Senin, 19 Oktober 2026

PIYE TO KIH? Resmi Luncurkan Official Poster dan Official Trailer Jelang Tayang 19 November 2026

​Press conference di Jakarta turut menghadirkan penampilan soundtrack karya Lek Dahlan bersama Mukidi, Gendut, dan Penyok.

MIRACLE Pictures meluncurkan Official Poster dan Official Trailer PIYE TO KIH? pada 19 Oktober 2026 di HALEASE Hub Co Working Space, Thamrin City Mall, Jakarta Pusat. Film tayang serentak di bioskop mulai 19 November 2026.

​Jakarta, 19 Oktober 2026 — MIRACLE Pictures resmi meluncurkan Official Poster dan Official Trailer film PIYE TO KIH? dalam press conference yang digelar di Halease Hub Co Working Space, Thamrin City Mall, Jakarta Pusat. Peluncuran ini menjadi salah satu momentum utama menuju penayangan serentak PIYE TO KIH? di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.

​Official Trailer memperlihatkan lebih utuh perjalanan Mukidi, seorang lelaki yang berusaha membuktikan dirinya pantas untuk menikah, tetapi justru mendapati hidupnya berantakan. Di tengah kegagalan itu, Mukidi bertemu Sukma — perempuan misterius dari alam yang berbeda. Pertemuan keduanya berkembang menjadi hubungan yang semakin rumit karena perbedaan mereka ternyata bukan hanya soal dunia yang mereka tempati. Keyakinan mereka pun tak sama.

​Namun PIYE TO KIH? tidak hanya berbicara tentang romantisme Mukidi dan Sukma. Film ini hadir sebagai drama dengan elemen supranatural dan sentuhan komedi, yang juga mengangkat persahabatan, keluarga, kehilangan, kejujuran, serta proses seseorang memperbaiki dirinya. Gendut dan Penyok tidak sekadar hadir sebagai sumber kelucuan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan Mukidi. Sementara keluarga menjadi salah satu fondasi emosional yang mendorong Mukidi berhadapan dengan pilihan dan konsekuensi hidupnya.

​Keruwetan hubungan Mukidi dan Sukma kemudian dirangkum lewat ungkapan yang muncul dalam komunikasi film: “Udah beda alam, beda agama pula… piye to kih?” Kalimat tersebut menggambarkan situasi yang dihadapi karakter, dengan humor yang diarahkan pada keruwetan nasib Mukidi — bukan pada keyakinan atau agama.

​PIYE TO KIH? dibintangi Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma, bersama Sutrisno Agung sebagai Gendut, Eko Dunung sebagai Penyok, Gabriella Desta sebagai Bunga, Wiyono, Rizka Oktavia, TJ Ruth, Ibnu Gundul, Marwoto, Ivonne Dahler, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, Yono Bakrie, serta pemain lainnya. Film disutradarai oleh Ito Mavin, dengan skenario karya Endik Koeswoyo dan Ito Mavin.

​Empat Lagu Original Soundtrack Karya Lek Dahlan

​Perjalanan emosional PIYE TO KIH? juga diperkuat oleh empat lagu original soundtrack yang seluruhnya diciptakan oleh Lek Dahlan: Sigaran Nyowo, Kelangan, Gemati, dan Piye To Kih?. 

JUDUL LAGU

PENCIPTA

PENYANYI

Sigaran Nyowo

    Lek Dahlan

              Lek Dahlan

Kelangan

    Lek Dahlan

              Lek Dahlan

Gemati

    Lek Dahlan

              Lek Dahlan

Piye To Kih?

    Lek Dahlan

              Mukidi, Gendut & Penyok

Lek Dahlan sekaligus menjadi penyanyi untuk Sigaran Nyowo, Kelangan, dan Gemati. Sementara lagu Piye To Kih? dibawakan oleh Mukidi, Gendut, dan Penyok. Keempat video klip soundtrack telah dirilis melalui kanal YouTube MIRACLE Pictures pada 15 Oktober 2026.

​Dalam press conference 19 Oktober, Lek Dahlan turut membawakan lagu-lagu soundtrack secara langsung. Mukidi, Gendut, dan Penyok juga tampil membawakan lagu Piye To Kih?, menjadikan musik sebagai bagian dari momentum peluncuran Official Poster dan Official Trailer.

​Roadshow 17 Kota dan Kesempatan Nonton Duluan

​Setelah peluncuran Official Trailer, PIYE TO KIH? melanjutkan perjalanan menuju penonton melalui roadshow 17 kota yang dimulai pada 22 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan di kota-kota roadshow mencakup radio interview, Meet & Greet, school visit, campus visit, serta Special Screening yang memberi kesempatan kepada audience untuk menonton PIYE TO KIH? lebih dulu bersama para cast sebelum penayangan serentak 19 November.

​Roadshow PIYE TO KIH? akan menyambangi 17 kota, yaitu Semarang, Yogyakarta, Magelang, Solo, Sragen, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar, dan Tulungagung.

​Perjalanan tersebut akan berlanjut menuju Home Premiere di Kediri pada 6 November 2026 dan National Premiere / Gala Premiere di Jakarta, pada 12 November 2026, sebelum PIYE TO KIH? tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

​Tentang PIYE TO KIH?

​PIYE TO KIH? adalah drama komedi dengan elemen supranatural. Cerita mengikuti Mukidi setelah rencananya untuk menikah berantakan dan ia bertemu Sukma, perempuan yang membawanya pada sebuah hubungan beda alam dan beda keyakinan. Pertemuan itu membawanya pada perjalanan tentang cinta, persahabatan, keluarga, kehilangan, kejujuran, dan keberanian memperbaiki hidup.

​TANGGAL TAYANG

PIYE TO KIH? — 19 NOVEMBER 2026 • TAYANG SERENTAK DI BIOSKOP INDONESIA

​Fakta Singkat

  • ​JUDUL: PIYE TO KIH?

  • ​RUMAH PRODUKSI: MIRACLE Pictures

  • ​PRODUSER: Ito Mavin

  • ​SUTRADARA: Ito Mavin

  • ​PENULIS SKENARIO: Endik Koeswoyo & Ito Mavin

  • ​GENRE: Drama Komedi dengan elemen supranatural

  • ​DURASI FILM: 108 Menit

  • ​PRODUKSI: 6 Oktober – 29 Oktober 2025

  • ​KLASIFIKASI: LSF 13+

  • ​TANGGAL TAYANG: 19 November 2026

  • ​WEBSITE: piyetokihfilm.com

Sabtu, 17 Oktober 2026

Film Siti Si Vampir Hadirkan Drama Komedi Satir yang Menertawakan Realita Kehidupan yang Lagi Serba Sulit, Satine Zaneta Pilih Jadi Vampir Elit

Tonton Siti Si Vampir di bioskop mulai 22 Oktober 2026 .

​Jakarta, 16 Oktober 2026 — Film Siti Si Vampir garapan sutradara Rahabi Mandra akan tayang mulai 22 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Menghadirkan drama komedi dengan sentuhan satir yang menertawakan realita kehidupan di tengah hidup yang serba sulit.

​Film persembahan Viddsee dan Bahagia Tanpa Drama, yang bekerja sama dengan AZ Films, Spectrum Film, dan PK Films ini mengikuti kehidupan Siti, yang diperankan Satine Zaneta, saat dihadapkan pada pilihan kesempatan mengubah nasibnya untuk lepas dari jerat kemiskinan. Namun, bayarannya ia harus meninggalkan kehidupan sebagai manusia dan berubah menjadi vampir.

​Sehari-hari, Siti membantu Bapaknya (Nugie) sebagai tukang galon. Tinggal di rusun yang sumpek, berteman dengan tukang AC, Dudi (Ajil Ditto). Satu tiket bisa mengubah hidupnya yang susah jadi mewah. Tapi, Siti harus meninggalkan Bapaknya, temannya, dan kehidupan manusia. Ia harus jadi pemangsa orang-orang rusun, menghisap darahnya demi bisa menjadi bagian dari vampir elit.

​Perjalanan Siti dari gadis rusun tukang angkat galon sampai menjadi vampir dibalut dengan komedi-komedi yang menghibur. Sekaligus merefleksikan realita kehidupan kita saat ini yang serba sulit dan penuh perjuangan, dihadirkan secara ringan dalam komedi yang mengajak kita tertawa.

​"Saya ingin menghadirkan film yang berbeda dengan cara komedi. Film ini lucu karena memang related dengan susahnya hidup. Kami ingin mengajak penonton untuk menertawakan keprihatinan sendiri agar bisa tetap survive in this economy," ujar sutradara Rahabi Mandra.

​Diproduseri oleh Kenny Png dan Celerina Judisari, film Siti Si Vampir dibintangi oleh Satine Zaneta, Ajil Ditto, Ciccio Manassero, Shania Gracia, Nugie, dan Kimberly Ryder.

​"Film Siti Si Vampir sangat relate dengan apa yang terjadi di Indonesia, dari sudut pandang tentang makna keluarga. Film ini berbicara tentang class struggle, dan kita akan berefleksi pada kehidupan Siti dan Bapaknya, apa artinya mengusahakan kesuksesan di kehidupan kita bersama keluarga, dan ada harga yang harus dibayar untuk itu semua," ujar produser Kenny Png.

​"Siti Si Vampir adalah drama komedi yang bisa memperlihatkan keadaan saat ini. Namun kami mencoba melihatnya dengan menjadi sesuatu yang bisa untuk ditertawakan bersama. Ditambah dengan sentuhan emosional antara relasi Bapak dan anak perempuannya yang lagi berjuang dengan mehidupannya, semoga setelah menonton, kita bisa benar-benar terhibur lewat sajian fresh ini," ujar produser Celerina Judisari.

​Satine, yang di film-film sebelumnya tampil sangar di genre action hingga horor, kali ini benar-benar tampil berbeda. Ia menunjukkan kepiawaian aktingnya di genre drama komedi bersama jajaran ansambel yang kuat.

​Di film ini, Satine menunjukkan sisi komedinya, dengan latar tinggal di rumah susun (rusun), juga membuat Satine harus memiliki aksen dialek yang berbeda.

​"Siti ini kan sebenarnya perempuan muda yang ambisius. Di satu sisi, dia sebenarnya naturally funny, jadi aku belajar itu juga, dibantu oleh sutradara dan pemeran lain untuk menghadirkan komedi yang natural. Peran ini memberiku perspektif yang baru lagi, dan beneran jadi cara untuk menertawakan kehidupan yang memang lagi tidak baik-baik saja," ujar Satine Zaneta.

​Selain membawa pesan tentang perbedaan kelas antara kelas sosial bawah dan kaum elit yang direpresentasikan antara warga rusun dan vampir, film Siti Si Vampir juga menghadirkan refleksi fenomena flexing demi validasi orang lain di media sosial.

​"Tidak semua hal itu harus divalidasi dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Apapun yang kita lihat di depan kamera termasuk di media sosial, belum tentu sama dengan kehidupan aslinya. Jadi kita memang tetap harus jadi diri sendiri," ujar Shania Gracia yang memerankan Stella, selebtok yang mengejar ketenaran.

​Tonton film Siti Si Vampir akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 22 Oktober 2026! Ikuti perkembangan terbaru Siti Si Vampir melalui akun Instagram resmi @viddseeid, @bahagiatanpadrama dan @filmsitisivampir.

​***

​Sinopsis

Siti (Satine Zaneta), gadis rusun yang menjadi tulang punggung keluarganya, berubah menjadi vampir akibat "salah gigit" Nakkula (Ciccio Manassero), vampir tampan yang memikat hatinya. Meski menjadi vampir low-spec dengan taring terbalik dan kekuatan tanggung, Siti melihat perubahan ini sebagai kesempatan untuk lepas dari kesehariannya yang serba pas-pasan. Namun, ketika rusunnya menjadi target "panen" vampir, Siti harus memilih antara mengikuti sistem atau melawannya. 

JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank Umumkan 11 Proyek Film dan 10 IP Terpilih

  • ​JAFF Future Project memilih 11 proyek film panjang, termasuk satu proyek Australia melalui kemitraan dengan Adelaide Film Festival (AFF).

  • ​JAFF IP Connection menghadirkan 10 kekayaan intelektual (IP) terpilih, termasuk dua IP Korea melalui kemitraan dengan Asian Contents Film Market (ACFM).

  • ​Kedua program mempertemukan sineas dan perwakilan IP dengan calon mitra pengembangan, adaptasi, pendanaan, produksi bersama, serta distribusi pada JAFF Market, 28–30 November 2026, di Yogyakarta.

​Yogyakarta, Indonesia 16 Oktober 2026 — JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank mengumumkan 11 proyek film panjang terpilih untuk JAFF Future Project (JFP) dan 10 kekayaan intelektual untuk JAFF IP Connection (JIPCon). Pengumuman ini menempatkan pengembangan film dan adaptasi IP sebagai bagian penting dari penyelenggaraan JAFF Market yang memasuki tahun ketiga.

​Seleksi tersebut mencakup satu proyek film Australia melalui kemitraan dengan Adelaide Film Festival (AFF), berkolaborasi dengan mylab, serta dua IP Korea melalui kemitraan dengan Asian Contents Film Market (ACFM).

​Kedua program akan berlangsung dalam rangkaian JAFF Market pada 28–30 November 2026 di Yogyakarta. Produser dan pelaku industri dapat menjajaki film dalam berbagai tahap pengembangan, sekaligus menemukan cerita, karakter, dan dunia penceritaan yang berpotensi diadaptasi menjadi karya audiovisual.

​JFP tahun ini menghadirkan proyek baru dari sejumlah sineas, antara lain Boo Junfeng, M. Raihan Halim, dan Sidharta Tata, bersama para pembuat film Indonesia yang tengah mengembangkan karya mereka. Di antaranya adalah sutradara perempuan Ninndi Raras dan Dian Tamara yang sedang mempersiapkan debut film panjang. Meliputi film fiksi dan animasi, proyek-proyek terpilih mengangkat persoalan keluarga, identitas, keyakinan, ingatan, dan migrasi melalui beragam pendekatan, dari drama personal hingga eksplorasi sinema genre.

​Judul-judul yang terpilih adalah aLPa (ABSENCE) karya Dhiwangkara Seta; Orphaned Atlas karya Timoteus Anggawan Kusno; A Quiet Sunshine karya Ninndi Raras; Primal karya Rein Maychaelson; Pupus: The Orchid of Merapi karya Yudhatama Fajar Nugroho; Somewhere Between karya Dian Tamara; Slaughterground karya Sidharta Tata; Luz and Flor karya Glenn Barit; The Smuggler karya M. Raihan Halim; serta Trinity karya Boo Junfeng.

​Melengkapi jajaran 11 proyek tersebut adalah Wreck and Ruin karya Rosie Lourde yang berpartisipasi melalui kemitraan dengan AFF.

​Keikutsertaan proyek Australia itu melanjutkan kolaborasi JAFF Market, AFF, dan mylab dalam JFP. Kerja sama ini membuka ruang bagi tim pembuat film Australia untuk membangun hubungan dengan produser dan perusahaan di Indonesia serta kawasan Asia, termasuk menjajaki kolaborasi kreatif, skema produksi bersama, dan akses menuju penonton di berbagai negara.

​"Kemitraan kami dengan JAFF Market dan mylab memberi kesempatan kepada sineas Australia untuk terhubung dengan jejaring kreatif dan produksi di kawasan ini ketika proyek mereka masih dalam tahap pengembangan," ujar Mat Kesting, CEO dan Direktur Kreatif Adelaide Film Festival. "Kami ingin pertukaran ini menjadi landasan yang lebih kuat bagi kolaborasi, dengan mempertemukan tim pembuat film dan mitra yang dapat berkontribusi pada pengembangan, pendanaan, serta perjalanan internasional film mereka."

​Kolaborasi dalam JFP menekankan pentingnya membangun hubungan sejak tahap awal pengembangan proyek. Pada tahap tersebut, pertukaran gagasan antara sineas dan calon mitra masih dapat turut membentuk arah kreatif maupun pendekatan produksinya.

​"Kolaborasi internasional dimulai dari pemahaman terhadap visi seorang sineas dan kontribusi yang dapat diberikan setiap mitra kepada proyek tersebut," kata Lorna Tee, Pendiri mylab. "Melalui kolaborasi dengan JAFF Market dan Adelaide Film Festival, kami ingin mempertemukan tim pembuat film Australia dengan produser di Indonesia dan kawasan Asia, serta membangun hubungan yang dapat membentuk karya mereka dan berlanjut setelah pasar berakhir."

​Selain proyek film, JIPCon menghadirkan IP terpilih yang mencakup komik dan animasi. Program ini mempertemukan kreator dan perwakilan IP dengan produser yang tengah mencari materi untuk dikembangkan menjadi film maupun serial. Pertemuan tersebut membuka pembahasan mengenai adaptasi, hak pemanfaatan IP, dan kemitraan produksi.

​Enam IP Indonesia yang terpilih adalah Komarong karya Gilang Bhagaskara; Mantra karya Sigit Ezra Prayoga; Darah di Atas Salju (Blood Upon the Snow) karya Dedy; Lao Sam 1892 karya Toni Masdiono; Hati-Hati Ada Dua Hati karya Ario Tamat; serta Yuuko's Gloomy Days karya Anwita Citriya. Turut bergabung adalah Disposable Dolly karya Ben Liu dari Taiwan, dan Cat Rental Company karya Maka (Zhou Lishu) dari Hong Kong.

​Dua IP Korea, yakni My Upstairs Neighbors yang diwakili Clayhouse Inc. dan Friend Request yang diwakili Ryoung Studio, akan berpartisipasi melalui kemitraan JAFF Market dengan ACFM, melengkapi 10 IP terpilih.

​Kehadiran IP dari Korea, Hong Kong, dan Taiwan memperluas jangkauan regional JIPCon sekaligus membuka kesempatan bagi produser Indonesia dan internasional untuk menjajaki kerja sama dengan para perwakilannya. Pembahasan akan berfokus pada peluang adaptasi dan pengembangan bersama agar cerita dapat menjangkau pasar lain, dengan mempertimbangkan karakter materi serta calon penontonnya.

​JFP mempertemukan tim proyek dengan calon mitra sesuai tahap dan kebutuhan masing-masing film, mulai dari pengembangan dan pendanaan hingga pascaproduksi serta distribusi. Sementara itu, JIPCon membuka percakapan antara produser dan perwakilan IP untuk menemukan kesamaan visi dalam adaptasi. Kehadiran kedua program dalam pasar memberi pelaku industri lebih banyak pilihan untuk menemukan cerita dan memulai pengembangan proyek.

​"Kami ingin produser datang ke JAFF Market dengan mengetahui bahwa mereka dapat menemukan film yang sedang dikembangkan sekaligus IP orisinal yang berpotensi diadaptasi ke layar," ujar Linda Gozali, Direktur JAFF Market. "JFP dan JIPCon mempertemukan sineas serta perwakilan IP dengan mitra yang dapat berkontribusi secara kreatif, membantu menyusun pendanaan, dan menghubungkan cerita dengan penonton. Tujuan kami adalah mengembangkan pertemuan tersebut menjadi kolaborasi berkelanjutan sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai mitra kreatif dan produksi."

​Proyek dan IP terpilih juga akan menjadi bagian dari pertemuan terkurasi dalam Producers Exchange yang untuk pertama kalinya diselenggarakan JAFF Market. Para produser peserta akan dipertemukan dengan tim JFP, perwakilan JIPCon, peserta pameran, dan delegasi industri untuk memperluas peluang kerja sama.

​Melalui JFP, JIPCon, dan Producers Exchange, JAFF Market menghubungkan penemuan cerita dengan kebutuhan pengembangan, pendanaan, produksi, serta distribusi film lintas negara. Kemitraan Australia dalam JFP dan Korea dalam JIPCon turut membuka jalur pertukaran regional serta mempererat hubungan industri film Indonesia dengan mitra internasional.

​Tentang JAFF & JAFF Market:

​Didirikan pada tahun 2006 sebagai respons terhadap perkembangan distribusi digital di awal 2000-an, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) telah menjadi platform penting dalam memperkuat ekosistem sinema di Yogyakarta dan Indonesia. Lebih dari sekadar festival film, JAFF berfungsi sebagai pusat pembelajaran, pertukaran budaya, serta wadah bagi sineas Asia untuk berkembang.

​Seiring berkembangnya distribusi digital secara global, Indonesia menjadi salah satu pasar film terbesar di Asia Tenggara, yang menuntut kehadiran sineas dan tenaga profesional berkualitas. Dari kebutuhan ini, lahirlah JAFF Market sebagai hub industri untuk menghubungkan sineas, talenta baru, kreator konten, investor, institusi film, media, dan komunitas film.

​Kini, sebagai gerbang menuju kencangnya laju industri film Indonesia, JAFF Market menjadi pasar film terbesar di Asia Tenggara yang membuka peluang kerja sama dan bisnis lintas sektor industri. Dengan berbagai program unggulan, JAFF Market terus berkembang sebagai event industri terkemuka yang mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem film Indonesia yang dinamis.

​Bersiaplah untuk JAFF (28 November - 5 Desember 2026) dan JAFF MARKET 2026 (28 - 30 November 2026) – Let's Shape the Future of Asian Cinema!

Jumat, 16 Oktober 2026

The Doll Ghawiah: Babak Baru Teror Boneka Animatronik Tercanggih Padukan Horor, Thriller, dan Action


Jakarta 16 Oktober 2026 — The Doll Ghawiah merupakan film yang ditunggu penonton film horor Indonesia dengan media boneka yang terus meneror penontonnya. Sebagai sebuah prekuel, film ini membedah akar sejarah pemicu teror di semesta The Doll.

Film The Doll Ghawiah berbeda dari film sebelumnya, di mana boneka yang di hadirkan lebih mutakhir dari boneka sebelumnya. Kelebihan boneka Ghawiah dari boneka sebelumnya adalah dengan looks, baju, dan animatronics yang lebih maju dari sebelumnya, boneka ini lebih berekspresi, Ini semua Guna memberikan teror yang berbeda. Rocky Soraya selaku produser Hitmaker Studios memesan langsung pembuatan boneka dari Bali serta animatronics dari Amerika, dengan budget miliaran.

Dalam hal penggarapan cinematografinya, film The Doll Ghawiah di percayakan kepada sutradara Guntur Soeharjanto yang sangat handal di dunia perfilman. Guntur memberikan signature atau ciri khas yang beda dan kuat dari The Doll sebelum-sebelumnya sehingga pendekatan atmosfir dibangun agar penonton bisa merasakan aura menyeramkan bahkan sebelum wujud bonekanya terlihat.

Hitmaker Studios selalu serius dalam membuat film sehingga menghasilkan film yang berkualitas. Ini dibuktikan salah satu adegan puncak atau final battle dikemas secara megah dengan pembangunan set rumah kaca besar yang dihancurkan secara dramatis.


Kombinasi racikan elemen horor, thriller, dan action menjadikan The Doll Ghawiah sebagai babak paling menegangkan yang tidak boleh dilewatkan untuk di tonton di bioskop. 

Film The Doll Ghawiah akan tayang seretak di bioskop tanggal 29 Oktober 2026 dan akan tayang juga dalam format IMAX demi menyajikan pengalaman visual dan audio yang jauh lebih intens serta menegangkan.

Sinopsis Film The Doll Ghawiah


Mengambil latar tahun 1988, kisah bermula ketika pasangan suami istri Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal) memutuskan pindah dari Jakarta ke kawasan Babakan Siliwangi, Bandung.

Langkah ini diambil bersama kedua buah hati mereka, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane), untuk merintis lembaran hidup baru usai bisnis keluarga bangkrut. Namun, niat mencari ketenangan justru berubah menjadi teror mistis tiada akhir setelah Nala tak sengaja bertemu anak misterius di dalam hutan yang memberinya sebuah boneka bernama Ghawiah.

Usut punya usut, nama Ghawiah memiliki arti harfiah 'tersesat'. Boneka ini bersemayam jiwa-jiwa terluka yang memicu serangkaian kejadian janggal di rumah baru mereka.


Melalui penuturan Laras (Sara Wijayanto), seorang pelayan restoran lokal, terungkap legenda tragis sosok arwah anak bernama Uci yang tewas akibat kecelakaan tabrak lari di Jalan Siliwangi dua tahun sebelumnya.

Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Berlangganan Bersama di Indonesia

Satu pembelian memberikan akses ke dua layanan, dengan pilihan drama, film, variety show, dan microdrama dari berbagai negara Asia

Jakarta, 16 Oktober 2026 — Viu dan iQIYI International mengumumkan peluncuran paket berlangganan bersama di Indonesia. Melalui paket ini, pelanggan dapat memperoleh manfaat keanggotaan di kedua layanan dalam satu pembelian, sehingga lebih mudah menikmati beragam hiburan Asia.

Peluncuran di Indonesia merupakan bagian dari peluncuran di empat pasar Asia Tenggara, yaitu Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Paket ini menjadi kelanjutan dari kolaborasi Viu dan iQIYI International yang pertama kali diumumkan pada ajang APOS 2026.

Paket berlangganan tersedia melalui situs web Viu maupun iQIYI International. Pelanggan tetap menggunakan akun terpisah untuk masing-masing layanan dan menonton melalui platform masing-masing. Pilihan tayangannya mencakup drama Korea, drama China, produksi lokal, film, variety show, hingga microdrama.
 
Pilihan tayangan di Viu

Melalui Viu, pelanggan dapat menikmati Viu Originals, drama Korea, variety show, serta berbagai hiburan Asia. Sejumlah tayangan yang akan hadir antara lain Viu Original Korea Oh! My Guard pada 24 Oktober, sekuel drama hukum Good Partner 2, serta One of a Kind Romance yang memadukan komedi romantis dan thriller.

Pilihan produksi lokal dan regional mencakup thriller kidNap GAME yang baru diluncurkan, drama Malaysia Nowhere To Hide yang memadukan misteri, kriminal, dan romansa mulai 22 Oktober, serta horor-thriller Thailand The Rules mulai 28 Oktober. Viu juga menghadirkan microdrama Original High School Assassins.
 
Untuk penggemar variety show, tersedia Love in the Moonlight: Redrawn, Whenever Possible Season 5, dan Sixth Sense: B-Side. Tayangan tersebut melengkapi koleksi Viu yang mencakup genre romansa, misteri, kriminal, horor, dan thriller supernatural.

 
Pilihan tayangan di iQIYI International

Dalam iQIYI International, pelanggan dapat menikmati drama China dan produksi lokal dari berbagai negara. Pilihannya mencakup Spring of the Blade, drama berlatar kostum yang mengangkat kisah romansa dan balas dendam; Original Thailand Fool in Love; Original Malaysia Sekali Lagi Bahagia; serta iQIYI Original Indonesia Bercinta Dengan Maut (The Other Sister) yang mengangkat kisah cinta terlarang.

Sejumlah drama China yang akan hadir meliputi Love in Red Dust, romansa berlatar kostum dengan unsur komedi ringan dan ketegangan; Yunchu’s Vengeance, kisah tentang kelahiran kembali dan balas dendam; serta When I Meet The Moon, cerita cinta tentang perjalanan menuju kedewasaan.

Selain tayangan baru, pelanggan dapat menjelajahi katalog iQIYI International yang mencakup ribuan serial, termasuk Pursuit of Jade, The Best Thing, dan Key to the Phoenix Heart.

 
Cara berlangganan dan mengakses layanan

Pelanggan dapat membeli paket bersama ini melalui situs web Viu atau iQIYI International. Setelah menyiapkan akun pada masing-masing platform, pelanggan dapat mengakses tayangan di kedua layanan secara terpisah.

Informasi mengenai pengaturan akun, penagihan, dan pengelolaan langganan tersedia melalui pusat bantuan Viu dan iQIYI International.

Ketersediaan konten, manfaat keanggotaan, fitur, dan kompatibilitas perangkat dapat berbeda menurut platform dan negara.

 
***
 
Tentang Viu

Viu merupakan layanan streaming video over-the-top (OTT) yang tersedia di berbagai pasar di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Selatan. Viu menawarkan dua pilihan layanan, yaitu akses gratis dengan iklan dan langganan premium.

Selain produksi original dengan merek Viu Original, Viu menghadirkan serial televisi, film, dan program gaya hidup dari penyedia konten lokal maupun regional, dalam berbagai bahasa dan dilengkapi takarir. Melalui Viu Scream Dates, Viu juga menghadirkan acara temu penggemar di berbagai negara untuk mempertemukan bintang dengan para penggemarnya secara langsung.

Perusahaan induk Viu, Viu International Limited, turut mengoperasikan MOOV, layanan streaming musik digital dan konser langsung di Hong Kong. Viu merupakan bagian dari PCCW Media di bawah PCCW Limited, perusahaan global yang berkantor pusat di Hong Kong.

 
Informasi lebih lanjut tersedia di www.viu.com.


Tentang iQIYI International

iQIYI, Inc. merupakan penyedia layanan hiburan video daring di China yang memproduksi, menghimpun, dan mendistribusikan berbagai konten profesional. Perusahaan ini mengembangkan layanan hiburan dengan dukungan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan analisis data.

Untuk penonton global, iQIYI menghadirkan iQIYI International melalui www.iq.com dan aplikasi internasional, dengan serial serta film Asia sebagai sajian utama. Layanan ini tersedia di lebih dari 190 wilayah dan menyediakan antarmuka serta takarir dalam 13 bahasa.

Katalog iQIYI International mencakup lebih dari 1.700 serial drama, variety show, dan anime, serta 2.000 film. Operasional internasionalnya dikelola melalui kantor pusat di Beijing dan Singapura, dengan kantor lokal di Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Amerika Utara.

Zona Merah Meluas! Film Zombie Terbesar Indonesia Resmi Rilis Teaser Trailer, Siap Tayang di Bioskop 14 Januari 2027

​Jakarta, 16 Oktober 2026 – Screenplay Films secara resmi meluncurkan teaser trailer perdana dari film layar lebar terbarunya yang paling dinantikan, Zona Merah. Mengangkat skala ancaman mayit atau zombie ke tingkat yang jauh lebih masif dan mencekam, karya ini siap mengukuhkan posisinya sebagai film zombie terbesar dalam perfilman Indonesia dan dijadwalkan meneror seluruh jaringan bioskop mulai 14 Januari 2027.

​Melalui format layar lebar, film Zona Merah akan menceritakan perjalanan bertahan hidup sekelompok manusia dalam skala yang jauh lebih besar dan epik. Produser Screenplay Films, Wicky V. Olindo, menegaskan komitmen besar di balik proyek ambisius ini. "Sebagai salah satu produksi paling ambisius yang pernah kami lakukan, kami ingin membawakan pengalaman menonton yang luar biasa untuk semua orang, bukan hanya fans dari serial Zona Merah."

​Serangan Mayit Meluas dari Pelosok hingga Jantung Kota

​Cuplikan teaser trailer yang baru dirilis memperlihatkan pengalaman diserbu mayit hidup yang sangat menegangkan. Skala produksi nya digarap total, di mana serangan wabah tidak lagi terbatas di pedesaan, melainkan merangsek ke tengah kota besar, pusat perbelanjaan, hingga bandar udara.

​Dua kreator orisinal, Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa, kembali memegang kendali penggarapan untuk menyajikan pengalaman sinema zombie yang belum pernah ada sebelumnya di industri film Indonesia.

​Sutradara Sidharta Tata menyampaikan kesungguhan proses kreatif di balik layar. "Kami benar-benar all out dalam membuat film Zona Merah. Tiga kota, ratusan extras, dan berbagai lokasi syuting yang luar biasa."

​Kabar baik bagi para pengunjung Synchronize Fest 2026, teaser trailer ini akan diputar sepanjang tiga hari acara, empat kali sehari di empat stage berbeda, lengkap dengan kejutan kehadiran mayit yang langsung di area acara.

​Kekuatan Ansambel Pemain Lama dan Karakter Baru

​Kekuatan cerita Zona Merah kembali ditopang oleh jajaran aktor dan aktris ternama Aghniny Haque, Andri Mashadi, Devano, Maria Theodore, dan Lukman Sardi. Kehadiran mereka diperkuat oleh deretan pemain baru yang memberikan energi segar, meliputi Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, Derby Romero, serta Luna Maya yang turut mengambil peran ganda di depan kamera sekaligus sebagai Executive Producer.

​Jadwal Tayang dan Saluran Informasi

​Wabah Zona Merah akan meluas ke seluruh bioskop Indonesia mulai 14 Januari 2027. Perkembangan informasi terbaru mengenai film ini dapat diakses secara berkala melalui akun media sosial resmi @filmzonamerah dan @screenplayfilms_id. 

Mengenal Axelo Nababan, Finalis Indonesian Idol yang Debut sebagai Pemeran Utama di Film Musikal Batak Pertama, Pulang Kampung

​Dikenal sebagai salah satu finalis Indonesian Idol musim ke-13 (2024–2025), Axelo Nababan kini membuka babak baru dalam perjalanan kariernya. Penyanyi bernama lengkap Axel Hasian Nababan ini dipercaya memerankan Daniel dalam Pulang Kampung, film musikal Batak pertama di Indonesia, produksi IMAJINARI serta ditulis dan disutradarai oleh Bene Dion Rajagukguk bersama ko-sutradara Kristo Immanuel. Film ini menjadi debut layar lebar Axelo setelah sebelumnya menjajal dunia akting melalui sinetron Benci Jadi Bucin di RCTI sebagai Paul.

​Lahir di Tangerang Selatan pada 23 Juli 2006, Axelo lebih dahulu mencuri perhatian lewat karakter vokalnya yang unik dengan nuansa R&B. Penampilannya di Indonesian Idol musim ke-13 membawanya hingga babak Spektakuler Show dan berhasil menembus Top 11. Setelah kompetisi, ia melanjutkan perjalanan musiknya melalui lagu "Amit-amit" dan single "Mana Sayapnya". Di luar aktivitas bermusik dan berakting, Axelo menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pelita Harapan (UPH).

​Dalam film Pulang Kampung, Axelo menghadapi tantangan baru yang tidak hanya berkaitan dengan seni peran, tetapi juga kedekatannya dengan budaya Batak yang menjadi latar belakangnya. Ia memerankan Daniel, pemuda Batak yang lahir dan besar di Jakarta sehingga belum terlalu mengenal budaya Batak. Menariknya, Axelo merasa memiliki kedekatan dengan karakter tersebut karena memiliki latar belakang yang serupa. Kesamaan ini menjadi titik awal bagi Axelo untuk memahami Daniel lebih dalam, sekaligus mengenal lebih jauh budaya Batak selama proses syuting.

​Pengalaman ini juga mempertemukannya kembali dengan Vanessa Simorangkir, teman seperjuangannya di Indonesian Idol. Dalam film ini, Vanessa berperan sebagai Uli, pariban atau sepupu yang mengajari Daniel tentang budaya Batak. Pertemuan keduanya di proyek layar lebar menjadi babak baru bagi dua talenta yang sebelumnya berjuang bersama di panggung kompetisi musik, kali ini dalam medium dan tantangan yang berbeda.

​Lewat Pulang Kampung, Axelo tidak hanya memperluas pengalamannya dari panggung musik ke layar lebar, tetapi juga menjalani perjalanan untuk lebih mengenal akar budaya yang diangkat dalam film tersebut. Film Pulang Kampung dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.

​Akun Resmi:

  • ​Instagram: @imajinari.id

  • ​TikTok: @imajinari.id

  • ​YouTube: Imajinari

​TENTANG IMAJINARI

Imajinari adalah studio film muda di Indonesia yang menitikberatkan pada cerita yang segar dan berpijak pada visi kreatif sutradara. Rekam jejak Imajinari diantaranya adalah film “AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!” yang menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia dengan perolehan lebih dari 11 juta penonton, film mega box office “AGAK LAEN” yang meraih lebih dari 9,1 juta penonton, serta “Jatuh Cinta Seperti Di Film Film” yang memenangkan Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik, Aktor dan Aktris Utama Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia tahun 2024.

​Didirikan oleh duo Ernest Prakasa & Dipa Andika, Imajinari memulai debutnya melalui film “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022), sebuah film yang kemudian menjadi Official Selection Indonesia untuk Academy Awards 2023. 

Tayang Hari Ini di Bioskop! Film Aplikasi Iblis Karya Dimas Anggara Gabungkan Horor, Misteri, & Action, Dibintangi Junior Roberts dan Dosma Hazenbosch

Tonton Film Aplikasi Iblis di bioskop!

​Jakarta, 15 Oktober 2026 — Dimas Anggara kembali hadir dengan film terbaru yang disutradarainya, dari produksi NIH Pictures, Aplikasi Iblis, yang tayang mulai hari ini, Kamis, 15 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Film ini membawa kengerian teror dari iblis yang menyerupai arwah, dengan balutan misteri dan action.

​Setahun berlalu, Arya (Junior Roberts) masih gagal move on dari kematian tragis Laras. Bucin setengah mati, Arya nekat mencoba aplikasi misterius, I LET YOU IN, demi menghubungi arwah kekasihnya.

​Ajaibnya, rasa rindu Arya terobati saat ia berhasil terhubung kembali dengan Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, cinta yang membutakan itu justru menyeretnya ke dalam ancaman teror yang mengerikan. Kini, rasa rindunya yang mendalam malah menjadi bumerang yang mengancam nyawanya sendiri. Bisakah Arya merelakan kepergian Laras demi keselamatan nyawanya?

​“Horor di film Aplikasi Iblis tidak terjadi di hutan, kuburan, atau bahkan di desa. Tapi bahwa horornya terjadi di kehidupan yang dekat dengan keseharian orang-orang di perkotaan, dan membuat ceritanya semakin relevan. Bahwa horor juga bisa terjadi di keseharian yang sering kita lewati,” ujar sutradara Dimas Anggara.

​“Horornya itu sebenarnya karena sebab akibat dari suatu perbuatan yang dilakukan Arya. Segala sesuatu pasti ada sebab akibat. Apa yang dilakukan Arya, dengan mencoba menghubungi arwah kekasihnya itulah yang kemudian menyebabkan teror,” tambah Dimas.

​Film Aplikasi Iblis dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, dan Della Dartyan. Film ini diproduseri oleh Delly Malik dan R. Dimas Aryanto.

​Berikut adalah fakta-fakta menarik dari Film Aplikasi Iblis yang layak ditonton di bioskop mulai 15 Oktober 2026!

​1. Bikin Film Horor, Tapi Dimas Anggara Penakut

​Meski menyutradarai Aplikasi Iblis yang bergenre horor, tetapi Dimas Anggara sebenarnya adalah orang yang sangat penakut. Di film ini, Dimas justru membuktikan ia keluar dari zona nyamannya dan membuat karya yang unik dan fresh, yang ringan untuk dinikmati di bioskop.

​2. Film Kedua Dimas Anggara, Debut Sutradarai Horor

​Aplikasi Iblis menjadi film kedua yang disutradarai Dimas Anggara. Sebelumnya, Dimas memulai debut penyutradaraannya lewat film #OOTD yang bergenre drama. Film Aplikasi Iblis juga menjadi debut Dimas dalam menyutradarai genre horor.

​3. Syuting di Gedung Bekas Supermarket

​Film Aplikasi Iblis mengambil latar horor perkotaan. Sebab itu, di film ini tak akan kita jumpai desa yang angker atau hutan yang sakral. Namun, kita justru akan melihat kengerian dari keseharian seperti suasana malam-malam saat pulang sendiri, apartemen, hingga area parkir.

​Salah satu fakta menarik di film Aplikasi Iblis adalah penggunaan gedung bekas supermarket tua yang berada di Bogor. Lokasi ini juga menjadi salah satu latar untuk adegan action yang menegangkan di film.

​4. Adegan Action, Junior Roberts Memar-Memar

​Tak hanya dihantui kematian kekasihnya, aktor Junior Roberts yang memerankan Arya juga harus melakukan banyak adegan action di film Aplikasi Iblis. Junior pun mengaku sempat mengalami memar-memar, namun ia berada dalam kondisi yang baik-baik saja.

​Untuk mempersiapkan adegan action, Junior pun melakukan persiapan panjang. Selain workshop koreografi action, ia juga punya resep untuk menjaga staminanya, yakni minum kopi.

​5. Dosma Hazenbosch Ubah Suara

​Memerankan karakter Laras yang berubah menjadi sosok arwah, aktris Dosma Hazenbosch tak hanya mendapat perubahan tampilan di wajah dan tubuhnya. Namun, ia yang melakukan debut horornya di Aplikasi Iblis juga turut mengubah karakter suaranya.

​Hal itu dilakukan agar memberikan perbedaan saat ia memerankan Laras yang masih hidup dan saat Laras menjadi sosok arwah.

​Tonton film Aplikasi Iblis di bioskop sekarang! Ikuti perkembangan terbaru film Aplikasi Iblis melalui akun media sosial resmi di Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictures.

Kamis, 15 Oktober 2026

Gala Premiere 'Beautiful Pain' Berhasil Suarakan Kekuatan Wanita, Bukti Bahwa Meninggalkan Hubungan Toxic Bukan Tanda Kekalahan

​Jakarta, 15 Oktober 2026 — Gala Premiere film Beautiful Pain di Epicentrum XXI bukan sekadar selebrasi sinema, melainkan ruang aman yang mengamplifikasi jeritan para penyintas kekerasan seksual, korban rumah tangga toxic dan keteguhan ibu tunggal merebut kembali harga dirinya. Malam Gala Premiere ini sekaligus menjadi panggung empati dan perlawanan sosial yang sunyi namun berani bersikap.

​Alih-alih sekadar momen peluncuran karya, malam ini menjelma menjadi ruang pengakuan kolektif bagi perempuan-perempuan yang pernah dipaksa menelan getirnya bertahan dalam pernikahan yang toxic, dihakimi saat memilih bercerai, hingga harus bertarung sendirian ketika menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual di tengah masyarakat yang gemar menyalahkan korban (victim blaming).

​Film hasil kolaborasi rumah produksi Dapur Film bersama produser Hanung Bramantyo dan debut Executive Producer Nikita Mirzani ini dihadiri langsung oleh jajaran kreator serta ansambel pemeran lengkap, yang terdiri dari Dmaz Brodjonegoro (Sutradara), Hanung Bramantyo (Produser), dan Titien Wattimena (Penulis Skenario). Serta jajaran Pemeran; Raihaanun (Niken), Baim Wong (Dirga), Tarra Budiman (Randy), Anantya Kirana (Naia), Evano Zyan (Dio), Jajang C. Noer (Rahmania), Dimas Aditya (Gerry), Siti Fauziah (Sekarsari), Berlliana Lovel (Diana), dan Anastasia Herzigova (Jane).

​Jeritan Sunyi Niken: Dari Lingkaran Pernikahan Toxic hingga Ujian Pelecehan Seksual

​Beautiful Pain menceritakan pergulatan batin karakter Niken (Raihaanun) sebagai cerminan realitas pahit yang dihadapi banyak perempuan di Indonesia. Niken mengambil keputusan paling berisiko dalam hidupnya: memutus rantai rumah tangga toxic bersama suaminya, Dirga (Baim Wong), demi menyelamatkan kesehatan mental dan masa depan kedua buah hatinya. Ia rela meninggalkan seluruh kenyamanan materi, menelan harga diri untuk kembali ke rumah sang ibu, dan memungut serpihan hidupnya dari titik nol dalam kesederhanaan.

​Namun, ujian pasca-perceraian ternyata jauh lebih kejam. Saat berikhtiar mencari nafkah mandiri dan memperjuangkan hak asuh anak-anaknya, Niken justru dihadapkan pada teror pelecehan seksual dan fitnah keji. Bukannya mendapat perlindungan, lingkungan sekitar justru kerap memojokkan, meragukan integritasnya, dan menuntutnya untuk bungkam demi menjaga "nama baik".

​Di titik nadir inilah Niken menolak untuk terus menjadi korban. Ia memilih jalan tersulit: memecah kehebingan, bersuara lantang (speak up), dan bertarung melawan stigma demi mempertahankan martabat diri serta hak anak-anaknya.

​Aktris peraih Piala Citra Raihaanun tak kuasa menahan haru saat membagikan beban emosional yang ia pikul selama menyelami jiwa Niken. "Setiap orang, setiap wanita, pasti pernah merasakan jatuh dan terjebak dalam jurang yang paling dalam. Niken adalah gambaran nyata wanita-wanita di luar sana yang kuat dan mampu melepaskan masa lalunya yang toxic. Tapi yang paling menyakitkan adalah ketika seorang perempuan sudah berusaha bangkit, ia malah kembali diuji dengan pelecehan dan fitnah di saat orang sekitar justru menyalahkannya. Menjadi ibu tunggal yang berani bicara dan melawan demi anak itu butuh keberanian yang luar biasa berdarah-darah. Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan," ungkap Raihaanun penuh getar ketegasan.

​Sutradara & Produser: Film sebagai Media Pemecah Keheningan

​Langkah berani mengangkat tabu pelecehan dan perceraian ini sekaligus menandai debut penyutradaraan layar lebar bagi Dmaz Brodjonegoro. Mengembangkan naskah bersama Titien Wattimena, Dmaz menegaskan bahwa sinema harus berpihak pada korban.

​"Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita. Bagaimana perempuan sering kali tidak punya ruang aman untuk bersuara saat disakiti, dan betapa beratnya beban seorang ibu yang berjuang sendirian. Saya harap kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang lebih berempati dan lebih baik setelah menonton Beautiful Pain," tegas Dmaz.

​Produser Dapur Film, Hanung Bramantyo, mengarisbawahi pentingnya ketajaman perspektif yang dibawa oleh Dmaz dalam menerjemahkan isu sensitif ini ke layar lebar. "Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Mba Titin Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut," puji Hanung Bramantyo.

​Sementara itu, Executive Producer Nikita Mirzani turut menitipkan pesan khusus yang menegaskan sikap pantang menyerah bagi seluruh perempuan yang hadir malam itu: "Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan."

​Membakar Rasa Malu, Mengubah Trauma Menjadi Sayap Kekuatan

​Kekuatan emosional malam Gala Premiere kian terasa nyata melalui instalasi puluhan kertas berbentuk kupu-kupu yang menghiasi lobi Epicentrum XXI. Kupu-kupu tersebut bukan sekadar dekorasi, melainkan ruang katarsis yang memuat curahan hati anonim publik: kisah tentang trauma perselingkuhan, perihnya menjadi korban kekerasan yang disalahkan lingkungan, rasa bersalah seorang ibu tunggal, hingga kalimat afirmasi keberanian untuk sembuh.

​Instalasi ini menjadi simbol metamorfosis sempurna, bahwa dari kepompong rasa sakit dan trauma yang paling gelap sekalipun, keberanian untuk bersuara mampu melahirkan sayap ketangguhan (Every pain has a beautiful side).

​Mengusung pesan moral "Fight the Trauma", film Beautiful Pain siap tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Mari bersama menyuarakan keberanian dan saling menguatkan. Ikuti kabar terbaru dan ruang diskusi resmi melalui akun media sosial @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

Dari Folklore ke Era Viral, Lingsir Wengi: Motel Malioboro Hadirkan Horor yang Dekat dengan Generasi Digital

​Lagu 'Lingsir Wengi' Jadi Jembatan antara Khazanah Budaya, Imajinasi Populer, dan Kehidupan Generasi Digital

​Jakarta, 14 Oktober 2026 – Lagu Lingsir Wengi telah lama hadir dalam khazanah budaya Jawa dan berkembang dengan beragam pemaknaan dari generasi ke generasi. Dalam budaya populer, Lingsir Wengi juga kerap hadir dan bersinggungan dengan cerita misteri dan horor. Pertemuan antara sesuatu yang telah dikenal lintas generasi dengan kehidupan anak muda di era digital kini menjadi salah satu elemen penting dalam film horor terbaru produksi LAB Pictures, Lingsir Wengi: Motel Malioboro, yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

​Disutradarai oleh Adhe, yang juga bertindak sebagai produser bersama Jason G., Lingsir Wengi: Motel Malioboro mengikuti Putik, Ryan, Avo, Anggie, dan Dita, lima sahabat di balik kanal horor DuniaHorror62. Sebuah penelusuran membawa mereka ke motel tua di kawasan Malioboro, tempat rasa penasaran mempertemukan mereka dengan rekaman Lingsir Wengi. Dari sana, apa yang semula mereka anggap sebagai materi untuk konten berkembang menjadi pengalaman yang tidak pernah mereka bayangkan.

​Dalam film ini, Lingsir Wengi tidak sekadar ditempatkan sebagai elemen pembangun suasana. Kehadirannya menjadi penghubung antara sesuatu yang telah lama hidup dalam ingatan budaya dengan dunia generasi yang tumbuh bersama kamera, media sosial, dan dorongan untuk mendokumentasikan hampir setiap pengalaman.

​Bagi sutradara, pemilihan lagu Lingsir Wengi membuka ruang untuk mempertemukan elemen budaya yang telah dikenal masyarakat dengan kehidupan anak muda masa kini.

​"Lingsir Wengi memiliki tempat tersendiri dalam ingatan kolektif masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan cerita misteri dan horor. Saya tertarik membawa elemen ini ke dalam konteks kehidupan anak muda yang akrab dengan dunia digital, sekaligus menjadikannya bagian dari perjalanan karakter dalam menghadapi pilihan dan konsekuensi mereka," ujar Adhe.

​Di sisi lain, pertemuan dua dunia tersebut juga membuka pertanyaan yang sangat kontemporer: sejauh mana seseorang bersedia melangkah demi sebuah konten?

​Ambisi untuk mengembangkan DuniaHorror62 membawa kelima sahabat itu semakin jauh dalam penelusuran mereka. Namun Lingsir Wengi: Motel Malioboro perlahan mengaburkan batas antara apa yang mereka kejar untuk kamera dan apa yang kemudian harus mereka hadapi sendiri.

​Lingsir Wengi: Motel Malioboro mempertemukan dua hal yang berada sangat dekat dengan kehidupan penonton hari ini: cerita dan ingatan budaya yang diwariskan lintas generasi, serta kehidupan digital yang membuat hampir segala pengalaman dapat direkam dan dibagikan kepada publik. Film ini tidak menempatkan keduanya untuk saling bertentangan, tetapi menjadikan pertemuan tersebut sebagai ruang untuk membangun misteri sekaligus konflik para karakternya.

​Elsaputra D. Justia, selaku produser eksekutif bersama Richard Suwandi, menyampaikan bahwa film ini berangkat dari elemen budaya yang akrab bagi masyarakat, tetapi dikemas melalui perspektif yang relevan dengan kehidupan generasi masa kini.

​"Melalui Lingsir Wengi: Motel Malioboro, kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menawarkan misteri dan ketegangan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan kehidupan penonton, terutama generasi muda yang akrab dengan dunia konten digital. Kami berharap penonton dapat menikmati pengalaman horornya sekaligus menemukan dinamika keluarga baru yang lahir dari persahabatan, konflik, dan pilihan-pilihan keluarga baru tersebut yang membuat ceritanya terasa nyata dengan kehidupan mereka," ujar Elsaputra.

​Menurut Jason selaku produser, Lingsir Wengi: Motel Malioboro tidak hanya menawarkan pengalaman horor, tapi juga menghadirkan dinamika hubungan antarmanusia. "Di balik teror dan misteri yang dihadapi kelima karakter, ada cerita tentang menemukan keluarga dalam hubungan persahabatan, pengkhianatan, petualangan, dan kisah cinta yang membentuk perjalanan mereka. Kami juga ingin mengangkat tema keikhlasan, tentang bagaimana seseorang belajar menerima kenyataan dan melepaskan sesuatu yang tidak lagi bisa dipertahankan," ujarnya.

​Dibintangi oleh Ochi Rosdiana, Jeff Smith, Alif Rivelino, dan Chelcy Clarissa, Lingsir Wengi: Motel Malioboro akan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

​Ikuti perkembangan terbaru Lingsir Wengi: Motel Malioboro melalui akun Instagram @filmlingsirwengi.

​Tidak semua yang ditemukan harus dijadikan konten...

PIYE TO KIH? Resmi Luncurkan Official Poster dan Official Trailer Jelang Tayang 19 November 2026

​ Press conference di Jakarta turut menghadirkan penampilan soundtrack karya Lek Dahlan bersama Mukidi, Gendut, dan Penyok. MIRACLE Pictures...