Kamis, 30 April 2026

FILM ZONA MERAH DIPRESENTASIKAN DI CANNES FILM MARKET 2026

Screenplay Films Gandeng Barunson E&A Untuk Penjualan Global Film Zona Merah

Jakarta, 29 April 2026 - Film zombie aksi-horor Indonesia Zona Merah resmi melangkah ke panggung global dengan judul internasional Zona Merah: Dead City. Barunson E&A—perusahaan produksi dan sales internasional di balik film pemenang Oscar Parasite akan menangani penjualan internasional, dengan presentasi perdana di Cannes Film Market 2026.

​Diproduksi oleh Screenplay Films, Zona Merah merupakan adaptasi layar lebar dari serial hit Zona Merah. Versi film akan hadir dengan skala yang lebih besar, cerita yang lebih gelap, dan intensitas yang semakin tinggi. Konflik berkembang semakin kompleks, karakter digali lebih dalam, dan atmosfer chaos terasa semakin intens saat manusia harus bertahan hidup di tengah ancaman para mayat hidup. Dengan stakes yang jauh lebih tinggi, film ini menjanjikan pengalaman yang lebih imersif dibandingkan versi series.

​Film ini disutradarai oleh Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa. Sejumlah pemeran dari serial akan kembali, termasuk Aghniny Haque, Andri Mashadi, Maria Theodore, Devano, dan Lukman Sardi, serta diperkuat nama-nama baru seperti Luna Maya, Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, dan Derby Romero. Proses syuting dimulai sejak April 2026 dan akan rampung pada Mei.

​Produser sekaligus CEO Screenplay Films, Wicky V. Olindo, menyebut adaptasi ini sebagai langkah global: "Zona Merah membuktikan kekuatan cerita yang benar-benar terhubung dengan penonton. Mengembangkannya ke layar lebar adalah progres yang tak terhindarkan, baik secara kreatif maupun komersial."

​Sementara itu, CEO Barunson E&A, Yoonhee Choi, melihat momentum besar dari industri Indonesia: "Pasar Indonesia sedang berada di titik penting. Zona Merah menjadi sinyal perubahan, dan film ini membawanya lebih jauh. Cannes adalah panggung yang tepat untuk memperkenalkan film Zona Merah ke dunia."

​Dengan dukungan pemain global dan rekam jejak kuat di genre, Zona Merah: Dead City siap menjadi salah satu judul Indonesia yang mencuri perhatian di pasar internasional.

Ikhlas Paling Serius Tayang di Viu, Omar Daniel dan Kimberly Ryder Bawa Kisah Cinta tentang Luka Keluarga dan Melepaskan.

Jakarta, 30 Mei 2026 — Viu Indonesia bersama MAXStream TV menghadirkan original series kolaborasi keempat, Ikhlas Paling Serius, drama romantis yang menempatkan cinta, luka keluarga, dan pengorbanan sebagai pusat cerita, tayang mulai 1 Mei 2026.

​Dijumpai dalam Premiere Screening Ikhlas Paling Serius, kemarin (29/4/2026) di Jakarta, Omar Daniel mengungkapkan, "Cerita tentang ikhlas akan selalu relate dengan banyak orang di setiap masa, baik urusan pekerjaan, hubungan dengan orang lain dengan berbagai problematika. Karena pada akhirnya, hampir semua orang pernah berada di titik harus memperjuangkan atau belajar melepaskan," ujarnya.

​Bagi Kimberly Ryder, tantangannya dalam drama ini adalah tentang emosi dari sosok wanita yang tampak kuat namun sebenarnya tertekan. "Saya sangat happy dan menikmati saat harus tampil menjadi sosok yang menekan dan galak. Namun tantangan terbesarnya justru saat harus meluapkan emosi saat merasakan kesedihan yang sangat dalam," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Kisah Fajar dan Farah

​Diadaptasi dari mega best seller book karya Fajar Sulaiman, series ini mempertemukan Omar Daniel sebagai Fajar dan Kimberly Ryder sebagai Farah—dua karakter dengan cara mencintai yang bertolak belakang. Fajar adalah sosok yang terbiasa mengutamakan orang lain hingga sering mengabaikan dirinya sendiri, sementara Farah tumbuh sebagai perempuan ambisius yang keras di luar, namun menyimpan kerapuhan akibat tekanan keluarga.

​Lewat karakter Fajar, Omar Daniel menyoroti persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: kecenderungan menjadi people pleaser dan kesulitan mengatakan tidak.

​"Fajar itu sedikit plin-plan. Karena dia people pleaser, tipikal orang yang nggak enakan, bingung cara menolak. Tapi justru dari situ aku melihat ikhlas itu seperti level tertinggi dari mencintai—rela melepaskan dan menerima tanpa mengharapkan imbalan," kata Omar Daniel.

​Dimensi inilah yang membuat Ikhlas Paling Serius hadir lebih dari sekadar drama cinta. Series ini menangkap bagaimana kebiasaan menyenangkan semua orang justru bisa membuat seseorang kehilangan arah atas pilihan hidupnya sendiri.

​Kimberly Ryder, yang memerankan Farah, menghadirkan lapisan emosi berbeda lewat karakter perempuan yang terlihat dominan, namun sesungguhnya dibentuk oleh relasi keluarga yang rumit.

​"Farah itu hard worker dan terlihat tegas, tapi sebenarnya hatinya lembut. Ada tuntutan dari ibunya yang membentuk siapa dia. Itu yang membuat dia juga sulit untuk ikhlas," ujar Kimberly Ryder.

​Pertemuan Fajar dan Farah bermula ketika Fajar bekerja di kantor Farah, seorang bos muda perfeksionis yang tanpa diduga justru mengguncang keyakinannya sendiri. Situasi berkembang semakin rumit saat Fajar diam-diam diminta memata-matai Farah, sementara benih cinta justru tumbuh di antara keduanya.

​Konflik yang dihadirkan tidak semata soal cinta terlarang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bernegosiasi dengan trauma, kewajiban keluarga, dan keberanian memilih dirinya sendiri.

​Menurut Viu, kekuatan Ikhlas Paling Serius terletak pada relevansinya dengan pengalaman emosional banyak penonton hari ini.

​Selain Omar Daniel dan Kimberly Ryder, series ini juga dibintangi Fahad Haydra, Amara Sophie, Kiara Mckenna, dan Caroline Zachrie, memperkuat dinamika cerita dengan karakter-karakter yang turut mendorong dilema para tokohnya.

​Dengan perpaduan drama relasi, konflik batin, dan narasi tentang penerimaan, Ikhlas Paling Serius menghadirkan pertanyaan yang jarang diangkat secara jujur dalam drama romantis: sampai kapan seseorang terus mengalah demi orang lain, dan kapan saatnya memilih dirinya sendiri?

Ikhlas Paling Serius tayang mulai 1 Mei 2026 eksklusif di Viu dan MAXStream TV.

Rabu, 29 April 2026

Relatable dengan Kaum Budak Korporat, Official Trailer, Poster & OST Film Monster Pabrik Rambut Rilis Menyambut Hari Buruh

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 29 April 2026 — Palari Films merilis official trailer, poster, dan original soundtrack (OST) film Monster Pabrik Rambut yang disutradarai Edwin, serta dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev. Official trailer menampilkan horor tentang dunia kerja yang dekat dengan situasi sekarang, ketika tempat kerja berubah serupa monster, yang memaksa para pekerja bekerja sampai mati.

​Nuansa pabrik rambut yang menjadi tempat bekerja Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha) ditampilkan dengan suasana mencekam di trailer. Putri dan Ida adalah kakak-adik yang terpaksa masuk ke pabrik rambut tersebut untuk mengungkap misteri kematian ibunya. Namun, saat mereka bekerja di pabrik tersebut, kejanggalan-kejanggalan justru semakin terasa, dan menambah keyakinan Ida yang percaya ibunya mati secara tak wajar ketika bekerja di pabrik tersebut.

​Sementara itu, Iqbaal, yang memerankan karakter Bona, menjadi adik bungsu dari Putri dan Ida. Ia memiliki kemampuan untuk meregenerasi seluruh anggota tubuhnya sendiri, layaknya Axolotl—amfibi asal Meksiko yang memiliki kemampuan unik meregenerasi seluruh anggota tubuhnya. Sebuah simbol yang menyiratkan pertanyaan, apakah para pekerja juga diharapkan bekerja terus menerus dengan regenerasi bagian tubuhnya sendiri?

​Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, film Monster Pabrik Rambut menjadi ko-produksi internasional antara Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, yang membuktikan kredibilitas kualitas film ini. Film ini ditulis oleh Edwin bersama Eka Kurniawan, yang menjadi kolaborasi kedua mereka setelah sukses internasional Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Selain bermain, Iqbaal Ramadhan juga turut menjadi produser eksekutif, bersama Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo dan Maudy Ayunda.

​"Di film Monster Pabrik Rambut, kami ingin menyampaikan bahwa kondisi kerja seringkali membuat kita menjadi seperti mesin, kerja terus menerus, atas nama produktivitas. Malah diharapkan bisa ganti 'spare parts' sendiri (seperti Axolotl). Seperti buruh di industri lainnya, buruh film juga seringkali kurang tidur. Dan tidak salah, karena kita mau menyenangkan keluarga kita, pacar kita, atau diri kita sendiri. Namun, kalau sampai mencelakakan diri sendiri, malah jadi menyedihkan," ujar penulis dan sutradara Edwin.

Monster Pabrik Rambut sendiri akan memberikan pengalaman sinematik yang baru dan berbeda untuk perfilman Indonesia. "Palari Films selalu berkomitmen untuk melahirkan karya yang mampu memantik percakapan dengan isu yang relevan dan penting untuk kita bicarakan bersama. Melalui film Monster Pabrik Rambut, kami ingin menghadirkan hiburan yang juga menyentil dengan visual yang fantastis dan sedikit ajaib," ujar produser Meiske Taurisia.

Official poster film Monster Pabrik Rambut menampilkan ketiga saudara, Rachel Amanda, Lutesha, dan Iqbaal Ramadhan, serta Sal Priadi dan Kev dengan tatapan kosong seperti kurang tidur. Tak hanya kehadiran kelimanya, sosok kepala Didik Nini Thowok terlihat di antara manekin kepala di lemari belakang, terlihat seperti mengintai mereka.

​Sementara itu, original soundtrack (OST) film yang berjudul Kepala, Pundak, Kerja Lagi dinyanyikan dan diciptakan oleh Sal Priadi, yang akan menjadi anthem bagi para pekerja yang masih harus berjuang dengan lembur sampai babak belur.

​Terciptanya OST ini berawal dari sebuah adegan yang mengharuskan Rudi, karakter yang diperankan Sal, bermain gitar dan bernyanyi. Hingga kemudian muncul diskusi antara Edwin dan Sal untuk mengembangkan lagu dalam adegan tersebut menjadi OST film.

​Bagi Rachel Amanda, Monster Pabrik Rambut terasa sangat dekat dengan situasi saat ini. Ketika generasi milenial dan Z kerap kali harus menormalisasi hustle culture demi mengejar duniawi dan pada akhirnya kurang tidur, hingga risiko kematian akibat kelelahan bekerja.

​"Overwork itu sesuatu yang nyata. Ini terjadi di semua industri kerja, termasuk di perfilman sendiri. Aku harap Monster Pabrik Rambut semakin menyadarkan kita tentang pentingnya istirahat, dan bahwa film ini juga akan menyadarkan orang tentang tidur adalah hak asasi manusia. Horornya dunia kerja itu nyata, kita sering banget mendengar cerita orang yang harus lembur sampai babak belur, dan Monster Pabrik Rambut ingin menyuarakan keresahan itu," kata Rachel Amanda.

Monster Pabrik Rambut juga menghadirkan ansambel pemeran yang unik dan kuat. Film ini juga menjadi horor perdana Iqbaal, serta film debut bagi kreator konten Kev, yang membuktikan kualitas aktingnya di layar lebar dan memberi bukti regenerasi industri perfilman Indonesia.

​Sal Priadi, yang pertama kali bekerja sama dengan Palari Films melalui Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas akan kembali bekerja sama di film Monster Pabrik Rambut. Tak hanya bermain, namun Sal juga dipercaya untuk menciptakan OST. film yang akan menjadi mars para pekerja di tengah gempuran lembur.

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Monster Pabrik Rambut persembahan Palari Films melalui akun Instagram resmi @palarifilms.


Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

MVP Pictures Bersama Manara Film Meluncurkan Gala Premiere Film AIN, Tandai Penayangan Perdana untuk Publik dan Media


Jakarta 29 April 2026 — Suasana mencekam dan penuh antisipasi menyelimuti gelaran Gala Premiere film 'Ain, karya terbaru dari MVP Pictures dan Manara Films. Film yang telah dinanti ini siap oleh Archie Hekagery, Ain secara tegas hadir sebagai film body horror pertama di Indonesia-bukan horor murni, melainkan perpaduan antara teror psikologis dan transformasi fisik yang intens dan mengganggu. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman visual yang lebih visceral, dekat, dan tidak nyaman-membawa penonton masuk ke dalam teror yang tidak hanya dirasakan, tetapi juga "terlihat".

Dibintangi oleh Brittany Fergie, Putri Ayudya, Bara Valentino, Clara Kaizer, Cindy Purba, hingga Bea Random, film ini menyuguhkan performa yang intens dan emosional, memperkuat atmosfer teror yang semakin mencekam dari awal hingga akhir. Mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan modern, Ain mengisahkan seorang beauty influencer yang hidupnya terlihat sempurna di media sosial. Namun di balik popularitas dan validasi yang ia terima, tersembunyi ancaman tak kasat mata-'ain atau evil eye, sebuah energi negatif dari tatapan penuh iri yang dipercaya mampu membawa malapetaka.


Apa yang dimulai dari perhatian dan kekaguman, perlahan berubah menjadi teror yang nyata. Tubuhnya mulai mengalami perubahan mengerikan, hidupnya runtuh, dan dunia yang ia bangun di media sosial berubah menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Sebagai produser, Raam Punjabi mengungkapkan, ""Ain adalah sebuah langkah berani bagi kami untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di genre horor Indonesia. Film ini bukan sekadar menakutkan, tapi juga menawarkan pendekatan baru yang lebih berani dan relevan dengan kehidupan saat ini."


Sementara itu, Yudha Wirafianto menambahkan, "Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak biasa. Ain tidak hanya bermain di rasa takut, tetapi juga menghadirkan ketidaknyamanan visual yang menjadi kekuatan utama body horror." Sang sutradara, Archie Hekagery, juga menyoroti pendekatan unik film ini, "Kami ingin membuat horor yang terasa nyata secara fisik. Body horror memungkinkan kami menunjukkan bagaimana tekanan, energi negatif, dan rasa takut bisa 'mengubah seseorang secara visual dan emosional."


Dengan visual yang disturbing, atmosfer yang intens, serta pendekatan yang berbeda dari horor konvensional, film ini siap menjadi tonggak baru dalam eksplorasi genre horor Indonesia. Saksikan 'Ain di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Karena tidak semua tatapan membawa kebaikan beberapa di antaranya... membawa kehancuran.

MAGMA Entertainment Rilis Official Trailer dan Poster ‘Badut Gendong’: Lahirnya Lawan Tangguh Baru Ustaz Qodrat

Jakarta, 29 April 2026 — Bersiaplah, karena Indonesia akan segera kedatangan wajah teror baru yang melampaui imajinasi. MAGMA Entertainment secara resmi merilis Official Trailer dan Poster dari film horor-aksi terbarunya, Badut Gendong.

​Diperkenalkan secara megah dalam acara konferensi pers di Metropole XXI, film ini dikonfirmasi sebagai ekspansi krusial dari semesta Qodrat yang akan memperkenalkan sosok antagonis paling mencekam bagi sang Ustaz.

Tragedi Berdarah di Balik Sosok Pengamen

​Melalui Official Trailer dan Poster yang diluncurkan, penonton diajak menyelami kisah kelam Darso (Marthino Lio), seorang pengamen tari Badut Gendong yang dikhianati oleh takdir. Kehilangan tragis sang istri, Darsi, beserta bayi dalam kandungannya, menjadi pemantik bangkitnya sebuah entitas penuh amarah di tengah konflik tanah yang melanda desanya.

Roh Darsi kembali dalam sosok Badut Gendong yang mengerikan, mengendalikan tubuh Darso untuk menebarkan teror balas dendam yang sistematis bagi mereka yang telah melukainya.

​Melanjutkan rasa yang hadir di film pendahulunya, Badut Gendong menjanjikan kedalaman emosi yang kuat di balik setiap aksi horornya. Penonton tidak hanya akan disuguhi ketakutan fisik, tetapi juga kehancuran psikologis dari karakter yang hancur karena cinta dan kehilangan.

Persilangan Semesta (Cross-Universe) yang Dinamis

Linda Gozali, Produser MAGMA Entertainment, menyatakan bahwa film ini merupakan langkah strategis dalam memperluas universe yang mereka bangun.

​“Proyek ini sangat menarik bagi kami. Sebuah cross-universe dari Qodrat yang tetap berdiri kokoh sebagai film mandiri yang bisa dinikmati siapa saja. Bagi penggemar Qodrat, Badut Gendong akan memberikan perspektif baru yang segar di semesta ini. Sementara bagi penonton baru, film ini adalah pintu masuk sempurna untuk mengenal dunia kami,” ujar Linda.

​Sutradara Charles Gozali menambahkan bahwa jika Qodrat berfokus pada sisi kepahlawanan, maka Badut Gendong akan mengeksplorasi sisi gelap yang lebih abu-abu.

​“Di Qodrat, kami bermain dengan konsep horor-aksi dan heroik. Namun, Badut Gendong menawarkan rasa yang berbeda. Ini bukan tentang pahlawan, melainkan sebuah origin story dari calon musuh Ustaz Qodrat yang sangat emosional dan manusiawi. Kami ingin penonton memahami alasan di balik kegelapan itu,” jelas Charles.

Eksplorasi Karakter dan Jajaran Pemain

​Pemeran utama, Marthino Lio, mengungkapkan tantangan dalam memerankan karakter Darso yang memiliki banyak lapisan emosi. “Memerankan Darso adalah pengalaman unik. Karakternya sangat kompleks; penonton mungkin akan merasa bimbang antara memberikan empati atas kepedihannya atau merasa ngeri melihat kesadisan teror yang ia sebarkan,” ungkap Lio.

​Film ini juga diperkuat oleh talenta berbakat seperti Derby Romero, Clara Bernadeth, Dayinta Melira, Iskak Khivano, dan Vonny Anggraeni. Tak hanya itu, Badut Gendong juga menghadirkan penampilan spesial dari dua aktor legenda Indonesia, Barry Prima dan Jose Rizal Manua, yang semakin memperkuat kualitas akting dalam produksi ini.

Badut Gendong dijadwalkan akan meneror seluruh layar bioskop di Indonesia mulai 27 Mei 2026. Pantau terus detail kengerian lainnya melalui kanal media sosial resmi di @magmaent dan @badutgendong.

Selasa, 28 April 2026

Crocodile Tears: Film Indonesia yang Mendunia Kini Hadir di Bioskop Tanah Air Mulai 7 Mei 2026

Jakarta, 28 April 2026Crocodile Tears, film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon, siap menyapa penonton Indonesia di layar lebar mulai 7 Mei 2026. Diproduseri oleh Mandy Marahimin, film ini hadir membawa energi segar: sebuah drama keluarga yang mencekam, dibangun secara kolaboratif oleh para sineas dari empat negara, dan kini tiba dengan pengakuan internasional dari 33 festival film dunia bergengsi.

​Perjalanan Crocodile Tears di panggung internasional dimulai dari pemutaran perdananya di Toronto International Film Festival 2024, salah satu festival film paling bergengsi di dunia. Dari sana, film ini terus melangkah ke festival film prestisius di dunia lainnya seperti Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival dan Goteborg International Film Festival. Kemudian dilanjutkan ke Adelaide Film Festival, Torino Film Festival, Red Sea International Film Festival dan banyak lainnya. Apresiasi yang datang dari berbagai penjuru dunia menjadi bukti nyata bahwa cerita yang lahir dari tanah Indonesia mampu berbicara kepada penonton global.

​Di balik layar, Crocodile Tears adalah karya yang sepenuhnya bersifat kolaboratif. Tumpal Tampubolon dikenal sebagai sutradara dengan pendekatan terbuka yang memberikan ruang luas bagi para Heads of Department dan aktor untuk menginterpretasikan naskahnya secara bebas dan personal. "Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin," ujar Tumpal. "Tapi justru momen yang paling kami tunggu adalah ketika akhirnya film ini bisa pulang dan bertemu dengan penonton Indonesia."

​Proses kreatif yang kolaboratif ini tercermin dalam penampilan para aktornya. Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani yang tidak sekadar memerankan karakter tetapi mereka turut membentuknya bersama sang sutradara. "Tumpal memberi kami ruang yang sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan emosi yang kami bangun bersama dari awal proses persiapan sampai syuting," ungkap Marissa Anita yang memerankan karakter Mama. "Pengalaman itu yang membuat karakter Mama terasa begitu nyata bagi saya."

​Tumpal Tampubolon sendiri bukan nama baru dalam dunia sinema Indonesia. Ia telah menempa diri lewat serangkaian film pendek yang diakui di festival nasional maupun internasional. Dari "The Last Believer" yang meraih penghargaan di JIFFest (Jakarta International Film Festival), "Mamalia" yang masuk seleksi Rotterdam dan Hong Kong International Film Festival, hingga "Laut Memanggilku" yang meraih Sonje Award di Busan International Film Festival 2021 sekaligus nominasi Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya, Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini hadir dalam Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya, Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini hadir dalam Crocodile Tears.

​Produser Mandy Marahimin menambahkan, "Perjalanan Crocodile Tears tidak singkat, dari pengembangan hingga produksi yang melibatkan kru dari empat negara. Kami membutuhkan waktu 6 tahun sebelum akhirnya film ini bisa kami produksi, dan total delapan tahun sebelum film ini akhirnya bisa dinikmati penonton di Indonesia. Persiapan yang kami lalui pun cukup detail. Proses casting selama hampir dua tahun, persiapan yang serius dan rinci selama berbulan-bulan, termasuk sampai membangun sebuah rumah di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup. Ini sebuah film yang melalui proses yang sangat kolaboratif, dan kami persiapkan dengan hati. Harapannya, film ini bisa diterima dengan hangat oleh penontonnya."

Crocodile Tears bercerita tentang MAMA (Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton di sebuah taman buaya. Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus segera dilakukan.

​Menggabungkan realisme magis dan teror psikologis, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang intim, dengan relasi yang terasa dekat namun menyimpan lapisan konflik yang semakin terasa seiring berjalannya cerita.

​Film ini diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment.

​Setelah perjalanan panjang, kini Crocodile Tears siap bertemu dengan penonton Indonesia di layar lebar. Saksikan Crocodile Tears mulai 7 Mei 2026 di bioskop.

SINOPSIS

​MAMA (Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton.

​Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus dilakukan segera.


Hashtag : #crocodiletears

Instagram : @talamedia_co

Twitter/X : @talamedia_co

TikTok : @talamedia_co

YouTube : @talamedia_co

Website : talamedia.co


CROCODILE TEARS

  • ​Production: Talamedia & E-Motion Entertainment
  • ​Co-Production:
    • ​Acrobates Films
    • ​Poetik Films
    • ​Giraffe Pictures
    • ​2Pilots Filmproduction
  • ​International Sales & Festivals: Cercamon
  • ​Casts:
    • ​Yusuf Mahardika (Johan)
    • ​Marissa Anita (Mama)
    • ​Zulfa Maharani (Arumi)
  • ​Director: Tumpal Tampubolon
  • ​Writer: Tumpal Tampubolon
  • ​Producer: Mandy Marahimin
  • ​Co-Producers:
    • ​Claire Lajoumard
    • ​Anthony Chen
    • ​Christophe Lafont
    • ​Harry Flöter
    • ​Jörg Siepmann
    • ​Teoh Yi Peng
  • ​Executive Producers:
    • ​Arnold J. Limasnax
    • ​Lianto Winata Vachon
    • ​Tjen Foeng Fa
    • ​Kevin Danudoro
  • ​Cinematographer: Teck Siang Lim
  • ​Production Designer: Jafar
  • ​Art Director: Guntur Mupak
  • ​Costume: Hagai Pakan
  • ​Make-up:
    • ​Cherry Wirawan
    • ​Agustin Puji
  • ​Sound:
    • ​Roman Dymny
    • ​Bruno Ehlinger
    • ​Romain Ozanne
  • ​Music: Kin Leonn
  • ​Editor:
    • ​Jasmine Ng Kin Kia
    • ​Kelvin Nugroho
  • ​Poster & Logo: Evan Wijaya
  • ​Photo Poster: Robin Budidharma

Terinspirasi Perjalanan ONIC Kairi, Film ‘Nobody Loves Kay’ Rilis Teaser Trailer: Sebuah Pembuktian Dari Sosok yang Kerap Diremehkan

Jakarta, 28 April 2026ONIC, Migunani Cinema Cult, Folago Pictures dan Qun Films, bekerja sama dengan Visinema Pictures, secara resmi merilis teaser trailer perdana film Nobody Loves Kay. Mengambil inspirasi dari perjalanan hidup atlet e-sport Mobile Legends legendaris, ONIC Kairi, film ini memotret realitas pahit dan manis di balik layar dunia kompetisi profesional.

​Gimana rasanya ketika sesuatu yang kamu perjuangkan justru dianggap nggak serius? Pertanyaan besar ini menjadi jiwa dari film Nobody Loves Kay, dan yang terlihat dari teaser trailer yang telah dirilis. Film ini bukan sekadar urusan menang atau kalah di arena pertandingan. Ada cerita yang jauh lebih dekat dari itu; tentang sebuah generasi yang sering diremehkan, tentang pilihan hidup yang dipandang sebelah mata oleh orang tua dan lingkungan, hingga usaha keras untuk tetap dipercaya atas jalan yang telah dipilih.

Sebuah Pembuktian

Dari ribuan mimpi yang bisa dipilih, Kay (Bima Azriel) memilih untuk menjadi seorang Jungler (salah satu role di Mobile Legends: Bang Bang) fenomenal di dunia. Namun, apakah ambisi ini benar-benar jalan yang Kay inginkan, atau sekadar pelarian dari ekspektasi yang menghimpitnya?

​Di tengah harapan orang tua yang ingin dirinya menjadi murid teladan dan ancaman harus pindah ke Arab Saudi oleh ibunya, Kay harus memilih antara ambisi pribadi atau keutuhan hubungan dengan dua sahabatnya, Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico).

ONIC sebagai Ekosistem untuk Bertumbuh

Sebagai organisasi esports, ONIC tidak hanya berfokus pada prestasi di dalam game, tetapi juga berkomitmen menjadi wadah bagi generasi muda untuk tumbuh dan mewujudkan mimpi mereka. ONIC percaya setiap perjalanan memiliki potensi untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, didukung oleh ekosistem yang solid dan berkelanjutan. Melalui perilisan film ini, ONIC turut mendorong esports melangkah ke ranah hiburan yang lebih luas, yakni layar lebar, sebuah langkah yang menegaskan bahwa esports kini telah berkembang melampaui kompetisi dan hadir sebagai medium storytelling yang relevan bagi audiens yang lebih luas.

Debut Layar Lebar

Menandai debut film panjangnya setelah sukses menggarap musik video untuk musisi papan atas seperti Hindia dan Sal Priadi, Bernardus Raka menekankan bahwa film ini memiliki napas yang luas di luar arena gaming.

​“Topik mengenai persahabatan, keluarga, percintaan, dan pengorbanan akan menjadi landasan utama kami dalam membentuk cerita dan keseluruhan karakter, agar dapat diterima oleh banyak penonton,” ujar Bernardus Raka.

Sinopsis dan Daftar Pemain

​Di puncak kompetisi Mobile Legends dunia, Kay, pro-player andalan tim ONIC, mengenang masa ketika mimpinya hanya dianggap angan-angan kosong. Bersama dua sahabatnya, Ido dan Aurelio, ia pernah berjanji akan mengguncang dunia, namun tekanan dan ambisi buta justru menghancurkan persahabatan mereka. Kay didepak dari timnya sendiri, kehilangan arah, dan dianggap gagal oleh lingkungan yang sejak awal meragukannya.

​Berada di titik nadir dan hampir dipaksa meninggalkan dunianya, Kay menolak menyerah. Ini bukan sekadar soal memenangkan pertandingan, melainkan pembuktian bahwa mimpi yang diremehkan, jika diperjuangkan dengan segenap hati, akan menemukan jalannya sendiri menuju panggung tertinggi.

​Film Nobody Loves Kay menghadirkan kolaborasi solid antara aktor muda berbakat dan deretan nama senior yang sudah tidak asing lagi di industri perfilman Indonesia. Karakter utama Kay diperankan oleh Bima Azriel, yang akan beradu akting dengan Rey Bong sebagai Ido dan Joshia Frederico sebagai Orel, membentuk trio persahabatan yang menjadi sentral cerita.

​Aktris Aurora Ribero turut bergabung memerankan sosok Amanda, murid pintar yang menjadi kunci perjalanan Kay. Tak hanya itu, kekuatan departemen akting film ini semakin lengkap dengan kehadiran Ariyo Wahab, Mian Tiara, hingga Melati Sesilia yang memberikan kedalaman pada dinamika keluarga dan konflik dalam cerita.

​Film ini akan segera tayang di seluruh bioskop Indonesia. Teaser trailer yang memperlihatkan sekilas perjuangan emosional Kay kini sudah dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi @nobodyloveskay.

​Nantikan juga teaser poster dari film Nobody Loves Kay yang akan hadir 30 April 2026 nanti.

Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Trailer & Poster, Ungkap Masalah Menantu dan Mertua yang Sangat Dekat! Jadi Film Paling Relate yang Pernah Dibuat Anggy Umbara

Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 28 April 2026 — Umbara Brothers Film dan VMS Studio, bekerja sama dengan Adsfort merilis official trailer & poster film drama keluarga terbaru berjudul Keluarga Suami Adalah Hama, yang akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Official trailer film yang dibintangi Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans ini mengungkap permasalahan yang sering dialami oleh menantu dan keluarga suami, saat pasangan suami istri tinggal serumah dengan mertua.

​Dalam trailernya, diperlihatkan pasangan suami istri Damar (Omar Daniel) dan Intan (Raihaanun), yang harus menghadapi permasalahan ekonomi di tahun-tahun awal menikah mereka. Keduanya terpaksa tinggal terlebih dulu di rumah keluarga suami. Namun, dengan tinggalnya pasangan keluarga muda tersebut bersama mertua, justru menghadirkan konflik yang tak berujung. Intan justru dianggap sebagai pekerja rumah tangga, belum lagi perlakuan kedua adik iparnya yang bertindak seenaknya. Sementara Damar berada di posisi dan kondisi yang membingungkan di antara membela sang istri atau kewajiban menghormati ibunya, membuatnya tampak ragu dalam bersikap.

​Film yang diproduseri oleh Shalu T.M., Indah Destriana dan Anggy Umbara ini akan menghadirkan sebuah permasalahan yang sangat dekat dan dialami banyak orang. Film ini sekaligus menjadi film drama keluarga pertama Anggy Umbara, yang sebelumnya telah sukses blockbuster dengan berbagai genre mulai dari film aksi, komedi hingga horor.

​"Bagi saya, Keluarga Suami Adalah Hama adalah film yang paling relate dan dekat dengan saya sebagai salah satu bagian dari 'Sandwich Generation', yang dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah, namun juga terhimpit dalam berbagai kesulitan dan kondisi keluarga yang kadang perih dan menyesakkan. Isu ini sangat penting untuk diangkat, untuk kita tahu, bahwa kondisi ini memang ada di sekitar kita. Dan kita bisa merasakannya tapi banyak yang tidak bisa mengungkapkan. Harapannya, setelah menonton film ini menjadi refleksi agar lingkungan sesama keluarga bisa menjadi lebih baik, dan bisa berempati," kata sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama menjadi kolaborasi terbaru VMS Studio dan Umbara Brothers Film. Sebelumnya, kolaborasi terjalin melalui film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel (2025), yang juga disutradarai Anggy Umbara.

​Di kolaborasi terbaru, Anggy juga kembali dipercaya untuk mengaduk emosi penonton melalui kisah suami-istri di Keluarga Suami Adalah Hama, selain sebagai partner Producer bersama Indah Destriana, Anggy juga sebagai Penulis dan duduk langsung di kursi Sutradara. Bagi produser Shalu T.M., Anggy Umbara adalah sosok sutradara yang sangat tepat karena ia merupakan salah satu sineas Indonesia yang sangat kuat dan memiliki karakter unik. Shalu menekankan, pesan yang ingin disampaikan di film ini adalah tentang pentingnya kerjasama suami istri sebagai pasangan.

​"Pesan yang ingin kami sampaikan, di tengah berbagai dinamika permasalahan di kehidupan sehari-hari kita, terutama yang sudah berkeluarga, sebagai suami istri itu sangat penting untuk berkolaborasi dan bekerja sama, saling back up. Karena pada dasarnya, husband and wife against the world. Bukan suami melawan istri tapi suami dan istri melawan dunia, berjuang bersama," ujar produser VMS Studio Shalu T.M.

​Selain Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans, film ini juga akan dibintangi oleh Fairuz A. Rafiq, dan penampilan spesial dari Tio Pakusadewo. Bagi Omar, ini adalah pengalaman berharga karena ia bisa beradu peran dengan Raihaanun.

​"Raihaanun itu idola saya. Saya sangat mengikuti dan menonton karya-karyanya. Ketika dipasangkan bersama, ini sebuah kehormatan dan kebanggaan, dan menjadi pacuan semangat untuk bisa terus belajar," ujar Omar Daniel.

​"Di film ini penonton akan melihat bagaimana dinamika karakter saya sebagai kepala keluarga yang berada di tengah-tengah, antara harus memihak istri dan juga ibunya. Itu poin terberatnya," tambah Omar.

​"Beradu peran dengan Omar terasa sangat menyenangkan. Anggy mampu memberi kami ruang yang nyaman untuk menaruh lapisan emosi di sini yang akan terefleksikan dengan penonton akan sangat terlibat dengan cerita filmnya," ungkap Raihaanun.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.


Senin, 27 April 2026

Film The Bell: Panggilan untuk Mati Hadirkan Penebok, Ikon Horor Baru yang Siap Menghantui Tahun Ini

Film dari kolaborasi rumah produksi MBK Productions dan Sinemata Productions yang menghadirkan Penebok sebagai ikon horor baru yang lahir dari folklore lokal.

Jakarta, 27 April 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop pada 7 Mei 2026, film horor The Bell: Panggilan untuk Mati menghadirkan teror baru yang mengangkat kekuatan folklore lokal. Hasil kolaborasi Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions ini menawarkan pendekatan berbeda dengan menghidupkan sosok Penebok sebagai ikon horor yang mencekam dan siap menghantui tahun ini.

​Di tengah tren film horor Indonesia yang terus mendominasi industri perfilman, The Bell: Panggilan untuk Mati hadir dengan menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan instan. Film ini mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi, menghadirkan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan secara visual, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Melalui sosok Penebok, film ini membangun atmosfer yang berangkat dari mitos dan kepercayaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas cerita lokal di tengah arus globalisasi konten.

​Film ini bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat, namun menjadi awal teror ketika dicuri oleh sekelompok anak muda demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi, membawa ancaman yang perlahan semakin nyata. Di tengah situasi yang kian mencekam, Danto (Bhisma Mulia) dan Airin (Ratu Sofya) ikut terseret dalam rangkaian peristiwa tersebut.

​Lebih dari sekadar menghadirkan ketakutan, The Bell: Panggilan untuk Mati menawarkan relevansi dengan realitas masa kini. Fenomena generasi digital yang haus akan viralitas menjadi salah satu lapisan cerita yang membuat film ini terasa dekat dengan penonton. Keputusan para karakter yang menjadikan hal mistis sebagai konten hiburan menjadi refleksi atas batas yang semakin kabur antara dunia nyata dan sensasi digital, sekaligus menghadirkan konsekuensi yang tidak terduga.

​Sutradara The Bell, Jay Sukmo membawa pendekatan yang cukup berbeda dalam The Bell: Panggilan untuk Mati dengan menghadirkan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita. Cara ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberi pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton. Lewat pendekatan tersebut, Jay Sukmo juga ingin menghadirkan teror yang lebih halus dan terasa, bukan sekadar mengandalkan kejutan sesaat. "Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya," ujarnya. Pendekatan ini membuat filmnya terasa lebih imersif.

​Melalui film ini, sosok Penebok diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore Indonesia. Tidak sekadar menjadi elemen teror, Penebok merepresentasikan kekuatan mitos lokal yang jarang diangkat ke layar lebar. Dengan visual yang khas dan latar cerita yang kuat, Penebok dihadirkan sebagai simbol ketakutan yang berbeda, bukan hanya menyeramkan, tetapi juga memiliki kedalaman budaya.

​Sebagai aktor senior Indonesia, Mathias Muchus menilai bahwa kehadirannya dalam The Bell: Panggilan untuk Mati juga berkaitan dengan upaya film ini dalam mengangkat kekuatan budaya lokal melalui sosok Penebok. "Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga memahami," ujarnya.

​Keunikan inilah yang menjadikan The Bell: Panggilan untuk Mati sebagai tontonan yang layak dinantikan. Di tengah banyaknya film horor dengan pola yang serupa, film ini menghadirkan pendekatan yang lebih segar dengan menggabungkan unsur budaya, teror, dan isu kontemporer. Penonton tidak hanya diajak untuk merasakan ketegangan, tetapi juga menyelami cerita yang memiliki makna dan relevansi.

​Film The Bell: Panggilan untuk Mati tidak hanya mengandalkan elemen teror, tetapi juga mengangkat sejumlah isu yang dekat dengan realitas masyarakat saat ini. Salah satu isu utama yang diangkat adalah fenomena obsesi terhadap konten dan viralitas di era digital, di mana generasi muda kerap menjadikan apa pun sebagai bahan hiburan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Tindakan mencuri benda keramat demi konten dalam film ini menjadi refleksi dari kecenderungan tersebut, sekaligus kritik terhadap budaya sensasi yang semakin ekstrem.

​Selain penayangannya di dalam negeri, The Bell: Panggilan untuk Mati juga akan memperluas jangkauan internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12–20 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan film The Bell: Panggilan untuk Mati ke sineas global.

​Tonton The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026, dan jadilah penonton yang tidak hanya menikmati keseruannya, tetapi juga memahami kisahnya! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film ini di Instagram @thebell.film

SINOPSIS

Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.


Cast dan Filmmaker

  • Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli
  • Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan
  • Sutradara : Jay Sukmo
  • Penulis : Priesnanda
  • Co-Produser : Agus Suhardi
  • Lini Produser : Ipunk Purwono
  • DoP : Indra Suryadi
  • Cast : Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi (Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi).
  • Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026

Tentang Sinemata Buana Kresindo

​Sinemata Buana Kresindo merupakan kolaborasi dari dua perusahaan kreatif, yaitu Multi Buana Kreasindo (MBK Productions) dan Sinemata Productions, yang menyatukan kekuatan di bidang pengembangan konten, produksi, hingga distribusi film. Berangkat dari pengalaman MBK dalam storytelling dan strategi komunikasi berbasis konten, serta perjalanan Sinemata sebagai agensi marketing film yang berkembang menjadi produser dan distributor, kolaborasi ini hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam industri perfilman. Melalui Sinemata Buana Kresindo, keduanya berkomitmen menghadirkan karya yang relevan, kuat secara cerita, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui kolaborasi strategis di industri kreatif Indonesia.

Tentang OST Film

"Penuh Kenangan" merupakan original soundtrack (OST) dari film The Bell: Panggilan untuk Mati yang dibawakan oleh Egha De Latoya. Lagu ini menghadirkan nuansa emosional yang kuat, mengangkat tema kesetiaan, harapan, dan keyakinan dalam cinta di tengah ketidakpastian. Tidak hanya sebagai pelengkap film, "Penuh Kenangan" juga berperan memperkuat narasi dan pengalaman emosional penonton melalui lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, aransemen yang menyentuh, serta karakter vokal yang penuh penghayatan. Didistribusikan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Langit Musik, lagu ini menyasar penikmat film dan musik digital, khususnya generasi muda. Promosinya didukung oleh strategi digital yang terintegrasi, mulai dari kolaborasi dengan kampanye film, aktivasi media sosial, hingga kerja sama dengan influencer.

​Diproduksi bersama RPM Music sebagai label yang berpengalaman di industri musik digital, "Penuh Kenangan" juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand dan partner melalui bentuk sponsorship, campaign, serta aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran lagu ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara musik, film, dan audiens secara lebih luas.

Mirisnya Nasib Zee Asadel: Taaruf karena Niat Ibadah, Malah Jadi Ujian Batin Gara-gara "Dianggurin"

Bagi kita yang pernah mengecap indahnya dunia pesantren atau tumbuh dengan nilai-nilai religi, konsep pernikahan itu sakral banget. Istilahnya: Ibadah Terpanjang. Apalagi buat santriwati seperti Amira (Zee Asadel), melayani suami bukan cuma soal kewajiban, tapi "jalur cepat" menuju rida Allah.

​Ekspektasinya? Begitu akad diucap, dunia serasa milik berdua, pahala mengalir deras lewat sentuhan dan perhatian. Tapi, gimana kalau "ibadah terpanjang" itu justru terasa seperti "ujian tersulit" karena suami nggak kunjung kasih akses alias nggak ada nafkah batin?

​Niatnya Melayani, Realitanya Malah "Dianggurin"

​Sebagai istri yang taat, Amira sudah siap all-out. Dia sudah dandan cantik, belajar masak makanan favorit suami dari sang mertua (Putri Ayudya), sampai menyiapkan hati buat melayani sang imam, Furqon (Emir Mahira). Tapi apa daya, Furqon justru sedingin es di kutub utara.

​Statusnya sih sudah suami-istri sah, tapi ranjang mereka terasa seperti dua pulau yang terpisah samudera. Furqon menolak memberikan nafkah batin, bahkan menyentuh Amira pun enggan. Buat para istri muda, situasi ini pasti bikin insecure parah. Muncul pertanyaan: "Apa aku kurang cantik? Apa aku ada salah?"

​Ternyata, Ada "Hantu" di Antara Mereka

​Yang bikin lebih nyesek dan miris, alasan di balik dinginnya Furqon bukan karena Amira kurang sempurna. Masalahnya klasik tapi mematikan: Belum Move On.

​Furqon ternyata masih menyimpan "unfinished business" dengan masa lalunya, Dara (Ratu Rafa). Bayangkan, Amira yang sudah sah secara agama dan negara, harus kalah saing dengan bayang-bayang masa lalu yang bahkan nggak ada di rumah itu. Benar-benar definisi menang di atas kertas, tapi kalah di dalam ingatan.

​Obat Kuat vs Jalur Langit

​Di film ini, kita bakal lihat betapa "polos" dan desperate-nya Amira menghadapi masalah ranjang ini. Dari mulai curhat ke sahabat yang sarannya malah asbun (asal bunyi), sampai mencoba cara-cara manusiawi lainnya, termasuk kepikiran soal obat kuat! Ia berpikir obat tersebut bisa mengubah sikap sang suami soal urusan nafkah batin.

​Tapi pada akhirnya, Amira mengingatkan kita semua: kalau jalur bumi sudah mentok dan komunikasi sudah macet, satu-satunya cara adalah mengetuk pintu Sang Pemilik Hati. Apakah ini cara yang benar-benar bisa mengakhiri segala masalah rumah tangga Amira?

​Buat kamu yang lagi merasa "berjuang sendirian" dalam pernikahan, atau yang cuma pengen liat gimana gemas sekaligus nyeseknya hubungan Zee dan Emir, film ini adalah self-healing yang pas.

​Saksikan "Kupilih Jalur Langit", drama pernikahan yang bakal bikin kamu gemas, marah, sekaligus banjir air mata. Sudah tayang di seluruh bioskop Indonesia!

​Ikuti terus update terbarunya melalui akun resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.

FILM ZONA MERAH DIPRESENTASIKAN DI CANNES FILM MARKET 2026

Screenplay Films Gandeng Barunson E&A Untuk Penjualan Global Film Zona Merah ​ Jakarta, 29 April 2026 - Film zombie aksi-horor Indones...