Senin, 05 Oktober 2026

Madani International Film Festival 2026 Angkat Tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”

Digelar 7–11 Oktober 2026, Madani Fest menghadirkan film, musik, diskusi, pertunjukan, serta kolaborasi puluhan komunitas di berbagai ruang di Jakarta

​Jakarta, 5 Oktober 2026 – Madani International Film Festival kembali hadir pada 7–11 Oktober 2026 dengan mengangkat tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”. Tahun ini, Madani Fest memperluas perjumpaan antara film, gagasan, seni, kota, dan komunitas melalui rangkaian pemutaran film, diskusi, master class, pameran, pertunjukan, peluncuran buku, hingga program kolaboratif yang berlangsung di berbagai ruang di Jakarta.

​Madani International Film Festival merupakan festival film dan kebudayaan yang menempatkan budaya sinema sebagai ruang perjumpaan yang inklusif. Festival ini juga mengembangkan platform kolaborasi komunitas bernama Jamaah Sinema Madani, yang menjadi ruang komunikasi dan koordinasi kegiatan berbasis budaya sinema sepanjang tahun.

​Pada penyelenggaraan tahun ini, istilah “Rimpang” dipilih untuk menggambarkan sesuatu yang tumbuh dengan cara menjalar, bercabang, dan membentuk hubungan tanpa harus bertumpu pada satu pusat. Tema tersebut berangkat dari karakter perkembangan kota seperti Jakarta yang membangun ruang dan kehidupan secara menyebar, sekaligus menjadi metafora bagi cara pengetahuan yang non-linear dan tidak hirarkis. Rimpang juga merujuk pada tanaman seperti jahe dan kunyit yang secara tradisional lekat dengan manfaat kesehatan—melahirkan gagasan utama festival tahun ini: menjalar dan menyembuhkan.

​"Implementasi rimpang dalam programming film tahun ini wujudnya adalah keterhubungan. Kita tidak cuma menayangkan film dari satu kawasan, tapi menghubungkan film-film Asia Tenggara, program Indies World, Madani Kids untuk penonton muda, hingga kolaborasi lintas lembaga seperti Madani x ACFFest KPK. Semua elemen menjalar dan saling memutus sekat." — Ahmad Rifky (Festival Director)

​"Gerakan rimpang ini sendiri lahir dari kebutuhan yang ada hari ini di dunia. Kebetulan sekali Tema Madani kali ini kan memang 'Rimpang'. Jadi sebuah gerakan yang benar-benar persis kayak rimpang, kayak akar-akarnya itu. Jadi dia enggak tumbuh ke atas aja satu, tetapi menjalar, saling menopang, dan menguatkan dari dalam tanah." — Inayah Wahid (Board Madani Fest)

​Dari Film menuju Gagasan tentang Kota dan Masyarakat

​Madani Fest mengembangkan programnya melalui empat matra utama, yakni Living Islam, Civic (Madani), Civilization (Tamaddun), dan City (Madinah).

​Melalui Living Islam, festival menghadirkan film, narasi, serta gagasan tentang Islam sebagaimana dialami dalam kehidupan sehari-hari oleh berbagai kelompok masyarakat. Dimensi Civic berfokus pada kewargaan, aktivasi komunitas, dan penguatan masyarakat sipil. Sementara itu, Civilization menjadi ruang penjelajahan etika, pengetahuan, serta kesenian melalui diskusi, lokakarya, master class, pameran, dan pertunjukan. Adapun City melihat kota sebagai ruang hidup yang dapat dibaca kembali melalui aktivitas, ruang, serta mobilitas keseharian.

​"Salah satu yang menarik adalah kita melatih diri untuk menyebutnya bukan 'Timur Tengah', tetapi 'Asia Barat'. Karena 'Timur Tengah' itu istilah eurosentris dan kolonial—timur dari mana? Timur dari negara-negara Barat. Melalui perspektif rimpang, kita belajar merebut kembali cara kita memandang kawasan dan sejarah kita sendiri." — Cholil (Co-Programmer Madani Fest)

​Karena itu, program Madani Fest 2026 tidak berhenti pada pemutaran film. Festival tahun ini menghadirkan tiga rumpun besar program, yaitu Ideas, Film, dan Performance. Di dalamnya terdapat diskusi, workshop, master class, pameran, peluncuran dan bedah buku, musik, teater, monolog, tari, kompetisi film pendek, retrospeksi, serta berbagai program hasil kolaborasi.

​Efek Rumah Kaca hingga Haddad Alwi

​Salah satu program khusus tahun ini adalah co-programming bersama Efek Rumah Kaca (ERK). Efek Rumah Kaca yang memainkan set Rimpang mengajak teman-teman yang dengan liat melakukan perlawanan di sana sini. Sebagai kurator, ERK juga mengajak Harlan Boer, Bing Renang, Denisa, Adrian Yunan, Bin Idris, Dialita, Made Mawut, dan Surise WP. ERK juga mengajak seniman bebunyian eksperimental seperti Division Fracture, IcutNoise, Hvft, Wangun, Individual Distortion, dan Sawah Penderitaan. Selain itu beberapa film yang punya hubungan kuat dengan semangat rimpang dan musik akan kami sajikan seperti Galura Tropikalia Alive tentang grup band The Panturas, A Distorted Individual tentang obsesi musisi noise untuk mendapatkan AMI Awards, Muman Minggil tentang bagaimana grup Mambesak mencoba mengabadikan lagu dan bahasa rakyat Papua, dan film Sekeping Kenangan tentang upaya mengabadikan lagu-lagu yang diciptakan para tahanan politik di Bali.

​Madani Fest 2026 juga menghadirkan program Madani x Mizan x Kenduri Cinta, berupa penampilan khusus Haddad Alwi bersama Kiai Kanjeng, pemutaran film dokumenter Haddad Alwi, serta diskusi bersama Haddad Alwi dan Sabrang.

​Dalam ranah musik, program Nasjidmorphosis akan melihat perkembangan nasyid melalui format performance lecture dan perbincangan bersama sejumlah nama, di antaranya Opick, SNADA, Izzatul Islam, Ebieth Beat A, dan Agus Idwar.

​Membaca Kembali Tokoh, Sejarah, dan Kebudayaan

​Sejumlah program Madani Fest tahun ini juga dirancang sebagai ruang untuk membaca ulang tokoh dan warisan kebudayaan.

​Festival akan memperingati 100 Tahun Asrul Sani melalui pameran, pemutaran film, serta diskusi bersama Eric Sasono dan Umi Lestari. Program lain memberikan penghormatan kepada Yuki Aditya melalui retrospeksi film, diskusi, dan pameran arsip bekerja sama dengan Arkipel serta Forum Lenteng.

​Sementara itu, Madani Fest bersama UIN Jakarta mengangkat 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, melalui pemutaran dokumenter Syekh Yusuf Al-Makassari: In the Blessing of Ceylon serta diskusi tentang perlawanan dan warisan intelektual-spiritualnya.

​Program bersama COMPOSE UIII juga menghadirkan penghormatan kepada John L. Esposito melalui diskusi bertajuk "Islamophobia: Myth or Reality? An Espositian Critique", dengan Putut Widjanarko, Zainal Abidin Bagir, dan Ridwan Al-Makassary.

​Madani Talks: Membaca Isu Kontemporer dari Banyak Perspektif

​Rangkaian Madani Talks tahun ini akan mempertemukan beragam isu dan disiplin.

​Salah satunya adalah Intersectionality of Muslim Women in Indonesia bersama Feby Indirani, Neng Dara Affiah, dan Anis Hidayah, yang menghadirkan pembacaan tentang pengalaman perempuan Muslim di Indonesia.

​Program lain mencakup Alih Wahana Novel Islam ke Film bersama Helvy Tiana Rosa dan Inaya Rakhmani, serta Membaca Betawi dalam Musik bersama rapper Betawi Kojek dan pengamat musik Stanley Tulung.

​Festival juga menjadwalkan diskusi Untold Story: Global Sumud Flotilla bersama Bambang Noroyono, Wanda Hamidah, dan Thoudy Badai.

​Festival yang Menjalar melalui Kolaborasi

​Semangat "Rimpang" juga tampak melalui jaringan kolaborasi Madani Fest 2026. Sedikitnya 35 komunitas dan institusi tercantum sebagai mitra kolaborasi festival, mulai dari Kenduri Cinta, Arkipel, Forum Lenteng, perguruan tinggi, komunitas buku dan seni, hingga Mizan Pictures.

​Berbagai bentuk kolaborasi tersebut menghasilkan program yang beragam, seperti dramatic reading dari buku Tubuh yang Tumbuh karya Feby Indirani bersama Teater Ghanta; pemutaran film Anti-Corruption Film Festival bersama KPK; pemutaran dan workshop bersama Festival Film Santri; peluncuran buku bersama Marjin Kiri; hingga aktivitas bersama Jakarta Book Party, Cafe Rumi, Majelis Sayur, Alitra Publishing, Analooks.id, dan Kaiku.id.

​Dengan pendekatan tersebut, Madani Fest ingin menghadirkan festival sebagai jaringan yang hidup—bukan hanya berlangsung di dalam ruang pemutaran, tetapi juga tumbuh melalui percakapan dan kolaborasi antarkomunitas.

​Film dari Berbagai Belahan Dunia

​Sebagai festival berbasis sinema, program film tetap menjadi salah satu jantung Madani Fest 2026. Film The Stories (2025) dijadwalkan menjadi film pembuka, sementara Chronicles from the Siege (2026) menjadi film penutup.

​Program tahun ini mencakup puluhan judul film dari berbagai negara dan perspektif, antara lain Cutting Through Rocks, A Fox Under a Pink Moon, The Worker's Cup, Shape of the Moon, Cotton Queen, Position Among the Stars, Black Rabbit, White Rabbit, The President's Cake, Edward Said Between Worlds, serta Rehearsals for a Revolution.

​Sejak 2022, Madani Fest juga membuka pengiriman film dari filmmaker berbagai negara melalui FilmFreeway. Pada 2026, festival menerima 1.546 film. Dalam materi festival disebutkan bahwa setiap tahunnya karya yang masuk berasal dari lebih dari 100 negara.

​Madani Fest 2026 juga akan memberikan Madani Award dalam tiga kategori: Tokoh Madani 2026, Madani Kids Award 2026, dan Film Madani Award 2026.

​Tentang Madani International Film Festival

​Madani International Film Festival merupakan festival film dan kebudayaan yang diinisiasi oleh Mizan dan Pabrik Kultur, berfokus pada budaya sinema, kehidupan masyarakat Muslim, kewargaan, peradaban, serta kota. Melalui pemutaran film, diskusi, seni pertunjukan, pendidikan, dan kerja bersama komunitas, Madani Fest mengembangkan ruang perjumpaan lintas perspektif dan disiplin.

​Madani International Film Festival 2026

Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan

7–11 Oktober 2026

​Informasi program selengkapnya: madanifilmfestival.com

​Lampiran:

​RIMPANG (RHIZOME)

​rim·pang 1 n umbi (akar) yang bercabang-cabang seperti jari (tentang kunyit, halia); pizom; 2 a renggang jaraknya (tentang jari kaki)

​rhizome (/ˈraɪzoʊm/ RY-zohm) is a modified subterranean plant stem that sends out roots and shoots from its nodes.

​Madani Fest 2026 sebagai festival budaya berbasis sinema dunia Islam mengangkat tema Rimpang/Rhizome.

​Tema ini merujuk pada watak perkembangan kota seperti Jakarta yang membangun ruang dan kehidupan secara menjalar, merimpang. Tema ini juga bermakna sebuah watak keilmuan alternatif yang non-linear dan tidak hirarkis sebagai modalitas budaya di dunia pasca-genosida yang multipolar atau tidak lagi memusat di Barat.

​Kata ini secara persis tidak ada padanan dalam bahasa Arab. Sebagian kamus menunjuk pengertian "akar" yang dalam bahasa Arab modern, misalkan dalam ilmu botani, Rizhome diserap menjadi الجذور (Al-Jidhmur). Ada juga kata ساق أرضية (Saq Ardiyyah) yang bermakna "batang bawah tanah". Dalam bahasa Arab klasik/sastrawi, ada dua kata metaforik yang bermakna mirip: أصل (Ashl), yang jadi muasal kata "asli" dalam bahasa Indonesia; dan عرق (Irq), yang bermakna "urat" dan "akar".

​Dalam Al-Qur'an, tidak ada kata sepadan Rimpang, tapi ada sebuah tanaman yang masuk salah satu jenis Rhizoma, yakni jahe, atau زنجبيل dalam QS. Al-Insan: 17, minuman surgawi. Jahe, sebagaimana kunyit dan berbagai herbal bahan jamu, secara tradisional dianggap mengandung manfaat kesehatan.

​Itulah makna lain dari "Rimpang": tanaman yang menjalar, dan menyembuhkan.

​By: Hikmat Darmawan (Madani Board Festival)

Minggu, 04 Oktober 2026

GLITTER CAMP LIVE CONCERT 2026 SUKSES DIGELAR, JADI MOMEN SPESIAL GLITTER BERTEMU LANGSUNG DENGAN LEBIH DARI 1.000 GLITZ

Bawakan 20 Lagu, Hadirkan Quinn Salman dan Arinaga Family, hingga Tutup Konser dengan Pemutaran Perdana Music Video Terbaru

Jakarta, 3 Oktober 2026 — Grup musik anak Glitter merayakan perjalanan mereka melalui Glitter Camp Live Concert 2026 yang berlangsung di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (3/10). Konser ini menjadi momen spesial bagi Glitter untuk bertemu dan tampil secara langsung bersama para Glitz, sebutan bagi penggemar Glitter. Terdiri dari Callista, Luna, Mia, dan Kimmy, Glitter sukses tampil secara langsung di hadapan lebih dari 1.000 Glitz.

Grup musik anak yang dibentuk oleh Trinity Optima Production sejak 2023 ini, sepanjang konser, menghadirkan rangkaian penampilan yang memadukan lagu, dance, solo performance, hingga berbagai segmen kolaborasi bersama guest star. Membawakan total 16 lagu dari keseluruhan 20 lagu dalam konser. Penampilan tersebut turut diramaikan oleh Quinn Salman yang membawakan satu lagu dan Arinaga Family】 dengan tiga lagu. Kehadiran kedua guest star ini turut memberikan warna baru dalam pertunjukan dan menghadirkan momen kebersamaan yang berbeda bagi para Glitz.

"Kami senang banget akhirnya bisa punya kesempatan untuk mengadakan konser dan bertemu langsung dengan Glitz. Selama ini kami bisa berinteraksi dengan Glitz lewat berbagai kesempatan, tapi bisa melihat dan bernyanyi bersama mereka secara langsung di satu panggung rasanya berbeda dan sangat spesial. Kami juga senang sekali karena Kak Quinn Salman dan Arinaga Family bisa ikut hadir dan memberikan warna baru di konser ini," ujar seluruh member Glitter; Callista, Luna, Mia, dan Kimmy.


Lebih dari sekadar pertunjukan musik, Glitter Camp Live Concert 2026 juga menghadirkan beragam sajian panggung yang menunjukkan kemampuan dan karakter masing-masing personel Glitter. Selain bernyanyi dan menari bersama, keempat member mendapat kesempatan untuk tampil secara solo melalui lagu-lagu populer dari film animasi, sebelum kembali tampil bersama dalam sejumlah medley dan lagu anak-anak.

Salah satu bagian yang menjadi warna tersendiri adalah Kompilasi Lagu Nusantara, saat Callista, Luna, Mia, dan Kimmy membawakan lagu daerah dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari "Soleram" dari Riau, "Ampar-Ampar Pisang" dari Kalimantan, "Ondel-Ondel" dari Jakarta, hingga "Yamko Rambe Yamko" dari Papua, yang kemudian dilanjutkan dengan "Bendera" bersama seluruh member Glitter. Segmen ini memberikan sentuhan Indonesia dalam keseluruhan pertunjukan sekaligus memperkenalkan kekayaan lagu daerah kepada para penonton.

Momen spesial lainnya yang dihadirkan dalam konser ialah penampilan lagu-lagu dari mini album (EP) "Kita, Nanti". Dirilis pada 25 September 2026, EP ini terdiri dari lima lagu, yaitu "Kuat", "Apa Saja, Bisa!", "Jangan Lupain Kita", "Bendera", dan "Doa Sebelum Tidur".


Konser kemudian ditutup dengan kejutan khusus bagi para Glitz melalui pemutaran perdana music video (MV) Glitter, "Apa Saja, Bisa!". MV tersebut merupakan bagian dari karya terbaru Glitter dan secara khusus diputar terlebih dahulu bagi para penggemar yang hadir sebelum dirilis secara resmi pada 4 Oktober 2026 melalui kanal YouTube Trinity.

Disutradarai oleh Bernadus Raka, MV ini mengusung konsep yang dekat dengan karakter Glitter, memadukan elemen dance dengan visual yang colorful dan playful. Pendekatan tersebut turut memperkuat identitas Glitter yang ceria dan penuh energi. Materi styling MV juga menggunakan pendekatan colorful dengan karakter visual yang berbeda untuk para personel.

"Kami juga senang sekali konser ini bisa ditutup dengan pemutaran MV terbaru kami. Jadi bukan hanya bisa bernyanyi dan bertemu Glitz secara langsung, tapi kami juga bisa berbagi karya baru yang sudah kami siapkan. Semoga Glitz suka dengan lagu dan MV-nya, dan kami nggak sabar untuk terus berbagi karya-karya berikutnya," lanjut Glitter.

Melalui Glitter Camp Live Concert 2026, Glitter tidak hanya merayakan perjalanan mereka bersama para Glitz, tetapi juga menghadirkan ruang untuk memperkenalkan perkembangan terbaru mereka melalui musik dan pertunjukan. Setelah merilis mini album "Kita, Nanti" dan memperkenalkan MV terbarunya kepada Glitz melalui konser ini, Glitter siap melanjutkan perjalanan mereka dengan karya-karya berikutnya.

Trinity Optima Production (TOP)

Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi "Nurturing STARS to Inspire Happiness", TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent, perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Jumat, 02 Oktober 2026

Pertiwi Pulang: Gala Premiere Empat Musim Pertiwi Hadirkan Misteri dan Emosi

​Film Empat Musim Pertiwi tayang mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 2 Oktober 2026 — Kepulangan Pertiwi dimulai! Forka Films menghadirkan perjalanan paling emosional dengan pengalaman sinematik imersif lewat film Empat Musim Pertiwi, karya terbaru dari sutradara Gadis Kretek, Kamila Andini, dan produser Ifa Isfansyah. Penonton diajak untuk menyelami musim-musim dalam kehidupan Pertiwi yang penuh luka, trauma, hingga harapan.

​Lanskap alam Bromo memberikan tekstur kuat pada Empat Musim Pertiwi, berpadu dengan tata busana ala cowboy western, yang menjadikan perjalanan seorang perempuan yang baru saja pulang setelah 20 tahun dipenjara seperti sebuah pengembaraan panjang tak ada ujung.

​Penonton akan diajak untuk menyelami musim-musim dalam hidup Pertiwi, yang diperankan dengan sangat baik oleh Putri Marino. Putri mampu menampilkan dimensi kedalaman karakter Pertiwi yang bertumbuh dari rasa sakitnya, hingga ia menemukan sebuah rumah pulang, bersama orang-orang yang terpinggirkan di kampungnya.

​Empat Musim Pertiwi bukan sekadar tentang seseorang yang kembali ke suatu tempat, tetapi tentang apa yang kita temukan ketika berani kembali menghadapi sesuatu yang pernah ditinggalkan.

​“Apa yang terjadi dengan Pertiwi bicara tentang ketidakadilan. Ada trauma-trauma kolektif. Namun dari film ini, dengan mengikuti Pertiwi, kita bisa sedikit melihat bagaimana bahkan dengan kerapuhan, seseorang juga bisa menemukan kekuatan-kekuatan atau bahkan menjadi kekuatan juga untuk orang lain. Bicara tentang trauma kolektif, tapi juga bicara tentang collective power yang bisa didapatkan dari perjalanan Pertiwi,” ujar penulis dan sutradara Kamila Andini.

​Secara kreatif, Empat Musim Pertiwi juga menghadirkan sebuah pengalaman sinematik yang belum pernah ada sebelumnya di perfilman Indonesia. Menjelajahi berbagai genre dari drama suspense thriller hingga misteri, dan sci-fi. Produser Ifa Isfansyah memastikan pendekatan kreatif di filmnya turut mendukung immersive experience dan membuat penonton ikut merasakan perjalanan Pertiwi seutuhnya.

​“Empat Musim Pertiwi sudah melakukan special screening dan saya merasakan dampak emosional yang dialami penonton. Di balik cinematic experience yang imersif, penonton merasa relate dengan situasi saat ini. Saya harap film ini bisa menyadarkan pentingnya untuk kita semua saling menjaga” ujar produser Ifa Isfansyah.

​Empat Musim Pertiwi dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, Totos Rasiti, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Ayub Antoh, dan almarhum Donikus.

​Memerankan Pertiwi, Putri Marino juga telah menunjukkan dedikasinya, dengan tak mengambil proyek apapun. “Karakter Pertiwi sebenarnya adalah perempuan muda, tapi jiwanya sebenarnya sudah melampaui usianya. Pertiwi telah mengalami banyak hal dalam hidupnya, dan salah satu pintu masuk aku mengisi karakter Pertiwi adalah dengan membaca buku, untuk memahami apa yang dirasakan dan dialami Pertiwi,” ujar Putri Marino.

​“Pertiwi adalah perempuan yang harus berhadapan dengan masa lalu dan menemukan kembali dirinya. Kepulangan tidak selalu berarti kembali menjadi orang yang sama,” tambah Putri.

​Dengan keindahan lanskap Bromo, Empat Musim Pertiwi mengajak kita untuk menyelami misteri di baliknya. Perasaan resah yang muncul beriringan dengan perjalanan emosional Pertiwi.

​Film Empat Musim Pertiwi juga telah terpilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Sebelumnya, dalam penayangan terbatas, film ini juga telah mendapat antusiasme yang tinggi, dengan seluruh tiketnya terjual habis.

​Pada hari yang sama saat rilis di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026, Empat Musim Pertiwi juga akan tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Perjalanan ini juga menjadi bukti kualitas sinematik dan penjelajahan Kamila Andini yang semakin menemukan tempatnya di peta perfilman internasional. Sebelumnya, film ini tayang perdana (world premiere) di Toronto International Film Festival (TIFF), dan akan berlanjut ke Tokyo International Film Festival dan Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026.

​Menjadi proyek terbesar Forka Films, Empat Musim Pertiwi menjadi ko-produksi enam negara, Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Film ini juga turut didukung dan kolaborasi bersama dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Film ini juga turut disponsori oleh Oriflame.

​Saksikan di layar lebar saat Pertiwi pulang. Empat Musim Pertiwi tayang 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru film Empat Musim Pertiwi melalui akun media sosial Instagram @forkafilms.

​Tentang FORKA FILMS

​Forka Films, sebelumnya dikenal sebagai Fourcolours Films, adalah sebuah perusahaan produksi film yang berbasis di Indonesia, dipimpin oleh sutradara dan produser Ifa Isfansyah. Sejak didirikan pada tahun 2001, Forka Films secara aktif memproduksi film-film yang telah mendapatkan penghargaan di berbagai festival film internasional.

​Beberapa karya terkemuka yang diproduksi oleh Forka Films, antara lain:

  • ​Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015)

  • ​Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Film Resmi Indonesia untuk OSCARS 2018)

  • ​The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto 2017)

  • ​Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzon 2018)

  • ​Yuni (Kamila Andini, Penghargaan Platform Prize di Toronto 2021)

  • ​Before, Now & Then (Kamila Andini, Berlinale Silver Bear 2022)

  • ​Cigarettes Girl (Ifa Isfansyah & Kamila Andini, Best Mini Series Seoul International Drama Awards 2024)

​Forka Films terus mendukung keberagaman sinema Indonesia dan dunia, serta fokus pada menemukan dan membina talenta baru di Indonesia. Perusahaan ini memiliki visi untuk terus menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan memberikan kontribusi besar pada perfilman Indonesia di kancah internasional.

​AKUN MEDIA SOSIAL

Instagram : @forkafilms

YouTube : @forkafilms

Facebook dan AntiNRML Hadirkan Konser Hipdut yang Dibentuk Bersama Fans di Facebook


Jakarta, 28 September 2026 — Facebook berkolaborasi dengan label musik Indonesia AntiNRML untuk menghadirkan konser Hipdut yang memadukan hip-hop dan dangdut dalam format Facebook Live-stream pada 6 November 2026. Menampilkan Naykilla sebagai headliner bersama sejumlah musisi muda AntiNRML seperti Tenxii, Naufal Syachreza, dan Jemsii. Konser ini memungkinkan penggemar di seluruh Indonesia untuk ikut menikmati pengalaman tersebut di mana pun mereka berada. Mulai hari ini, para penggemar juga dapat bergabung dalam Facebook Group resmi AntiNRML untuk mengikuti perjalanan menuju konser dan turut berpartisipasi dalam membentuk pengalaman tersebut.

Konser ini akan mengusung tema #BisaAjaDiFacebook dan mengajak para fans untuk berperan aktif dalam membentuk pengalaman ini, bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga turut membentuk pengalaman tersebut. Melalui Facebook Group resmi AntiNRML, anggota komunitas dan para fans dapat memberikan ide, mengikuti polling, serta memberikan masukan yang dapat mendukung jalannya konser Hipdut ini.

"Kami sangat antusias berkolaborasi dengan AntiNRML untuk menghadirkan konser Hipdut Facebook Live pertama di Indonesia. Sejak awal, Facebook hadir untuk membantu orang saling terhubung, dan nilai tersebut tetap menjadi inti platform seiring Facebook terus berkembang. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana Facebook dapat menjadi ruang bagi orang-orang untuk mengeksplorasi minat mereka, sekaligus memberikan kesempatan bagi kreator untuk menjangkau lebih banyak orang dan membangun komunitas yang lebih aktif bersama audiens mereka," ujar Revie Sylviana, Director, Global Partnerships for SEA and Emerging Markets, Meta.

Kolaborasi ini memanfaatkan Facebook sebagai ruang bagi para fans Hipdut untuk terhubung lebih dekat dengan para musisi. Setelah pengumuman konser, anggota Facebook Group AntiNRML akan diajak mengikuti rangkaian aktivitas co-creation, mulai dari berbagi ide dan preferensi, hingga ikut menentukan sejumlah elemen yang akan hadir dalam konser.

Beberapa elemen pertunjukan kemudian akan dikembangkan berdasarkan masukan dari para fans, sehingga suara dan kreativitas mereka dapat menjadi bagian dari konser.

"Bagi AntiNRML, Hipdut selalu menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengaruh musik dan cara berekspresi para pendengarnya. Melalui kolaborasi dengan Meta, kami ingin membawa semangat tersebut satu langkah lebih jauh dengan menghadirkan konser Hipdut pertama yang dibentuk bersama fans melalui platform Facebook. Kami ingin melihat bagaimana ide, pilihan, dan kreativitas komunitas dapat menjadi bagian nyata dari pertunjukan, sekaligus menciptakan pengalaman yang terasa dekat dengan mereka." ujar BUNNY- Founder of AntiNRML.

"Usually as a musician, aku yang siapin my whole performance di atas panggung. Now this time, aku mau ngajak The Killa and my fans buat bentuk konserku together from day-1! i think it's xtra fun to see their ideas, then I make it happen untuk bagian dari penampilan aku." ujar Naykilla, Penyanyi dan Penulis Lagu. "Biasanya kami sebagai musisi yang menyiapkan apa yang akan dibawakan di atas panggung. Kali ini, kami ingin mengajak fans ikut membentuk konsernya sejak awal. Buat aku, seru banget melihat ide dan pilihan mereka kemudian benar-benar diwujudkan menjadi bagian dari pertunjukan." ujar Naykilla, Penyanyi dan Penulis Lagu.

Lalu bagaimana experience tersebut bisa dirasakan?
• Bergabung dengan komunitas: Mulai hari ini, fans dapat bergabung dengan Facebook Group AntiNRML dan berkontribusi dalam mempersiapkan event ini. 
• Rembuk dan bikin konser barengan: Fans dapat membagikan ide, memilih opsi, dan menyampaikan preferensi melalui rangkaian aktivitas co-creation yang hadir setiap minggu di Facebook Group Warga Antimobs dari AntiNRML. Masukan tersebut akan digunakan untuk menentukan dan mengembangkan sejumlah elemen pertunjukan. 
• Pantau perkembangan langsung di Facebook: Menjelang konser, AntiNRML akan membagikan berbagai pembaruan melalui Facebook Group, termasuk informasi mengenai musisi yang akan tampil serta bagaimana masukan dari proses co-creation para fans diwujudkan menjadi bagian dari konser. 
• Saksikan langsung hasil kolaborasi: Pada 6 November, fans dapat melihat ide dan kontribusi mereka diwujudkan dalam konser melalui Facebook Live, dilengkapi elemen interaktif agar audiens tetap terlibat selama pertunjukan. 

Konser Hipdut ini menjadi salah satu contoh bagaimana Facebook menjadi platform bagi orang-orang saling terhubung melalui hal-hal yang mereka sukai. Seiring berkembangnya cara orang berinteraksi, Facebook menghadirkan pengalaman melalui berbagai fitur seperti Groups, Reels, dan lainnya, yang memungkinkan komunitas tidak hanya berkumpul, tetapi juga ikut menciptakan pengalaman bersama.

Bagi pengguna, Facebook menjadi ruang untuk mengeksplorasi minat, menemukan komunitas yang relevan, dan terlibat lebih jauh di dalamnya.

Interaksi yang tumbuh dari kesamaan minat ini juga membuka peluang bagi musisi dan kreator untuk menjangkau lebih banyak orang sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens mereka. Melalui fitur yang mendukung penemuan konten, perluasan jangkauan, monetisasi, dan pembangunan komunitas, Facebook ingin membantu lebih banyak kreator mengembangkan karya, memperkuat komunitas, dan tumbuh di Facebook.

Winky Wiryawan, Afgan, dan Maxime Bouttier Rilis Single AURA! Kolaborasi tak Terduga yang Pancarkan Maximum Aura Points

Dengarkan single Aura di platform streaming digital mulai 2 Oktober 2026

​Jakarta, 2 Oktober 2026 – Sebuah kolaborasi tak terduga datang dari Winky Wiryawan, Afgan, dan Maxime Bouttier! Ketiganya merilis sebuah single dengan sound funk-dance berjudul AURA, yang akan menjadi sebuah moodbooster untuk para pendengarnya di tengah dunia yang sedang chaos.

​AURA menampilkan sebuah kolaborasi musik unik dari ketiga persona, yang memiliki tiga aura berbeda, yang saat digabung menjadi maximum aura points. Single AURA diproduseri oleh Winky Wiryawan bersama Kamga. Dengan gitar yang diisi oleh Winky, beat drum oleh Maxime, serta vokal yang diisi oleh Afgan, single ini seketika membuat kita yang mendengarkannya akan langsung berjoget.

​AURA memiliki nuansa musik funk, yang dipadukan dengan warna vokal RnB dari Afgan. Dengan lirik yang ditulis oleh Afgan, AURA terinspirasi dari orang-orang yang memiliki aura memancar dan membuat orang di sekitarnya ikut memiliki perasaan senang.

​Menariknya, kolaborasi ini lahir saat Winky dan Maxime datang ke Konser Retrospektif Afgan pada Juli 2026. Saat itu, Winky dan Maxime yang bertemu Afgan di area backstage secara spontan mengusulkan ide untuk membuat karya bersama.

​"Awalnya dari iseng-iseng ngobrol spontan di backstage, untuk bikin sesuatu bareng. Aku dan Maxime sebenarnya punya irisan musik yang mirip di skena musik keras. Kami berdua sama-sama suka musik heavy rock, sementara kalau aku dengan Afgan, tentunya aku juga menyukai funk dan RnB," ujar Winky Wiryawan.

​Ide spontan itu kemudian diwujudkan dengan Winky dan Maxime mengirim beberapa demo aransemen musiknya ke Afgan. Namun, dari sekian demo yang dikirim, tak ada yang membuat ketiganya sepakat.

​Hingga akhirnya ketiganya melakukan jamming session, dan eureka! Terciptalah AURA. Lagu ini diharapkan juga menjadi pemantik untuk para pendengar agar mereka juga dengan percaya diri menampilkan keunikan aura mereka masing-masing.

​Seperti halnya Winky, Afgan, dan Maxime, yang sama-sama memiliki keunikan aura mereka sendiri. Winky dengan aura energetic eclectic, Afgan yang dikenal lewat aura elegance perfection dan Maxime yang selama ini memancarkan aura easy going charisma.

​"Prosesnya berjalan mulus sebenarnya, dari ketika Winky dan Maxime mengajak untuk bikin proyek senang-senang bareng. Tapi, ada momen lucu saat lagu ini sudah mau di-mixing. Aku tiba-tiba tengah malam minta rekam ulang bagian vokal. Karena aku merasa masih ada yang kurang sempurna, karena di saat rekaman pertama aku lagi sakit. Ternyata setelah take vokal ulang itu, aku lebih puas dengan hasilnya, seperti yang sekarang di release. Semoga kalian semua yang mendengarkan karya ini juga suka ya!" Ungkap Afgan.

​Bagi Maxime, single AURA juga membuka hal baru untuknya. Selama ini, untuk bermain musik, Maxime biasanya memainkan gitar. Tapi kali ini ia memegang kendali tempo dari gebukan drum.

​"Happy banget bahwa lagu AURA dibuka dengan beat drum, dan ini untuk pertama kalinya aku bermain drum. Setelah lama tidak main musik, ini jadi karya yang refresh untuk aku, dan aku berharap juga bisa menginspirasi orang yang mendengarkan untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya, tanpa perlu takut di-judge," ujar Maxime Bouttier.

​Kini, ketiganya juga tengah merencanakan perjalanan berikutnya, setelah merilis single AURA. Ketiganya juga tidak menutup kemungkinan, jika kelak AURA akan dibawakan di atas panggung secara live.

​"Kami mau menikmati dulu, bagaimana respons orang-orang dari energi musik kami bertiga. Semoga ini juga bisa jadi lagu yang menemani mereka untuk berangkat kerja atau penyemangat saat mengalami bad day," tambah Winky.

​Dengarkan single AURA di seluruh platform streaming digital, dan pancarkan aura unikmu, menjadi energi maximum aura! 

Kamis, 01 Oktober 2026

Setelah Revisi Dua Kali Karena Foto Blur, GJLS: Berapi-Api Akhirnya Merilis Official Poster, Trailer, dan Original Soundtrack Barasuara Bersama Performance Memukau dari Damkar

Jakarta, 1 Oktober 2026 — Setelah melalui dua kali proses revisi akibat drama menggelikan dari trio Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir dengan netizen penggemar GJLS, akhirnya poster GJLS: Berapi-api resmi diizinkan tampil jelas tanpa sensor. Dalam perhelatan konferensi pers yang riuh di Lippo Mall Nusantara, rumah produksi Amadeus Sinemagna resmi meluncurkan paket lengkap promosi: revisi kedua Official Poster, Official Trailer, serta lagu orisinal resmi garapan Barasuara untuk film komedi drama GJLS: Berapi-Api.

​Seremoni Nyaris Gagal: Hendak Tampil Heroik, Malah Diselamatkan Regu Damkar Sungguhan

​Sesuai tradisi komedi GJLS, acara pembukaan tirai hitam raksasa penutup poster dan trailer tidak dibiarkan berjalan normal tanpa bumbu kepanikan. Niat hati ingin bergaya bak pahlawan penyelamat dengan menarik tirai secara serentak, trio abang-abang ini justru tersangkut tali dan gagal mengeksekusi seremoni hingga memicu tawa penonton di area mal.

​Sadar situasi di panggung mulai melenceng dari naskah, Rigen langsung sigap menelepon panggilan darurat pemadam kebakaran. Suasana berubah drastis saat sirene berbunyi dan regu Algojo Api masuk dengan langkah tegap, mengambil alih panggung, lalu menarik tirai hitam tersebut secara sempurna diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan.

​Official Trailer: Realitas Tugas Damkar dari Ambil Rapor Sampai Kepala Nyangkut Pagar

​Materi official trailer yang baru diputar memperlihatkan pahit-manis perjuangan tiga sahabat masa kecil yang bertekad menjadi petugas pemadam kebakaran yang gagah. Namun, setelah melewati gemblengan tanpa ampun bersama regu Algojo Api, trio GJLS justru dihadapkan pada tugas-tugas lapangan yang tak terduga: mulai dari operasi darurat mengambil rapor anak SD hingga penyelamatan krusial mengeluarkan kepala Yono Bakrie yang tersangkut di jeruji pagar.

​Misi mulia berbalut kekacauan tersebut ditegaskan oleh para pemeran utama. "Tujuan kami di film ini ga cuma ingin menunjukkan film GJLS yang lucu dan seru, tapi juga ingin membawakan aksi heroik pemadam kebakaran yang selalu siap membantu kita, dan cerita yang dekat dengan kita semua," papar Rigen Rakelna.

​Membawa momen haru ketika ditanya mengenai tema persahabatan yang dibawa dalam film terbaru dari trio komedian ini, Ananta Rispo ternyata meneteskan air mata di tengah panggung press conference. Sulit berkata-kata karena emosinya yang tak terduga pecah di atas panggung, Rispo menekankan pentingnya momen ini dalam hidupnya. "Saya sangat bangga bisa ada di sini bersama kedua sahabat saya," sebut Rispo di tengah pelukan Rigen dan Hifdzi.

​"Intinya, di film ini kami mau membawakan sisi yang dicintai publik penggemar komedi di film pertama, tapi ke level yang lebih dalam segala hal," ujar Hifdzi mengenai film terbaru mereka. "Ini adalah GJLS yang lebih lucu, lebih hangat, juga lebih bisa dinikmati berbagai kalangan dan usia."

​Sutradara Monty Tiwa menambahkan, "GJLS: Berapi-Api adalah film baru dengan cerita baru yang berbeda dengan GJLS: Ibuku Ibu-ibu. Ceritanya di-design untuk bisa ditonton bersama keluarga."

​Kemegahan Soundtrack Barasuara dan Jajaran Pemeran Lengkap

​Energi film ini kian meledak berkat iringan official original soundtrack bertenaga dari band rock Barasuara yang berjudul "Api dan Mimpi" membuktikan bahwa perseteruan perebutan lagu antara Hifdzi dan Iga Massardi tempo hari resmi tuntas secara musikal.

​Di bawah komando sutradara Monty Tiwa, film ini turut diperkuat oleh deretan bintang dan komika lintas generasi: Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Indira Ayu Maharani (Inayma), Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, dan Sadha Triyudha.

​Catat Tanggal Tayangnya!

​GJLS: Berapi-Api siap memadamkan stres dan mengocok perut penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026.

​Saksikan Official Trailer resmi di kanal YouTube Amadeus Sinemagna dan pantau terus kabar terbarunya melalui akun media sosial resmi @sinemagna, @gjlsberapiapi, dan @gjlsentertainment. 

Starvision Merilis New Trailer dan Official Poster Film DEWI SILUMAN ULAR, Kisah Nyata Pernikahan Manusia dengan Jin Berdasarkan Podcast Prasodjo Muhammad

Jakarta, 1 Oktober 2026 – Starvision kembali menghadirkan film horor kisah nyata terbaru berjudul DEWI SILUMAN ULAR. Film yang disutradarai Azhar Kinoi Lubis ini mengangkat kisah tentang pernikahan manusia dengan jin yang sebelumnya dikenal publik melalui podcast Prasodjo Muhammad "Nikah Sama Jin" yang sudah ditonton lenih dari 5,6 Juta kali. Cerita ini kemudian dikembangkan ke dalam film layar lebar dengan skenario yang ditulis oleh Upi dan Ayu Anggraini Putri.

​Salah satu daya tarik film ini hadir melalui sosok jin bernama Dewi yang diperankan oleh Anya Geraldine yang menikah dengan Dedi, diperankan oleh Derby Romero, seorang pria yang terpaksa mengambil jalan pintas untuk keluar dari berbagai persoalan hidupnya in this economy. Kehadiran Aulia Sarah dan Aghniny Haque turut memperkuat jajaran pemain utama bersama sejumlah nama lain yang menunjukkan bahwa ini adalah karya yang serius, seperti Humaira Jahra, Ashraf Dirgham, Arswendy Bening Swara, Totos Rasiti, Azzalia Assyifa, Ayu Diah Pasha, Yati Surachman, Arief Didu, Ence Bagus, Judith Callysta, Agung Bla, Aldo Gudel, dan lain-lain.

​Cerita DEWI SILUMAN ULAR yang berdasarkan podcast Prasodjo Muhammad berjudul "Nikah Sama Jin" dengan narasumber Sherly Indrawati. Kisah tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita film dengan pendalaman karakter, konflik, dan konsekuensi dari sebuah perjanjian pernikahan manusia dengan jin.

Dari premis tersebut, Film DEWI SILUMAN ULAR membawa pertanyaan sederhana yang kemudian berkembang menjadi persoalan besar: apa yang terjadi ketika seseorang mendapatkan apa yang diinginkannya melalui sebuah perjanjian dengan makhluk gaib? Apa konsekuensi apabila perjanjian dilanggar? Film ini juga mempertemukan persoalan ekonomi, keluarga, pilihan pribadi, dan akibat dari sebuah keputusan yang mengancam pelaku dan keluarganya!

​Dalam New Official Trailer yang dirilis diperlihatkan kehidupan Dedi (Derby Romero) berubah drastis setelah ia melakukan pesugihan melalui pernikahan dengan Dewi, jin bersosok Siluman Ular yang berparas cantik. Keputusan tersebut membawa Dedi pada berbagai kejadian tak terduga, dan teror mengerikan!

​"Film DEWI SILUMAN ULAR berangkat dari kisah nyata yang pertama kali kami temukan di sebuah podcast. Dari kisah tersebut, kami menangkap fenomena yang masih terjadi di masyarakat, ketika tekanan ekonomi dan keinginan untuk mengubah nasib membuat seseorang memilih jalan pintas melalui pesugihan. Bagi kami ini kisah yang penting, bukan hanya tentang pesugihan semata, tetapi juga tentang pilihan manusia ketika berada dalam kondisi terdesak, dan konsekuensi yang mengikutinya," ujar produser Chand Parwez Servia.

​Di Film ini Azhar Kinoi Lubis kembali menyutradarai film horor berdasarkan kisah nyata, setelah sebelumnya menyutradarai Petaka Gunung Gede (2025). Pengalamannya dalam mengolah kisah nyata sebelumnya menjadi bekal Ketika menghadirkan DEWI SILUMAN ULAR sebagai sebuah karya film layar lebar dengan horor baru melalui konflik yang lebih lebar.

​"Yang menjadi tantangan dalam DEWI SILUMAN ULAR adalah bagaimana mengembangkan kisah nyata yang menjadi sumber cerita ke dalam sebuah film yang memiliki dunia dan konflik yang kuat. Kami tidak ingin hanya memindahkan kisah tersebut ke layar, tetapi mengolahnya menjadi pengalaman sinematik horor baru untuk bisa dirasakan oleh penontonnya," ujar sutradara Azhar Kinoi Lubis.

​Menuju tayangnya film DEWI SILUMAN ULAR pada 12 November 2026 di Bioskop, penonton diajak menyelami kembali kisah pesugihan yang selama ini terjadi, dan kini hadir dalam balutan teror baru yang nyata di layar lebar. Menghadirkan konsekuensi di balik setiap pilihan yang berakibat malapetaka. Film DEWI SILUMAN ULAR siap membawa penonton ikut teriak terbawa ketegangan, sekaligus menemukan makna di baliknya!

​Ikuti perkembangan terbaru Film DEWI SILUMAN ULAR melalui akun Instagram @filmdewisilumanular, @starvisionplus, serta TikTok @StarvisionMovie.

​Sinopsis

​Hidup Dedi sedang di ujung tanduk, dikejar debt collector untuk melunasi hutangnya sementara istrinya harus menjalani operasi caesar. Khawatir akan keselamatan istri dan calon anaknya, Dedi yang putus asa akhirnya nekat memilih jalan pintas menikah dengan jin berwujud Siluman Ular bernama Dewi, tanpa memikirkan konsekuensinya!

​Pemain & Tim Produksi

Derby Romero : Dedi
Anya Geraldine : Dewi
Aulia Sarah : Rahma
Aghniny Haque : Lela
Humaira Jahra : Cika
Ashraf Dirgham : Askar
Arswendy Bening Swara : Mbah Adul
Totos Rasiti : Basri
Azzalia Assyifa : Naya
Ayu Diah Pasha : Bu Ninik
Yatti Surachman : Bu Tina
Arief Didu : Ocid
Ence Bagus : Ujang
Judith Callysta : Cika Kecil
Agung Bla : Agung
Aldo Gudel : Aldo
Produksi : Starvision
Produser : Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar
Sutradara : Azhar Kinoi Lubis
Produser Eksekutif : Reza Servia, Amrit Dido Servia, Raza Servia
Produser Lini : Erland Tanjung
Penulis Skenario : Upi, Ayu Anggraini Putri
Berdasarkan Podcast : Prasodjo Muhammad
Dengan Narasumber : Sherly Indria
Pengarah Artistik : Iqbal Marjono
Penata Kamera : Muhammad Firdaus, I.C.S
Penyunting Gambar : Teguh Raharjo, Umar Syarif Yahman
Penata Suara : Aditya Trisnawan
Perekam Suara : Sutrisno
Penata Musik : Aghi Narottama
Penata Warna : Chressandy Rorimpandey
Penata Grafis & VFX : The Organism
Penata Rias : Nikita Juli Farida
Penata Rias Effect : Ernaka Puspita Dewi
Penata Busana : Aldie Harra
Penata Peran : Arief Havidz, Elhan Shaleh
Perancang Poster : Alvin Hariz



Tentang Starvision

​Starvision merupakan salah satu rumah produksi film dan televisi yang telah berkiprah selama lebih dari tiga dekade di industri hiburan Indonesia. Didirikan dan dipimpin oleh produser Chand Parwez Servia, Starvision terus menghadirkan beragam cerita melalui karya-karya yang dekat dengan kehidupan dan beragam pengalaman masyarakat Indonesia.

​Dengan produksi film layar lebar yang konsisten setiap tahunnya, Starvision telah membangun perjalanan panjang bersama para sineas, talenta, dan mitra kreatif dari berbagai generasi. Perusahaan ini juga dikenal dengan kemampuannya mengembangkan berbagai genre dan tema, mulai dari drama, komedi, keluarga, hingga horor.

​Sejumlah film yang diproduksi Starvision antara lain Petaka Gunung Gede, Sekawan Limo, 172 Days, Komang, Imperfect, Cek Toko Sebelah, dan Dua Garis Biru. Beragam karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan Starvision dalam menghadirkan film Indonesia yang dapat menjangkau penonton luas sekaligus merefleksikan cerita dan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

​Social Media & Kontak

  • ​Instagram: @filmdewisilumanular dan @Starvisionplus

  • ​TikTok: @StarvisionMovie

Forum Bisnis Jakarta Futura Connectiva 2026 Siap Fasilitasi Pelaku Bisnis IP Kreatif Indonesia ke Pasar Global

Hadirkan 40 studio kreatif lokal, JFC mempertemukan kreator, pemilik IP, investor, brand, publisher, dan mitra internasional melalui business meeting, conference, dan berbagai program pengembangan bisnis

JAKARTA, 1 Oktober 2026 — Industri kreatif Indonesia terus berkembang, mendorong kreator untuk mengembangkan karya menjadi intellectual property (IP) yang memiliki nilai ekonomi, dapat dikembangkan lintas platform, dan membuka peluang kolaborasi hingga pasar global. Peluang tersebut menjadi fokus Jakarta Futura Connectiva (JFC) 2026, forum bisnis ekonomi kreatif yang berlangsung pada 3-4 Oktober 2026 di JIEXPO Kemayoran, Hall Arena dan EXPO, Jakarta. JFC menghadirkan 40 studio kreatif lokal dari bidang komik, animasi, dan gim melalui business meeting, conference session, talkshow, serta berbagai aktivitas untuk mempertemukan pelaku industri dan membuka peluang kolaborasi, investasi, dan pengembangan IP lokal.

Ajang yang digelar oleh Asosiasi Komik Indonesia (AKSI) ini merupakan bagian dari program Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta. Pada penyelenggaraan tahun ini, JFC juga bermitra dengan Indonesia Comic Con (ICC) yang berlangsung di lokasi dan tanggal yang sama, mempertemukan ekosistem bisnis IP dengan komunitas dan penggemar budaya pop. Kolaborasi ini hadir sebagai upaya mempertemukan sisi profesional dan bisnis dengan ekosistem fandom dalam satu ruang.

Mendorong IP Lokal Naik Kelas

"JFC 2026 hadir dengan melihat IP bukan hanya sebagai karya kreatif, tetapi juga sebagai aset yang memiliki potensi ekonomi dan bisnis. Kami ingin mempertemukan kreator dan pemilik IP dengan studio, publisher, investor, brand, serta mitra internasional untuk membuka peluang licensing, co-production, adaptation, distribution, hingga investasi. Indonesia memiliki talenta dan karya kreatif dengan potensi untuk berkembang lebih jauh. Si Juki, Tahilalats, dan Milk & Mocha Bear menunjukkan bahwa IP lokal dapat tumbuh melampaui medium awal dan menjangkau audiens yang lebih luas. Melalui JFC, kami ingin membuka lebih banyak peluang agar IP Indonesia dapat menemukan mitra yang tepat, berkembang menjadi bisnis, dan memiliki akses ke pasar yang lebih luas," ujar Sunny Gho, Ketua Asosiasi Komik Indonesia, selaku pelaksana dari Forum Bisnis Jakarta Futura Connectiva.

Selama dua hari penyelenggaraan, JFC akan menghadirkan rangkaian program yang dirancang untuk mempertemukan kebutuhan bisnis dengan kapasitas industri kreatif. Melalui B2B matchmaking, peserta dapat melakukan pertemuan satu lawan satu dengan calon pembeli, investor, publisher, dan mitra bisnis. Sementara IP Market menjadi ruang bagi pemilik IP untuk memperkenalkan dan menawarkan propertinya untuk kebutuhan licensing dan pengembangan lebih lanjut.

JFC juga menghadirkan Creative Conference yang membahas berbagai aspek bisnis industri animasi, komik, dan gim. Topiknya mencakup ekonomi kreatif, hak dan kontrak, model produksi dan monetisasi IP, pengembangan komik menjadi animasi, hingga pendanaan creative IP. Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain "The 360° Creative Economy", "The Business of Content", "Comic Creators as Brand Partners", "From Comic to Animation", dan "Funding Creative IP". JFC juga menyiapkan Deal-Signing Spotlight untuk menyoroti kesepakatan yang terbangun selama penyelenggaraan.

JFC juga menghadirkan praktisi profesional dari industri kreatif mancanegara, seperti Bunsho Kajiya, dari Shogakukan Asia; Victor Lee dari DNABLE Korea Selatan; dan Tatsuki Hirayanagi dari Jepang. Untuk memantik pertumbuhan industri komik, JFC juga menghadirkan sesi editorial review bersama Ayano Hagiwara, produser dan editor dari penerbit besar Jepang, Shogakukan.

Mempertemukan Kreator dengan Industri

"Kehadiran 40 studio kreatif lokal dari sektor komik, animasi, dan gim menjadi kesempatan untuk menunjukkan kapasitas industri kreatif Indonesia kepada calon mitra. Melalui JFC, kami mempertemukan mereka dengan berbagai pihak, mulai dari platform dan studio internasional, broadcaster regional, perusahaan media dan publishing, brand, licensee, hingga investor. Kami berharap pertemuan ini dapat berkembang menjadi peluang kerja sama yang konkret, baik dalam bentuk lisensi IP, produksi bersama, investasi, distribusi, pengembangan konten, maupun penyediaan layanan kreatif dan talenta," tambah Sunny Gho.

Bersamaan dengan JFC juga digelar Indonesia Comic Con (ICC) 2026 yang akan memasuki edisi ke-10 pada 3-4 Oktober 2026 di JIEXPO Kemayoran dengan tema "A Decade of Pop Culture Fiesta". ICC menghadirkan berbagai elemen budaya pop, mulai dari komik, anime, film, gim, toys, collectibles, musik, hingga cosplay. Kolaborasi ini memberikan konteks yang lebih luas bagi penyelenggaraan JFC yang bermitra tahun ini dengan ICC dalam menghadirkan komunitas dan fandom, sementara JFC menghadirkan ruang bisnis dan pengembangan IP. Keduanya berlangsung dalam satu ekosistem di JIEXPO Kemayoran, mempertemukan karya, audiens, kreator, dan peluang industri.

JFC 2026 hadir dengan membawa agenda untuk memperkuat ekosistem industri kreatif dengan mempertemukan berbagai pihak yang berada dalam rantai nilai IP, mulai dari kreator dan studio, pemilik IP, publisher, brand, investor, hingga mitra internasional. Melalui pertemuan dan peluang bisnis yang terstruktur, JFC mendorong IP Indonesia untuk tidak berhenti sebagai karya kreatif, tetapi berkembang menjadi aset yang dapat dilisensikan, dikembangkan, diinvestasikan, dan dibawa ke pasar yang lebih luas.

Tentang Jakarta Futura Connectiva

Jakarta Futura Connectiva (JFC) merupakan platform business-to-business untuk industri Animation, Comics and Games (ACG) dan ekonomi IP kreatif Indonesia. JFC menghadirkan Creative Conference, IP Market, B2B matchmaking, dan networking untuk mempertemukan kreator, studio, pemilik IP, publisher, investor, brand, dan mitra internasional. Pada 2026, JFC diselenggarakan pada 3-4 Oktober di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, bersamaan dengan Indonesia Comic Con.

Album Tergalau Sepanjang Masa" Gloria Jessica, Ade Govinda Rilis Album "Blue." Sebelas Lagu Patah Hati, dari Kehilangan hingga Mengikhlaskan


Setelah delapan tahun menunggu, Gloria Jessica dan musisi sekaligus pencipta lagu Ade Govinda akhirnya menutup penantian itu lewat "Blue.", album perdana mereka yang resmi dirilis Jumat, 2 Oktober 2026. Sebelas lagu patah hati di dalamnya bisa didengarkan di seluruh platform musik digital. Di hari yang sama, video klip title track "Timpang" tayang di kanal YouTube Ade Nurulianto.

Album ini lahir dari kolaborasi yang dinantikan sejak lama. Ade Govinda pertama kali mendekati Gloria Jessica pada 2018 dengan satu cita-cita bahwa karyanya dinyanyikan oleh Gloria, yang menurutnya paling pas membawakan melodi dan liriknya. Cita-cita itu pun terwujud. Lagu yang semula hanya direncanakan sebagai satu master akhirnya berkembang menjadi satu album utuh, karena suara Gloria dinilai terlalu sayang untuk dilepas hanya lewat satu lagu.

Bagi Gloria Jessica, kolaborasi ini lebih dari sekadar bermusik. "Aku belajar banyak dari Kak Ade, bukan cuma sebagai kolaborator atau musisi, tapi juga tentang kehidupan, perjuangan, dan karier," ujarnya.

"Album ini berisi 11 lagu patah hati dengan pendekatan yang berbeda-beda. Aku mengajak semua pendengar untuk menyimak seluruh lagunya. Menurutku, ini akan menjadi album tergalau sepanjang masa," ujar Ade Govinda.

Tracklist:
1. Terbelah Jadi Dua 
2. Timpang 
3. Dominasi 
4. Baik-Baik 
5. Jika Bertemu Lebih Cepat 
6. Kepastian
7. Jika Kau Bukan Cinta
8. Tanpa Batas Waktu
9. Lebih Hati-Hati 
10. Dominasi (Acoustic Version) 
11. Blue (feat. Mads Wegner) 

Sebelum album ini hadir, "Terbelah Jadi Dua" dan "Tanpa Batas Waktu" menjadi dua lagu yang lebih dulu sukses dan dikenal sebagai soundtrack sebelum album dirilis. "Terbelah Jadi Dua" dirilis pertama karena menjadi lagu yang sejak awal menjadi niat kolaborasi ini. Adapun "Timpang" baru hadir setelah album dirilis, sekaligus menjadi title track album.

Sambutan pendengar terhadap "Terbelah Jadi Dua" pun luar biasa. Lagu ini telah diputar lebih dari 21 juta kali di Spotify dan masuk Top 50 Indonesia di peringkat 23. Di YouTube, video musik resmi dan lyric video-nya ditonton hampir 9 juta kali, sementara di YouTube Music lagu ini telah diputar lebih dari 19 juta kali. Di TikTok, lebih dari 8 juta konten telah dibuat menggunakan lagu ini. Lagu ini juga hadir di Spotify OOH Billboard di Ratu Plaza pada 4-8 Oktober 2026.

Video Klip "Timpang", Title Track Album

Bersamaan dengan perilisan album, Gloria Jessica dan Ade Govinda menghadirkan video klip "Timpang" yang dibintangi aktris Dinda Kirana dan aktor Theo Supple. Keduanya beradu akting sebagai pasangan suami istri yang rumah tangganya diguncang oleh kehilangan dan penyesalan. Video klip ini disutradarai Bagoes Tresna dan tayang pada 2 Oktober 2026 di kanal YouTube Ade Nurulianto.

Lagu "Timpang" bercerita tentang seseorang yang kehilangan "keseimbangan" dalam hidupnya setelah patah hati. Perasaan timpang itu baru terasa ketika sesuatu yang dimiliki sudah tak ada lagi, sekaligus menjadi pengingat agar kita tidak menyia-nyiakan cinta yang masih ada.

Syuting video klip ini bagi Gloria terasa sangat personal. "Lagu ini bukan cuma tentang kehilangan pasangan, tapi juga kehilangan siapa pun yang kita sayangi, seperti orang tua," tuturnya.

Konsep dan Cerita di Balik Album

Judul "Blue." diambil dari ungkapan feeling blue, perasaan sedih dan murung. Seluruh isi album pun berisi lagu-lagu patah hati yang dikemas dengan sudut pandang berbeda-beda, yaitu pengkhianatan, penantian, kehilangan, hubungan yang menyesakkan, hingga proses belajar mengikhlaskan.

"Bahkan orang yang tidak sedang patah hati pun, saat mendengar Gloria menyanyikan laguku, seakan-akan ikut mengalaminya," ungkap Ade Govinda.

Album ini juga menjadi perjalanan personal bagi Gloria Jessica, yang kehilangan ibunda tercinta menjelang perilisan album. Di tengah duka itu, ia memaknai "Blue." sebagai berkat yang tertuai atas doa sang ibu. "Album ini hadir layaknya sebuah berkat, meskipun dibalut kesedihan," ungkap Gloria.

Detail yang digarap total

Kualitas audio dan visual menjadi fokus utama. Proses mixing dikerjakan sangat teliti hingga belasan kali revisi per lagu, agar setiap ornamen musik dan setiap lafal lirik dalam vokal Gloria terdengar jelas. "Kami mengerjakan album ini dengan hati yang bahagia, walaupun lagunya patah hati," tambah Ade.

Dominasi, lagu favorit dengan tema yang jarang diangkat

Ade menyebut "Dominasi" sebagai lagu favoritnya di album ini. Lagu ini bercerita tentang hubungan ketika satu pihak diam-diam memendam perasaan karena merasa pasangannya terlalu mengendalikan hidupnya, sebuah tema yang menurut Ade jarang sekali diangkat ke dalam lagu. Ceritanya fiktif, terinspirasi dari sebuah kejadian yang ia dengar. Lagu ini hadir dalam dua versi: versi utama dan Acoustic Version yang lebih sederhana dan intim.

"Blue." penutup 8 menit tanpa lirik

Lagu penutup yang sekaligus menjadi judul album ini menghadirkan kolaborasi bersama Mads Wegner, gitaris Mew, band favorit Ade Govinda. Jonas Bjerre, mantan vokalis Mew, turut terlibat sebagai recording engineer. Tanpa memikirkan pertimbangan komersial, lagu berdurasi sekitar hampir 8 menit ini dibangun dari emosi, bergerak dari titik nol hingga seratus, dan sepenuhnya dibawakan lewat gitar, drum, dan bass. Lagu ini menjadi jeda panjang setelah sepuluh cerita usai, ruang bagi pendengar untuk merasakan "Blue." dengan caranya sendiri.

Pesan dari Album "Blue."

"Jadikan album ini sebagai peneman patah hatimu," pesan Ade Govinda dalam satu kalimat. Harapannya, pendengar tidak hanya menikmati "Terbelah Jadi Dua" dan "Timpang", tetapi seluruh lagu di album ini, terutama di malam hari.

Gloria Jessica pun berharap album ini menemani pendengar di setiap fase hidupnya. "Semua orang layak mencintai dan dicintai sepenuhnya, dan semua orang layak bahagia seutuhnya," kata Gloria.

Kenal album "Blue." lebih dekat:

1. Terbelah Jadi Dua
"Terbelah Jadi Dua" bercerita tentang rasa sakit yang paling sunyi, mencintai seseorang yang ternyata membagi hatinya kepada orang lain. Lagu ini menyampaikan satu pesan yang kuat bahwa cinta memang penuh misteri, namun ketika pengkhianatan datang, dibutuhkan akal sehat dan pendirian yang teguh untuk berdiri kembali. Lagu ini hadir bukan untuk mendramatisasi kepedihan, melainkan untuk menemani siapa pun yang pernah merasakannya dan mengingatkan bahwa penyembuhan dimulai dari kejujuran terhadap diri sendiri.

2. Timpang
"Timpang" menceritakan tentang bagaimana seseorang yang merasakan kehilangan "keseimbangan" dalam hidupnya setelah mengalami patah hati. Lagu ini juga melukiskan bagaimana perasaan "timpang" akan dirasakan setelah sesuatu yang kita miliki sudah tak ada lagi, dan juga agar seseorang tidak menyia-nyiakan cinta yang sudah ada. Seperti karya-karya Ade Govinda lainnya, lagu ini bisa membawa seseorang yang mendengarnya larut ke dalam emosi lantunan nada dan liriknya yang mendalam.

3. Dominasi
"Dominasi" lahir dari kisah yang disimpan sangat lama. Ia menahan, mengalah, dan bertahan, sampai akhirnya tak sanggup lagi diam. Dalam hubungan, semua harus berjalan sesuai kehendak pasangannya, dan suaranya tak pernah benar-benar didengar. Dengan segala kecewa, ia akhirnya berani bicara dan mengajak sang kekasih membayangkan berada di posisinya. Baginya, cinta seharusnya dijalani berdua, bukan dikuasai satu pihak. Di ujung lagu, tersisa satu pertanyaan yang menggantung yaitu, "masih sanggupkah ia bertahan?".

4. Baik-Baik
"Baik Baik" bercerita tentang hal paling berat dalam hidup, yaitu perpisahan. Ada perjuangan, luka, tawa serta bahagia yang kini tinggal sejarah, dan bekasnya tak akan sembuh dalam waktu dekat. Seseorang memilih tidak menyimpan dendam. Bermula dari perkenalan secara baik-baik, maka berpisah pun harus baik-baik. Seseorang mengenang yang hal indah, melepas cinta perlahan, dan percaya Tuhan punya rencana baik lainnya. Tak ada yang salah dan tak ada yang jahat, karena mungkin inilah yang terbaik. Siapa tahu, yang gagal menjadi kekasih masih bisa menjadi teman.

5. Jika Bertemu Lebih Cepat
Seseorang hadir begitu saja dan langsung menetap di hati dan pikirannya, padahal ia tahu orang itu bukan miliknya. Pertemuan itu singkat dan tak disengaja, tapi cukup untuk mengguncang akal sehatnya.
Ia hanya bisa membayangkan, "Jika Bertemu Lebih Cepat", mungkin jalannya akan berbeda dan cinta akan jatuh di dua hati sekaligus. Ia menyimpannya dalam doa dan batas khayalnya. Sekejap saja, tapi akan dia ingat selamanya.

6. Kepastian
"Kepastian" bercerita tentang seseorang yang masih menunggu. Masih selalu dia, dan masih tentang dia. Tapi menunggu bukan berarti tanpa batas. Ia punya waktu, dan ia tak mau terus dihantui ragu.
Kini ia meminta bukti dan kejelasan atas hubungan yang selama ini menggantung. Permintaannya sederhana, kepastian, agar kamu dan dirinya benar-benar menjadi satu, sebagaimana semestinya.

7. Jika Kau Bukan Cinta
Satu pertanyaan yang berulang ditanyakan, "Jika Kau Bukan Cinta", mengapa hatiku hangat saat memikirkannya? Mengapa air mata menetes untuknya, jiwaku teduh dalam pelukannya, dan aku merasa terikat ketika dia tak di sisiku?. Bercerita tentang keyakinan hati seseorang untuk cinta terdalamnya, hingga waktu tak perlu ditanya. Meski keadaan terasa tak mungkin, semuanya tetap terasa ajaib. Lagu ini ditutup dengan pertanyaan terbesar dari semuanya, jika bukan cinta, lalu mengapa kita dipertemukan?

8. Tanpa Batas Waktu
"Tanpa Batas Waktu" bercerita tentang cinta yang setia menunggu, meski jarak dan waktu memisahkan. Di dalamnya ada rindu yang begitu dalam, dari seseorang yang tetap bertahan di tempat yang sama dengan perasaan yang tak pernah berubah, hanya berharap suatu hari orang yang dicintainya kembali.
Seperti judulnya, lagu ini mengingatkan bahwa cinta yang tulus tidak mengenal masa kedaluwarsa. Meski harus memandang dari jauh dan menahan cemburu, rindu itu tetap hidup lewat doa, karena yang dicintai boleh jauh di mata, tapi selalu dekat di doa.

9. Lebih Hati-Hati
Ada yang terlalu dimabuk cinta hingga lupa diri, lupa teman, bahkan lupa makan. Ada pula yang tak benar-benar cinta tapi memaksakan, hingga semuanya berantakan. Dari kegagalan itu, ia memilih mengambil hikmahnya karena gagal tidak berarti hancur. Kehilangan mengajarinya tentang sakit, dan perpisahan mengajarinya tentang ikhlas. Patah hati ada agar kita belajar mencintai dengan "Lebih Hati-Hati". Cinta itu dirasakan, bukan dipikirkan, dan semua ada masanya, termasuk bahagia.

10. Dominasi (Acoustic Version)
Kisah yang sama dengan lirik yang sama, kini hadir dalam nuansa akustik yang lebih sederhana dan intim. Tentang seseorang yang lama menahan dan akhirnya berani bersuara di hadapan pasangan yang selalu ingin menang sendiri. Pertanyaan yang menutup lagunya tetap sama, dan terasa lebih jujur dalam versi ini, bukankah cinta itu saling berdua?

11. Blue. (feat. Mads Wegner)
Setelah sepuluh cerita tentang menunggu, kehilangan, sakit dan belajar melepaskan, album ini ditutup tanpa sepatah katapun. Lagu yang menjadi nama album ini memberi ruang bagi perasaan yang tak sempat terucap di lagu-lagu sebelumnya. Di sini gitar, drum, dan bass yang berbicara. Hasil kolaborasi Gloria Jessica dan Ade Govinda bersama Mads Wegner ini seperti jeda panjang setelah cerita usai, tempat pendengar bisa merasakan Blue. dengan caranya sendiri.

Maka ketika kisah patah hati telah usai, melangkahlah masuk ke sebuah ruang bernama "Blue."

Social Medias
Follow Gloria Jessica : Instagram | TikTok | YouTube |
Follow Ade Govinda : Instagram | TikTok | YouTube |
Follow MyMusic Records : Instagram | TikTok | YouTube |
Follow Album Blue. : Instagram | TikTok |

Rabu, 30 September 2026

Terjebak Hubungan yang Menyakitkan, Stevan Pasaribu dan Andi Rianto Hadirkan “siapa yang tahan”

Jakarta, 30 September 2026 — Ada kalanya seseorang bertahan bukan karena masih bahagia, tetapi karena masih berharap semuanya bisa kembali seperti semula. Namun, ketika luka datang berulang kali dan kesetiaan hanya berjalan satu arah, muncul satu pertanyaan sederhana: siapa yang tahan?

​Pertanyaan tersebut menjadi inti dari karya terbaru Stevan Pasaribu bersama Andi Rianto berjudul "siapa yang tahan". Lagu ini mengangkat kisah seseorang yang berada di titik jenuh dalam sebuah hubungan yang sudah tidak lagi sehat. Berulang kali mencoba bertahan, hingga akhirnya menyadari bahwa sebuah hubungan tidak mungkin terus diperjuangkan sendirian.

​Ditulis oleh Andi Rianto, Stevan Pasaribu, dan Kamga, "siapa yang tahan" menggambarkan hubungan dengan pasangan yang egois dan keras kepala. Setiap usaha untuk mempertahankan hubungan justru kembali berujung pada luka yang sama. Hal tersebut tergambar melalui lirik "Terpujilah wahai kerasnya kepalamu", hingga emosi yang semakin memuncak pada bagian chorus, "Sirna, habis tak tersisa, senangmu menyiksa, ku ada batasnya."

​Bagi Stevan Pasaribu, "siapa yang tahan" menjadi ruang untuk menyampaikan cerita tentang seseorang yang sudah terlalu lama bertahan dalam sebuah hubungan yang justru semakin banyak melukai.

​"Lewat lagu ini, aku ingin menyampaikan cerita tentang seseorang yang sudah terlalu lama bertahan dalam sebuah hubungan yang sebenarnya sudah banyak melukainya. Kadang kita bertahan bukan karena semuanya masih baik baik saja, tapi karena masih berharap keadaan bisa berubah. Sampai akhirnya kita sadar bahwa hubungan itu nggak bisa diperjuangin sendirian. Buat aku, 'siapa yang tahan' bukan cuma tentang berakhirnya sebuah hubungan, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa kita juga punya batas dan berhak memilih diri sendiri," ujar Stevan.

​Kolaborasi ini juga mempertemukan karakter vokal Stevan dengan musikalitas Andi Rianto yang dikenal melalui aransemen yang cinematic dan megah. Aransemen "siapa yang tahan" diperkuat dengan orkestrasi Budapest Scoring Orchestra.

​Perpaduan vokal Stevan Pasaribu dan musik Andi Rianto membuat "siapa yang tahan" tidak hanya bercerita tentang hubungan yang berakhir, tetapi juga tentang proses seseorang ketika mulai menyadari bahwa cinta dan kesetiaan tidak akan cukup jika hanya diperjuangkan oleh satu pihak. Pada akhirnya, seseorang harus menentukan batas antara terus bertahan atau mulai menghargai dirinya sendiri.

​Cerita tersebut kemudian divisualisasikan melalui music video yang mengisahkan sepasang kekasih dalam hubungan penuh tekanan. Sang cewek digambarkan posesif dan kerap mengekang pasangannya, membuat hubungan mereka semakin tidak sehat. Namun, konflik semakin memuncak ketika sang cowok mengetahui bahwa kekasihnya justru berselingkuh. Merasa selama ini dikekang dan dituntut untuk setia, ia pun diliputi kemarahan dan kekecewaan.

​Lagu ini hadir untuk mereka yang pernah berada di persimpangan antara terus bertahan atau mulai memilih diri sendiri. Karena terkadang, melepaskan bukan berarti tidak pernah mencintai. Bisa jadi, itu adalah saat ketika seseorang akhirnya menyadari bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

​Single "siapa yang tahan" dari Stevan Pasaribu & Andi Rianto resmi dirilis pada 30 September 2026 dan sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital. Untuk music video dan aktivitas lainnya, dapat mengunjungi channel YouTube Stevan Pasaribu Musica Official.

​CREDITS

​Courtesy of Musica Studios

Executive Producer: Indrawati Widjaja

A&R Manager: Arlan Djoewarsa

​Music Credits

Song: Andi Rianto, Kamga, Stevan Pasaribu

Lyrics: Andi Rianto, Kamga, Stevan Pasaribu

Track produced and arranged by Andi Rianto

Budapest Scoring Orchestra orchestrated by Andi Rianto

Vocal directed by Irv Nat

Synth Bass by Rishanda Singgih

Guitars by Devinza Kendranata

Drums by Rio Alief

Data wrangler by Sulton Abdul Azis

Music preparation service by Poppy Hanadhy

Audio Supervisor by Raditya Aundika

Mixed by Green Peak Musik

Mastered by Randy Merrill for Sterling Sound, USA

Publishing: Aquarius Pustaka Musik, Sony Music Publishing Indonesia, Musica Publiser Indonesia

​Music Video Credits

Director: Bagoes Tresna Adji

Producer: Putri Syabrina

DP & Editor: Bagoes Tresna Adji

Production Assistant: Topo Yanri

Camera Assistant: Martinus Tito

Gaffer: Taryana

Lightingman: Nana, Iwan, Lucky

Make up Artist: Revania Shabika

Hair stylist: Khaerunnisa

Wardrobe: Sissy Theresia, Wisnu Sulistyanto, Diana Putri Suhendro

BTS Videographer: Adel Tamara

​Cast:

Male: Nicholas Andersen

Female: Julliete Wirawan

Supporting: Famisa Yusuf

​​LYRICS

​SIAPA YANG TAHAN

​Terpujilah wahai kerasnya kepalamu

Namamu terbang jauh tinggalkan

Kelakuanmu

​Berkali kali kau patahkan

Dan lagi lagi ku bertahan

​Chorus

Sirna

Habis tak tersisa

Senang mu menyiksa

Ku ada batasnya

Seakan akan

Semesta jatuh tanpa kata

Kiamatkan arti cinta

​Bridge

Siapa yang tahan

Perlakuan

Sebegini bengisnya

Karena percuma

Jadi setia

Sendirian

​Sirna

Habis tak tersisa

Senang mu menyiksa

Aku ada batasnya

​Seakan akan

Semesta jatuh tanpa kata

Runtuhlah

Hancurlah sudah

Kiamatkan

Rasa

Rasa cinta  

Madani International Film Festival 2026 Angkat Tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”

Digelar 7–11 Oktober 2026, Madani Fest menghadirkan film, musik, diskusi, pertunjukan, serta kolaborasi puluhan komunitas di berbagai ruang ...