Sabtu, 02 Mei 2026

Satu Suara! Tiga Asosiasi Produser Film Indonesia Bersatu dalam Forum Bersejarah

Jakarta, 1 Mei 2026 – Industri perfilman Indonesia memasuki babak baru yang bersejarah. Tiga asosiasi produser film utama: Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), dan Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) untuk pertama kalinya sepakat bersatu membentuk Forum Produser Film Indonesia.

​Langkah strategis ini diambil sebagai upaya kolektif untuk memastikan masa depan industri film nasional yang lebih inovatif dan inklusif. Forum ini direncanakan menjadi agenda berkelanjutan guna membahas isu-isu krusial serta tantangan industri film di masa depan.

Luncurkan Manifes: Produser Sebagai Lokomotif Industri

​Pertemuan perdana ini menghasilkan dokumen bersejarah yang disebut sebagai Manifes Produser Film Indonesia. Dokumen ini menjadi pernyataan sikap sekaligus komitmen bersama dalam merumuskan arah ekosistem film nasional.

​Dalam manifes tersebut, forum secara tegas menyatakan bahwa produser adalah lokomotif pembangunan industri yang harus menjadi mitra utama pemerintah dalam perumusan kebijakan.

​Industri film Indonesia harus dibangun dengan tata kelola yang sehat, transparan, dan akuntabel melalui penguatan ekosistem hulu-hilir serta standar pembiayaan yang adil. Kekuatan masa depan industri ini diletakkan pada kolaborasi antar-asosiasi yang solid guna melakukan advokasi kebijakan terpadu dan menanggalkan ego sektoral.

​Forum juga mendesak negara agar mengakui film sebagai sektor strategis nasional setara dengan sektor lainnya, mengingat dampaknya yang besar terhadap ekonomi kreatif dan diplomasi budaya. Lebih lanjut, para produser menuntut peran aktif negara dalam menjamin keberpihakan melalui insentif dan perlindungan distribusi agar ruang tumbuh industri tetap sehat.

​Untuk mendukung perencanaan modern, forum berkomitmen membangun database industri yang berbasis fakta, mencakup data produksi hingga jumlah penonton. Prinsip gerak forum ini pun berlandaskan pada profesionalisme, meritokrasi, dan etika kerja, termasuk komitmen melindungi pekerja film dari eksploitasi.

​Secara kolektif, mereka menyatakan sikap tegas menolak praktik monopoli serta pola bisnis yang tidak seimbang yang dapat melemahkan industri. Kreativitas pun akan terus dikembangkan dengan menjadikan keragaman Indonesia sebagai basis identitas yang mampu bersaing secara global. Terakhir, forum bertekad membangun masa depan perfilman secara berkelanjutan melalui inovasi yang memberi manfaat ekonomi-sosial bagi generasi mendatang.

​Forum ini juga menyerukan penguatan lembaga perfilman nasional, yang memiliki mandat menjadi lembaga pelaksana, bukan sekadar pengarah. Kehadiran Lembaga ini mengukuhkan bahwa masa depan perfilman Indonesia ditentukan oleh insan film Indonesia.

​Dengan terbentuknya forum ini, PPFI, APROFI, dan APFI menyampaikan sinyal kuat bahwa industri film Indonesia membutuhkan tata kelola yang lebih modern, berbasis data, dan dipandu oleh kepentingan bersama produser sebagai motor utama produksi. Konsolidasi ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia di lanskap perfilman nasional maupun internasional.

​Forum Produser Film Indonesia dijadwalkan menjadi ruang dialog berkelanjutan untuk membahas isu-isu strategis, menyusun program bersama, serta memastikan terciptanya ekosistem film yang sehat, inklusif, dan kompetitif bagi seluruh pekerja film Indonesia.

Para Pemain "Mortal Kombat II" Meriahkan Tur Global di Jakarta lewat kehadiran di Fan Event dan Red Carpet di Jakarta

Untuk pertama kalinya, Jakarta menjadi bagian dari rangkaian global tour sebuah produksi besar Hollywood lewat fan event dan red carpet "Mortal Kombat II" dari New Line Cinema.

Jakarta, 2 Mei 2026 – Warner Bros. Pictures akan menggelar "Mortal Kombat II" Global Tour di Jakarta, menandai pertama kalinya kota ini dipilih sebagai salah satu destinasi dalam tur global film Hollywood berskala besar. Digelar pada 3 Mei di Epiwalk Mall, rangkaian acara di Jakarta akan menghadirkan fan event dan red carpet eksklusif, menghadirkan kesempatan bagi para penggemar untuk bisa lebih dekat dengan para bintang dari salah satu film aksi paling dinanti tahun ini yang diadaptasi dari video game ikonik. Acara ini akan dihadiri oleh para pemeran "Mortal Kombat II": Ludi Lin, Tadanobu Asano, Joe Taslim, dan Max Huang.

​Aktor Indonesia, Joe Taslim kembali memerankan Bi-Han, karakter dari Netherrealm yang perjalanannya dalam "Mortal Kombat II" mengambil arah yang jauh lebih gelap dari sebelumnya. Dihantui oleh berbagai kejadian masa lalu, Bi-Han digambarkan sebagai sosok yang tersiksa yang semakin tenggelam dalam kegelapan, berevolusi menjadi seorang pembunuh yang kejam dan tangguh. "Mortal Kombat II" mengembangkan karakternya dengan kompleksitas emosional yang lebih dalam, menempatkannya di pusat konflik yang kian memanas antara berbagai alam semesta.

Ludi Lin memerankan Liu Kang, tokoh sentral yang menjadi jantung dan kompas moral utama dari saga Mortal Kombat. Dikenal karena kekuatan, kedisiplinan, dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan, Liu Kang mencerminkan keseimbangan sempurna antara kekuatan dan tujuan. Karakternya semakin dipertegas oleh kemampuan apinya yang mistis, mencerminkan gairah batin dan intensitas emosi. Dalam "Mortal Kombat II", perjalanan Liu Kang dipengaruhi oleh kehilangan pribadi dan tanggung jawab yang semakin besar, menghadirkan kedalaman emosional yang kuat dalam perannya.

Max Huang memerankan Kung Lao, seorang petarung yang sangat terampil sekaligus mantan biksu Shaolin yang dibesarkan bersama Liu Kang. Dikenal karena tingkat akurasinya serta topi bertepi pisaunya yang ikonik, Kung Lao menjadi salah satu karakter yang paling tangguh di semesta Mortal Kombat. Dalam "Mortal Kombat II" karakternya menjalani sebuah perjalanan yang kompleks dan penuh emosi, didorong oleh rasa terabaikan dan tekad untuk balas dendam. Evolusi ini menambahkan cerita-cerita baru yang menarik dalam perjalanannya, menyoroti konflik batin sekaligus transformasi yang dialaminya.

Tadanobu Asano memerankan Lord Raiden, seorang Dewa Petir yang disegani serta menjadi pemandu bagi para juara di Earthrealm. Dengan kemampuan luar biasa, termasuk kekuatan mengendalikan petir dan melintasi berbagai alam semesta, Raiden memainkan peranan penting dalam memilih serta membimbing para pejuang yang melindungi Earthrealm. Dalam "Mortal Kombat II", misinya berlanjut saat dirinya mengenali potensi tersembunyi dalam diri sekutu-sekutunya yang tak terduga, hal ini semakin mempertegas perannya sebagai pemimpin dan mentor yang legendaris.

​Dalam fan event dan red carpet di Jakarta nanti, komunitas penggemar lokal Kombatant ID akan turut berpartisipasi. Hal ini tentunya menggambarkan antusiasme yang luar biasa dari para penggemar film ini di Indonesia. "Momen ini bukan sekadar bertemu para pemeran, tapi mencerminkan bagaimana Mortal Kombat terus berkembang dan relevan dengan para penggemar lintas generasi," kata Kiki Kai, perwakilan dari Kombatant ID. "Melihat Jakarta menjadi salah satu lokasi global tour tentunya jadi sebuah pengakuan yang luar biasa bagi komunitas Indonesia."

"Mortal Kombat II" melanjutkan kesuksesan film tahun 2021 dengan memperluas semesta cerita melalui dunia-dunia baru, karakter ikonik, serta adegan pertarungan yang intens dan visceral. Dengan lebih banyak aksi, humor yang tajam, serta emosi yang kuat, film ini menjanjikan pengalaman yang LEBIH BESAR, LEBIH SERU, DAN LEBIH BRUTAL—menghadirkan pengalaman Mortal Kombat yang selama ini dinantikan para penggemar.

​"Mortal Kombat II" akan tayang di bioskop dan IMAX® di seluruh Indonesia pada 6 Mei 2026. Kamu dapat menonton trailer resminya di sini. Film ini memiliki rating 17+ dari lembaga sensor di Indonesia.

###

Tentang "Mortal Kombat II"

​Dari New Line Cinema hadir lini terbaru penuh ketegangan dari waralaba video game blockbuster dengan segala kebrutalan-nya, "Mortal Kombat II." Kali ini para juara favorit penggemar (dan bergabungnya Johnny Cage) dipertemukan satu sama lain dalam pertarungan berdarah yang tak kenal batas, demi mengalahkan kekuasaan gelap Shao Kahn yang mengancam keberadaan Earthrealm beserta para pembelanya.

​Karl Urban berperan sebagai Johnny Cage, bersama Adeline Rudolph, Jessica McNamee, Josh Lawson, Ludi Lin, Mehcad Brooks, Tati Gabrielle, Lewis Tan, Damon Herriman, Chin Han, Tadanobu Asano sebagai Lord Raiden, Joe Taslim sebagai Bi-Han, dan Hiroyuki Sanada sebagai Hanzo Hasashi dan Scorpion.

​Sutradara Simon McQuoid kembali menyutradarai sekuel dari petualangan sinematik dahsyatnya di tahun 2021, dari skenario yang ditulis oleh Jeremy Slater, berdasarkan video game ciptaan Ed Boon dan John Tobias. Film ini diproduksi oleh Todd Garner, E. Bennett Walsh, James Wan, Toby Emmerich, dan Simon McQuoid, serta Produser Eksekutif Michael Clear, Judson Scott, Jeremy Slater, Ed Boon, dan Lawrence Kasanoff.

​Dibalik layar, McQuoid didampingi oleh director of photography Stephen F. Windon, production designer Yohei Taneda, editor Stuart Levy dan costume designer Cappi Ireland, dengan casting dilakukan oleh Rich Delia dan musik oleh Benjamin Wallfisch.

​New Line Cinema Mempersembahkan sebuah Produksi Atomic Monster/Broken Road, sebuah Produksi Fireside Films, "Mortal Kombat II." Film ini akan didistribusikan ke seluruh dunia oleh Warner Bros. Pictures, hanya di bioskop dan IMAX® mulai 6 Mei 2026.


Jumat, 01 Mei 2026

​“SUAMIKU LUKAKU” RILIS TRAILER, ANGKAT KISAH KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG KERAP TERSEMBUNYI DI BALIK CITRA KELUARGA HARMONIS

Original Soundtrack oleh Kris Dayanti berjudul “Aku Bangkit” hadir sebagai penguat emosi cerita

Jakarta, 1 Mei 2026 – Rumah produksi SinemArt resmi merilis trailer perdana film terbarunya, SUAMIKU LUKAKU, sebuah film drama yang mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap tersembunyi di balik citra keluarga yang tampak harmonis. Kisah yang diangkat dalam SUAMIKU LUKAKU pun terinspirasi dari realitas yang dialami oleh 1 dari 4 perempuan di Indonesia, menjadikannya cerminan isu yang dekat dan nyata di masyarakat.

​Melalui trailer ini, penonton diperlihatkan dinamika hubungan Amina (Acha Septriasa) dan Irfan (Baim Wong) yang dipenuhi kekerasan, baik fisik yang meninggalkan luka terlihat maupun kekerasan verbal yang menghadirkan luka batin mendalam. Dalam trailernya, Irfan digambarkan sebagai sosok yang dipandang sebagai pemuka agama di lingkungan sekitarnya, mengikuti jejak ayahnya, sehingga citra yang dibangun di hadapan publik berbanding terbalik dengan realitas yang dialami Amina di dalam rumah. Perlakuan Irfan tidak hanya melukai Amina, tetapi juga berdampak pada putri mereka, Nadia (Azkya Mahira), serta meninggalkan kepedihan bagi ibunda Amina (Ayu Azhari). Di pertengahan trailer, Amina mulai menunjukkan perlawanan, sebuah titik balik yang menandai keberanian untuk tidak lagi diam. Dibantu oleh Zahra (Raline Shah), seorang pengacara yang berani memperjuangkan hak perempuan, Amina berusaha bersuara. Namun, perjalanan untuk keluar dari lingkaran kekerasan tersebut tidaklah mudah.

​Disutradarai oleh Ssharad Sharaan dan Viva Westi, serta ditulis oleh Titien Wattimena dan Beta Ingrid Ayu, film ini hadir sebagai ruang refleksi atas realitas yang kerap luput dari perhatian. “Sejak awal, kami ingin menghadirkan cerita pernikahan yang terlihat sempurna di luar, tetapi menyimpan kekerasan emosional dan fisik yang berlangsung bertahun-tahun di dalamnya. Banyak perempuan hidup dalam situasi di mana diam menjadi cara untuk bertahan, hingga ada titik ketika semuanya tidak bisa lagi dipertahankan, terutama saat menyangkut masa depan anak. Dari situ, keberanian untuk melawan mulai tumbuh. Itulah inti dari perjalanan film ini, tentang perlawanan, kesadaran, dan upaya untuk memecah keheningan,” ujar Ssharad Sharaan.

​Viva Westi menambahkan, “Banyak perempuan yang kehilangan ruang untuk bersuara, bahkan di rumahnya sendiri. Mereka dibungkam oleh kekerasan dari orang yang mereka pernah percaya bisa memberikannya kenyamanan dan keamanan. Semoga melalui film ini, perempuan-perempuan di luar sana yang menjadi korban sama seperti Aminah, di manapun berada, bahkan tempat paling terpencil di Indonesia, yang sadar bahwa kita berhak memperjuangkan suara kita, dan hak kita atas tubuh dan diri kita sendiri. Sudah waktunya perempuan berhenti diidentifikasi dengan Luka, sudah waktunya perempuan diidentifikasi dengan keberanian.”

​Bagi Acha Septriasa, memerankan Amina menjadi pengalaman yang sangat personal dan emosional. “Amina adalah representasi dari banyak perempuan yang mungkin selama ini memilih diam, bukan karena mereka lemah, tetapi karena situasi yang membuat mereka merasa tidak punya pilihan. Selama proses memerankan karakter ini, saya belajar bahwa luka yang dialami tidak selalu terlihat, tapi dampaknya sangat dalam dan nyata. Saya berharap penonton bisa merasakan pergulatan batin Amina, memahami ketakutan dan kebimbangannya, sekaligus melihat bahwa selalu ada ruang untuk bangkit, sekecil apapun langkah yang diambil.”

SUAMIKU LUKAKU juga telah lebih dulu memperkenalkan original soundtrack berjudul “Aku Bangkit” yang menjadi bagian penting dalam memperkuat emosi cerita. Lagu ini pertama kali dinyanyikan langsung oleh Kris Dayanti dalam acara peluncuran Trailer & Original Soundtrack pada 13 Maret 2026 di XXI Epicentrum, Jakarta, yang hadir sebagai perpanjangan emosi dari perjalanan Amina. Tentang luka, keberanian, dan proses untuk bangkit. Sebagai satu kesatuan, trailer dan lagu “Aku Bangkit” menghadirkan pengalaman emosional yang saling melengkapi.

SUAMIKU LUKAKU menjadi lebih dari sekadar film, tetapi juga sebuah ajakan untuk melihat, mendengar, dan tidak lagi berpaling dari realitas yang terjadi di sekitar kita, karena pada akhirnya, diam bukan lagi pilihan.

​Saksikan film SUAMIKU LUKAKU mulai 27 Mei 2026.

SINOPSIS

​Suamiku Lukaku bercerita tentang Amina (Acha Septriasa), seorang ibu yang menjalani kehidupan yang sulit, menikah dengan Irfan (Baim Wong), sosok yang terlihat baik di depan orang lain, tapi menakutkan di dalam rumah. Saat kondisi anak mereka, Nadia (Azkya Mahira), semakin memburuk dan nyawanya terancam, Amina harus bertahan dalam kekerasan dan ketakutan setiap hari, tanpa ada yang benar-benar melihat penderitaannya. Ketika ia bertemu Zahra (Raline Shah), seorang pengacara yang berani memperjuangkan hak perempuan, muncul harapan untuk bebas. Tapi kebebasan selalu ada harganya. Di dunia di mana kebenaran harus dibayar mahal, seberapa jauh seorang ibu akan berjuang demi anaknya.

Hashtag : #suamikulukaku #memecahkankesunyian

Instagram : @suamiku.lukaku

TikTok : @sinemart_movie

YouTube : @sinemartpictures

Website : https://www.sinemart.com/


Kamis, 30 April 2026

Film Shaka Oh Shaka Menampilkan Drama Romance Menggemaskan! Kisah Cinta yang Manis, Hangat, dan Puitis dari Pasangan Ikonik Baru di Layar Lebar: Kiesha Alvaro & Arla Ailani

Film Shaka Oh Shaka tayang mulai 7 Mei 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 30 April 2026 — Starvision kembali menghadirkan film drama romantis terbaru berjudul Shaka Oh Shaka yang menampilkan perjalanan menggemaskan, diperankan dengan manis oleh Kiesha Alvaro dan Arla Ailani.

​Mengikuti perjalanan cinta Shaka dan Ocel, saat mimpi seorang fans, Ocel (Arla Ailani), akhirnya bisa dekat dengan sang idola, Shaka (Kiesha Alvaro), dan akhirnya memiliki hubungan romantis spesial dan menjadi pasangan. Diproduseri oleh Chand Parwez Servia, Shaka Oh Shaka disutradarai oleh Dinna Jasanti, kolaborasi terbaru keduanya setelah sukses box office film Lebaran Senin Harga Naik.

​Sebagai pasangan baru yang diduetkan di layar, Kiesha dan Arla tampil dengan sangat menawan memerankan Shaka dan Ocel. Kharisma Kiesha sebagai idol sangat luar biasa, dengan akting Arla yang sangat meyakinkan menjadi seorang fans yang tergila-gila dengan idolanya.

​Penonton akan melihat banyak adegan manis dari Kiesha dan Arla, termasuk saat momen pertemuan pertama antara fans dan idol-nya, momen pertama kali seorang idol meruntuhkan tembok privasinya dan mengajak fans-nya untuk memasuki kehidupan di balik panggung.

​Diadaptasi dan dikembangkan dari novel bestseller karya Jocelyn Suherman, Shaka Oh Shaka dibintangi oleh jajaran ansambel bertabur bintang yang juga telah menjadi bagian dari perjalanan Starvision selama 3 dekade berkarya di industri perfilman Indonesia. Selain Kiesha dan Arla, Shaka Oh Shaka turut dibintangi di antaranya oleh Artika Sari Devi, Vira Yuniar, Joshua Suherman, Maisha Kanna, Dennis Adhiswara, Teuku Ryzki, Amel Carla, Adzana Ashel, Mazaya Amania, Altaaf Akavi, Sadana Agung, Arie Nugroho, Leya Princy, Nicholas Calame, Adzando Davema, Clairine Clay, Kiki Narendra, Lam Ting, Baim, Ben Kasyafani, Shakeel Fauzi, Shaqueena Medina, Alfian Phang, Desthalia Florenza, Farel Alvarez, dan lain-lain.

​"Film Shaka Oh Shaka menjadi pendekatan baru dari Starvision dalam menggarap drama romance remaja dengan balutan nilai-nilai kekeluargaan yang memberikan rasa hangat, sekaligus menggemaskan. Film ini memiliki banyak warna, ada persahabatan, cinta, proses bertumbuh, juga tentang peranan support system keluarga. Banyak yang pernah merasakan menjadi Ocel dan Shaka, dan bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang sedang/akan jatuh cinta. Semoga karya ini akan menjadi tontonan yang menghangatkan dan inspiratif untuk lintas generasi," ujar produser Chand Parwez Servia.

​Pendekatan baru yang ditempuh oleh Starvision adalah secara berani membawa kisah romansa pasangan yang saling mengejar mimpi kerap kali harus berakhir dengan perpisahan, justru diramu berbeda di akhir film. Membuat Shaka Oh Shaka meninggalkan kesan yang indah dan manis setelah menontonnya.

​Kembalinya Kiesha Alvaro juga akan mengulang suksesnya bersama Starvision setelah drama romansa remaja yang tayang saat Lebaran tahun lalu, Komang, serta Arla Ailani yang kembali dengan Starvision setelah sukses box office lewat horor Petaka Gunung Gede tahun lalu.

​“Shaka Oh Shaka berbicara tentang perjalanan cinta yang berbenturan dengan realita dan pencarian jati diri. Bermain untuk film terbaru Starvision, ini seperti kembali ke rumah yang sudah membesarkan aku,” kata Kiesha Alvaro.

​Di film ini, Kiesha juga lebih banyak menampilkan kekuatan vokalnya yang khas dan berkarakter. Termasuk saat membawakan lagu ikonik Melompat Lebih Tinggi dan lagu Just Like A Star. Tak hanya itu, Kiesha juga menyanyikan lagu yang khusus diciptakan untuk film ini berjudul Oxtella.

​“Pak Chand Parwez kali ini memberikan aku tantangan untuk memerankan karakter yang punya kharisma dan kegantengannya itu di atas rata-rata. Penonton akan lihat gemasnya kisah cinta Shaka dan Ocel dan perjalanan mereka berdua di tengah tekanan sorotan industri hiburan yang menurutku ini sangat fresh. Kisah cinta yang utuh, bertumbuh dan manis,” tambah Kiesha Alvaro.

​“Ini adalah pengalaman pertamaku untuk dipasangkan dengan Kiesha. Tentunya sejak awal kami mengeksplorasi chemistry dengan berbagai macam cara. Menurut aku, ini tuh sangat relate buat perempuan-perempuan yang sering banget punya manifestasi dan imajinasi untuk bisa dekat dengan idolanya. Jadi, buat penonton bakal nemu gemasnya film ini ketika Ocel akhirnya bisa bareng dengan idolanya, Shaka. Ini seperti mimpi semua fangirl di luar sana,” ujar Arla Ailani.

​Sutradara Dinna Jasanti yang baru saja sukses bersama Starvision melalui Senin Harga Naik, mengungkapkan skala produksi film Shaka Oh Shaka memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Baik secara ansambel pemeran yang terlibat hingga penggunaan lokasi, disebut Dinna tiga kali lipat lebih banyak dari film Senin Harga Naik.

​“Film ini menampilkan gemasnya perjalanan cinta dan kisah yang lengkap antara Shaka dan Ocel. Saat impian orang biasa dan cintanya ke yang diidolakan terwujud, tetapi ada ujian seiring berjalannya waktu. Saya berharap kisah romansa dari Ocel dan Shaka yang diperankan Arla dan Kiesha bisa memberikan kebaruan di drama romance Indonesia,” ujar sutradara Dinna Jasanti.

Film Shaka Oh Shaka tayang mulai 7 Mei 2026 di bioskop Indonesia. Ikuti perjalanan cinta antara fans dan idolanya dalam film Shaka Oh Shaka, yang akan membuat gemas dan hangat. Pantau informasi terbaru melalui akun Instagram @shakaohshakafilm, @starvisionplus, dan Tiktok @StarvisionOfficial.

Pemain dan Tim Produksi

Kiesha Alvaro - Shaka

Arla Ailani - Ocel (Oxtella)

Artika Sari Devi - Rosa

Vira Yuniar - Ibu Ocel

Joshua Suherman - Chandra

Maisha Kanna - Inez

Dennis Adishwara - Taka

Teuku Ryzki - Ican

Amel Carla - Carla

Adzana Ashel - Violetta

Mazaya Amania - Yasmin Kecil

Altaaf Akavi - Edgar Kecil

Sadana Agung - Bang Adik

Arie Nugroho - Edgar Dewasa

Leya Princy - Yasmin Dewasa

Nicholas Calame - Azka

Adzando Davema - Adzando

Clairine Clay - Istri Chandra

Kiki Narendra - Bapak Ocel

Lam Ting - Koh Steven

Baim - Gunawan

Ben Kasyafani - Host Podcast

Shakeel Fauzi - Shaka Kecil

Shaqueena Medina - Ocel Kecil

Alfian Phang - Tanoto

Desthalia Florenza - Florenza

Farel Alvarez - Pacar Inez


Produksi: Starvision

​Produser: Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

​Sutradara: Dinna Jasanti

​Produser Eksekutif: Reza Servia, Amrit Dido Servia, Raza Servia

​Produser Lini: Sara Kessing

​Penulis Skenario: Rino Sarjono, Alim Sudio

​Adaptasi Novel Best Seller Karya: Jocelyn Suherman

​Pengarah Artistik: Okie Yoga Pratama

​Penata Kamera: Amalia TS, ICS

​Penyunting Gambar: Ahmad Yuniardi

​Penata Suara: Aditya Trisnawan

​Perekam Suara: Yusuf Patawari

​Penata Musik: Hariopati Rinanto

​Penata Warna & VFX: Super 8MM Studio

​Penata Grafis: Mataque Studio

​Penata Rias: Nathasa Agnes

​Penata Busana: Angela Suri Nasution

​Penata Peran: Arief Havidz, Erik Arfin

​Perancang Poster: Alvin Hariz

​OST:

Melompat Lebih Tinggi – Kiesha Alvaro

​Lihat Kebunku (Taman Bunga) – Aku Jeje

​Satu Tuju – Raissa Anggiani

​Just Like A Star – Kiesha Alvaro & Arla Ailani

​Oxtella — Kiesha Alvaro

FILM ZONA MERAH DIPRESENTASIKAN DI CANNES FILM MARKET 2026

Screenplay Films Gandeng Barunson E&A Untuk Penjualan Global Film Zona Merah

Jakarta, 29 April 2026 - Film zombie aksi-horor Indonesia Zona Merah resmi melangkah ke panggung global dengan judul internasional Zona Merah: Dead City. Barunson E&A—perusahaan produksi dan sales internasional di balik film pemenang Oscar Parasite akan menangani penjualan internasional, dengan presentasi perdana di Cannes Film Market 2026.

​Diproduksi oleh Screenplay Films, Zona Merah merupakan adaptasi layar lebar dari serial hit Zona Merah. Versi film akan hadir dengan skala yang lebih besar, cerita yang lebih gelap, dan intensitas yang semakin tinggi. Konflik berkembang semakin kompleks, karakter digali lebih dalam, dan atmosfer chaos terasa semakin intens saat manusia harus bertahan hidup di tengah ancaman para mayat hidup. Dengan stakes yang jauh lebih tinggi, film ini menjanjikan pengalaman yang lebih imersif dibandingkan versi series.

​Film ini disutradarai oleh Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa. Sejumlah pemeran dari serial akan kembali, termasuk Aghniny Haque, Andri Mashadi, Maria Theodore, Devano, dan Lukman Sardi, serta diperkuat nama-nama baru seperti Luna Maya, Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, dan Derby Romero. Proses syuting dimulai sejak April 2026 dan akan rampung pada Mei.

​Produser sekaligus CEO Screenplay Films, Wicky V. Olindo, menyebut adaptasi ini sebagai langkah global: "Zona Merah membuktikan kekuatan cerita yang benar-benar terhubung dengan penonton. Mengembangkannya ke layar lebar adalah progres yang tak terhindarkan, baik secara kreatif maupun komersial."

​Sementara itu, CEO Barunson E&A, Yoonhee Choi, melihat momentum besar dari industri Indonesia: "Pasar Indonesia sedang berada di titik penting. Zona Merah menjadi sinyal perubahan, dan film ini membawanya lebih jauh. Cannes adalah panggung yang tepat untuk memperkenalkan film Zona Merah ke dunia."

​Dengan dukungan pemain global dan rekam jejak kuat di genre, Zona Merah: Dead City siap menjadi salah satu judul Indonesia yang mencuri perhatian di pasar internasional.

Ikhlas Paling Serius Tayang di Viu, Omar Daniel dan Kimberly Ryder Bawa Kisah Cinta tentang Luka Keluarga dan Melepaskan.

Jakarta, 30 Mei 2026 — Viu Indonesia bersama MAXStream TV menghadirkan original series kolaborasi keempat, Ikhlas Paling Serius, drama romantis yang menempatkan cinta, luka keluarga, dan pengorbanan sebagai pusat cerita, tayang mulai 1 Mei 2026.

​Dijumpai dalam Premiere Screening Ikhlas Paling Serius, kemarin (29/4/2026) di Jakarta, Omar Daniel mengungkapkan, "Cerita tentang ikhlas akan selalu relate dengan banyak orang di setiap masa, baik urusan pekerjaan, hubungan dengan orang lain dengan berbagai problematika. Karena pada akhirnya, hampir semua orang pernah berada di titik harus memperjuangkan atau belajar melepaskan," ujarnya.

​Bagi Kimberly Ryder, tantangannya dalam drama ini adalah tentang emosi dari sosok wanita yang tampak kuat namun sebenarnya tertekan. "Saya sangat happy dan menikmati saat harus tampil menjadi sosok yang menekan dan galak. Namun tantangan terbesarnya justru saat harus meluapkan emosi saat merasakan kesedihan yang sangat dalam," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Kisah Fajar dan Farah

​Diadaptasi dari mega best seller book karya Fajar Sulaiman, series ini mempertemukan Omar Daniel sebagai Fajar dan Kimberly Ryder sebagai Farah—dua karakter dengan cara mencintai yang bertolak belakang. Fajar adalah sosok yang terbiasa mengutamakan orang lain hingga sering mengabaikan dirinya sendiri, sementara Farah tumbuh sebagai perempuan ambisius yang keras di luar, namun menyimpan kerapuhan akibat tekanan keluarga.

​Lewat karakter Fajar, Omar Daniel menyoroti persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: kecenderungan menjadi people pleaser dan kesulitan mengatakan tidak.

​"Fajar itu sedikit plin-plan. Karena dia people pleaser, tipikal orang yang nggak enakan, bingung cara menolak. Tapi justru dari situ aku melihat ikhlas itu seperti level tertinggi dari mencintai—rela melepaskan dan menerima tanpa mengharapkan imbalan," kata Omar Daniel.

​Dimensi inilah yang membuat Ikhlas Paling Serius hadir lebih dari sekadar drama cinta. Series ini menangkap bagaimana kebiasaan menyenangkan semua orang justru bisa membuat seseorang kehilangan arah atas pilihan hidupnya sendiri.

​Kimberly Ryder, yang memerankan Farah, menghadirkan lapisan emosi berbeda lewat karakter perempuan yang terlihat dominan, namun sesungguhnya dibentuk oleh relasi keluarga yang rumit.

​"Farah itu hard worker dan terlihat tegas, tapi sebenarnya hatinya lembut. Ada tuntutan dari ibunya yang membentuk siapa dia. Itu yang membuat dia juga sulit untuk ikhlas," ujar Kimberly Ryder.

​Pertemuan Fajar dan Farah bermula ketika Fajar bekerja di kantor Farah, seorang bos muda perfeksionis yang tanpa diduga justru mengguncang keyakinannya sendiri. Situasi berkembang semakin rumit saat Fajar diam-diam diminta memata-matai Farah, sementara benih cinta justru tumbuh di antara keduanya.

​Konflik yang dihadirkan tidak semata soal cinta terlarang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bernegosiasi dengan trauma, kewajiban keluarga, dan keberanian memilih dirinya sendiri.

​Menurut Viu, kekuatan Ikhlas Paling Serius terletak pada relevansinya dengan pengalaman emosional banyak penonton hari ini.

​Selain Omar Daniel dan Kimberly Ryder, series ini juga dibintangi Fahad Haydra, Amara Sophie, Kiara Mckenna, dan Caroline Zachrie, memperkuat dinamika cerita dengan karakter-karakter yang turut mendorong dilema para tokohnya.

​Dengan perpaduan drama relasi, konflik batin, dan narasi tentang penerimaan, Ikhlas Paling Serius menghadirkan pertanyaan yang jarang diangkat secara jujur dalam drama romantis: sampai kapan seseorang terus mengalah demi orang lain, dan kapan saatnya memilih dirinya sendiri?

Ikhlas Paling Serius tayang mulai 1 Mei 2026 eksklusif di Viu dan MAXStream TV.

Rabu, 29 April 2026

Relatable dengan Kaum Budak Korporat, Official Trailer, Poster & OST Film Monster Pabrik Rambut Rilis Menyambut Hari Buruh

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 29 April 2026 — Palari Films merilis official trailer, poster, dan original soundtrack (OST) film Monster Pabrik Rambut yang disutradarai Edwin, serta dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev. Official trailer menampilkan horor tentang dunia kerja yang dekat dengan situasi sekarang, ketika tempat kerja berubah serupa monster, yang memaksa para pekerja bekerja sampai mati.

​Nuansa pabrik rambut yang menjadi tempat bekerja Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha) ditampilkan dengan suasana mencekam di trailer. Putri dan Ida adalah kakak-adik yang terpaksa masuk ke pabrik rambut tersebut untuk mengungkap misteri kematian ibunya. Namun, saat mereka bekerja di pabrik tersebut, kejanggalan-kejanggalan justru semakin terasa, dan menambah keyakinan Ida yang percaya ibunya mati secara tak wajar ketika bekerja di pabrik tersebut.

​Sementara itu, Iqbaal, yang memerankan karakter Bona, menjadi adik bungsu dari Putri dan Ida. Ia memiliki kemampuan untuk meregenerasi seluruh anggota tubuhnya sendiri, layaknya Axolotl—amfibi asal Meksiko yang memiliki kemampuan unik meregenerasi seluruh anggota tubuhnya. Sebuah simbol yang menyiratkan pertanyaan, apakah para pekerja juga diharapkan bekerja terus menerus dengan regenerasi bagian tubuhnya sendiri?

​Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, film Monster Pabrik Rambut menjadi ko-produksi internasional antara Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, yang membuktikan kredibilitas kualitas film ini. Film ini ditulis oleh Edwin bersama Eka Kurniawan, yang menjadi kolaborasi kedua mereka setelah sukses internasional Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Selain bermain, Iqbaal Ramadhan juga turut menjadi produser eksekutif, bersama Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo dan Maudy Ayunda.

​"Di film Monster Pabrik Rambut, kami ingin menyampaikan bahwa kondisi kerja seringkali membuat kita menjadi seperti mesin, kerja terus menerus, atas nama produktivitas. Malah diharapkan bisa ganti 'spare parts' sendiri (seperti Axolotl). Seperti buruh di industri lainnya, buruh film juga seringkali kurang tidur. Dan tidak salah, karena kita mau menyenangkan keluarga kita, pacar kita, atau diri kita sendiri. Namun, kalau sampai mencelakakan diri sendiri, malah jadi menyedihkan," ujar penulis dan sutradara Edwin.

Monster Pabrik Rambut sendiri akan memberikan pengalaman sinematik yang baru dan berbeda untuk perfilman Indonesia. "Palari Films selalu berkomitmen untuk melahirkan karya yang mampu memantik percakapan dengan isu yang relevan dan penting untuk kita bicarakan bersama. Melalui film Monster Pabrik Rambut, kami ingin menghadirkan hiburan yang juga menyentil dengan visual yang fantastis dan sedikit ajaib," ujar produser Meiske Taurisia.

Official poster film Monster Pabrik Rambut menampilkan ketiga saudara, Rachel Amanda, Lutesha, dan Iqbaal Ramadhan, serta Sal Priadi dan Kev dengan tatapan kosong seperti kurang tidur. Tak hanya kehadiran kelimanya, sosok kepala Didik Nini Thowok terlihat di antara manekin kepala di lemari belakang, terlihat seperti mengintai mereka.

​Sementara itu, original soundtrack (OST) film yang berjudul Kepala, Pundak, Kerja Lagi dinyanyikan dan diciptakan oleh Sal Priadi, yang akan menjadi anthem bagi para pekerja yang masih harus berjuang dengan lembur sampai babak belur.

​Terciptanya OST ini berawal dari sebuah adegan yang mengharuskan Rudi, karakter yang diperankan Sal, bermain gitar dan bernyanyi. Hingga kemudian muncul diskusi antara Edwin dan Sal untuk mengembangkan lagu dalam adegan tersebut menjadi OST film.

​Bagi Rachel Amanda, Monster Pabrik Rambut terasa sangat dekat dengan situasi saat ini. Ketika generasi milenial dan Z kerap kali harus menormalisasi hustle culture demi mengejar duniawi dan pada akhirnya kurang tidur, hingga risiko kematian akibat kelelahan bekerja.

​"Overwork itu sesuatu yang nyata. Ini terjadi di semua industri kerja, termasuk di perfilman sendiri. Aku harap Monster Pabrik Rambut semakin menyadarkan kita tentang pentingnya istirahat, dan bahwa film ini juga akan menyadarkan orang tentang tidur adalah hak asasi manusia. Horornya dunia kerja itu nyata, kita sering banget mendengar cerita orang yang harus lembur sampai babak belur, dan Monster Pabrik Rambut ingin menyuarakan keresahan itu," kata Rachel Amanda.

Monster Pabrik Rambut juga menghadirkan ansambel pemeran yang unik dan kuat. Film ini juga menjadi horor perdana Iqbaal, serta film debut bagi kreator konten Kev, yang membuktikan kualitas aktingnya di layar lebar dan memberi bukti regenerasi industri perfilman Indonesia.

​Sal Priadi, yang pertama kali bekerja sama dengan Palari Films melalui Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas akan kembali bekerja sama di film Monster Pabrik Rambut. Tak hanya bermain, namun Sal juga dipercaya untuk menciptakan OST. film yang akan menjadi mars para pekerja di tengah gempuran lembur.

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Monster Pabrik Rambut persembahan Palari Films melalui akun Instagram resmi @palarifilms.


Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

MVP Pictures Bersama Manara Film Meluncurkan Gala Premiere Film AIN, Tandai Penayangan Perdana untuk Publik dan Media


Jakarta 29 April 2026 — Suasana mencekam dan penuh antisipasi menyelimuti gelaran Gala Premiere film 'Ain, karya terbaru dari MVP Pictures dan Manara Films. Film yang telah dinanti ini siap oleh Archie Hekagery, Ain secara tegas hadir sebagai film body horror pertama di Indonesia-bukan horor murni, melainkan perpaduan antara teror psikologis dan transformasi fisik yang intens dan mengganggu. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman visual yang lebih visceral, dekat, dan tidak nyaman-membawa penonton masuk ke dalam teror yang tidak hanya dirasakan, tetapi juga "terlihat".

Dibintangi oleh Brittany Fergie, Putri Ayudya, Bara Valentino, Clara Kaizer, Cindy Purba, hingga Bea Random, film ini menyuguhkan performa yang intens dan emosional, memperkuat atmosfer teror yang semakin mencekam dari awal hingga akhir. Mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan modern, Ain mengisahkan seorang beauty influencer yang hidupnya terlihat sempurna di media sosial. Namun di balik popularitas dan validasi yang ia terima, tersembunyi ancaman tak kasat mata-'ain atau evil eye, sebuah energi negatif dari tatapan penuh iri yang dipercaya mampu membawa malapetaka.


Apa yang dimulai dari perhatian dan kekaguman, perlahan berubah menjadi teror yang nyata. Tubuhnya mulai mengalami perubahan mengerikan, hidupnya runtuh, dan dunia yang ia bangun di media sosial berubah menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Sebagai produser, Raam Punjabi mengungkapkan, ""Ain adalah sebuah langkah berani bagi kami untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di genre horor Indonesia. Film ini bukan sekadar menakutkan, tapi juga menawarkan pendekatan baru yang lebih berani dan relevan dengan kehidupan saat ini."


Sementara itu, Yudha Wirafianto menambahkan, "Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak biasa. Ain tidak hanya bermain di rasa takut, tetapi juga menghadirkan ketidaknyamanan visual yang menjadi kekuatan utama body horror." Sang sutradara, Archie Hekagery, juga menyoroti pendekatan unik film ini, "Kami ingin membuat horor yang terasa nyata secara fisik. Body horror memungkinkan kami menunjukkan bagaimana tekanan, energi negatif, dan rasa takut bisa 'mengubah seseorang secara visual dan emosional."


Dengan visual yang disturbing, atmosfer yang intens, serta pendekatan yang berbeda dari horor konvensional, film ini siap menjadi tonggak baru dalam eksplorasi genre horor Indonesia. Saksikan 'Ain di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Karena tidak semua tatapan membawa kebaikan beberapa di antaranya... membawa kehancuran.

MAGMA Entertainment Rilis Official Trailer dan Poster ‘Badut Gendong’: Lahirnya Lawan Tangguh Baru Ustaz Qodrat

Jakarta, 29 April 2026 — Bersiaplah, karena Indonesia akan segera kedatangan wajah teror baru yang melampaui imajinasi. MAGMA Entertainment secara resmi merilis Official Trailer dan Poster dari film horor-aksi terbarunya, Badut Gendong.

​Diperkenalkan secara megah dalam acara konferensi pers di Metropole XXI, film ini dikonfirmasi sebagai ekspansi krusial dari semesta Qodrat yang akan memperkenalkan sosok antagonis paling mencekam bagi sang Ustaz.

Tragedi Berdarah di Balik Sosok Pengamen

​Melalui Official Trailer dan Poster yang diluncurkan, penonton diajak menyelami kisah kelam Darso (Marthino Lio), seorang pengamen tari Badut Gendong yang dikhianati oleh takdir. Kehilangan tragis sang istri, Darsi, beserta bayi dalam kandungannya, menjadi pemantik bangkitnya sebuah entitas penuh amarah di tengah konflik tanah yang melanda desanya.

Roh Darsi kembali dalam sosok Badut Gendong yang mengerikan, mengendalikan tubuh Darso untuk menebarkan teror balas dendam yang sistematis bagi mereka yang telah melukainya.

​Melanjutkan rasa yang hadir di film pendahulunya, Badut Gendong menjanjikan kedalaman emosi yang kuat di balik setiap aksi horornya. Penonton tidak hanya akan disuguhi ketakutan fisik, tetapi juga kehancuran psikologis dari karakter yang hancur karena cinta dan kehilangan.

Persilangan Semesta (Cross-Universe) yang Dinamis

Linda Gozali, Produser MAGMA Entertainment, menyatakan bahwa film ini merupakan langkah strategis dalam memperluas universe yang mereka bangun.

​“Proyek ini sangat menarik bagi kami. Sebuah cross-universe dari Qodrat yang tetap berdiri kokoh sebagai film mandiri yang bisa dinikmati siapa saja. Bagi penggemar Qodrat, Badut Gendong akan memberikan perspektif baru yang segar di semesta ini. Sementara bagi penonton baru, film ini adalah pintu masuk sempurna untuk mengenal dunia kami,” ujar Linda.

​Sutradara Charles Gozali menambahkan bahwa jika Qodrat berfokus pada sisi kepahlawanan, maka Badut Gendong akan mengeksplorasi sisi gelap yang lebih abu-abu.

​“Di Qodrat, kami bermain dengan konsep horor-aksi dan heroik. Namun, Badut Gendong menawarkan rasa yang berbeda. Ini bukan tentang pahlawan, melainkan sebuah origin story dari calon musuh Ustaz Qodrat yang sangat emosional dan manusiawi. Kami ingin penonton memahami alasan di balik kegelapan itu,” jelas Charles.

Eksplorasi Karakter dan Jajaran Pemain

​Pemeran utama, Marthino Lio, mengungkapkan tantangan dalam memerankan karakter Darso yang memiliki banyak lapisan emosi. “Memerankan Darso adalah pengalaman unik. Karakternya sangat kompleks; penonton mungkin akan merasa bimbang antara memberikan empati atas kepedihannya atau merasa ngeri melihat kesadisan teror yang ia sebarkan,” ungkap Lio.

​Film ini juga diperkuat oleh talenta berbakat seperti Derby Romero, Clara Bernadeth, Dayinta Melira, Iskak Khivano, dan Vonny Anggraeni. Tak hanya itu, Badut Gendong juga menghadirkan penampilan spesial dari dua aktor legenda Indonesia, Barry Prima dan Jose Rizal Manua, yang semakin memperkuat kualitas akting dalam produksi ini.

Badut Gendong dijadwalkan akan meneror seluruh layar bioskop di Indonesia mulai 27 Mei 2026. Pantau terus detail kengerian lainnya melalui kanal media sosial resmi di @magmaent dan @badutgendong.

Selasa, 28 April 2026

Crocodile Tears: Film Indonesia yang Mendunia Kini Hadir di Bioskop Tanah Air Mulai 7 Mei 2026

Jakarta, 28 April 2026Crocodile Tears, film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon, siap menyapa penonton Indonesia di layar lebar mulai 7 Mei 2026. Diproduseri oleh Mandy Marahimin, film ini hadir membawa energi segar: sebuah drama keluarga yang mencekam, dibangun secara kolaboratif oleh para sineas dari empat negara, dan kini tiba dengan pengakuan internasional dari 33 festival film dunia bergengsi.

​Perjalanan Crocodile Tears di panggung internasional dimulai dari pemutaran perdananya di Toronto International Film Festival 2024, salah satu festival film paling bergengsi di dunia. Dari sana, film ini terus melangkah ke festival film prestisius di dunia lainnya seperti Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival dan Goteborg International Film Festival. Kemudian dilanjutkan ke Adelaide Film Festival, Torino Film Festival, Red Sea International Film Festival dan banyak lainnya. Apresiasi yang datang dari berbagai penjuru dunia menjadi bukti nyata bahwa cerita yang lahir dari tanah Indonesia mampu berbicara kepada penonton global.

​Di balik layar, Crocodile Tears adalah karya yang sepenuhnya bersifat kolaboratif. Tumpal Tampubolon dikenal sebagai sutradara dengan pendekatan terbuka yang memberikan ruang luas bagi para Heads of Department dan aktor untuk menginterpretasikan naskahnya secara bebas dan personal. "Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin," ujar Tumpal. "Tapi justru momen yang paling kami tunggu adalah ketika akhirnya film ini bisa pulang dan bertemu dengan penonton Indonesia."

​Proses kreatif yang kolaboratif ini tercermin dalam penampilan para aktornya. Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani yang tidak sekadar memerankan karakter tetapi mereka turut membentuknya bersama sang sutradara. "Tumpal memberi kami ruang yang sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan emosi yang kami bangun bersama dari awal proses persiapan sampai syuting," ungkap Marissa Anita yang memerankan karakter Mama. "Pengalaman itu yang membuat karakter Mama terasa begitu nyata bagi saya."

​Tumpal Tampubolon sendiri bukan nama baru dalam dunia sinema Indonesia. Ia telah menempa diri lewat serangkaian film pendek yang diakui di festival nasional maupun internasional. Dari "The Last Believer" yang meraih penghargaan di JIFFest (Jakarta International Film Festival), "Mamalia" yang masuk seleksi Rotterdam dan Hong Kong International Film Festival, hingga "Laut Memanggilku" yang meraih Sonje Award di Busan International Film Festival 2021 sekaligus nominasi Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya, Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini hadir dalam Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya, Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini hadir dalam Crocodile Tears.

​Produser Mandy Marahimin menambahkan, "Perjalanan Crocodile Tears tidak singkat, dari pengembangan hingga produksi yang melibatkan kru dari empat negara. Kami membutuhkan waktu 6 tahun sebelum akhirnya film ini bisa kami produksi, dan total delapan tahun sebelum film ini akhirnya bisa dinikmati penonton di Indonesia. Persiapan yang kami lalui pun cukup detail. Proses casting selama hampir dua tahun, persiapan yang serius dan rinci selama berbulan-bulan, termasuk sampai membangun sebuah rumah di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup. Ini sebuah film yang melalui proses yang sangat kolaboratif, dan kami persiapkan dengan hati. Harapannya, film ini bisa diterima dengan hangat oleh penontonnya."

Crocodile Tears bercerita tentang MAMA (Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton di sebuah taman buaya. Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus segera dilakukan.

​Menggabungkan realisme magis dan teror psikologis, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang intim, dengan relasi yang terasa dekat namun menyimpan lapisan konflik yang semakin terasa seiring berjalannya cerita.

​Film ini diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment.

​Setelah perjalanan panjang, kini Crocodile Tears siap bertemu dengan penonton Indonesia di layar lebar. Saksikan Crocodile Tears mulai 7 Mei 2026 di bioskop.

SINOPSIS

​MAMA (Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton.

​Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus dilakukan segera.


Hashtag : #crocodiletears

Instagram : @talamedia_co

Twitter/X : @talamedia_co

TikTok : @talamedia_co

YouTube : @talamedia_co

Website : talamedia.co


CROCODILE TEARS

  • ​Production: Talamedia & E-Motion Entertainment
  • ​Co-Production:
    • ​Acrobates Films
    • ​Poetik Films
    • ​Giraffe Pictures
    • ​2Pilots Filmproduction
  • ​International Sales & Festivals: Cercamon
  • ​Casts:
    • ​Yusuf Mahardika (Johan)
    • ​Marissa Anita (Mama)
    • ​Zulfa Maharani (Arumi)
  • ​Director: Tumpal Tampubolon
  • ​Writer: Tumpal Tampubolon
  • ​Producer: Mandy Marahimin
  • ​Co-Producers:
    • ​Claire Lajoumard
    • ​Anthony Chen
    • ​Christophe Lafont
    • ​Harry Flöter
    • ​Jörg Siepmann
    • ​Teoh Yi Peng
  • ​Executive Producers:
    • ​Arnold J. Limasnax
    • ​Lianto Winata Vachon
    • ​Tjen Foeng Fa
    • ​Kevin Danudoro
  • ​Cinematographer: Teck Siang Lim
  • ​Production Designer: Jafar
  • ​Art Director: Guntur Mupak
  • ​Costume: Hagai Pakan
  • ​Make-up:
    • ​Cherry Wirawan
    • ​Agustin Puji
  • ​Sound:
    • ​Roman Dymny
    • ​Bruno Ehlinger
    • ​Romain Ozanne
  • ​Music: Kin Leonn
  • ​Editor:
    • ​Jasmine Ng Kin Kia
    • ​Kelvin Nugroho
  • ​Poster & Logo: Evan Wijaya
  • ​Photo Poster: Robin Budidharma

Satu Suara! Tiga Asosiasi Produser Film Indonesia Bersatu dalam Forum Bersejarah

​ Jakarta, 1 Mei 2026 – Industri perfilman Indonesia memasuki babak baru yang bersejarah. Tiga asosiasi produser film utama: Persatuan Peru...