi kedekatan terlarang yang mengusik kesetiaan dalam sebuah hubungan. Vidio Original Series Main Belakang menghadirkan kisah dua pasangan suami istri yang menghadapi persoalan rumah tangga masing-masing, ketika kebutuhan emosional, rasa tidak aman, dan batasan dalam hubungan mulai diuji.

​Dibintangi oleh Ranty Maria sebagai Bella, Cakrawala Airawan sebagai Chicco, Angela Gilsha sebagai Donna, dan Kevin Ardilova sebagai Evan, series ini menyoroti dinamika hubungan yang terlihat harmonis dari luar, tetapi menyimpan persoalan yang tidak selalu mudah dibicarakan. Kehadiran orang ketiga menjadi awal dari konflik yang mempertemukan kehidupan kedua pasangan tersebut.

​Berawal dari Permainan, Lanjut ke Perselingkuhan

​Bella (Ranty Maria) dan Chicco (Cakrawala Airawan) adalah pasangan suami istri yang terlihat menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis. Bella tengah berjuang menghidupkan bisnis agensi kreatif yang ia bangun sendiri, sementara Chicco adalah seorang music composer yang juga bekerja sampingan sebagai coach padel. Namun, kehidupan mereka mulai berubah ketika Chicco bertemu Donna (Angela Gilsha), salah satu murid padelnya yang ternyata merupakan istri dari Evan (Kevin Ardilova), CEO brand kecantikan yang juga menjadi klien terbesar Bella.

​Kedekatan yang awalnya terjalin di lapangan padel perlahan berkembang menjadi hubungan terlarang. Di sisi lain, Donna juga menghadapi persoalan dalam rumah tangganya bersama Evan. Situasi tersebut mempertemukan dua pasangan dengan dinamika dan masalah masing-masing, hingga keputusan yang mereka ambil mulai menguji kepercayaan, komitmen, dan batasan dalam hubungan pernikahan.

​Ranty Maria Dalam Kekecewaan Bella saat Menghadapi Pengkhianatan

​Bagi Ranty Maria, salah satu tantangan dalam memerankan Bella adalah memahami pergulatan emosional seorang istri ketika kepercayaan dalam pernikahannya diuji. Sebagai perempuan mandiri yang pekerja keras dan menyayangi keluarganya, Bella memandang hubungan yang dibangunnya bersama Chicco sebagai bagian penting dalam hidupnya. Situasi yang dihadapinya pun membawa Bella pada pertanyaan tentang cinta, kepercayaan, dan bagaimana seseorang memaknai dirinya ketika dikecewakan oleh orang terdekat.

​"Aku sendiri sampai hari terakhir syuting masih bertanya-tanya, 'Kok bisa ya Chicco ngelakuin ini ke Bella?' Karena Bella benar-benar mencintai dia banget. Kalau hubungan mereka memang nggak baik-baik saja, mungkin ada sesuatu yang membuat dia selingkuh. Tapi hubungan mereka baik-baik saja, sangat manis dan romantis," ungkap Ranty Maria.

Sumber: Vidio

​Melalui karakter Bella, Ranty juga melihat pentingnya menjaga kemandirian dan menghargai diri sendiri ketika menghadapi persoalan dalam hubungan. Menurutnya, pengkhianatan dari pasangan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

​"Menurut aku, kita harus tetap mengutamakan diri sendiri. Orang yang paling kita sayang pun bisa mengecewakan kita. Jadi, ketika pasangan meninggalkan kita, bukan berarti kita kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri," tambahnya.

​Cakrawala Airawan Ungkap Kompleksitas Karakter Chicco

Bagi Cakrawala Airawan, Chicco merupakan karakter yang menarik untuk didalami karena memiliki pergulatan personal di balik kepribadiannya yang hangat dan menyenangkan. Karakter ini memperlihatkan bahwa seseorang dapat menghadapi konflik batin yang memengaruhi cara dirinya memandang hubungan, mengambil keputusan, dan menjalani perannya sebagai pasangan.

​Tantangan bagi Cakrawala adalah memahami sisi rentan Chicco serta membangun karakter yang terasa manusiawi, dengan berbagai ketidaksempurnaan dan pertentangan dalam dirinya.

Sumber: Vidio

​"Yang membuat aku tertarik adalah karena Chicco melakukan kesalahan bukan karena didorong orang lain, tetapi lebih karena dia berantem sama dirinya sendiri. Selama ini dia selalu bergantung pada orang lain dan belum bisa berdiri dengan kakinya sendiri," jelas Cakrawala.

​Melalui pengalamannya memerankan Chicco, Cakrawala juga melihat bagaimana persoalan dalam diri seseorang dapat memengaruhi hubungan yang dijalaninya. Karakter Chicco menjadi bagian dari cerita yang mengajak penonton memahami kompleksitas manusia, tanpa mengesampingkan konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

​Main Belakang Jadi Pengingat Pentingnya Komunikasi dan Komitmen dalam Pernikahan

​Melalui karakter Donna, Angela Gilsha melihat Main Belakang sebagai cerita yang mengangkat dinamika hubungan suami istri, termasuk tantangan dalam menjaga kedekatan emosional di tengah kesibukan dan tuntutan kehidupan sehari-hari. Kisah Donna dan Evan merefleksikan pentingnya kesiapan berkomitmen, komunikasi yang terbuka, serta upaya untuk terus hadir bagi pasangan dalam menjalani pernikahan.

​Angela menilai bahwa menjaga hubungan tidak cukup hanya dengan memenuhi tanggung jawab masing-masing. Pasangan juga perlu memberikan ruang bagi satu sama lain untuk merasa didengar, dihargai, dan diperhatikan.

​"Dalam pernikahan, semuanya harus seimbang. Kita perlu tetap punya waktu untuk pasangan, bukan hanya fokus pada pekerjaan. Hubungan juga perlu dijaga supaya kedekatan antara suami dan istri tetap ada," jelas Angela.

Sumber: Vidio

​Bagaimana Main Belakang Mengangkat Kompleksitas Hubungan dan Pernikahan Masa Kini?

​SAKSIKAN VIDIO ORIGINAL SERIES MAIN BELAKANG DISINI!

​Melalui kisah Bella, Chicco, Donna, dan Evan, Vidio Original Series Main Belakang menghadirkan beragam perspektif tentang dinamika hubungan, kepercayaan, dan komitmen dalam pernikahan. Dengan konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, series ini mengajak penonton untuk merefleksikan pentingnya komunikasi, memahami pasangan, serta menjaga hubungan tanpa kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Saksikan Vidio Original Series Main Belakang secara eksklusif setiap hari Kamis di Vidio mulai Kamis, 22 Oktober 2026.

​Main Belakang - Informasi

  • ​Title: Main Belakang

  • ​Production: Screenplay Films

  • ​Genre: Drama / Infidelity

  • ​Producer: Wicky V. Olindo

  • ​Director: Aldo Swastia & Nur Muhammad Taufik

  • ​Executive Producers: Sutanto Hartono, Mark Francis, Alif Keenan Ibrahim

  • ​Executive Producer: Sutanto Hartono, Mark Francis, Alif Keenan Ibrahim

  • ​Screenplay: Keke Mayang

  • ​Co-Executive Producer: Agus Wijaya

  • ​Writer: Sojwal Creative, Ve Handoyo, Keke Mayang

​Cast Members:

  • ​Ranty Maria as Bella

  • ​Cakrawala Airawan as Chicco

  • ​Kevin Ardilova as Evan

  • ​Angela Gilsha as Donna

  • ​Natasha Dewanti as Rita

  • ​Restu Sinaga as Hendra

  • ​Adhitya Alkatiri as Arya

  • ​Jovita Karen as Mira

  • ​Panji Handoyo as Fariz

  • ​Mazaki Ahmad as Julio

  • ​Robert Chaniago as Frans

  • ​Sahira Anjani as Tara

  • ​Nadya Yasmien as Martha

  • ​Shakeel Fauzi as Kafka

​Tentang Vidio

​Vidio adalah platform OTT terdepan di Indonesia yang menghadirkan berbagai konten berkualitas yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Mulai dari olahraga kelas dunia, TV live streaming, konten berlisensi, hingga produksi eksklusif Vidio Original Series. Selama lebih dari satu dekade, Vidio menghadirkan lebih dari sekadar pengalaman menonton. Vidio Lebih Dan Hiburan, menjadi koneksi emosional yang membangun pengalaman bersama bagi para penonton di seluruh Indonesia. Untuk para pecinta olahraga, Vidio menghadirkan lebih dari 70 kompetisi olahraga berskala global dan nasional. Berikut pertandingan bergengsi yang pernah dan sedang ditayangkan mulai dari FIFA World Cup, Summer Olympic Games, Premier League, UEFA Champions League, BRI Super League, SEA V.League, Proliga, Livoli, Wimbledon, Formula 1, MotoGP, hingga Combat Sports seperti Byon Combat, dan masih banyak lagi. Dengan pengalaman sebagai official broadcaster untuk multi-event seperti Olimpiade Tokyo 2020 dan Asian Games 2018, Vidio membuktikan komitmennya dalam memberikan tayangan Lebih Dari Menang Kalah—menghubungkan semangat, kebanggaan, dan solidaritas dalam setiap pertandingan. Di sisi lain, Vidio juga dikenal sebagai pionir dalam produksi Vidio Original Series—menjadi OTT Indonesia dengan jumlah produksi original terbanyak. Vidio hadir sebagai trendsetter yang terus mengangkat cerita lokal menjadi konten yang kuat, relevan, dan berkelas. Dengan lebih dari 100 Original Series yang diproduksi hingga akhir tahun 2025, Vidio menghadirkan tayangan Lebih Dari Cerita—menyuguhkan genre yang beragam, sekuel yang dinantikan, hingga adaptasi dan kejutan yang membekas di hati penonton. Didukung infrastruktur teknologi yang andal, Vidio sukses melakukan streaming ke jutaan penonton secara seamless, dan meraih pengakuan dari Google serta Akamai sebagai salah satu platform terbaik di kawasan Asia Pasifik.

Usai Tayang Perdana di Busan, Film Laut Bercerita Hadir di Indonesia Membawa Kisah Perjuangan, Kehilangan, dan Harapan

​Menggelar penayangan perdana di Indonesia pada 20 Oktober, film karya Yosep Anggi Noen yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori ini akan tayang di bioskop mulai 29 Oktober 2026.

​Jakarta, 20 Oktober 2026 – Setelah menjalani penayangan perdana dunia (world premiere) di Busan International Film Festival (BIFF) 2026, film Laut Bercerita karya sutradara Yosep Anggi Noen kini hadir di Indonesia melalui penayangan perdana yang digelar di Jakarta, Selasa (20/10). Film produksi Pal 8 Pictures yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori ini akan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.

​Berlatar Indonesia pada akhir 1990-an, Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut dan sekelompok anak muda yang berani memperjuangkan keyakinan mereka di tengah situasi penuh ketidakpastian. Namun, di balik perjuangan tersebut, film ini juga menghadirkan kisah persahabatan, cinta, keluarga, kehilangan, dan harapan yang terus hidup.

​Melalui perjalanan Biru Laut dan orang-orang terdekatnya, Laut Bercerita mengajak penonton melihat bagaimana sebuah perjuangan tidak hanya menjadi milik mereka yang berada di garis depan, tetapi juga keluarga dan orang-orang yang terus menanti, mencari, dan menjaga ingatan.

​Kisah yang Tetap Relevan Lintas Generasi

​Meski berlatar akhir 1990-an, Laut Bercerita mengangkat persoalan yang tetap relevan hingga hari ini, tentang keberanian menyuarakan keyakinan, pentingnya keadilan, serta daya tahan manusia dalam menghadapi kehilangan.

​Sutradara sekaligus penulis skenario Yosep Anggi Noen melihat kisah perjuangan anak muda dalam Laut Bercerita sebagai bagian dari pengalaman yang juga terjadi di berbagai tempat dan masa.

​"Kisah-kisah tentang gerakan anak muda yang melawan ketidakadilan dan memperjuangkan demokrasi terjadi di berbagai era dan di seluruh dunia. Penting bagi sebuah film untuk menumbuhkan kesadaran tentang perjuangan melawan kekerasan dan perjuangan menuntut keadilan," ujar Yosep Anggi Noen.

​Bagi Reza Rahadian, yang memerankan Biru Laut, kisah anak-anak muda dalam film ini juga membawa harapan tentang peran generasi muda dalam memperjuangkan masa depan yang lebih baik. 

"Film ini mewakili suara anak-anak muda dan bentuk kepercayaan bahwa kita masih menaruh harapan pada generasi muda untuk mampu bertahan, untuk menyuarakan hati nurani mereka," ujar Reza Rahadian.  

Bukan Hanya tentang Perjuangan, tetapi Juga Mereka yang Ditinggalkan  

Salah satu kekuatan cerita Laut Bercerita terletak pada bagaimana film ini menghadirkan perjuangan dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya melalui Biru Laut dan sahabat-sahabatnya di kelompok Winatra, tetapi juga melalui keluarga dan orang-orang terdekat yang harus menghadapi ketidakpastian.  

Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara memerankan Ibu dan Bapak Wibisana, ayah dari Biru Laut, sepasang orang tua yang harus menjalani penantian panjang. Sementara itu, Yunita Siregar memerankan Asmara Jati, adik Biru Laut yang berusaha mencari kebenaran sekaligus menjaga harapan keluarganya.  

Kehadiran tokoh-tokoh perempuan juga menjadi bagian penting dalam cerita. Kinan, yang diperankan Dian Sastrowardoyo, hadir sebagai salah satu pemimpin kelompok Winatra. Anjani mengekspresikan pandangannya melalui karya seni, sementara Ibu dan Asmara memperlihatkan bentuk perjuangan lain melalui penantian dan pencarian kebenaran.  

"Para perempuan di Laut Bercerita memberikan bentuk-bentuk perjuangan yang berbeda. Kinan sebagai pemimpin pergerakan yang dihormati, Anjani dengan karya seninya, Ibu, yang berjuang untuk terus menanti anaknya pulang, dan tentu saja Asmara Jati yang berjuang untuk terus mencari kebenaran. Itu adalah bentuk-bentuk menyuarakan perubahan dengan cara yang berbeda," ujar Yunita Siregar.  

Penulis novel sekaligus penulis skenario Leila S. Chudori juga menekankan pentingnya kehadiran tokoh-tokoh perempuan dalam kisah ini.  

"Saya merasa penting tokoh-tokoh perempuan di film ini ditampilkan. Sebagai sosok-sosok yang kuat dan melakukan bentuk-bentuk perjuangan mereka secara berbeda," ujar Leila S. Chudori.  

Melalui beragam karakter tersebut, Laut Bercerita memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada mereka yang berani bersuara, ada yang terus mencari, dan ada pula yang bertahan dalam penantian. Masing-masing memiliki cara untuk menjaga harapan. 

​Dari Busan Menuju Penonton Indonesia

​Perjalanan Laut Bercerita di Busan International Film Festival 2026 menjadi salah satu pencapaian penting bagi film panjang perdana Pal 8 Pictures. Setelah diperkenalkan kepada penonton internasional, film ini kini bersiap menemui penonton di Indonesia, tempat kisahnya berasal. Kisah yang berangkat dari novel dan kemudian dihidupkan melalui medium sinema ini diharapkan dapat menjangkau penonton lintas generasi, baik mereka yang telah mengenal ceritanya melalui novel maupun yang baru akan berkenalan dengan Biru Laut dan orang-orang terdekatnya.

​"Pal 8 Pictures percaya bahwa film bisa menjadi medium yang menyuarakan kebebasan berekspresi. Kami berharap melalui Laut Bercerita, kisah ini juga bisa memberikan penghormatan terhadap perjuangan dan resiliensi kita semua saat ini," ujar produser sekaligus Direktur Pal 8 Pictures Budi Setyarso.

​Bisa Bersama Laut

​Di tengah situasi di berbagai wilayah Indonesia saat ini yang tengah terdampak bencana, termasuk salah satunya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), film Laut Bercerita menggagas inisiasi galang dana bersama platform urun dana Kitabisa.com. Laut bercerita akan menggalang donasi untuk disalurkan ke para warga terdampak karhutla.

​Inisiasi ini menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap sesama warga, terutama bagi mereka yang kini sedang berjuang dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Penggalangan dana akan dimulai sejak Gala Premiere film Laut Bercerita, pada Selasa, 20 Oktober 2026, yang mengajak para tamu undangan yang hadir untuk menyisihkan sebagian dana untuk disalurkan ke warga terdampak karhutla.

​Suasana Gala Premiere juga menjadi momen untuk berefleksi pada situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Menghadirkan seni instalasi karya seniman Avianti Armand, dengan menghidupkan set film Laut Bercerita yang dituangkan dengan hangat melalui ornamen kain dengan visual Warung Bu Retno, tempat makan para kelompok Winatra, serta mural karya dari karakter dalam filmnya, Anjani.

​Film Laut Bercerita dibintangi oleh Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Pakusadewo, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, dan Afrian Afrisandy.

​Disutradarai Yosep Anggi Noen, film ini ditulis oleh Leila S. Chudori bersama Yosep Anggi Noen, serta diproduseri oleh Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S. Chudori.

​Diproduksi oleh Pal 8 Pictures bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, dan Brandlink, film Laut Bercerita tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.

​Ikuti informasi terbaru melalui akun Instagram @filmlautbercerita. 

TENTANG FILM LAUT BERCERITA

  • ​Genre: Drama, untuk penonton usia 17 tahun ke atas

  • ​Durasi: 135 menit

  • ​Tayang di Bioskop: 29 Oktober 2026

  • ​Penayangan Perdana Dunia: Busan International Film Festival 2026, Kompetisi Utama

  • ​Produksi: Pal 8 Pictures bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, dan Brandlink

  • ​Diadaptasi dari Novel: Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

  • ​Sutradara: Yosep Anggi Noen

  • ​Penulis Skenario: Leila S. Chudori dan Yosep Anggi Noen

  • ​Produser: Gita Fara, Budi Setyarso, Leila S. Chudori

  • ​Produser Eksekutif: Arif Zulkifli, FX Iwan, Tony Ramesh, Rob O'Hare, Febrian Marcel, Djulianta, Reza Rahadian, dan Arya Ibrahi

SINOPSIS

​Yogyakarta, akhir 1990-an. Biru Laut adalah seorang mahasiswa yang gemar membaca dan menulis. Di tengah situasi politik yang penuh ketegangan, ia bergabung dengan kelompok studi Winatra, tempat ia bertemu dengan anak-anak muda yang memiliki keresahan dan keyakinan serupa tentang kebebasan dan keadilan. Bersama sahabat-sahabatnya, Laut menjalani perjalanan yang menguji keberanian, persahabatan, dan keyakinan mereka.

​Sementara itu, keluarga dan orang-orang terdekat Laut harus menghadapi ketidakpastian yang mengubah kehidupan mereka. Di tengah kehilangan dan penantian, mereka berusaha menemukan jawaban sekaligus menjaga harapan.

Laut Bercerita adalah kisah tentang keberanian, persahabatan, kehilangan, serta cinta keluarga yang terus bertahan melampaui waktu.

​TENTANG PAL 8 PICTURES

​PT Layar Terkembang Senantiasa, yang dikenal sebagai Pal 8 Pictures, merupakan rumah produksi film di bawah naungan Tempo Media Group.

​Berangkat dari tradisi Tempo dalam menghadirkan jurnalisme yang kritis dan mendalam, Pal 8 Pictures mengembangkan film-film dengan cerita yang kuat dan relevan dengan persoalan masyarakat Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial, sejarah, politik, dan budaya.

​Melalui medium sinema, Pal 8 Pictures berupaya menghadirkan karya yang tidak hanya memiliki nilai artistik dan menghibur, tetapi juga membuka ruang percakapan serta refleksi bagi masyarakat.

Laut Bercerita, adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang disutradarai Yosep Anggi Noen, merupakan film panjang perdana Pal 8 Pictures.

​AKUN MEDIA SOSIAL

  • ​Instagram: @filmlautbercerita, @lautbercerita, @pal8pictures

  • ​Facebook: Film Laut Bercerita

  • ​Threads: @filmlautbercerita

  • ​Tagar: #LautBercerita #FilmLautBercerita #LautBerceritaMovie #KitaBercerita

Senin, 19 Oktober 2026

PIYE TO KIH? Resmi Luncurkan Official Poster dan Official Trailer Jelang Tayang 19 November 2026

​Press conference di Jakarta turut menghadirkan penampilan soundtrack karya Lek Dahlan bersama Mukidi, Gendut, dan Penyok.

MIRACLE Pictures meluncurkan Official Poster dan Official Trailer PIYE TO KIH? pada 19 Oktober 2026 di HALEASE Hub Co Working Space, Thamrin City Mall, Jakarta Pusat. Film tayang serentak di bioskop mulai 19 November 2026.

​Jakarta, 19 Oktober 2026 — MIRACLE Pictures resmi meluncurkan Official Poster dan Official Trailer film PIYE TO KIH? dalam press conference yang digelar di Halease Hub Co Working Space, Thamrin City Mall, Jakarta Pusat. Peluncuran ini menjadi salah satu momentum utama menuju penayangan serentak PIYE TO KIH? di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.

​Official Trailer memperlihatkan lebih utuh perjalanan Mukidi, seorang lelaki yang berusaha membuktikan dirinya pantas untuk menikah, tetapi justru mendapati hidupnya berantakan. Di tengah kegagalan itu, Mukidi bertemu Sukma — perempuan misterius dari alam yang berbeda. Pertemuan keduanya berkembang menjadi hubungan yang semakin rumit karena perbedaan mereka ternyata bukan hanya soal dunia yang mereka tempati. Keyakinan mereka pun tak sama.

​Namun PIYE TO KIH? tidak hanya berbicara tentang romantisme Mukidi dan Sukma. Film ini hadir sebagai drama dengan elemen supranatural dan sentuhan komedi, yang juga mengangkat persahabatan, keluarga, kehilangan, kejujuran, serta proses seseorang memperbaiki dirinya. Gendut dan Penyok tidak sekadar hadir sebagai sumber kelucuan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan Mukidi. Sementara keluarga menjadi salah satu fondasi emosional yang mendorong Mukidi berhadapan dengan pilihan dan konsekuensi hidupnya.

​Keruwetan hubungan Mukidi dan Sukma kemudian dirangkum lewat ungkapan yang muncul dalam komunikasi film: “Udah beda alam, beda agama pula… piye to kih?” Kalimat tersebut menggambarkan situasi yang dihadapi karakter, dengan humor yang diarahkan pada keruwetan nasib Mukidi — bukan pada keyakinan atau agama.

​PIYE TO KIH? dibintangi Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma, bersama Sutrisno Agung sebagai Gendut, Eko Dunung sebagai Penyok, Gabriella Desta sebagai Bunga, Wiyono, Rizka Oktavia, TJ Ruth, Ibnu Gundul, Marwoto, Ivonne Dahler, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, Yono Bakrie, serta pemain lainnya. Film disutradarai oleh Ito Mavin, dengan skenario karya Endik Koeswoyo dan Ito Mavin.

​Empat Lagu Original Soundtrack Karya Lek Dahlan

​Perjalanan emosional PIYE TO KIH? juga diperkuat oleh empat lagu original soundtrack yang seluruhnya diciptakan oleh Lek Dahlan: Sigaran Nyowo, Kelangan, Gemati, dan Piye To Kih?. 

JUDUL LAGU

PENCIPTA

PENYANYI

Sigaran Nyowo

    Lek Dahlan

              Lek Dahlan

Kelangan

    Lek Dahlan

              Lek Dahlan

Gemati

    Lek Dahlan

              Lek Dahlan

Piye To Kih?

    Lek Dahlan

              Mukidi, Gendut & Penyok

Lek Dahlan sekaligus menjadi penyanyi untuk Sigaran Nyowo, Kelangan, dan Gemati. Sementara lagu Piye To Kih? dibawakan oleh Mukidi, Gendut, dan Penyok. Keempat video klip soundtrack telah dirilis melalui kanal YouTube MIRACLE Pictures pada 15 Oktober 2026.

​Dalam press conference 19 Oktober, Lek Dahlan turut membawakan lagu-lagu soundtrack secara langsung. Mukidi, Gendut, dan Penyok juga tampil membawakan lagu Piye To Kih?, menjadikan musik sebagai bagian dari momentum peluncuran Official Poster dan Official Trailer.

​Roadshow 17 Kota dan Kesempatan Nonton Duluan

​Setelah peluncuran Official Trailer, PIYE TO KIH? melanjutkan perjalanan menuju penonton melalui roadshow 17 kota yang dimulai pada 22 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan di kota-kota roadshow mencakup radio interview, Meet & Greet, school visit, campus visit, serta Special Screening yang memberi kesempatan kepada audience untuk menonton PIYE TO KIH? lebih dulu bersama para cast sebelum penayangan serentak 19 November.

​Roadshow PIYE TO KIH? akan menyambangi 17 kota, yaitu Semarang, Yogyakarta, Magelang, Solo, Sragen, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar, dan Tulungagung.

​Perjalanan tersebut akan berlanjut menuju Home Premiere di Kediri pada 6 November 2026 dan National Premiere / Gala Premiere di Jakarta, pada 12 November 2026, sebelum PIYE TO KIH? tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

​Tentang PIYE TO KIH?

​PIYE TO KIH? adalah drama komedi dengan elemen supranatural. Cerita mengikuti Mukidi setelah rencananya untuk menikah berantakan dan ia bertemu Sukma, perempuan yang membawanya pada sebuah hubungan beda alam dan beda keyakinan. Pertemuan itu membawanya pada perjalanan tentang cinta, persahabatan, keluarga, kehilangan, kejujuran, dan keberanian memperbaiki hidup.

​TANGGAL TAYANG

PIYE TO KIH? — 19 NOVEMBER 2026 • TAYANG SERENTAK DI BIOSKOP INDONESIA

​Fakta Singkat

  • ​JUDUL: PIYE TO KIH?

  • ​RUMAH PRODUKSI: MIRACLE Pictures

  • ​PRODUSER: Ito Mavin

  • ​SUTRADARA: Ito Mavin

  • ​PENULIS SKENARIO: Endik Koeswoyo & Ito Mavin

  • ​GENRE: Drama Komedi dengan elemen supranatural

  • ​DURASI FILM: 108 Menit

  • ​PRODUKSI: 6 Oktober – 29 Oktober 2025

  • ​KLASIFIKASI: LSF 13+

  • ​TANGGAL TAYANG: 19 November 2026

  • ​WEBSITE: piyetokihfilm.com

Sabtu, 17 Oktober 2026

Film Siti Si Vampir Hadirkan Drama Komedi Satir yang Menertawakan Realita Kehidupan yang Lagi Serba Sulit, Satine Zaneta Pilih Jadi Vampir Elit

Tonton Siti Si Vampir di bioskop mulai 22 Oktober 2026 .

​Jakarta, 16 Oktober 2026 — Film Siti Si Vampir garapan sutradara Rahabi Mandra akan tayang mulai 22 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Menghadirkan drama komedi dengan sentuhan satir yang menertawakan realita kehidupan di tengah hidup yang serba sulit.

​Film persembahan Viddsee dan Bahagia Tanpa Drama, yang bekerja sama dengan AZ Films, Spectrum Film, dan PK Films ini mengikuti kehidupan Siti, yang diperankan Satine Zaneta, saat dihadapkan pada pilihan kesempatan mengubah nasibnya untuk lepas dari jerat kemiskinan. Namun, bayarannya ia harus meninggalkan kehidupan sebagai manusia dan berubah menjadi vampir.

​Sehari-hari, Siti membantu Bapaknya (Nugie) sebagai tukang galon. Tinggal di rusun yang sumpek, berteman dengan tukang AC, Dudi (Ajil Ditto). Satu tiket bisa mengubah hidupnya yang susah jadi mewah. Tapi, Siti harus meninggalkan Bapaknya, temannya, dan kehidupan manusia. Ia harus jadi pemangsa orang-orang rusun, menghisap darahnya demi bisa menjadi bagian dari vampir elit.

​Perjalanan Siti dari gadis rusun tukang angkat galon sampai menjadi vampir dibalut dengan komedi-komedi yang menghibur. Sekaligus merefleksikan realita kehidupan kita saat ini yang serba sulit dan penuh perjuangan, dihadirkan secara ringan dalam komedi yang mengajak kita tertawa.

​"Saya ingin menghadirkan film yang berbeda dengan cara komedi. Film ini lucu karena memang related dengan susahnya hidup. Kami ingin mengajak penonton untuk menertawakan keprihatinan sendiri agar bisa tetap survive in this economy," ujar sutradara Rahabi Mandra.

​Diproduseri oleh Kenny Png dan Celerina Judisari, film Siti Si Vampir dibintangi oleh Satine Zaneta, Ajil Ditto, Ciccio Manassero, Shania Gracia, Nugie, dan Kimberly Ryder.

​"Film Siti Si Vampir sangat relate dengan apa yang terjadi di Indonesia, dari sudut pandang tentang makna keluarga. Film ini berbicara tentang class struggle, dan kita akan berefleksi pada kehidupan Siti dan Bapaknya, apa artinya mengusahakan kesuksesan di kehidupan kita bersama keluarga, dan ada harga yang harus dibayar untuk itu semua," ujar produser Kenny Png.

​"Siti Si Vampir adalah drama komedi yang bisa memperlihatkan keadaan saat ini. Namun kami mencoba melihatnya dengan menjadi sesuatu yang bisa untuk ditertawakan bersama. Ditambah dengan sentuhan emosional antara relasi Bapak dan anak perempuannya yang lagi berjuang dengan mehidupannya, semoga setelah menonton, kita bisa benar-benar terhibur lewat sajian fresh ini," ujar produser Celerina Judisari.

​Satine, yang di film-film sebelumnya tampil sangar di genre action hingga horor, kali ini benar-benar tampil berbeda. Ia menunjukkan kepiawaian aktingnya di genre drama komedi bersama jajaran ansambel yang kuat.

​Di film ini, Satine menunjukkan sisi komedinya, dengan latar tinggal di rumah susun (rusun), juga membuat Satine harus memiliki aksen dialek yang berbeda.

​"Siti ini kan sebenarnya perempuan muda yang ambisius. Di satu sisi, dia sebenarnya naturally funny, jadi aku belajar itu juga, dibantu oleh sutradara dan pemeran lain untuk menghadirkan komedi yang natural. Peran ini memberiku perspektif yang baru lagi, dan beneran jadi cara untuk menertawakan kehidupan yang memang lagi tidak baik-baik saja," ujar Satine Zaneta.

​Selain membawa pesan tentang perbedaan kelas antara kelas sosial bawah dan kaum elit yang direpresentasikan antara warga rusun dan vampir, film Siti Si Vampir juga menghadirkan refleksi fenomena flexing demi validasi orang lain di media sosial.

​"Tidak semua hal itu harus divalidasi dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Apapun yang kita lihat di depan kamera termasuk di media sosial, belum tentu sama dengan kehidupan aslinya. Jadi kita memang tetap harus jadi diri sendiri," ujar Shania Gracia yang memerankan Stella, selebtok yang mengejar ketenaran.

​Tonton film Siti Si Vampir akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 22 Oktober 2026! Ikuti perkembangan terbaru Siti Si Vampir melalui akun Instagram resmi @viddseeid, @bahagiatanpadrama dan @filmsitisivampir.

​***

​Sinopsis

Siti (Satine Zaneta), gadis rusun yang menjadi tulang punggung keluarganya, berubah menjadi vampir akibat "salah gigit" Nakkula (Ciccio Manassero), vampir tampan yang memikat hatinya. Meski menjadi vampir low-spec dengan taring terbalik dan kekuatan tanggung, Siti melihat perubahan ini sebagai kesempatan untuk lepas dari kesehariannya yang serba pas-pasan. Namun, ketika rusunnya menjadi target "panen" vampir, Siti harus memilih antara mengikuti sistem atau melawannya. 

JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank Umumkan 11 Proyek Film dan 10 IP Terpilih

  • ​JAFF Future Project memilih 11 proyek film panjang, termasuk satu proyek Australia melalui kemitraan dengan Adelaide Film Festival (AFF).

  • ​JAFF IP Connection menghadirkan 10 kekayaan intelektual (IP) terpilih, termasuk dua IP Korea melalui kemitraan dengan Asian Contents Film Market (ACFM).

  • ​Kedua program mempertemukan sineas dan perwakilan IP dengan calon mitra pengembangan, adaptasi, pendanaan, produksi bersama, serta distribusi pada JAFF Market, 28–30 November 2026, di Yogyakarta.

​Yogyakarta, Indonesia 16 Oktober 2026 — JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank mengumumkan 11 proyek film panjang terpilih untuk JAFF Future Project (JFP) dan 10 kekayaan intelektual untuk JAFF IP Connection (JIPCon). Pengumuman ini menempatkan pengembangan film dan adaptasi IP sebagai bagian penting dari penyelenggaraan JAFF Market yang memasuki tahun ketiga.

​Seleksi tersebut mencakup satu proyek film Australia melalui kemitraan dengan Adelaide Film Festival (AFF), berkolaborasi dengan mylab, serta dua IP Korea melalui kemitraan dengan Asian Contents Film Market (ACFM).

​Kedua program akan berlangsung dalam rangkaian JAFF Market pada 28–30 November 2026 di Yogyakarta. Produser dan pelaku industri dapat menjajaki film dalam berbagai tahap pengembangan, sekaligus menemukan cerita, karakter, dan dunia penceritaan yang berpotensi diadaptasi menjadi karya audiovisual.

​JFP tahun ini menghadirkan proyek baru dari sejumlah sineas, antara lain Boo Junfeng, M. Raihan Halim, dan Sidharta Tata, bersama para pembuat film Indonesia yang tengah mengembangkan karya mereka. Di antaranya adalah sutradara perempuan Ninndi Raras dan Dian Tamara yang sedang mempersiapkan debut film panjang. Meliputi film fiksi dan animasi, proyek-proyek terpilih mengangkat persoalan keluarga, identitas, keyakinan, ingatan, dan migrasi melalui beragam pendekatan, dari drama personal hingga eksplorasi sinema genre.

​Judul-judul yang terpilih adalah aLPa (ABSENCE) karya Dhiwangkara Seta; Orphaned Atlas karya Timoteus Anggawan Kusno; A Quiet Sunshine karya Ninndi Raras; Primal karya Rein Maychaelson; Pupus: The Orchid of Merapi karya Yudhatama Fajar Nugroho; Somewhere Between karya Dian Tamara; Slaughterground karya Sidharta Tata; Luz and Flor karya Glenn Barit; The Smuggler karya M. Raihan Halim; serta Trinity karya Boo Junfeng.

​Melengkapi jajaran 11 proyek tersebut adalah Wreck and Ruin karya Rosie Lourde yang berpartisipasi melalui kemitraan dengan AFF.

​Keikutsertaan proyek Australia itu melanjutkan kolaborasi JAFF Market, AFF, dan mylab dalam JFP. Kerja sama ini membuka ruang bagi tim pembuat film Australia untuk membangun hubungan dengan produser dan perusahaan di Indonesia serta kawasan Asia, termasuk menjajaki kolaborasi kreatif, skema produksi bersama, dan akses menuju penonton di berbagai negara.

​"Kemitraan kami dengan JAFF Market dan mylab memberi kesempatan kepada sineas Australia untuk terhubung dengan jejaring kreatif dan produksi di kawasan ini ketika proyek mereka masih dalam tahap pengembangan," ujar Mat Kesting, CEO dan Direktur Kreatif Adelaide Film Festival. "Kami ingin pertukaran ini menjadi landasan yang lebih kuat bagi kolaborasi, dengan mempertemukan tim pembuat film dan mitra yang dapat berkontribusi pada pengembangan, pendanaan, serta perjalanan internasional film mereka."

​Kolaborasi dalam JFP menekankan pentingnya membangun hubungan sejak tahap awal pengembangan proyek. Pada tahap tersebut, pertukaran gagasan antara sineas dan calon mitra masih dapat turut membentuk arah kreatif maupun pendekatan produksinya.

​"Kolaborasi internasional dimulai dari pemahaman terhadap visi seorang sineas dan kontribusi yang dapat diberikan setiap mitra kepada proyek tersebut," kata Lorna Tee, Pendiri mylab. "Melalui kolaborasi dengan JAFF Market dan Adelaide Film Festival, kami ingin mempertemukan tim pembuat film Australia dengan produser di Indonesia dan kawasan Asia, serta membangun hubungan yang dapat membentuk karya mereka dan berlanjut setelah pasar berakhir."

​Selain proyek film, JIPCon menghadirkan IP terpilih yang mencakup komik dan animasi. Program ini mempertemukan kreator dan perwakilan IP dengan produser yang tengah mencari materi untuk dikembangkan menjadi film maupun serial. Pertemuan tersebut membuka pembahasan mengenai adaptasi, hak pemanfaatan IP, dan kemitraan produksi.

​Enam IP Indonesia yang terpilih adalah Komarong karya Gilang Bhagaskara; Mantra karya Sigit Ezra Prayoga; Darah di Atas Salju (Blood Upon the Snow) karya Dedy; Lao Sam 1892 karya Toni Masdiono; Hati-Hati Ada Dua Hati karya Ario Tamat; serta Yuuko's Gloomy Days karya Anwita Citriya. Turut bergabung adalah Disposable Dolly karya Ben Liu dari Taiwan, dan Cat Rental Company karya Maka (Zhou Lishu) dari Hong Kong.

​Dua IP Korea, yakni My Upstairs Neighbors yang diwakili Clayhouse Inc. dan Friend Request yang diwakili Ryoung Studio, akan berpartisipasi melalui kemitraan JAFF Market dengan ACFM, melengkapi 10 IP terpilih.

​Kehadiran IP dari Korea, Hong Kong, dan Taiwan memperluas jangkauan regional JIPCon sekaligus membuka kesempatan bagi produser Indonesia dan internasional untuk menjajaki kerja sama dengan para perwakilannya. Pembahasan akan berfokus pada peluang adaptasi dan pengembangan bersama agar cerita dapat menjangkau pasar lain, dengan mempertimbangkan karakter materi serta calon penontonnya.

​JFP mempertemukan tim proyek dengan calon mitra sesuai tahap dan kebutuhan masing-masing film, mulai dari pengembangan dan pendanaan hingga pascaproduksi serta distribusi. Sementara itu, JIPCon membuka percakapan antara produser dan perwakilan IP untuk menemukan kesamaan visi dalam adaptasi. Kehadiran kedua program dalam pasar memberi pelaku industri lebih banyak pilihan untuk menemukan cerita dan memulai pengembangan proyek.

​"Kami ingin produser datang ke JAFF Market dengan mengetahui bahwa mereka dapat menemukan film yang sedang dikembangkan sekaligus IP orisinal yang berpotensi diadaptasi ke layar," ujar Linda Gozali, Direktur JAFF Market. "JFP dan JIPCon mempertemukan sineas serta perwakilan IP dengan mitra yang dapat berkontribusi secara kreatif, membantu menyusun pendanaan, dan menghubungkan cerita dengan penonton. Tujuan kami adalah mengembangkan pertemuan tersebut menjadi kolaborasi berkelanjutan sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai mitra kreatif dan produksi."

​Proyek dan IP terpilih juga akan menjadi bagian dari pertemuan terkurasi dalam Producers Exchange yang untuk pertama kalinya diselenggarakan JAFF Market. Para produser peserta akan dipertemukan dengan tim JFP, perwakilan JIPCon, peserta pameran, dan delegasi industri untuk memperluas peluang kerja sama.

​Melalui JFP, JIPCon, dan Producers Exchange, JAFF Market menghubungkan penemuan cerita dengan kebutuhan pengembangan, pendanaan, produksi, serta distribusi film lintas negara. Kemitraan Australia dalam JFP dan Korea dalam JIPCon turut membuka jalur pertukaran regional serta mempererat hubungan industri film Indonesia dengan mitra internasional.

​Tentang JAFF & JAFF Market:

​Didirikan pada tahun 2006 sebagai respons terhadap perkembangan distribusi digital di awal 2000-an, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) telah menjadi platform penting dalam memperkuat ekosistem sinema di Yogyakarta dan Indonesia. Lebih dari sekadar festival film, JAFF berfungsi sebagai pusat pembelajaran, pertukaran budaya, serta wadah bagi sineas Asia untuk berkembang.

​Seiring berkembangnya distribusi digital secara global, Indonesia menjadi salah satu pasar film terbesar di Asia Tenggara, yang menuntut kehadiran sineas dan tenaga profesional berkualitas. Dari kebutuhan ini, lahirlah JAFF Market sebagai hub industri untuk menghubungkan sineas, talenta baru, kreator konten, investor, institusi film, media, dan komunitas film.

​Kini, sebagai gerbang menuju kencangnya laju industri film Indonesia, JAFF Market menjadi pasar film terbesar di Asia Tenggara yang membuka peluang kerja sama dan bisnis lintas sektor industri. Dengan berbagai program unggulan, JAFF Market terus berkembang sebagai event industri terkemuka yang mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem film Indonesia yang dinamis.

​Bersiaplah untuk JAFF (28 November - 5 Desember 2026) dan JAFF MARKET 2026 (28 - 30 November 2026) – Let's Shape the Future of Asian Cinema!

Jumat, 16 Oktober 2026

The Doll Ghawiah: Babak Baru Teror Boneka Animatronik Tercanggih Padukan Horor, Thriller, dan Action


Jakarta 16 Oktober 2026 — The Doll Ghawiah merupakan film yang ditunggu penonton film horor Indonesia dengan media boneka yang terus meneror penontonnya. Sebagai sebuah prekuel, film ini membedah akar sejarah pemicu teror di semesta The Doll.

Film The Doll Ghawiah berbeda dari film sebelumnya, di mana boneka yang di hadirkan lebih mutakhir dari boneka sebelumnya. Kelebihan boneka Ghawiah dari boneka sebelumnya adalah dengan looks, baju, dan animatronics yang lebih maju dari sebelumnya, boneka ini lebih berekspresi, Ini semua Guna memberikan teror yang berbeda. Rocky Soraya selaku produser Hitmaker Studios memesan langsung pembuatan boneka dari Bali serta animatronics dari Amerika, dengan budget miliaran.

Dalam hal penggarapan cinematografinya, film The Doll Ghawiah di percayakan kepada sutradara Guntur Soeharjanto yang sangat handal di dunia perfilman. Guntur memberikan signature atau ciri khas yang beda dan kuat dari The Doll sebelum-sebelumnya sehingga pendekatan atmosfir dibangun agar penonton bisa merasakan aura menyeramkan bahkan sebelum wujud bonekanya terlihat.

Hitmaker Studios selalu serius dalam membuat film sehingga menghasilkan film yang berkualitas. Ini dibuktikan salah satu adegan puncak atau final battle dikemas secara megah dengan pembangunan set rumah kaca besar yang dihancurkan secara dramatis.


Kombinasi racikan elemen horor, thriller, dan action menjadikan The Doll Ghawiah sebagai babak paling menegangkan yang tidak boleh dilewatkan untuk di tonton di bioskop. 

Film The Doll Ghawiah akan tayang seretak di bioskop tanggal 29 Oktober 2026 dan akan tayang juga dalam format IMAX demi menyajikan pengalaman visual dan audio yang jauh lebih intens serta menegangkan.

Sinopsis Film The Doll Ghawiah


Mengambil latar tahun 1988, kisah bermula ketika pasangan suami istri Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal) memutuskan pindah dari Jakarta ke kawasan Babakan Siliwangi, Bandung.

Langkah ini diambil bersama kedua buah hati mereka, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane), untuk merintis lembaran hidup baru usai bisnis keluarga bangkrut. Namun, niat mencari ketenangan justru berubah menjadi teror mistis tiada akhir setelah Nala tak sengaja bertemu anak misterius di dalam hutan yang memberinya sebuah boneka bernama Ghawiah.

Usut punya usut, nama Ghawiah memiliki arti harfiah 'tersesat'. Boneka ini bersemayam jiwa-jiwa terluka yang memicu serangkaian kejadian janggal di rumah baru mereka.


Melalui penuturan Laras (Sara Wijayanto), seorang pelayan restoran lokal, terungkap legenda tragis sosok arwah anak bernama Uci yang tewas akibat kecelakaan tabrak lari di Jalan Siliwangi dua tahun sebelumnya.

Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Berlangganan Bersama di Indonesia

Satu pembelian memberikan akses ke dua layanan, dengan pilihan drama, film, variety show, dan microdrama dari berbagai negara Asia

Jakarta, 16 Oktober 2026 — Viu dan iQIYI International mengumumkan peluncuran paket berlangganan bersama di Indonesia. Melalui paket ini, pelanggan dapat memperoleh manfaat keanggotaan di kedua layanan dalam satu pembelian, sehingga lebih mudah menikmati beragam hiburan Asia.

Peluncuran di Indonesia merupakan bagian dari peluncuran di empat pasar Asia Tenggara, yaitu Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Paket ini menjadi kelanjutan dari kolaborasi Viu dan iQIYI International yang pertama kali diumumkan pada ajang APOS 2026.

Paket berlangganan tersedia melalui situs web Viu maupun iQIYI International. Pelanggan tetap menggunakan akun terpisah untuk masing-masing layanan dan menonton melalui platform masing-masing. Pilihan tayangannya mencakup drama Korea, drama China, produksi lokal, film, variety show, hingga microdrama.
 
Pilihan tayangan di Viu

Melalui Viu, pelanggan dapat menikmati Viu Originals, drama Korea, variety show, serta berbagai hiburan Asia. Sejumlah tayangan yang akan hadir antara lain Viu Original Korea Oh! My Guard pada 24 Oktober, sekuel drama hukum Good Partner 2, serta One of a Kind Romance yang memadukan komedi romantis dan thriller.

Pilihan produksi lokal dan regional mencakup thriller kidNap GAME yang baru diluncurkan, drama Malaysia Nowhere To Hide yang memadukan misteri, kriminal, dan romansa mulai 22 Oktober, serta horor-thriller Thailand The Rules mulai 28 Oktober. Viu juga menghadirkan microdrama Original High School Assassins.
 
Untuk penggemar variety show, tersedia Love in the Moonlight: Redrawn, Whenever Possible Season 5, dan Sixth Sense: B-Side. Tayangan tersebut melengkapi koleksi Viu yang mencakup genre romansa, misteri, kriminal, horor, dan thriller supernatural.

 
Pilihan tayangan di iQIYI International

Dalam iQIYI International, pelanggan dapat menikmati drama China dan produksi lokal dari berbagai negara. Pilihannya mencakup Spring of the Blade, drama berlatar kostum yang mengangkat kisah romansa dan balas dendam; Original Thailand Fool in Love; Original Malaysia Sekali Lagi Bahagia; serta iQIYI Original Indonesia Bercinta Dengan Maut (The Other Sister) yang mengangkat kisah cinta terlarang.

Sejumlah drama China yang akan hadir meliputi Love in Red Dust, romansa berlatar kostum dengan unsur komedi ringan dan ketegangan; Yunchu’s Vengeance, kisah tentang kelahiran kembali dan balas dendam; serta When I Meet The Moon, cerita cinta tentang perjalanan menuju kedewasaan.

Selain tayangan baru, pelanggan dapat menjelajahi katalog iQIYI International yang mencakup ribuan serial, termasuk Pursuit of Jade, The Best Thing, dan Key to the Phoenix Heart.

 
Cara berlangganan dan mengakses layanan

Pelanggan dapat membeli paket bersama ini melalui situs web Viu atau iQIYI International. Setelah menyiapkan akun pada masing-masing platform, pelanggan dapat mengakses tayangan di kedua layanan secara terpisah.

Informasi mengenai pengaturan akun, penagihan, dan pengelolaan langganan tersedia melalui pusat bantuan Viu dan iQIYI International.

Ketersediaan konten, manfaat keanggotaan, fitur, dan kompatibilitas perangkat dapat berbeda menurut platform dan negara.

 
***
 
Tentang Viu

Viu merupakan layanan streaming video over-the-top (OTT) yang tersedia di berbagai pasar di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Selatan. Viu menawarkan dua pilihan layanan, yaitu akses gratis dengan iklan dan langganan premium.

Selain produksi original dengan merek Viu Original, Viu menghadirkan serial televisi, film, dan program gaya hidup dari penyedia konten lokal maupun regional, dalam berbagai bahasa dan dilengkapi takarir. Melalui Viu Scream Dates, Viu juga menghadirkan acara temu penggemar di berbagai negara untuk mempertemukan bintang dengan para penggemarnya secara langsung.

Perusahaan induk Viu, Viu International Limited, turut mengoperasikan MOOV, layanan streaming musik digital dan konser langsung di Hong Kong. Viu merupakan bagian dari PCCW Media di bawah PCCW Limited, perusahaan global yang berkantor pusat di Hong Kong.

 
Informasi lebih lanjut tersedia di www.viu.com.


Tentang iQIYI International

iQIYI, Inc. merupakan penyedia layanan hiburan video daring di China yang memproduksi, menghimpun, dan mendistribusikan berbagai konten profesional. Perusahaan ini mengembangkan layanan hiburan dengan dukungan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan analisis data.

Untuk penonton global, iQIYI menghadirkan iQIYI International melalui www.iq.com dan aplikasi internasional, dengan serial serta film Asia sebagai sajian utama. Layanan ini tersedia di lebih dari 190 wilayah dan menyediakan antarmuka serta takarir dalam 13 bahasa.

Katalog iQIYI International mencakup lebih dari 1.700 serial drama, variety show, dan anime, serta 2.000 film. Operasional internasionalnya dikelola melalui kantor pusat di Beijing dan Singapura, dengan kantor lokal di Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Amerika Utara.

Zona Merah Meluas! Film Zombie Terbesar Indonesia Resmi Rilis Teaser Trailer, Siap Tayang di Bioskop 14 Januari 2027

​Jakarta, 16 Oktober 2026 – Screenplay Films secara resmi meluncurkan teaser trailer perdana dari film layar lebar terbarunya yang paling dinantikan, Zona Merah. Mengangkat skala ancaman mayit atau zombie ke tingkat yang jauh lebih masif dan mencekam, karya ini siap mengukuhkan posisinya sebagai film zombie terbesar dalam perfilman Indonesia dan dijadwalkan meneror seluruh jaringan bioskop mulai 14 Januari 2027.

​Melalui format layar lebar, film Zona Merah akan menceritakan perjalanan bertahan hidup sekelompok manusia dalam skala yang jauh lebih besar dan epik. Produser Screenplay Films, Wicky V. Olindo, menegaskan komitmen besar di balik proyek ambisius ini. "Sebagai salah satu produksi paling ambisius yang pernah kami lakukan, kami ingin membawakan pengalaman menonton yang luar biasa untuk semua orang, bukan hanya fans dari serial Zona Merah."

​Serangan Mayit Meluas dari Pelosok hingga Jantung Kota

​Cuplikan teaser trailer yang baru dirilis memperlihatkan pengalaman diserbu mayit hidup yang sangat menegangkan. Skala produksi nya digarap total, di mana serangan wabah tidak lagi terbatas di pedesaan, melainkan merangsek ke tengah kota besar, pusat perbelanjaan, hingga bandar udara.

​Dua kreator orisinal, Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa, kembali memegang kendali penggarapan untuk menyajikan pengalaman sinema zombie yang belum pernah ada sebelumnya di industri film Indonesia.

​Sutradara Sidharta Tata menyampaikan kesungguhan proses kreatif di balik layar. "Kami benar-benar all out dalam membuat film Zona Merah. Tiga kota, ratusan extras, dan berbagai lokasi syuting yang luar biasa."

​Kabar baik bagi para pengunjung Synchronize Fest 2026, teaser trailer ini akan diputar sepanjang tiga hari acara, empat kali sehari di empat stage berbeda, lengkap dengan kejutan kehadiran mayit yang langsung di area acara.

​Kekuatan Ansambel Pemain Lama dan Karakter Baru

​Kekuatan cerita Zona Merah kembali ditopang oleh jajaran aktor dan aktris ternama Aghniny Haque, Andri Mashadi, Devano, Maria Theodore, dan Lukman Sardi. Kehadiran mereka diperkuat oleh deretan pemain baru yang memberikan energi segar, meliputi Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, Derby Romero, serta Luna Maya yang turut mengambil peran ganda di depan kamera sekaligus sebagai Executive Producer.

​Jadwal Tayang dan Saluran Informasi

​Wabah Zona Merah akan meluas ke seluruh bioskop Indonesia mulai 14 Januari 2027. Perkembangan informasi terbaru mengenai film ini dapat diakses secara berkala melalui akun media sosial resmi @filmzonamerah dan @screenplayfilms_id. 

Mengenal Vanessa Simorangkir, Top 4 Indonesian Idol yang Debut Akting di Film Musikal Batak Produksi Imajinari, PULANG KAMPUNG

​Setelah menembus Top 4 Indonesian Idol musim ke-13 (2024–2025), Vanessa Simorangkir kini bersiap menyapa penonton lewat layar lebar. Ia dip...