Ghost in the Cell akan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026
Berlin, 14 Februari 2026 - Film horor komedi satir terbaru dari penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026! Antusiasme untuk film ini sudah terasa sejak penjualan tiket untuk seluruh pemutaran film ini terjual habis (sold out), hingga saat world premiere film ini mendapat tepuk tangan gemuruh dan respons positif dari para penonton.
Di Berlinale 2026, film Ghost in the Cell diputar dalam program Forum, yang dikenal sebagai program yang menampilkan kurasi film-film dengan visi sinematik yang kuat, berani secara bentuk, serta tajam dalam membaca realitas sosial dan politik. Di Berlinale, Ghost in the Cell diputar selama empat kali pada 13-22 Februari 2026, atau selama festival film tersebut berlangsung.
"Kami ingin bikin film yang benar-benar menghibur. Tapi ketika film selesai, akan ada pemikiran yang nempel di kepala mereka tentang situasi hidup di Indonesia," kata penulis dan sutradara Joko Anwar. Sambutan penonton ketika film diputar di Berlinale merefleksikan ini. Penonton tertawa lepas dan berteriak-teriak tepuk tangan sepanjang film. Di sesi tanya jawab, penonton mengklaim Ghost in the Cell sebagai "masterpiece", "luar biasa lucu", "menakutkan", dan "sarat tonjokan politik dan sosial".
Di film ini, Joko mengeksplorasi elemen horor supernatural-yang dalam dekade terakhir ia selalu memberikan penyegaran genre tersebut terasa menjadi sesuatu yang tak terelakkan, alih-alih sekadar sebagai tontonan yang hanya menghibur. Joko menyebutkan, di film Ghost in the Cell ia ingin lebih berfokus pada karakter secara mendalam, tak hanya sekadar mengandalkan bangunan set yang ada di filmnya.
"ini adalah film kami yang paling menghibur saat ini tapi juga reflektif," tambah Joko
.
Produser Tia Hasibuan mengungkapkan perasaan leganya setelah Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah dan antusias dari audiens internasional. "Cerita di film ini sangat merefleksikan apa yang terjadi dengan dinamika yang ada di Indonesia. Namun, saat melihat respons penonton dari luar Indonesia di Berlinale, ternyata horor komedi satir ini juga bisa relate dengan mereka. Semoga sambutan positif ini berlanjut saat filmnya tayang di Indonesia pada 16 April 2026."
Ghost in the Cell akan menjadi persembahan karya sinematik terbaru dari maestro Joko Anwar, yang pada akhir tahun lalu ia dianugerahi gelar tanda kehormatan sekaligus penghargaan tertinggi kebudayaan oleh Pemerintah Prancis, Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres. Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengakuan pencapaian artistik Joko dalam dua dekade perjalanannya di perfilman Indonesia.
Karya terakhir yang disutradarainya, Pengepungan di Bukit Duri, juga memenangkan Piala Citra FFI 2025 terbanyak, (5 Piala Citra), dan meraih 3 penghargaan di Festival Film Pilihan Tempo.
Tonton, rasakan, dan renungkan karya terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell mulai 16 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.
Film Monster Pabrik Rambut tayang di bioskop Indonesia tahun ini
Berlin, 15 Februari 2026 - Film terbaru rumah produksi Palari Films yang disutradarai Edwin, Monster Pabrik Rambut baru saja melakukan world premiere (penayangan perdana) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Tayang di program Berlinale Special Midnight, world premiere Monster Pabrik Rambut berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Uber Eats Music Hall, Berlin, Jerman.
World premiere juga turut dihadiri oleh sutradara Edwin, duo produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, serta jajaran pemeran Rachel Amanda, Iqbaal Ramadhan, Sal Priadi, Luqman Hakim (Kak Kev) dan Aryani Willems.
Film Monster Pabrik Rambut pun mendapat sambutan yang meriah di hadapan hampir 2000 penonton! Sekaligus menggugah dan mengguncang penonton Berlinale, saat film ini menghadirkan visual yang menyeramkan mulai dari teror 'hantu' hingga matinya satu per satu para buruh di pabrik rambut.
"Di film Monster Pabrik Rambut saya mencoba mengeksplorasi berbagai gabungan genre mulai dari horor, body-horror, dark comedy, hingga fantasi. Melalui pendekatan film genre, saya ingin mengajak penonton untuk berefleksi terhadap situasi yang terjadi saat ini, ketika hal seperti workaholic menjadi sebuah pujian, alih-alih menjadi hal yang perlu kita kritisi," ujar penulis dan sutradara Edwin.
Cineuropa dalam ulasannya menyebutkan, unsur kekerasan yang kocak sekaligus sadis yang ada di film ini saja sudah cukup menjamin film ini mendapat tempat di berbagai festival film genre internasional bergengsi. Namun, ada hal lain yang juga ditawarkan film ini, selain unsur sadis dan horornya.
"Sisi yang lebih tenang dan sedih mengangkat film ini lebih dari sekadar hiburan belaka. Ini seperti gaya Ken Loach namun dengan kesurupan iblis dan mata yang dicungkil. Film genre terbaik selalu menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekadar hantu masa lalu dan menyajikan lebih dari sekadar adegan jumpscares," tulis Cineuropa.
"Senang sekali Monster Pabrik Rambut mendapat respons positif dari audiens internasional di Berlinale. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan film ini dan mendapat respons positif juga saat tayang di Indonesia," tambah pemeran Iqbaal Ramadhan.
Sebelumnya, para kru dan pemeran Monster Pabrik Rambut juga menghadiri Opening Gala Berlinale ke-76 yang berlangsung pada Kamis, 12 Februari 2026. Sementara itu, film Monster Pabrik Rambut masih akan tayang di Berlinale sebanyak lima kali hingga 22 Februari 2026 di berbagai lokasi berlangsungnya festival.
Program Berlinale Special Midnight merupakan program khusus di Berlinale yang mengkurasi karya-karya inovatif dan beragam dari berbagai dunia, termasuk film-film genre.
Film ini ditulis Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga. Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut menjadi ko-produksi internasional antara Indonesia (Palari Films dan Beacon Film), Singapura (Giraffe Pictures), Jepang (Hassaku Lab), Jerman (In Good Company), dan Prancis (Apsara Films).
Sebelumnya, film panjang kedua Edwin, Kebun Binatang (Postcards from the Zoo, 2012) berkompetisi di program utama (Main Competition) Berlinale ke-62. Film Aruna & Lidahnya (2018) juga pernah ditayangkan di Berlinale dalam program Culinary Cinema. Film pendeknya, Trip to the Wound (2007) juga turut ditayangkan di Berlinale 2009.
Film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) segera tayang di bioskop Indonesia tahun 2026! Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film horor fantasi Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) persembahan Palari Films melalui akun Instagram resmi @palarifilms.
Film karya PIM Pictures yang bekerja sama dengan HKBP dan BPODT ini mengisahkan konflik emosional antara keluarga, cinta, dan pilihan hidup yang tidak mudah, dibalut dalam bahasa cinta Nommensen yang penuh makna.
Jakarta, 16 Februari 2026 - PIM Pictures memperkenalkan film terbaru mereka Antara Mama Cinta dan Surga kepada publik dan media dalam rangkaian Press Screening & Press Conference di Epicentrum XXI. Film ini menghadirkan drama keluarga yang mengangkat konflik klasik namun relevan lintas generasi: pilihan antara cinta, restu orang tua, dan masa depan. Film ini akan tayang di bioskop mulai 19 Februari 2026,
Disutradarai oleh Agustinus Sitorus, film ini tidak hanya menyuguhkan kisah personal seorang anak yang terhimpit ekspektasi keluarga, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang komunikasi, pengorbanan, dan makna restu dalam keluarga Batak.
Film ini bercerita tentang Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu Batak yang diinginkan menjadi seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) sesuai tradisi keluarga. Namun, bertemu dengan Nommensen dalam beberapa mimpi spiritual membuatnya merasa terpanggil menjadi pendeta. Keputusannya memicu konflik dengan sang Mamak (Dharty Manullang) dan mengguncang hubungannya dengan Anindita (Anneth Delliecia), di tengah benturan iman, cinta, dan nilai keluarga.
"Saya memilih konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah tiga hal yang paling sering bertentangan dalam kehidupan nyata, namun jarang dibicarakan secara jujur." ujar Agustinus.
Konflik antara tradisi keluarga Batak, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda digambarkan melalui konflik batin anak bungsu yang terhimpit antara keyakinan, cinta, dan harapan keluarga. Tekanan yang silih berganti, mulai dari dalam dirinya maupun dari lingkungan terdekat. Di tengah cinta yang tulus dan nilai-nilai keluarga yang dijunjung tinggi, perlahan menyadari bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.
Drama Keluarga yang Relatable dan Reflektif
Dalam film ini, Bernard harus menghadapi tekanan besar dari sang ibu yang menginginkan ia menjadi Pegawai Negeri Sipil dan menikahi perempuan dengan pilihan keluarga. Di sisi lain, ia memiliki cinta dan impian yang berbeda di perantauan.
Aldy Maldini, yang memerankan Bernard, mengaku karakter ini menjadi salah satu tantangan terbesarnya sepanjang karier.
"Ini pertama kali aku memerankan karakter yang benar-benar terhimpit. Biasanya karakterku dekat dengan diriku sendiri, yang seru dan suka bercanda. tapi Bernard ada di fase yang sulit-dia harus memilih antara keinginannya sendiri dan harapan orang tuanya. Itu yang bikin peran ini jadi yang paling susah buat aku."
la juga menambahkan bahwa proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intens bersama sutradara dan lawan main Anneth Delliecia untuk memahami konflik batin Bernard yang tidak selalu meledak secara verbal, tetapi lebih banyak dipendam.
Dengan latar budaya yang kuat, film ini menyoroti tekanan sosial, makna pengorbanan orang tua, serta keberanian menentukan masa depan sendiri sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan.
Bagi Anneth Delliecia, film ini menjadi pengalaman layar lebar pertamanya. la memerankan Anindita, sosok perempuan yang berada di tengah pusaran konflik Bernard.
Anneth mengaku proses syuting menjadi pengalaman berharga, terutama karena film ini juga mengambil lokasi di Sumatera Utara.
"Ini film layar lebar pertama aku, dan rasanya spesial banget. Syuting di Toba itu pengalaman yang nggak terlupakan. Selain ceritanya kuat, suasananya juga terasa sangat emosional dan dekat."
la juga mengungkapkan bahwa bekerja kembali bersama Agustinus Sitorus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membantunya lebih percaya diri dalam mengeksplorasi karakter.
Sosok Ibu yang Tegas, Tapi Penuh Cinta
Salah satu karakter paling kuat dalam film ini adalah sosok Mamak yang diperankan oleh Dharty Manullang. Di permukaan, karakter ini tampak dominan dan memaksakan kehendak. Namun di balik itu, tersimpan ketakutan dan kasih sayang yang besar terhadap anaknya.
Dalam sesi press conference, Dharty menyampaikan refleksi personalnya sebagai seorang ibu.
"Kadang kita sebagai ibu merasa paling benar. Kita pikir pilihan kita pasti yang terbaik. Padahal anaklah yang menjalani hidupnya. Dari film ini saya belajar, jangan sampai karena kita terlalu dominan, komunikasi dengan anak justru hilang."
la juga menekankan bahwa karakter Mamak tidak dimaksudkan sebagai antagonis, melainkan representasi banyak orang tua yang ingin anaknya sukses dengan cara yang mereka pahami.
Salah satu kekuatan film ini adalah absennya antagonis mutlak. Setiap karakter bertindak atas dasar cinta dan keyakinan masing-masing. Konflik tidak dibangun dari kebencian, melainkan dari perbedaan cara memaknai masa depan dan kebahagiaan.
Novia Tumeang yang memerankan karakter "pilihan kedua" dalam hubungan cinta Bernard mengaku tertantang karena harus menghidupkan emosi yang belum pernah ia alami secara pribadi. Sementara Jenda Munthe menekankan pentingnya totalitas dalam setiap peran, besar maupun kecil.
Interaksi hangat antar pemain selama press conference juga menunjukkan kekompakan tim produksi yang solid dan suportif, mencerminkan energi positif yang turut terasa dalam filmnya.
Dibintangi juga oleh Kang Joe, Cok Simbara, Dorman Manik, Dominique Sanda, Tabitha Napitupulu, Novia Situmeang, Rany Simbolon, Fadlan Holao, Jenda Munthe, Mark Natama, dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026, sebagai film drama yang mengangkat realitas budaya dan konflik batin.
Pantau terus akun Instagram @amcs.bahasacintanommensen dan @pimpictures_, untuk mengikuti perkembangan terbaru film ini dan menyaksikan pilihan hidup Bernard: akankah ia memenuhi panggilan hatinya atau harapan keluarganya?
Jakarta, 16 Februari 2026 - Industri hiburan kembali dibuat penasaran setelah sutradara dan produser nomor satu Malaysia, Erma Fatima, mengunggah carousel foto misterius di akun Instagram pribadinya, @ermafatima.
Tanpa keterangan detail proyek, tanpa judul resmi, dan tanpa penjelasan format, unggahan tersebut justru menampilkan momen behind the scenes yang memperlihatkan sejumlah nama besar Indonesia berada di bawah arahan Erma Fatima.
Dalam foto-foto tersebut, terlihat Lukman Sardi, Elina Joerg, Bara Valentino, serta aktris Malaysia Puteri Sarah dan Anna Jobling yang sebelumnya dikenal lewat sejumlah proyek lintas negara. Kehadiran deretan pemain ini langsung memicu spekulasi luas di kalangan media dan warganet.
Apakah ini film baru? Serial? Atau proyek kolaborasi Malaysia–Indonesia yang lebih besar dari yang dibayangkan?
Setelah hampir satu dekade tidak menyutradarai proyek besar, unggahan ini disebut-sebut sebagai sinyal kuat kembalinya Erma Fatima ke dunia penyutradaraan. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai judul, format, maupun tanggal tayang proyek tersebut.
Sikap diam Erma Fatima justru memperkuat rasa penasaran publik. Satu hal yang pasti, kombinasi nama besar seperti Lukman Sardi dan Anna Jobling di bawah arahan Erma Fatima bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan.
Publik kini hanya bisa menunggu: kejutan apa yang tengah disiapkan?
Dibintangi Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial 9 episode ini tayang perdana pada 13 Februari 2026 dan mengeksplorasi kekacauan romansa beda usia yang tak terduga.
Jakarta, 13 Februari 2026 - Viu Indonesia bersama MaxStream secara resmi mengumumkan serial original kolaborasi ketiga mereka berjudul Tiba-Tiba Brondong, sebuah komedi romantis yang berani menantang norma sosial dan merayakan cinta tanpa batas. Serial ini akan tayang perdana secara eksklusif pada 13 Februari 2026, tepat menjelang Hari Valentine.
Seiring meningkatnya diskusi tentang hubungan beda usia, kemandirian perempuan, dan ekspektasi sosial di berbagai platform digital, penonton kini semakin mempertanyakan norma lama tentang cinta dan pasangan hidup. Dengan konten romansa beda usia yang telah mengumpulkan lebih dari 737 juta penayangan di TikTok, topik ini menjadi perbincangan budaya yang menonjol di kalangan Gen Z dan milenial.
Dibintangi Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial sembilan episode ini menyajikan kisah romantis yang dipadukan dengan humor dan ketegangan emosional.
Tiba-Tiba Brondong mengikuti kisah Isabella “Bella” Rahardja (Tatjana Saphira), seorang perempuan cerdas dan sukses berusia 36 tahun yang status lajangnya tak pernah luput dari sorotan. Untuk menghindari tekanan yang terus-menerus, Bella mencoba peruntungan lewat kencan online—hingga ia menyadari bahwa pria menawan yang selama ini mengobrol dengannya, Langit (Fady Alaydrus), ternyata adalah seorang fresh graduate berusia 18 tahun.
Terkejut, Bella memutus semua komunikasi. Namun, kejutan yang lebih besar menantinya ketika Langit ternyata menjadi mahasiswa barunya di kampus.
Apa yang awalnya menjadi pertemuan canggung perlahan berkembang menjadi chemistry yang tak terbantahkan, menempatkan mereka di pusat skandal, penilaian, dan konflik emosional. Hubungan mereka diuji oleh dekan kampus yang manipulatif, ibu Langit yang gemar menjodohkan, serta kembalinya mantan Bella yang “sempurna”, Raka (Cinta Brian).
Memadukan romansa, komedi, dan cerita emosional, serial ini menghadirkan tawa, kekacauan, dan momen-momen menyentuh yang mencerminkan perjuangan cinta modern—terutama bagi perempuan yang harus menghadapi ekspektasi, penilaian, dan keinginan.
Tiba-Tiba Brondong adalah kisah hangat dan berani yang membuktikan bahwa cinta tidak mengikuti aturan—melainkan mengikuti hati.
Penonton dapat menyaksikan Tiba-Tiba Brondong di Viu dan MAXStream. Untuk pengalaman terbaik, penonton dapat berlangganan paket bundling MAXStream dan Viu melalui MyTelkomsel dan menikmati pengalaman menonton yang mulus di berbagai perangkat.
Viu dan MAXStream tersedia untuk diunduh gratis di App Store, Google Play, serta di smart TV tertentu, atau dengan mengunjungi [www.viu.com](http://www.viu.com) dan [www.MAXStream.tv](http://www.MAXStream.tv).
Jakarta, 13 Februari 2026 - Mahakarya Pictures merilis trailer resmi film anak bertema petualangan dan fiksi ilmiah, Pelangi di Mars, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026. Film ini mengangkat kisah perjalanan seorang anak Indonesia di Planet Mars yang mengemban misi penting demi mengatasi krisis air di Bumi. Dikembangkan selama lima tahun, produksi ini menggunakan teknologi Extended Reality (XR) untuk mendukung kedalaman penyampaian ceritanya.
Menghadirkan Alternatif Cerita untuk Anak Indonesia
Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa kehadiran Pelangi di Mars berangkat dari kepeduliannya terhadap keterbatasan pilihan tontonan bagi keluarga di tanah air. "Pelangi di Mars lahir karena menurut saya film untuk anak dan keluarga masih sangat terbatas (under supply). Saya ingin memberikan satu alternatif untuk anak Indonesia, agar anak-anak kita memiliki cerita mereka sendiri," ujar Dendi Reynando.
Baginya, film ini adalah upaya untuk memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia agar tetap memiliki keterikatan dengan identitas dan imajinasi mereka melalui media sinema.
Cerita Pelangi Sebagai Seorang Anak, Sebagai Pusat Cerita
Berbeda dengan narasi film anak pada umumnya, Pelangi di Mars menempatkan anak Indonesia sebagai penggerak utama cerita. Tokoh utama, Pelangi (diperankan oleh Messi Gusti), digambarkan sebagai sosok yang aktif, memimpin, dan mampu membawa solusi bagi persoalan besar.
Sutradara Upie Guava menyebutkan bahwa pendekatannya dalam menggarap film ini banyak dipengaruhi oleh kegemarannya pada film fiksi ilmiah sejak kecil. Melalui film ini, ia ingin mengembalikan hak anak-anak untuk memiliki imajinasi tanpa batas.
Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars adalah jawaban atas kegelisahannya terhadap ruang imajinasi generasi muda. "Saya ingin anak-anak percaya bahwa tidak ada batas yang tidak bisa ditembus. Di sini, anak-anak adalah pahlawannya," tegas Upie.
Kisah yang Diperkuat dengan Teknologi yang Mumpuni
Meskipun diproduksi di Studio DossGuavaXR dengan melibatkan animasi 3D dan robot interaktif, seluruh kecanggihan tersebut diposisikan semata-mata sebagai alat untuk memperkuat pesan dan emosi dalam film. Narasi "Pahlawan lahir dari keberanian" menjadi napas utama dari setiap adegan yang dihasilkan melalui proses panjang selama bertahun-tahun.
Nilai kepahlawanan yang lahir dari keberanian itu sudah bisa dirasakan dari Official trailer-nya. Penonton diajak mengikuti kisah Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, karena ia terdampar bersama ibunya, Pratiwi.
Bersama teman-teman robotnya melanjutkan misi ibu Pratiwi untuk menemukan mineral bernama Zeolith Omega yang dapat menjadi solusi untuk krisis air bersih di Bumi dan bertemu dengan ayah Pelangi.
Suasana pemutaran ini semakin semarak dengan kehadiran Messi Gusti (pemeran Pelangi) dan para pengisi suara robot ikonik: Bimoky, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya. Kejutan besar terjadi ketika lima robot dari film tersebut muncul secara nyata di lokasi acara, menyapa awak media dan memberikan pengalaman yang tak biasa saat memasuki dunia Pelangi di Mars.
Kristo Immanuel menyatakan kekagumannya terhadap kualitas yang tidak main-main dari proyek ini. "Anak-anak dan orang-orang dewasa Indonesia layak mendapatkan konten berkualitas tinggi, dan Pelangi di Mars hadir untuk itu," ungkap Kristo.
Tayang Serentak di Momen Lebaran 2026
Siapkan diri untuk petualangan keluarga paling spektakuler tahun ini. Pelangi di Mars dijadwalkan akan mengguncang layar lebar di seluruh Indonesia tepat pada momen perayaan Lebaran, 18 Maret 2026.
Jadilah bagian dari perjalanan sejarah ini. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun media sosial resmi @pelangidimars dan @mahakaryapictures.
Film Terbaru Produksi Trois Films Gunakan Lift sebagai Metafora Kekuasaan dan Ketidakberdayaan
Jakarta, 13 Februari 2026 - Menjelang penayangannya di bioskop pada 26 Februari 2026, kisah dalam film drama psikologis Lift semakin terasa relevan dengan masa kini. Film debut penyutradaraan Randy Chans yang diproduseri oleh Ario Sagantoro dan Adha Riantono ini menyampaikan kritik sosial dengan cara yang kreatif: tentang relasi kuasa, kontrol, dan posisi individu ketika berhadapan dengan sistem yang menekan.
Tanpa mengumbar pesan secara eksplisit, Lift merancang teromya sebagai pengalaman yang terasa dekat dengan keseharian. Sebuah lift, ruang transisi yang biasa kita masuki tanpa berpikir panjang, digunakan sebagai simbol situasi tanpa jalan keluar. Pintu tertutup, kendali berpindah tangan, dan suara dari interkom menjadi satu-satunya otoritas yang harus ditaati. Dalam kondisi tersebut, pilihan bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal bertahan hidup.
Randy Chans menyebut bahwa pendekatan ini diambil karena sangat mencerminkan sistem masyarakat kita.
"Lift itu ruang yang sangat demokratis sekaligus sangat hierarkis," ujarnya. "Semua orang bisa masuk, tapi begitu pintu tertutup, ada sistem yang bekerja di luar kendali kita. Kami tertarik pada ketegangan itu; tentang bagaimana manusia bereaksi saat dihadapkan pada kekuasaan yang tak terlihat, tapi sangat menentukan nasib."
Relevansi tersebut menjadi semakin kuat ketika sebagian besar cerita Lift berlangsung di satu lokasi. Sekitar 60 persen film terjadi di dalam lift, menjadikannya sebagai perangkat dramatik utama. Ruang yang sempit memaksa karakter untuk terus berhadapan dengan tekanan, tanpa kemungkinan untuk pergi, menghindar, atau "kabur" dari situasi yang ada.
"Di dunia nyata, sering kali kita merasa punya banyak pilihan, padahal sebenarnya sebaliknya," ungkap Randy. "Lift bekerja dengan cara yang sama. Kamu bisa menekan tombol, tapi kamu tidak pernah benar-benar mengendalikan ke mana kamu dibawa."
Kisah Lift berpusat pada Linda (Ismi Melinda), staf humas PT Jamsa Land, yang terjebak di dalam lift kantor enam tahun setelah kecelakaan tragis yang menewaskan banyak orang. Melalui suara misterius di interkom, Linda dipaksa mengikuti serangkaian permainan berbahaya demi menyelamatkan anaknya. Seiring permainan berlangsung, lapisan-lapisan kebenaran tentang tragedi masa lalu mulai terkuak, memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan di level atas berdampak langsung pada mereka yang berada di bawah.
Shareefa Daanish menyebut proses syuting Lift sebagai pengalaman yang intens tapi juga menarik. "Film ini seru karena ketegangannya pelan-pelan, bukan yang langsung meledak," ujarnya. "Kita diajak masuk ke situasi yang kelihatannya sederhana, tapi makin lama makin terasa menekan. Buat aku, itu yang bikin Lift juga terasa relevan untuk hari ini. Karena kadang dalam hidup, kita juga ada di posisi yang kayak gitu."
Terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, Official Selection. AME International Film Festival 2026, Official Selection The North Film Festival Barcelona 2026, dan meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasia Fest 2025, Lift menunjukkan bahwa teror yang paling efektif sering kali lahir dari kedekatannya dengan realitas. Bukan monster, bukan dunia distopia, melainkan ruang sehari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi ruang penuh teror.
Selain Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, Lift turut dibintangi oleh Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, Tegar Satrya, Luthfi Saputra, Annete Yules, dan Berliana Lovell. Film Lift akan tayang serentak di bioskop mulai 26 Februari 2026
Ikuti perkembangan terbaru film ini melalui akun resmi @lift.movie dan @trois.films, dan bersiaplah memasuki ruang sempit yang memaksa kita bertanya: siapa sebenarnya yang memegang kendali?
FACT SHEET
Judul : LIFT
Genre : Drama Psikologis
Durasi : 107 Menit
Tanggal tayang : 26 Februari 2025 (Bioskop)
Sutradara : Randy Chans
Produser Eksekutif : Lok S. Iman
Penulis : Aria Gardhadipura
Produser : Adha Riantono
Koproduser : Ario Sagantoro
Production House : Trois Films, Maxima Pictures
Pemain:
1. Ismi Melinda berperan sebagai Linda
2. Shareefa Daanish berperan sebagai Doris
3. Verdi Solaiman berperan sebagai Hansen
4. Alfie Alfandy berperan Sebagai Mr. X
5. Max Metino berperan Sebagai Anton
6. Tegar Satrya berperan sebagai Joko
7. Luthi Saputra berperan sebagai Jonathan (Anak Linda)
8. T. Rifnu Wikana berperan sebagai Deddy
9. Annete Yules berperan sebagai Leoni (Asisten Doris)
10. Berliana Lovell berperan sebagai Dita (Sekretaris Hansen)
11. Amelia Alfiani berperan sebagai Amel (Sekretaris Deddy)
Jakarta, 13 Februari 2026 - Industri film horor Indonesia kembali diramaikan oleh judul baru berjudul Asrama Putri, produksi Puras Production, telah menggelar Press Screening dan Press Conference film "Asrama Putri" Hari ini, di XXI Epicentrum Jakarta. Film ini digarap oleh sutradara Wishnu Kuncoro dan terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di sebuah asrama putri kampus ternama di Bogor, Jawa Barat.
Berbeda dari horor pada umumnya, Asrama Putri tidak semata mengandalkan efek kejut. Film ini lebih menonjolkan kekuatan cerita, atmosfer yang mencekam, serta konflik psikologis yang berpadu dengan isu sosial yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Diproduseri oleh Adipati Karna, Serta di Sutradarai oleh Wishnu Kuncoro film “Asrama Putri” mengangkat kisah teror hantu Sally di sebuah asrama kampus yang berkaitan dengan dendam masa lalu, bisnis prostitusi ilegal, dan kesurupan massal. Dibintangi Dea Annisa (Gwen) dan Samuel Rizal (Lazuardi), film ini mengungkap misteri buku harian kelam.
Film “Asrama Putri” diperkuat oleh jajaran pemain Dea Annisa (sebagai Gwen), Samuel Rizal (sebagai Dosen Lazuardi), Mawar Butterfly (sebagai Mia), Monique Henry (sebagai Rektor Liza), Nasywa Auliya (sebagai hantu Sally), Nadya Ulya (sebagai Loly), Bima Prawira (sebagai Miko), Surya Rangga/Kusumah (sebagai Beny), Luz Viktoria Yamawaki, Kinara, Albrilio Imanuel, Raisya Laily, Sherly.
Menggabungkan kisah nyata, horor psikologis, dan isu sosial, film ini berpotensi menjadi tontonan horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam.
SINOPSIS "ASRAMA PUTRI"
Kehadiran MIA sebagai Dosen baru di kampus itu secara tidak sengaja bersamaan dengan sebuah peristiwa kesurupan masal yang di alami para mahasiswa, meskipun dapat dengan mudah teratasi oleh LIZA sang Rektor, namun tidak semata menghilangkan efek pada beberapa mahasiswa, salah satunya LOLY. Mahasiswi yang tinggal sekamar dengan GWEN di ASRAMA PUTRI itu menjadi lebih sensitive dan mudah sekali kerasukan.
Namun kerasukan bukanlah satu-satu nya masalah di kampus itu, bisnis prostitusi yang di jalankan MIKO dan BENNY juga cukup meresahkan para mahasiswa/i disitu. Semua masalah itu semakin tak terkendali Ketika hadirnya SALLY, sosok hantu Wanita berbadan sebelah manusia yang di setiap penampakannya membawa korban hingga menyebabkan kematian yang mengenaskan.
GWEN dan MIA mencoba memecahkan semua problematika yang ada di kampus itu dan khususnya di ASRAMA PUTRI, menelusuri keterkaitan SALLY dengan semua orang yang ada di kampus tersebut. Sampai saat ditemukan nya sebuah kisah dari buku harian yang di duga milik SALLY bahwa SALLY semasa hidupnya pernah mencintai seorang Dosen Bernama Lazuardi yang pada akhirnya SALLY sangat membencinya.
Saksikan kisahnya dalam Film "Asrama Putri" yang akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 Februari 2026.
Jakarta, 12 Februari 2026 - RRK Pictures bersama Spectrum Film dan Festival Pictures telah menggelar Gala Premiere dan Press Conference film Titip Bunda di Surga-Mu pada 12 Februari 2025 di CGV Grand Indonesia. Acara ini menjadi momen perdana film drama keluarga tersebut dipertontonkan kepada publik, sekaligus menandai sambutan hangat yang penuh emosi dari para penonton.
Gala premiere ini dihadiri oleh produser Dono Indarto, sutradara Hanny R. Saputra, serta jajaran pemain film Titip Bunda di Surga-Mu, antara lain Kevin Julio, Abun Sungkar, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, Natalie Zenn, Arfan Afif, Chiki Fawzi, Asri Welas, dan Zora Vidyanata, yang juga bertindak sebagai penulis skenario.
Seusai pemutaran film, suasana haru menyelimuti studio. Banyak penonton tampak menitikkan air mata, terlarut dalam kisah keluarga yang disajikan dengan jujur dan dekat dengan realitas kehidupan. Cerita tentang hubungan orang tua dan anak, penyesalan, serta cinta yang kerap terlambat diungkapkan, berhasil menyentuh emosi penonton. Akting Meriam Bellina sebagai Ibu Mozza pun menuai apresiasi besar karena dinilai mampu menghadirkan sosok ibu yang hangat, kuat, dan mengharukan.
Berbicara tentang perannya, Meriam Bellina mengungkapkan makna mendalam dari karakter yang ia perankan. "Peran Ibu Mozza ini sangat penting bagi saya. Dari film ini kita belajar banyak, bukan cuma bagi anak untuk lebih menghargai rasa sayang orang tua, namun juga bagi orang tua untuk semakin berusaha mengerti anak-anaknya, tak hanya mengerti juga saling memaafkan dan menerima," ujar Meriam.
Kehangatan juga terasa dari kebersamaan para pemain yang terbangun selama proses syuting. Kevin Julio membagikan pengalamannya tentang dinamika di balik layar. "Walaupun di film ini keluarga kita banyak berantem, justru itu yang bikin kita di set terasa seperti keluarga beneran. Sampai sekarang kalau ketemu masih sering bercanda, saling usil, dan rasanya sudah dekat banget," ungkap Kevin.
Antusiasme dan respons emosional penonton di gala premiere ini menegaskan Titip Bunda di Surga-Mu sebagai film keluarga yang relevan dan menyentuh, khususnya untuk ditonton bersama orang-orang terdekat menjelang bulan puasa dan Lebaran.
Turut meramaikan gala premiere, pengisi OST Nabila Maharani juga membawakan lagu "Titip Bunda di Surga-Mu" untuk para penonton yang menghadiri malam penuh emosi ini. Tak hanya itu, beberapa ibu terpilih yang menghadiri gala premiere juga diberikan mawar putih sebagai bentuk apresiasi dan simbol rasa cinta kepada sosok ibu.
Titip Bunda di Surga-Mu mengisahkan tentang Ibu Mozza (Meriam Bellina), seorang ibu yang menjadi pilar kekuatan bagi anak-anaknya di tengah badai konflik yang menguji keutuhan keluarga. Di balik senyum hangat dan ketegarannya, tersimpan luka yang tak pernah ia keluhkan, sementara anak-anaknya terjebak dalam ego dan kesibukan masing-masing.
Ketika sebuah rahasia besar terungkap dan waktu perlahan mulai habis, penyesalan mulai merayap. Akankah cinta dan maaf sempat terucap sebelum jarak abadi memisahkan mereka? Ini adalah sebuah kisah tentang bagaimana kita sering kali lupa bahwa orang tua tidak selamanya ada, dan betapa berharganya setiap detik yang masih tersisa.
Membawa Kehangatan Keluarga ke Sekolah
Dalam rangkaian kegiatan promotional, film Titip Bunda di Surga-Mu juga telah mengunjungi SMA Negeri 75 Jakarta pada 11 Februari 2026 dalam program "Up Close & Personal". Acara ini membawa Natalie Zen, Chiki Fawzi, dan Abun Sungkar untuk bertemu langsung dengan para murid dalam sesi talkshow dan meet & greet.
Tak hanya itu, hadir juga games seru serta kompetisi bernyanyi lagu OST "Titip Bunda di Surga-Mu" dengan banyak hadiah menarik yang diberikan kepada siswa-siswi beruntung.
Nonton dan Saksikan "Impact"nya Duluan di Special Screening!
Bagi penonton yang penasaran, Titip Bunda di Surga-Mu akan mengadakan special screening di tujuh kota besar di Indonesia sebelum penayangan resminya di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.
Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan aktivitas film Titip Bunda di Surga-Mu dapat diikuti melalui akun media sosial resmi @titipbundadisurgamu dan @rrk.picture.
Kisah ajaib terbaru dari kreator film JUMBO yang mengajak semua orang kembali melihat dunia dengan penuh keajaiban.
Jakarta, 12 Februari 2026 - Menyambut Lebaran 2026, Visinema Studios resmi merilis official trailer dan poster film Na Willa, sebuah film live action keluarga yang mengajak penonton kembali melihat dunia dari sudut pandang anak-anak dengan rasa ingin tahu yang jujur, imajinasi yang hidup, dan keajaiban yang lahir dari hal-hal sederhana.
Lebaran menjadi momen pulang, berkumpul, dan merayakan keluarga. Tahun ini, Visinema Studios menghadirkan Na Willa sebagai sebuah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran. Sebuah ajakan untuk #JadiAnakAnak kembali, melepaskan sejenak peran orang dewasa, dan mengingat bagaimana dunia pernah terasa begitu besar, penuh warna, dan penuh keajaiban.
Lahir dari kreator film JUMBO yang sukses menyentuh hati jutaan penonton Indonesia, Na Willa menjadi debut film live action dari Ryan Adriandhy, sekaligus kolaborasi kreatif dengan penulis Reda Gaudiamo, yang novelnya menjadi dasar cerita film ini. Dengan pendekatan storytelling yang khas dan penuh empati, Na Willa menghadirkan perspektif anak yang jarang diangkat dalam sinema keluarga Indonesia.
Official poster Na Willa memperlihatkan dunia imajinasi yang lahir dari mata seorang anak perempuan yang hidup di Indonesia era 1960-an. Sementara itu, official trailer mengajak penonton masuk ke pengalaman menjadi anak-anak kembali, saat ketidaktahuan bukan kelemahan, melainkan pintu menuju petualangan.
Diproduseri oleh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, serta diproduseri eksekutif oleh Herry B. Salim, Na Willa menegaskan komitmen Visinema Studios dalam menghadirkan produksi film keluarga bernilai tinggi, baik dari sisi cerita, visual, maupun pengalaman menonton lintas generasi.
"Na Willa merupakan bentuk komitmen Visinema Studios yang mengajak kita mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Ajakan untuk masuk dan merasakan sebuah dunia yang dibangun dengan imajinasi, kejujuran, dan keberanian anak-anak," ujar Anggia Kharisma, Produser Na Willa sekaligus Chief Content Officer Visinema Studios.
"Untuk penonton dewasa, film ini seperti perjalanan menelusuri memori masa kecil, tentang keluarga, tentang rumah, dan tentang hal-hal sederhana yang dulu terasa begitu berarti. Sementara untuk anak-anak, ini adalah ruang untuk bermain, berimajinasi, bernyanyi, dan merayakan rasa ingin tahu mereka."
Lebih lanjut, Anggia menegaskan bahwa Na Willa dirancang sebagai tontonan yang aman dan hangat untuk semua kalangan.
"Na Willa adalah film yang paling aman untuk semua orang, untuk anak-anak, untuk keluarga, dan juga untuk siapa pun yang ingin kembali merasakan hangatnya keluarga dan masa kanak-kanak," tambah Anggia.
Disutradarai sekaligus ditulis oleh Ryan Adriandhy, film ini menghadirkan dunia anak tanpa menggurui.
"Sebagai orang dewasa, kita sering lupa bagaimana dulu kita memandang dunia," ujar Ryan
"Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton melihat dunia dari mata anak-anak, mata yang jujur, penuh rasa penasaran, dan selalu menemukan keajaiban dari apa pun yang dihadirkan dunia."
Kolaborasi dengan penulis Reda Gaudiamo menjadi fondasi penting dalam membangun semesta cerita Na Willa yang hangat dan reflektif.
"Sejak awal, Na Willa selalu berbicara tentang keluarga dan proses saling belajar. Bukan hanya anak yang belajar memahami dunia, tapi juga orang tua yang belajar memahami cara berpikir anak-anak. Film ini menghadirkan nilai tentang tanggung jawab, rasa hormat, dan menerima perbedaan dengan cara yang lembut dan membumi," ungkap Reda.
Official Trailer Na Willa menghadirkan potongan masa kecil yang begitu dekat dengan keseharian: memanggil teman dari balik pagar, berlari di lapangan sambil menerbangkan layangan, hingga meneguk minuman orange cruz yang "nyekrusss" di siang hari. Warna-warna yang ceria, tawa lepas, serta kebebasan berimajinasi menjadi napas utama film ini, mengingatkan bahwa kebahagiaan lahir dari hal-hal yang sederhana.
Seperti karya Visinema Studios lainnya, musik kembali menjadi bagian penting dari film. Original soundtrack berjudul "Sikilku Iso Muni" yang diciptakan Laleilmanino hadir sebagai lagu yang tidak hanya nyaman didengar, tetapi juga dinyanyikan dan dirasakan bersama.
Film ini memperkenalkan Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama jajaran pemeran anak berbakat lainnya: Freya Mikhayla (Farida), Azamy Syauqi (Dul), dan Arsenio Rafisqy (Bud). Deretan pemeran dewasa seperti Junior Liem, Irma Rihi, Melissa Karim, Ira Wibowo, Putri Ayudya, Nayla Purnama, Agla Artalidia, hingga Ratna Riantiarno turut memperkaya cerita.
Bagi Luisa Adreena, Na Willa adalah pengalaman yang penuh kehangatan. "Di film ini aku banyak bermain dan berimajinasi. Mak sama Pak selalu ngajarin dengan sabar. Rasanya kayak main, tapi juga belajar." cerita Luisa Adreena.
Dalam kesempatan yang sama, Visinema Studios juga mengumumkan bahwa film Na Willa akan menjadi pembuka dari Na Willa Universe, sebuah semesta cerita yang akan tumbuh dan menemani keluarga dan masyarakat Indonesia
.
Na Willa akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada Lebaran 2026, sebagai sebuah perayaan hangat untuk semua orang, sebuah ajakan untuk pulang, berkumpul, dan kembali #JadiAnakAnak.
***
Sinopsis
Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran
Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.
Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.
Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.