Rabu, 15 April 2026

Meriahnya Gala Premiere "Kupilih Jalur Langit" yang Bikin Baper Berjamaah: Ketika Akad Sudah Diucap, Namun Hati Suami Masih Tertinggal di Masa Lalu

Jakarta, 15 April 2026 – Setelah sukses mengguncang Malang dan Surabaya dengan tiket Gala Premiere yang ludes terjual (sold out), MD Pictures bersama Manara Films kembali membawa fenomena "Jalur Langit" ke ibu kota dengan menggelar Gala Premiere dan Press Conference film "Kupilih Jalur Langit" yang dilangsungkan dengan meriah di Epicentrum XXI pada Rabu 15 April 2026.

​Acara ini dihadiri oleh sang visioner produser Manoj Punjabi, sutradara Archie Hekagery, serta jajaran pemain lintas generasi yang tampil memukau: Zee Asadel, Emir Mahira, Ratu Rafa, Ardit Erwandha, Neneng Wulandari, Irgi Fahrezi, Putri Ayudia, Surya Saputra, dan Dina Lorenza. Kehadiran mereka di red carpet disambut histeria penggemar yang sudah tak sabar menyaksikan transformasi Zee Asadel menjadi seorang istri muda yang tegar.

Manoj Punjabi: "Ini Bukan Sekadar Cerita Religi Biasa"

​Dalam sesi konferensi pers, Manoj Punjabi mengungkapkan alasan kuat mengapa MD Pictures sangat serius menggarap IP terbaru dari Elizasifaa ini.

​"Kisah yang dibawa Eliza selalu punya daya ledak karena kejujurannya. Lewat 'Kupilih Jalur Langit', kami ingin memberikan perspektif baru bagi Gen Z tentang pernikahan muda. Ini adalah potret nyata tentang apa yang terjadi jika akad sudah diucap, namun ada rahasia dan 'unfinished business' yang belum tuntas. Film ini adalah perjalanan spiritual sekaligus emosional yang sangat autentik," tegas Manoj Punjabi.

Gemasnya Candaan Zee & Emir

​Momen yang paling banyak mengundang tawa sekaligus rasa gemas adalah saat Zee Asadel dan Emir Mahira saling melempar candaan mengenai peran mereka sebagai pasangan suami istri yang "berjarak" di film ini.

​"Jujur ya, memerankan Amira itu capek hati banget. Bayangin, ekspektasi nikah muda itu kan akan sweet dan pacaran halal setiap hari, tapi realitanya aku malah harus ngadepin suami yang super dingin! Aku rasanya jadi orang asing di rumah sendiri," ungkap Zee. Sementara Emir Mahira mengungkapkan, "wah, itu bukan dingin tanpa alasan. Furqon itu bukannya nggak sayang, tapi dia lagi 'tersesat' di masa lalunya sendiri," ucapnya.

Saat Jalur Bumi Mentok, Biarkan Langit yang Mengambil Alih

"Kupilih Jalur Langit" menceritakan Amira (Zee Asadel), seorang santriwati cerdas dan penuh energi yang dunianya terasa sempurna saat dijodohkan dengan Furqon (Emir Mahira), ustadz muda yang lama ia kagumi. Namun, kebahagiaan itu runtuh di malam pertama. Furqon seolah memiliki tembok besar yang memisahkannya dengan Amira.

​Kehadiran bayang-bayang Dara (Ratu Rafa), wanita dari masa lalu Furqon, perlahan mulai terungkap sebagai duri dalam daging pernikahan mereka. Di tengah rasa insecure dan pengabaian, Amira membuktikan bahwa senjata terkuat seorang perempuan bukanlah melabrak masa lalu, melainkan memasrahkan segalanya pada sepertiga malam.

Siap Menangis & Baper Berjamaah?

​Didukung oleh penampilan akting dari Ardit Erwandha dan Neneng Risma yang memberikan bumbu komedi segar, serta kehadiran aktor senior seperti Surya Saputra, Putri Ayudia, Dina Lorenza, dan Irgi Fahrezi, film ini menjanjikan paket lengkap drama keluarga dan romansa religi yang belum pernah ada sebelumnya.

​Bersiaplah menyaksikan perjuangan hati Amira dalam "Kupilih Jalur Langit", tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.

​Jangan lewatkan setiap bocoran dan keseruan di balik layar melalui akun resmi Instagram/TikTok: @kupilihjalurlangitmovie & @mdpictures_official.

Wajah Hilang Dikuliti: Teror Sadis ‘Badut Gendong’ Resmi Diperkenalkan sebagai Ancaman Baru di Universe Qodrat



Jakarta, 15 April 2026 — Setelah merilis first look melalui unggahan resminya, MAGMA Entertainment kini merilis teaser trailer film Badut Gendong. Melalui cuplikan teaser ini, sosok Badut Gendong secara resmi diperkenalkan sebagai bagian terbaru dari semesta Qodrat. Film garapan sutradara Charles Gozali ini hadir layaknya mimpi buruk yang dirancang untuk mendefinisikan ulang standar teror dalam industri perfilman Indonesia.

​Kengerian bermula dari sebuah kampung yang tenang, yang seketika berubah menjadi ladang pembantaian tanpa menyisakan ruang untuk bernapas. Teaser trailer berdurasi singkat tersebut menyuguhkan kepingan misteri yang brutal: para korban ditemukan tewas dengan kondisi wajah yang hilang, dikuliti dengan presisi yang mengerikan.

​Di tengah kepanikan yang mencekam, sosok Badut Gendong muncul sebagai entitas yang mengintai dari balik bayang-bayang, menjelma menjadi ikon teror baru yang dingin dan tak tersentuh.

​Muncul teka-teki besar: apakah Darso (diperankan oleh Marthino Lio) selaku pemilik Badut Gendong memiliki kaitan langsung dengan kematian warga desa? Ataukah ada kekuatan jahat lain yang bersembunyi di balik topeng tersebut?

​Mengapa sosok ini begitu haus akan wajah manusia? Dan di manakah posisi entitas ini dalam peta kekuatan mistis semesta Qodrat? Deretan pertanyaan inilah yang akan menyeret penonton untuk menyelami sisi tergelap manusia dan kekuatan gaib yang merasukinya.

​Sutradara Charles Gozali memberikan sedikit bocoran mengenai kompleksitas cerita yang ia bangun. Ia menegaskan bahwa karakter Badut Gendong merupakan salah satu pencapaian kreatif paling mendalam yang pernah dibentuk untuk semesta Qodrat.

​"Kisah yang melibatkan Darso dan Badut Gendong adalah sebuah tragedi berdarah yang menyuguhkan warna baru bagi karya MAGMA Entertainment," ungkapnya. Layaknya sebuah perpaduan antara duka yang lara dan kegilaan yang eksplosif.

​Atmosfer mencekam ini semakin diperkuat oleh performa transformatif dari Marthino Lio, yang didukung oleh talenta papan atas seperti Derby Romero, Clara Bernadeth, Dayinta Melira, Iskak Khivano, Vonny Anggraini, Jose Rizal Manua hingga kehadiran aktor laga legendaris Barry Prima. Sinergi jajaran pemain ini menjanjikan pengalaman horor-aksi yang tidak hanya menguji nyali, tetapi juga meninggalkan bekas trauma yang menghantui.

Persiapkan diri Anda untuk menyaksikan lahirnya legenda horor yang akan mengubah wajah ketakutan Anda. Badut Gendong dijadwalkan meneror seluruh bioskop di Indonesia mulai 27 Mei 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran Idul Adha. Ikuti jejak terornya dan temukan jawaban di balik misteri kulit wajah yang hilang melalui kanal media sosial resmi di @magmaent dan @badutgendong.

Selasa, 14 April 2026

Film Para Perasuk Menampilkan Emosi dengan Berbeda! Mencerminkan Apa yang Dialami Manusia: di Antara Ambisi dan Berdamai dengan Diri, Mencari Bahagia dari Kerasukan

Para Perasuk tayang mulai 23 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 14 April 2026 — Salah satu film yang paling dinantikan tahun ini dari Wregas Bhanuteja, Para Perasuk, akan tayang mulai 23 April 2026. Menampilkan sebuah bentuk penyaluran emosi yang tak biasa. Mencerminkan apa yang dialami manusia, mulai dari mengejar ambisi, bayangan masa lalu, hingga berdamai dengan diri sendiri. Semua emosi itu disalurkan dalam sebuah pesta kerasukan, yang menjadi cara para karakter di filmnya dalam menemukan kebahagiaan—sekaligus pelarian.

Para Perasuk juga akan mengajak penonton untuk melihat kerasukan dengan cara yang berbeda. Selama ini, banyak yang menganggap kerasukan sebagai sebuah proses yang menyeramkan karena melibatkan roh gaib, namun di film ini, kerasukan yang ada di Pesta Sambetan menjadi ritual yang menyenangkan. Kerasukan menjadi metafora untuk melepaskan beban yang terlalu lama dipendam, dan menjadi bentuk eskapisme.

Para Perasuk sebelumnya tayang perdana (world premiere) di Sundance Film Festival 2026. Film ini juga telah dan berkeliling ke berbagai festival film internasional, termasuk berkompetisi di Miami Film Festival 43 pada program Marimbas Award, berkompetisi di Fantaspoa Brasil, menjadi official selection di program Artful Visions & Asian Frontier di MSPIFF Amerika Serikat, dan terpilih untuk berkompetisi di MOOOV Belgia.

​Di Indonesia, penerimaan film ini juga sangat tinggi. Terbukti dari early screening di 14 kota di Indonesia, semua tiketnya sold out! Dan masih ada beberapa kota lagi akhir pekan ini yang pembelian tiketnya baru dibuka kemarin. Di early screening, banyak yang memuji penampilan dari jajaran para ansambel, yang membawa energi yang saling menguatkan, dan membuat ceritanya hidup.

​“Film ini berbicara tentang obsesi seseorang. Tokoh utamanya, Bayu (Angga Yunanda), ingin menjadi perasuk terbaik. Tapi masalahnya desanya terancam digusur. Bayu dan warga berusaha mempertahankan desa agar tak terjadi penggusuran. Ini menceritakan Bayu yang sangat terobsesi sekali terhadap sesuatu, sehingga lupa dengan orang-orang di sekitarnya termasuk bapaknya. Ambisi dan obsesi itu juga sangat relate dengan banyak yang dialami oleh kita, yang terkadang mengejar ambisi sehingga bisa saja melupakan keluarga atau orang terdekat kita, ini yang akan membuat relate dengan banyak penonton,” ujar penulis dan sutradara Wregas Bhanuteja.

Diproduksi oleh Rekata Studio, Para Perasuk diproduseri oleh Iman Usman, Amalia Rusdi, dan Siera Tamihardja. Film ini dibintangi oleh Angga Yunanda, Anggun, Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Indra Birowo, dan Ganindra Bimo.

​Bagi Angga Yunanda, yang memerankan Bayu, seseorang yang sangat berambisi untuk menjadi yang terbaik di film ini, menuturkan ceritanya sangat dekat dengan dirinya. Dengan kemasan drama-fantasy, membuat artistik dan keseluruhan film ini juga terasa sangat fresh.

​“Para Perasuk adalah film yang menurut saya sangat manusiawi. Saat syuting di hari pertama, saya merasa filmnya sangat menusuk hati saya. Karena sangat dekat sekali dengan saya, bercerita tentang Bayu, anak muda yang mencari jati diri dan berambisi mengejar cita-citanya, ingin jadi yang terbaik. Menurut saya sangat seru ada cerita coming of age yang berbeda dari biasanya, ditambah di film ini juga membahas tentang hubungannya dengan luka masa lalu. Ini adalah film yang sangat dekat dan menyentuh hati terdalam saya,” ujar Angga Yunanda.

​Di film ini, penonton juga akan menyaksikan banyak hal tak terduga yang belum pernah dilihat sebelumnya. Seperti Angga Yunanda yang harus melata seperti lintah, bergelantung dengan kepala terbalik, Maudy Ayunda yang nyeker dan harus menari bak perasuk, Anggun yang merapal mantra, hingga Chicco Kurniawan dan Bryan Domani yang bermain instrumen musik.

​Untuk penciptaan koreografi, Wregas menggandeng koreografer Siko Setyanto. Seluruh koreografi yang diciptakan Siko merupakan orisinal dan tak meniru dari tradisi yang sudah ada. Tari-tari dan koreografi gerak tubuh inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai berbagai lapisan emosi rasa takut, cinta, dan keinginan menjadi energi kolektif.

​“Wregas punya pandangan yang sangat unik. Setiap filmnya selalu memiliki isu sosial, caranya bercerita membuat kita tergugah dan membuat kita mempertanyakan banyak hal ke diri sendiri. Dan harapannya Para Perasuk juga bisa meninggalkan kesan ke semua orang,” ujar Anggun yang memerankan Guru Asri.

​Bagi Maudy Ayunda sendiri, Para Perasuk juga menandai langkah barunya dalam berkarya. Telah berkarier selama dua dekade, Para Perasuk memberi Maudy pelajaran tentang proses melepas diri dari kontrol dan berada di luar zona nyaman.

​“Laksmi yang aku perankan adalah karakter yang penting, karena dia satu-satunya dari ansambel yang memanifestasikan proses kerasukan. Sebagai pelamun, Laksmi kerasukan oleh roh hewan, dan bagaimana aku menerjemahkannya dalam bentuk tarian menjadi proses aku untuk berserah dari upaya untuk mengontrol diri. Aku menggunakan intuisi dan rasa,” ujar Maudy Ayunda.

“Film ini terasa sangat magical namun di saat bersamaan juga terasa sangat personal, karena membicarakan tentang ambisi dan upaya untuk sembuh dari luka masa lalu,” tambah Maudy.


​Tonton film Para Perasuk mulai 23 April 2026 di bioskop Indonesia. Ikuti perkembangan terbaru melalui media sosial resmi Rekata Studio dan film Para Perasuk.

​***

Sinopsis

​Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (20) bertekad buat jadi Perasuk utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.

[CATATAN PRODUKSI]

  • Sutradara: Wregas Bhanuteja
  • Produser: Iman Usman, Amalia Rusdi, Siera Tamihardja
  • Produser Pelaksana: Anandita Devitarianti
  • Production Coordinator: Ummu Hany
  • Unit Production Manager: Abby Fatahilah
  • Tim Produksi: Novryan Susanto, Defi Mahendra, Gregorius Nayaka

Senin, 13 April 2026

Mengenal Para Karakter Hero dan Villain di Film Action Ikatan Darah, Sidharta Tata Terinspirasi dari Film Action Korea

Film Ikatan Darah tayang mulai 30 April 2026 di bioskop

Jakarta, 10 April 2026 — Film Ikatan Darah akan menjadi showcase para talenta aksi laga Indonesia dengan beragam gaya bertarung. Di film ini, sutradara Sidharta Tata mendesain para karakter serta keahlian masing-masing dengan didasarkan pada lokalitas Indonesia.

​Film Ikatan Darah akan menjadi pertarungan antara dua kubu. Yakni Mega dan Bilal sebagai adik-kakak, serta geng mafia yang diketuai oleh Primbon. Mega diperankan oleh Livi Ciananta, sementara Bilal diperankan oleh Derby Romero. Sementara itu, Primbon, ketua geng mafia yang paling ditakuti, diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana.

​Untuk mengetahui para karakter kunci di film Ikatan Darah, berikut adalah rangkuman keahlian masing-masing karakternya.

1. Mega (Livi Ciananta)

​Mega merupakan mantan atlet pencak silat nasional. Namun, cedera bahu membuatnya terpaksa harus pensiun dari berbagai laga dan kejuaraan. Ia pun bekerja sebagai pramusaji untuk bertahan hidup. Mega kelak bakal menghadapi Primbon dan para geng mafianya, menyelamatkan sang kakak yang terjerat lintah darat.

2. Bilal (Derby Romero)


​Hanya di film ini, kita akan melihat penampilan yang sangat berbeda dari Derby Romero. Tak hanya Mega, Bilal juga bakal berhadapan dengan para anggota geng mafia dari Primbon akibat perbuatannya. Bilal akan menemani Mega saat mereka dikepung oleh ratusan geng.

3. Dini (Ismi Melinda)

​Dini adalah sahabat Mega, yang sudah dianggap menjadi saudara. Namun, Dini dan Mega kelak bakal berseberangan, karena Dini bergabung dengan geng mafia Primbon.

4. Primbon (Teuku Rifnu Wikana)


​Punya penampilan yang sangat nyentrik dengan mengenakan jubah Romo. Primbon menjelma sebagai pemuka agama, namun itu hanyalah kedok untuk meraih kekuasaan. Pembunuh berdarah dingin yang kejam.

5. Boris (Abdurrahman Arif)


Boris adalah salah satu kaki tangan dari Primbon. Gaya bertarungnya bak anjing gila. Boris selalu punya ciri khas senyum yang menyeringai. Ia juga memanfaatkan berbagai senjata tajam seperti mesin pemotong rumput untuk berduel.

6. Macan (Ramadhan Ruswandi)

Macan punya senjata khas di tangannya, knuckle berbentuk taring tajam. Memakai kacamata, dan terlihat santun. Macan sangat menyukai gorengan. Ia adalah pemburu manusia dengan indera penciuman layaknya binatang buas.

7. Jabrik (Agra Piliang) 


Memiliki perawakan sama garangnya dengan Boris. Ia memiliki senjata khusus, yakni parang. Jabrik mendedikasikan hidup dan nyawanya hanya untuk Primbon.

​Dalam membangun para karakter mafia tersebut, Sidharta Tata menyebut ada banyak lapisan yang diberikan. Disebutkan, Tata salah satunya terinspirasi dari film-film action Korea.

​"Saya sangat menyukai film-film action Korea, yang menarik dari mereka adalah bagaimana mereka membentuk karakternya itu tidak hanya satu layer. Meskipun kita bicara karakter antagonis, tapi yang menarik adalah mereka itu punya karakter-karakter yang sangat menarik untuk dikulik. Jadi sejak saat kami mengembangkan naskah Ikatan Darah, kami berpikir jangan sampai hanya membuat penjahatnya satu layer," kata sutradara Sidharta Tata.

​"Jadi, kami bermain-main dengan karakter villain yang kami punya. Sehingga tidak terkesan hitam melawan putih saja. Setiap pemain juga ikut mengembangkan karakternya dengan ide yang mereka bawa. Sehingga secara chemistry juga tepat," tambah Tata.

Ikatan Darah dibintangi oleh Livi Ciananta, Derby Romero, Dimas Anggara, Teuku Rifnu Wikana, Abdurrahman Arif, Ramadhan Ruswandi, Agra Piliang, Ismi Melinda, dan aktris senior Lydia Kandou. Diproduksi oleh Uwais Pictures, film ini turut didukung oleh KG Pictures, Legacy Pictures, dan Raid Rapid Active. Film ini diproduseri oleh CEO Uwais Pictures Ryan Santoso dengan produser eksekutif Iko Uwais, Yentonius Jerriel Ho, dan Yocke Kaseger.

​Film Ikatan Darah telah melakukan world premiere di Fantastic Fest 2025, Texas, dan berkompetisi di JAFF20. Film Ikatan Darah tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia.

Ikuti informasi dan perkembangan terbaru Uwais Pictures dan film Ikatan Darah melalui akun Instagram @uwaispictures.

SINOPSIS

​Mega (Livi Ciananta), seorang mantan atlet pencak silat yang kini bekerja sebagai pramusaji, harus menyelamatkan kakaknya, Bilal (Derby Romero), yang menjadi buruan para gangster terkejam akibat hutang dan pembunuhan yang tak sengaja ia lakukan.

​Aksi perburuan membuat kakak beradik itu terjebak di sebuah kampung yang seluruh pintu keluarnya telah ditutup oleh para preman anak buah dari bos gangster, yaitu Primbon (Teuku Rifnu). Kini, Mega dan Bilal harus bekerja sama untuk dapat meloloskan diri dari kejaran para gangster itu meski nyawa menjadi taruhannya.

Usung Tema Moral dan Kontrak 24 Jam Senilai 10 Juta Dolar: WeTV Indonesia & Hitmaker Studios Resmi Luncurkan "Love & 10 Million Dollars"


JAKARTA, 13 April 2026 – WeTV Indonesia bekerja sama dengan Hitmaker Studios secara resmi mengumumkan peluncuran serial orisinal terbaru yang paling dinantikan tahun ini, WeTV Original Love & 10 Million Dollars. Dalam acara Press Conference yang digelar hari ini, WeTV mengonfirmasi bahwa drama romansa penuh intrik ini akan mulai tayang secara eksklusif mulai Jumat, 17 April 2026.

Menghadirkan total 10 episode, serial ini mempertemukan Davina Karamoy dan Giorgino Abraham sebagai pemeran utama, didukung oleh akting memukau dari Anthony Xie hingga Elina Joerg. Mengusung narasi yang berani, serial ini mengeksplorasi batas antara integritas, cinta, dan harga diri di hadapan materi yang melimpah.

Love & 10 Million Dollars menceritakan kisah Elina Putri Wardana (Davina Karamoy), CEO Anvaya Wines yang sukses namun menderita dalam bayang-bayang suaminya yang abusif dan manipulatif, Diaz Danantya (Anthony Xie). Konflik memuncak ketika Elina menemukan bahwa Diaz secara diam-diam telah mendaftarkan merek dagang bisnis warisan ibunya atas nama pribadi.

Di titik terendah hidupnya, Elina bertemu dengan Arman Bamantara (Giorgino Abraham), seorang miliarder misterius yang menawarkan bantuan finansial sebesar 10 juta dolar AS untuk memenangkan gugatan bisnis Elina. Namun, tawaran tersebut datang dengan syarat yang tidak biasa: Elina harus menghabiskan waktu selama 24 jam bersamanya di sebuah pulau pribadi, tanpa kontak fisik sedikit pun. Kesepakatan ini memicu terungkapnya rahasia masa lalu, konspirasi bisnis berbahaya, hingga tarikan emosional yang mendalam di antara keduanya.

Serial yang disutradarai oleh Ferry Pei Irawan ini menawarkan dilema moral yang relevan dengan tekanan finansial di masyarakat modern. Penonton akan disuguhi chemistry yang intens antara karakter Elina yang rapuh namun elegan, berhadapan dengan Arman, pria yang penuh misteri.

Mengenai visi di balik pemilihan talenta dan produksi, Febriamy Hutapea, Country Head WeTV Indonesia menjelaskan, "Secara general pemilihan casting itu story-driven, kami juga terus memonitor respon penonton, sekaligus juga terbuka untuk talent baru sesuai dengan kebutuhan cerita.”

Lebih lanjut Febriamy mengatakan bahwa secara prinsip kekuatan cerita selalu menjadi pertimbangan utama WeTV.

“Untuk eksekusi secara teknis kami mempercayakannya kepada produser. Di saat yang sama, kami juga melihat pentingnya kontribusi para cast dalam menghidupkan karakter, sehingga keseluruhan series dapat tersampaikan dengan maksimal.”

Senada dengan itu, Rocky Soraya, Produser Hitmaker Studios, menjelaskan keunikan latar dan konsep dari serial ini. "Kami ingin membuat sesuatu yang beda. Sehingga ketika kita bertemu dengan WeTV Indonesia, kita lihat lokasi shootingnya di winery, di mana cerita tentang bisnis seperti ini belum pernah dibuat,  kami pikir ini akan menarik,” ujarnya. 

Giorgino Abraham yang berperan sebagai Arman turut berbagi pengalaman tentang proses syuting terutama untuk adegan-adegan yang membutuhkan consent. "Setiap pemain pasti ada batasan-batasan, itulah pentingnya Intimacy Coordinator. Di samping itu, proses workshop itu juga membantu kita menghasilkan adegan-adegan yang tidak hanya sexist, tapi juga beautiful sehingga apa yang mau disampaikan juga dapat ditangkap oleh penonton."

Sementara itu, Davina Karamoy turut menceritakan tentang cara menghidupkan karakter yang diperankannya. “Elina ini kompleks dan berleyer. Dihadapan suami dia harus terlihat happy tapi deep down nya sedih banget. Dengan proses reading yang cukup, kita jadi terbantu untuk memahami karakter masing-masing,” ujarnya. 

Dalam kesempatan itu Davina juga menegaskan, alasan utama mengambil suatu project adalah karena jalan ceritanya. “Kalau aku suka ceritanya, ya aku ambil, kenapa enggak,” ujarnya.

Setiap adegan dalam serial ini dirancang untuk menjaga tensi cerita tetap tinggi, menjadikan "kontrak 24 jam" tersebut sebagai pusat teka-teki yang mendalam bagi penonton.

Saksikan kemelut cinta, pengkhianatan, dan intrik bisnis dalam WeTV Original Love & 10 Million Dollars mulai 17 April 2026, hanya di aplikasi WeTV.

Dilema Generasi Muda, Antara Ambisi dan Bakti: Rapi Films Rilis Trailer "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan"


Jakarta, 13 April 2026 – Menyusul kesuksesan luar biasa dari Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films bekerja sama dengan Screenplay Films dan Vortera Studios kini mempersembahkan sebuah mahakarya drama keluarga terbaru, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan".

​Lewat acara press conference yang digelar di Plaza Senayan hari ini, Rapi Films resmi meluncurkan Official Trailer dan Poster film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan". Film yang ditulis oleh penulis skenario andal Alim Sudio dan disutradarai oleh Kuntz Agus ini dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop mulai 13 Mei 2026.


​Di bawah arahan sutradara Kuntz Agus dan diproduseri oleh Sunil Samtani, film ini membawa pesan mendalam bahwa ketika memori perlahan pudar, setiap detik kebersamaan menjadi sangat tak ternilai.

​Film ini membawa penonton menyelami dunia Kesha (Yasmin Napper), seorang anak sulung yang sedang berada di fase transisi menuju dewasa. Sebagai mahasiswi film, ia ingin mandiri dan lepas dari bayang-bayang rumah. Namun, realita di rumah tidaklah sederhana.

​Ada Kenya (Sofia Shireen), anak tengah yang berprestasi dan selalu didukung penuh oleh Ibu, serta Karlo (Jordan Omar), si bungsu yang membutuhkan perhatian ekstra karena kondisi kesehatannya.

​Di tengah dinamika sibling rivalry dan rasa ingin bebas fokus pada masa depannya, Kesha justru harus dihadapkan pada kenyataan pahit saat ibunya, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), jatuh sakit yang menyebabkan ia secara bertahap kehilangan ingatannya. Kesha harus belajar bahwa mencintai keluarga terkadang berarti mengubah seluruh cara hidupnya.

​Yasmin Napper memberikan komentar penguat mengenai perspektif seorang anak dalam film ini, "Setiap orang yang mulai memiliki dunianya sendiri pasti akan mengalami titik di mana ia sadar kalau momen-momen berharga bersama keluarga tidaklah abadi. Melalui Kesha, aku belajar bahwa menjadi anak sulung bukan hanya soal mengalah, tapi soal menjadi penjaga memori di saat semua orang mulai merasa rapuh. Aku merasa film ini sangat spesial karena mengingatkanku bahwa sesibuk apa pun kita mengejar mimpi, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang paling berarti, kehadiran seorang Ibu."

​Penulis skenario Alim Sudio menekankan bahwa naskah ini dirancang untuk mer[angkul sisi] paling personal dari setiap anggota keluarga, "kali ini saya ingin memotret kerer[entanan yang] sangat dekat dengan anak muda Gen Z, khususnya mereka yang sedang di usia k[uliah. Kita] semua tahu betapa hectic-nya masa itu, saat ambisi mengejar masa depan terasa begitu mendesak, hingga seringkali dinamika di dalam rumah terasa seperti gangguan. Lewat karakter Kesha, kita akan melihat bagaimana hubungan yang naik-turun dengan ayah, ibu, dan adik-adiknya menjadi cermin bagi banyak penonton muda di luar sana. Hingga pada akhirnya, ia sampai pada sebuah titik balik, menyadari bahwa di tengah semua pencapaian yang ia kejar, keluarga adalah satu-satunya hal yang ia miliki dan akan abadi di ingatannya."

Sutradara Kuntz Agus menambahkan bahwa perjuangan keluarga ini dalam menjaga memori akan terasa sangat hangat sekaligus mengharukan, mengajak audiens untuk lebih menghargai setiap kenangan yang masih dimiliki. "Kami ingin mengajak penonton merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di saat memori terancam pudar, kita akan melihat betapa solidnya setiap anggota keluarga bersatu demi menjaga kepingan memori itu tetap hidup," jelasnya.

​Film ini siap hadir dan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kenangan yang pernah kita jalin bersama orang tersayang. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, seperti yang terjadi pada Kesha.

​Kesha mahasiswi tingkat akhir sekolah film punya seorang ibu. Ibunya bernama Yuke Yolanda, Guru favorit di Sekolah tempat ia mengajar dan juga Ibu yang sangat dicintai oleh Suami dan anak-anaknya.

​Masalah datang ketika ada sesuatu yang terjadi pada Yuke. Yuke mulai sering lupa, lupa ulang tahun pernikahan, lupa jalan ke sekolah sampai hal-hal penting tentang ketiga anaknya, Kesha, Kenya dan Karlo.

​Rumah yang awalnya hangat penuh kebahagiaan, kini berubah semakin parah. Kesha yang sedang fokus dengan tugas akhir kini berada dalam pilihan paling sulit: tetap bertahan mengejar impiannya atau pulang dari kosannya sebelum ia benar-benar hilang dari ingatan Ibunya.

​Karena ada hal-hal yang boleh hilang dalam hidup, kesempatan, nilai, bahkan mimpi. Tapi jangan sampai kita yang hilang dari hati dan ingatan seorang Ibu.


​Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan. Tunggu di bioskop 13 Mei 2026!

Sabtu, 11 April 2026

PELUNCURAN FILM PANGGUNG TERLARANG & SLIDE FILM TERBARU BINTANG CAHAYA SINEMA

Bintang Cahaya Sinema berkolaborasi dengan Komunitas Bogor Bamora dan Pictlock Cinema

Jakarta, 11 April 2026 — Bintang Cahaya Sinema mempertegas langkah strategisnya dalam membangun industri film Indonesia yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Press Conference film "Panggung Terlarang". Momentum ini tidak hanya menjadi peluncuran karya, tetapi juga pemaparan komprehensif atas arah kreatif, peta proyek, serta strategi ekspansi global perusahaan melalui partisipasi di Marché du Festival de Cannes. Di mana tahun ini adalah tahun ke-3 Bintang Cahaya Sinema membuka booth di Marché du Festival de Cannes.

​Sebagai rumah produksi yang berorientasi pada pembangunan intellectual property (IP) jangka panjang, Bintang Cahaya Sinema mengembangkan portofolio proyek secara terstruktur—mengintegrasikan kekuatan narasi, relevansi sosial, serta potensi komersial lintas platform dalam satu kerangka bisnis yang adaptif dan scalable.

​Dalam tahap produksi, dua film panjang utama menjadi fondasi awal, yakni "Panggung Terlarang" yang ditulis dan disutradarai oleh Bani Marhaen, serta "Pintu Belakang" yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara. Kedua proyek ini merepresentasikan pendekatan sinematik yang kuat, reflektif, dan berakar pada realitas sosial.

​Bintang Cahaya Sinema tengah menyiapkan sejumlah film panjang yang akan segera memasuki tahap produksi, di antaranya "Broken Home" dengan penulis Evelyn Afnilia yang diangkat dari kisah nyata dan banyak terjadi di sekeliling kita; "Paraji" dengan penulis BW Purba negara ; "Petarung" dengan penulis Anggoro Saronto yang diangkat dari kisah nyata dari perjalanan hidup Dr. Hj. Titik Prasetyowati Verdi, S.H, M.H, juara dunia karate, serta "Di Sini Bukan Rumahku: The Story of Hanako" yang diangkat dari kisah nyata Hanako yang ditulis oleh Tisa TS. Film Aku Harap Ibu Kembali, yang ditulis dan disutradarai oleh Keny Gulardi. Rangkaian proyek ini menghadirkan spektrum narasi yang kuat—mengangkat isu kemanusiaan, dekat dengan kita, tentang ketahanan individu, peran perempuan, serta nilai-nilai kultural yang memiliki resonansi universal.

​Selain film panjang, perusahaan juga mengembangkan karya film pendek sebagai bagian dari strategi eksplorasi kreatif dan penguatan talenta dan siap berkompetisi di ajang festival nasional dan international, Film pendek berjudul “Boru Ni Raja” diproduksi melalui kolaborasi dengan BPODT (Badan Pelaksana Otorita Danau Toba) di bawah kepemimpinan Jimmy Panjaitan selaku dirut BPODT, sebagai upaya mengangkat potensi budaya dan pariwisata berbasis kearifan lokal dan perjuangan hidup seorang Ibu. Sementara itu, “Lost Childhood” menjadi proyek penting sebagai debut penulis sekaligus sutradara Rizka Shakira—produser dari Women from Rote Island—yang sekaligus menandai kemunculan talenta baru melalui penampilan Nika sebagai pemeran utama di dalam film ini dengan Analia Trisna sebagai co-producer.

​Partisipasi dalam Marché du Festival de Cannes menjadi langkah strategis dalam membuka akses terhadap jejaring global—mencakup peluang co-production, distribusi internasional, serta kemitraan investasi. Dengan pendekatan kuratorial yang terukur, Bintang Cahaya Sinema tidak hanya membawa karya, tetapi juga membangun positioning konten Indonesia sebagai bagian dari percakapan industri film dunia.

​Melalui penguatan riset pasar, diversifikasi genre, serta kolaborasi lintas sektor, perusahaan menempatkan film sebagai aset kreatif yang memiliki nilai artistik, ekonomi, dan kultural secara simultan. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya saing global.

​Adapun Press Conference diselenggarakan pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Resto Gili Asian Cuisine, Bekasi, dengan registrasi media dimulai pukul 12.30 WIB dan acara utama berlangsung pukul 14.00 WIB hingga selesai.

​Bintang Cahaya Sinema memandang media sebagai mitra strategis dalam membangun narasi publik, memperluas jangkauan, serta mengakselerasi apresiasi terhadap karya. Sinergi ini menjadi elemen penting dalam memperkuat eksistensi dan relevansi sinema Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

​Sinopsis film Panggung Terlarang

​Film ini berkisah tentang Gin yang diperankan oleh Andriyan Didi, seorang mahasiswa yang sedang melakukan persiapan pertunjukan untuk tugas akhirnya. Gin dibantu dua sahabatnya Via (pimpinan produksi) yang diperankan oleh Irma Rihi, Beni (dokumentasi) yang diperankan oleh Hakiki Kamil, Kio (pemeran utama pertunjukan) yang diperankan oleh Agoye Mahendra, Dinda (pemeran Dewi Sri Poaci) yang diperankan oleh Salsabila Zahra dan Roni (art departemen) yang diperankan oleh Vanjhoov. Mereka berusaha mewujudkan pementasan sebelumnya yang sempat gagal digelar, Namun kali ini Gin hanya punya waktu satu bulan untuk merampungkan semuanya, jika pertunjukan ini gagal lagi, maka Gin terancam tidak lulus. Perjalanan mereka tidak mudah, tiba-tiba investor yang mendanai pertunjukan Gin membatalkan pendanaannya menjelang hari pertunjukan. Namun Gin dan sahabatnya tidak menyerah, apapun yang terjadi mereka harus tetap menggelar pertunjukan itu. Akhirnya mereka menggelar pertunjukan itu di Gedung Mandala Kencana, gedung tua yang terbengkalai. Dan malapetaka pun terjadi.


​Catatan Produksi film Panggung Terlarang

​Judul Film : Panggung Terlarang
Produksi : Bintang Cahaya Sinema
Produser : Rizka Shakira
Sutradara : Bani Marhaen
Penulis : Bani Marhaen

​Cast :
​Irma Rihi sebagai Via
​Andriyan Didi sebagai Gin
​Agoye Mahendra sebagai Kio
​Vanjhoov sebagai Roni
​Hakiki Kamil sebagai Beni
​Widya Amor sebagai Kanaya
​Salsabila Zahra sebagai Dinda
​M. Iqbal sebagai Pak Rahman
​Amanda sebagai Ibu Kantin

​Tentang Bintang Cahaya Sinema

​Bintang Cahaya Sinema adalah perusahaan produksi film yang berfokus pada pengembangan konten sinematik berbasis narasi kuat, dengan pendekatan strategis yang mengintegrasikan nilai kreatif, komersial, dan kultural, serta berorientasi pada pasar.

Jumat, 10 April 2026

Trailer Crocodile Tears Ungkap Lapisan Konflik yang Lebih Intens Jelang Tayang 7 Mei 2026


Jakarta, 10 April 2026 — Film panjang debut sutradara Tumpal Tampubolon, Crocodile Tears jelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026 ini, hari ini merilis final trailer yang memperlihatkan emosi drama yang intens di antara tiga karakter utamanya. Jika melalui trailer sebelumnya dibuka dengan adegan keseharian Johan dan Mama yang mulai terusik oleh kehadiran Arumi, melalui final trailer ini, Crocodile Tears membawa penonton masuk lebih jauh ke dalam relasi yang kompleks di antara ketiganya.

​Final trailer dibuka dengan hubungan romantis Johan (Yusuf Mahardika) dan Arumi (Zulfa Maharani) diiringi suara lirih Arumi yang menyanyikan lagu Benci untuk Mencinta. Kedekatan yang memicu perubahan dalam relasi Johan dengan Mama (Marissa Anita). Ketegangan yang sebelumnya terasa samar kini berkembang menjadi konflik emosional yang lebih terbuka. Melalui potongan adegan yang semakin intens, Crocodile Tears mengangkat tema tentang dinamika antara ibu, anak, dan menantu, serta figur "mertua" yang dominan, dibingkai dalam sebuah drama keluarga yang menegangkan, dimana batas antara kasih sayang tulus menjadi semakin kabur dan terasa manipulatif.


​Sejak karya-karya pendeknya, sutradara Tumpal Tampubolon dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama dimana emosi para karakter dan relasi di antara mereka terbangun perlahan namun konsisten, sehingga penonton terbawa masuk ke dalam dinamika yang dialami karakternya. Dan dalam setiap karyanya pula, Tumpal selalu memberikan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama dihadirkan Tumpal dalam Crocodile Tears. Dan final trailer ini menjadi gambaran awal dari bagaimana film ini akan membawa penonton pada perjalanan emosional yang tidak hanya intim, tetapi juga penuh kejutan.

​Dibintangi oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani, Crocodile Tears menghadirkan kisah tentang hubungan keluarga yang berubah menjadi ruang penuh tekanan, ketika cinta dan bakti tidak lagi berjalan beriringan. Dengan balutan realisme magis dan teror psikologis, film ini menawarkan pengalaman menonton yang intens sekaligus menggugah.

​Film Crocodile Tears diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment. Ikuti akun media sosial resmi Talamedia untuk informasi terbaru mengenai film Crocodile Tears.

​CROCODILE TEARS

​Production: Talamedia & E-Motion Entertainment
​Co-Production: 
Acrobates Films
​Poetik Films
​Giraffe Pictures
​2Pilots Filmproduction
​International Sales & Festivals: Cercamon
​Casts: 
Yusuf Mahardika (Johan)
​Marissa Anita (Mama)
​Zulfa Maharani (Arumi)
​Director: Tumpal Tampubolon
​Writer: Tumpal Tampubolon
​Producer: Mandy Marahimin
​Co-Producers: 
Claire Lajoumard
​Anthony Chen
​Christophe Lafont
​Harry Flöter
​Jörg Siepmann
​Teoh Yi Peng
​Executive Producers: 
Arnold J. Limasnax
​Lianto Winata Vachon
​Tjen Foeng Fa
​Kevin Danudoro
​Cinematographer: Teck Siang Lim
​Production Designer: Jafar
​Art Director: Guntur Mupak
​Costume: Hagai Pakan
​Make-up: 
Cherry Wirawan
​Agustin Puji
​Sound: 
Roman Dymny
​Bruno Ehlinger
​Romain Ozanne
​Music: Kin Leonn
​Editor: 
Jasmine Ng Kin Kia
​Kelvin Nugroho
​Poster & Logo: Evan Wijaya
​Photo Poster: Robin Budidharma

Kamis, 09 April 2026

Film Ghost in the Cell: Sedih, Lucu, dan Mengerikan! Membawa Pengalaman Sinematik Baru Horor Komedi yang Sangat Politis! Menghibur Sekaligus Reflektif

Film Ghost in the Cell tayang mulai 16 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 9 April 2026 - Penulis dan sutradara Joko Anwar mempersembahkan film ke-12 nya, Ghost in the Cell, bersama rumah produksi Come and See Pictures dengan sajian pengalaman sinematik baru. Menggabungkan horor komedi yang sangat menghibur, namun juga membawa pesan yang sangat reflektif tentang situasi Indonesia yang akan tayang mulai 16 April 2026.

Film Ghost in the Cell telah mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlinale 2026. Film ini juga telah mendapat respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua. Ghost in the Cell sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di Indonesia dan seluruh tiketnya terjual habis (sold out)!

Joko Anwar, sang maestro horor dengan jenius menggabungkan berbagai genre. Mulai dari komedi, genre yang pertama kali ia garap di film debutnya, hingga aksi dan horor. Tema yang dibahas juga sangat beragam merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Dari isu lingkungan, agama, dan politik.

"Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri," kata Joko.

Melalui Ghost in the Cell, Joko juga ingin mengajukan sebuah pernyataan yang tegas tentang masih adanya harapan di tengah sistem yang kacau dan busuk di negara ini.

"Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, sekian persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan. Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara," tambah Joko Anwar.

Menurutnya, semangat harapan itu yang bisa membawa perubahan, bersama kolektivitas warga, seperti yang terjadi di filmnya saat para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan 'hantu' yang sesungguhnya.


Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaimana seorang koruptor menjalani 'hukuman' namun masih mendapat privilese untuk bisa berbuat semau mereka. Produser Tia Hasibuan menyebutkan, meski secara isu dan cerita Ghost in the Cell sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.

"Saat world premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh jajaran aktor terbaik Indonesia, serta menggandeng talenta terbaik Asia Tenggara. Film ini menyajikan penampilan terbaik dari para ansambel aktor lintas generasi dan lintas negara. Dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Secara keseluruhan, Ghost in the Cell dibintangi oleh 108 pemeran. Dengan jajaran ansambel bertabur bintang, Joko juga menuntut para pemerannya untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka seluas mungkin.

Abimana, yang memerankan Anggoro, menyebutkan dalam salah satu adegan aksi, ada tempo yang dimainkan. Abimana menceritakan, adegan aksi di film ini yang melibatkan ratusan orang diciptakan secara long take, dan memerlukan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat.

"Secara keaktoran, sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Di dalam penjara pun dia ciptakan keluarga yang dia pilih," kata Abimana.

"Dalam akting itu bukan saja soal karakter, tetapi juga ada beat tempo. Misalnya dalam satu adegan fighting, tidak hanya satu beat tempo serius. Tapi juga jadi dance lalu ke drama, itu beat-nya berbeda. Kalau para aktornya tidak mengerti beat yang digunakan, itu akan susah dan membuat berantakan syutingnya. Dan Joko sudah mempersiapkan beat-beat itu di tiap adegan," tambah Abimana.

Tonton film Ghost in the Cell di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, dan jadilah bagian dari 10% masyarakat Indonesia yang terus bersuara dan jujur! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

Promosi film Ghost in the Cell didukung oleh Tunaiku by Amar Bank.



SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Teaser Trailer & Poster, Menampilkan Kisah Emosional Raihaanun dan Omar Daniel Sebagai Pasangan Rumah Tangga yang Dekat dengan Banyak Orang

Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 7 April 2026 — VMS Studio dan Umbara Brothers Film, bekerja sama dengan Adsfort merilis official teaser trailer & poster film drama keluarga terbaru dari produser Tony Ramesh dan sutradara Anggy Umbara, Keluarga Suami Adalah Hama. Dibintangi oleh Raihaanun, Omar Daniel, Meriam Bellina, Jeremie Moeremans dan Sitha Marino.

​Dalam official teaser trailer yang dirilis, menampilkan sebuah dinamika seorang istri (Raihaanun), yang tinggal bersama keluarga suaminya. Ia mengurus semua urusan rumah tangga, termasuk mengasuh sang mertua. Namun, dalam cuplikan tersebut, menampilkan beban emosional yang dialami Raihaanun.


​Di sisi lain, Omar Daniel sebagai suami juga harus menanggung semua beban finansial seluruh keluarganya. Situasi-situasi tersebut membuat goyah kehidupan rumah tangga Raihaanun dan Omar Daniel. Sementara itu, official teaser posternya menampilkan jajaran ansambel pemeran yang merepresentasikan dinamika keluarga dan rumah tangga yang terjadi di film.

​“VMS Studio selalu berkomitmen untuk selalu menghadirkan cerita yang fresh sekaligus dekat dengan kisah dari banyak orang. Dalam film drama Keluarga Suami Adalah Hama, kali ini kami ingin menyoroti dinamika hubungan suami istri yang menghadapi cobaan bukan dari orang ketiga, tapi justru dari keluarga yang terlalu ikut campur. Ini adalah kisah yang bisa merefleksikan situasi banyak orang dan semoga bisa menjadi persembahan yang memberikan hiburan sekaligus pelajaran,” ujar produser dan CEO VMS Studio Tony Ramesh.

​Bagi Raihaanun, film Keluarga Suami Adalah Hama memberinya tantangan untuk menampilkan beban emosional yang dialami oleh banyak perempuan dan istri. Ia berharap film ini akan semakin membuka ruang diskusi tentang pentingnya hubungan yang sehat dalam keluarga.

​“Film ini akan membuka banyak mata masyarakat tentang betapa pentingnya memberikan ruang yang aman dan komunikasi yang sehat untuk istri. Sehingga para istri tidak merasa ditinggalkan dan seperti berjuang sendirian di dalam rumah tangga. Salah satu yang juga menjadi tantangannya di sini adalah bagaimana aku menampilkan dinamika seorang istri yang harus berinteraksi secara intens dengan keluarga dari suami,” ujar Raihaanun.

​Keluarga Suami Adalah Hama merupakan salah satu slate yang diumumkan oleh VMS Studio pada akhir tahun lalu. Film ini diadaptasi dari film pendek fenomenal berjudul sama karya Aditya Santana yang diproduksi Adsfort. Film pendeknya sendiri telah ditonton lebih dari 100 juta views di platform Noice.

“Sebuah cerita yang sangat berani, dekat dengan kehidupan nyata di sekitar kita, dan menggugat apa yang masih banyak terjadi di masyarakat. Itu pula yang menjadi titik ketertarikan saya saat akan menggarap film ini. Di film panjangnya, penonton bisa lebih lengkap melihat konflik-konflik dan dinamika yang dihadapi oleh suami istri di sini, yang diperankan Omar dan Raihaanun,” ujar sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.

Meriahnya Gala Premiere "Kupilih Jalur Langit" yang Bikin Baper Berjamaah: Ketika Akad Sudah Diucap, Namun Hati Suami Masih Tertinggal di Masa Lalu

Jakarta, 15 April 2026 – Setelah sukses mengguncang Malang dan Surabaya dengan tiket Gala Premiere yang ludes terjual ( sold out ), MD Pict...