Bocah Premiere
Jumat, 05 Juni 2026
Monster Pabrik Rambut Bukan Sekadar Film Horor Ketika Layar Lebar Mencerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini
Kolaborasi Epik WeTV Indonesia dan MD Entertainment, Serial “WeTV Original: SAMUEL” Siap Menguras Emosi Mulai 12 Juni
Rayakan Satu Dekade Perjalanan, INDOFEST 2026 Perkuat Kolaborasi dan Dorong Pertumbuhan Industri Outdoor Nasional
UFO Jatuh ke Bumi, Tretan Muslim Berteman dengan Alien di Official Teaser Trailer & Poster Film Foufo
Jakarta, 5 Juni 2026 — Setelah kehebohan yang menggemparkan Indonesia dan media sosial adanya kejatuhan UFO di Madura, kini gebrakan fenomenal dihadirkan oleh Skak Studios dan Sinemart, dengan menghadirkan film komedi sci-fi berjudul Foufo karya sutradara Bayu Skak. Dalam official teaser trailer yang dirilis, memperlihatkan UFO yang jatuh ke Bumi, dan membuat Tretan Muslim berteman dengan Alien.
Teaser trailer Foufo menampilkan benturan yang sangat lucu, saat alien berada di tengah-tengah keluarga Madura. Muslim sedang berusaha mendapat pinjaman bank untuk melunasi biaya haji ibunya.
Di tengah keterdesakan itu, Muslim diajak temannya, Kacung, untuk mencuri rel kereta. Suatu malam, keduanya bersama ipar Muslim, Ipul pun melancarkan aksi mereka.
Namun, di tengah aksi pencurian, tiba-tiba benda asing jatuh dari langit. Ketiganya pun lalu membawa pulang benda yang penuh besi tersebut dan gagal mencuri rel kereta. Saat di rumah, benda asing itu ternyata membawa penumpang yang membuat kaget seluruh anggota keluarga besar Muslim. Apa yang akan terjadi berikutnya?
Sementara itu, dalam official teaser poster Foufo, menampilkan fokus terhadap sosok Foufo—sang alien yang jatuh ke Madura, dengan kepala bulatnya yang besar berantena, serta wajahnya yang berbinar tersenyum lugu. Di sebelahnya, hadir Tretan Muslim, yang akan menjadi kawan si alien tersebut.
Film Foufo disutradarai oleh Bayu Skak, dengan produser eksekutif David Suwarto, dan produser Bayu Skak bersama Ricky R. Setiawan. Film ini menggabungkan elemen animasi dan live action, dan hampir 80% dari para pemerannya adalah casting saat di Madura.
"Kami ingin membawa sesuatu yang baru di perfilman Indonesia, yakni komedi sci-fi. Cerita awalnya adalah sangat sederhana, bagaimana jika alien jatuh di Madura, dan dia bertemu dengan keluarga Madura? Itu menjadi sesuatu yang unik," ujar produser dan sutradara Bayu Skak.
Keterlibatan Sinemart berkolaborasi dengan Skak Studios sendiri sudah dilakukan sejak awal proyek ini berjalan. Saat itu dimulai di JAFF Market 2024, di mana Sinemart dan Skak Studios mengumumkan kerja sama untuk memproduksi film Foufo.
"Kami melihat ide dan cerita yang unik yang dibawa Bayu Skak, yang membuat Sinemart yakin untuk turut berkolaborasi di film Foufo. Film ini juga akan menjadi penawaran baru yang segar di perfilman Indonesia, dengan mengangkat cerita keluarga Madura, serta balutan komedi sci-fi yang menjadikannya unik," ujar produser eksekutif David Suwarto.
Selain Tretan Muslim, film ini turut dibintangi di antaranya oleh Habib Jafar, Benedictus Siregar, Mieke Shahir, dan Siti Kamariyah. Foufo juga menjadi film pertama Tretan sebagai pemeran utama.
"80% pemain film Foufo itu casting, bahkan ada yang tidak punya latar belakang sebagai aktor. Dan ini yang menjadikan filmnya menarik, karena Bayu Skak tidak mau menjadikan orang Jakarta sebagai orang Madura, tapi memang orang Madura yang menjadi orang Madura di filmnya. Foufo akan menjadi film yang unik karena mempertemukan alien dengan keluarga Madura," ujar Tretan Muslim.
Film Foufo akan tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Ikuti informasi terbaru mengenai perkembangan film Foufo melalui akun Instagram resmi @filmfoufo, @skakstudios, dan @sinemart_ph.
Tentang Skak Studios
Skak Studios adalah IP Studio Company yang mengusung konsep Hyper lokal lewat konten kreatif film hingga lokadrama yang menggunakan pemain putra-putri daerah atau kita menyebutnya dengan lokatalenta. Kini, Skak Studios dengan para foundernya yaitu Bayu Skak dan Ricky Ramadhan Setiyawan telah menghasilkan beberapa produk IP Character & Story dan berkolaborasi dengan beberapa Production House menelurkan karya-karya fenomenal dalam industri film seperti Yowis Ben, Lara Ati, Lokadrama Lara Ati dan Lokadrama Rujak Cingur Lek Har.
Lokadrama Lara Ati yang ditayangkan di OTT, telah merebut hati penonton hingga 50 juta penonton dari seluruh Indonesia, ini menorehkan penonton terbanyak sepanjang sejarah OTT. Begitu pula Yowis Ben yang lebih dahulu mencatat sebagai film terlaris Indonesia sepanjang tahun 2018-2021. Yowis Ben juga masuk nominasi film favorit pada Indonesian Movie Actor Awards (2018), Pemenang Film Favorit Remaja pada Festival Film Bandung (2018), dan masuk nominasi Piala Maya untuk kategori Skenario Asli dan Pemain Pendatang Baru Terpilih (2019). Semua film dan lokadrama yang telah mendapatkan apresiasi ini semuanya menggunakan hampir 100% bahasa daerah dan talenta daerah.
Tentang Sinemart
Sinemart, yang diambil dari 3 kata 'Sinema', 'Art', dan 'Mart', menggambarkan secara tepat apa visi dari perusahaan kami ini. Kami berusaha menciptakan sebuah campuran sempurna antara 'seni' dan 'dagang' melalui medium film. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerinduan akan menyampaikan cerita-cerita yang inspirasional merupakan fondasi kami untuk mengembangkan sebuah serial televisi atau film layar lebar.
Sebuah cerita inspirasional tentunya subjektif dengan selera orang, namun cara kami menceritakan adalah yang membuat kami beda dari yang lain. Gaya cerita kami bisa digambarkan sebagai kombinasi dari artistik dan komersil, yang menurut kami sangat tepat sebagai penarik perhatian untuk berbagai umur dan latar belakang.
Float Rilis Single Terbaru "The Mirror Song ( Constant Changes )", Sebuah Anthem Perayaan Ketangguhan Diri
Performed by : Float
Song composed by : Hotma Roni Simamora
Lyrics written by : Hotma Roni Simamora & Binsar Tobing
Produced by : Hotma Roni Simamora
Arranged by : Hotma Roni Simamora, Binsar Tobing, David Qlintang, Timur Segara
Vocal, acoustic guitar : Hotma Roni Simamora:
Bass : David Qlintang ,Binsar Tobing
Electric guitar : Binsar Tobing, David Qlintang
Drums : Timur Segara
Backing vocals : Candice Muljadi, Prilliyanka Joannetha Triharta
Backing Vocals : Jillian Moselle Tannesa, Alice Gwen Alice
Backing vocals directed by : Ria Septiani
Mixing engineer : Hotma Roni Simamora
Mastering engineer : Andi Anggoro
Cover artwork by : Dhiya Prana Widya
Monster Pabrik Rambut Tayang Mulai Hari Ini di Bioskop! Membawa Horor yang Berani, Mengkritisi Dunia Kerja yang Eksploitatif
Jakarta, 4 Juni 2026 — Film terbaru persembahan Palari Films, karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut mulai tayang hari ini di bioskop Indonesia. Film horor fantasi yang berani mengkritisi tentang dunia kerja yang eksploitatif.
Film yang dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev ini ditujukan untuk menghibur penonton Indonesia melalui kemasan horor fantasinya yang ajaib dengan latar di sebuah pabrik rambut. Namun juga tak meninggalkan sisi kritisnya terhadap isu sosial yang saat ini perlu dibicarakan bersama.
"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monsternya. Yang mengeksploitasi mengeruk keuntungan pribadi, sementara yang dieksploitasi turut melanggengkan kondisi ini dengan normalisasi lembur yang tidak manusiawi. Keduanya saling menopang sistem yang perlu kita kritisi," ujar sutradara Edwin.
Monster Pabrik Rambut membawa kritik itu dalam balutan horor yang campy dan menghibur.
Setelah press screening media yang digelar Senin lalu di Jakarta, akhirnya seluruh penonton Indonesia bisa menyaksikan sendiri Monster Pabrik Rambut di bioskop Indonesia hari ini. Film yang sudah lebih dulu mendunia lewat world premiere di Berlinale 2026 (Special Midnight), dan disambut antusias oleh penonton dan sinefil di berbagai penjuru dunia. Monster Pabrik Rambut segera berkompetisi di Fantasia, Montreal, 16 Juli-2 Agustus 2026.
Di Letterboxd, para penonton menyebut film ini sebagai karya yang menggabungkan horor, thriller, surealisme, dan absurditas komedi menjadi sesuatu yang benar-benar milik sendiri. Di X, satu penonton menulis bahwa Monster Pabrik Rambut berhasil mengembalikan harapan dan optimisme pada era sinema Indonesia yang nyentrik dan hidup.
Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengaku tema film ini sangat dekat dengan dirinya. "Dulu, saya pun belum sadar bahwa kondisi kerja seperti itu adalah eksploitasi. Karena sistemnya sudah begitu, semua orang mewajarkan. Sama seperti di film ini, lembur dan begadang dianggap normal, padahal tidak," ungkap Amanda.
Karakter Putri adalah cerminan nyata perempuan pekerja Indonesia. "Saya paham rasanya tidak punya pilihan selain bertahan di tempat yang tidak nyaman, demi menanggung keluarga. Itu dialami banyak perempuan, termasuk mereka yang sedang hamil atau punya kondisi khusus, dan film ini mengajak kita bertanya: apakah ini sudah adil?" tambahnya.
Lutesha, yang memerankan Ida, mengingatkan bahwa kelelahan kerja bukan hanya soal buruh pabrik. "Dampaknya sama saja, di mana pun kita bekerja. Kerja sampai sakit karena stres itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele," ujarnya.
Iqbaal Ramadhan, yang hadir sekaligus sebagai aktor dan Produser Eksekutif, melihat film ini sebagai cerminan pengalaman yang dirasakan hampir semua pekerja. "Kita mungkin sama-sama bisa mengamini, mau bekerja di lini apa pun, situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa jadi karena atasan yang killer, kolega yang saling tusuk dari belakang, atau ekspektasi yang dibebani secara berlebih sehingga kita harus mengorbankan kesehatan mental atau bahkan kesehatan fisik sebagai pekerja," ungkapnya.
Kev, yang menjadikan Monster Pabrik Rambut sebagai debut aktingnya di layar lebar, menemukan kedekatan personal lewat karakternya yang terasa lebih dari sekadar akting. Dari pengalaman itulah lahir OST "Kepala, Pundak, Kerja Lagi", sebuah lagu yang menggambarkan kelelahan kerja yang sudah terlalu lama dinormalisasi. "Dipanggil Palari itu kayak dipanggil pemerintah pusat, jadi kita selalu siap untuk bergabung di proyek ini," ujarnya.
Lima fakta yang membuat Monster Pabrik Rambut sulit untuk dilewatkan:
- Film horor Indonesia pertama tanpa setan. Edwin memilih "monster" berupa sistem kerja yang tidak manusiawi, bukan hantu. Kengerian datang dari realita sehari-hari.
- Ko-produksi lima negara. Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, menjadikannya salah satu proyek film Indonesia paling ambisius secara internasional.
- Skenario ditulis bersama novelis Eka Kurniawan, salah satu penulis sastra Indonesia paling diakui secara global.
- Semua efek dibuat secara praktikal, tanpa CGI. Setiap pengulangan adegan bisa memakan waktu hingga 30 menit karena seluruh elemen harus disiapkan ulang dari awal.
- Rambut bukan sekadar latar. Edwin memilih rambut sebagai simbol tekanan kerja secara sadar: "Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih. Respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut."
Kamis, 04 Juni 2026
Europe on Screen 2026 Hadirkan 55 Film Eropa Wajib Tonton dengan Tema dan Perspektif Beragam
Jakarta, 26 Mei 2026 – Festival Film Uni Eropa, Europe on Screen (EoS), kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 di delapan kota di Indonesia. Selama sebelas hari, para pencinta film dapat menikmati 55 film dari 28 negara Eropa yang diputar secara gratis di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Sidoarjo, dan Semarang.
Memasuki edisi ke-26, Europe on Screen terus memperkuat posisinya sebagai festival film Eropa terlama di Indonesia sekaligus ruang pertemuan budaya antara Eropa dan Indonesia melalui sinema. Program tahun ini menghadirkan beragam tema, perspektif dan gaya sinematik, termasuk karya dari 31 sutradara perempuan dan 9 sineas debutan, yang mencerminkan komitmen festival terhadap inklusivitas dan keberagaman dalam dunia perfilman.
"Europe on Screen bukan sekedar ruang untuk menayangkan film-film Eropa. Festival ini adalah jembatan budaya yang mempertemukan perspektif dan pengalaman Eropa serta Indonesia melalui sinema. Sejak awal diselenggarakan, EoS juga telah memutar film pendek Indonesia yang kemudian terseleksi di festival film internasional di Eropa. Kami percaya bahwa film memiliki kekuatan untuk membuka dialog, mempererat hubungan budaya dan membangun pemahaman lintas budaya melalui cerita-cerita yang relevan dan manusiawi," ujar Stéphane Mechati, Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.
Sinema Eropa dengan Perspektif Segar dan Suara yang Beragam
Film pembuka festival tahun ini adalah The Baronesses (Les Baronnes), film drama komedi produksi bersama Belgia, Prancis dan Luksemburg tahun 2025 yang disutradarai oleh duo anak dan ibu, Nabil Ben Yadir dan Mokhtaria Badaoui. Film ini mengangkat kisah sekelompok perempuan lanjut usia di Brussels yang mencoba kembali mengejar mimpi mereka dengan mengadakan pertunjukan teater yang mereka bintangi sendiri. The Baronesses mendapat perhatian internasional setelah diputar di Namur International Francophone Film Festival serta meraih penghargaan Film Terbaik kategori Rebels with a Cause di Tallinn Black Nights Film Festival 2025 di Estonia.
Sementara itu, film penutup festival adalah Atlas of the Universe (Atlasul Universului) merupakan film coming-of-age produksi bersama Rumania dan Bulgaria tahun 2026 karya sutradara Paul Negoescu. Film ini mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang melakukan perjalanan tak terduga demi menemukan sepatu kirinya yang hilang. Film ini tayang perdana di Berlin International Film Festival 2026 dalam kategori Generation Kplus dan meraih penghargaan Special Mention.
"Melalui EoS 2026, kami berusaha menghadirkan film-film inklusif, baik dari sisi tema, perspektif, maupun para pembuat filmnya. Tahun ini kami sangat senang tetap dapat menampilkan karya dari sutradara perempuan dan filmmaker debutan yang membawa suara-suara baru di sinema Eropa. Kami berharap penonton Indonesia bisa menemukan cerita yang terasa dekat sekaligus memperluas perspektif mereka tentang kehidupan dan budaya di Eropa," ujar Nauval Yazid, Festival Co-Director Europe on Screen 2026.
SFPP Kembali Hadir Dukung Sineas Muda Indonesia
Tahun ini, Europe on Screen kembali menggelar Short Film Pitching Project (SFPP), sebuah program pendanaan dan pengembangan film pendek bagi sineas muda Indonesia. Antusiasme terhadap program ini terus meningkat setiap tahunnya. Pada EoS 2026, SFPP menerima 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bukit Tinggi, Riau, Jember, hingga Fakfak di Papua.
"Tahun ini program Short Film Pitching Project di EoS memasuki tahun ke-9 dimana 23 film pendek sudah berhasil diproduksi oleh ratusan kru film Indonesia dan 50% dari film-film ini berhasil terseleksi di festival film internasional, baik di Indonesia, Eropa maupun di negara lain. Kami percaya program SFPP di EoS adalah bukti nyata bahwa festival film yang baik tak hanya memutar film tapi juga bisa memberikan dampak nyata bagi industri film secara keseluruhan," ujar Meninaputri Wismurti, Festival Co-Director Europe on Screen 2026.
Salah satu juri SFPP 2026, Asmara Abigail, aktris Indonesia, juga melihat perkembangan menarik dari tema-tema yang diangkat para peserta tahun ini.
"Saya lihat semakin beragam tema cerita yang masuk ke SFPP EoS 2026 dan ini penting untuk regenerasi sineas-sineas Indonesia. Banyak peserta yang berani mengangkat isu minoritas, identitas, kesehatan mental, dan pengalaman keseharian yang personal. Sebagai salah satu juri, hal ini sungguh merupakan tantangan yang menarik," ujarnya.
Kesepuluh finalis SFPP EoS 2026 adalah:
- Catatan si Kumal karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya asal Sidoarjo.
- French Kiss karya Keanu Acyuta dan Arya Pradana Sasmita asal Jakarta.
- The Hating Guide karya Rifki Ardishas dan Aka Witharja asal Jakarta.
- Kabul karya Gabriela Vanesa Karolus dan Beny Kristia asal Jakarta.
- Karina in Male Dominated Field karya Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma asal Tangerang.
- The Last Supper karya Amara W. Tunggadewi dan Linda R. Marfuah asal Jakarta.
- Leader karya Takha Camilla Aisha A. dan Imam Syafii asal Klaten.
- Lemah karya Diko Pradiva dan Ilham Mustofa asal Surakarta.
- Lunchtime Monsters karya Gerry Fairus dan Dhita Intani asal Jakarta.
- A Medicine for Macho-Only karya Iqbal Keane K. dan Zacky M. Zakaria asal Yogyakarta.
Tamu Internasional dan Venue Baru Meriahkan Festival
EoS 2026 juga akan menghadirkan dua tamu dari industri perfilman Eropa: Damian McCann, sutradara film Aontas (2025) produksi Irlandia, serta Zar Donato, aktris utama film Maricel (2025) produksi Siprus. Kehadiran keduanya memberikan kesempatan bagi penonton, komunitas film dan pelaku industri perfilman Indonesia untuk berdiskusi langsung mengenai proses kreatif, produksi film serta perkembangan sinema Eropa saat ini.
Selain itu, EoS 2026 juga menghadirkan sejumlah tempat pemutaran film baru, yaitu Alliance Française Semarang, Gedung Oudetrap Semarang, Bali Film School, Galeri Nasional, Komunitas Salihara, dan UNIKA Atma Jaya Jakarta. Dengan total 25 tempat pemutaran di delapan kota, kehadiran beberapa tempat pemutaran baru ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati festival sekaligus memperkuat hubungan EoS dengan komunitas film dan institusi pendidikan yang sudah terjalin selama ini.
Seluruh pemutaran film Europe on Screen 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
Informasi lengkap tentang jadwal, lokasi, sinopsis film dan kegiatan lain dapat diakses melalui situs resmi www.europeonscreen.org serta akun media sosial resmi EoS di Instagram, X, Facebook dan YouTube.
Tatiana Mannering Comeback Rapper Perempuan dengan Aura Percaya Diri Lewat Debut “Bae Bong Bong”
Naura Ayu Buka Babak Baru Lewat Album Paling Personal Berjudul “Cerita Penuh Cahaya”
Melalui tujuh lagu yang lahir dari pengalaman hidupnya, Naura berbagi kisah tentang bertumbuh, keluarga, persahabatan, kehilangan, dan proses beranjak dewasa Naura Ayu kembali menyapa pendengar melalui album terbarunya bertajuk Cerita Penuh Cahaya. Album ini menjadi album kelima dalam perjalanan bermusiknya, setelah album terakhir delapan tahun lalu. Karya ini hadir di momen yang sangat penting dalam kehidupan Naura, saat ia menginjak usia 21 tahun dan memasuki fase baru sebagai seorang perempuan muda yang tengah bertumbuh. Lebih dari sekadar album, Cerita Penuh Cahaya menjadi dokumentasi perjalanan emosional Naura selama beberapa tahun terakhir. Album ini merekam berbagai fase kehidupan yang ia lalui. Tentang bertahan di tengah hari-hari sulit, menghadapi kehilangan, belajar menerima diri sendiri, hingga menemukan kembali harapan dalam orang-orang yang dicintai.
“Album ini sangat spesial buat aku karena hadir di fase hidup yang juga sangat spesial. Setelah delapan tahun tidak merilis album, aku merilis Cerita Penuh Cahaya di usia 21 tahun, saat aku sedang mengalami banyak perubahan dan pertumbuhan sebagai individu. Buat aku, album ini adalah penanda babak baru, peralihan dari masa remaja menuju kedewasaan. Aku berharap lagu-lagu di dalamnya bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang merasa sendiri, sedang bertumbuh, atau sedang mencari cahaya di masa-masa sulit mereka,” ujar Naura Ayu.
Album ini dibuka dengan lagu berjudul Cerita Penuh Cahaya, sebuah intro yang hadir sebagai doa sekaligus pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit, bahkan setelah melewati hari-hari yang paling sulit. Lagu ini menjadi pembuka yang mengajak pendengar untuk tetap percaya bahwa selama masih diberi satu hari lagi untuk bernapas, selalu ada kesempatan baru dan harapan yang menunggu di depan.
Perjalanan kemudian berlanjut melalui Lampu Jalan, yang sebelumnya sudah dirilis sebagai single. Lagu ini merupakan sebuah refleksi tentang masa kecil yang terasa begitu sederhana dibandingkan kehidupan saat dewasa. Lewat lagu ini, Naura mengajak pendengar bernostalgia dengan diri mereka yang lebih muda, sekaligus mempertanyakan berbagai perubahan, tekanan, dan overthinking yang datang seiring bertambahnya usia.
Sisi yang lebih rapuh hadir dalam Apa yang Kurang?, lagu yang lahir dari pengalaman pengkhianatan dalam sebuah pertemanan yang pernah begitu berarti bagi Naura. Lagu ini menggambarkan perasaan ketika kepercayaan yang telah diberikan sepenuhnya justru berbalas luka, hingga membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya sendiri dan bertanya, “apa yang sebenarnya kurang dari diriku?”
Di Untukmu, yang Belum Kutemui, Naura berbicara tentang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih mencari seseorang untuk mengisi kekosongan, lagu ini menjadi surat bagi sosok yang belum hadir dalam hidupnya. Sebuah cerita tentang memilih bertumbuh,memulihkan diri, dan menjaga diri dengan baik sambil percaya bahwa cinta akan datang pada waktu yang tepat.
Salah satu lagu paling personal dalam album ini adalah Pilih Kalian Lagi. Ditulis sebagai kejutan untuk kedua orang tuanya, lagu ini menjadi ungkapan cinta dan rasa syukur atas keluarga yang telah membesarkannya. Melalui lagu ini, Naura menyampaikan bahwa di tengah segala perbedaan, kesalahpahaman, dan kekurangan yang dimiliki setiap keluarga, ia akan selalu memilih kedua orang tuanya lagi dan lagi.
Pesan penerimaan diri hadir melalui Tak Ada Tata Caranya. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak ada panduan sempurna untuk menjalani kehidupan. Setiap orang pernah merasa bingung, melakukan kesalahan, merasa kurang, atau berusaha terlihat kuat di hadapan banyak orang.
Melalui lagu ini, Naura mengajak pendengar untuk menerima bahwa tidak harus selalu baik-baik saja, karena menjadi manusia berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh.
Album ini ditutup dengan Terima Kasih, sebuah surat hangat yang dipersembahkan untuk para sahabat, teman sekolah, dan guru-guru yang telah menemani perjalanan hidupnya sejak kecil.
Berangkat dari kerinduan pada masa sekolah dan rasa syukur atas persahabatan yang tetap terjaga hingga hari ini, lagu ini menjadi penghormatan bagi orang-orang yang selalu membuatnya merasa diterima, pulang, dan tetap membumi di tengah berbagai perubahan yang terjadi dalam hidupnya.
Dalam proses kreatif album ini, Naura bekerja sama dengan produser Ivan Tangkulung yang membantu menerjemahkan cerita-cerita personal tersebut ke dalam lanskap musikal yang lebih matang dan modern.
“Bagi saya, album ini menunjukkan metamorfosis Naura. Dari sisi sound dan gaya bermusik, album ini tetap mempertahankan identitas musikal yang selama ini dikenal dari Naura, tetapi hadir dengan sentuhan pop modern yang lebih matang. Prosesnya juga sangat kolaboratif.
Naura banyak berbagi cerita hidup dan referensi musik yang ingin ia hadirkan, sementara saya membantu menerjemahkan cerita-cerita tersebut melalui orkestrasi dan pendekatan produksi pop modern,” ujar Ivan Tangkulung.
Melalui Cerita Penuh Cahaya, Naura Ayu tidak hanya menandai kembalinya dirinya sebagai penyanyi dengan album setelah delapan tahun, tetapi juga membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup dan bermusiknya. Sebuah karya yang lahir dari pengalaman personal, namun pada akhirnya berbicara tentang hal yang dekat dengan banyak orang: bertumbuh, menerima, dan menemukan cahaya di tengah perjalanan hidup.
Album terbaru Naura Ayu, “Cerita Penuh Cahaya”, resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 4 Juni 2026.
NAURA AYU
Artist : NAURA AYU
Album Title : CERITA PENUH CAHAYA
Executive Producer: YONATHAN NUGROHO for TRINITY OPTIMA PRODUCTION
Produced by: IVAN TANGKULUNG
Tracklist :
1. INTRO: Cerita Penuh Cahaya
2. Lampu Jalan SONGLIST
3. Cerita Penuh Cahaya
4. Apa yang Kurang?
5. Untukmu, yang Belum Kutemui
6. Tak Ada Tata Caranya
7. Pilih Kalian Lagi
8. Terima Kasih
Trinity Optima Production (TOP)
Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi “Nurturing STARS to Inspire Happiness”, TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent,perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.
Mengenal Edwin, Sutradara Indonesia Pemenang Banyak Penghargaan!Selalu Membawa Eksperimen dan Eksplorasi Sinematik Termasuk di Film Terbarunya Monster Pabrik Rambut
Monster Pabrik Rambut Bukan Sekadar Film Horor Ketika Layar Lebar Mencerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini
Jakarta, 5 Juni 2026 - Resmi meluncur di bioskop sejak 4 Juni 2026, Monster Pabrik Rambut membuka diskusi mendalam dengan mengangkat kenger...
-
Drama Romantis Religi Adaptasi Novel Populer Karya Diana Febi Persembahan terbaru Vidio, hadir mulai 17 Juli 2025 Sumber foto: Vidio Jakarta...
-
Kolaborasi Abimana Aryasatya dan Tatjana Saphira dalam series action-romance pertama di Vidio Sumber foto: Vidio Jakarta, 5 Juni 2025 – Vid...
-
Jakarta, 3 November 2025 — Mentari TV dan Vidio resmi merilis trailer untuk musim perdana serial animasi “New Keluarga Somat”, menandai ter...








