Selasa, 28 April 2026

Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Trailer & Poster, Ungkap Masalah Menantu dan Mertua yang Sangat Dekat! Jadi Film Paling Relate yang Pernah Dibuat Anggy Umbara

Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 28 April 2026 — Umbara Brothers Film dan VMS Studio, bekerja sama dengan Adsfort merilis official trailer & poster film drama keluarga terbaru berjudul Keluarga Suami Adalah Hama, yang akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Official trailer film yang dibintangi Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans ini mengungkap permasalahan yang sering dialami oleh menantu dan keluarga suami, saat pasangan suami istri tinggal serumah dengan mertua.

​Dalam trailernya, diperlihatkan pasangan suami istri Damar (Omar Daniel) dan Intan (Raihaanun), yang harus menghadapi permasalahan ekonomi di tahun-tahun awal menikah mereka. Keduanya terpaksa tinggal terlebih dulu di rumah keluarga suami. Namun, dengan tinggalnya pasangan keluarga muda tersebut bersama mertua, justru menghadirkan konflik yang tak berujung. Intan justru dianggap sebagai pekerja rumah tangga, belum lagi perlakuan kedua adik iparnya yang bertindak seenaknya. Sementara Damar berada di posisi dan kondisi yang membingungkan di antara membela sang istri atau kewajiban menghormati ibunya, membuatnya tampak ragu dalam bersikap.

​Film yang diproduseri oleh Shalu T.M., Indah Destriana dan Anggy Umbara ini akan menghadirkan sebuah permasalahan yang sangat dekat dan dialami banyak orang. Film ini sekaligus menjadi film drama keluarga pertama Anggy Umbara, yang sebelumnya telah sukses blockbuster dengan berbagai genre mulai dari film aksi, komedi hingga horor.

​"Bagi saya, Keluarga Suami Adalah Hama adalah film yang paling relate dan dekat dengan saya sebagai salah satu bagian dari 'Sandwich Generation', yang dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah, namun juga terhimpit dalam berbagai kesulitan dan kondisi keluarga yang kadang perih dan menyesakkan. Isu ini sangat penting untuk diangkat, untuk kita tahu, bahwa kondisi ini memang ada di sekitar kita. Dan kita bisa merasakannya tapi banyak yang tidak bisa mengungkapkan. Harapannya, setelah menonton film ini menjadi refleksi agar lingkungan sesama keluarga bisa menjadi lebih baik, dan bisa berempati," kata sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama menjadi kolaborasi terbaru VMS Studio dan Umbara Brothers Film. Sebelumnya, kolaborasi terjalin melalui film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel (2025), yang juga disutradarai Anggy Umbara.

​Di kolaborasi terbaru, Anggy juga kembali dipercaya untuk mengaduk emosi penonton melalui kisah suami-istri di Keluarga Suami Adalah Hama, selain sebagai partner Producer bersama Indah Destriana, Anggy juga sebagai Penulis dan duduk langsung di kursi Sutradara. Bagi produser Shalu T.M., Anggy Umbara adalah sosok sutradara yang sangat tepat karena ia merupakan salah satu sineas Indonesia yang sangat kuat dan memiliki karakter unik. Shalu menekankan, pesan yang ingin disampaikan di film ini adalah tentang pentingnya kerjasama suami istri sebagai pasangan.

​"Pesan yang ingin kami sampaikan, di tengah berbagai dinamika permasalahan di kehidupan sehari-hari kita, terutama yang sudah berkeluarga, sebagai suami istri itu sangat penting untuk berkolaborasi dan bekerja sama, saling back up. Karena pada dasarnya, husband and wife against the world. Bukan suami melawan istri tapi suami dan istri melawan dunia, berjuang bersama," ujar produser VMS Studio Shalu T.M.

​Selain Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans, film ini juga akan dibintangi oleh Fairuz A. Rafiq, dan penampilan spesial dari Tio Pakusadewo. Bagi Omar, ini adalah pengalaman berharga karena ia bisa beradu peran dengan Raihaanun.

​"Raihaanun itu idola saya. Saya sangat mengikuti dan menonton karya-karyanya. Ketika dipasangkan bersama, ini sebuah kehormatan dan kebanggaan, dan menjadi pacuan semangat untuk bisa terus belajar," ujar Omar Daniel.

​"Di film ini penonton akan melihat bagaimana dinamika karakter saya sebagai kepala keluarga yang berada di tengah-tengah, antara harus memihak istri dan juga ibunya. Itu poin terberatnya," tambah Omar.

​"Beradu peran dengan Omar terasa sangat menyenangkan. Anggy mampu memberi kami ruang yang nyaman untuk menaruh lapisan emosi di sini yang akan terefleksikan dengan penonton akan sangat terlibat dengan cerita filmnya," ungkap Raihaanun.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.


Senin, 27 April 2026

Film The Bell: Panggilan untuk Mati Hadirkan Penebok, Ikon Horor Baru yang Siap Menghantui Tahun Ini

Film dari kolaborasi rumah produksi MBK Productions dan Sinemata Productions yang menghadirkan Penebok sebagai ikon horor baru yang lahir dari folklore lokal.

Jakarta, 27 April 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop pada 7 Mei 2026, film horor The Bell: Panggilan untuk Mati menghadirkan teror baru yang mengangkat kekuatan folklore lokal. Hasil kolaborasi Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions ini menawarkan pendekatan berbeda dengan menghidupkan sosok Penebok sebagai ikon horor yang mencekam dan siap menghantui tahun ini.

​Di tengah tren film horor Indonesia yang terus mendominasi industri perfilman, The Bell: Panggilan untuk Mati hadir dengan menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan instan. Film ini mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi, menghadirkan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan secara visual, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Melalui sosok Penebok, film ini membangun atmosfer yang berangkat dari mitos dan kepercayaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas cerita lokal di tengah arus globalisasi konten.

​Film ini bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat, namun menjadi awal teror ketika dicuri oleh sekelompok anak muda demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi, membawa ancaman yang perlahan semakin nyata. Di tengah situasi yang kian mencekam, Danto (Bhisma Mulia) dan Airin (Ratu Sofya) ikut terseret dalam rangkaian peristiwa tersebut.

​Lebih dari sekadar menghadirkan ketakutan, The Bell: Panggilan untuk Mati menawarkan relevansi dengan realitas masa kini. Fenomena generasi digital yang haus akan viralitas menjadi salah satu lapisan cerita yang membuat film ini terasa dekat dengan penonton. Keputusan para karakter yang menjadikan hal mistis sebagai konten hiburan menjadi refleksi atas batas yang semakin kabur antara dunia nyata dan sensasi digital, sekaligus menghadirkan konsekuensi yang tidak terduga.

​Sutradara The Bell, Jay Sukmo membawa pendekatan yang cukup berbeda dalam The Bell: Panggilan untuk Mati dengan menghadirkan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita. Cara ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberi pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton. Lewat pendekatan tersebut, Jay Sukmo juga ingin menghadirkan teror yang lebih halus dan terasa, bukan sekadar mengandalkan kejutan sesaat. "Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya," ujarnya. Pendekatan ini membuat filmnya terasa lebih imersif.

​Melalui film ini, sosok Penebok diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore Indonesia. Tidak sekadar menjadi elemen teror, Penebok merepresentasikan kekuatan mitos lokal yang jarang diangkat ke layar lebar. Dengan visual yang khas dan latar cerita yang kuat, Penebok dihadirkan sebagai simbol ketakutan yang berbeda, bukan hanya menyeramkan, tetapi juga memiliki kedalaman budaya.

​Sebagai aktor senior Indonesia, Mathias Muchus menilai bahwa kehadirannya dalam The Bell: Panggilan untuk Mati juga berkaitan dengan upaya film ini dalam mengangkat kekuatan budaya lokal melalui sosok Penebok. "Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga memahami," ujarnya.

​Keunikan inilah yang menjadikan The Bell: Panggilan untuk Mati sebagai tontonan yang layak dinantikan. Di tengah banyaknya film horor dengan pola yang serupa, film ini menghadirkan pendekatan yang lebih segar dengan menggabungkan unsur budaya, teror, dan isu kontemporer. Penonton tidak hanya diajak untuk merasakan ketegangan, tetapi juga menyelami cerita yang memiliki makna dan relevansi.

​Film The Bell: Panggilan untuk Mati tidak hanya mengandalkan elemen teror, tetapi juga mengangkat sejumlah isu yang dekat dengan realitas masyarakat saat ini. Salah satu isu utama yang diangkat adalah fenomena obsesi terhadap konten dan viralitas di era digital, di mana generasi muda kerap menjadikan apa pun sebagai bahan hiburan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Tindakan mencuri benda keramat demi konten dalam film ini menjadi refleksi dari kecenderungan tersebut, sekaligus kritik terhadap budaya sensasi yang semakin ekstrem.

​Selain penayangannya di dalam negeri, The Bell: Panggilan untuk Mati juga akan memperluas jangkauan internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12–20 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan film The Bell: Panggilan untuk Mati ke sineas global.

​Tonton The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026, dan jadilah penonton yang tidak hanya menikmati keseruannya, tetapi juga memahami kisahnya! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film ini di Instagram @thebell.film

SINOPSIS

Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.


Cast dan Filmmaker

  • Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli
  • Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan
  • Sutradara : Jay Sukmo
  • Penulis : Priesnanda
  • Co-Produser : Agus Suhardi
  • Lini Produser : Ipunk Purwono
  • DoP : Indra Suryadi
  • Cast : Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi (Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi).
  • Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026

Tentang Sinemata Buana Kresindo

​Sinemata Buana Kresindo merupakan kolaborasi dari dua perusahaan kreatif, yaitu Multi Buana Kreasindo (MBK Productions) dan Sinemata Productions, yang menyatukan kekuatan di bidang pengembangan konten, produksi, hingga distribusi film. Berangkat dari pengalaman MBK dalam storytelling dan strategi komunikasi berbasis konten, serta perjalanan Sinemata sebagai agensi marketing film yang berkembang menjadi produser dan distributor, kolaborasi ini hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam industri perfilman. Melalui Sinemata Buana Kresindo, keduanya berkomitmen menghadirkan karya yang relevan, kuat secara cerita, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui kolaborasi strategis di industri kreatif Indonesia.

Tentang OST Film

"Penuh Kenangan" merupakan original soundtrack (OST) dari film The Bell: Panggilan untuk Mati yang dibawakan oleh Egha De Latoya. Lagu ini menghadirkan nuansa emosional yang kuat, mengangkat tema kesetiaan, harapan, dan keyakinan dalam cinta di tengah ketidakpastian. Tidak hanya sebagai pelengkap film, "Penuh Kenangan" juga berperan memperkuat narasi dan pengalaman emosional penonton melalui lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, aransemen yang menyentuh, serta karakter vokal yang penuh penghayatan. Didistribusikan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Langit Musik, lagu ini menyasar penikmat film dan musik digital, khususnya generasi muda. Promosinya didukung oleh strategi digital yang terintegrasi, mulai dari kolaborasi dengan kampanye film, aktivasi media sosial, hingga kerja sama dengan influencer.

​Diproduksi bersama RPM Music sebagai label yang berpengalaman di industri musik digital, "Penuh Kenangan" juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand dan partner melalui bentuk sponsorship, campaign, serta aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran lagu ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara musik, film, dan audiens secara lebih luas.

Mirisnya Nasib Zee Asadel: Taaruf karena Niat Ibadah, Malah Jadi Ujian Batin Gara-gara "Dianggurin"

Bagi kita yang pernah mengecap indahnya dunia pesantren atau tumbuh dengan nilai-nilai religi, konsep pernikahan itu sakral banget. Istilahnya: Ibadah Terpanjang. Apalagi buat santriwati seperti Amira (Zee Asadel), melayani suami bukan cuma soal kewajiban, tapi "jalur cepat" menuju rida Allah.

​Ekspektasinya? Begitu akad diucap, dunia serasa milik berdua, pahala mengalir deras lewat sentuhan dan perhatian. Tapi, gimana kalau "ibadah terpanjang" itu justru terasa seperti "ujian tersulit" karena suami nggak kunjung kasih akses alias nggak ada nafkah batin?

​Niatnya Melayani, Realitanya Malah "Dianggurin"

​Sebagai istri yang taat, Amira sudah siap all-out. Dia sudah dandan cantik, belajar masak makanan favorit suami dari sang mertua (Putri Ayudya), sampai menyiapkan hati buat melayani sang imam, Furqon (Emir Mahira). Tapi apa daya, Furqon justru sedingin es di kutub utara.

​Statusnya sih sudah suami-istri sah, tapi ranjang mereka terasa seperti dua pulau yang terpisah samudera. Furqon menolak memberikan nafkah batin, bahkan menyentuh Amira pun enggan. Buat para istri muda, situasi ini pasti bikin insecure parah. Muncul pertanyaan: "Apa aku kurang cantik? Apa aku ada salah?"

​Ternyata, Ada "Hantu" di Antara Mereka

​Yang bikin lebih nyesek dan miris, alasan di balik dinginnya Furqon bukan karena Amira kurang sempurna. Masalahnya klasik tapi mematikan: Belum Move On.

​Furqon ternyata masih menyimpan "unfinished business" dengan masa lalunya, Dara (Ratu Rafa). Bayangkan, Amira yang sudah sah secara agama dan negara, harus kalah saing dengan bayang-bayang masa lalu yang bahkan nggak ada di rumah itu. Benar-benar definisi menang di atas kertas, tapi kalah di dalam ingatan.

​Obat Kuat vs Jalur Langit

​Di film ini, kita bakal lihat betapa "polos" dan desperate-nya Amira menghadapi masalah ranjang ini. Dari mulai curhat ke sahabat yang sarannya malah asbun (asal bunyi), sampai mencoba cara-cara manusiawi lainnya, termasuk kepikiran soal obat kuat! Ia berpikir obat tersebut bisa mengubah sikap sang suami soal urusan nafkah batin.

​Tapi pada akhirnya, Amira mengingatkan kita semua: kalau jalur bumi sudah mentok dan komunikasi sudah macet, satu-satunya cara adalah mengetuk pintu Sang Pemilik Hati. Apakah ini cara yang benar-benar bisa mengakhiri segala masalah rumah tangga Amira?

​Buat kamu yang lagi merasa "berjuang sendirian" dalam pernikahan, atau yang cuma pengen liat gimana gemas sekaligus nyeseknya hubungan Zee dan Emir, film ini adalah self-healing yang pas.

​Saksikan "Kupilih Jalur Langit", drama pernikahan yang bakal bikin kamu gemas, marah, sekaligus banjir air mata. Sudah tayang di seluruh bioskop Indonesia!

​Ikuti terus update terbarunya melalui akun resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.

Sabtu, 25 April 2026

Badan Perfilman Indonesia Umumkan Susunan Pengurus 2026-2030, Siap Perkuat Ekosistem Film Nasional

Foto: Fauzan Zidni, Nazira C. Noer, Sindy Dewiana

Jakarta, April 2026 – Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, resmi mengumumkan susunan pengurus BPI periode 2026-2030. Pengumuman ini menjadi tonggak penting di tengah momentum kebangkitan industri perfilman Indonesia pascapandemi.

​"Agenda utama yang disiapkan adalah peningkatan SDM perfilman melalui sinkronisasi kurikulum, program magang-hub, dan pengiriman talenta muda ke sekolah film terbaik di luar negeri serta berbagai film lab internasional. Selain itu, BPI akan menyusun revisi UU Perfilman bersama Kementerian Kebudayaan untuk penguatan kelembagaan BPI, penguatan profesi perfilman, penguatan dukungan pemerintah terhadap perfilman, kepastian hukum dan kemudahan investasi, serta perlindungan kebebasan berekspresi," ujar Fauzan.

​Fauzan menambahkan bahwa BPI juga memiliki agenda lain, seperti gerakan anti-pembajakan film secara menyeluruh, penyelenggaraan Festival Film Indonesia, dan pelaksanaan fungsi-fungsi BPI seperti tertuang di UU Perfilman.

​Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut menyampaikan harapannya kepada kepengurusan baru. "BPI memiliki posisi yang sangat penting sebagai jembatan antara pemerintah dan insan perfilman. Kami berharap BPI dapat semakin menguatkan ekosistem perfilman Indonesia, mendorong tata kelola yang transparan, serta membuka ruang yang lebih luas bagi talenta kreatif di seluruh Indonesia," ujarnya.

Berikut adalah struktur kepengurusan Badan Perfilman Indonesia (BPI) 2026-2030:

‎Dewan Pengawas : Judith Jubilina Dipodiputro (ketua), Fajar Nugros, Danu Murti, Agustina Kusuma Dewi, dan Nasaruddin Saridz

‎Dewan Penasehat : Reza Rahadian (ketua), Christine Hakim, Joko Anwar, dan Dede Yusuf

‎Dewan Pakar : Dara Bunga Rembulan, Gusti Randa, Immanuel Prasetya Gintings, Adisurya Abdy, Daniel Rudi Haryanto, Muspita Leni Lolang, dan Rully Sofyan

‎Ketua Umum : Fauzan Zidni

‎Sekretaris Jenderal : Nazira C. Noer

‎Bendahara Umum : Sindy Dewiana

‎Wakil Sekjen Bidang Ekosistem Perfilman : Aline Jusria

‎Kepala Komunikasi : Vivi Coster

‎Kepala Sekretariat : Rizky Yudo Atmaja

‎Ketua Bidang Organisasi : Anggi Frisca

‎Ketua Bidang Kebijakan Publik : Suprayitno dan Rommy Fibri Hardiyanto

‎Ketua Bidang Pengembangan SDMN : Aswan Iskandar

‎Ketua Bidang Hubungan Internasional : Yulia Evina Bhara

‎Ketua Bidang Festival : Wulan Guritno

‎Ketua Bidang Literasi Film : Putri Ayudya

‎Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan : Dyna Herlina Suwarto

‎Ketua Bidang Pengembangan Film Daerah : Tonny Trimarsanto

‎Ketua Bidang Kerjasama : Luna Maya

‎Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan : Tesadesrada Ryza

‎Ketua Bidang Pelestarian Film : Farry Hanief dan Julita Pratiwi

‎Pokja Kajian & Advokasi Rencana Induk Perfilman Nasional : Aria Agni, Panji Wibowo, Andi S. Boediman, dan Kus Sudarsono

‎Pokja Kajian Akselerasi Pengembangan SDM : Arif Sulistiyono, Celerina Judisari, Rina Harahap, dan Agung Sentausa

‎Pokja Kajian Pelestarian Film : Riri Riza, Lisabona Rahman Satgas Anti Pembajakan Hermawan Sutanto, Axel Hadiningrat

‎Komite Festival Film Indonesia 2026 : Ario Bayu (ketua), Budi Irawanto, Prilly Latuconsina, Rahajeng Paramesrani, Sofia Setyorini, Andi F. Yahya, dan Rangga Djoned



Dengan susunan kepengurusan dan Pokja yang telah terbentuk, Badan Perfilman Indonesia (BPI) berkomitmen untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi kinerja dengan seluruh insan perfilman. Momen ini adalah kesempatan untuk bergerak bersama, memastikan setiap program kerja dilaksanakan dengan unggul demi memperkuat ekosistem perfilman nasional dan memajukan perfilman Indonesia.

​*****

​Tentang Badan Perfilman Indonesia (BPI):

Berdiri pada 17 Januari 2014 berdasarkan UU No. 33 Tahun 2009, Badan Perfilman Indonesia adalah lembaga swasta mandiri yang dibentuk masyarakat sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen perfilman Indonesia: dikukuhkan Presiden, difasilitasi Pemerintah. BPI memiliki tugas: memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah dalam mendorong kebijakan perfilman dan mempercepat PP Rencana Induk Perfilman Nasional dan PP Sanksi. Menyelenggarakan dan mengikuti festival film di dalam dan luar negeri. Mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing. Melakukan penelitian dan pengembangan perfilman. Memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Memfasilitasi pendanaan pembuatan film bermutu tinggi.

Yasmin Napper dan Lulu Tobing Bagikan Memori Keluarga yang Paling Berharga

Refleksi Mendalam dari Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" Siap Tayang 13 Mei 2026!

​Di era digital saat ini, memori sering kali dianggap abadi karena tersimpan di cloud. Namun, bagaimana jika satu-satunya "penyimpanan" yang kita miliki, yakni ingatan orang tercinta, perlahan memudar? Pertanyaan eksistensial inilah yang dijawab oleh Rapi Films melalui karya terbaru yang berjudul, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan".

​Setelah sukses besar dengan Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films kembali berkolaborasi dengan sutradara Kuntz Agus dan penulis skenario Alim Sudio. Film ini mengeksplorasi narasi caregiving dan ketahanan keluarga yang sangat relevan dengan dinamika sosial modern.

​Dinamika Keluarga di Tengah Krisis Memori

​Film ini mengikuti perjalanan Yuke Yolanda (Lulu Tobing), seorang ibu dan guru yang didiagnosis menderita Alzheimer. Fokus cerita bukan hanya pada kondisi medisnya, melainkan pada bagaimana keluarga tersebut, Aldo (Ibnu Jamil) dan ketiga anaknya, mengubah seluruh gaya hidup mereka demi menjaga sang "jantung" keluarga.

​Bagi generasi muda, perspektif Kesha (Yasmin Napper) memberikan gambaran nyata tentang Coming of Age di tengah tekanan keluarga. Sebagai mahasiswi film, Kesha harus memilih antara mengejar ambisi pribadinya atau pulang untuk mengabdikan memori sang ibu sebelum ia benar-benar terlupakan.

​Kutipan dari Cast tentang Pentingnya Memori Keluarga

​Dalam press conference resmi di Plaza Senayan, para pemeran membagikan perspektif personal yang memperkuat pesan moral film ini, bahwa memori adalah bagian hidup yang krusial untuk dijaga.

Yasmin Napper mengenang kepingan masa lalunya dengan penuh kerinduan, "Aku selalu akan inget berangkat ke sekolah bareng kakak-kakak aku, di mobil ngobrol-ngobrol. Kangen juga berantem-berantem kecil yang sebenernya ga harus berantem tapi diberantemin".

​Bagi Lulu Tobing, meski memori memudar secara biologis, dampak cinta tetap hidup dan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Ia pun berbagi momen intim yang ia jaga hingga kini, "Saya itu suka banget disuapin ibu saya kalau makan. Ini masih saya rasakan di saat saya udah seumur ini. Gimanapun juga, sampai kapanpun, yang kita mau rasain yaitu kasih sayang ibu. Jadi, gak mau itu dihilangkan".

​Refleksi ini diperdalam oleh Ibnu Jamil yang memandang bahwa peran orang tua di masa tua pada akhirnya adalah tentang mendapatkan tempat di hati anak-anaknya. Shofia Shireen turut menambahkan betapa berharganya kesederhanaan, "momen-momen simple ketika tengah malam aku bercanda-canda dengan kakak, adik, kadang juga mamah ikutan ngobrol ketawa-tawa. Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku akan kangen momen-momen ini di hari tua nanti".

​Menutup rangkaian perspektif tersebut, Jordan Omar mengingatkan kita pada kefanaan waktu, "aku suka banget momen-momen simple, seperti ketika keluarga kumpul bareng, makan bareng, bercanda-bercanda. Ini berharga banget karena kita hidup di dunia ini sementara, dan kita gatau kapan kita ga bisa ngalamin ini lagi".

​Sebuah Perayaan Atas Kenangan yang Terus Dirawat

​Film ini merupakan ajakan terbuka bagi penonton untuk merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di tengah ancaman hilangnya memori, solidaritas anggota keluarga menjadi kunci utama pertahanan mereka.

​Sebab pada akhirnya, hidup mengajarkan bahwa ada hal-hal yang boleh hilang seperti kesempatan atau nilai akademik, namun jangan sampai kita kehilangan eksistensi di dalam hati orang tua kita.

​Saksikan "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" serentak di seluruh bioskop mulai 13 Mei 2026.

Jumat, 24 April 2026

Ikhlas Paling Serius Tayang 1 Mei 2026 di Viu, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya


Jakarta, 24 April 2026 – Series drama romantis Ikhlas Paling Serius akan tayang di platform streaming Viu dan MAXStream TV mulai 1 Mei 2026. Drama ini dibintangi Omar Daniel dan Kimberly Ryder sebagai pemeran utama, serta diadaptasi dari novel mega best seller dengan judul yang sama karya Fajar Sulaiman.

Selain Omar Daniel dan Kimberly Ryder, series ini juga menghadirkan sejumlah aktor lain seperti Fahad Haydra, Amara Sophie, Kiara Mckenna, dan Caroline Zachrie.

Dalam series ini, Omar Daniel memerankan Fajar, pria yang dekat dengan keluarga dan berusaha mengutamakan orang lain. Sementara itu, Kimberly Ryder berperan sebagai Farah, perempuan ambisius yang dikenal tegas di lingkungan kerja, tetapi menghadapi tekanan dari ibunya.

Omar Daniel menjelaskan bahwa karakter yang ia perankan memiliki sifat people pleaser yang membuatnya sulit mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

“Ikhlas itu kayak level tertinggi dari mencintai. Bagaimana seseorang itu rela melepaskan, menerima sebuah keadaan dengan lapang dada, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Itu yang dilakukan oleh Fajar, dan bisa jadikan contoh untuk semuanya,” kata Omar Daniel.

Ia juga menyebut karakter Fajar sebagai sosok yang sering mengalah demi orang lain. “Fajar itu sedikit plin-plan. Karena dia people pleaser, tipikal orang yang nggak enakan, bingung cara menolak,” ujar Omar Daniel.

Sementara itu, Kimberly Ryder menggambarkan karakter Farah sebagai sosok pekerja keras yang terlihat tegas, tetapi menyimpan tekanan dari keluarganya.

“Farah adalah hard worker. Orang-orang bilang dia bos yang killer dan tegas. Pokoknya semua orang takut sama dia. Tapi sebenarnya hatinya lembut. Dia seperti itu karena ada tuntutan dari ibunya,” kata Kimberly Ryder.

Kimberly juga menilai karakter yang ia perankan menghadapi dilema dalam hubungan dan kehidupan pribadinya.

Series Ikhlas Paling Serius mengisahkan pertemuan Fajar dan Farah yang berawal dari hubungan kerja. Fajar mendapatkan kesempatan bekerja di kantor Farah, seorang bos muda yang dikenal perfeksionis.

Situasi berubah ketika Fajar ternyata diminta oleh Willie, teman Farah, untuk memata-matai perempuan tersebut. Namun seiring waktu, Fajar justru jatuh cinta pada Farah.

Hubungan keduanya berkembang secara diam-diam karena mereka harus menyembunyikan perasaan dari keluarga dan lingkungan kerja. Konflik muncul ketika rahasia tersebut terbongkar, dan di sisi lain, Farah menghadapi tekanan dari ibunya.

Series Ikhlas Paling Serius akan tayang mulai 1 Mei 2026 di Viu serta MAXStream TV, dan menghadirkan kisah tentang pilihan antara cinta, keluarga, dan masa depan.

Kamis, 23 April 2026

Naura Ayu Rilis ‘Terima Kasih’, Lagu yang Lahir dari Kenangan yang Tak Sempat Dirayakan

Jakarta, 23 April 2026 – Melalui lagu terbaru berjudul “Terima Kasih” yang dirilis hari ini, Naura Ayu merajut kenangan masa sekolah dan perasaan kehilangan momen perpisahan yang utuh menjadi sebuah persembahan emosional yang ia dedikasikan khusus untuk para sahabatnya.

​“Lagu ini aku buat untuk sahabat-sahabat aku. Kami punya banyak banget kenangan, tapi tidak sempat merasakan momen kelulusan bersama karena pandemi. Itu yang bikin semuanya terasa sangat emosional,” ungkap Naura.

​Dalam proses kreatifnya, lagu ini ditulis bersama Ivan Tangkulung dan Tarapti Ikhtiar Rinrin (Tarrarin). Berangkat dari catatan personal Naura yang menyerupai diary, setiap potongan cerita kemudian dikembangkan menjadi lirik yang jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang. “Banyak hal yang diceritakan Naura itu sebenarnya sederhana, tapi justru di situ letak emosinya. Dari catatan-catatan kecil itu, kita kembangkan jadi lagu yang terasa sangat personal, tapi juga relate,” ujar Tarrarin.

Secara musikal, “Terima Kasih” hadir dengan nuansa yang lebih sinematik dan terinspirasi dari pendekatan musikal teater. Naura sejak awal telah memiliki gambaran jelas tentang warna lagu yang diinginkan, menggabungkan sisi familiar yang sudah dikenal pendengarnya dengan eksplorasi yang lebih matang. “Aku ingin lagunya punya nuansa musikal, dengan storytelling yang kuat. Tapi tetap terasa seperti Naura yang dulu, hanya saja dengan pendekatan yang lebih dewasa,” jelasnya.

​Lapisan vokal dan elemen paduan suara menjadi bagian penting dalam membangun emosi lagu ini. Dalam prosesnya, penyusunan vocal layer dikerjakan bersama oleh seluruh tim, termasuk Nola B3, ibunda dari Naura, yang juga turut berkontribusi dalam sesi rekaman. Keterlibatan orang-orang terdekat ini semakin memberi warna dan kedekatan emosional dalam keseluruhan karya.

​Seiring dengan perilisan lagunya, video musik “Terima Kasih” juga dirilis pada hari yang sama. Video ini menampilkan momen kebersamaan Naura bersama teman-temannya di sekolah, dengan suasana hangat dan penuh keceriaan. Dalam salah satu adegan, Naura dan teman-temannya terlihat menikmati 5 Days Croissant yang turut melengkapi momen kenangan manis mereka.

​“Terima Kasih” menjadi salah satu langkah baru dalam perjalanan musikal Naura, sekaligus pengantar menuju album berikutnya yang tengah ia siapkan.

​Melalui lagu ini, Naura berharap pendengar bisa kembali terhubung dengan kenangan masa sekolah mereka. Bagi yang masih berada di bangku sekolah, lagu ini menjadi pengingat untuk menikmati setiap momen yang ada, sementara bagi yang telah melewati fase tersebut, “Terima Kasih” menjadi ruang untuk kembali merasakan hangatnya kenangan yang pernah dimiliki.

​Single terbaru Naura Ayu, “Terima Kasih”, resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 23 April 2026. Lagu ini menghadirkan kisah tentang kenangan masa sekolah dan pertemanan, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus kerinduan atas momen yang tak sempat terucap dengan utuh.

Trinity Optima Production (TOP)

Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi “Nurturing STARS to Inspire Happiness”, TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent, perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Film Kupeluk Kamu Selamanya Memotret Cerita Perjuangan Ibu Untuk Berdamai dengan Kehidupan, Cinta Tanpa Syarat hingga Titik Akhir

Tonton film Kupeluk Kamu Selamanya mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia, rasakan makna #CintaTanpaSyarat

Jakarta, 23 April 2026 — Kuy! Studios mempersembahkan film debut layar lebar mereka yang bekerja sama dengan Aktina Film, Kupeluk Kamu Selamanya. Sebuah drama keluarga yang tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Menampilkan cerita perjuangan seorang ibu untuk berdamai dengan kehidupannya.

​Film Kupeluk Kamu Selamanya mengikuti kisah seorang ibu tunggal bernama Naya yang diperankan oleh Hana Malasan. Ia harus merelakan kariernya demi merawat sang anak, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Ketika Naya berpisah dengan sang suami (Ibnu Jamil), kehidupan Naya semakin menantang. Saat sakit bawaan Aksa semakin parah dan membuatnya harus menjalani perawatan, Naya diuji kekuatannya baik sebagai ibu dan seorang manusia.

​Disutradarai oleh Pritagita Arianegara, yang dalam setiap filmnya selalu berbicara tentang relasi ibu dan anak, ia memberikan sebuah perjalanan emosional yang menyentuh dari kisah Naya dan Aksa. Penonton diajak untuk merasakan dan memaknai arti cinta tanpa syarat, dari sudut pandang seorang ibu.

​Film ini dibintangi oleh Hana Malasan, Jared Ali, Ibnu Jamil, Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah, dan Leroy Osmani. Film ini juga menjadi debut aktris Dinda Hauw sebagai produser, bersama Dara Dwitanti. Kupeluk Kamu Selamanya juga menjadi debut Sean Gelael di industri perfilman Indonesia, dengan menjadi produser eksekutif film ini, bersama Angga Dwimas Sasongko.

​"Saya ingin penonton pulang dan menyadari, bahwa kita memiliki cinta yang tidak akan pernah selesai, yakni cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, ketika cinta itu selesai, itu menjadi sebuah kenangan yang juga tidak akan pernah akan hilang," ujar sutradara Pritagita Arianegara.

​Sementara itu, bagi Hana Malasan, ia memaknai sebuah cinta tanpa syarat adalah saat memberikan sesuatu tanpa berharap imbal balik. Namun, lewat karakter Naya, Hana juga melihat sebuah refleksi bahwa perempuan, terutama ibu, kerap kali dianggap selalu kuat, sehingga merasa tidak butuh pertolongan dari orang di sekitarnya.

​"Naya mengajarkan kita untuk jangan lupa meminta tolong. Tidak apa-apa jika kita terlihat rapuh, karena itu sangat manusiawi. Rapuh itu juga bagian dari emosi manusia yang harus kita terima," ujar Hana Malasan.

​"Film ini sebenarnya juga cerita tentang perjuangan seorang ibu untuk bisa berdamai dengan kehidupan. Karena sebenarnya seorang ibu yang sudah berdamai dengan hidupnya sendiri, akan terefleksi ke orang-orang sekitar. Terkadang itu yang dilupakan, karena terlalu fokus untuk menjadi ibu yang kuat dan sempurna, padahal sebenarnya ibu juga manusia, dan manusia tidak sempurna," tambah Hana.

​Bagi Ibnu Jamil, film Kupeluk Kamu Selamanya juga terasa sangat manusiawi, saat Pritagita memotret para karakternya tidak benar-benar hitam putih antara protagonis-antagonis.

Kupeluk Kamu Selamanya yang juga menceritakan tentang perjalanan orangtua tunggal dalam memperjuangkan anaknya, juga menjadi bentuk refleksi untuk para orangtua yang sering merasa paling tahu apa yang dibutuhkan sang anak.

​"Film ini adalah perjuangan orangtua tunggal dengan segala macam bentuk cara dan keterbatasannya untuk merawat anaknya. Hebatnya, tidak ada yang antagonis, karena di dunia nyata pun tidak ada yang hitam-putih, tergantung melihatnya bagaimana, setiap orang punya sudut pandang masing-masing," ungkap Ibnu Jamil.

Kupeluk Kamu Selamanya tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Saksikan dan resapi makna #CintaTanpaSyarat di film ini. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @kupelukkamuselamanya dan @kuy.studios.

Vidio Original Series “Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral” Hadirkan Drama Komedi Seru dan Absurd Dibintangi Antonio Blanco Jr. dan Zsa Zsa Utari

Jakarta, 23 April 2026 — Apa yang terlintas di kepala saat mendengar kata “ganteng” dan “genteng” dalam satu judul? Mungkin terdengar nyeleneh, mungkin juga bikin senyum-senyum sendiri. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral hadir bukan sekadar judul yang catchy, tetapi membawa kisah yang absurd, hangat, dan penuh kejutan tentang seorang bos muda dari kota yang hidupnya jungkir balik saat terpaksa turun ke desa demi menyelamatkan pabrik genteng keluarganya. Di tengah usahanya beradaptasi dengan para mandor dan kerasnya dinamika lapangan, ia mendapatkan ide tak terduga dari kebiasaan para kuli genteng: sebuah kontes otot. Tak dinyana ini menjadi hal yang heboh dan perlahan berubah menjadi harapan baru bagi masa depan pabrik tersebut.

Vidio Original Series Ganteng-Ganteng Genteng mulai tayang 24 April 2026 eksklusif di Vidio dengan total 7 episode. Series produksi BASE Entertainment dan Studio Antelope ini membawa penonton ke sebuah dunia yang terasa sangat dekat, sangat lokal, namun justru di situlah letak kesegarannya.

​Di tengah gempuran cerita cinta yang berat dan drama perkotaan yang glamor, Ganteng-Ganteng Genteng hadir seperti angin segar, fun, ringan, penuh kekacauan yang menghibur, tapi tetap mengena di hati.

Joni Wirata (Antonio Blanco Jr.) adalah pewaris PT Wirata Konstruksi Bahari yang hidupnya tak pernah jauh dari privilege, pesta, dan ambisi besar untuk merebut kursi direktur dari sang kakak, Claudia. Namun semuanya runtuh dalam semalam ketika emosinya meledak dan video dirinya memukul seorang investor viral di media sosial. Reputasinya hancur, jabatannya dicopot, dan satu-satunya peluang untuk membuktikan diri tersisa pada sebuah aset bermasalah: pabrik genteng tua milik keluarga di desa Ciwani yang selama ini gagal dijual.

​Berbekal sisa uang tunai dan ego yang masih menyala, Joni pergi ke Ciwani dengan satu tujuan, menjual pabrik itu dan kembali ke Jakarta sebagai pemenang. Namun kenyataan jauh dari bayangannya. Yang ia temukan justru desa yang gersang, pabrik yang nyaris runtuh, serta para pekerja dengan karakter nyentrik yang sama sekali tidak percaya padanya.

​Di tengah segala kekacauan itu, Joni bertemu Kang Odoy (Joe Project P), mandor keras kepala yang melihat pabrik sebagai sumber hidup warga, Ayas (Zsa Zsa Utari), yang tangguh dan mandiri, serta para pekerja lain seperti Kipli (Dian Sidik), Taulib (Apos Hutagaol), Ujang (Rafly Altama) yang perlahan memperlihatkan dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

​Saat semua rencananya menemui jalan buntu, sebuah kejadian absurd justru membuka peluang baru: kontes adu kekuatan otot para pekerja pabrik yang heboh, dan tak terduga viral. Dari sanalah Joni mulai melihat kemungkinan lain, bukan sekadar menjual pabrik, tetapi mengubah keunikan Ciwani menjadi sesuatu yang bernilai.

​Di tengah ambisinya, Joni pun mulai dihadapkan pada pilihan yang jauh lebih besar: mengejar kekuasaan, atau menjaga tempat yang telah menjadi rumah bagi banyak orang.

Berangkat dari konsep orisinal karya Ratih Kumala, yang terinspirasi dari fenomena Binaraga Jebor Jatiwangi Cup garapan Jatiwangi Art Factory.

​(Gambar Foto)

Sumber: Vidio

​Ganteng-Ganteng Genteng berawal dari ide Ratih Kumala, novelis ternama, setelah membaca artikel tentang pekerja pabrik genteng di Jatiwangi yang berlatih untuk mengikuti kompetisi binaraga lokal, Jatiwangi Bodybuilding Cup di Majalengka, Jawa Barat.

​Ide yang terdengar out of the box ini justru menyimpan potensi visual dan emosional yang kuat. Berangkat dari sana, tim penulis yang dipimpin Rifki Ardisha bersama tim produksi melakukan riset langsung ke Jatiwangi Art Factory, sebagai penggagas acara, sekaligus menyaksikan langsung Jatiwangi Jebor Cup 2025.

​Dari situ lahirlah sebuah dunia yang penuh dengan karakter-karakter unik, ada humor, drama, absurditas, tapi juga ada kemanusiaan yang kuat. Itu yang menjadi benang merah pengembangan cerita.

​Jay Sukmo sebagai sutradara mengolah latar pabrik genteng di Jatiwangi menjadi dunia yang terasa autentik sekaligus menarik secara sinematik. Syuting dilakukan langsung di Jatiwangi, yang secara alami memiliki karakter lanskap yang kuat, panas, gersang, dan penuh tekstur visual. Ini menjadi seting yang sulit di replika di Jabodetabek. Jay kemudian memperkaya setiap frame dengan sentuhan artistik yang tetap natural agar selaras dengan tone komedi drama series ini.

​Selain visual, Jay juga memberi perhatian pada detail keseharian karakter, mulai dari pemain utama hingga extras, agar kehidupan di pabrik terasa nyata. Untuk mendukung hal ini, para pemain menjalani workshop langsung sebagai pekerja pabrik sebelum syuting dimulai.

​Menariknya, selama proses syuting di Jatiwangi, antusiasme warga sekitar juga sangat terasa. Banyak warga datang untuk menonton langsung jalannya produksi. Bahkan, kehadiran mereka memicu munculnya para penjaja kaki lima yang ikut berjualan di sekitar lokasi. Suasananya pun terasa seperti karnaval kecil setiap hari. Ramai, hangat, dan penuh interaksi antara warga dan kru. Tentu saja, demi kelancaran produksi, semua aktivitas tetap diatur agar berlangsung di area yang aman dan tidak mengganggu proses syuting.

​"Jatiwangi sudah punya karakter visual yang sangat kuat. Tugas saya adalah menjaga semuanya tetap natural, hidup, dan estetik, sehingga penonton bisa percaya dengan dunia yang kami hadirkan," ujar Jay Sukmo.


Totalitas Antonio Blanco Jr.: Dari Belajar Bikin Genteng hingga Intermittent Fasting Demi Joni

Antonio Blanco Jr. merasa excited melakoni peran sebagai Joni, apalagi karakter ini terasa sangat dekat karena memiliki sisi yang relatable dengan dirinya, mulai dari sosok anak kota yang terbiasa hidup nyaman hingga sifat impulsif yang apa adanya. Tetapi justru yang paling menarik baginya adalah perjalanan transformasi Joni, dari seorang spoiled kid yang hanya mengejar ambisi menjadi sosok yang perlahan menemukan empati, kepedulian, dan arti keluarga di tempat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Demi mendalami peran ini, Antonio menjalani workshop di lokasi, belajar membuat genteng, puasa intermittent hingga mempersiapkan fisik untuk adegan-adegan kontes otot yang menjadi salah satu highlight series ini.

​"Workshop di Jatiwangi itu salah satu pengalaman paling berkesan buat gue. Kita literally turun langsung jadi ‘kuli genteng’. Mulai dari ngumpulin tanah liat, ngebentuk, motong, sampai pressing dan bakar genteng. Di situ baru kerasa banget ternyata prosesnya nggak gampang. Kita juga banyak ngobrol sama warga dan para pekerja, jadi makin paham keseharian mereka. Itu sih yang bikin gue lebih relate dan bisa ngebawa karakter Joni jadi lebih hidup," jelas Antonio Blanco Jr.

​​Antonio juga menambahkan kalau salah satu adegan yang memorable adalah saat scene panggung kontes otot final, karena semua pemain berkumpul dan treatment secara kolosal. Di situ menurutnya emosinya lengkap banget, ada sisi komedi, adegan yang intens, sampai momen yang menyentuh. Secara teknis juga cukup menantang karena shot-nya banyak dan mereka harus berpacu dengan waktu.

Zsa Zsa Utari hadirkan Ayas yang tangguh, hangat, dan bikin jatuh hati

​Di tengah kekacauan Joni, hadir Ayas (Zsa Zsa Utari), perempuan desa yang tangguh, mandiri, dan punya hati besar. Ia bukan tipe karakter perempuan yang hanya hadir sebagai love interest. Ayas punya dunianya sendiri, punya beban sendiri, dan justru menjadi salah satu pusat emosional cerita.

​"Ayas itu perempuan yang kalau ada masalah ya jalan dulu, gas dulu, nanti dipikirin sambil jalan," ujar Zsa Zsa sambil tertawa.

​Menurutnya, karakter ini sangat membekas secara personal. "Yang aku suka dari Ayas adalah dia selalu mengupayakan yang terbaik untuk keluarga. Dia kuat, tapi tetap hangat. Ada banyak sisi yang aku relate banget."

​Zsa Zsa juga menyoroti chemistry yang terbangun natural bersama Antonio.

​"Lucunya, dari awal reading kita tuh langsung click. Ngobrol, bercanda, curhat, dan chemistry-nya ngalir aja. Jadi pas di layar, semuanya terasa natural. He's such a great partner to work with!"

​Ganteng-Ganteng Genteng juga semakin semarak dengan kehadiran para pemain lain seperti Dian Sidik, Joe Project P, Apos Hutagaol, Nugie, Rafly Altama, Jasmine Nadya, Adinda Thomas, serta deretan pemeran pendukung lainnya yang menghadirkan warna tersendiri di setiap episode. Masing-masing karakter tampil dengan keunikan yang kuat, menghadirkan humor yang terasa natural.

​Lebih dari Tawa: Cerita Tentang Perubahan dan Tantangan Kehidupan

​Lebih dari sekadar komedi, Ganteng-Ganteng Genteng menghadirkan cerita segar tentang kehidupan desa yang keras namun hangat. Lewat perjalanan Joni, penonton diajak melihat transformasi dari sosok penuh ambisi menjadi pribadi yang lebih tulus, sekaligus menyentuh isu sosial seperti kesenjangan urban-rural dalam balutan komedi yang ringan dan membumi.

Jangan lewatkan keseruan, kehangatan, dan kekacauan paling absurd dari Vidio Original Series Ganteng-Ganteng Genteng, mulai 24 April 2026, dengan episode terbaru setiap Jumat, hanya di Vidio.

Trailer Film Tumbal Proyek Rilis, Bongkar Kisah Kelam di Balik Proyek Besar

Jakarta, 23 April 2026 - Trailer film Tumbal Proyek resmi dirilis dan langsung memperlihatkan nuansa horor yang pekat sejak awal. Film ini mengangkat cerita yang beredar di masyarakat tentang sisi gelap di balik proyek-proyek besar, termasuk pembangunan Jembatan Surabaya–Madura atau Suramadu, yang sejak lama kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis dan tumbal manusia.

​Lewat trailer perdananya, Tumbal Proyek tidak hanya menawarkan teror visual, tetapi juga membawa lapisan cerita yang emosional. Film ini menyoroti kisah keluarga yang terus menunggu kabar orang terdekat yang hilang, tanpa pernah mendapat kepastian dan tanpa pernah bisa menguburkan mereka dengan layak.

​Tema kehilangan menjadi salah satu kekuatan utama dalam film ini. Di tengah suasana mencekam dan misteri yang perlahan terbuka, Tumbal Proyek menghadirkan rasa duka yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Penantian, luka batin, dan ketidakpastian menjadi bagian penting yang membangun emosi cerita.

​Film ini juga memadukan unsur horor, misteri, dan drama emosional dalam satu alur yang saling menguatkan. Teror yang muncul tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh dari cerita manusia yang penuh trauma dan kehilangan. Karena itu, Tumbal Proyek hadir bukan sekadar sebagai film horor, tetapi juga sebagai kisah tentang keluarga, harapan yang tertahan, dan luka yang belum selesai.

​Dengan premis yang dekat dengan cerita tutur di tengah masyarakat, Tumbal Proyek mencoba membawa mitos yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut ke layar lebar dalam bentuk yang lebih dramatis dan sinematis. Trailer film ini pun menjadi pintu awal bagi penonton untuk masuk ke dalam misteri besar yang menyelimuti hilangnya nyawa di balik sebuah proyek pembangunan.

​Melalui trailer yang telah dirilis, Tumbal Proyek menjanjikan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus menyentuh sisi emosional penonton. Film ini memperlihatkan bagaimana ketakutan bisa lahir bukan hanya dari sosok tak kasat mata, tetapi juga dari kehilangan yang terus menghantui orang-orang yang ditinggalkan. Saksikan Film Tumbal Proyek yang akan tayang mulai 13 Mei 2026 di Bioskop.

Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Trailer & Poster, Ungkap Masalah Menantu dan Mertua yang Sangat Dekat! Jadi Film Paling Relate yang Pernah Dibuat Anggy Umbara

Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia ​ Jakarta, 28 April 2026 — Umbara Brothers Film dan VMS Stud...