Jumat, 27 Maret 2026

Bikin Pangling! Cantiknya Zee Asadel dengan Penampilan Barunya yang Berhijab dan Jadi Santriwati


Siapa sih yang nggak kenal sama Zee Asadel? Aktris jebolan JKT48 yang satu ini selalu sukses mencuri perhatian netizen dengan penampilannya yang stunning dan enerjik. Tapi, gimana kalau tiba-tiba Zee bertransformasi jadi santriwati alim dengan balutan hijab? Penasaran nggak sih?

Ternyata, transformasi drastis Zee Asadel ini bukan tanpa alasan. Usut punya usut, Zee didapuk menjadi pemeran utama dalam film terbaru garapan MD Pictures yang berjudul "Kupilih Jalur Langit". Film ini diangkat dari kisah nyata yang viral di TikTok karya Elizasifaa, kreator konten yang sebelumnya sukses bikin gempar dengan fenomena Ipar Adoloh Maut.

Menjadi Amira: Tantangan Besar bagi Zee Asadel

Dalam film ini, Zee memerankan karakter Amira, seorang santriwati cerdas dan enerjik yang harus berhadapan dengan kenyataan pahit dalam pernikahannya. Berbeda dengan image idol yang melekat pada dirinya, Zee ditantang untuk mendalami pola pikir dan tumbuh kembang karakter Amira yang tumbuh dengan latar belakang religi yang kuat.

Zee sendiri mengaku kalau peran ini cukup menantang baginya. "Sebenarnya nggak terlalu bingung karena aku pernah ngerasain pesantren kilat juga," ungkap Zee. "Tapi, tetap ini peran yang cukup menantang karena harus memerankan karakter yang cara tumbuh kembang dan pola pikirnya berbeda denganku. Di film ini aku ditantang untuk masuk ke pikiran dan hati Amira."



Beradu Akting Bersama Emir Mahir

Tantangan akting ini nggak dihadapi Zee sendirian, ta dipertemukan dengan lawan mainnya yang dijamin sukses bikin baper, Emir Mahira. Kali ini, Emir berperan sebagai suami Amira, Furqon. Bayangin aja, dua aktor muda berbakat ini bersatu dalam sebuah dilema pernikahan muda yang penuh lika-liku. Chemistry mereka berdua dijamin bakal bikin penonton ikut berdilema di dalam bioskop!

Film yang Menggambarkan Saat Ekspektasi Tak Seindah Realita

Kupilih Jalur Langit bercerita tentang Amira (Zee Asadel) yang mengira takdimya sempurna saat dijodohkan dengan Furqon (Emir Mahira), ustadz yang ia kagumi sejak masa pesantren.

Namun, kebahagiaan itu sirna seketika di malam pernikahan mereka. Furqon bersikap dingin. dan tak kunjung menyentuh Amira meskipun status mereka sudah sah sebagai suami-istri.

Berbagai prasangka pun mulai menghantui pikiran Amira: apakah suaminya memiliki rahasia besar, atau justru ada perempuan lain yang diam-diam masih bertahta di hati Furqon? Inilah titik di mana Amira harus berjuang melalui "jalur langit".

Daftar Pemain & Jadwal Tayang

Film garapan sutradara Archie Hekagery ini didukung oleh deretan aktor ternama lintas generasi: Zee Asadel sebagai Amira, Emir Mahira sebagai Furqon, dan nama-nama lainnya. seperti Ratu Rafa, Ardit Erwandha, Neneng Risma Wulandari, Surya Saputra, Putri Ayudya, Dina Lorenza, dan Irgi Fahrezi.

Penasaran nggak sih sama akting Zee Asadel sebagai santriwati alim? Jangan lewatkan. transformasi emosional Zee Asadel dalam "Kupilih Jalur Langit" yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 23 April 2026. Ikuti terus update terbarunya melalui akun resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Siap Syuting! Pertama Kali di Layar Lebar: Pesugihan Bertemu Eksorsisme Katolik dalam Pertarungan Iman Terbesar

Jerome Kurnia dan Lukman Sardi Kembali Bersatu sebagai Duo Romo, Siap tayang tahun ini di bioskop Indonesia!

Jakarta, 27 Maret 2026 - Pesugihan adalah salah satu rahasia gelap yang tersimpan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kepercayaan bahwa manusia bisa menjual jiwanya demi dunia bukan hanya ada dalam satu tradisi iman, ia hidup di hampir setiap lapisan masyarakat.

Kini, untuk pertama kalinya, film Kuasa Gelap Perjanjian Darah menghadirkan konfrontasi yang belum pernah ada sebelumnya: iman Katolik berhadapan langsung dengan pesugihan, dalam sekuel yang skalanya jauh melampaui film pertamanya.

Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment secara resmi mengumumkan Kuasa Gelap Perjanjian Darah, sekuel dari Kuasa Gelap (2024) yang sukses meraih lebih dari 1.4 juta penonton di bioskop Indonesia, terjual ke 53 negara, dan menduduki peringkat teratas di Netflix Indonesia pada awal 2025. Syuting dimulai April 2026.

Film ini disutradarai oleh Rizal Mantovani, sutradara senior di balik sejumlah film horor Indonesia paling berpengaruh. Naskah ditulis oleh Andri Cahyadi dan Robert Ronny, dengan Robert Ronny dan Prima Taufik sebagai produser, serta Andi Boediman sebagai produser eksekutif. Produksi didukung oleh Legacy Pictures, WOW Multinet Pictures, dan Virtuelines Entertainment.

Jerome Kurnia dan Lukman Sardi kembali sebagai Romo Thomas dan Romo Rendra, dua karakter yang telah menjadi ikon baru film horor religi Indonesia. Bergabung bersama mereka adalah sederet wajah baru: Venly Arauna (Daniel), Keysha Angelica (Nia). Sisca Saras (Suster Aloysia Muda), Lydia Kandou (Suster Aloysia), Kiki Narendra (Romo Wicaksana), Ferry Salim (Halim), Feby Febiola (Linda). dan Faiz Vishal (Bayu).

"Kuasa Gelap Perjanjian Darah mengangkat tema yang belum pernah hadir di layar lebar Indonesia: pesugihan dari sudut pandang iman Katolik. Pesugihan bukanlah sekedar fiksi atau takhayul semata. Ini adalah kenyataan yang masih terjadi di banyak daerah di Indonesia. Dan bukan hanya satu jiwa yang dipertaruhkan, tapi keselamatan seluruh desa," ujar produser Robert Ronny

"Saya merasa tertantang sekaligus terhormat dipercaya menyutradarai film ini. Di Perjanjian Darah, pertarungan imannya jauh lebih brutal. Kedalaman tema film ini jauh melampaui film pertama, ungkap sutradara Rizal Mantovani.

Lukman Sardi, yang memerankan Romo Rendra, mengungkapkan antusiasmenya kembali ke IP Kuasa Gelap. Baginya, Perjanjian Darah akan membuka lapisan baru dari karakter yang ia perankan. "Romo Rendra akan mengalami cobaan iman terbesar, sesuatu yang sangat manusiawi," ujar Lukman Sardi. 

"Romo Thomas adalah salah satu karakter favorit yang pernah saya perankan. Dan saya selalu menganggap peran Romo Thomas sebagai blessing bagi saya," ujar Jerome Kurnia.

"Pesugihan adalah kenyataan sosial Indonesia yang selama ini tersimpan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika manusia memilih perjanjian dengan kegelapan, siapa yang bisa memutusnya? Film ini adalah jawaban kami," kata produser eksekutif Andi Boediman.

Ikuti perkembangan terbaru film horor eksorsisme persembahan Paragon Pictures & Ideosource Entertainment, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, melalui media sosial resmi @kuasagelap.id. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia di tahun ini.

Setelah Keliling Festival Dunia, Yohanna Akhirnya Tayang di Indonesia 9 April 2026 Di Bioskop


Jakarta, 26 Maret 2026 - Setelah menempuh perjalanan panjang di berbagai festival film internasional sejak 2024, film Yohanna karya sutradara Razka Robby Ertanto (Ave Maryam, Jakarta vs Everybody) akhirnya siap tayang di bioskop Indonesia mulai 9 April 2026.

Dibintangi oleh Laura Basuki, Yohanna mengisahkan seorang biarawati muda yang dikirim dalam misi kemanusiaan ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, pasca Badai Tropis Seroja. Misi tersebut berubah menjadi perjalanan penuh ujian ketika truk berisi bantuan yang ia bawa dicuri. Situasi ini memaksanya terjun langsung menghadapi realitas sosial yang keras, mulai dari kemiskinan, korupsi, hingga eksploitasi anak, yang perlahan mulai mengguncang imannya.

Yohanna memulai debut dunia di International Film Festival Rotterdam ke-53 pada Januari 2024, dalam kompetisi VPRO Big Screen Award. Sejak itu, film ini terus melanjutkan perjalanannya ke berbagai festival internasional, termasuk Jakarta Film Week 2024 sebagai pemutaran perdana di Indonesia dan meraih Best Direction Award di festival ini. Prestasi gemilang diraih di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-19 dengan membawa pulang lima penghargaan, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik. Film ini juga terpilih sebagai Official Selection Adelaide Film Festival 2025 di Australia.

Pencapaian internasional lainnya datang dari Laura Basuki yang meraih penghargaan Best Actress di Asian Film Festival 2025 di Roma, Italia. Pada Februari 2025, Yohanna juga dinobatkan sebagai Film Pilihan Tempo 2024 sekaligus mengantarkan Laura Basuki meraih Aktris Pilihan Tempo dalam Festival Film Tempo 2024.

“Perjalanan Yohanna ke festival-festival dunia adalah proses yang sangat berarti, tapi tujuan akhirnya memang untuk bisa kembali dan bertemu penonton Indonesia. Film ini adalah refleksi tentang kemanusiaan, tentang apa yang terjadi ketika keyakinan kita diuji oleh kenyataan yang tidak selalu hitam putih.” ujar Razka Robby Ertanto.

Robby juga mengaku jika kisah ini juga bukan hanya sekadar kisah seorang biarawati tapi tentang kita sebagai manusia saat menghadapi berbagai realitas.

“Sejak awal, saya ingin Yohanna terasa sangat dekat dengan kita sebagai manusia. Ini bukan hanya tentang seorang biarawati, tapi tentang bagaimana seseorang menghadapi realitas yang tidak selalu sesuai dengan keyakinannya. Banyak hal yang kita anggap benar bisa goyah ketika berhadapan langsung dengan kehidupan. Lewat film ini, saya ingin mengajak penonton melihat bahwa di balik semua itu, selalu ada ruang untuk memahami, berempati, dan memilih terhadap apa yang kita yakini” tambah Robby.

Sementara itu, Laura Basuki sebagai pemeran Yohanna Laura Basuki, karakter Yohanna menjadi salah satu peran paling berkesan dalam kariernya.

“Peran ini membawa saya ke pengalaman yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, baik secara fisik maupun emosional. Saya berinteraksi sangat dekat dengan anak-anak di Sumba, bahkan ada adegan naik kuda yang menjadi pengalaman baru yang menantang, seru dan menyenangkan. Tapi dari semua proses itu, saya mendapat pelajaran berharga untuk memahami sisi kemanusiaan Yohanna, bahwa dia bukan sosok yang sempurna, melainkan seseorang yang terus belajar memahami hubungannya dengan Tuhan dan kehidupan di sekitarnya.” papar Laura.

Selain dibintangi oleh Laura Basuki, film Yohanna juga menghadirkan Jajang C Noer, Kirana Grasela, dan Iqua Tahlequa, serta melibatkan anak-anak Sumba sebagai bagian penting dalam cerita.


Film ini merupakan hasil kolaborasi produksi antara Indonesia, Inggris, dan Italia di bawah naungan Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film. Seluruh proses pengambilan gambar dilakukan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk menghadirkan latar yang autentik sekaligus memperkuat kedekatan cerita dengan realitas setempat. Yohanna juga telah mendapatkan klasifikasi Semua Umur, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan penonton. Film ini akan tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 9 April 2026.

Film Na Willa Tembus 520 Ribu Lebih Penonton! Ramai-Ramai Aktor Dukung Na Willa, Sebut Film Keluarga Indonesia Terbaik! El Putra Sarira, Eva Celia, hingga Devano Puji Berikan Berbagai Pujian

Ada kisah nyata penulis Reda Gaudiamo dan Geng Krembangan yang menyentuh

Jakarta, 27 Maret 2026 - Lebih dari sekadar film, Na Willa menjadi pengingat bahwa Na Willa adalah kita, bagian dari diri yang pernah sederhana, penuh rasa ingin tahu, dan tahu cara merasa bahagia dari hal-hal kecil. Keajaiban sinema Visinema Studios dan sutradara Ryan Adriandhy belum terhenti! Terbaru, melalui film Na Willa, yang berhasil meraih 520 ribu lebih penonton di bioskop Indonesia.

Respons emosional datang dari berbagai kalangan, termasuk para aktor dan figur publik yang ikut merasakan kedekatan personal dengan cerita Na Willa. El Putra Sarira mengaku tersentuh hingga menangis saat menyaksikan film ini.

"Nonton dua kali, hati saya selalu tersentuh. Penggambaran ulat menjadi kupu-kupu kena sekali di hati saya sebagai anak yang bertumbuh. Heartwarming sekali, hati saya sangat happy sekali menontonnya dan satu hal yang paling saya benci kenapa saya harus menangis di film ini. Saya kayak diajak lagi balik ke masa kecilku, baca-baca di pasar dan lihat ayam-ayam kecil. Bahagia bareng Na Willa di bioskop," kata El Putra Sarira tentang film Na Willa.

El Putra Sarira dan 520 ribu lebih penonton telah merasakan kehangatan yang dibawa di Dunia Na Willa. Keempat aktor cilik, Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy menjadi idola baru bagi para penonton dewasa dan anak-anak.

Salah satu yang turut membagikan kesan menggemaskan dari akting pemeran anak di film Na Willa adalah akun X @ppwiyoon, yang menonton film ini bersama Ibunya, yang juga merupakan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan merupakan kelahiran tahun '60-an, seperti yang menjadi latar waktu di film Na Willa.

"Kemarin nonton Na Willa sama mamah, beliau guru PAUD dan kelahiran 6oan juga. Sepanjang film sering nyengir lihat tingkah LUCU Willa dkk, pas scene di TK Djuwita, mamah langsung nyenggol 'kaya murid mamah tuh tiap pagi minta pelukk," kata akun X @ppwiyoon.

Selain El Putra, aktor yang juga memberikan kesan baik dan turut mendukung film Na Willa adalah Devano, Eva Celia, hingga Baila no na. Eva Celia sendiri sangat terharu dengan film Na Willa hingga ia menangis usai menonton film ini, sama seperti El Putra.

Bagi Devano dan Baila no na, Na Willa adalah film terbaik sepanjang masa. "Ya Ampun! Ini film terbaik sepanjang masa! Bagus banget," kata Devano tentang Na Willa, yang menontonnya bersama Baila no na.

Sutradara Riri Riza, yang telah sukses dengan film anak seperti Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi sendiri memuji sutradara Ryan Adriandhy, karena telah berhasil mewujudkan keistimewaan cerita ini.

"Menurutku, novel Na Willa adalah buku yang khusus, istimewa. Tapi ketika Ryan memfilmkannya, dia menjadi sebuah film yang bukan hanya istimewa dalam artian cara berceritanya, tetapi juga kedekatannya dengan perasaan," kata Riri Riza.

Kisah Nyata Sang Penulis dan Teman-Temannya

Cerita Na Willa terasa sangat dekat dengan masa kecil banyak anak-anak yang kini telah beranjak dewasa. Banyak dari penonton yang bernostalgia dengan adegan saat Na Willa berjalan-jalan di pasar, saat Geng Krembangan memanggil Na Willa untuk bermain, hingga rasa penasaran yang unik khas anak kecil seperti apa yang ada di dalam sebuah radio.

Sebenarnya, kisah Na Willa didasarkan pada kisah nyata sang penulis novelnya, Reda Gaudiamo. Reda pun berbagi cerita tentang suasana Gang Krembangan saat ini, yang menjadi latar utama di film Na Willa.

"Sekarang sangat berbeda. Yang dulu sangat sederhana sebenarnya. Jadi bentuknya dan pagarnya dari kayu. Sekarang sudah dari besi, lalu ada rumah yang pakai tiang-tiang, pakai pilar-pilar. Terus saya bilang, 'Kenapa jadi begitu ya?" Kenang Reda Gaudiamo.

Saat berkunjung kembali ke Gang Krembangan, Reda pun berkunjung ke rumah salah satu sahabatnya, Farida. Reda menceritakan, rumah Farida masih tetap utuh seperti dulu.

"Tetap besar dan bahkan sekarang punya pohon yang lebih banyak. Tanaman yang lebih banyak, karena Farida ternyata sangat suka dengan tanaman," cerita Reda.

Reda pun bertemu dengan sosok Farida asli pada 2023. Saat itu, ia tengah berkegiatan di Surabaya, dan akhirnya menjumpai teman lamanya tersebut. Pertemuan itu pun sangat hangat.

"Saya iseng-iseng tanya apakah ada yang namanya Bu Farida di sini? Ternyata dia langsung muncul. Lalu saya bilang, Eh, kamu masih ingat nggak sama saya? Saya bilang gitu. "Saya dulu tinggal di seberang, terus saya menyebutkan nama kecil saya gitu. Lalu dia berteriak dan bilang, 'Kamu ya! Katanya kamu waktu itu perginya cuma sebentar, ini balik-balik ini kita sudah sama-sama tua! Tiru Reda sambil tertawa.

Namun, di balik pertemuan kembali sosok asli Na Willa dan Farida, juga menyimpan kisah haru saat Reda akhirnya mengetahui salah satu temannya, Dul, telah meninggal Dunia. Sementara Bud, kini telah pindah dari Gang Krembangan.

Penulis dan sutradara Na Willa, Ryan Adriandhy, juga mengucapkan terima kasih ke penonton karena telah menyaksikan perjalanan bertumbuh bersama Na Willa dan ikut mencoba menjadi anak-anak.

"Saya sangat sangat berterima kasih kepada kalian yang pergi ke bioskop dan mau menemui Na Willa dalam dunianya, dan juga dengan baik hati mau berempati padanya dengan menempatkan diri sepenuhnya pada posisinya, di usianya, mencoba melihat dari sudut pandangnya, serta mau memahami bobot "konflik" yang harus ia lalui tanpa memaksakan standar kacamata dewasa mengenai apa yang pantas disebut "masalah". Terima kasih karena telah bersikap lembut kepada anak-anak di dalam cerita, tanpa memaksakan bagaimana mereka "seharusnya bergerak agar kisahnya menghibur kita para dewasa. Terima kasih untuk kasih sayangnya," kata Ryan Adriandhy.

Sejak tayang di bioskop, Na Willa telah memunculkan banyak diskusi para penonton. Mulai dari pola asuh orangtua (parenting) yang diterapkan karakter Mak, hingga memunculkan tren tentang rekomendasi buku anak bagus yang cocok menjadi bacaan. Banyak penonton yang telah tersentuh dengan karakter Na Willa dan Geng Krembangan. Para penonton merasa menjadi bagian dari Dunia Na Willa, dan menjadi bagian dari #NaWillaadalah Kita.

Saatnya Bahagia Bareng Na Willa di bioskop seluruh Indonesia! Tonton film Na Willa di bioskop sekarang!

Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.

Catatan Produksi:
Judul Film : Na Willa
Genre : Drama,Keluarga
Sutradara: Ryan Adriandhy
Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem
Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari
Ko-Produser : Mia A. Santosa
Produser Lini : Tersi Eva Ranti
Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda
Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya
Sinematografer : Yadi Sugandi
Desainer Produksi : Sri Rini Handayani
Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak
Penata Rias : Notje M. Tatipata
Penata Suara : Siti Asifa Nasution
Penyunting : Teguh Raharjo
Komposer : Ofel Obaja
Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Kamis, 26 Maret 2026

Film "Aku Harus Mati" Ajak Penonton Refleksi Diri Tentang Ambisi dan Validasi

"REFLEKSI DIRI, KAYA HASIL KERJA KERAS ATAU PESUGIHAN?"
Sukses Hasil Kerja Keras atau Pesugihan?

JAKARTA, 26 Maret 2026 - Di era di mana flexing media sosial jadi tolok ukur kesuksesan, banyak dari kita yang akhirnya terjerat hutang demi menuruti ego dan nafsu belaka, hingga lupa akan konsekuensi yang harus dibayar.

Melalui film "Aku Harus Mati", Rollink Action bersama Executive Producer Irsan Yapto dan Nadya Yapto, mempersembahkan film horor yang tak hanya menjual kengerian, namun juga sebagai refleksi diri dan sekitar akan bahaya sebuah ambisi. Film horor misteri garapan sutradara Hestu Saputra dan penulis Aroe Ama ini akan menantang nurani penonton mulai 2 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia.

"Di era modern, banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui oleh lingkungan. Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai kesuksesan. Film "Aku Harus Mati" akan mengajak kita untuk berpikir, apakah mereka yang rajin flexing di media sosial, murni sukses hasil kerja keras atau malah hasil pesugihan?" kata Irsan Yapto, Executive Producer.

Berkisah tentang Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terlena akan validasi setelah mencicipi kehidupan glamor di kota besar yang membuat Mala terjebak hutang hingga dikejar debt collector. Berusaha lari dari kenyataan, Mala kembali ke panti asuhan tempatnya dibesarkan untuk menemui sahabat lamanya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta sosok orang tuanya, Ki Jogo (Bambang Paningron).


Sesampainya di panti, Mala mendapati bahwa dirinya dalam bahaya. Bersama kedua sahabatnya, Mala melakukan perjalanan penuh misteri untuk menguak rahasia gelap masa lalu sebuah keluarga yang menjadi kunci utama untuk menemukan jati dirinya yang hilang. 

"Lewat film "Aku Harus Mati", kami ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali. bagaimana ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah. Film ini menjadi pengingat bahwa keindahan dunia sering kali menipu. Ketahuilah, kesuksesan sejati seharusnya datang dari proses kerja keras dan integritas, bukan dari jalan pintas yang pada akhirnya bisa menghancurkan diri sendiri dan orang sekitar." ujar Hestu Saputra, Sutradara.


Daftar Pemeran & Produksi
Produksi: Rollink Action
Eksekutif Produser: Irsan Yapto & Nadya Yapto
Sutradara: Hestu Saputra
Penulis Naskah: Aroe Ama

Pemeran Utama:
Hana Saraswati sebagai Mala
Amara Sophie sebagai Tiwi
Prasetya Agni sebagai Nugra
Mila Rosinta sebagai Nilam
Bambang Paningron sebagai Ki Jago

Siapakah yang akhirnya akan dikorbankan? Siapa sebenarnya pemegang perjanjian iblis tersebut? Temukan jawabannya dalam "Aku Harus Mati", hanya di bioskop mulai 2 April 2026.

Rabu, 25 Maret 2026

Lagu OST dan Video Lirik "Pelangi di Mars" Dirilis Perluas Pengalaman Imajinasi Anak di Luar Layar


Jakarta - Setelah tayang serentak di bioskop, film sci-fi keluarga Pelangi di Mars memperluas pengalaman penonton terhadap semestanya melalui peluncuran original soundtrack (OST) film Pelangi di Mars yang bertajuk "Warnai Pelangi".

Mulai tanggal 24 Maret, lagu yang diciptakan oleh Upie Guava dan dinyanyikan oleh Messi Gusti dan Marclesia Karim itu sudah bisa didengarkan di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan TikTok.

Selain kehadiran lagunya, "Warnai Pelangi" juga hadir dalam bentuk video lirik yang memadukan lirik lagu, potongan adegan film, serta cuplikan reaksi penonton. Pendekatan tersebut dihadirkan untuk membawa kembali penonton pada momen momen dalam cerita, sekaligus memperkuat semangat petualangan, persahabatan, dan imajinasi yang menjadi inti film.

Produser Dendi Reynando mengatakan bahwa kehadiran cuplikan film dalam video lirik. bertujuan untuk memperkuat momen emosional antara lagu dan cerita dalam film. "Kami sengaja menghadirkan potongan film supaya penonton bisa mengingat momen-momen dalam cerita, yang mungkin menjadi favorit mereka," katanya. kembali

la menambahkan, lagu ini menjadi bagian dari cara kami mengajak anak-anak berimajinasi. "Warnai Pelangi lahir dari semangat anak-anak yang sederhana tapi penuh imajinasi," ujar Dendi.


Messi Gusti yang memerankan tokoh Pelangi dan membawakan soundtrack di film ini, mengatakan bahwa lagu ini membawa pesan tentang harapan dan tetap yakin mengejar mimpi. "Aku berharap teman-teman bisa merasakan semangat Pelangi yang terus bermimpi dan pantang menyerah," kata Messi.

Pelangi di Mars Sedang Tayang di Bioskop!

Film ini berkisah tentang Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, karena ia terdampar bersama ibunya, Pratiwi. Bersama teman-teman robotnya, Batik, Yoman, Sulil, Kimchi dan Petya, Pelangi melanjutkan misi ibu Pratiwi untuk menemukan mineral bernama Zeolit Omega yang dapat menjadi solusi untuk krisis air bersih di Bumi dan bertemu dengan ayah Pelangi.

Dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Myesha Lin, Rio Dewanto, dan Livy Renata, serta didukung suara ikonik dari Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo, Vanya Rivani, hingga Dimitri Arditya, film ini siap menjadi pengalaman menonton yang tak terlupakan.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan ikuti akun @pelangidimars dan @mahakaryapictures.

Selasa, 24 Maret 2026

Film “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?” Resmi Luncurkan Poster Perdana, Siap Tayang 9 April 2026


Jakarta, 24 Maret 2026 — Film drama keluarga “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?” resmi meluncurkan poster perdana sebagai langkah awal menuju penayangan di bioskop pada 9 April 2026.

Diproduksi oleh Five Elements Pictures dan Kults Creative, film ini disutradarai oleh Kuntz Agus dan ditulis bersama Oka Aurora. Film ini juga diproduseri oleh Ody Mulya dan Soemijato Muin. Film ini diangkat dari buku yang fenomenal dengan judul yang sama karya Khoirul Trian.

Dibintangi oleh Mawar Eva De Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Baskara Mahendra, Unique Priscilla, Kiara McKenna, Dinda Kanya Dewi, dan Azami Syauqi yang mengangkat kisah Dira.

Poster perdana yang telah dirilis menghadirkan nuansa emosional yang menggambarkan Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? kehangatan sekaligus kerapuhan sebuah keluarga.

Poster Perdana Resmi Dirilis 
Sebagai langkah awal menuju penayangan, film ini telah resmi meluncurkan poster perdana yang menampilkan nuansa emosional dan atmosfer keluarga yang hangat sekaligus rapuh. Poster ini menjadi gambaran awal dari konflik yang akan dihadapi para karakter dalam film.
Tentang Film “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?” mengangkat kisah Dira, seorang anak perempuan yang tumbuh bersama ayah yang selalu ada secara fisik, namun tak pernah benar-benar hadir secara emosional.


Dira dan Darin dibesarkan di sebuah rumah sekaligus warung yang terlihat hangat dari luar, namun menyimpan banyak diam dan janji yang tak pernah terpenuhi. Sang ibu, Lia, bekerja tanpa lelah demi menjaga keluarga tetap utuh, sementara sosok ayah, Yudi, hadir tanpa mampu memberikan peran yang berarti.

Kenangan masa kecil yang sederhana perlahan berubah ketika sebuah insiden menghancurkan stabilitas keluarga. Peristiwa ini membuka tabir kenyataan: utang yang menumpuk, ketidakpastian masa depan, dan luka emosional yang selama ini tersembunyi.

Dalam situasi krisis tersebut, Dira dipaksa tumbuh lebih cepat, mengambil peran orang dewasa, dan mencari arah hidup yang tak pernah ia dapatkan dari sosok yang paling ia rindukan—ayahnya sendiri.

SINOPSIS :
Bahasa Indonesia 
Seorang anak perempuan tumbuh serumah dengan ayah yang selalu ada namun tak pernah benar-benar hadir, ketika krisis keluarga memaksanya menanggung beban orang dewasa, ia harus belajar hidup tanpa arah yang seharusnya datang dari sosok yang paling ia rindukan: ayahnya sendiri.

Dira dan Darin tumbuh di bawah atap “Soto Bu Lia”: sebuah rumah-warung yang tampak akrab dari luar tapi dipenuhi bisu—kata-kata yang tak sempat diucap dan janji-janji yang selalu meleset. Yudi ada di sana, tapi kehadirannya tidak pernah memberi arah; Lia bekerja tanpa henti, menutupi utang dan luka keluarga agar tampak utuh untuk anak-anaknya. Kenangan awal mereka manis dan sederhana, namun di bawahnya tersimpan kekosongan yang menunggu pemicu.

Segalanya berubah saat sebuah insiden domestik, ledakan kompor yang brutal menghantam langsung rutinitas keluarga: Lia terluka parah, penopang utama rumah tangga runtuh. Lalu rumah menjadi rumah sakit darurat, dan beban biaya medis menjulang. Momen itu membuka pintu ke kerapuhan yang selama ini disembunyikan: utang yang menumpuk, ketidakpastian, dan kebenaran yang tak lagi bisa ditutup dengan senyum. Dari situ kehidupan keluarga yang semula berputar dalam kebiasaan dipercepat menjadi darurat, dan Dira ditarik ke garis depan perjuangan.

Bahasa Inggris
A young girl grows up in the same household as a father who is always present, yet never truly there. When a family crisis forces her to carry adult responsibilities, she must lear

Dira and Darin grow up under the roof of “Soto Bu Lia,” a home-turned-eatery that appears warm from the outside but is filled with silence words left unspoken and promises that are constantly broken. Yudi is there, but his presence never offers direction; Lia works tirelessly, concealing debt and family wounds to keep the family looking whole for her children. 

Their early memories are sweet and simple, yet beneath the Everything changes when a domestic incident a brutal stove explosion shatters the family’s routine. Lia is severely injured, and the household’s main support collapses. The home turns into an emergency infirmary as medical expenses rise. That moment opens the door to long- hidden fragility: mounting debt, concealment, and truths that can no longer be covered with a smile. From then on, a family life once driven by routine is thrust into crisis, and Dira is pulled to the front line of the struggle.

Genre Film : Drama Keluarga
Produser : Ody Mulya, & Soemijato Muin
Sutradara : Kuntz Agus
Penulis : Oka Aurora & Kuntz Agus
Produksi : Five Elements Picture & Kults Creative
Casts : Rey bong, Mawar De Jongh, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Kiara Mckenna, Dinda Kanya Dewi, Azami Syauqi

Minggu, 22 Maret 2026

Puisi Suami Suzzanna, Clift Sangra untuk Ratu Horor: Aku Takut Lupa Suaramu yang Paling Sederhana

Clift Sangra bermain di film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa. 
Tonton di bioskop saat ini

Jakarta, 22 Maret 2026 — Aktor legendaris Clift Sangra mengenang mendiang istrinya, sang Ratu Horor Indonesia, Suzzanna. Clift, saat ini bermain di film waralaba adaptasi IP legendaris SUZZANNA, SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa, bersama Luna Maya dan Reza Rahadian yang diproduksi Soraya Intercine Films dan diproduseri Sunil Soraya.

Dalam sebuah puisi yang ditulis Clift, ia mengenang masa-masa bersama sang istri dan menuliskan pesan yang menyentuh. Clift menulis ia sangat merindukan sosok Suzzanna dan momen kebersamaan mereka.

"Andai kau ada di sampingku saat ini, aku mungkin tak akan banyak bicara. Karena sejak kau pergi, aku sangat merindukanmu," tulis Clift Sangra dalam puisinya.

"Orang-orang mengenangmu sebagai legenda ratu horor Indonesia. Sebagai sosok yang menghantui layar. Tapi bagiku, kau hanyalah perempuan yang tertawa pelan di ruang tamu. Yang menggenggam tanganku lebih erat saat dunia terasa berat," lanjut Clift.

Clift dan Suzzanna sendiri kerap bermain bersama dalam satu layar pada masanya. Beberapa di antaranya judul legendaris seperti Sangkuriang (1982), Nyi Blorong (1982), Perkawinan Nyi Blorong (1983), dan Ajian Ratu Laut Kidul (1991). Kini, bertaut puluhan tahun sejak kepergian Suzzanna, Clift ikut menghidupkan kembali legacy istrinya.


Uniknya, di film terbaru SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa, Clift bermain sebagai Bisman, tokoh yang menjadi 'lawan' Suzzanna di film. Suatu hal yang berbeda dengan masa terdahulu saat mereka kerap menjadi pasangan.

"Mereka takut pada tatapanmu di layar. Aku justru takut pada satu hal: takut lupa suara tawamu yang paling sederhana," kata Clift.

Dalam sebuah puisi romantis Clift untuk Suzzanna, ia juga menuliskan pesan yang menyentuh tentang cinta sejati. "Waktu boleh memisahkan ragamu dariku, tapi cintaku tak pernah belajar cara berpamitan," kata Clift.

"Terima kasih sudah memilihku sebagai rumahmu. Dan maaf, karena sampai hari ini aku masih belum siap hidup tanpa bayanganmu," tutup Clift.

Ia pun mengajak penonton Indonesia dan para fans sejati Suzzanna untuk menonton film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa sebagai cara untuk mengabadikan legacy dan karya-karya Suzzana.

"Suzzanna, karyamu kekal abadi. Tepat lebaran tahun ini, bersama lintas generasi, rayakan lebaran di bioskop bersama Bunda Suzzanna."

Diproduseri oleh Sunil Soraya, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menjadi produksi Soraya Intercine Films yang didukung oleh Legacy Pictures dan Navvaros Entertainment, menghidupkan kembali IP horor paling legendaris Indonesia untuk menghibur penonton di libur Lebaran!

Tonton horor kolosal mewah dalam film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa mulai 18 Maret 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti informasi terbaru melalui Instagram resmi @sorayaintercinefilms dan @filmsuzzanna.official.

Sinopsis

Suzzanna (Luna Maya) dicintai oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam. Namun, karena haus kekuasaan, Bisman malah menyantet ayah Suzzanna hingga tewas. Dendam atas kematian sang ayah pun mendorong Suzzanna mempelajari ilmu Santet. Ketika balas dendam, Suzzanna menyadari kekuatan Bisman jauh lebih besar dari yang ia duga. Di tengah perjalanan, ia jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), pria taat agama yang tak mengetahui rahasianya. Hingga akhirnya, Suzzanna dihadapkan pada pilihan: meneruskan dendam, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta!

Catatan Produksi:

Judul Film : SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa
Produksi : Soraya Intercine Films
Sutradara : Azhar Kinoi Lubis
Penulis : Ferry Lesmana, Jujur Prananto & Sunil Soraya
Produser : Sunil Soraya
Genre : Horor-Aksi
Pemain : Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra, Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, Andi/Rif, Budi Bima, Aziz Gagap, Ence Bagus, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.

Jumat, 20 Maret 2026

Laleilmanino Membawa Kebahagiaan Lewat Lagu dan Video Musik OST Na Willa "Sikilku Iso Muni"


Jakarta, 20 Maret 2026 — Film terbaru persembahan Visinema Studios, Na Willa telah tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Maret 2026 dan terbukti berhasil membuat semua penontonnya keluar dengan bahagia. Salah satu alasannya adalah hadirnya lagu dan adegan musikal dalam filmnya. Lagu berjudul "Sikilku Iso Muni" yang ditulis oleh trio Laleilmanino sukses membuat penonton bersenandung.

Mulai tanggal 19 Maret, Original Motion Picture Soundtrack film Na Willa "Sikilku Iso Muni" sudah bisa didengarkan di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan TikTok. Lagu yang dinyanyikan oleh Luisa Adreena dan Azamy Syauqi dengan diiringi oleh Laleilmanino memberikan suasana hidup dengan musik yang ceria.

Selain kehadiran lagunya, Sikilku Iso Muni juga hadir dalam bentuk video musik yang memperluas pengalaman penonton terhadap dunia Na Willa. Disutradarai oleh Bobby Zarkasih, video musik ini mengusung pendekatan performatif yang menonjolkan mood ceria, fun, dan penuh warna, dengan visual elemen-elemen dunia Na Willa yang dihadirkan secara imajinatif dalam skala besar layaknya diorama. Video musik ini telah resmi dirilis dan dapat disaksikan melalui kanal YouTube Visinema Pictures.

Sebelumnya, video musik ini juga sempat diputar secara eksklusif sebagai kejutan bagi penonton reguler di CGV Grand Indonesia, pada hari ini, Jumat 20 Maret 2026, menghadirkan pengalaman yang lebih spesial bagi mereka yang telah lebih dulu menyaksikan filmnya di bioskop.

"Kami merasa terhormat bisa kembali bekerja sama dengan Ryan Adriandhy dan Visinema Studios untuk "Sikilku Iso Muni". Bagi kami, lagu "Sikilku Iso Muni" ingin memberikan pelajaran pada teman-teman, bahwa kehilangan bukanlah akhir, tetapi merupakan sebuah perjalanan baru," ujar Nino dari Laleilmanino.

Lagu "Sikilku Iso Muni" terinspirasi dari salah satu peristiwa dan dialog yang ada di novel karya Reda Gaudiamo, yang diadaptasi ke dalam film ini. Menurut Ryan, saat ia membaca novelnya, ada salah satu dialog yang sudah membuatnya terbayang bisa diwujudkan menjadi sebuah adegan musikal yang ceria.

"Saat membaca novelnya, ada satu bab ketika Na Willa menjenguk Dul. Bu Reda menuliskan dengan sangat indah sekali. Tulisannya, 'Dul dengan bangga bilang bahwa sikilku iso muni (kakiku bisa berbunyi). Lalu aku dan Dul menyanyi berdua, dan Mak dari pinggir memperhatikanku dengan mata basah.' Ini ada satu momen di novel yang memang tidak dijelaskan mereka nyanyinya seperti apa, namun aku merasa ini adalah jantung cerita yang sayang jika tidak disertakan dalam alih wahana audio visual. Dan menurutku Laleilmanino adalah orang yang tepat untuk menggarapnya," ujar sutradara Ryan Adriandhy.

"Di Na Willa, musik menjadi bagian dari cara kami bercerita. "Sikilku Iso Muni" lahir dari semangat dunia anak-anak yang sederhana tapi penuh imajinasi," tambah Ryan.


Saatnya #Bahagia Bareng Na Willa di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Maret 2026 dan momen Lebaran! Dengarkan "Sikilku Iso Muni" di seluruh platform streaming digital.

Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.

Catatan Produksi:
Judul Film : Na Willa
Genre : Drama, Keluarga
Sutradara : Ryan Adriandhy
Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem
Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari
Ko-Produser : Mia A. Santosa
Produser Lini : Tersi Eva Ranti
Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda
Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya
Sinematografer : Yadi Sugandi
Desainer Produksi : Sri Rini Handayani
Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak
Penata Rias : Notje M. Tatipata
Penata Suara : Siti Asifa Nasution
Penyunting : Teguh Raharjo
Komposer : Ofel Obaja
Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Kamis, 19 Maret 2026

MAGMA Entertainment Rilis Poster Resmi Film 'Badut Gendong': Memperkenalkan Wajah Baru dari Universe Qodrat


Jakarta, 18 Maret 2026 - Rumah produksi MAGMA Entertainment resmi menyingkap tabir misteri dari proyek horor-aksi terbarunya, Badut Gendong, melalui peluncuran official poster. Poster ini menjadi perkenalan perdana bagi publik terhadap entitas mencekam yang digadang-gadang akan menjadi ikon teror baru di perfilman Indonesia, sekaligus memperluas narasi besar dari semesta film Qodrat. Badut Gendong akan mulai diputar tanggal 27 Mei di bioskop seluruh Indonesia.

Visual Mencekam: Tarian Maut dalam Kegelapan

Official poster Badut Gendong menyajikan visual yang provokatif dan penuh teka-teki. Berlatar hutan gelap di bawah pendar bulan yang pucat, Marthino Lio tampil dalam kondisi tak sadar, tubuhnya tampak kaku di bawah kendali kekuatan yang tak terlihat.

Di sisinya, terlihat sosok yang menggunakan topeng mengerikan. Selendang merah panjang melilit dan berputar liar di udara, menciptakan kesan "tarian maut" yang meninggalkan jejak darah di sekelilingnya.

Gestur tubuh yang tampak tidak natural itu membangun aura menyeramkan yang intens bagi siapa pun yang melihatnya. Visual ini menegaskan bahwa Badut Gendong bukanlah sekadar hantu biasa, melainkan entitas misterius yang merasuki dan mengendalikan tubuh manusia untuk menyebarkan petaka.

Perluasan Semesta Qodrat

Film ini disutradarai oleh Charles Gozali, kreator di balik kesuksesan Qodrat. Di mana film ini akan menjadi kepingan penting dalam Universe Qodrat. Film ini memperluas dunia yang telah diperkenalkan sebelumnya, dengan menghadirkan sisi gelap melalui sosok baru, yaitu Badut Gendong yang siap meneror.

Charles Gozali menjelaskan bahwa film ini akan membawa penonton lebih dalam menyelami karakter yang penuh kegilaan sekaligus misteri tersebut. "Film ini akan mengajak penonton untuk mengikuti dan menyaksikan kegilaan karakter ini, dan pada akhirnya mungkin mengerti alasan di balik teror tersebut," ungkapnya.

Produser Linda Gozali mengungkapkan bahwa karakter Badut Gendong akan memperlihatkan dimensi lain dari dunia yang telah dikenal penonton.

"Jutaan orang Indonesia sudah menyaksikan aksi heroik Uztaz Qodrat, sosok superhero baru Indonesia. Kini melalui Badut Gendong, kami ingin mengenalkan sisi lain di balik semesta ini, sosok teror yang akan menghantui universe ini," ujar Linda Gozali.

Jadwal Tayang dan Jajaran Pemain

Bagi penonton yang ingin merasakan atmosfer teror lebih dulu, poster resmi Badut Gendong kini telah tersebar di berbagai jaringan bioskop di seluruh Indonesia. Penonton yang datang ke bioskop pada musim libur Lebaran sudah dapat melihat langsung visual pertama dari sosok misterius ini.

Film Badut Gendong dibintangi oleh Marthino Lio, Derby Romero, Clara Bernadeth, Dayinta Melira, dan Khiva Rayanka. Sebagai bagian dari Universe Qodrat, Badut Gendong akan menghadirkan kombinasi horor yang mencekam, aksi yang intens, serta teror yang tidak berhenti menghantui.

Badut Gendong akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 27 Mei 2026. Tak hanya itu, film ini juga akan tayang secara internasional melalui distributor berbasis Vietnam, Mockingbird Pictures, yang membawa Badut Gendong sebagai salah satu bagian dari lineup mereka di Hongkong FilMart. Ikuti perkembangan terornya melalui media sosial resmi MAGMA Entertainment di @magmaent.

Bikin Pangling! Cantiknya Zee Asadel dengan Penampilan Barunya yang Berhijab dan Jadi Santriwati

Siapa sih yang nggak kenal sama Zee Asadel? Aktris jebolan JKT48 yang satu ini selalu sukses mencuri perhatian netizen dengan penampilannya ...