Dibintangi Ari Irham, Alika Jantinia, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, film horor produksi MBK Productions dan Drias Film Production siap menghantui bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026 dan menjangkau penonton di sejumlah negara Asia Tenggara.
Jakarta, 27 Oktober 2026 — Setelah memperkenalkan atmosfer supranaturalnya melalui teaser trailer pada April lalu, film horor Hajatan Setan resmi merilis trailer dan poster terbarunya. Diproduksi oleh MBK Productions dan Drias Film Production, film yang disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristanto ini membawa penonton lebih jauh ke dalam misteri sebuah kampung terisolasi, tempat ritual turun-temurun menyimpan rahasia kelam yang berkaitan dengan masa lalu sebuah keluarga. Hajatan Setan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026, dengan rencana distribusi di sejumlah negara Asia Tenggara.
Melalui trailer resmi yang dirilis hari ini, Hajatan Setan memperlihatkan lebih banyak petunjuk mengenai hubungan antara ritual misterius, kutukan keluarga, dan rahasia yang tersembunyi di balik sebuah hajatan. Dua kalimat, “Satu Malam, Satu Hajatan” dan “Malam Hajatan, Malam Kematian”, menegaskan bahwa perayaan yang semestinya identik dengan kebahagiaan justru menjadi pintu masuk menuju rangkaian peristiwa mengerikan. Namun, di balik teror yang menyelimuti kampung tersebut, terdapat persoalan yang lebih personal: masa lalu yang belum selesai dan rahasia yang perlahan menuntut untuk diungkap.
Di pusat cerita, Dara (Alika Jantinia), menjadi sosok yang membawa penonton menyusuri lapisan-lapisan misteri tersebut. Terjebak dalam situasi yang tidak sepenuhnya ia pahami, Dara mulai berhadapan dengan berbagai kejanggalan di sekitarnya. Pencariannya perlahan mengarah pada rahasia ibunya, Mbok Darmi (Karina Suwandi) serta keterkaitan keluarga mereka dengan keluarga Santoso (Indra Birowo).
Hubungan antara dua keluarga ini menjadi salah satu simpul penting dalam cerita. Dalam trailer, Santoso dan Mbok Darmi ditampilkan melalui potongan-potongan adegan yang membangun kesan tertentu tentang posisi mereka di tengah peristiwa yang berlangsung. Namun, gambaran yang muncul dari potongan tersebut belum sepenuhnya menjelaskan siapa mereka sebenarnya, apa yang mendorong tindakan mereka, dan bagaimana masa lalu mengikat mereka satu sama lain. Seiring Dara menggali lebih jauh, penonton diajak mempertanyakan kembali kesan awal yang dibangun oleh cerita—tanpa harus mengetahui seluruh jawabannya sebelum menyaksikan film.
Bagi sutradara Bambang Drias dan Eko Kristanto, misteri dalam Hajatan Setan tidak hanya dibangun melalui ritual dan kehadiran makhluk gaib, tetapi juga melalui hubungan antarakarakter dan rahasia yang tersimpan di balik keputusan mereka.
“Bagi kami, salah satu hal yang menarik dari Hajatan Setan adalah bagaimana penonton diajak menyusun sendiri potongan-potongan informasi yang mereka temukan. Apa yang terlihat di permukaan belum tentu menjelaskan keseluruhan persoalan. Melalui perjalanan Dara, penonton akan mengikuti proses terbukanya rahasia sedikit demi sedikit, sekaligus mempertanyakan kembali hal-hal yang sebelumnya mereka anggap benar,” ujar Bambang Drias.
Sebagai protagonis, Dara menjadi perwakilan penonton dalam mengurai hubungan antara masa kini dan masa lalu. Ia bukan hanya berhadapan dengan ancaman yang muncul di kampung tersebut, melainkan juga harus memahami sosok ibu yang selama ini dikenalnya dan rahasia yang mungkin mengubah pandangannya terhadap keluarganya sendiri.
“Dara berada dalam situasi ketika banyak hal di sekelilingnya tidak seperti yang ia bayangkan. Ia ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi, terutama yang berkaitan dengan ibunya dan masa lalu keluarga mereka. Namun, semakin banyak yang ia ketahui, semakin rumit pula persoalan yang harus dihadapinya,” ujar Alika Jantinia.
Di sisi lain, Hajatan Setan juga menghadirkan hubungan Dara dengan Gaung (Ari Irham), kawan masa kecilnya. Di tengah misteri dan ancaman yang terus membayangi, relasi keduanya menghadirkan dimensi emosional yang berbeda. Hubungan mereka menyimpan perasaan yang tidak sederhana, ketika harapan untuk saling mendekat harus berhadapan dengan keadaan yang semakin sulit dan rahasia yang membayangi kehidupan mereka. Unsur kasih tak sampai ini memberi lapisan tragis pada perjalanan Dara dan Gaung, sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman dalam film tidak hanya menyentuh keselamatan, tetapi juga kemungkinan untuk mempertahankan hubungan yang berarti bagi mereka.
Melalui trailer resminya, film ini turut memberi petunjuk mengenai asal-usul ritual dan kepercayaan yang bertahan di kampung tersebut. Sejumlah adegan kilas balik mengisyaratkan terbentuknya sebuah kultus, sementara potongan-potongan cerita lainnya membuka pertanyaan tentang bagaimana keputusan di masa lalu terus memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.
Selain Alika Jantinia, Ari Irham, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, Hajatan Setan turut dibintangi oleh Giselma Firmansyah, Luna Maya, Asri Welas, Bima Zeno, Sita Permata Sari, Tanta Ginting, Abigail Gabriela, Masayu Anastasia, dan Hassan Sule.
Disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristanto, Hajatan Setan ditulis oleh Andhy Pulung, BW Purba Negara dan Vidya T. Ariestya. Film ini diproduseri oleh Rendy Gunawan, Drias, dan Marlia Nurdiyani, dengan Budi Yulianto sebagai produser eksekutif.
Tak hanya menyasar penonton Indonesia, Hajatan Setan juga direncanakan hadir di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Rencana distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan film ini kepada penonton regional, sekaligus memperkenalkan kisah horor yang berangkat dari ritual, kepercayaan, dan rahasia keluarga kepada audiens yang lebih luas.
Ikuti perkembangan terbaru film Hajatan Setan melalui akun media sosial resmi @filmhajatanfilm, @multibuanakreasindo dan @driasfilm menjelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 3 Desember 2026.
Bersiaplah, karena tidak semua perayaan berakhir dengan kebahagiaan...















