Rabu, 01 April 2026

Film Warung Pocong Tayang 9 April 2026 di Bioskop, Pengen Untung Malah Buntung, Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil Terjebak Jadi Penjaga Warung!


Jakarta, 1 April 2026 — Rumah produksi Entelekey Media Indonesia dan Tiger Pictures menghadirkan film terbaru berjudul Warung Pocong, yang akan tayang di bioskop mulai 9 April 2026. Mengusung genre komedi horor, film ini menawarkan kisah yang dekat dengan realita masyarakat, terutama tentang pilihan-pilihan nekat yang diambil saat berada di kondisi terdesak, yang bukannya membawa jalan keluar, justru berujung pada situasi yang semakin rumit.

Warung Pocong bercerita tentang tiga pemuda, Kartono, Agus, dan Makmur, yang tengah terjebak dalam berbagai masalah keuangan. Di tengah kondisi terdesak, mereka menerima tawaran pekerjaan dari seorang pria tua untuk menjaga sebuah warung. Namun, pekerjaan tersebut justru membawa mereka pada teror mistis yang tak terduga.

Melalui premis tersebut, Warung Pocong menghadirkan cerita tentang pilihan-pilihan nekat yang sering diambil saat berada di titik terdesak. Harapan untuk mendapatkan jalan keluar dengan cepat berubah menjadi masalah yang semakin besar, ketika keputusan yang diambil tanpa pertimbangan justru jadi bumerang bagi mereka sendiri.

Dibungkus dengan pendekatan komedi dan horor, film ini menghadirkan keseimbangan antara ketegangan dan humor yang dekat dengan keseharian. Situasi-situasi yang dialami oleh para karakter terasa akrab, mulai dari tekanan hidup hingga keinginan untuk segera lepas dari masalah.

Sutradara Warung Pocong, Bendolt, mengungkapkan bahwa film ini dibuat untuk bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. "Kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menghibur. Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun," ujarnya.

Kekuatan film ini juga terletak pada dinamika tiga karakter utamanya yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, sehingga membuat cerita semakin relatable bagi penonton.

Salah satu pemain, Fajar Nugra, yang berperan sebagai Kartono, mengungkapkan antusiasmenya terhadap film ini. "Yang menarik dari Warung Pocong adalah ceritanya yang terasa dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang mungkin pernah atau sedang dialami oleh masyarakat sekarang, tapi dikemas dengan cara yang ringan dan menghibur," ujarnya.

Selaras dengan itu, Sadana Agung juga menambahkan bahwa perpaduan komedi dan horor dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri. "Film ini punya keseimbangan antara seram dan lucu. Jadi penonton bisa merasakan tegang, tapi di saat yang sama tetap bisa tertawa," katanya.

Selain Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil, film Warung Pocong dibintangi oleh Shareefa Daanish, Teuku Rifnu Wikana, Arla Ailani, Kiki Narendra, dan Whani Dharmawan.

Warung Pocong akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026. Film ini siap menjadi pilihan menarik bagi penonton yang menyukai film horor sekaligus menginginkan hiburan penuh tawa.


Untuk informasi lebih lanjut mengenai film Warung Pocong, ikuti perkembangan terbaru di akun media sosial resmi @filmwarungpocong dan @entelekeymediaid.

***

SINOPSIS

Tiga pemuda Jakarta: Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur (Randhika Djamil), terjebak dalam masalah keuangan masing-masing, mulai dari utang, penipuan, hingga investasi bodong. Ketika seorang pria tua bernama Kusno (Whani Darmawan) menawarkan mereka kerja sebagai penjaga warung dengan gaji fantastis 50 juta per bulan, mereka pun menerimanya dan langsung dibawa ke desa terpencil bernama Lali Jiwo. Namun keanehan mulai terjadi saat mereka mengalami teror gaib dari sosok pocong.

NEONA KEMBALI DENGAN MUSIK HIP-DUT BERJUDUL LUPA!, SUARAKAN KISAH 'HAMPIR JADI' YANG RELATE DENGAN GEN Z


Jakarta, 1 April 2026 — Penyanyi muda berbakat, NEONA, resmi merilis single terbarunya bertajuk LUPA!. Lewat lagu ini, NEONA menghadirkan kembali musik Hip-Dut. Secara musikal, NEONA mengeksplorasi warna hip-dut yang fun dan catchy, memberikan energi yang ringan namun tetap kuat secara pesan. Eksplorasi ini juga menjadi bentuk kembalinya NEONA ke warna musik yang sudah pernah ia jajaki sebelumnya. "Aku tertarik dengan genre hip-dut di lagu ini karena sebelumnya aku juga pernah mengeksplorasi genre ini, jadi terasa seperti kembali ke warna musik yang sudah dekat dengan aku," jelasnya.

LUPA! menggambarkan fase dalam hubungan ketika kedekatan sudah terjalin, namun tanpa kepastian. Sebuah situasi yang kerap membuat seseorang bertanya-tanya akan arah hubungan tersebut. Melalui lagu ini, NEONA ingin menyuarakan perasaan tersebut sekaligus mendorong keberanian untuk meminta kejelasan. "Single aku ini menceritakan tentang minta kepastian sama seseorang sebelum orang itu LUPA!. Lagu ini juga aku dedikasikan buat cowok-cowok supaya lebih berani ngasih kepastian," ujar NEΟΝΑ.

Untuk visual dari single LUPA! ini, Neona menghadirkan arah visual yang fresh di bawah arahan kreatif dari Adi Djohan (funkyhokkaido), visualnya menangkap rasa jenuh dan kegelisahan dalam penantian. la mengambil latar ruang transit MRT Jakarta untuk merefleksikan dinamika remaja urban yang merasa "stuck" dalam situasi tanpa kepastian. Neona juga mempertegas nuansa tersebut melalui styling yang edgy, riasan eksentrik, serta elemen grafis unik seperti teks terbalik dan penggunaan warna oranye yang kontras. Pendekatan ini menandai era baru NEONA yang lebih berani, emosional, dan tampil dengan daya tarik yang kuat.


Sejalan dengan eksplorasi visual tersebut, proses kreatif LUPA! menjadi salah satu kekuatan utama dalam lagu ini. NEONA terlibat langsung dalam pengembangan ide dan penulisan lirik, bekerja sama dengan AntiNRML, yaitu Anangga Surya Dewangga dan Yosua Albert Simanjuntak (yang juga dikenal dengan nama panggung DIA). Kolaborasi ini menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara musikal, tetapi juga merepresentasikan karakter NEONA secara utuh. "NEONA ikut andil dalam pembuatan lagu ini. Banyak ide datang dari NEONA, lalu kami kembangkan bersama secara musikal dan lirik," ujar Anangga.

Sementara itu, DIA menambahkan bahwa lagu ini diharapkan dapat menjadi representasi perasaan banyak perempuan yang berada dalam situasi serupa. "Harapannya, 'LUPA!" bisa mewakili perasaan cewek-cewek yang sedang digantung dan mengharapkan kepastian dalam hubungan," ungkapnya.


Single terbaru NEONA, LUPA!, telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 1 April 2026. Lagu ini mengajak pendengar menyelami fase. hubungan yang menggantung. Ketika rasa nyaman, harapan, dan kebingungan hadir bersamaan, membuat seseorang bertanya-tanya antara bertahan atau meminta kepastian sebelum semuanya perlahan terLUPA!.

ZONA MERAH NAIK LEVEL JADI FILM LAYAR LEBAR

Jajaran Pemain Diumumkan, Luna Maya Jadi Eksekutif Produser

Jakarta, 1 April 2026 — Setelah mencuri perhatian lewat versi series, Zona Merah kini resmi melangkah ke layar lebar. Screenplay Films mengumumkan bahwa film Zona Merah akan memulai proses shooting pada April hingga Mei 2026, menghadirkan skala produksi yang lebih besar, pendekatan visual yang lebih sinematik, serta intensitas cerita yang ditingkatkan secara signifikan.

Film ini akan disutradarai oleh Sidharta Tata bersama Fajar Martha Santosa, dua nama dengan rekam jejak kuat di genre action dan horor. Sidharta Tata juga kembali terlibat sebagai penulis skenario, sementara Fajar Martha Santosa memimpin keseluruhan proses development, memastikan transisi dari series ke film berjalan dengan visi yang lebih solid dan terarah.


Dari sisi pemain, Zona Merah menghadirkan kombinasi karakter lama yang telah dikenal penonton dan wajah-wajah baru yang memperluas semesta cerita. Aghniny Haque, Andri Mashadi, Maria Theodore, Devano, dan Lukman Sardi kembali melanjutkan peran mereka. Sementara itu, Luna Maya, Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, dan Derby Romero resmi bergabung sebagai karakter baru yang akan membawa dinamika berbeda dalam cerita.

Menariknya, Luna Maya tidak hanya tampil di depan layar, tetapi juga mengambil peran strategis sebagai Eksekutif Produser, menandai keterlibatan kreatif yang lebih dalam dalam pengembangan film ini.


Versi layar lebar Zona Merah akan membawa penonton masuk ke dunia yang lebih luas, lebih gelap, dan lebih brutal. Konflik berkembang semakin kompleks, karakter digali lebih dalam, dan atmosfer chaos terasa semakin intens saat manusia harus bertahan hidup di tengah ancaman para mayat hidup. Dengan stakes yang jauh lebih tinggi, film ini menjanjikan pengalaman yang lebih imersif dibandingkan versi series.

Sidharta Tata (Sutradara) menyampaikan:
"Zona Merah memiliki fondasi dunia dan cerita yang sangat kuat sejak versi series. Di film ini, kami ingin membawa semuanya ke level berikutnya, baik dari sisi emosi, skala konflik, maupun pengalaman visual. Kami ingin membuat penonton merasa tidak aman di kursi bioskop-lebih tegang, lebih gelap, dan lebih brutal dari yang pernah kami buat sebelumnya."


Luna Maya (Eksekutif Produser) menambahkan:
"Sebagai eksekutif produser, saya melihat Zona Merah memiliki potensi besar, tidak hanya secara kreatif tetapi juga dari sisi positioning di industri. Ini adalah langkah penting untuk membawa IP lokal ke level yang lebih tinggi-baik dari skala produksi maupun jangkauan audiens."


Dengan ambisi produksi yang lebih besar dan pendekatan storytelling yang lebih berani, Zona Merah siap menjadi salah satu film genre paling dinantikan.

Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton

Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu.

Jakarta, 1 April 2026 — Momen haru dan hangat tercipta dalam nobar film Na Willa di Tunjungan Plaza 1 XXI, Surabaya pada Selasa, 31 Maret 2026. Untuk pertama kalinya dalam momen yang begitu istimewa, penulis sekaligus inspirasi cerita Na Willa, Reda Gaudiamo, kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, Ibu Farida, sosok nyata yang turut hidup dalam cerita film ini.

Keduanya adalah bagian dari kisah nyata di balik Na Willa, yang diangkat dari pengalaman masa kecil Reda di Krembangan, Surabaya. Setelah lebih dari enam dekade, dua sahabat kecil ini kembali duduk berdampingan di dalam bioskop, menyaksikan potongan-potongan memori masa kecil mereka yang kini hidup di layar lebar.

Suasana menjadi begitu emosional ketika beberapa adegan di film Na Willa membuat Ibu Farida berkaca-kaca. Salah satunya adalah adegan ketika Na Willa ingin ikut mengaji bersama Farida, momen sederhana yang kini terasa begitu dalam dan penuh makna.

Di film ini, Farida diperankan oleh Freya Mikhayla, sementara Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena. Sosok Farida digambarkan sebagai anak yang ceria, tidak bisa mengucap huruf 'R', dan menjadi teman terdekat Willa, yang merupakan sosok dari Reda kecil. Keduanya menghadirkan kembali dinamika persahabatan masa kecil yang jujur, hangat, dan penuh keceriaan, sebuah refleksi dari kisah nyata yang pernah terjadi.

"Terima kasih yang sudah menonton Na Willa. Apa lagi yang sudah menonton berkali-kali. Saya sangat berharap, film ini bisa membawa teman-teman kembali bahagia, kembali ke masa kecil, bisa tetap bertemu dan menyambung hubungan dengan teman lamanya," ujar Reda Gaudiamo.

"Nontonnya ikut terharu. Pas nonton itu, kok Faridanya mirip sekali sama saya pas kecil ya. Apalagi saat adegan mengaji dan salat. Si Linda, nama kecil Reda Gaudiamo, ambil sprei, aduh, terharu sekali nontonnya, tidak bisa berkata-kata," kenang Ibu Farida usai menonton film Na Willa.

Tak hanya menghadiri nobar Film Na Willa bersama Ibu Farida, Reda juga menyempatkan ke Krembangan, tempat masa kecilnya tumbuh. Ia mengunjungi rumah Ibu Farida, dan keduanya kembali berpelukan, seperti dua sahabat lama yang tak lekang oleh waktu tengah melepas rindu.


Meski banyak hal telah berubah di Krembangan, bagi Reda tempat ini tetap menyimpan kenangan yang begitu dalam. Terlebih, masih ada sahabatnya yang menetap di sana, Farida.

"Masa kecil saya di Surabaya, dan itu menjadi setting cerita Na Willa. Tumbuh di Surabaya dengan berbagai macam teman dan tetangga dari berbagai ras, dan itu menjadi bagian penting dari cerita ini," ujar Reda Gaudiamo.

"Apakah ini cerita saya? Latar belakangnya iya, setting-nya iya, tokoh-tokohnya juga ada semua di dalam kehidupan saya. Ada Farida, ada Dul, ada Bud, mereka adalah teman-teman kecil saya," kata Reda.

"Saya dulu berjanji mau pulang cepat, segera pulang. Tapi saya ternyata tidak pernah pulang, namun janjinya sekarang sudah terpenuhi, meskipun di saat kami sudah sama-sama tua," kenang Reda tentang janjinya kepada Farida saat ia pindah dari Krembangan.

"Dulu bilangnya sebentar, eh hampir 66 tahun baru ketemu lagi. Dia bilangnya sebentar. Jangan ditinggalin lagi ya sekarang," kata Ibu Farida.

Sementara itu, film Na Willa telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi ratusan ribu penontonnya. Termasuk salah satunya produser, sutradara dan penulis Ernest Prakasa. Menurut Ernest, film Na Willa mampu menyeimbangkan sisi edukasi dan juga hiburannya. Secara terbuka ia menyampaikan apresiasinya terhadap film ini.

"Buat gue, Na Willa adalah film yang yang luar biasa, bagus banget. Nggak bakal nyesel deh nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

Ernest memuji hampir semua aspek yang ada di film Na Willa. Mulai dari peran Luisa Adreena yang menurutnya sesuatu yang sangat luar biasa, hingga peran Mak yang dibawakan oleh Irma Rihi. Pujian Ernest juga ditujukan untuk pilihan metode pendekatan yang diambil oleh sang sutradara, Ryan Adriandhy dalam menyajikan visual dan sudut pandang di film.

"Ryan kan pernah bilang di behind the scene, bahwa dia bukan bikin Surabaya tahun '60-an, tapi bikin Surabaya tahun '60-an di mata seorang Na Willa yang usianya 6 tahun. Dan menurut gue, ini sebuah treatment yang jitu untuk film ini karena eye candy banget, production design-nya teliti banget, hal-hal kecil tuh diperhatiin banget," puji Ernest.

"Mata kita dimanjakan sama visual yang cakep banget. Udah gitu, akting. Nah, ini yang menurut gue gila banget. Akting si Na Willa dan Mak, dua-duanya tuh buat gue istimewa sekali. Gue cukup yakin, Mak akan dapat nominasi FFI sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik," ungkap Ernest.

Lebih dari sekadar film, Na Willa telah menjadi pengalaman emosional yang kini sedang dirasakan banyak orang, sebuah perjalanan pulang ke masa kecil, ke keluarga, dan ke rasa hangat yang sederhana karena Na Willa adalah kita.

Ratusan ribu orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop.

Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #Bahagia Bareng Na Willa.

Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.

Catatan Produksi:
Judul Film : Na Willa
Genre : Drama,Keluarga
Sutradara: Ryan Adriandhy
Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem
Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari
Ko-Produser : Mia A. Santosa
Produser Lini : Tersi Eva Ranti
Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda
Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya
Sinematografer : Yadi Sugandi
Desainer Produksi : Sri Rini Handayani
Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak
Penata Rias : Notje M. Tatipata
Penata Suara : Siti Asifa Nasution
Penyunting : Teguh Raharjo
Komposer : Ofel Obaja
Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Selasa, 31 Maret 2026

Sebelum Rilis di Indonesia, Film Ghost In The Cell karya Joko Anwar Sudah Dibeli oleh 86 Negara!

Film Ghost in the Cell tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026

Jakarta, 31 Maret 2026 — Sukses di Berlinale 2026, film terbaru karya penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell kini akan tayang di 86 negara di dunia! Hak penayangan termasuk penayangan bioskop film Ghost in the Cell kini sudah dibeli oleh 86 negara, bahkan sebelum filmnya tayang di Indonesia 16 April nanti.

Film Ghost in the Cell merupakan persembahan terbaru rumah produksi Come and See Pictures, yang bekerja sama dengan RAPI Films, Legacy Pictures dan Barunson E&A yang juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.

"Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang sistem yang korup. Tentang orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan," kata penulis dan sutradara Joko Anwar.

"Awalnya kita tidak berpikir penonton negara lain bisa relate, ternyata ini bukan hanya cerita Indonesia. Tapi ternyata ini juga cerita Amerika. Cerita Brasil. Cerita India. Cerita Prancis. Karena korupsi itu tidak punya kewarganegaraan. Karena ketidakadilan itu bahasa universal. Karena perjuangan untuk kebenaran itu dimengerti oleh semua manusia, di mana pun mereka hidup. Itulah kenapa 86 negara mau membeli hak penayangan film ini. Bukan karena ini "film Indonesia yang bagus untuk ukuran Indonesia", tapi karena bagi mereka film ini yang memenuhi standar mereka dan juga relevan," tambah Joko Anwar.

Sebelumnya, menjelang world premiere di Berlinale 2026, Ghost in the Cell juga telah lebih dulu diakuisisi oleh distributor yang berbasis di Jerman, Plaion Pictures. Kerja sama tersebut membuat film Ghost in the Cell juga akan ditayangkan di bioskop di negara-negara berbahasa Jerman.

Plaion Pictures di antaranya telah mendistribusikan film-film pemenang penghargaan Palme d'Or Cannes seperti Anatomy of a Fall, pemenang Oscar The Whale, pemenang Palme d'Or Titane Parasite, hingga pemenang Oscar tahun ini, Sentimental Value.

"Tayangnya film Ghost in the Cell di 86 negara di dunia membuktikan secara kualitas produksinya juga terbukti diakui secara luas sehingga membuat banyak negara berminat untuk menayangkan film Ghost in the Cell di negara mereka," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.


Berikut adalah daftar negara yang akan menayangkan film Ghost in the Cell:

Asia dan Asia Tenggara
1. Singapura
2. Malaysia
3. Thailand
4. Brunei Darussalam
5. Kamboja
6. Laos
7. Timor Leste
8. Vietnam
9. Filipina
10. Myanmar
11. Indonesia
12. Mongolia
13. Taiwan

Amerika Utara
14. Amerika Serikat
15. Kanada

Jerman, Swis, dan Negara Berbahasa Jerman
16. Jerman
17. Austria
18. Tirol Selatan (Alto Adige)
19. Liktenstin
20.Swis

Rusia (CIS)
21. Armenia
22. Abkhazia
23. Azerbaijan
24. Belarusia
25. Georgia
26. Kazakhstan
27. Kirgistan
28. Moldova
29. Rusia
30. Ossetia Selatan
31. Tajikistan
32. Turkmenistan

Benelux
33. Belgia
34. Luksemburg
35. Belanda

Spanyol dan Andorra
36. Spanyol
37. Andorra

Polandia
38. Polandia

Britania Raya, Australia
39. Britania Raya
40. Irlandia
41. Australia
42. Selandia Baru

Prancis, Portugal, dan Afrika
43. Prancis
44. Portugal
45. Angola
46. Ginea dan Bisau
47. Tanjung Verde (Cape Verde Islands)
48. Mozambik
49. Sao Tome dan Principe

Amerika Latin
50. Belize
51. Kosta Rika
52. El Salvador
53. Guatemala
54. Honduras
55. Nikaragua
56. Panama
57. Meksiko
58. Argentina
59. Bolivia
60. Brasil
61. Chili
62. Kolombia
63. Ekuador
64. Paraguai
65. Peru
66. Suriname
67. Uruguai
68. Venezuela

Hungaria, Ceko, Slowakia, dan Rumania
69. Hungaria
70. Ceko
71. Slowakia
72. Rumania

India dan Subbenua India
73. India
74. Sri Lanka
75. Pakistan
76. Banglades
77. Bhutan
78. Maladewa
79. Nepal
80.Afghanistan

Italia dan Negara Berbahasa Italia
81. Italia
82. Vatikan
83. San Marino
84. Capodistria
85. Malta
86. Monako

Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Senin, 30 Maret 2026

Zee Asadel & Emir Mahira Sah Sebagai Pasutri di Official Trailer Film “Kupilih Jalur Langit”: Saat Akad Sudah Diucap, Namun Hati Suami Masih Milik Wanita Lain


Jakarta, 30 Maret 2026 – Katanya, menikah itu ibadah terlama, tapi bagaimana jika ibadahnya dimulai dengan suasana sedingin kutub utara? MD Pictures secara resmi merilis official trailer film “Kupilih Jalur Langit” melalui press conference hari ini, yang cuplikan trailernya bikin bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan jika pernikahan yang dijalani ternyata tak semanis yang diimpikan?

Diangkat dari kisah nyata yang viral di TikTok karya Elizasifaa dan disutradarai Archie Hekagery, film ini menjadi proyek terbaru MD Pictures, yang kali ini bekerja sama dengan Manara Films, setelah kesuksesan fenomena Ipar Adalah Maut dan La Tahzan.

Malam Pertama Pasutri Muda: Spoiler, Tidak Sesuai Ekspektasi

Trailer ini menunjukkan pahitnya realita Amira (Zee Asadel) dan Furqon (Emir Mahira) di hari-hari pertama mereka sebagai pasutri. Alih-alih indahnya "pacaran setelah menikah", Amira justru harus menelan kenyataan bahwa ia tidur di samping pria yang raganya ada bersamanya, namun jiwanya masih tertinggal pada Dara (Ratu Rafa).

Dara adalah sosok masa lalu yang tak kunjung hilang dari hati Furqon. Jadi, buat kamu yang bermimpi pernikahan taaruf selalu berakhir manis, film ini mungkin akan menjadi reality check paling nyesek tahun ini.

Manoj Punjabi, CEO & Founder MD Pictures, mengungkapkan bahwa kisah ini adalah cermin bagi banyak pasangan. "Cerita Kupilih Jalur Langit adalah salah satu yang paling ramai di TikTok Eliza karena MD melihat potensinya sebagai penggambaran autentik permasalahan pasutri yang nyata kita temukan di dunia nyata," ungkapnya.

"Mimpi Buruk Semua Perempuan"

Bagi Zee Asadel, memerankan Amira adalah tentang menyuarakan rasa insecure terdalam seorang wanita. "Di film ini, aku harus memerankan mimpi buruk semua perempuan: pasangannya belum move on. Amira adalah gambaran kekuatan perempuan yang harus tetap berdiri tegak meski hatinya sedang tidak baik-baik saja," tutur Zee. 

Sementara itu, Emir Mahira menambahkan sisi yang memicu perdebatan, "Uniknya, film ini nggak menempatkan satu karakter sebagai 'penjahat'. Penonton nanti akan bisa memihak ke Amira, tapi mungkin ada juga yang memahami posisi Furqon," jelas Emir.

Haruskah Memilih Jalur Langit?

Trailer ditutup dengan momen Amira yang bersimbah air mata, mempertanyakan apakah semua ini terjadi karena kesalahan yang berasal dari dirinya, ataukah akad ini memang sebuah kesalahan sejak awal?

Ketika Furqon tak kunjung menyentuh Amira sejak malam pernikahan, muncul sebuah tanya yang menghantui: Apakah Furqon memiliki rahasia besar yang lebih gelap, atau mungkinkah masa lalu itu memang mustahil untuk ia lepaskan?

Saksikan perjuangan hati yang paling sunyi dalam “Kupilih Jalur Langit”, tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Jangan lewatkan rahasia di balik dinginnya sebuah pernikahan di akun resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.


Saat jalur bumi terasa buntu dan cinta manusia terasa hampa, Amira kini hanya memiliki satu sandaran: Mengetuk pintu langit, memilih jalur langit. Tunggu kisah Furqon dan Amira! Fini dijadwalkan akan mengetuk hati penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.

Mengangkat Fakta dan Sejarah Perompakan Laut, The Hostage's Hero Tampil Autentik sebagai Film Drama Indonesia

Film karya Iswara Films ini menghadirkan kisah nyata penyelamatan sandera kapal MT Pematang dari perompak di Selat Malaka Tahun 2004. Sebuah cerita tentang keberanian, strategi, dan pengorbanan dalam sebuah film drama.

Jakarta, 30 Maret 2026 bertepatan dengan Hari Film Nasional - Menjelang penayangannya di bioskop pada 2 April 2026, film The Hostage's Hero hadir mengangkat kisah nyata yang terinspirasi dari peristiwa pembajakan kapal tanker MT Pematang di Selat Malaka pada 2004. Sebuah periode ketika jalur pelayaran selat Malaka dikenal sebagai salah satu kawasan paling rawan perompakan di dunia. Disutradarai oleh Revo S. Rurut serta diproduseri oleh Syahrial Hutasuhut dan Eksekutif Produser Irza Ifdial, film ini menghadirkan perpaduan antara ketegangan aksi dan drama emosional keluarga dalam situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian.

Bertempat di bioskop Epicentrum XXI di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, The Hostage's Hero menggelar penayangan perdana di depan para awak media dilanjutkan dengan press conference bersama para pembuat dan pemain film (30/03/26). Press Screening dan Press Conference mendapatkan cukup hangat dari banyaknya undangan media yang hadir.

Film ini bercerita tentang Taufiq (Donny Alamsyah), seorang Letkol TNI AL yang harus kembali memimpin misi berbahaya sebagai komandan KRI Suits di tengah meningkatnya aksi pembajakan di Selat Malaka, la ditugaskan untuk menjalankan operasi senyap dalam upaya membebaskan para sandera awak kapal MT Pematang milik Pertamina dari tangan perompak yang dipimpin oleh Jalaludin (Rifky Balweel). Di tengah tekanan misi dan ancaman yang semakin dekat, Taufiq juga dihadapkan pada dilema sebagai seorang ayah yang harus meninggalkan keluarganya.

Visi & Nasionalisme: Membawa Kedaulatan Maritim ke Layar Lebar

Iswara Films menandai langkah perdana mereka di industri perfilman dengan mengangkat kisah heroik yang jarang terekspos dari sudut pandang komersial. Fokus utama produksi ini adalah memberikan penghormatan bagi para prajurit TNI Angkatan Laut yang setia menjaga kedaulatan di wilayah perairan Indonesia. 

"Kami melihat perjuangan para prajurit kita di tanah air, khususnya mereka yang menjaga kedaulatan maritim, telah berjuang dengan luar biasa mengorbankan diri sendiri dan keluarga. Perlu diangkat agar diketahui masyarakat umum bahwa TNI Angkatan Laut telah banyak berjasa untuk negara kita." Irza Ifdial (Executive Produser)

Pada pengembanganya Iswara Films banyak banyak berdiskusi dengan TNI Angkatan Laut. Dan mendapat sambutan yang baik, positif dari institusi TNI Angkatan Laut. Pesan yang ingin disampaikann sejalan bahwa peristiwa-peristiwa perjuangan ini bisa kita sampaikan dalam bentuk film komersial akan tayang dalam waktu dekat.

Kesaksian Tokoh Asli: Operasi Pembebasan 22 Tahun Silam

Film ini bukan sekadar fiksi, melainkan rekonstruksi dari operasi maritim nyata tahun 2004 di Selat Malaka yang dilakukan dalam tekanan waktu yang sangat kritis. Tokoh asli di balik misi tersebut Laksamana TNI (Purn) Ahmad Taufiqurrahman Menceritakan bagaimana keputusan besar harus diambil hanya dalam hitungan jam.

"Keputusan itu hanya hitungan jam. Kalau kita tidak bertindak, maka jadi justifikasi Indonesia tidak mampu mengamankan wilayahnya. Keberhasilan ini bukan karena kita hebat, tetapi luruskan niat, InsyaAllah." - Laksamana TNI (Purn) Ahmad Taufiqurrahman

Dengan latar laut lepas yang penuh ancaman, film ini menghadirkan gambaran tentang keberanian, pengorbanan, serta konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil di tengah situasi krisis. Konflik tidak hanya terjadi di medan operasi, tetapi juga dalam dinamika personal yang ikut terpengaruh oleh tekanan peristiwa tersebut. Pasukan harus bertindak cepat dengan personil patroli yang anda tanpa harus menunggu Kopaskha yang saat itu berada dalam luar jangkauan.

Riset dan Workshop

Untuk mencapai tingkat akurasi yang tinggi, tim produksi dan para aktor menjalani proses riset panjang serta pelatihan fisik yang sangat berat di bawah bimbingan langsung pasukan khusus Kopaskha. Para aktor dituntut untuk merasakan langsung kerasnya kehidupan seorang prajurit di medan tugas.

Dalam pengembangan naskah, Tim Iswara Films mendapat supervisi langsung dari Dispenal dan juga bapak Laksamana TNI Ahmad Taufiqurrahman. "Tantangan saya adalah mempelajari pembebasan ini dari sejarah. Saya riset banyak, diskusi, bahkan menginap di tempat Bapak Taufik selama dua bulan untuk menyusun skenario yang menghibur, mendidik, tapi tidak boring." - Rivo S. Rurut (Sutradara)

Salah satu nilai yang dirasakan oleh "Kami ada workshop selama dua minggu, benar -benar dilatih seperti (prajurit) asli. Mungkin nilai keberanian itu yang saya dapat, berani melawan ketakutan dari diri sendiri." - Ghian Grimaldi

"Persiapan kami sangat proper, mulai dari reading hingga workshop fisik bersama Kopaska selama dua minggu. Mentor saya bilang Tentara itu nggak ada yang putih', jadi kami semua wajib hitam (terbakar matahari) karena setiap pagi lari 5 km bawa senjata asli seberat 4 kg di bawah panas yang luar biasa." - Robert Chaniago (Pemeran Reno)

Dibintangi juga oleh Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Ritassya Wellgreat, Robert Chaniago, Asri Welas, Anneu Aputri, Brata Santosa, Rendy Meidiyanto, Ghian Grimaldi, Bang Tigor, Inten Navadia, Choky Sitohang dan Aditya Herpavi, film The Hostage's Hero akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 2 April 2026 sebagai film action, drama, dan patriotic yang terinspirasi dari kisah nyata, menghidupkan kembali salah satu periode paling menegangkan dalam sejarah perompakan di kawasan Asia Tenggara.


Pantau terus akun Instagram resmi film ini di @thehostageshero dan @iswarafilms untuk mengikuti perkembangan terbaru The Hostage's Hero, dan bersiaplah menyaksikan pilihan sulit yang harus dihadapi Taufiq: akankah ia kembali untuk menyelamatkan para sandera... atau justru terjebak dalam misi tanpa jalan pulang.

Film Para Perasuk Merilis OST Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan Itu yang Dinyanyikan Maudy Ayunda

Film Para Perasuk akan melanjutkan perjalanan di berbagai festival film internasional sebelum tayang di Indonesia 23 April 2026

Jakarta, 30 Maret 2026 - Setelah merilis lagu Aku yang Engkau Cari dari Maudy Ayunda pada awal tahun 2026 dan memperkenalkannya sebagai OST film Para Perasuk, kini Rekata Studio bersama Trinity Optima Production merilis lirik video-nya. Tak hanya lirik video Aku yang Engkau Cari, Rekata Studio juga memperkenalkan single terbaru Maudy Ayunda Di Tepi Lamunan Itu yang turut menjadi OST Para Perasuk.

Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan Itu menampilkan vokal Maudy Ayunda yang berbeda dari caranya bernyanyi dari sebelumnya. Dengan lirik yang merepresentasikan perjalanan karakter utama film Para Perasuk, Bayu, yang diperankan Angga Yunanda.

Penciptaan lagu Aku yang Engkau Cari sendiri terinspirasi saat Maudy, yang turut membintangi Para Perasuk berada di lokasi syuting. Menurut Maudy, yang menulis lagu ini bersama Lafa Pratomo, lagu yang dihadirkan memiliki lapisan emosi yang terasa seperti bisikan, tenang, menghanyutkan, namun menyimpan kegelisahan yang dalam.

Begitu pula dengan visual video musik yang dihadirkan. Video musik Di Tepi Lamunan Itu disutradarai oleh Wregas Bhanuteja.


"Prosesnya sangat intuitif. Tidak pakai logika naratif biasa, namun menggunakan rasa. Ini proyek pertama baik secara film dan penggarapan lagu yang prosesnya sangat membebaskan aku," kata Maudy Ayunda.

Sementara itu, sutradara Para Perasuk Wregas Bhanuteja mengungkapkan melalui film ini ia ingin menyampaikan sebuah pesan tentang sebuah perubahan perjalanan karakter utamanya, Bayu, yang diperankan Angga Yunanda menuju sebuah penerimaan.

"Saya merasa dunia kita saat ini sudah terlalu penuh dengan cerita balas dendam dan amarah. Saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni berdamai, saling berpelukan, menerima masa lalu, dan move on. Itulah esensi penerimaan yang ingin saya sampaikan," ujar Wregas Bhanuteja.

Bayu adalah karakter utama di Para Perasuk, yang merupakan seorang perasuk-sosok yang membantu para 'pelamun' ke dalam sebuah alam kerasukan dalam sebuah pesta sambetan. Pelamun sendiri adalah orang-orang yang ingin mencari kesenangan melalui proses kerasukan.

Bayu memiliki alat utama yang membantu menciptakan alam fantasi untuk para pelamun dengan slompret. Bayu sendiri kemudian bertemu dengan salah satu pelamun yang membantu prosesnya, Laksmi (Maudy Ayunda).

"Di film Para Perasuk, aku berusaha menghadapi tantangan baru yang cukup berat. Salah satunya adalah proses teknis bertapa dengan digantung secara terbalik, dan itu bikin kepalaku berat," ujar Angga Yunanda tentang perannya sebagai Bayu.

Sementara itu, Laksmi adalah orang yang datang dari Jakarta dan datang ke tempat tinggal Bayu di Desa Latas untuk mengikuti Pesta Sambetan. Pesta Sambetan dijadikan Laksmi sebagai cara untuk healing dan melupakan trauma masa lalunya.

"Kalau biasanya orang healing ke Bali atau Jepang, ini healing-nya ke Desa Latas untuk menghilangkan trauma dengan cara kerasukan. Laksmi dimintai tolong oleh Bayu untuk menemani latihan, supaya Bayu bisa menjadi pimpinan dari Perasuk," ungkap Maudy Ayunda.

Untuk film Para Perasuk, yang juga menandai dua dekade berkaryanya, ia harus melakukan adegan-adegan yang cukup ekstrem seperti makan daun mentah, bunga mentah, hingga rebung mentah.

"Laksmi adalah karakter yang ingin lepas dari trauma masa lalunya. Tentunya banyak dari kita yang memiliki trauma masa lalu dan berusaha untuk melepasnya agar bisa melangkah ke depan," tambah Maudy.

Film Para Perasuk juga menandai perjalanan baru bagi Anggun, yang memerankan. Guru Asri di film ini. Anggun yang telah bernyanyi sejak usia 12 tahun dan kini mengukir namanya di panggung internasional, ia memerlukan kesenangan baru dalam berkarya, termasuk salah satunya melalui medium film.

Guru Asri adalah sosok yang tegas dan berkharisma. Namun, ada salah satu scene di mana aku mewawancarai Bayu yang ingin menjadi pemimpin dari para perasuk, bikin aku nangis. Menjalani syuting di film Para Perasuk juga cukup sulit bagiku, karena prosesnya sangat berbeda dengan menyanyi di atas panggung. Di panggung, kita cukup menyanyi sekali, tapi kalau adegan untuk film, itu harus diulang berkali-kali," cerita Anggun.

Film Para Perasuk akan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Sebelumnya, film ini telah berkompetisi dan world premiere di Sundance Film Festival 2026, dan mendapat sambutan yang meriah.

Terbaru, Para Perasuk juga resmi terpilih dan akan berkompetisi di Miami Film Festival 43 pada program Marimbas Award. Ini merupakan festival film ketiga Para Perasuk, dan selanjutnya akan tayang di berbagai festival film internasional.

Tak hanya Miami, Para Perasuk juga juga resmi terpilih untuk berkompetisi di Fantaspoa Brasil, menjadi official selection di program Artful Visions & Asian Frontier di MSPIFF Amerika Serikat, dan terpilih untuk berkompetisi di MOOOV Belgia.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Para Perasuk melalui akun. Instagram resmi @filmparaperasuk dan @rekatastudio. Tonton film Para Perasuk di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026!

Sinopsis

Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (20) bertekad buat jadi Perasuk utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.

Rapi Films Rilis Teaser Trailer Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan: Kisah "Kehilangan" Paling Menyakitkan dalam Sebuah Keluarga


Jakarta, 30 Maret 2026 - Bagaimana bila orang yang paling kamu cintai mulai melupakanmu? Pertanyaan emosional inilah yang menjadi jantung dari film terbaru persembahan Rapi Films dan Screenplay Films, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan", yang hari ini resmi merilis teaser trailer perdananya.

Film ini membawa narasi tentang perjuangan sebuah keluarga ketika sang ibu mulai lupa dengan segalanya akibat penyakit yang menyerangnya. Sebuah judul yang bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah janji setia seorang anak kepada ibunya.

Dilema Sang Sulung di Tengah Ingatan Ibu yang Memudar

Melalui sudut pandang Kesha (Yasmin Napper), kita diajak masuk ke dalam dinamika keluarga yang penuh kasih namun menyimpan beban tersendiri. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Kesha kerap berada di balik bayang-bayang kebutuhan adik-adiknya. Ada Kanya (Sofia Shireen), si anak kedua yang berprestasi dan selalu menjadi kebanggaan serta dukungan utama Ibu, serta Karlo (Jourdan Omar), si bungsu yang kondisi kesehatannya mengharuskan ia rutin mengonsumsi obat-obatan, sehingga menyedot perhatian ekstra dari sang Ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing).

Di tengah riuhnya tanggung jawab keluarga tersebut, Kesha yang kini duduk di tingkat akhir sekolah film diam-diam memupuk satu keinginan sederhana: ia ingin belajar mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri. Namun, belum sempat langkah kemandirian itu mendapatkan restu dari sang Ibu, sebuah kenyataan pahit menghantam. Yuke mulai kehilangan kepingan ingatannya. Kesha kini harus dihadapkan pada kenyataan bahwa sosok yang selama ini menjadi poros dunianya, bisa saja melupakannya dan menghapus semua memori berharga yang pernah mereka rajut.

Kekuatan emosi dalam film ini didukung oleh penampilan apik para pemerannya. Lulu Tobing berperan sebagai Yuke Yolanda, sosok ibu yang perlahan kehilangan identitasnya, bersanding dengan Ibnu Jamil yang memerankan figur suami, ayah yang baik untuk anak-anaknya, sekaligus pelindung keluarga yang tegar. Bersama Yasmin Napper sebagai Kesha, kehadiran Sofia Shireen dan Jourdan Omar sebagai Kanya dan Karlo melengkapi potret kehancuran sebuah rumah yang dulunya hangat, kini berubah menjadi asing karena memudarnya ingatan Sang Ibu.

Yasmin Napper mengungkapkan kedalaman emosi karakternya. "Memerankan Kesha membuatku sadar bahwa kehilangan yang paling nyata adalah saat kita masih ada secara fisik, tapi sudah tiada di dalam ingatan orang yang kita sayangi. Kesha harus memilih antara masal depan atau waktu yang tersisa bersama Ibunya. Ini adalah pilihan yang mustahil, tapi harus dihadapi."

Kolaborasi Drama yang Menghangatkan

Produser Rapi Films, Sunil Samtani, menjelaskan alasan kuat di balik adaptasi ini. "Kami ingin membawa kedalaman emosi sebuah keluarga yang sedang ditengah menghadapi tantangan terberat. Dengan arahan Kuntz Agus dan naskah dari Alim Sudio, film ini akan menjadi refleksi bagi setiap anak tentang arti kehadiran orang tua."

Sutradara Kuntz Agus menambahkan, "kami ingin penonton tidak hanya menonton, tapi merasakan kekalutan dan cinta yang tumpang tindih dalam keluarga ini. Bagaimana sebuah rumah yang dulunya hangat, perlahan berubah menjadi asing karena memudarnya ingatan."

Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan

Kesha (Yasmin Napper) mahasiswi tingkat akhir sekolah film punya seorang ibu. Ibunya bernama Yuke Yolanda (Lulu Tobing), Guru favorit di Sekolah tempat ia mengajar dan juga Ibu yang sangat dicintai oleh Suami (Ibnu Jamil) dan anak-anaknya. Masalah datang ketika ada sesuatu yang terjadi pada Yuke. Yuke mulai sering lupa, lupa ulang tahun pernikahan, lupa jalan ke sekolah sampai hal-hal penting tentang ketiga anaknya, Kesha, Kenya dan Karlo.

Rumah yang awalnya hangat penuh kebahagiaan, kini berubah semakin parah. Kesha yang sedang fokus dengan tugas akhir kini berada dalam pilihan paling sulit: tetap bertahan mengejar impiannya atau pulang dari kosannya sebelum ia benar-benar hilang dari ingatan Ibunya. Karena ada hal-hal yang boleh hilang dalam hidup, kesempatan, nilai, bahkan mimpi. Tapi jangan sampai kita yang hilang dari hati dan ingatan seorang Ibu.


Mampukah cinta mengalahkan kondisi medis? Dan apa yang akan kau pilih saat duniamu. mulai melupakanmu? Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan.

Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa Tembus 1 Juta Penonton! Bukti Legacy Suzzanna Tetap Hidup dan Dicintai Masyarakat


Jakarta, 29 Maret 2026 - Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa persembahan Soraya Intercine Films dari produser Sunil Soraya baru saja berhasil meraih 1 juta penonton! Ini sekaligus menandai ketiga film adaptasi waralaba SUZZANNA meraih predikat blockbuster.

SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa adalah film Lebaran ketiga tahun ini yang sukses. menembus angka 1 juta penonton. Hal ini membuktikan bahwa legacy sang Ratu Horor Indonesia, Suzzanna, masih tetap hidup dan dicintai oleh masyarakat Indonesia.

SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa juga menjadi film Lebaran pertama Luna Maya dan satu-satunya film yang dibintanginya tahun ini. "Raihan 1 juta penonton untuk SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa adalah bukti bahwa sosok Bunda Suzzanna begitu dicintai dan dirindukan oleh para penggemarnya. Terima kasih untuk penonton Indonesia yang telah mendukung film ini, dan rasanya sangat manis karena ini adalah film Lebaran pertamaku," ujar Luna Maya yang memerankan Suzzanna.

"SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa adalah bentuk penghormatan dari Soraya Intercine Films yang telah memiliki hubungan erat dan sejarah panjang bersama Suzzanna. hingga ia menjadi ikon di perfilman Indonesia. Kami merasa terhormat bisa memberikan tribut yang terbaik untuk Suzzanna melalui film ini," tambah produser Sunil Soraya.

"Terima kasih penonton yang sudah seru-seruan dan menikmati pengalaman. menonton yang penuh adegan sinematik nan epik," kata sutradara Azhar Kinoi Lubis.

Diproduseri oleh Sunil Soraya, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menjadi produksi Soraya Intercine Films yang didukung oleh Legacy Pictures dan Navvaros Entertainment, menghidupkan kembali IP horor paling legendaris Indonesia untuk menghibur penonton di libur Lebaran!

Tonton horor kolosal mewah dalam film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa mulai 18 Maret 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti informasi terbaru melalui Instagram resmi @sorayaintercinefilms dan @filmsuzzanna.official.

Sinopsis

Suzzanna (Luna Maya) dicintai oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam. Namun, karena haus kekuasaan, Bisman malah menyantet ayah Suzzanna hingga tewas. Dendam atas kematian sang ayah pun mendorong Suzzanna mempelajari ilmu Santet. Ketika balas dendam, Suzzanna menyadari kekuatan Bisman jauh lebih besar dari yang ia duga. Di tengah perjalanan, ia jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), pria taat agama yang tak mengetahui rahasianya. Hingga akhirnya, Suzzanna dihadapkan pada pilihan: meneruskan dendam, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta!

Catatan Produksi:
Judul Film: SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa
Produksi: Soraya Intercine Films
Sutradara: Azhar Kinoi Lubis
Penulis: Ferry Lesmana, Jujur Prananto & Sunil Soraya
Produser: Sunil Soraya
Genre: Horor-Aksi
Pemain: Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra, Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slarnet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, Andi/Rif, Budi Bima, Aziz Gagap, Ence Bagus, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.

Film Warung Pocong Tayang 9 April 2026 di Bioskop, Pengen Untung Malah Buntung, Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil Terjebak Jadi Penjaga Warung!

Jakarta, 1 April 2026 — Rumah produksi Entelekey Media Indonesia dan Tiger Pictures menghadirkan film terbaru berjudul Warung Pocong, yang a...