Senin, 24 Agustus 2026

Di Balik Teror Horornya, Film Munafik: Melawan Iblis Bicara Trauma dan Keikhlasan, saat Arya Saloka Menjadi Ustaz yang Merukiah Acha Septriasa

Film Munafik: Melawan Iblis tayang mulai 3 September 2026 di bioskop

Jakarta, 24 Agustus 2026 — Unlimited Production bekerja sama dengan Skop Productions mempersembahkan film horor terbaru berjudul Munafik: Melawan Iblis yang akan tayang di seluruh bioskop mulai 3 September 2026. Di balik kisah seorang ustaz yang melakukan rukiah saat menolong orang yang kesurupan, film Munafik: Melawan Iblis membawa perjalanan seseorang menghadapi trauma dan kehilangan—hingga menyadari bahwa ada luka yang hanya bisa disembuhkan dengan keikhlasan, menerima, dan berserah.

​Kisah bermula ketika dalam perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Ustaz Adam (Arya Saloka) mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini (Widi Dwinanda), istrinya.

​Sejak saat itu Ustaz Adam berhenti melakukan rukiah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) perawat sekaligus putri Haji Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal.

​Adam yang awalnya menolak, menemukan alasan untuk kembali melakukan rukiah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik teror gaib yang menimpa Fitri.

​Diproduseri Oswin Bonifanz dengan sutradara Guntur Soeharjanto, Munafik: Melawan Iblis memberikan teror maksimal yang akan menyerang psikologis dan menaikkan adrenalin. Tak hanya jumpscare, tetapi film ini berhasil menghadirkan teror dari entitas Iblis yang menggoda manusia.

​Film Munafik: Melawan Iblis dibintangi oleh Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Faqih Alaydrus, Donny Damara, Widi Dwinanda, Annisa Hertami, Nova Eliza, Oce Permatasari, dan Elvira Devinamira.

​"Film Munafik: Melawan Iblis adalah eksplorasi terbaru dari Unlimited Production yang membawa tema cerita horor kesurupan dan rukiah, namun sebenarnya memiliki lapisan yang mendalam secara drama. Kami menggali perasaan tentang luka dan trauma, di tengah kedukaan dan proses kehilangan seseorang, yang kami rasa menjadi perasaan yang universal," ujar produser Oswin Bonifanz.

Menjelang perilisan film Munafik: Melawan Iblis secara serentak pada 3 September 2026 di bioskop, Unlimited Production juga telah menggelar roadshow ke XX kota yang seluruh tiketnya terjual habis (sold out)! Ini membuktikan antusiasme tinggi terhadap film Munafik: Melawan Iblis bahkan sebelum filmnya tayang secara reguler.

​Banyak dari penonton juga kagum dengan penampilan Arya Saloka, yang dianggap mampu dengan fasih melafalkan ayat suci Al-Qur'an, saat ia memerankan Ustaz Adam. Arya sendiri mengaku lewat proyek film Munafik: Melawan Iblis juga menjadi ruang untuk dirinya berproses menjadi lebih baik sebagai manusia.

​"Saya sangat bersyukur bisa memerankan Ustaz Adam dan bermain di film Munafik: Melawan Iblis. Karena dari film ini saya juga bisa belajar lebih baik lagi, termasuk membenarkan bacaan-bacaan Al-Qur'an saya. Menurut saya ini berkah, ketika ada sebuah proyek film yang juga bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik," ujar Arya Saloka.

​Sementara itu, Acha Septriasa, yang memerankan Fitri dan harus mengalami banyak kesurupan di film ini, menghadapi tantangan secara fisik dan mental. Film Munafik: Melawan Iblis sekaligus menandai dua dekade perjalanan Acha di industri perfilman Indonesia.

​"Senang sekali, dalam perjalanan dua dekade aku di perfilman mendapatkan karakter yang sangat menantang seperti Fitri di film Munafik: Melawan Iblis. Pada dasarnya, Fitri sedang mengalami proses kedukaan karena kehilangan dan belum ikhlas. Apa yang dialami Fitri sangatlah manusiawi, dan itu yang membuatnya dekat dengan kita. Kalau tantangan secara fisik, tentu saja saat adegan saya harus merayap di dinding, itu sangat-sangat memorable," cerita Acha Septriasa.

​"Ada trauma yang tidak bisa disembuhkan dengan melawan. Kadang kita hanya perlu belajar menerima dan berserah," tambah Arya Saloka.

​Film Munafik: Melawan Iblis akan membawa kita pada perjuangan batin Ustaz Adam dalam memaknai proses duka dan kehilangannya, dan sembuh dari trauma yang selama ini menerornya. Munafik: Melawan Iblis bukan hanya tentang melawan iblis. Tapi tentang melawan luka dalam diri sendiri.

​Tonton film Munafik: Melawan Iblis mulai 3 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik.

Sinopsis

Di perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Adam (Arya Saloka) seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini, istrinya. Sejak saat itu ia berhenti melakukan ruqyah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) seorang perawat sekaligus putri dari Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Adam yang awalnya menolak menemukan alasan untuk kembali melakukan ruqyah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik teror gaib yang menimpa Fitri.

Film Siti Si Vampir Hadirkan Vampir Lokal Tinggal di Rusun! Teaser Trailer Tampilkan Satine Zaneta yang Capek Hidup Miskin

Tayang mulai 22 Oktober 2026 di bioskop

Jakarta, 24 Agustus 2026 — Dua perempuan muda dengan beda nasib bertemu! Saat Satine Zaneta yang jadi tukang angkat galon tinggal di rusun, bertemu dengan Shania Gracia yang punya mobil mewah dan kehidupan nyaman, berniat untuk menjalani kehidupan ‘tukar nasib’. Peristiwa itulah yang ditampilkan dalam official teaser trailer film komedi terbaru garapan sutradara Rahabi Mandra, Siti Si Vampir, diproduksi oleh Viddsee bekerja sama dengan Bahagia Tanpa Drama.

​Satine memerankan karakter Siti, perempuan muda yang harus menjalani hidup serba kurang di sebuah rusun, bersama teman tukang AC-nya, Dudi (Ajil Ditto). Suatu ketika, Shania Gracia, seorang seleb datang ke rusun Siti. Ia tengah mencari satu orang yang mau bertukar nasib secara singkat dengan kehidupannya.

​Namun, di tengah itu, Siti justru digigit oleh vampir tampan Nakula (Ciccio Manassero). Siti pun berubah jadi vampir, tapi justru kenyataan baru itu ditertawakan oleh Dudi. “Vampir nggak ada yang miskin,” kata Dudi yang diperankan Ajil Ditto.

​Mengangkat kisah drama komedi urban yang menyoroti perbedaan kelas sosial dan ekonomi, Siti Si Vampir hadir sebagai sajian fresh dengan konsep vampir lokal. Film ini diproduksi oleh Viddsee bekerja sama dengan Bahagia Tanpa Drama, AZ Films, Spectrum Film, dan PK Films.

​"Siti Si Vampir adalah komedi yang unik dengan mengangkat vampir lokal Indonesia. Ceritanya akan sangat relevan dengan generasi sekarang dan banyak orang, yang lagi susah cari kerja dan capek hidup dalam kondisi yang serba sulit,” ujar produser Celerina Judisari.

​Bagi Satine Zaneta, yang memerankan Siti, ia tampil berbeda. Tak hanya debut dalam genre komedi, tapi ia juga menemukan banyak tantangan baru.

​"Siti Si Vampir adalah salah satu film paling menantang yang pernah aku jalani. Dari belajar logat baru yang tidak familier denganku, belajar cara jalan, gerak dan berusaha memahami isi hati dan kepala Siti. Dan tentu saja aku beneran angkat galon,” cerita Satine Zaneta.

​“Kami nyambung banget untuk bisa memainkan dinamika komedinya. Seru banget karena ansambel pemerannya anak-anak muda, dan sekaligus bisa menyuarakan keresahan banyak anak muda saat ini,” ujar Ajil Ditto yang memerankan Dudi.

​Film Siti Si Vampir akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 22 Oktober 2026! Ikuti perkembangan terbaru Siti Si Vampir melalui akun Instagram resmi @bahagiatanpadrama dan @filmsitisivampir.

Babak Baru BCL! Rilis Single “Terpesona”, Berduet Manis dengan Top 5 Indonesian Idol 2026 Josh Flo dan Kembali Berkolaborasi Bersama Produser & Pencipta Lagu Laleilmanino

Single Terpesona rilis pada 21 Agustus 2026 di seluruh platform streaming

Jakarta, 21 Agustus 2026 — Diva Indonesia Bunga Citra Lestari (BCL) kembali dengan karya terbarunya di dunia musik lewat single romansa cinta berjudul “Terpesona”. Setelah terakhir kali merilis lagu fenomenal yang juga membawa dampak kultural pendengar Indonesia, “Selalu Ada di Nadimu”, kini BCL kembali ke akar, lewat lagu cintanya.

​“Terpesona” menjadi spesial karena ia mengajak Top 5 Indonesian Idol 2026, Josh Flo sebagai teman duetnya. Single ini sekaligus menjadi full circle moment bagi keduanya, sejak keduanya berjumpa di ajang kompetisi Indonesian Idol Season 14. Sejak babak awal audisi, Josh Flo telah membuat BCL terpesona, dan kini keduanya mempersembahkan karya yang tak terduga.

​Ditulis dan diciptakan trio produser Laleilmanino, “Terpesona” terinspirasi dari banyak kisah orang-orang yang terpesona dengan tambatan hati mereka, namun sulit untuk diungkapkan.

​“Lagu ‘Terpesona’ adalah tentang sebuah perasaan yang hadir saat kita menemukan seseorang yang somehow membuat kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa nyaman ketika bersamanya, rasa yang membuat kita ingin selalu dekat dan semakin mengenal orang itu. Kadang perasaan itu bahkan sulit untuk dijelaskan atau diungkapkan dengan kata-kata, tapi kita tahu ada sesuatu tentang dirinya yang membuat kita nggak bisa berpaling. Ada rasa ingin terus bersama, sampai akhirnya orang itu terasa seperti ‘home’. Buat aku, itulah rasa terpesona,” ujar Bunga Citra Lestari.

​Sebagai orang yang ‘menemukan’ bakat Josh dan yakin sejak awal dengan kemampuannya, BCL menghadirkan lagu cinta dengan cerita yang baru. Karakter khas BCL yang sejak awal juga lekat dengan lagu-lagu romansa masih bisa kita temukan di single “Terpesona”, namun kini memiliki dimensi yang fresh dari aransemen yang diciptakan Laleilmanino dan suara unik Josh Flo.

​Josh, yang sebelum memulai karier bernyanyi dari kompetisi pencarian bakat merupakan penjaga Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Manokwari, Papua, kini merasa sangat bangga dengan kesempatan yang diberikan kepadanya.

​“Saat aku tereliminasi dari Top 5 Indonesian Idol Season 14, Kak Unge langsung kirim pesan ke aku. Dia menawarku untuk membuat karya bersama. Rasanya sangat bangga, spesial, dan menjadi full circle moment bagiku. Sejak awal aku ikut audisi Kak Unge sudah sangat percaya dengan bakatku, dan dia pernah berjanji akan berkolaborasi, dan dia menepati janjinya, lewat lagu manis ‘Terpesona’,” kata Josh Flo.

​“Sejak awal, aku jatuh hati dengan suaranya. Itulah alasanku ingin berduet bersama Josh,” tambah BCL.

​“Terpesona” juga menandai dua dekade BCL di industri musik, sejak ia merilis album debutnya, “Cinta Pertama” (2006). Berkolaborasi dengan Laleilmanino sebagai produser dan pencipta di single ini, “Terpesona” juga meneruskan kolaborasi BCL dan Laleilmanino setelah sukses besar “Selalu Ada di Nadimu”.

​“Senang rasanya bisa bereksplorasi lagi bersama Unge di lagu romansa terbarunya, ‘Terpesona’. Lagu ini berbicara tentang finding the one since day one. Sebuah nyanyian yang bisa menemani hangatnya hati saat kita menemukan seseorang yang terasa begitu tepat. Disampaikan ataupun tidak jadi soal, karena lagu ini bukan tentang menyatakan perasaan. Lagu ini adalah tentang perasaan itu sendiri,” ujar produser Nino Kayam mewakili Laleilmanino.

​Single “Terpesona” telah dirilis di seluruh platform streaming digital mulai 21 Agustus 2026. Dengarkan sebuah karya yang akan menandai babak baru perjalanan BCL lewat lagu romansa cinta yang manis dengan cerita yang berbeda.

Jumat, 21 Agustus 2026

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

"Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini" berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic reading

Jakarta, 21 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.

​Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. "Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru," katanya.

​Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.

​Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi "Perempuan dalam Karya Asrul Sani" membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, "Asrul Sani di Mata Generasi Muda" mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui "Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario", yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi "Asrul Sani dan Inovasi Arsip" yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.

​Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.

​Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. "Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"

​Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbunga Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonor (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.

​Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

​Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.

​Seluruh rangkaian "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacouncil.

Rabu, 19 Agustus 2026

Film RUMAH SINGGAH Siap Hadir di Bioskop dan Mengajak Penonton Merayakan Hidup serta Menemukan Kembali Harapan yang Hilang

Film RUMAH SINGGAH tayang mulai 27 Agustus 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 19 Agustus 2026 — Ketika masa depan yang kita impikan direnggut, terkadang kita merasa hidup terhenti tiba-tiba dan dunia telah berakhir. Namun, jika dihadapi dan dijalani bersama sahabat, perjuangan menjadi lebih ringan dan membawa kita pada harapan dan makna baru dalam menjalani hidup. Ini adalah kisah Karla bersama sahabat-sahabat baru yang ia temui dalam film Rumah Singgah, yang tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film Rumah Singgah adalah produksi dari SENARA, bekerjasama dengan Mandela Pictures dan Limelight Pictures, disutradarai oleh Dyan Sunu Prastowo, ide cerita oleh Celvin Jaya Hadi, dan penulisan skenario oleh Raditya.

​Film Rumah Singgah mengisahkan Karla (Adhysty Zara), seorang atlet lari, yang harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap osteosarkoma, penyakit kanker tulang yang ganas. Di tengah kenyataan yang mengubah hidupnya, Karla tiba di sebuah rumah singgah di mana ia disambut hangat oleh Bu Andin (Dewi Irawan), kepala rumah singgah, serta berkenalan dengan para penghuninya, Luki (Devano), Toni (Ciccio Manassero), dan Pika (Messi Gusti). Karla dan teman-teman baruya perlahan membangun persahabatan. Bersama Mang Didu (Aming), penjaga rumah singgah yang setia menemani, mereka mengawali perjalanan yang baru, di mana mimpi yang hampir sirna menemukan secercah harapan.

​"Selama membuat Rumah Singgah, kami banyak berbicara tentang waktu. Tentang bagaimana sesuatu yang kita anggap sederhana menjadi begitu berarti ketika kita menyadari bahwa waktu tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Sekarang, ketika film ini akhirnya siap bertemu dengan penonton, kami juga merasa waktunya tepat untuk mengajak publik datang bersama-sama ke bioskop, bukan hanya untuk menonton Rumah Singgah, tetapi juga untuk merasakan kembali betapa berharganya hadir untuk seseorang, mendengarkan mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk tetap bermimpi," ujar sutradara Dyan Sunu Prastowo.

​Bukan hanya cerita yang menemukan maknanya, namun pengalaman tersebut juga tumbuh di antara para pemain selama proses produksi. Seperti Devano, yang merasakan bahwa perjalanannya mendalami karakter Luki dan lagu "Surat Hati" yang menjadi bagian dari film ini, membuat kisah Rumah Singgah semakin personal baginya.

​"Menjadi Luki membuat saya belajar melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun berada di situasi yang nggak mudah, Luki tetap bisa menikmati hal-hal sederhana dan selalu ada untuk teman-temannya. Ketika 'Surat Hati' akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Rumah Singgah, saya merasa ada banyak hal dari cerita ini yang semakin dekat dengan apa yang saya rasakan selama proses syuting. Semoga penonton bisa ikut merasakan kehangatan yang kami rasakan saat membuat film ini, dan setelah menontonnya bisa lebih menghargai waktu serta orang-orang yang selalu ada untuk kita," tutur Devano, pemeran Luki.

​Semangat untuk terus menemukan makna di tengah keterbatasan itulah yang juga ingin dibawa Rumah Singgah saat akhirnya bertemu dengan penonton di bioskop mulai 27 Agustus nanti. Bagi SENARA, perjalanan film ini tidak berhenti pada selesainya proses produksi, tetapi justru dimulai ketika cerita menemukan penonton.

​"Pada akhirnya, sebuah film tidak selesai ketika proses produksinya berakhir. Ia baru benar-benar menemukan maknanya ketika bertemu dengan penonton. Karena itu, kami ingin mengajak sebanyak mungkin penonton datang dan menyaksikan Rumah Singgah sejak hari pertama penayangannya karena kami percaya kisah seperti ini layak mendapatkan ruang yang luas untuk didengar dan dibicarakan. Melalui Rumah Singgah, kami ingin menghadirkan manusia-manusia dengan mimpi, tawa, ketakutan, dan keinginannya untuk menjalani hidup sepenuhnya. Semoga penonton menemukan cerita mereka sendiri di dalam film ini, dan membawa pulang sebuah percakapan yang berlanjut di luar ruangan bioskop," ujar Hans Andreas, produser SENARA.

​Kini, kisah tersebut siap menemukan penontonnya di layar lebar. Rumah Singgah dibintangi oleh Adhysty Zara, Devano, Messi Gusti, Ciccio Manassero, Aming, Dewi Irawan, Marthino Lio, Agnes Naomi Shivapriya, dan Alex Abbad. Tonton film Rumah Singgah di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

​Ikuti perjalanan dan informasi terbaru film Rumah Singgah di akun-akun resmi media sosialnya:

​Hashtag : #rumahsinggah #filmrumahsinggah

Instagram : @rumahsinggahfilm

Threads : @rumahsinggahfilm

TikTok : @filmrumahsinggah

Potret Sulitnya Bertahan Hidup di Tengah Ekonomi yang Bikin Menjerit, Film Operasi Pesta Copet Mewakili Keresahan Banyak Suara Tentang Keinginan Hidup yang Lebih Layak dari Realita Anak Muda

Operasi Pesta Copet tayang mulai 27 Agustus di seluruh bioskop Indonesia

Jakarta, 18 Agustus 2026 — Film Operasi Pesta Copet persembahan Imajinari menghadirkan kisah komedi persahabatan yang lucu sekaligus haru, dengan pendekatan produksi baru di sebuah festival musik besar Pestapora, mengikuti empat anak muda yang nekat nyopet karena terdesak keadaan. Menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod, film ini menampilkan kisah yang memiliki cerita kuat tentang orang-orang yang tak punya pilihan dalam hidup mereka.

​Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, dan debut vokalis grup band Sisitipsi Fauzan Lubis, Operasi Pesta Copet tak hanya mengikuti kisah operasi pencopetan ternekat, namun juga menggugah perasaan dari cerita persahabatan di pinggiran kota Jakarta yang sama-sama terdesak oleh himpitan ekonomi.

​Sebagai rumah produksi yang memiliki DNA komedi, lewat film ini Imajinari tetap menyuguhkan komedi, namun dengan skala yang berbeda. Di film ini, Awwe menjadi konsultan komedi. Melalui pendekatan baru dan genre yang eksploratif, film Operasi Pesta Copet pun menjadi wujud visi Imajinari untuk terus mencoba dan menawarkan kesegaran tema dan cerita di perfilman Indonesia.

​“Tidak mudah untuk bisa mendapatkan cerita yang fresh, dan menurut Imajinari, Operasi Pesta Copet punya ide dan cerita yang sangat unik dan otentik. Sesuatu yang menggelitik dari awal adalah adanya copet di konser, apakah itu memang beneran copet yang belajar tentang skena musik, atau memang anak musik yang belajar nyopet? Dengan komedi yang sangat dekat dan membumi, drama yang relevan, kami berharap film ini bisa menghibur di tengah situasi yang serba sulit seperti sekarang, lewat komedi yang berbeda,” ujar Ernest Prakasa.

​Sementara itu, sutradara Edy Khemod mengungkapkan empati menjadi hal esensial film Operasi Pesta Copet. Alih-alih mengglorifikasi aksi kriminal dan memotret kemiskinan struktural secara ekstrem, Khemod memilih menaruh hati.

​“Sebagai orang yang pernah berada di posisi seperti karakter Ijal, saya merasa empati menjadi hal yang didahulukan sebagai pondasi dalam menggarap film Operasi Pesta Copet. Sebab itu, kami juga tak ingin sekadar menghakimi apa yang dilakukan oleh Ijal dan Geng Copetnya, tetapi kami ingin mengajak penonton untuk bisa menaruh empati, merasakan apa yang mereka alami,” ungkap sutradara Edy Khemod.

​Iqbaal Ramadhan, yang memerankan Ijal, mengungkapkan karakternya mencerminkan ketidakadilan yang masih terjadi di Indonesia. Di momen Kemerdekaan, Iqbaal merefleksikan bahwa Ijal juga menjadi representasi banyak kelompok anak muda yang tertekan oleh kehidupan dan tak memiliki banyak pilihan.

​“Setelah aku mengenal Ijal, dia tidak jauh berbeda dengan kita. Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilesenya untuk berada di titik kayak kita sekarang,” ujar Iqbaal Ramadhan.

​“Ijal sebenarnya anak yang pintar, banyak rasa penasarannya, makanya aku senang ngobrol dan “berkenalan” dengan Ijal di dalam proses film ini. Tapi Ijal termasuk orang-orang yang lahir dari kelompok marginal, yang memang terpinggirkan oleh sistem dan struktur. Menurutku, itu adalah cermin ketidakadilan yang masih terus ada di Indonesia dan Ijal adalah salah satu korbannya,” tambah Iqbaal.

​Kawai Labiba, bintang muda generasi saat ini, juga membagikan pengalamannya selama menjalani proses syuting film Operasi Pesta Copet. Selama ini, Kawai lebih banyak dikenal dengan peran-peran dramanya yang mengaduk emosi. Namun, kali ini menjadi pengalaman perdananya berada dalam sebuah genre yang mengharuskannya melakukan aksi nekat.

​“Sebagai Melodi yang menjadi bagian dari geng copet, ada perasaan yang janggal tapi excited, perasaan khawatir, semua bercampur ketika aku harus syuting di tengah kerumunan penonton Pestapora. Bagaimana juga tetap harus fokus mendengarkan brief tapi juga siap untuk melakukan aksi pencopetan. Tapi syukurlah semua krunya tetap solid dan seru, sehingga semuanya berjalan lancar. Terima kasih Imajinari sudah melibatkan aku di film ini. Film ini jadi pengalaman paling nekat yang tidak bisa aku lupakan selama berkarier sebagai aktor,” kata Kawai Labiba.

​“Di film ini yang aku pelajari adalah bagaimana caranya menjadi seorang Adut. Sosok yang selalu go with the flow. Ijal ngajak nyopet, dia ikut. Jadi di sini aku justru menjadi orang yang tidak overthinking. Dan di setiap tongkrongan pasti ada sosok seperti Adut. Dinamika bromance-nya juga bisa diwakili dari sosok Ijal dan Adut, Ijal yang lebih berat dengan porsi dramanya sementara komedinya dari Adut,” ujar Kristo Immanuel.

​Tayang serentak di seluruh bioskop mulai 27 Agustus 2026, film Operasi Pesta Copet juga akan memulai Pesta Copet lebih awal dengan roadshow bersama jajaran pemeran dan sineas di 11 kota mulai 22–31 Agustus 2026. Kota-kota yang akan menjadi operasi copet adalah Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Cirebon, Bandung, Bekasi, dan Bogor.

​Mereka yang akan hadir ke kota-kota tersebut adalah Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, sutradara Edy Khemod, serta produser Ernest Prakasa dan Dipa Andika. Beli tiket special screening Operasi Pesta Copet untuk masing-masing kota dan berjumpa para geng copet!

Operasi Pesta Copet diproduksi oleh Imajinari dan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Premisnya memang tentang copet, tetapi hatinya tentang persahabatan, dan menceritakan konteks sosial dan emosi yang mendalam.

TENTANG IMAJINARI

Imajinari adalah studio film muda di Dipanesla yang menitikberatkan pada cerita yang segar dan berpijak pada visi kreatif sutradara. Rekam jejak Imajinari diantaranya adalah film “AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!” yang menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia dengan perolehan lebih dari 11 juta penonton, film mega box office “AGAK LAEN” yang meraih lebih dari 9,1 juta penonton, serta “Jatuh Cinta Seperti Di Film Film” yang memenangkan Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik, Aktor dan Aktris Utama Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia tahun 2024.

​Didirikan oleh duo Ernest Prakasa & Dipa Andika, Imajinari memulai debutnya melalui film “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022), sebuah film yang kemudian menjadi Official Selection Indonesia untuk Academy Awards 2023.

TENTANG ANGIN SEGAR

Angin Segar terbentuk dari kegelisahan pekerja produksi iklan di bawah naungan Cerahati yang ingin lebih fokus mengerjakan proyek inisiatif sendiri. Video musik dari Seringai dan The Panturas dengan pendekatan film cerita pendek, film dokumenter GELORA merupakan proyek awal inisiatif tersebut. Film music scoring, audio mixing & mastering juga menjadi kendaraan kami dalam berinisiatif di industri film. Operasi Pesta Copet diharapkan menjadi langkah awal baru untuk lebih aktif berinisiatif mengembangkan cerita dan memproduksinya dalam medium film.

TENTANG BOSS CREATOR

BOSS Creator adalah promotor musik dan festival terkemuka di Indonesia. Salah satu acara unggulannya adalah Pestapora, sebuah festival musik yang menghadirkan pengalaman unik dan tak terlupakan bagi para penggemar musik Indonesia. Pestapora 2025 meraih kesuksesan dengan penjualan 100 ribu tiket untuk penyelenggaraan 3 hari festival.

Selasa, 18 Agustus 2026

PAKET SANTET: Ketika Luka yang Tak Selesai Berubah Menjadi Dendam

Film horor garapan Dinna Jasanti tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026

​Jakarta, 18 Agustus 2026 - Bagaimana jika seseorang yang pernah kamu sakiti tidak pernah benar-benar melupakanmu? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu lapisan teror dalam PAKET SANTET, film horor terbaru produksi BASE Entertainment garapan sutradara Dinna Jasanti. Memadukan santet, misteri, gore, dan teror yang dekat dengan keseharian, film ini membawa penonton menelusuri sebuah dendam dari masa lalu yang akan menghantui dan mengancam nyawa.

PAKET SANTET mengikuti kisah Deva (Fatih Unru), Bela (Yasamin Jasem), Celia (Gabriella Ekaputri), Ale (Fadly Faisal), Firza (Fiki Naki), Glen (Farandika), dan Kiki (Azela Putri), tujuh mahasiswa yang menjadi sasaran santet melalui paket yang sengaja dikirim kepada mereka. Ketika teror mulai merenggut nyawa, satu per satu dari mereka menyadari bahwa apa yang terjadi bukanlah kebetulan. Ada seseorang yang sengaja memilih mereka sebagai korban dengan alasan yang berakar pada kejadian di masa lalu.

Di balik teror tersebut, PAKET SANTET membawa tema tentang luka yang tidak pernah benar-benar selesai. Sesuatu yang bagi seseorang mungkin hanya dianggap candaan, kesalahan kecil, atau peristiwa yang sudah dilupakan, ternyata bisa meninggalkan luka panjang bagi orang lain. Ketika luka itu berubah menjadi dendam, masa lalu akhirnya kembali menuntut balasan.

​Ditulis oleh Obe Karel, Titien Wattimena, dan Ambaridzki Ramadhantyo, PAKET SANTET diproduseri oleh Shanty Harmayn bersama Aoura Lovenson Chandra dan Tanya Yuson.

"PAKET SANTET berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian. Dari tindakan sederhana seperti menerima sebuah paket kemudian membawa kita ke pertanyaan yang lebih jauh, bagaimana jika orang yang pernah kita sakiti ternyata tidak pernah melupakan apa yang terjadi? Di BASE Entertainment, kami ingin membuat horor yang bukan hanya memberikan ketakutan, tetapi punya angle lain yang juga membuat penonton berpikir tentang konsekuensi dari perilaku kita terhadap orang lain," ujar Shanty Harmayn, Produser.

​Fatih Unru, pemeran Deva, menilai kekuatan film ini justru terletak pada seberapa dekat konfliknya dengan kehidupan nyata.

"PAKET SANTET membuat saya berpikir ulang tentang hal-hal kecil dalam pertemanan yang sering kita anggap sudah selesai. Candaan, sikap, atau momen yang mungkin bagi kita sudah dilupakan, ternyata bisa menjadi luka bagi orang lain. Berperan sebagai Deva membuat saya sadar bahwa perundungan tidak selalu datang dalam bentuk besar dan terlihat. Kadang justru hal kecil yang kita anggap sepele bisa meninggalkan luka paling lama," ujar Fatih.

​Lewat perpaduan teror santet, misteri, gore, dan konflik yang dekat dengan kehidupan anak muda, PAKET SANTET mengajak penonton melihat bahwa sesuatu yang dianggap sudah berlalu belum tentu benar-benar selesai. Karena terkadang, yang paling berbahaya bukan apa yang kita lakukan, melainkan apa yang orang lain ingat dari perbuatan kita.

PAKET SANTET tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026.

​TENTANG BASE ENTERTAINMENT

BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto. Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina's Adventure 2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Dengan komitmen kuat pada inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.

Senin, 17 Agustus 2026

Film Horor-Misteri Hasut Merilis Official First Look! Menampilkan Jajaran Bintang: Rachel Amanda, Karina Salim, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova Tampil Secara Misterius

Film Hasut akan tayang di bioskop tahun ini

​Jakarta, 17 Agustus 2026 — Film persembahan Tuta Films, Hasut merilis official first look yang menampilkan jajaran bintang pemeran film ini Rachel Amanda, Karina Salim, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Keempatnya tampil dengan berbagai ekspresi yang berbeda, namun tampak menyimpan sebuah misteri yang mengundang penasaran.

Hasut merupakan film horor misteri yang ditulis dan disutradarai oleh Ilya Sigma. Film ini mengikuti empat orang yang masuk ke hutan untuk proses pemulihan, lalu mulai saling mencurigai setelah suara-suara aneh membuat mereka tidak lagi yakin siapa yang bisa dipercaya.

​"Film Hasut menghadirkan horor misteri yang bermain dengan rasa curiga. Melalui empat karakter yang diperankan oleh Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, penonton akan diajak menebak siapa yang bisa dipercaya, siapa yang berbohong, dan siapa yang sebenarnya sedang menghasut. Di film ini, hutan menjadi ruang di mana rasa takut, luka, dan suara-suara yang mereka dengar mulai sulit dibedakan," ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.

Hasut akan menjadi debut penyutradaraan film panjang Ilya Sigma. Ia sebelumnya lebih banyak menulis skenario berbagai film dan memproduseri film-film produksi Tuta Films.

​Pertama kali diperkenalkan di JAFF Market tahun lalu, film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia tahun ini. Film ini juga menandai kembalinya Kariina Salim sebagai pemeran utama. Hasut juga menjadi pertama kalinya keempat pemeran bermain dalam judul yang sama.

​"Buat aku, film Hasut punya konsep yang unik. Penonton nanti seperti diajak menebak sampai akhir tentang kebenaran cerita di filimnya, dan siapa impostor-nya," ujar Rachel Amanda.

​Diproduksi oleh Tuta Films, Hasut diproduseri oleh Putrama Tuta dan Siera Tamihardja. Film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia pada tahun ini. Ikuti informasi terbaru tentang film Hasut melalui akun Instagram resmi @filmhasut dan @tutafilms.

Kamis, 13 Agustus 2026

Film Harusnya Horror Ending-nya Bikin Nangis, Debut Sutradara Reza "Arap" Oktovian lewat Komedi-Horor yang Lucu, Absurd, Namun Tetap Memiliki Hati, Ketika Cinta dan Sahabat Adalah Makna di Atas Kehidupan

Harusnya Horror tayang mulai 20 Agustus 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 13 Agustus 2026 — Film debut penyutradaraan Reza "Arap" Oktovian persembahan Ess Jay Pictures, Harusnya Horror, menjadi persembahan manis nan emosional. Komedi-horor dengan kisah yang lucu dan absurd, namun tetap memiliki hati. Banyak dari penonton di film ini merasa sangat emosional di bagian akhir, dan menangis.

​Perjalanan loyalitas persahabatan di film ini digambarkan ketika mereka melewati proses saling membantu, pengkhianatan, memaafkan, dan pengorbanan. Harusnya Horror juga menjadi film bergenre komedi-horor yang berbeda karena menghadirkan isu content creator, dengan satir creator economy yang mengejar konten viral demi cuan.

​Film ini juga menjadi persembahan terakhir dari almarhumah Lula Lahfah, yang terasa sangat emosional saat penonton menyaksikan film ini. Bagi sutradara Reza Oktovian, Harusnya Horror juga menjadi kenangan terindah bersamanya dan seluruh member AAAClan.

​"Setiap detiknya bersama Lula harusnya indah, kami berdua benar-benar menghargai setiap waktu bareng. Semua kru dan pemeran di film ini juga merasakan betapa besarnya dukungan dan kehadirannya selama produksi. Film Harusnya Horror menjadi memori terindah kami," ujar sutradara Reza Oktovian.

​"Meski kemasannya komedi-horor dengan cerita yang absurd, tetapi saya ingin menyajikan tentang arti persahabatan, pengorbanan, dan pentingnya menghargai orang terdekat sebelum terlambat," tambah Reza.

Harusnya Horror menjadi debut akting layar lebar bagi seluruh member AAAClan: George Tierson (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Garry Andriawan Ang (Garry), Teguh Prakoso (Tepe), Aldy Renaldy (Aloy), Ariyanto (Ibot), Niko Junius (Niko), dan Bravyson (Vicong). Film ini juga turut didukung oleh penampilan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial Yoshua Marcellos (Cellos), dan menjadi penghormatan untuk almarhumah Lula Lahfah.

​Diproduksi oleh Ess Jay Pictures, Harusnya Horror diproduseri oleh Sridhar Jetty, dengan ko-produser Jimmy L. Lalwani, dan produser eksekutif David S Suwarto.

"Sebagai sutradara, Reza memberikan treatment yang berbeda untuk kami. Dia memberikan kebebasan kreatif ke kami sebagai aktor untuk bisa mengeksplorasi karakter. Dibantu dengan acting coach dan proses development bersama, kami jadi bisa menampilkan sisi di luar Maraphon dan menjadi karakter baru yang belum pernah terlihat sebelumnya," ujar George Tierson (Jot) yang memerankan Kevin.

​Sementara itu, produser Sridhar Jetty mengungkapkan Harusnya Horror menjadi persembahan terbaru dari Ess Jay Pictures yang merefleksikan situasi relevan di Indonesia saat ini.

​"Meski genrenya komedi-horor, tetapi film ini punya makna yang relevan, tentang situasi creator economy, saat semuanya dijadikan konten, film ini ingin memberikan refleksi dan satir dalam bentuk komedi. Semoga penonton juga terhibur dan bisa merasakan kedekatan emosional yang dibangun dari ceritanya," ujar produser Sridhar Jetty.

​Sebelumnya Harusnya Horror juga telah disambut antusias oleh penonton di berbagai kota, dengan ludesnya tiket ATS (Advance Ticket Sales) di kota-kota seperti Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makasar, Samarinda dan Pontianak.

​Tak hanya fans Maraphon dan AAAClan yang akan merasakan emosionalnya film Harusnya Horror, namun juga secara general penonton film Indonesia, karena di balik absurditasnya, ada emotional core yang kuat dari tema persahabatan, kehilangan, pengkhianatan, memaafkan, dan pengorbanan yang memberikan film ini memiliki "hati".

Harusnya Horror tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Ikuti perkembangannya melalui Instagram @harusnyathemovie dan @essjay.pictures.

TENTANG Ess Jay STUDIOS

​Ess Jay Studios didirikan pada 1 Agustus 2022 oleh David Suwarto, Sridhar Jetty dan Jimmy Lalwani sebagai anak perusahaan dari SinemArt. Rumah produksi ini memiliki visi untuk menciptakan karya berkualitas tinggi yang mampu menginspirasi dan menghibur masyarakat.

​Debutnya dengan sinetron Tajwid Cinta menandai langkah awalnya di industri hiburan. Sejak berdiri pada tahun 2022 hingga kini, Ess Jay Studios telah menunjukkan pertumbuhan yang pesat dalam industri hiburan Indonesia dengan memproduksi 13 judul sinetron dengan total lebih dari 1.750 episode. Berbagai tayangan produksi Ess Jay Studios berhasil meraih rating tinggi dan mendapatkan respons positif dari masyarakat Indonesia.

​Mengawali perjalanan sinetron yang sukses, pada 2025, Ess Jay Studios melalui brand Ess Jay Pictures siap merambah layar lebar dengan memproduksi film-film menarik berjudul Tiba-tiba Setan dan Harusnya Horror, memperkuat posisinya sebagai perusahan kreatif yang akan terus berkembang.

Rabu, 12 Agustus 2026

Gala Premiere Film 'Dan Bandung' Bikin Baper Jakarta! Setelahnya, Bandung Siap Dibuat Pecah di 'Dan Bandung Day'

Jakarta, 12 Agustus 2026 – Hawa romantis Kota Bandung secara resmi menyelimuti Ibu Kota. Verona Films sukses menggelar acara Gala Premiere untuk film drama romansa yang paling dinanti tahun ini, 'Dan Bandung', bertempat di Epicentrum XXI, Jakarta.

​Malam puncak peluncuran ini dihadiri langsung oleh pimpinan produksi Titin Suryani (Produser), Bedy Kunady (Produser Eksekutif), sutradara Rudi Soedjarwo, serta jajaran ensemble cast lengkap: Shanna Shannon, Samo Rafael, Keisya Levronka, Theo Supple, Razan Zu, Paul Aro, Donny Damara, Tike Priatnakusumah, Jenny Zhang, Arswendy Bening Swara, De Boer William, Silvester Rangga, hingga Ade Habibie.

​Kolaborasi Pidi Baiq & Rudi Soedjarwo Kuras Emosi Penonton

​Diangkat dari karya novelis legendaris Pidi Baiq dan diarahkan oleh sutradara ikonik Rudi Soedjarwo (Ada Apa Dengan Cinta?), 'Dan Bandung' sukses membawa penonton Gala Premiere terhanyut dalam lika-liku kisah cinta Basil (Samo Rafael) dan Elma (Shanna Shannon). Film ini memotret perjalanan dua anak muda dari latar belakang ekonomi dan budaya yang kontras, yang harus berjuang keras demi perasaan mereka di tengah romantisnya Kota Bandung.

​Sutradara Rudi Soedjarwo mengungkapkan bahwa film ini memberikan kedalaman makna yang lebih dari sekadar romansa remaja biasa. "Di film ini, saya gak cuma mau membawakan romansa gemas-gemas yang sudah biasa kita temukan di film Indonesia. Saya ingin Dan Bandung menjadi refleksi perjuangan kita sebagai pasangan, sebagai keluarga, dan sebagai teman," ungkap Rudi Soedjarwo.

Produser Verona Films, Titin Suryani, turut menyampaikan rasa bangganya terhadap hasil akhir film ini. "Sejak awal saya yakin Mas Rudi adalah orang yang tepat untuk membawa Dan Bandung ke layar lebar. Setelah melihat hasil akhirnya, rasanya lega sekaligus bangga melihat film ini akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Verona Films." ujar Titin Suryani.

​Samo Rafael, sang pemeran Basil, berharap karakter yang ia mainkan bersama Shanna Shannon mampu mewakili perasaan banyak orang. "Aku ingin Basil dan Elma bisa menjadi representasi kita semua, yang selalu berusaha walaupun dunia berkata lain, semua demi cinta mereka," tutur Samo.

​Menuju Kemeriahan 'Dan Bandung Day' pada 15 Agustus 2026

​Tak berhenti di Gala Premiere Jakarta, perayaan film ini akan mencapai puncaknya melalui gelaran 'Dan Bandung Day' pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Dalam momentum spesial tersebut, seluruh Kota Bandung akan merayakan film terbaru kolaborasi Pidi Baiq dan Rudi Soedjarwo ini.

​Sebanyak 11 bioskop di Kota Bandung akan secara serentak menggelar penayangan spesial, yang kemudian ditutup dengan acara Gala Premiere Bandung di Ciwalk XXI.

​Penawaran Spesial Promo Buy One Get One Free (BOGOF)

​Film 'Dan Bandung' dipastikan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Sambut penayangannya dengan memanfaatkan Promo Buy One Get One Free (BOGOF) yang sudah dapat dibeli mulai 7 hingga 19 Agustus 2026 khusus untuk penayangan perdana tanggal 20 Agustus 2026 melalui aplikasi TIX.ID, MTIX, CGV, dan CINEPOLIS.

​Untuk informasi terbaru dan keseruan di balik layar, kunjungi akun media sosial resmi di @filmdanbandung.

Di Balik Teror Horornya, Film Munafik: Melawan Iblis Bicara Trauma dan Keikhlasan, saat Arya Saloka Menjadi Ustaz yang Merukiah Acha Septriasa

​ Film Munafik: Melawan Iblis tayang mulai 3 September 2026 di bioskop ​ Jakarta, 24 Agustus 2026 — Unlimited Production bekerja sama deng...