Jumat, 15 Mei 2026

Prilly Latuconsina Bawa “Pocong” ke Cannes Film Festival 2026 lewat Film Holy Crowd

Aktris Prilly Latuconsina kembali menorehkan langkah baru di panggung internasional lewat keterlibatannya dalam film Holy Crowd, yang terpilih dalam program Next Step Studio di La Semaine de la Critique, bagian dari rangkaian Cannes Film Festival.

​Dalam film arahan M. Reza Fahriyansyah dan Ananth Subramaniam ini, Prilly memerankan Ratna, sosok perempuan yang bangkit kembali saat prosesi pemakamannya berlangsung. Namun alih-alih kembali sebagai manusia biasa, Ratna justru berubah menjadi pusat perhatian warga karena tubuhnya dipercaya mampu menghadirkan kesembuhan misterius. Sosok pocong yang lekat dengan kultur Indonesia kemudian berkembang menjadi simbol kepercayaan, harapan, sekaligus eksploitasi sosial di tengah masyarakat.

​Bagi Prilly Latuconsina, daya tarik utama Holy Crowd bukan hanya terletak pada elemen supernaturalnya, tetapi pada bagaimana film ini memotret perilaku manusia dan budaya masyarakat hari ini.

​"Yang paling menarik buat aku justru bukan aspek horornya, tapi bagaimana perilaku manusia di sekitar Ratna terasa sangat realistis. Film ini bicara tentang perhatian publik, eksploitasi, dan bagaimana seseorang bisa tiba-tiba dijadikan simbol oleh masyarakat," ujar Prilly.

​Menurutnya, karakter Ratna terasa sangat relevan dengan situasi sosial modern, terutama di era media sosial ketika seseorang dapat menjadi pusat perhatian publik dalam waktu singkat.

​"Kadang masyarakat sebenarnya bukan peduli pada manusianya, tapi pada atensinya. Seseorang bisa dipuja, dibicarakan, lalu dilupakan dengan sangat cepat. Dan menurut aku, itu yang membuat cerita ini terasa sangat dekat dengan kondisi sosial kita hari ini," lanjutnya.

​Keterlibatan Prilly dalam Holy Crowd juga menjadi bagian dari perjalanan artistiknya sebagai aktris yang kini semakin selektif memilih cerita dengan lapisan emosional dan isu sosial yang kuat.

​Lewat Holy Crowd, Prilly Latuconsina tidak hanya membawa film Indonesia ke Cannes, tetapi juga membawa salah satu figur horor paling ikonik dalam kultur lokal, pocong, ke percakapan sinema internasional dengan pendekatan yang lebih manusiawi, satir, dan relevan dengan realitas sosial saat ini.

Ghost in the Cell Perluas Kritik Sosial Politik di Film ke Dunia Nyata Lewat Pameran Instalasi Seni Macabre

Jakarta, 14 Mei 2026 – Come and See Pictures mempersembahkan MACABRE ART INSTALLATION, sebuah pameran instalasi seni yang terinspirasi dari film Ghost in the Cell, film horor komedi terbaru karya Joko Anwar.

​Pameran ini menghadirkan enam karya "macabre art" yang muncul di dalam film dan kini direalisasikan ke dunia nyata dalam bentuk instalasi fisik berskala nyata melalui kolaborasi lintas disiplin antara sineas, ilustrator, prosthetic artist, make-up artist, costume designer, sound artist, dan tim artistik. Pameran ini diadakan di Nirmana Falatehan, Jakarta Selatan dan akan berlangsung tanggal 16 sampai 22 Mei, 2026 dan terbuka untuk umum secara gratis pukul 10.00 sampai 20.00 setiap harinya.

​Enam instalasi tersebut diberi judul:

  • ​The Fan
  • ​Shower Head
  • ​The Stove
  • ​The Dancer
  • ​Flood Light
  • ​Lady Justice

​Dalam film Ghost in the Cell, karya-karya tersebut muncul sebagai bagian dari narasi horor dan kritik sosial. Seluruh instalasi berasal dari tindakan brutal sebuah entitas dari hutan Kalimantan yang tempat hidupnya mengalami deforestasi karena tambang nikel lalu membunuh manusia-manusia dengan aura paling negatif, lalu membentuk tubuh mereka menjadi objek seni grotesk.

​Melalui pameran ini, karya-karya tersebut dipindahkan keluar dari layar dan dihadirkan ke dunia nyata agar dapat dialami secara fisik, personal, dan langsung.

​"Film membuat penonton melihat. Ruang pamer membuat pengunjung berhadapan langsung dengan isu di dalam film," kata Joko Anwar, sutradara dan penulis Ghost in the Cell yang menciptakan konsep macabre art dalam film ini.

​Melalui pengalaman ruang, suara, tekstur, cahaya, dan skala fisik instalasi, pengunjung diajak memasuki atmosfer yang sebelumnya hanya dapat dilihat melalui medium sinema. Pameran ini tidak hanya memperluas dunia Ghost in the Cell, tetapi juga membuka ruang dialog tentang tubuh, kekerasan, konsumsi, kekuasaan, dan bagaimana manusia dapat berubah menjadi objek dalam sistem sosial yang brutal.

​Selain menjadi perluasan artistik dari film, MACABRE ART INSTALLATION juga merupakan bagian dari upaya rumah produksi Come and See Pictures untuk memperkenalkan seni instalasi dan seni kontemporer kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan mereka: film dan budaya populer.

Come and See Pictures percaya bahwa film tidak berdiri sendiri sebagai medium tunggal, melainkan sebagai titik temu berbagai bentuk seni dan profesi. Melalui proyek ini, proses kreatif perfilman diperlihatkan secara terbuka sebagai hasil sinergi antara ilustrasi, sculpture, prostetik, tata rias, tata kostum, musik, tata suara, pencahayaan, desain ruang, dan storytelling sinematik.

​Seluruh karya instalasi dimulai dari interpretasi visual para concept artist Indonesia, kemudian diterjemahkan menjadi objek nyata melalui proses sculpting, molding, prostetik, tata artistik, hingga sound ambience khusus yang diciptakan untuk setiap karya.

​Para concept artist yang terlibat adalah:

  • ​Anwita Citriya
  • ​Benediktus Budi
  • ​Benny Kusnoto
  • ​Coki Greenway
  • ​Hafidzludin
  • ​Rudy Ao.

​Sementara realisasi fisik instalasi melibatkan kolaborasi dengan:

  • ​Dennis Sutanto (Art Director)
  • ​Novie Ariyanti (Make-up effects)
  • ​Ical Tanjung (Lighting)
  • ​Monika Paska (Costume Designer)
  • ​M. Anwar (Prosthetic Artist)
  • ​Aghi Narottama (Sound and Music Design)
  • ​Tony Merle (Music Collaboration)

​Dengan pendekatan visual yang menggabungkan horor, seni kontemporer, satire sosial, dan pengalaman imersif, MACABRE ART INSTALLATION menjadi salah satu eksplorasi lintas medium paling ambisius yang pernah dilakukan dalam kampanye film Indonesia.

​Pameran ini diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara penonton film, pecinta seni, komunitas kreatif, dan generasi muda yang ingin melihat bagaimana sebuah dunia sinematik dapat hidup melampaui layar bioskop.

Tentang Come And See Pictures

​Come and See Pictures adalah production house yang didirikan Joko Anwar dan Tia Hasibuan pada tahun 2020 yang berkomitmen untuk memproduksi film-film berkualitas dengan cara bercerita yang unik serta craftsmanship yang tinggi. Film pertama yang mereka produksi adalah Pengabdi Setan 2: Communion untuk Rapi Films. Selain Siksa Kubur, Come and See Pictures juga telah merampungkan series original Netflix berjudul Nightmares and Daydreams yang tayang tahun 2024 lalu, serta memproduksi film panjang untuk Amazon MGM Studios bertajuk Pengepungan di Bukit Duri.

Bioskop Banjir Air Mata! 88.060 Penonton Jadi Saksi Dua Hari Pertama Betapa Berharganya Memori Ibu di "Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan"

Jakarta, 15 Mei 2026 – Baru dua hari dalam penayangannya, film drama keluarga paling menguras air mata tahun ini, “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan”, sukses mengumpulkan 88.060 penonton yang serentak menangis bersama di dalam studio.

​Angka di dua hari pertama ini menjadi bukti nyata bahwa puluhan ribu orang memilih untuk tidak melewatkan momen berharga ini. Menjadikan film produksi Rapi Films bersama Screenplay Films dan Vortera Studios ini sebagai perbincangan hangat yang viral di mana-mana. Disutradarai oleh Kuntz Agus dengan naskah garapan Alim Sudio, film ini menyajikan konflik keluarga yang begitu jujur dan mencubit hati siapa saja yang menontonnya.

​Diperankan dengan sangat hangat oleh Lulu Tobing, Yasmin Napper, Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar, penonton diajak menyaksikan runtuhnya kehangatan sebuah rumah ketika Kesha (Yasmin Napper) harus dihadapkan kenyataan saat sang ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), didiagnosis menderita Alzheimer. Penyakit itu perlahan menghapus seluruh rekaman masa lalu dan momen-momen indah bersama keluarga. Kesha bersama sang ayah dan kedua adiknya bertaruh dengan waktu yang kian sempit sebelum ingatan ibu mereka semakin memudar.

Rasa emosional yang tak terbendung ini melahirkan momen-momen haru di berbagai daerah. Salah satunya saat sesi meet & greet di Bandung, suasana studio pecah ketika seorang penonton anak sulung berdiri sambil terisak dan membagikan kedekatan emosionalnya yang teramat dalam.

​“Sebagai anak pertama, aku relate banget sama kisah Kesha, yang selalu memendam perasaannya, padahal punya masalah sendiri juga. Dan ketika melihat kalau adiknya juga memiliki penyakit seperti adik aku, aku memposisikan diri di situasi itu.” Mendengar kejujuran yang menyayat hati tersebut, kelima jajaran pemain utama langsung memeluk erat penonton tersebut dalam suasana meet & greet yang penuh air mata.

​Ketakutan akan dilupakan oleh sosok yang paling mencintai kita ternyata menjadi alasan mengapa puluhan ribu orang berbondong-bondong memenuhi bioskop sejak hari pertama. Penonton lain yang merupakan seorang anak tunggal juga membagikan rasa hancurnya setelah keluar dari pintu teater.

​“Sebagai anak tunggal, aku lekat banget sama ibu, apa-apa masih harus sama ibu. Aku ga bisa bayangin ada di situasi ini, kalau ibu sampai lupa akan keberadaanku, itu sama saja kayak hidupnya hancur,” ungkap penonton tersebut.

​Ketakutan-ketakutan nyata seperti inilah yang membuat film ini tidak sekadar menjadi tontonan biasa, melainkan sebuah refleksi keras yang memaksa semua orang untuk segera pulang dan memeluk orang tua mereka.

​Jangan sampai kamu menjadi satu-satunya orang yang tertinggal dalam perbincangan hangat minggu ini dan menyesal karena melewatkan momen emosional yang sedang dirayakan seluruh pencinta film Indonesia.

​Jangan buang waktumu, peluk keluargamu, dan ciptakan kenangan manis bersama mereka dengan menyaksikan “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” di bioskop segera. Kabar baiknya, Promo Tiket Buy 1 Get 1 Free (BOGOF) masih bisa kamu serbu melalui aplikasi m.tix, TIX ID, CGV, dan Cinepolis sebelum kehabisan kuota!

Isyana Sarasvati Hidupkan Perjuangan Putra di MV Garuda di Dadaku

Melalui musik yang megah dan emosional, Isyana Sarasvati mengiringi perjalanan Putra mengejar mimpinya di film animasi keluarga Garuda di Dadaku

Jakarta, 15 Mei 2026 – Setelah lebih dulu mencuri perhatian publik lewat potongan lagu yang muncul dalam trailer film animasi keluarga Garuda di Dadaku pada April lalu, hari ini BASE Entertainment dan KAWI Animation resmi merilis video musik "Garuda di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati. Video musik ini kini dapat disaksikan melalui kanal YouTube BASE Entertainment dan Isyana Sarasvati.

​Menjadi bagian penting menuju penayangan film animasi keluarga Garuda di Dadaku pada 11 Juni 2026 mendatang, video musik ini menghadirkan interpretasi baru yang megah, emosional, dan penuh harapan dari lagu ikonis "Garuda di Dadaku". Melalui sentuhan aransemen orkestra khas Isyana Sarasvati, video musik ini menjadi representasi tentang mimpi besar seorang anak yang berani terus melangkah meski penuh keraguan dan tantangan.

​Video musik ini mengikuti perjalanan Putra, seorang anak laki-laki yang memiliki mimpi besar untuk bermain di lapangan terbesar, meski sering diremehkan dan dianggap tidak cukup kuat untuk mewujudkan mimpinya. Dari gang kecil tempat anak-anak bermain bola bersama hingga sorotan stadion dan pertandingan penuh tensi, video musik ini menjadi gambaran tentang keberanian untuk terus percaya pada mimpi, bahkan ketika semuanya terasa tidak mudah.

Selain menghadirkan visual emosional, video musik ini juga menampilkan bocoran adegan terbaru dari film animasi keluarga Garuda di Dadaku, termasuk berbagai aksi pertandingan Putra dan teman-temannya yang akan menjadi salah satu daya tarik utama film saat tayang di bioskop nanti.

​"Buat aku, lagu ini bukan cuma tentang sepak bola, tapi tentang mimpi anak-anak yang sering kali terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat besar di hati mereka. Yang aku suka dari music video ini adalah emosinya terasa dekat sekali — tentang anak-anak yang berani mencoba, berani bermimpi, dan terus berjalan meski sering merasa takut atau diragukan. Aku rasa banyak dari kita juga pernah memulai mimpi dari tempat-tempat kecil seperti itu," ujar Isyana Sarasvati.

​Sutradara Garuda di Dadaku, Ronny Gani, menjelaskan bahwa video musik ini memang dirancang untuk memperlihatkan jiwa utama film: tentang keberanian anak-anak untuk terus percaya pada diri mereka sendiri.

​"Putra adalah anak yang sering merasa dirinya tidak cukup kuat untuk mengejar mimpinya. Tapi justru perjalanan itulah yang membuat ceritanya terasa dekat dengan banyak orang. Kami ingin video musik ini mengingatkan bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari tempat besar. Kadang semuanya dimulai dari langkah kecil, dari keberanian sederhana untuk terus mencoba, dan dari orang-orang di sekitar yang memilih untuk percaya dan mendukung kita," ujar Ronny Gani.

​Film animasi keluarga Garuda di Dadaku mengisahkan Putra (Keanu Azka), anak laki-laki berusia 13 tahun yang perlahan kehilangan rasa percaya dirinya. Saat kegagalan dan rasa takut membuatnya hampir menyerah pada mimpinya, kehadiran Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis, membawanya pada perjalanan menemukan kembali keberanian dan keyakinan pada dirinya sendiri.

​Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, dengan naskah yang ditulis oleh Sofia Lo bersama Makbul Mubarak, film ini menjadi interpretasi animasi baru dari IP legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah hidup di hati banyak keluarga Indonesia.

Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission serta bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.

​Saksikan video musik "Garuda di Dadaku" di kanal YouTube BASE Entertainment dan Isyana Sarasvati, dan nantikan film animasi keluarga Garuda di Dadaku tayang mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia — menjadi pilihan tontonan keluarga di libur sekolah tahun ini.

​#GarudaDiDadaku

#BeraniBermimpi

Sutradara Charles Gozali Sebut Badut Gendong bukan Spinoff Qodrat, Namun Cross-universe, Apa itu?

Hadirnya film horor terbaru dari MAGMA Entertainment, Badut Gendong, memicu gelombang diskusi panas di kalangan warganet, terutama bagi para penggemar semesta Qodrat. Istilah baru yang dilemparkan sang sutradara, Charles Gozali, menciptakan tanda tanya besar: apa sebenarnya arti dari “Cross-Universe” ini?

Bukan Spin-off, Tapi Cross-universe

​Melalui pernyataan terbaru di media sosial, Charles Gozali memberikan penegasan penting bagi para penikmat film horor tanah air. "Film Badut Gendong bukan sebuah spin-off, melainkan cross-universe dari semesta Qodrat," tulisnya.

​Bagi orang awam, kedua istilah ini mungkin terdengar serupa, namun secara naratif, perbedaannya sangatlah fundamental. Sebuah spin-off biasanya mengambil satu karakter yang sudah eksis dan dikenal di film utama, lalu diberikan ruang untuk menceritakan kisah sampingannya.

​Namun, Badut Gendong adalah entitas yang sepenuhnya baru. Sosok villain ini belum pernah sekalipun menampakkan wujudnya di dua film Qodrat sebelumnya. Ia bukan "karakter sisa" atau sekadar pelengkap; ia adalah cerita mandiri yang memiliki mitologi, konflik, dan tradisi kelamnya sendiri. Badut Gendong lahir sebagai kekuatan independen yang hidup di bawah langit yang sama dengan Ustadz Qodrat.

Jembatan Menuju Pertempuran Besar

​Charles Gozali menjelaskan bahwa posisi film ini adalah untuk memperluas cakrawala horor yang selama ini kita ketahui. “Film ini hadir sebagai origin story dari entitas yang nantinya akan berhadapan langsung dengan Ustadz Qodrat, tapi film ini juga bisa dinikmati untuk mereka yang belum familiar dengan semesta ini,” ungkap Charles.

​Artinya, Badut Gendong sedang mempersiapkan panggung untuk sebuah pertemuan besar yang tak terelakkan di masa depan. Film ini memposisikan dirinya sebagai pondasi penting agar penonton bisa memahami betapa berbahayanya ancaman baru ini sebelum ia benar-benar beradu kekuatan dengan sang Ustadz.

Apakah Bisa Menonton Badut Gendong Tanpa Menonton Qodrat?

​Jawaban singkatnya adalah: Sangat Bisa! Inilah kelebihan dari konsep Cross-Universe. Karena dibangun sebagai kisah mandiri, mitos tentang "Badut Gendong" serta perjalanan karakter Darso dan Darsi dapat diikuti tanpa harus memiliki pengetahuan tentang sejarah Qodrat sebelumnya.

​Penonton baru dapat masuk dan merasakan teror yang mencekam tanpa perlu takut kebingungan dengan jalan ceritanya. Bahkan, bagi banyak orang, film ini diprediksi akan menjadi entry-point atau pintu masuk yang sempurna untuk memahami seberapa luas dan mengerikannya semesta yang tengah dibangun oleh MAGMA Entertainment.

​Lantas, di titik mana cerita Darso akan bersinggungan dengan jalan takdir Ustadz Qodrat? Misteri tersebut hanya akan terjawab saat Badut Gendong resmi menghantui layar lebar. Persiapkan nyali Anda, Badut Gendong tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026, bertepatan dengan momen Lebaran Idul Adha. Untuk informasi lebih lanjut dan konten eksklusif, ikuti media sosial resmi di @badutgendong dan @magmaent.

Kamis, 14 Mei 2026

Marriage is Scary? Film Keluarga Suami Adalah Hama Sajikan Potret Kehidupan Rumah Tangga yang Dekat Omar Daniel, Raihaanun, dan Meriam Bellina Tampil Real!

Keluarga Suami Adalah Hama tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop

Jakarta, 14 Mei 2026 — Umbara Brothers Film dan VMS Studio mempersembahkan film drama keluarga terbaru berjudul Keluarga Suami Adalah Hama yang akan tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia. Film yang disutradarai Anggy Umbara ini mengangkat sebuah realitas kehidupan rumah tangga yang banyak dialami namun jarang diungkap secara lantang.

​Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans akan menyajikan dinamika konflik rumah tangga dari lensa yang lebih dekat tentang rumitnya situasi pernikahan. Film ini akan menjadi potret perjuangan suami dan istri dalam mempertahankan benteng rumah tangga mereka, di tengah konflik yang menghampiri dari keluarga suami yang tinggal seatap.

​Cerita-cerita tentang perseteruan antara mertua dan menantu, susahnya tinggal di rumah mertua, hingga cekcok antara suami dan istri kerap berseliweran menjadi diskusi yang tak kunjung selesai baik di media sosial dan dunia sehari-hari. Cerita yang sangat dekat itu bisa kita rasakan ada dan diwakili di film ini, dengan lebih emosional dan empatik.

​Jajaran ansambel pemeran film ini dengan apik menampilkan range emosi yang akan membawa penonton ke dalam perseteruan antara suami, mertua, istri, dan ipar. Selain Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans, film ini juga dibintangi oleh Fairuz A. Rafiq, Husein Al Athas, Dinda Mahira, Tio Pakusadewo, Kevin Faulky, Karlina Inawati, dan David Saragih.

​Diproduksi oleh Umbara Brothers Film dan VMS Studio, film ini bekerja sama dengan 10 Star, SR Film, dan DBay. Film ini diproduseri oleh Shalu T.M., Indah Destriana dan Anggy Umbara. Selain memproduseri dan menyutradarai, Anggy turut menulis naskah film ini. Bagi Anggy, Keluarga Suami Adalah Hama menjadi cerminan dari fenomena yang banyak dialami oleh banyak keluarga dan pasangan suami istri di Indonesia.

​"Masalah yang dirasakan oleh hampir banyak pasangan rumah tangga, tapi tidak pernah terselesaikan dan terungkap. Sebagai orang yang juga menjadi sandwich generation, kisah Damar juga sangat dekat sekali dengan kisah hidup saya, sehingga film ini sangat personal. Bagi saya, ini penting untuk menjadi diskusi bersama. Sebagai filmmaker, saya merasa penting dan wajib saat melihat fenomena seperti ini untuk bisa membuatnya menjadi lebih baik," ujar Anggy Umbara.

​"Rasanya ini adalah perasaan yang hampir banyak dialami oleh semua istri. Cerita di film ini adalah kejadian sehari-hari yang juga hampir setiap rumah tangga mengalaminya. Ada cekcok antara mertua dan menantu, suami istri, hingga saudara ipar. Film ini sangat real," tambah produser Shalu T.M.

​Omar Daniel, yang memerankan Damar, sosok anak pertama sekaligus baru saja menjalani peran sebagai suami, harus tertampar dengan realita. Ia dan istrinya, Intan (Raihaanun) punya mimpi punya rumah sendiri. Tapi justru harus tinggal seatap dengan keluarga mertua. Belum lagi, Damar harus jadi tulang punggung keluarga. Sementara ia juga terkena PHK dari kantornya.

​Dalam menjalankan perannya, Omar pun berefleksi pentingnya kerja sama antara suami dan istri, alih-alih saling menjadi lawan. Bagi Omar, penting saat sudah membina rumah tangga untuk menetapkan batasan yang jelas.

​"Film ini bakal jadi cerminan yang tepat untuk kita yang akan menikah atau mereka yang sudah menikah. Di film ini akan digambarkan apa akibatnya jika suami dan istri tidak saling bekerja sama dan saling back up. Menurut aku, orangtua dan mertua juga tidak boleh terlalu ikut campur masalah rumah tangga anak dan menantunya. Penting untuk saling respek," ujar Omar Daniel.

​Raihaanun, yang dipasangkan pertama kalinya dengan Omar Daniel di film ini, mengungkapkan cerita di film ini sangat dekat dengan berbagai lapisan sosial. Sehingga baginya juga cukup mudah untuk membawakan peran sebagai Intan, sosok istri yang memiliki beban namun selalu dipendam.

​"Sering banget kan dengar cerita tentang istri yang tertekan dengan mertuanya. Intan adalah satu dari sekian banyak istri yang merasakan hal itu. Dia sangat ingin sekali bisa keluar dari rumah mertuanya dan segera untuk bisa mewujudkan mimpi punya rumah sendiri dengan keluarga kecil barunya bareng Damar. Tapi, itu bukan hal mudah, situasi yang tidak ideal itu yang akan menambah konflik rumah tangga yang kadang bikin orang-orang bilang marriage is scary," kata Raihaanun.

​Tonton film Keluarga Suami Adalah Hama di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.

TENTANG VMS STUDIO

​Visual Media Studio (VMS) adalah rumah produksi film yang berbasis di Jakarta dan didirikan pada tahun 2022. VMS hadir dengan visi untuk menginspirasi, menghibur, dan terhubung dengan penonton, baik di tingkat lokal maupun global. Di VMS, kami berkomitmen untuk terus mendorong batasan kreativitas dan menciptakan kisah-kisah yang menggugah dan relevan lintas budaya.

​Proyek perdana kami, Pemandi Jenazah, menjadi tonggak awal yang mengukuhkan posisi VMS di industri film regional. Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan ditulis oleh penulis skenario box office Lele Laila, film ini mencatat kesuksesan luar biasa dengan meraih 3,5 juta penonton di seluruh dunia. Film ini juga menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi kedua di Malaysia sepanjang masa, serta menempati posisi kedua box office nasional di kuartal pertama 2024.

​Dengan semangat untuk terus menghadirkan cerita-cerita bermakna dan menginspirasi, VMS siap melangkah lebih jauh dan menjangkau lebih banyak hati penonton di masa depan.

TENTANG UMBARA BROTHERS FILM

​Umbara Brothers Film adalah rumah produksi film Indonesia yang didirikan oleh Danu Umbara pada tahun 1966, dan dilanjutkan oleh Anggy Umbara serta Bounty Umbara sejak 2016, bersama partner Indah Destriana. Hingga akhir 2025, Umbara Brothers Film telah memproduksi 17 film layar lebar, 11 film digital, dan 5 serial, mencerminkan konsistensi serta adaptasi terhadap perkembangan industri.

​Dikenal dengan storytelling yang emosional dan relevan, Umbara Brothers Film menghadirkan beragam genre dari komedi hingga drama berbasis kisah nyata, dengan pendekatan sinematik yang kuat dan dekat dengan penonton. Di antara pencapaiannya, Siksa Neraka dengan perolehan 2.6 juta penonton & Vina: Sebelum 7 Hari meraih 5,8 juta penonton bersama Dee Company, serta Sabar Ini Ujian bersama MD Pictures yang memperoleh berbagai penghargaan, termasuk Sutradara Terbaik dan Film Komedi Terbaik di Festival Film Wartawan 2021.

​Dengan komitmen pada kualitas dan keberanian bercerita, Umbara Brothers Film terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan kreatif dalam industri perfilman Indonesia yang mampu menjangkau audiens luas sekaligus menghadirkan cerita yang bermakna.

Rabu, 13 Mei 2026

Eksplorasi Sal Priadi, Pencipta Lagu-Lagu Hit Romantis Kini Bikin OST Film yang Relate Jadi Anthem Pekerja Lembur

Kepala, Pundak, Kerja Lagi diciptakan Sal Priadi dan menjadi OST film Monster Pabrik Rambut

Jakarta, 12 Mei 2026 – Nama Sal Priadi menjadi salah satu yang sering menghiasi layar di media sosial berkat lagu-lagunya yang hit. Mulai dari "Gala bunga matahari" hingga "Ada titik-titik di ujung doa", lagu-lagu Sal yang terkenal romantis silih berganti ramai digunakan pendengar di media sosial. Lagu-lagu dan video musik Sal telah dinikmati oleh jutaan pendengar di Indonesia.

​Kini, Sal bereksplorasi lewat karya terbaru berjudul "Kepala, Pundak, Kerja Lagi". Sebuah lagu yang menjadi OST film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), yang turut dibintanginya. Video liriknya kini telah disaksikan lebih dari 2,5 juta views di YouTube sejak dirilis pertama kali pada momen Hari Buruh.

​Berbeda dengan nuansa-nuansa romantis pada lagu-lagu terdahulu, lagu "Kepala, Pundak, Kerja Lagi" tampil secara berbeda. Lagu ini dibuka dengan lirik yang pernah kita dengar sejak masa kecil, tetapi dibawa ke suasana yang lebih muram. Mengangkat keresahan soal kelelahan dalam bekerja.

​“Dalam menulis lirik untuk lagu Kepala, Pundak, Kerja Lagi aku tetap dengan gagasan yang sederhana. Sesuatu yang aku tangkap dari keseharian. Tema di film Monster Pabrik Rambut itu kan juga membahas soal overwork, lembur, sesuatu yang sangat dekat sekali. Sehingga dengan mudah aku bisa menangkap gagasan filmnya lalu aku sampaikan dengan caraku di lagunya,” ujar Sal Priadi.

​Jika biasanya draf lagu-lagunya berangkat dari tuts piano dan petikan gitar, kini juga terdapat perbedaan dalam proses penciptaan lagu Sal. Ia berkolaborasi dengan produser musik elektronik, Attila Syah, untuk menciptakan soundscape dalam materi lagunya.

​Dalam prosesnya, ini juga menjadi pertama kalinya Sal menulis lagu di sebuah set syuting. Sebelumnya, Sal juga pernah menggarap lagu tema untuk film. Namun, yang dikerjakan di set syuting, terjadi pertama kali di Monster Pabrik Rambut.

​“Awal lagunya ditulis di lokasi syuting. Ini sebuah pengalaman yang baru dan menjadi pengalaman menulis lagu yang dahsyat. Saat menulis lirik, lagu ini juga terasa nuansa seperti sebuah marching solidaritas untuk para pekerja yang menghadapi dinamika dalam bekerja, termasuk overwork, semoga ini bisa menjadi anthem lembur untuk para pekerja,” kata Sal.

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Disutradarai oleh Edwin dari rumah produksi Palari Films, film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Monster Pabrik Rambut persembahan Palari Films melalui akun Instagram resmi @palarifilms.

Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah Kabut Berduri (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya Dear David (2023), omnibus Piknik Pesona (2022), Ali & Ratu-Ratu Queens (2021), Aruna & Lidahnya (2018), Posesif. Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Unit Rock From Ashes To New Merilis Album Penuh Emosional dan Purgatory Berjudul "Reflection"

Band rock asal Lancaster, Pennsylvania, From Ashes to New resmi merilis album terbaru mereka bertajuk "Reflections" melalui Better Noise Music. Album ini menjadi kelanjutan dari kesuksesan "Blackout" (2023) yang sebelumnya berhasil menduduki posisi #1 di berbagai chart rock dan metal global.

​Bersamaan dengan perilisan album, From Ashes to New juga merilis video musik untuk single terbaru mereka, 'Forever'. Lagu ini menghadirkan perpaduan verse yang kontemplatif dengan chorus dan breakdown yang eksplosif, menegaskan kekuatan dinamika khas band ini. "Forever' adalah lagu yang selesai di tahap paling akhir dalam proses album ini, seolah menunggu semuanya berada di tempat yang tepat sebelum

akhirnya bisa tercipta. Ada rasa final di dalamnya, seperti berdiri di tengah sisa-sisa sesuatu yang sudah tidak bisa diperbaiki," ujar vokalis Matt Brandyberry. "Lagu ini menggambarkan perasaan ketika penyesalan terus menghantui dan tidak mau pergi."

​Ia juga menambahkan bahwa band ini secara sadar mendorong batas kreativitas mereka dalam album ini. "Kami mendorong diri kami lebih jauh dari sebelumnya. Tujuannya bukan untuk bermain aman, tapi untuk berkembang dan menciptakan sesuatu yang benar-benar membekas. 'Forever' tidak berakhir dengan rapi namun ia tetap menggantung, dan memang itu yang kami inginkan."

​Secara keseluruhan, "Reflections" tidak dikonsep sebagai album tematik, namun memiliki benang merah emosional yang kuat. Album ini mengeksplorasi perasaan terjebak dalam kondisi "purgatory", di mana harapan akan sesuatu yang lebih baik terasa dekat, namun selalu ada hal yang menarik kembali ke bawah. "Ini bukan album konsep, tapi ada satu benang merah yang terasa yaitu perasaan terjebak di sebuah ruang, di mana kamu bisa melihat sesuatu yang lebih baik di depan, tapi selalu ada yang menarikmu kembali," ungkap band tersebut.

​Dalam proses kreatifnya, band ini sempat membuang sebagian besar materi awal yang telah mereka kerjakan, hanya menyisakan dua lagu dari total 16 demo. Keputusan tersebut menjadi titik balik penting yang membebaskan mereka untuk menciptakan karya yang tetap setia pada identitas musik mereka, sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas.

"Setiap lagu di album ini membentuk arah sound kami. Ini bukan tentang siapa kami dulu, tapi ke mana kami akan melangkah. Kami tidak menahan apa pun dalam prosesnya," tutup mereka. Lewat "Reflections", From Ashes to New menghadirkan versi diri mereka yang lebih segar dan jujur. Sebuah pernyataan tentang siapa mereka saat ini, sekaligus arah yang ingin mereka tuju di masa depan.

​Album ini juga diperkuat oleh single "Drag Me" yang saat ini berhasil menembus Top 10 di tangga lagu Billboard Mainstream Rock. Dengan total 12 lagu, "Reflections" menampilkan eksplorasi musikal yang lebih berani tanpa kehilangan karakter khas yang telah melekat pada From Ashes to New.

Track List Album Reflection:

Drag Me

Forever

Villain

Die for You

Black Hearts

Upside Down

(Not) Psycho

Parasite

New Disease

Darkside

Falling from Heaven

Your Ghost

Ingatan Ibu Mulai Pudar, Masihkah Ada Tempat untuk Kita di Hatinya? ​Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" Resmi Menguras Air Mata di Bioskop Mulai Hari Ini

Jakarta, 13 Mei 2026 – Sebuah pengingat bagi kita yang sering menunda waktu untuk pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga, kini hadir di layar lebar. Setelah mencatatkan fenomena sold out pada penayangan spesial di 40 kota pada pekan lalu, film drama keluarga paling emosional tahun ini, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan", resmi memulai perjalanannya di seluruh bioskop Indonesia per hari ini.

​Film produksi Rapi Films bersama Screenplay Films dan Vortera Studios ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah pelukan bagi mereka yang sedang berjuang melawan waktu demi menjaga memori orang tersayang agar tidak lekas pudar.

​Kehangatan cerita yang dirajut oleh sutradara Kuntz Agus ini telah berhasil menyayat hati para penonton sejak pemutaran perdana di acara special screening dan Gala Premiere. Getaran emosinya terasa nyata melalui pengakuan jujur aktris Dinda Kanya Dewi yang tak kuasa menahan haru usai menyaksikan film ini, "Rasanya rindu banget pengen dipeluk sama ibu, dan ngerasa bahwa ternyata memori itu penting buat kita jaga."

​Hal serupa dirasakan oleh aktris Hana Saraswati yang mengungkapkan apresiasinya terhadap film ini. "Wah, ini sesuatu yang baru banget di layar sinema Indonesia. Dan aku suka banget sama filmnya," ujarnya dengan emosional setelah menonton di malam gala premiere.

​Bahkan, seorang ibu di Bandung yang awalnya hanya ingin mencari waktu untuk diri sendiri, justru pulang dengan air mata jatuh usai menonton film ini. "Saya tuh tadinya ke sini mau me-time karena rutinitas rumah dan anak-anak. Tapi setelah nonton ini, saya jadi pengen cepat-cepat pulang, peluk anak-anak, peluk suami," ujarnya.

​Kisah ini membawa kita ke dalam dilema Kesha (Yasmin Napper), seorang mahasiswi tingkat akhir yang dunianya mendadak runtuh ketika sang ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), mulai kehilangan ingatannya sendiri karena Alzheimer.

​Yuke, sosok ibu yang dicintai sekaligus guru favorit, perlahan mulai melupakan segalanya, mulai dari jalan pulang, hari-hari penting keluarga, hingga wajah ketiga anaknya sendiri. Di tengah ambisi mengejar impian, Kesha dipaksa berhadapan dengan kenyataan paling menyakitkan:

​harus memilih antara masa depan pribadinya atau segera pulang sebelum sosoknya benar-benar terhapus secara permanen dari hati dan ingatan sang ibu.

​Dihidupkan dengan penuh penjiwaan oleh Lulu Tobing, Yasmin Napper, Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar, film ini adalah sebuah perayaan atas kasih sayang yang menolak menyerah pada takdir. Jangan biarkan kesempatan untuk merayakan memori bersama keluarga berlalu begitu saja, karena kita tidak pernah tahu kapan duniamu akan mulai melupakanmu.

​Segera kunjungi bioskop hari ini dan manfaatkan promo tiket Buy 1 Get 1 Free (BOGOF) yang telah tersedia melalui aplikasi m.tix, TIX ID, CGV, dan Cinepolis. Karena pada akhirnya, ada banyak hal yang boleh hilang dalam hidup, namun jangan sampai kehadiran kita yang hilang dari hati seorang ibu.

​Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" siap menyapa dan mengajak setiap keluarga Indonesia untuk kembali pulang mulai hari ini, 13 Mei 2026 di seluruh bioskop.

Fenomena Horor Gonjiam Haunted Asylum & Segera Hadirnya 402 Rumah Sakit Angker Korea, Versi Remake Indonesia

​Film horor Korea Selatan telah mencapai standar baru melalui Gonjiam: Haunted Asylum yang tayang di bioskop pada 2018 lalu. Bukan sekadar film fiksi, karya ini berhasil mengguncang adrenalin penonton dunia, termasuk Indonesia, dengan pendekatan yang sangat realistis dan mencekam.

​Alasan Mengapa Gonjiam Menjadi Viral

  1. Adaptasi Lokasi Terangker di Dunia Film ini mengambil inspirasi dari Rumah Sakit Jiwa Gonjiam yang berlokasi di Gwangju. Lokasi ini bukan sembarang tempat; CNN World menobatkannya sebagai salah satu dari "7 Tempat Terangker di Dunia". Atmosfer bangunan tua yang lembab, gelap, dan terbengkalai sejak 1996 memberikan pondasi horor yang sangat kuat bahkan sebelum cerita dimulai.
  2. Inovasi "Found Footage" dan POV Gonjiam menggunakan teknik found footage di mana para aktor menggunakan kamera yang dipasang pada tubuh mereka. Hal ini menciptakan perspektif orang pertama (POV) yang membuat penonton merasa seolah-olah ikut terjebak di dalam koridor rumah sakit tersebut bersama para vlogger Horror Times.
  3. Teror Tanpa Musik Latar Salah satu elemen yang paling dipuji adalah ketiadaan musik latar. Film ini hanya mengandalkan suara alami seperti deru napas, gesekan langkah kaki, dan suara-suara aneh di kegelapan. Teknik ini terbukti jauh lebih efektif dalam membangun ketegangan dibandingkan jump scare konvensional.

​Prestasi Memukau di Box Office

​Gonjiam membuktikan kekuatannya dengan angka-angka yang fantastis pada penayangan perdana, melampaui berbagai film horor ikonik Barat. Pada hari pembukaannya, film ini berhasil mencetak angka yang fenomenal dengan meraih total 198.669 penonton, di negara asalnya, Korea Selatan. Data tersebut dicatat oleh Korean Film Council (KOFIC).

​Pencapaian ini menempatkan Gonjiam jauh di atas film-film horor ikonik Hollywood dalam pasar yang sama. Sebagai perbandingan, jumlah penonton pembuka Gonjiam melampaui

Annabelle yang mencatat 154.719 penonton, serta jauh mengungguli film peraih Oscar Get Out yang meraih 92.124 penonton. Bahkan, film legendaris The Conjuring hanya mampu mengumpulkan 81.130 penonton pada penayangan perdana mereka. Hal ini membuktikan bahwa daya tarik teror RS Gonjiam memiliki magnet yang luar biasa kuat bagi para pecinta adrenalin.

​Segera Hadir Remake Versi Indonesia: 402 Rumah Sakit Angker Korea

​Kesuksesan global Gonjiam akhirnya membawa teror ini ke Tanah Air! Persiapkan dirimu untuk menyambut remake resmi versi Indonesia dengan judul: "402 Rumah Sakit Angker Korea"

Remake ini akan membawa nuansa horor khas lokal namun tetap mempertahankan struktur ketegangan asli yang membuat Gonjiam begitu legendaris. Fokus cerita akan tetap berpusat pada misteri Kamar 402 di sebuah rumah sakit terbengkalai, yang tak pernah bisa dibuka.

​Film ini dibintangi oleh Arbani Yasiz, Saputra Kori, Elang El Gibran, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, dan Aylena Fusil. Tak ketinggalan, influencer Jang Han-Sol. Film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini dijadwalkan tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026.

Tebak Adegan Paling Gong!

Dari semua momen ikonik di film aslinya, seperti adegan bisikan cepat, kru kesurupan yang tertangkap di kamera, atau kemunculan hantu di bak mandi, kira-kira adegan mana yang akan menjadi "Gong" paling mematikan di versi Indonesia nanti? Apakah akan ada kejutan lokal yang baru?

​Pantau terus perkembangannya dan siapkan nyali Anda!

Prilly Latuconsina Bawa “Pocong” ke Cannes Film Festival 2026 lewat Film Holy Crowd

​ Aktris Prilly Latuconsina kembali menorehkan langkah baru di panggung internasional lewat keterlibatannya dalam film Holy Crowd , yang te...