Rabu, 17 Juni 2026

Bayu Skak Bawa Penyegaran lewat Komedi Sci-fi di Film Foufo, Saat Alien Membantu Ibu dari Keluarga Madura yang Ingin Naik Haji! Trailer Tampilkan Tretan Muslim Jadi Anak yang Berbakti Pada Ibu

Film Foufo tayang mulai 9 Juli 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 17 Juni 2026 — Setelah sukses dengan genre horor komedi, sutradara Bayu Skak merilis film terbarunya bergenre komedi sci-fi berjudul Foufo, yang dipersembahkan oleh Skak Studios dan Sinemart. Menyambut penayangannya di bioskop pada 9 Juli 2026, film Foufo merilis official trailer dan poster yang menampilkan persahabatan dan kisah haru cinta seorang anak terhadap ibunya yang ingin naik haji.

​Film Foufo dibintangi oleh Tretan Muslim, Habib Jafar, Ade 'Bibier' Kurniyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, dan Hari Otong. Film ini diproduseri oleh Bayu Skak dan Ricky R. Setiawan, dengan produser eksekutif David Suwarto.

Official trailer film Foufo menampilkan perjalanan Muslim yang diperankan oleh Tretan Muslim, sebagai anak yang menjadi tulang punggung keluarga hidup sebagai pengepul besi bekas. Di tengah keterbatasan ekonomi, Muslim memiliki cita-cita untuk memberangkatkan ibunya, Saiqonah, naik haji ke Mekah. Namun, di tengah semuanya, datang alien dari planet asing yang mendarat ke Bumi dan mengubah jalan hidup keluarga Muslim.

​Situasi pun menjadi semakin rumit. Alien yang mereka panggil Foufo itu butuh pertolongan keluarga Muslim untuk bisa kembali ke kapal induknya. Di satu sisi, batas pelunasan keberangkatan haji semakin dekat dan mendesak, dan membawa film ini memiliki drama yang mengharukan dari trailernya. Bagiamna perjalanan persahabatan antara keluarga Madura dan alien? Apa yang akan dilakukan Muslim dan Foufo?

​Bayu Skak mengungkapkan ide tentang film Foufo berawal dari sebuah keinginan untuk keluar dari zona nyamannya. Selama ini, Bayu dikenal dengan signature sutradara komedi dan bahasa Jawanya. Namun, untuk pertama kalinya Bayu menggarap film berbahasa Madura.

​Kisah yang dibawa pun sangat universal, tentang cinta yang begitu besar dari seorang anak terhadap sang ibu.

​"Semua orang punya pengalaman dan perasaan bagaimana rasanya mencintai ibu kita masing-masing dan keinginan untuk membahagiakan orang yang kita paling sayangi di dunia ini, yaitu ibu. Perasaan itu yang ingin kami sajikan di film ini," ujar produser dan sutradara film Foufo Bayu Skak.

​Film Foufo sekaligus menandai debut Tretan Muslim sebagai pemeran utama di film layar lebar. Jika biasanya Tretan tampil sebagai karakter yang komedik, justru di film ini ia ditantang untuk menampilkan karakter yang serius.

​"Ini pertama kalinya saya menjadi pemeran utama, ditambah kalian akan melihat sisi lain yang belum pernah dilihat selama ini. Saya bangga identitas Madura ditampilkan dengan baik dan unik oleh Bayu di film Foufo ini," ungkap Tretan Muslim.

​Film Foufo membawa beberapa terobosan yang menjadi penyegaran di perfilman Indonesia. Di antaranya adalah film pertama berbahasa Madura, dengan hampir 80% pemeran adalah berdarah Madura dan non-aktor, serta berkolaborasi dengan studio animasi lokal asal Surabaya, Hompimpa, untuk secara khusus mendesain karakter alien.

​Dalam prosesnya, film Foufo juga melakukan open casting yang melibatkan partisipasi 2.500 peserta! Skala yang sangat besar dan menjadi bentuk keseriusan Skak Studios dan Sinemart dalam mencari talenta otentik Madura.

​Film ini juga menggandeng pengisi suara (dubber) legendaris Indonesia, Ade 'Bibier' yang sudah sangat dikenal suaranya oleh masyarakat Indonesia, untuk mengisi suara alien. Ia juga untuk pertama kalinya debut di layar lebar, dan secara khusus pertama kalinya melakukan live dubbing.

​"Ide tentang UFO yang crash landing di Madura sudah sangat lucu. Film ini membawa komedi dengan sentuhan sci-fi, namun juga ada kedalaman dramanya tentang cinta seorang anak yang ingin berbakti pada ibunya, sebuah perasaan yang rasanya sangat relate untuk kita semua. Sinemart percaya dengan mendukung penuh film Foufo sejak awal dikembangkan dan akhirnya siap tayang mulai 9 Juli 2026 di bioskop Indonesia," ujar produser eksekutif David Suwarto.

​Film Foufo akan tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Ikuti informasi terbaru mengenai perkembangan film Foufo melalui akun Instagram resmi @filmfoufo, @skakstudios, dan @sinemart_ph.

​Tentang Skak Studios

​Skak Studios adalah IP Studio Company yang mengusung konsep Hyper lokal lewat konten kreatif film hingga lokadrama yang menggunakan pemain putra-putri daerah atau kita menyebutnya dengan lokatalenta. Kini, Skak Studios dengan para foundernya yaitu Bayu Skak dan Ricky Ramadhan Setiyawan telah menghasilkan beberapa produk IP Character & Story dan berkolaborasi dengan beberapa Production House menelurkan karya-karya fenomenal dalam industri film seperti Yowis Ben, Lara Ati, Sekawan Limo 1 & 2, Cocote Tonggo, Lokadrama Lara Ati dan Lokadrama Rujak Cingur Lek Har.

​Lokadrama Lara Ati yang ditayangkan di Vidio.com, telah merebut hati penonton hingga 50 juta penonton dari seluruh Indonesia, ini menorehkan penonton terbanyak sepanjang sejarah Vidio.com. Begitu pula Yowis Ben yang lebih dahulu mencatat sebagai film terlaris Indonesia sepanjang tahun 2018-2021. Yowis Ben juga masuk nominasi film favorit pada Indonesian Movie Actor Awards (2018), Pemenang Film Favorit Remaja pada Festival Film Bandung (2018), dan masuk nominasi Piala Maya untuk kategori Skenario Asli dan Pemain Pendatang Baru Terpilih (2019). Semua film dan lokadrama yang telah mendapatkan apresiasi ini semuanya menggunakan hampir 100% bahasa daerah dan talenta daerah.

Tentang Sinemart

​Sinemart, yang diambil dari 3 kata 'Sinema', 'Art', dan 'Mart', menggambarkan secara tepat apa visi dari perusahaan kami ini. Kami berusaha menciptakan sebuah campuran sempurna antara 'seni' dan 'dagang' melalui medium film. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerinduan akan menyampaikan cerita-cerita yang inspirasional merupakan fondasi kami untuk mengembangkan sebuah serial televisi atau film layar lebar.

​Sebuah cerita inspirasional tentunya subjektif dengan selera orang, namun cara kami menceritakan adalah yang membuat kami beda dari yang lain. Gaya cerita kami bisa digambarkan sebagai kombinasi dari artistik dan komersil, yang menurut kami sangat tepat sebagai penarik perhatian untuk berbagai umur dan latar belakang.

Selasa, 16 Juni 2026

SPECIAL SCREENING DAN KONFERENSI PERS FILM: MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula


JAKARTA, 15 Juni 2026 - SPESIAL SCREENING- Di akhir sebuah film, saat credit roll bergulir, selalu muncul deretan nama yang tak kunjung henti. Deretan nama-nama, yang tanpa keberadaan mereka, film tersebut tak mungkin bisa terwujud. Tak terkecuali dengan film kami. Tanpa kerja sama dan kolaborasi banyak pihak, kami tak akan bisa sampai di titik ini.

Untuk itu menjelang ditayangkannya film MAJU, Jejak Pahit si Kembang Gula di tanggal 6 Agusutus 2026 di bioskop seluruh Indonesia, PANEN Entertainment selaku rumah produksi dari film Maju hendak mengapresiasi segala dukungan yang telah dan akan kami terima. Sebagai tanda terima kasih, special screening ini kami persembahkan.

Yang pertama adalah dukungan dari Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Sebagai garda terdepan pembangunan manusia Indonesia, Kemenko PMK sangat peduli akan perkembangan anak Indonesia agar bisa menjadi sosok yang berpikiran maju, selalu positif di setiap langkahnya.

Lalu dukungan penuh dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang selalu bekerja tanpa henti untuk menjauhkan anak-anak kita dari bahaya laten narkoba. Mengingat semakin hari semakin banyak barang terlarang tersebut menyasar generasi muda kita.

Juga teman-teman dari Lembaga, Sensor Film Indonesia (LSF), yang telah membantu agar film ini dapat ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Dukungan Kemenko PMK dan BNN tersebut diberikan karena film Maju selain sarat dengan adegan aksi seru yang ramah untuk ditonton semua usia, juga mempunyai isi cerita dan pesan yang sesuai dengan misi bersama demi kemajuan anak Indonesia. Kesamaan misi tersebut mulai dari pentingnya peran keluarga, pemberdayaan guru, inklusi sosial, sikap anti perundungan, kemampuan berinisiatif & critical thinking, hingga kesadaran akan bahaya laten narkoba. Semua ini penting sebagai modal dasar pembentukan karakter yang positif, siap untuk selalu melangkah maju mewujudkan Generasi Indonesia Emas.

APRESIASI:

Apresiasi positif tersebut tak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga dari insan perfilman internasional. Sejauh ini, film Maju telah menjadi pemenang di Moscow International Children's Film Festival sebagai Best Feature Film. Juga telah terpilih sebagai Official Nominee di Canada International Children Film Festival, dan Official Selection di Macau International Children's Film Festival, dan Within The Family International Festival of Family and Children Films.

SINOPSIS FILM:

(Mengingat film baru akan tayang di 6 Agustus 2026, ini adalah sinopsis resmi film yang dapat direlease, agar tidak memberikan spoiler terlalu dini)

Film Maju adalah film aksi remaja yang memulai kisahnya saat empat sahabat karib, yaitu Kirana, Hanna, Gerald, dan Bagas, berangkat untuk melakukan survei lokasi kegiatan Jambore. Bersama Pak Wira guru mereka yang disiplin, dimulailah perjalanan dengan penuh semangat. Namun suasana ceria berubah menjadi mimpi buruk ketika Bagas, yang belakangan berperilaku aneh, menghilang secara misterius setibanya mereka di desa lokasi perkemahan. Satu-satunya petunjuk adalah potongan kembang gula kesukaan Bagas. Dari sini mereka berempat mencoba mencari kemana hilangnya teman mereka itu... dengan mengikuti pahitnya jejak si kembang gula.

PEMBUATAN FILM:

Pengambilan gambar film Maju sepenuhnya berlangsung di kota Yogyakarta, dengan segala ragam budaya dan keindahan alamnya. Juga pemeran anak-anak di film ini semuanya adalah talenta berbakat dari Jogja, yang juga turut menyanyikan soundtrack dan theme song film Maju.

Akhirnya, kami semua dari Panen Entertainment berharap agar film Maju bisa dikenal luas dan dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Agar semangat untuk maju dapat menjadi bagian dari semangat yang selalu ada di kehidupan kita semua.

Salam dari keluarga besar Panen Entertainment.

Jangan lupa ikuti semua langkah Maju di akun-akun sosial media kami:

Instagram: @filmmaju
Tiktok: @filmmaju
Spotify: Album MAJU (Original Motion Picture Soundtrack)

INFORMASI FILM:

PEMAIN:
Wira : Bukie B Mansyur
Pak Kades : Unang Bagito
Bu Kades : Sarah Sechan
Kirana : Princesza Leticia
Hana : Bebe Gracia
Gerald : Axandro J. ED
Bagas : Aradhana Rahadi
Adit : Alby Ersani

KRU FILM:

Sutradara : Franklin Darmadi

Produser : Silvia Yunita

Co-Produser : Satrio Stevanus

Co-Sutradara : Fikri Pikoy

Penulis Skenario : Dedey Natalie

Produser Eksekutif : Alfie Lim, Andri Putra

Lagu & Musik : Andri Putra, Arie Key Nova

Penyunting Gambar : Kornelius Verdy

Penata Artistik : Michael Aris Pramono

MUSIK & LAGU:

Di kesempatan ini kami juga hendak memperkenalkan kedua buah lagu original soundtrack film: Satu lagu theme song film yang berjudul sama, yaitu "MAJU" dan satu lagi lagu tentang persahabatan yang berjudul "TEMAN SELALU".

Lagu "Maju' itu sendiri adalah lagu penuh semangat yang mengangkat tema kebersamaan untuk meraih tujuan bersama. Selama cita-cita tersebut postif, janganlah pernah takut untuk tetap terus bergerak maju untuk meraihnya. Dinanyikan oleh ensemble cast film Maju, Lagu ini sangat cocok untuk dinyanyikan sebagai penyemangat diri, misalnya dalam konteks perlombaan sekolah, pertandingan olah raga, dan kegiatan lainnya yang butuh mindset positif.

Untuk lagu "Teman Selalu", duet penuh harmoni dari Princesza Leticia dan Axandro membuat lagu yang bertutur tentang keindahan sebuah pertemanan ini menjadi hidup dan menyentuh hati. Kita semua pasti mengerti akan pentingnya mempunyai sosok teman yang selalu ada dan saling mendukung satu sama lain. Lagu ini sangat sesuai untuk dinyanyikan dalam segala bentuk event keakraban atau acara kelulusan sekolah.

Soundtrack film Maju telah tersedia di Spotify dan akun media sosial kami.

Senin, 15 Juni 2026

NEONA TEGUR SI DIA YANG TAK KUNJUNG PASTI LEWAT SINGLE TERBARU “PLIN PLAN”

Masih mengusung energi fun dan centil khasnya dalam warna hip-dut yang segar, NEONA kembali hadir dengan lagu yang mewakili keresahan anak muda tentang hubungan yang tak kunjung pasti.

​Jakarta, 15 Juni 2026 — Setelah menyuarakan keresahan tentang hubungan tanpa kepastian melalui single LUPA!, penyanyi muda berbakat NEONA kembali melanjutkan ceritanya lewat single terbaru berjudul PLIN PLAN. Masih mengusung warna musik hip-dut yang fun, catchy, dan penuh karakter, PLIN PLAN hadir sebagai lagu yang mewakili rasa kesal ketika seseorang terus digantung dalam hubungan yang tidak jelas arahnya.

​Jika LUPA! berbicara tentang keberanian meminta kepastian, maka PLIN PLAN menjadi respons ketika kepastian itu tak kunjung datang. Lewat lirik yang ringan, jenaka, namun tetap tajam, NEONA menyuarakan perasaan banyak anak muda yang lelah menghadapi pasangan yang terus berubah pikiran dan tidak berani menentukan arah hubungan.

​“Lagu PLIN PLAN bercerita tentang seseorang yang digantungin terus sama orang yang dia suka. Hubungannya nggak jelas, maunya apa juga nggak tahu. Aku rasa ini masalah yang cukup banyak dialami seumuran aku, jadi waktu workshop lagu ini, temannya langsung terasa relate banget,” ujar NEONA. Melalui lagu ini, NEONA juga menyampaikan pesan sederhana namun tegas untuk siapa saja yang masih berada dalam situasi serupa. “Kalau memang nggak yakin, bilang aja. Jangan ngegantung, jangan mainin perasaan orang, dan jangan plin-plan,” tambahnya.

​Proses kreatif PLIN PLAN kembali mempertemukan NEONA dengan tim yang sebelumnya menggarap LUPA!, yaitu Anangga Surya Dewangga dan Yosua Albert atau DIA yang tergabung dalam AntiNRML. Lagu ini lahir dari workshop kreatif yang melibatkan NEONA secara langsung dalam pengembangan ide dan penulisan lirik, sehingga mampu merepresentasikan pengalaman dan perspektif remaja masa kini secara autentik.

​Menurut Anangga, keterlibatan NEONA menjadi elemen penting dalam membentuk karakter lagu ini. “Kami ingin melanjutkan warna yang sudah dibangun lewat LUPA!, tetapi dengan karakter yang lebih dewasa. PLIN PLAN tetap mempertahankan sisi tengil dan centil khas NEONA, namun dengan cara penyampaian yang lebih berani dan tegas. Karena ceritanya datang dari sudut pandang perempuan yang sedang kesal, keterlibatan NEONA sangat membantu untuk membuat emosinya terasa lebih spesifik dan nyata,” jelas Anangga.

​Sebagai produser, DIA juga melihat PLIN PLAN sebagai kelanjutan yang natural dari perjalanan musikal NEONA. “Benang merah antara LUPA! dan PLIN PLAN adalah keduanya sama-sama seru, menyenangkan, dan punya energi yang kuat. Kami ingin menghadirkan lagu yang bisa membuat pendengar ikut bernyanyi, tetapi tetap merasa dekat dengan cerita yang disampaikan,” ungkap DIA.

​Dengan kombinasi lirik yang relate, karakter musik hip-dut yang semakin matang, serta kepribadian NEONA yang semakin kuat sebagai seorang penyanyi, PLIN PLAN menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan musikal NEONA yang terus berkembang. Lagu ini diharapkan dapat menjadi teman bagi siapa saja yang pernah menunggu kepastian terlalu lama, sekaligus pengingat bahwa tidak ada alasan untuk terus bertahan dalam hubungan yang arahnya tidak jelas.


​Single PLIN PLAN dari NEONA sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital di Indonesia mulai 15 Juni 2026.

​Trinity Optima Production (TOP)

Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi "Nurturing STARS to Inspire Happiness", TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent, perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Dukung Kreativitas Industri Film, Kementerian Kebudayaan Lewat Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya Gelar Nonton Bareng dan Diskusi Bersama Sutradara ‘Nobody Loves Kay’ di Surabaya


​Surabaya, 14 Juni 2026 — Menyambut antusiasme masif masyarakat, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program prioritas Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) bidang film, secara resmi menggelar acara bertajuk MTN IkonInspirasi x Nobody Loves Kay yang didedikasikan khusus untuk arek-arek Surabaya. Acara ini berupa nonton bareng dan diskusi langsung bersama sutradara film Nobody Loves Kay, Bernardus Raka, yang juga merupakan sineas kebanggaan asli Surabaya.

​Acara istimewa ini diselenggarakan pada hari Minggu, 14 Juni 2026, bertempat di Grand City Surabaya. Melalui ruang ini, para penonton dan kreator lokal bakal ngobrol banyak tentang proses kreatif, tantangan selama masa produksi, hingga cerita-cerita menarik yang belum pernah terungkap di balik layar film tersebut.

​Langkah dari Kementerian Kebudayaan ini diambil sebagai bentuk apresiasi dan dukungan penuh negara terhadap kreativitas di industri perfilman tanah air. Film Nobody Loves Kay dinilai berhasil memberikan warna baru yang segar dan krusial bagi lanskap sinema nasional, mengingat belum banyak sineas lokal yang berani mengangkat kisah tentang pahit-manisnya perjuangan seorang pro-player e-sport dari titik nol.

Apresiasi dari Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya

Program MTN Seni Budaya bidang film berkomitmen untuk terus mengawal, mengapresiasi, dan membuka jalan bagi talenta-talenta kreatif di bidang film agar bisa bersinar di panggung tertinggi. Perwakilan dari MTN Bidang Seni Budaya bidang film menyampaikan bahwa film ini adalah contoh nyata bagaimana industri kreatif mampu menangkap keresahan generasi masa kini secara positif.

​“Melalui program MTN IkonInspirasi x Nobody Loves Kay, kami berkomitmen untuk mendukung penuh karya-karya segar yang lahir dari tangan sineas muda kita. Nobody Loves Kay bukan sekadar film hiburan, melainkan sebuah bentuk validasi negara terhadap bakat dan potensi anak muda di industri modern seperti e-sports. Kami ingin ekosistem perfilman kita terus berani mengeksplorasi tema-tema baru yang relevan dengan perkembangan zaman dan menjadi ruang aman bagi talenta muda untuk menunjukkan taringnya,” ujar Rina Damayanti, Perwakilan MTN Seni Budaya bidang film.

​Kegiatan nonton bareng ini juga merupakan rangkaian acara menuju Workshop Penyutradaraan bertajuk “Wani Action” dengan tema diskusi “Time For Emerging Talents to Shine.” Workshop ini bertujuan untuk memfasilitasi talenta muda dalam memperdalam ilmu perfilman yang akan diselenggarakan dalam dua fase: Online: 24–27 Juni 2026 dan Offline: 4–5 Juli 2026 di Surabaya.

​Dalam workshop ini, sutradara Bernardus Raka akan hadir sebagai narasumber bersama sutradara Agung Sentausa untuk berbagi pengalaman serta teknik penyutradaraan profesional kepada para peserta terpilih.

Sutradara Bernardus Raka: "Terima Kasih Atas Ruang Bersama Ini"

Mendapatkan dukungan penuh dan gerakan nobar serentak di 7 kota besar dari kementerian, sutradara debutan Bernardus Raka mengaku sangat terharu sekaligus bangga. Baginya, apresiasi ini adalah bentuk kemenangan bagi seluruh kreator muda dan pemilik mimpi non-konvensional.

​"Jujur, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan dan program MTN Seni Budaya atas ruang bersama yang luar biasa ini. Saat pertama kali menggarap film ini, visi saya sederhana: ingin menyuarakan suara anak-anak muda zero privilege yang sering dianggap sebelah mata saat mengejar mimpinya. Dukungan negara hari ini membuktikan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu kecil atau aneh. Film ini adalah hasil akhir dari mimpi Raka umur 3 tahun yang jatuh cinta sama film karena diajak bapak nonton bioskop. Aku ini cuma bocah beruntung yang dikasih kesempatan buat mewujudkan mimpiku, dan semoga teman-teman di luar sana yang punya mimpi juga tetap berani mengejarnya. Dukungan ini adalah suntikan energi besar bagi kami para kreator untuk melahirkan karya yang jujur dan bersuara lantang bagi generasi kami," ungkap Bernardus Raka.

Bergerar ke Bioskop: Saatnya Buktikan Mimpi Kita!

Histeria positif hari ini menjadi bukti bahwa pesan yang dibawa oleh Nobody Loves Kay, yang dibintangi aktor muda berbakat seperti Bima Azriel, Ray Bang, Aurora Ribero, serta Joshia Frederico, telah bergaung kuat di hati para penonton. Bagi kalian yang belum menyaksikan, hari ini adalah momen paling tepat untuk bergerak ke bioskop terdekat di kota kalian.

​Ingat, film ini bukan cuma sekadar menceritakan kisah hidup Kay. Film ini adalah cermin dari setiap peluh, air mata, dan malam-malam panjang yang kamu lewati demi mempertahankan apa yang kamu yakini. Karena pada akhirnya, bukan cuma Kay, tapi semua bentuk perjuangan, termasuk perjuangan hidup yang sedang kamu hadapi saat ini, sangat layak untuk diperjuangkan dengan segenap hati, sampai nanti kamu tiba di satu titik tertinggi di mana kamu bisa berdiri tegak dan lantang berteriak “PROVE THEM WRONG” kepada mereka yang pernah meremehkan mimpimu!

​Tiket nonton Nobody Loves Kay bisa langsung kamu amankan sekarang juga melalui aplikasi pemesanan tiket resmi (M-TIX, TIX ID, CGV, Cinepolis). Jangan sampai terlewat, mari kita dukung perfilman Indonesia dan rayakan perjuangan mimpi kita bersama-sama di bioskop hari ini!

​Bersiap-siaplah, karena ledakan emosional di akhir film ini dijamin akan membuatmu menangis. Pantau terus akun sosial media resmi @nobodyloveskay untuk informasi theater visit, nonton bareng, dan pembaruan terkini!

Film Drama Horor Misteri Datang Akan Pergi ​Memperkenalkan Jajaran Pemeran Bertabur Bintang Lintas Generasi, Kolaborasi Terbaru yang Fresh dari Upi Bersama Starvision

Film Datang Akan Pergi segera tayang di bioskop Indonesia

Jakarta, 15 Juni 2026 – Starvision kembali bekerja sama dengan sutradara Upi dalam film terbaru berjudul Datang Akan Pergi. Film bergenre Drama Horor Misteri yang ditulis dan disutradarai oleh Upi, dengan produser Chand Parwez Servia ini menjadi kolaborasi terbaru Upi bersama Chand Parwez dan Starvision setelah horor thriller yang meraih Nominasi Piala Citra FFI 2024 Sehidup Semati. Film Datang Akan Pergi dijadwalkan tayang di bioskop tahun ini.

​Melalui media sosial, Starvision memperkenalkan jajaran pemeran lintas generasi yang membintangi film ini, yaitu: ​Iqby Gazza, Jeremie Moeremans, Nicholas Anderson, Baim Alkatiri, Widuri Puteri, Razan Zu, Surya Saputra, Amira Marissa Anita, Shareefa Daanish, Marissa Anita, Keysha Angelica, Zack Lee, Ratu Felisha, Okan Kornelius, Izabel Jahja, Jofa Knoch, Arkhan Daud, Anasya Makahekum, Alesia Nishka, Gilbert Pattiruhu, Haydar Salishz, Ina Rosalien, Sari Nila, Benjamin Malaiholo, Afrian Arisandy, Dara Warganegara, Yeremia Luddin, Daffa Saputra, dan Farell Akbar, serta penampilan spesial dari grup band Sukses Lancar Rejeki.

​"Starvision selalu percaya dengan kualitas yang diberikan oleh Upi. Karya-karya sukses Starvision juga lahir dari banyak kolaborasi bersama Upi. Kali ini kami menghadirkan film Datang Akan Pergi, membawa genre drama horor misteri yang fresh. Tunggu di bioskop segera," kata produser Chand Parwez Servia.

​"Film Datang Akan Pergi menjadi kolaborasi terbaru saya bersama Pak Chand Parwez dan Starvision, dengan jajaran pemeran bintang dan nama-nama baru yang saya percaya dengan kualitas mereka. Semoga akan menjadi sajian drama horor misteri yang memberikan kesegaran di layar bioskop Indonesia," ujar penulis dan sutradara Upi.

​Bersama Starvision, Upi telah dipercaya untuk menulis judul-judul film ikonik dan sukses secara blockbuster. Beberapa di antaranya adalah Petaka Gunung Gede (2025), Sihir Pelakor (2025), Kafir: Gerbang Sukma (2026), dan Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018).

​Film Datang Akan Pergi akan menjadi kolaborasi Upi bersama Starvision yang menyajikan drama horor misteri menegangkan, menyegarkan, dan menghibur di bioskop Indonesia!

​Ikuti perkembangan terbaru film Datang Akan Pergi melalui akun media sosial resmi di Instagram @starvisionplus, @filmdatangakanpergi, dan TikTok @StarvisionMovie.

Tentang Starvision

​Starvision merupakan salah satu rumah produksi film dan televisi paling berpengaruh dan terkemuka di Indonesia, dengan rekam jejak lebih dari tiga dekade dalam membentuk lanskap hiburan nasional. Di bawah kepemimpinan visioner pendiri sekaligus produser Chand Parwez Servia, perusahaan ini dikenal konsisten menghadirkan kisah-kisah yang mampu menyentuh dan dekat dengan hati penonton Indonesia.

​Setiap tahunnya, Starvision merilis sekitar sepuluh judul film layar lebar, menjadikannya salah satu pemain paling stabil dan dapat diandalkan di pasar film nasional. Keistimewaan Starvision terletak pada keberanian untuk berinvestasi secara mandiri di seluruh proyeknya, sebuah komitmen yang menegaskan kemandirian kreatif sekaligus kualitas dan konsistensi dalam setiap produksi.

​Dalam beberapa tahun terakhir, Starvision telah melahirkan sejumlah film box office yang sukses besar dan banyak diperbincangkan, di antaranya Petaka Gunung Gede, Sekawan Limo, 172 Days, Komang, Imperfect, Cek Toko Sebelah, dan Dua Garis Biru. Film-film tersebut menunjukkan kekuatan Starvision dalam menghadirkan hiburan yang tidak hanya komersial, tetapi juga penuh makna—menegaskan posisi Starvision sebagai nama terpercaya bagi penonton, mitra, maupun kolaborator di industri perfilman Indonesia.

Minggu, 14 Juni 2026

Saat Aku Bersuara, Film yang Angkat Perjuangan Penyintas Kekerasan Seksual Lawan Budaya Bungkam

Film garapan sutradara Sonu Samtani dengan naskah Tisa TS ini mengangkat isu kekerasan seksual dan budaya bungkam. Tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2026.

Jakarta, 14 Juni 2026 — Penyintas kekerasan seksual sering menyimpan luka yang terlalu sering dipaksa diam. Penyintas kekerasan seksual kerap menghadapi kenyataan pahit: pelaku terlindungi, korban disalahkan, dan suara mereka tenggelam dalam stigma. Di tengah realita ini Arjuna Mega Films, Rain Creation, dan Lex Pictures siap menghadirkan film drama terbaru berjudul Saat Aku Bersuara yang akan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Juni 2026.

​Film ini mengisahkan Nadia (Marshanda), seorang pengacara muda cerdas dengan karier cemerlang yang hidupnya tampak sempurna usai dilamar kekasihnya, Reza (Nino Fernandez). Namun kegelisahan mulai menggerogoti Nadia ketika firma hukum tempatnya bekerja memenangkan kasus yang melibatkan putra seorang pengusaha kaya sebagai terduga pelaku pemerkosaan.

​Situasi semakin memanas ketika suatu malam tragedi justru menimpa Nadia sendiri, berawal dari upayanya menolong sahabat karibnya, Andien (Rini Yulianti).

​Bersama Andien, Riana (Hana Malasan), dan Adrian (Ibnu Jamil) seorang Jaksa Penuntut Umum yang menyimpan luka pribadi akibat kegagalan sistem hukum, Nadia berupaya membangun kembali hidupnya. Film ini juga menggambarkan perjuangan Nadia memperbaiki hubungan yang renggang dengan sang ayah (Teuku Rifnu Wikana), sembari membuktikan bahwa keberanian untuk bersuara mampu menghadirkan harapan baru.

​Saat Aku Bersuara mengangkat isu sensitif yang dekat dengan realita sosial Indonesia, kekerasan seksual, trauma, stigma, dan perjuangan para penyintas melawan budaya bungkam yang selama ini melindungi pelaku dan menyudutkan korban.

​Film ini adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap hukum yang timpang, terhadap masyarakat yang lebih memilih diam daripada berpihak kepada penyintas, serta ketakutan yang selama ini membelenggu para penyintas untuk angkat bicara. Film ini hadir dengan satu janji kepada penontonnya; keluar dengan harapan. Harapan bahwa semua orang harus bersuara. Bahwa tidak ada penyintas yang harus berjuang sendirian. Dan bahwa perubahan dimulai ketika satu orang berani bersuara.

Saat Aku Bersuara juga mengajak penonton memaknai pentingnya dukungan persahabatan, keluarga, dan keberanian menyuarakan kebenaran ketika harapan mulai memudar di tengah keadilan yang sering dipertanyakan.

​Didukung jajaran aktor dan aktris papan atas Indonesia, film ini menampilkan Marshanda yang beradu akting dengan Ibnu Jamil untuk pertama kalinya di film panjang. Keduanya pernah bekerja sama dalam sinetron lebih dari 16 tahun lalu. Film ini didukung oleh deretan cast lainnya, Lukman Sardi, Cut Mini sebagai Ibu Nadia, Lydia Kandou, Omar Daniel, serta Unique Priscilla.

​Semua informasi mengenai film Saat Aku Bersuara dapat diakses melalui kanal resmi Instagram @saatakubersuara.

Aksi Heroik Fadi Alaydrus Selamatkan Saskia Chadwick di Gudang Sekolah, Awal Takdir Manis di WeTV Original Samuel


Jakarta – Penayangan perdana WeTV Original Samuel langsung mencuri perhatian jutaan pasang mata minggu ini pada hari Jumat dan Sabtu. Serial yang diangkat dari fenomena Wattpad dengan 21,7 juta pembaca ini mempertemukan Fadi Alaydrus dan Saskia Chadwick dalam sebuah narasi yang penuh ketegangan, emosi, dan kerumitan takdir.

Kisah bermula dengan tragedi memilukan saat mobil yang dikendarai orang tua Azzura (Saskia Chadwick) mengalami sabotase rem hingga menabrak pohon dan menewaskan keduanya. Di tengah duka mendalam, Azzura yang kini sebatang kara harus menerima kenyataan bahwa ia telah dijodohkan dengan sahabat masa kecilnya, Samuel Erlangga (Fadi Alaydrus), berdasarkan wasiat mendiang ayahnya.

Namun, pertemuan kembali ini jauh dari ekspektasi. Samuel yang kini menjadi ketua Diamond Gang yang disegani tampil dengan aura dingin dan garang. Ia menganggap kehadiran Azzura sebagai beban, bahkan melarang Azzura memanggilnya dengan nama kecil mereka, "Baby El", demi menjaga wibawanya di sekolah.

Ketegangan semakin memuncak dengan hadirnya Raskal (Emyr Razan), pemimpin Geng Chayton yang merupakan rival bebuyutan Samuel. Raskal secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Azzura, yang memicu kemarahan dan kecemburuan Samuel. Demi membuktikan kelayakannya untuk berteman dengan Samuel, Azzura dengan polos menyanggupi "ujian" membersihkan gudang sekolah yang kotor.

Puncak drama di episode pembuka terjadi saat Azzura tanpa sengaja terkunci di dalam gudang sekolah yang gelap hingga kehabisan napas. Dalam kepanikan luar biasa, Samuel datang mendobrak pintu dan memberikan bantuan napas buatan untuk menyelamatkan nyawa Azzura. Momen intim yang tak terduga ini menjadi titik balik hubungan keduanya, menyisakan tatapan penuh makna di tengah kegelapan gudang.

Di balik ketangguhannya sebagai pemimpin geng motor, Samuel mulai memperlihatkan sisi lembutnya. Ia tertangkap kamera membacakan buku dongeng Rapunzel untuk menenangkan Azzura yang rapuh, membuktikan bahwa ikatan masa kecil mereka belum sepenuhnya hilang.

Ikuti terus kelanjutan chemistry antara Fadi Alaydrus dan Saskia Chadwick dalam WeTV Original Samuel yang tayang eksklusif minggu ini di hari Jumat dan Sabtu, serta akan terus berlanjut hingga episode 8 hanya di aplikasi WeTV.

Sabtu, 13 Juni 2026

Dukun Magang Siap Hadirkan Horor Ringan yang Lebih Banyak Mengocok Perut

Jakarta, 13 Juni 2026 - Film Dukun Magang siap menyapa penonton Indonesia dengan sajian komedi horor yang segar. Film ini tidak hanya mengandalkan teror mistis, tetapi juga menonjolkan humor sebagai daya tarik utama.

​Mengusung konsep 80 persen komedi dan 20 persen horor, Dukun Magang hadir untuk penonton yang ingin menikmati film horor tanpa tekanan rasa takut yang terlalu berat. Unsur horor tetap muncul melalui suasana desa, ritual mistis, rumah tua, dan gangguan gaib. Namun, komedi menjadi warna paling dominan dalam cerita.

​Film garapan sutradara Chiska Doppert ini berpusat pada kisah Raka Mahardika, mahasiswa tingkat akhir yang skeptis terhadap dunia mistis. Raka berada di ujung masa kuliah karena skripsinya berulang kali ditolak. Dalam usaha terakhirnya, ia memilih topik penelitian tentang dunia perdukunan di Desa Kalimati, desa terpencil yang dikenal kuat dengan tradisi gaib.

​Perjalanan Raka ke Desa Kalimati tidak dilakukan sendirian. Ia datang bersama Boiman, sahabatnya yang penakut, humoris, dan sering sok tahu, serta Sekar, teman kampus yang memiliki hubungan dekat dengan desa tersebut. Dari sinilah kekacauan dimulai. Raka yang awalnya hanya ingin mencari bahan skripsi justru harus berhadapan dengan ritual aneh, warga desa penuh rahasia, dan teror Kuntilanak Hitam.

​Film ini dibintangi oleh Jefan Nathanio sebagai Raka, Hana Saraswati sebagai Sekar, dan Fajar Nugra sebagai Boiman. Deretan pemain lain juga memperkuat cerita, seperti Adi Sudirja, Wira Nagara, Mang Osa, Salsabila Zahra, Dodit Mulyanto, Mo Sidik, dan Yan Patroman. Beberapa karakter pendukung yang turut hadir antara lain Mbah Djambrong, Tejo, Tarno, Surti, Mas Mulyanto, Pak Arief, dan Pak Bambang.

​Kehadiran para komika dan aktor komedi menjadi kekuatan utama Dukun Magang. Karakter Boiman, Tejo, Tarno, dan tokoh-tokoh desa dibuat untuk memberi ruang tawa di tengah situasi mistis. Hasilnya, film ini tidak bergerak sebagai horor murni, tetapi sebagai tontonan hiburan yang ramai, lucu, dan tetap memberi sentuhan menyeramkan.

​Secara cerita, Dukun Magang juga membawa benturan antara logika modern dan kepercayaan tradisional. Raka yang tidak percaya hal mistis dipaksa melihat langsung kejadian yang tidak bisa ia jelaskan secara nalar. Konflik itu dibungkus dengan gaya ringan agar penonton tetap bisa menikmati cerita tanpa kehilangan unsur komedinya.

​Dukun Magang diproduksi oleh Dens Vision Multimedia bekerja sama dengan Wahana Pictures. Film berdurasi 100 menit ini ditulis oleh Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho, serta diproduseri oleh Sahrul Gibran dan Jems Sumartumin.

​Dengan kombinasi komedi yang dominan dan horor yang ringan, Dukun Magang menjadi pilihan tontonan bagi penonton yang ingin tertawa, tegang, tetapi tetap santai. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026.

Kamis, 11 Juni 2026

Film Jangan Buang Ibu Jadi Film Drama Mengharukan yang Tayang di Bulan Juni di Bioskop! Mengajak Kita untuk Memuliakan Seorang Ibu

Jangan Buang Ibu tayang mulai 25 Juni 2026 di bioskop Indonesia!

Jakarta, 11 Juni 2026 — Leo Pictures kembali hadir dengan film drama keluarga yang mengharukan lewat Jangan Buang Ibu yang tayang bulan Juni ini di bioskop. Menghadirkan kisah tentang seorang ibu bernama Ristiana yang harus 'dibuang' ke panti jompo karena ketiga anaknya tak mampu merawatnya di rumah.

​Diproduseri oleh Agung Saputra dan disutradarai Hadrah Daeng Ratu, Jangan Buang Ibu seolah menjadi tamparan kehidupan untuk kita, saat anak tak lagi mampu merawat ibunya sendiri dan harus membawanya ke panti jompo. Padahal, di masa tumbuh sang anak, ibu selalu menyempatkan waktu dan tenaga demi mereka.

​"Jangan Buang Ibu adalah sebuah kisah yang akan mengajak kita kembali memahami arti cinta, pengorbanan, dan kehadiran seorang ibu dalam hidup kita. Semoga kita juga bisa berefleksi untuk terus bisa memuliakan seorang ibu yang telah melahirkan kita," ujar produser dan CEO Leo Pictures Agung Saputra.

​Terobosan baru juga dibawa di film Jangan Buang Ibu dengan membuat pemeran utama Nirina Zubir bertransformasi seorang ibu berusia 60 tahun. Di film ini, Nirina memerankan karakter Ibu Ristiana, dan penonton akan mengikuti kehidupannya saat ia berusia 40 tahun, kemudian 50 tahun, dan usia 60 tahun saat sudah banyak kerutan di wajahnya.

​Tampil dengan perubahan signifikan, Nirina pun mampu menghadirkan sosok Ibu yang brilian. Tak hanya transformasi fisiknya, kita juga bisa merasakan ketulusannya sebagai seorang ibu yang ikhlas untuk melihat anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi seseorang yang berhasil dalam kehidupan.

​"Di film Jangan Buang Ibu, Nirina mendapat tantangan untuk memerankan karakter dengan tiga periode waktu yang berbeda; 40, 50, dan 60-an tahun. Terbayang nggak sih kita memproyeksikan diri kita sendiri 20 tahun yang akan datang, yang kita belum tahu seperti apa? Makanya setiap gerak-geriknya, jalannya, cara tatapan matanya, untuk Nirina lepas agak susah," ujar Nirina Zubir.

​"Salah satu perubahan Nirina setelah memerankan Ibu Ristiana adalah sekarang Nirina kalau ngomong lebih santai. Jauh daripada Nirina dulu. Dulu kalau ngomong tuh berapi-api. Tapi setelah memerankan karakter Ibu Ristiana, seperti ada pertanyaan: 'Buat apa sih buru-buru? Santai aja lagi,'" tambah Nirina.

Jangan Buang Ibu dibintangi oleh Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Dwi Sasono, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra. Film ini juga didukung oleh Luna Maya dan Yasmin Napper sebagai produser eksekutif bersama Nur Iman Syafe'i dan Evi Surahmawati.

​Film ini juga telah mendapat sambutan meriah di berbagai kota saat Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia di 20 kota sejak 30 Mei–23 Juni 2026. Setiap kota yang didatangi menyambut dengan penuh hangat sekaligus air mata dari seluruh studio bioskop yang tiketnya terjual habis.

​Refal Hady, yang juga ikut dalam roadshow Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia mengaku terharu saat melihat antusiasme penonton Indonesia menyambut film ini. Ia banyak bertemu cerita-cerita haru di berbagai kota.

​Bagi Refal sendiri, yang memerankan karakter Tama, sulung yang bertanggung jawab dan menanggung hidup ibu dan kedua adiknya, film ini sangat menjadi gambaran kehidupan yang terasa dekat.

​"Film ini memperlihatkan perjuangan seorang ibu yang selalu memprioritaskan anak-anaknya dari kecil, dengan susah payah, sosok ibu yang tangguh, dan tanpa kehadiran sosok ayah. Tapi ketika besar, anak-anaknya mengalami dilema antara harus memprioritaskan ibu atau tidak. Ini dilema yang sekarang jadi realitas keadaan banyak dari kita," ujar Refal Hady.

​"Ini sangat jadi pembelajaran bagiku. Dan menjadi refleksi, apalagi karena Mamaku sudah tidak ada. Aku jadi makin rindu sama almarhumah Mama. Seorang ibu adalah sosok yang tidak pernah tergantikan," tambah Refal.

Jangan Buang Ibu juga akan menjadi drama keluarga yang hangat dan mengharukan di bulan Juni ini di bioskop. Ikuti informasi terbaru film Jangan Buang Ibu melalui media sosial resmi Instagram @leopictures_official, @filmjanganbuangibu, dan TikTok @leopicturesofficial.

Sinopsis

​Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal dengan ketiga anaknya Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) setelah ditinggal suaminya (Dwi Sasono) hidup dalam kesederhanaan dan kerja keras namun mampu membesarkan buah hatinya dengan baik dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya meninggalkan hutang yang sedemikian besar.

​Terusik dengan keputusan sepihak dari ibunya, Tama, Dewi, dan Tria dilema dengan keadaan dan kondisi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, utuh sebagai keluarga harus merasakan kesenjangan jarak yang membuat kerinduan yang dalam dari Ristiana. Tak putus harapan untuk berbakti pada ibunda, akankah Tama, Dewi, dan Tria mampu mewujudkan itu sebelum terlambat?

​Tentang Leo Pictures

​Leo Pictures adalah rumah produksi yang hadir sejak tahun 2019. Berfokus pada pengembangan film dan series dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan berbagai genre mulai dari drama keluarga, thriller, hingga horor, Leo Pictures terus berupaya menghadirkan karya yang mengutamakan emosi, kedekatan cerita, dan pengalaman menonton yang berkesan.

​Di Tengah Indonesia yang Semakin Berat, Tanah Runtuh Mengajak Kita Melihat Dunia dari Sudut Pandang Cinta Lewat Sosok Anak Down syndrome

Diperankan Ridho Khaliq, karakter anak dengan Down Syndrome dalam Tanah Runtuh menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin rumit, manusia masih memiliki kemampuan untuk mencintai dan saling menjaga.

Jakarta, 10 Juni 2026 – Hidup orang dewasa hari ini terasa semakin berat. Mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, hingga dunia yang semakin dipenuhi kemarahan dan perpecahan, banyak orang menjalani hari-harinya dalam keadaan lelah, cemas, dan terus-menerus dituntut untuk bertahan.

​Di tengah situasi tersebut, film Tanah Runtuh justru hadir dengan sebuah ajakan yang sederhana, melihat dunia dengan lebih tenang dan lebih penuh cinta.

​Melalui karakter Ringgo yang diperankan Ridho Khaliq, seorang anak dengan Down Syndrome, Tanah Runtuh tidak hanya menghadirkan representasi yang jarang terlihat di layar lebar Indonesia, tetapi juga mengajak penonton untuk kembali pada hal-hal yang paling mendasar dalam hidup manusia, keluarga, kasih sayang, dan kepedulian.

​Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduseri oleh Denny Siregar, Tanah Runtuh mengikuti perjalanan Kai dan Ringgo yang terpisah dari ibu mereka di tengah sebuah peristiwa besar yang mengubah kehidupan mereka. Namun lebih dari sekadar kisah pencarian, film ini menjadi refleksi tentang bagaimana manusia tetap dapat memilih cinta ketika dunia di sekeliling mereka terasa runtuh.

​Bagi Rudi Soedjarwo, yang paling menarik dari film ini justru bukan peristiwa besarnya, melainkan bagaimana manusia-manusia di dalamnya berusaha bertahan dan saling menjaga.

​"Ketika dunia terasa runtuh, yang sering menyelamatkan kita justru bukan hal-hal besar tetapi orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal dan peduli. Saya tertarik pada manusia-manusia di dalamnya, dan melalui Ringgo, saya merasa film ini memiliki hati yang sangat kuat," ujar Rudi Soedjarwo.

​Produser Denny Siregar mengatakan bahwa sejak awal Tanah Runtuh memang tidak dibuat untuk berbicara tentang konflik, melainkan tentang cinta yang tetap bertahan di tengah keadaan yang paling sulit sekalipun.

​"Hari ini kita hidup di masa ketika semua orang seperti sedang marah, takut, dan lelah. Kita terlalu sering melihat dunia dengan prasangka dan kebisingan. Lewat Ringgo, saya merasa kita diingatkan kembali pada sesuatu yang sangat sederhana, bahwa manusia bisa saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa harus melihat perbedaan," ujar Denny Siregar.

​Menurutnya, karakter Ringgo tidak pernah dimaksudkan sebagai simbol atau objek belas kasihan. Justru sebaliknya, sosok yang diperankan Ridho Khaliq tersebut menjadi pusat perjalanan emosional film sekaligus jembatan bagi penonton untuk melihat dunia dengan cara yang lebih tenang.

​"Di tengah dunia yang semakin rumit, kadang kita justru belajar dari mereka yang memandang hidup dengan lebih jujur dan lebih tulus. Ringgo mengingatkan kita bahwa cinta dan keluarga adalah hal-hal yang membuat manusia tetap bertahan ketika semuanya terasa runtuh," lanjutnya.

​Hal serupa juga dirasakan oleh Vino G. Bastian yang memerankan Idham, seorang anggota yang tanpa sengaja dipertemukan dengan Kai dan Ringgo di tengah perjalanan mereka mencari sang ibu.

​Bagi Vino, hubungan yang terbangun dengan kedua anak tersebut menjadi inti dari film ini.

​"Yang paling menyentuh buat saya bukan konflik atau kekacauan yang terjadi di sekeliling mereka. Justru bagaimana Ringgo melihat dunia dengan cara yang sangat tenang. Ada kejujuran, ada cinta, dan ada ketulusan yang mungkin mulai jarang kita temukan dalam kehidupan orang dewasa hari ini," kata Vino G. Bastian.

​Sebagai seorang ayah, Vino juga merasa perjalanan Kai dan Ringgo memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat.

​"Kita hidup di masa ketika orang sibuk, semua orang terburu-buru, dan semua orang dituntut untuk terus kuat. Tapi melalui Ringgo, saya merasa diingatkan bahwa kadang yang paling penting bukan menjadi yang paling kuat, melainkan tetap punya hati untuk peduli pada orang lain," ujarnya.

​Tanah Runtuh tidak menempatkan karakter dengan Down Syndrome sebagai simbol inspirasi. Sebaliknya, film ini memberikan ruang bagi Ringgo untuk menjadi manusia yang utuh dengan segala rasa takut, kasih sayang, dan harapannya sendiri.

​Melalui sosok Ringgo, Tanah Runtuh mengajak penonton melampaui segala keterbatasan dan melihat bahwa bahkan ketika tanah di bawah kaki terasa runtuh, manusia masih memiliki satu hal yang tidak dapat diruntuhkan: kemampuan untuk mencintai.

Dibintangi oleh Vino G. Bastian, Ridho Khaliq, Yoan, Sigi Wimala, Jenda Munthe, hingga Tike Priatnakusumah, Tanah Runtuh akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 25 Juni 2026.

SINOPSIS

​Dalam kerusuhan agama di Desa Tanah Runtuh, Poso, Sulawesi Tengah, Kai (9) bersama kakaknya Ringgo (11), seorang anak dengan Down Syndrome, terpisah dari ibu mereka, Emmy (40). Bertekad menemukan ibunya, Kai membawa mereka dalam perjalanan melintasi berbagai lokasi pengungsian di tengah konflik yang terus berlangsung.

​Di sisi lain, Idham, seorang anggota, ditugaskan ke wilayah tersebut untuk menangani kerusuhan. Pertemuannya dengan Kai dan Ringgo membuatnya berjanji untuk membantu mereka. Dalam perjalanan yang penuh risiko, ketiganya menghadapi berbagai situasi yang menguji batas kemanusiaan, hingga akhirnya tidak hanya menemukan apa yang mereka cari, tetapi juga membentuk ikatan keluarga yang tak terduga.

CATATAN PRODUKSI

  • Judul: Tanah Runtuh
  • Sutradara: Rudi Soedjarwo
  • Produser: Denny Siregar
  • Produksi: Denny Siregar Production
  • Durasi: 2 jam 51 menit
  • Genre: Drama

PEMERAN

  • ​Vino G. Bastian
  • ​Ridho Khaliq
  • ​Yoan
  • ​Sigi Wimala
  • ​Jenda Munthe
  • ​Tubagus Ali
  • ​Agnes Naomi
  • ​Jerry Likumahwa
  • ​Royhan Hidayat
  • ​Umar
  • ​Tike Priatnakusumah
  • ​Luna Allegra
  • ​Sari Koeswoyo

TENTANG DENNY SIREGAR PRODUCTION

​Denny Siregar Production merupakan rumah produksi yang dikenal melalui karya-karya dengan pendekatan cerita yang berani dan relevan secara sosial. Dengan fokus pada narasi yang kuat dan perspektif yang berbeda, perusahaan ini terus mengembangkan film-film yang membuka ruang refleksi sekaligus mendorong representasi yang lebih inklusif dalam industri perfilman Indonesia.

Bayu Skak Bawa Penyegaran lewat Komedi Sci-fi di Film Foufo, Saat Alien Membantu Ibu dari Keluarga Madura yang Ingin Naik Haji! Trailer Tampilkan Tretan Muslim Jadi Anak yang Berbakti Pada Ibu

​ Film Foufo tayang mulai 9 Juli 2026 di bioskop Indonesia ​ Jakarta, 17 Juni 2026 — Setelah sukses dengan genre horor komedi, sutradara B...