Bocah Premiere
Senin, 18 Mei 2026
WeTV dan Magma Entertainment Garap Asmara Asrama, Produser Sebut Jadi Series Remaja Paling Segar Tahun Ini
Film Horor Psikologis Kamu Harus Mati Siap Meneror Bioskop Indonesia Mulai, Jakarta 21 Mei 2026
Jakarta, 18 Mei 2026 — Nant Entertainment mempersembahkan film horor psikologis terbaru berjudul Kamu Harus Mati, sebuah film penuh misteri yang mengangkat kisah tentang trauma, kehilangan, dan batas tipis antara kenyataan dengan halusinasi. Disutradarai oleh Tema Patrosza serta diproduseri oleh Muhammad Hananto dan Ninin Musa, film ini siap membawa penonton masuk ke dalam pengalaman mencekam yang penuh teka-teki.
"Kamu Harus Mati" mengikuti perjalanan Meta, seorang gadis muda yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu setelah kehilangan kekasihnya, Sam, akibat tragedi tragis beberapa tahun silam. Sejak saat itu, Meta kerap mengalami halusinasi dan merasa diteror oleh sosok arwah misterius yang diyakininya berkaitan dengan orang-orang di sekitarnya.
Namun, ketakutan Meta justru dianggap sebagai gangguan jiwa oleh kedua sahabatnya, Dona dan Kesi. Ketidakpercayaan itu perlahan merusak hubungan persahabatan mereka dan membuat Meta merasa sendirian menghadapi teror yang terus menghantuinya.
"Film ini bukan hanya tentang hantu atau jumpscare, tapi tentang rasa kehilangan dan bagaimana seseorang berjuang melawan pikirannya sendiri. Penonton akan dibuat bertanya-tanya mana yang nyata dan mana yang hanya ada di kepala Meta" ujar sutradara Tema Patrosza.
Ketika berbagai kejadian aneh mulai mengincar Dona dan Kesi, Meta sadar bahwa teror yang selama ini ia rasakan mungkin benar-benar nyata. Dalam kondisi mental yang semakin rapuh, Meta harus memecahkan berbagai teka-teki demi menyelamatkan dirinya dan orang-orang yang pernah meragukan dirinya.
Produser Muhammad Hananto mengatakan bahwa Kamu Harus Mati hadir dengan pendekatan horor yang berbeda, memadukan nuansa psikologis dengan misteri yang emosional dan dekat dengan ketakutan manusia sehari-hari.
"Ketakutan terbesar sering kali bukan berasal dari sosok tak kasat mata, tetapi dari trauma dan rasa bersalah yang terus menghantui seseorang. Itu yang ingin kami hadirkan lewat film ini" ungkap Muhammad Hananto.
Film ini dibintangi oleh deretan aktor muda ternama seperti Sahila Hisyam, Pamela Bowie, Sitha Marino, Leo Consul, dan Leon Alexander yang berhasil menghadirkan chemistry emosional sekaligus ketegangan intens sepanjang cerita.
Dengan atmosfer mencekam, konflik persahabatan yang emosional, serta misteri yang perlahan terungkap, Kamu Harus Mati diharapkan menjadi salah satu film horor yang meninggalkan kesan mendalam bagi penonton Indonesia tahun ini.
Saksikan Kamu Harus Mati mulai 21 Mei 2026 di seluruh bioskop Indonesia.
Sempat Diragukan Perankan ONIC Kairi, Netizen Siap-siap Kena ‘Mental’ Usai Tahu Rekam Jejak Gila Bima Azriel yang Berperan di Film ‘Nobody Loves Kay’!
Jagat maya mendadak gempar setelah lini masa media sosial dibombardir oleh perilisan official trailer dan poster film Nobody Loves Kay. Bagaimana tidak? Film drama remaja (coming-of-age) terbaru besutan Migunani Cinema Cult, Qun Films, Folago Pictures, dan Visinema Pictures ini secara berani, terinspirasi dari kisah hidup pro-player Mobile Legends legendaris yang punya jutaan fans, ONIC Kairi.
Namun, bukan netizen namanya jika tidak memicu perdebatan. Tak lama setelah trailer dirilis, kolom komentar langsung memanas. Banyak yang mempertanyakan: Siapa sih aktor yang berani mengambil risiko besar memerankan sosok Kay, karakter yang terinspirasi langsung dari Kairi? Emang dia mampu?
Skeptisisme netizen langsung dibayar tunai. Sosok di balik karakter Kay ternyata bukan aktor sembarangan, melainkan aktor muda berbakat, Bima Azriel. Mengetahui fakta ini, siapkah netizen yang awalnya meragukan berbalik untuk mendukung bahwa film ini akan menjadi salah satu box office di 2026?
1. Muda Tapi Berbahaya: Kantongi 4 Nominasi Piala Citra!
Untuk memerankan karakter sekompleks Kay, seorang remaja tanpa privilege yang nekat mendobrak stigma demi menjadi pro-player, sutradara Bernardus Raka tidak mau main-main memilih cast. Pilihannya jatuh pada Bima Azriel, seorang aktor, yang usianya baru 19 tahun, namun nyatanya adalah "monster akting" di generasinya.
Bima tercatat sudah mengantongi empat nominasi Piala Citra untuk kategori Pemeran Anak Terbaik melalui film-film berbobot seperti Di Balik 98 (2015), 3: Alif, Lam, Mim (2015), Surat Kecil Untuk Tuhan (2017), dan Petualangan Menangkap Petir (2018). Sebuah pencapaian langka yang membuktikan bahwa kualitas akting Bima berada di atas rata-rata aktor seusianya.
2. Bukan Pertemuan Pertama: Sebuah ‘Takdir’ yang Terbuka
Mengejutkannya lagi, proyek ini ternyata bukan kali pertama Bima "menjadi" Kairi. Jauh sebelum film panjang ini diproduksi, Bima sudah pernah memerankan sosok sang atlet dalam film pendek "The Dream Chaser: Kairi’s Untold Story" yang juga digarap oleh Bernardus Raka.
“Memang sepertinya takdir aku dipertemukan dengan Kairi dan Bima, hingga akhirnya kami bisa membawakan cerita ini ke bentuk film panjang. Cerita Kay itu cerita kita semua, kita yang enggak lahir dengan privilege dan nekat untuk bermimpi. Dari awal aku yakin Bima adalah orang yang paling tepat untuk memimpin film ini,” tegas Bernardus Raka.
3. Kisah Anak Pekerja Migran yang Siap ‘Prove Them Wrong’
Dalam film ini, lewat perannya, Bima Azriel siap mengajak penonton melihat sisi kelam dan menguras emosi dari perjalanan Kay. Lahir dari keluarga sederhana di mana kedua orang tuanya harus mengadu nasib sebagai pekerja migran, Kay hidup berdua saja dengan sang eyang.
Dijepit ambisi untuk sukses di dunia e-sport bersama dua sahabatnya, Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico), Kay sempat hancur dan jatuh ke titik paling bawah. Hubungannya retak, lingkungannya menyepelekannya, dan ia hampir kehilangan segalanya. Namun, lewat akting magis Bima Azriel, kita akan melihat bagaimana seorang underdog bangkit untuk prove them wrong dan membungkam dunia luar yang menganggap mimpinya sampah.
Selain Bima, film ini juga bertabur bintang seperti Aurora Ribero, Ario Wahab, Mian Tiara, Dewa Dayana, hingga mantan member JKT48, Ayastrophile dan Melati Sesilia.
Jangan sampai ketinggalan tren! Catat tanggalnya, Nobody Loves Kay siap mengguncang seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Pantau terus akun resmi @nobodyloveskay biar lo nggak kuper!
Jumat, 15 Mei 2026
Prilly Latuconsina Bawa “Pocong” ke Cannes Film Festival 2026 lewat Film Holy Crowd
Aktris Prilly Latuconsina kembali menorehkan langkah baru di panggung internasional lewat keterlibatannya dalam film Holy Crowd, yang terpilih dalam program Next Step Studio di La Semaine de la Critique, bagian dari rangkaian Cannes Film Festival.
Dalam film arahan M. Reza Fahriyansyah dan Ananth Subramaniam ini, Prilly memerankan Ratna, sosok perempuan yang bangkit kembali saat prosesi pemakamannya berlangsung. Namun alih-alih kembali sebagai manusia biasa, Ratna justru berubah menjadi pusat perhatian warga karena tubuhnya dipercaya mampu menghadirkan kesembuhan misterius. Sosok pocong yang lekat dengan kultur Indonesia kemudian berkembang menjadi simbol kepercayaan, harapan, sekaligus eksploitasi sosial di tengah masyarakat.
Bagi Prilly Latuconsina, daya tarik utama Holy Crowd bukan hanya terletak pada elemen supernaturalnya, tetapi pada bagaimana film ini memotret perilaku manusia dan budaya masyarakat hari ini.
"Yang paling menarik buat aku justru bukan aspek horornya, tapi bagaimana perilaku manusia di sekitar Ratna terasa sangat realistis. Film ini bicara tentang perhatian publik, eksploitasi, dan bagaimana seseorang bisa tiba-tiba dijadikan simbol oleh masyarakat," ujar Prilly.
Menurutnya, karakter Ratna terasa sangat relevan dengan situasi sosial modern, terutama di era media sosial ketika seseorang dapat menjadi pusat perhatian publik dalam waktu singkat.
"Kadang masyarakat sebenarnya bukan peduli pada manusianya, tapi pada atensinya. Seseorang bisa dipuja, dibicarakan, lalu dilupakan dengan sangat cepat. Dan menurut aku, itu yang membuat cerita ini terasa sangat dekat dengan kondisi sosial kita hari ini," lanjutnya.
Keterlibatan Prilly dalam Holy Crowd juga menjadi bagian dari perjalanan artistiknya sebagai aktris yang kini semakin selektif memilih cerita dengan lapisan emosional dan isu sosial yang kuat.
Lewat Holy Crowd, Prilly Latuconsina tidak hanya membawa film Indonesia ke Cannes, tetapi juga membawa salah satu figur horor paling ikonik dalam kultur lokal, pocong, ke percakapan sinema internasional dengan pendekatan yang lebih manusiawi, satir, dan relevan dengan realitas sosial saat ini.
Ghost in the Cell Perluas Kritik Sosial Politik di Film ke Dunia Nyata Lewat Pameran Instalasi Seni Macabre
Jakarta, 14 Mei 2026 – Come and See Pictures mempersembahkan MACABRE ART INSTALLATION, sebuah pameran instalasi seni yang terinspirasi dari film Ghost in the Cell, film horor komedi terbaru karya Joko Anwar.
Pameran ini menghadirkan enam karya "macabre art" yang muncul di dalam film dan kini direalisasikan ke dunia nyata dalam bentuk instalasi fisik berskala nyata melalui kolaborasi lintas disiplin antara sineas, ilustrator, prosthetic artist, make-up artist, costume designer, sound artist, dan tim artistik. Pameran ini diadakan di Nirmana Falatehan, Jakarta Selatan dan akan berlangsung tanggal 16 sampai 22 Mei, 2026 dan terbuka untuk umum secara gratis pukul 10.00 sampai 20.00 setiap harinya.
Enam instalasi tersebut diberi judul:
- The Fan
- Shower Head
- The Stove
- The Dancer
- Flood Light
- Lady Justice
Dalam film Ghost in the Cell, karya-karya tersebut muncul sebagai bagian dari narasi horor dan kritik sosial. Seluruh instalasi berasal dari tindakan brutal sebuah entitas dari hutan Kalimantan yang tempat hidupnya mengalami deforestasi karena tambang nikel lalu membunuh manusia-manusia dengan aura paling negatif, lalu membentuk tubuh mereka menjadi objek seni grotesk.
Melalui pameran ini, karya-karya tersebut dipindahkan keluar dari layar dan dihadirkan ke dunia nyata agar dapat dialami secara fisik, personal, dan langsung.
"Film membuat penonton melihat. Ruang pamer membuat pengunjung berhadapan langsung dengan isu di dalam film," kata Joko Anwar, sutradara dan penulis Ghost in the Cell yang menciptakan konsep macabre art dalam film ini.
Melalui pengalaman ruang, suara, tekstur, cahaya, dan skala fisik instalasi, pengunjung diajak memasuki atmosfer yang sebelumnya hanya dapat dilihat melalui medium sinema. Pameran ini tidak hanya memperluas dunia Ghost in the Cell, tetapi juga membuka ruang dialog tentang tubuh, kekerasan, konsumsi, kekuasaan, dan bagaimana manusia dapat berubah menjadi objek dalam sistem sosial yang brutal.
Selain menjadi perluasan artistik dari film, MACABRE ART INSTALLATION juga merupakan bagian dari upaya rumah produksi Come and See Pictures untuk memperkenalkan seni instalasi dan seni kontemporer kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan mereka: film dan budaya populer.
Come and See Pictures percaya bahwa film tidak berdiri sendiri sebagai medium tunggal, melainkan sebagai titik temu berbagai bentuk seni dan profesi. Melalui proyek ini, proses kreatif perfilman diperlihatkan secara terbuka sebagai hasil sinergi antara ilustrasi, sculpture, prostetik, tata rias, tata kostum, musik, tata suara, pencahayaan, desain ruang, dan storytelling sinematik.
Seluruh karya instalasi dimulai dari interpretasi visual para concept artist Indonesia, kemudian diterjemahkan menjadi objek nyata melalui proses sculpting, molding, prostetik, tata artistik, hingga sound ambience khusus yang diciptakan untuk setiap karya.
Para concept artist yang terlibat adalah:
- Anwita Citriya
- Benediktus Budi
- Benny Kusnoto
- Coki Greenway
- Hafidzludin
- Rudy Ao.
Sementara realisasi fisik instalasi melibatkan kolaborasi dengan:
- Dennis Sutanto (Art Director)
- Novie Ariyanti (Make-up effects)
- Ical Tanjung (Lighting)
- Monika Paska (Costume Designer)
- M. Anwar (Prosthetic Artist)
- Aghi Narottama (Sound and Music Design)
- Tony Merle (Music Collaboration)
Dengan pendekatan visual yang menggabungkan horor, seni kontemporer, satire sosial, dan pengalaman imersif, MACABRE ART INSTALLATION menjadi salah satu eksplorasi lintas medium paling ambisius yang pernah dilakukan dalam kampanye film Indonesia.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara penonton film, pecinta seni, komunitas kreatif, dan generasi muda yang ingin melihat bagaimana sebuah dunia sinematik dapat hidup melampaui layar bioskop.
Tentang Come And See Pictures
Come and See Pictures adalah production house yang didirikan Joko Anwar dan Tia Hasibuan pada tahun 2020 yang berkomitmen untuk memproduksi film-film berkualitas dengan cara bercerita yang unik serta craftsmanship yang tinggi. Film pertama yang mereka produksi adalah Pengabdi Setan 2: Communion untuk Rapi Films. Selain Siksa Kubur, Come and See Pictures juga telah merampungkan series original Netflix berjudul Nightmares and Daydreams yang tayang tahun 2024 lalu, serta memproduksi film panjang untuk Amazon MGM Studios bertajuk Pengepungan di Bukit Duri.
Bioskop Banjir Air Mata! 88.060 Penonton Jadi Saksi Dua Hari Pertama Betapa Berharganya Memori Ibu di "Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan"
Jakarta, 15 Mei 2026 – Baru dua hari dalam penayangannya, film drama keluarga paling menguras air mata tahun ini, “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan”, sukses mengumpulkan 88.060 penonton yang serentak menangis bersama di dalam studio.
Angka di dua hari pertama ini menjadi bukti nyata bahwa puluhan ribu orang memilih untuk tidak melewatkan momen berharga ini. Menjadikan film produksi Rapi Films bersama Screenplay Films dan Vortera Studios ini sebagai perbincangan hangat yang viral di mana-mana. Disutradarai oleh Kuntz Agus dengan naskah garapan Alim Sudio, film ini menyajikan konflik keluarga yang begitu jujur dan mencubit hati siapa saja yang menontonnya.
Diperankan dengan sangat hangat oleh Lulu Tobing, Yasmin Napper, Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar, penonton diajak menyaksikan runtuhnya kehangatan sebuah rumah ketika Kesha (Yasmin Napper) harus dihadapkan kenyataan saat sang ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), didiagnosis menderita Alzheimer. Penyakit itu perlahan menghapus seluruh rekaman masa lalu dan momen-momen indah bersama keluarga. Kesha bersama sang ayah dan kedua adiknya bertaruh dengan waktu yang kian sempit sebelum ingatan ibu mereka semakin memudar.
Rasa emosional yang tak terbendung ini melahirkan momen-momen haru di berbagai daerah. Salah satunya saat sesi meet & greet di Bandung, suasana studio pecah ketika seorang penonton anak sulung berdiri sambil terisak dan membagikan kedekatan emosionalnya yang teramat dalam.
“Sebagai anak pertama, aku relate banget sama kisah Kesha, yang selalu memendam perasaannya, padahal punya masalah sendiri juga. Dan ketika melihat kalau adiknya juga memiliki penyakit seperti adik aku, aku memposisikan diri di situasi itu.” Mendengar kejujuran yang menyayat hati tersebut, kelima jajaran pemain utama langsung memeluk erat penonton tersebut dalam suasana meet & greet yang penuh air mata.
Ketakutan akan dilupakan oleh sosok yang paling mencintai kita ternyata menjadi alasan mengapa puluhan ribu orang berbondong-bondong memenuhi bioskop sejak hari pertama. Penonton lain yang merupakan seorang anak tunggal juga membagikan rasa hancurnya setelah keluar dari pintu teater.
“Sebagai anak tunggal, aku lekat banget sama ibu, apa-apa masih harus sama ibu. Aku ga bisa bayangin ada di situasi ini, kalau ibu sampai lupa akan keberadaanku, itu sama saja kayak hidupnya hancur,” ungkap penonton tersebut.
Ketakutan-ketakutan nyata seperti inilah yang membuat film ini tidak sekadar menjadi tontonan biasa, melainkan sebuah refleksi keras yang memaksa semua orang untuk segera pulang dan memeluk orang tua mereka.
Jangan sampai kamu menjadi satu-satunya orang yang tertinggal dalam perbincangan hangat minggu ini dan menyesal karena melewatkan momen emosional yang sedang dirayakan seluruh pencinta film Indonesia.
Jangan buang waktumu, peluk keluargamu, dan ciptakan kenangan manis bersama mereka dengan menyaksikan “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” di bioskop segera. Kabar baiknya, Promo Tiket Buy 1 Get 1 Free (BOGOF) masih bisa kamu serbu melalui aplikasi m.tix, TIX ID, CGV, dan Cinepolis sebelum kehabisan kuota!
Isyana Sarasvati Hidupkan Perjuangan Putra di MV Garuda di Dadaku
Jakarta, 15 Mei 2026 – Setelah lebih dulu mencuri perhatian publik lewat potongan lagu yang muncul dalam trailer film animasi keluarga Garuda di Dadaku pada April lalu, hari ini BASE Entertainment dan KAWI Animation resmi merilis video musik "Garuda di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati. Video musik ini kini dapat disaksikan melalui kanal YouTube BASE Entertainment dan Isyana Sarasvati.
Menjadi bagian penting menuju penayangan film animasi keluarga Garuda di Dadaku pada 11 Juni 2026 mendatang, video musik ini menghadirkan interpretasi baru yang megah, emosional, dan penuh harapan dari lagu ikonis "Garuda di Dadaku". Melalui sentuhan aransemen orkestra khas Isyana Sarasvati, video musik ini menjadi representasi tentang mimpi besar seorang anak yang berani terus melangkah meski penuh keraguan dan tantangan.
Video musik ini mengikuti perjalanan Putra, seorang anak laki-laki yang memiliki mimpi besar untuk bermain di lapangan terbesar, meski sering diremehkan dan dianggap tidak cukup kuat untuk mewujudkan mimpinya. Dari gang kecil tempat anak-anak bermain bola bersama hingga sorotan stadion dan pertandingan penuh tensi, video musik ini menjadi gambaran tentang keberanian untuk terus percaya pada mimpi, bahkan ketika semuanya terasa tidak mudah.
Selain menghadirkan visual emosional, video musik ini juga menampilkan bocoran adegan terbaru dari film animasi keluarga Garuda di Dadaku, termasuk berbagai aksi pertandingan Putra dan teman-temannya yang akan menjadi salah satu daya tarik utama film saat tayang di bioskop nanti.
"Buat aku, lagu ini bukan cuma tentang sepak bola, tapi tentang mimpi anak-anak yang sering kali terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat besar di hati mereka. Yang aku suka dari music video ini adalah emosinya terasa dekat sekali — tentang anak-anak yang berani mencoba, berani bermimpi, dan terus berjalan meski sering merasa takut atau diragukan. Aku rasa banyak dari kita juga pernah memulai mimpi dari tempat-tempat kecil seperti itu," ujar Isyana Sarasvati.
Sutradara Garuda di Dadaku, Ronny Gani, menjelaskan bahwa video musik ini memang dirancang untuk memperlihatkan jiwa utama film: tentang keberanian anak-anak untuk terus percaya pada diri mereka sendiri.
"Putra adalah anak yang sering merasa dirinya tidak cukup kuat untuk mengejar mimpinya. Tapi justru perjalanan itulah yang membuat ceritanya terasa dekat dengan banyak orang. Kami ingin video musik ini mengingatkan bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari tempat besar. Kadang semuanya dimulai dari langkah kecil, dari keberanian sederhana untuk terus mencoba, dan dari orang-orang di sekitar yang memilih untuk percaya dan mendukung kita," ujar Ronny Gani.
Film animasi keluarga Garuda di Dadaku mengisahkan Putra (Keanu Azka), anak laki-laki berusia 13 tahun yang perlahan kehilangan rasa percaya dirinya. Saat kegagalan dan rasa takut membuatnya hampir menyerah pada mimpinya, kehadiran Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis, membawanya pada perjalanan menemukan kembali keberanian dan keyakinan pada dirinya sendiri.
Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, dengan naskah yang ditulis oleh Sofia Lo bersama Makbul Mubarak, film ini menjadi interpretasi animasi baru dari IP legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah hidup di hati banyak keluarga Indonesia.
Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission serta bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.
Saksikan video musik "Garuda di Dadaku" di kanal YouTube BASE Entertainment dan Isyana Sarasvati, dan nantikan film animasi keluarga Garuda di Dadaku tayang mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia — menjadi pilihan tontonan keluarga di libur sekolah tahun ini.
#GarudaDiDadaku
#BeraniBermimpi
Sutradara Charles Gozali Sebut Badut Gendong bukan Spinoff Qodrat, Namun Cross-universe, Apa itu?
Hadirnya film horor terbaru dari MAGMA Entertainment, Badut Gendong, memicu gelombang diskusi panas di kalangan warganet, terutama bagi para penggemar semesta Qodrat. Istilah baru yang dilemparkan sang sutradara, Charles Gozali, menciptakan tanda tanya besar: apa sebenarnya arti dari “Cross-Universe” ini?
Bukan Spin-off, Tapi Cross-universe
Melalui pernyataan terbaru di media sosial, Charles Gozali memberikan penegasan penting bagi para penikmat film horor tanah air. "Film Badut Gendong bukan sebuah spin-off, melainkan cross-universe dari semesta Qodrat," tulisnya.
Bagi orang awam, kedua istilah ini mungkin terdengar serupa, namun secara naratif, perbedaannya sangatlah fundamental. Sebuah spin-off biasanya mengambil satu karakter yang sudah eksis dan dikenal di film utama, lalu diberikan ruang untuk menceritakan kisah sampingannya.
Namun, Badut Gendong adalah entitas yang sepenuhnya baru. Sosok villain ini belum pernah sekalipun menampakkan wujudnya di dua film Qodrat sebelumnya. Ia bukan "karakter sisa" atau sekadar pelengkap; ia adalah cerita mandiri yang memiliki mitologi, konflik, dan tradisi kelamnya sendiri. Badut Gendong lahir sebagai kekuatan independen yang hidup di bawah langit yang sama dengan Ustadz Qodrat.
Jembatan Menuju Pertempuran Besar
Charles Gozali menjelaskan bahwa posisi film ini adalah untuk memperluas cakrawala horor yang selama ini kita ketahui. “Film ini hadir sebagai origin story dari entitas yang nantinya akan berhadapan langsung dengan Ustadz Qodrat, tapi film ini juga bisa dinikmati untuk mereka yang belum familiar dengan semesta ini,” ungkap Charles.
Artinya, Badut Gendong sedang mempersiapkan panggung untuk sebuah pertemuan besar yang tak terelakkan di masa depan. Film ini memposisikan dirinya sebagai pondasi penting agar penonton bisa memahami betapa berbahayanya ancaman baru ini sebelum ia benar-benar beradu kekuatan dengan sang Ustadz.
Apakah Bisa Menonton Badut Gendong Tanpa Menonton Qodrat?
Jawaban singkatnya adalah: Sangat Bisa! Inilah kelebihan dari konsep Cross-Universe. Karena dibangun sebagai kisah mandiri, mitos tentang "Badut Gendong" serta perjalanan karakter Darso dan Darsi dapat diikuti tanpa harus memiliki pengetahuan tentang sejarah Qodrat sebelumnya.
Penonton baru dapat masuk dan merasakan teror yang mencekam tanpa perlu takut kebingungan dengan jalan ceritanya. Bahkan, bagi banyak orang, film ini diprediksi akan menjadi entry-point atau pintu masuk yang sempurna untuk memahami seberapa luas dan mengerikannya semesta yang tengah dibangun oleh MAGMA Entertainment.
Lantas, di titik mana cerita Darso akan bersinggungan dengan jalan takdir Ustadz Qodrat? Misteri tersebut hanya akan terjawab saat Badut Gendong resmi menghantui layar lebar. Persiapkan nyali Anda, Badut Gendong tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026, bertepatan dengan momen Lebaran Idul Adha. Untuk informasi lebih lanjut dan konten eksklusif, ikuti media sosial resmi di @badutgendong dan @magmaent.
Kamis, 14 Mei 2026
Marriage is Scary? Film Keluarga Suami Adalah Hama Sajikan Potret Kehidupan Rumah Tangga yang Dekat Omar Daniel, Raihaanun, dan Meriam Bellina Tampil Real!
Jakarta, 14 Mei 2026 — Umbara Brothers Film dan VMS Studio mempersembahkan film drama keluarga terbaru berjudul Keluarga Suami Adalah Hama yang akan tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia. Film yang disutradarai Anggy Umbara ini mengangkat sebuah realitas kehidupan rumah tangga yang banyak dialami namun jarang diungkap secara lantang.
Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans akan menyajikan dinamika konflik rumah tangga dari lensa yang lebih dekat tentang rumitnya situasi pernikahan. Film ini akan menjadi potret perjuangan suami dan istri dalam mempertahankan benteng rumah tangga mereka, di tengah konflik yang menghampiri dari keluarga suami yang tinggal seatap.
Cerita-cerita tentang perseteruan antara mertua dan menantu, susahnya tinggal di rumah mertua, hingga cekcok antara suami dan istri kerap berseliweran menjadi diskusi yang tak kunjung selesai baik di media sosial dan dunia sehari-hari. Cerita yang sangat dekat itu bisa kita rasakan ada dan diwakili di film ini, dengan lebih emosional dan empatik.
Jajaran ansambel pemeran film ini dengan apik menampilkan range emosi yang akan membawa penonton ke dalam perseteruan antara suami, mertua, istri, dan ipar. Selain Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans, film ini juga dibintangi oleh Fairuz A. Rafiq, Husein Al Athas, Dinda Mahira, Tio Pakusadewo, Kevin Faulky, Karlina Inawati, dan David Saragih.
Diproduksi oleh Umbara Brothers Film dan VMS Studio, film ini bekerja sama dengan 10 Star, SR Film, dan DBay. Film ini diproduseri oleh Shalu T.M., Indah Destriana dan Anggy Umbara. Selain memproduseri dan menyutradarai, Anggy turut menulis naskah film ini. Bagi Anggy, Keluarga Suami Adalah Hama menjadi cerminan dari fenomena yang banyak dialami oleh banyak keluarga dan pasangan suami istri di Indonesia.
"Masalah yang dirasakan oleh hampir banyak pasangan rumah tangga, tapi tidak pernah terselesaikan dan terungkap. Sebagai orang yang juga menjadi sandwich generation, kisah Damar juga sangat dekat sekali dengan kisah hidup saya, sehingga film ini sangat personal. Bagi saya, ini penting untuk menjadi diskusi bersama. Sebagai filmmaker, saya merasa penting dan wajib saat melihat fenomena seperti ini untuk bisa membuatnya menjadi lebih baik," ujar Anggy Umbara.
"Rasanya ini adalah perasaan yang hampir banyak dialami oleh semua istri. Cerita di film ini adalah kejadian sehari-hari yang juga hampir setiap rumah tangga mengalaminya. Ada cekcok antara mertua dan menantu, suami istri, hingga saudara ipar. Film ini sangat real," tambah produser Shalu T.M.
Omar Daniel, yang memerankan Damar, sosok anak pertama sekaligus baru saja menjalani peran sebagai suami, harus tertampar dengan realita. Ia dan istrinya, Intan (Raihaanun) punya mimpi punya rumah sendiri. Tapi justru harus tinggal seatap dengan keluarga mertua. Belum lagi, Damar harus jadi tulang punggung keluarga. Sementara ia juga terkena PHK dari kantornya.
Dalam menjalankan perannya, Omar pun berefleksi pentingnya kerja sama antara suami dan istri, alih-alih saling menjadi lawan. Bagi Omar, penting saat sudah membina rumah tangga untuk menetapkan batasan yang jelas.
"Film ini bakal jadi cerminan yang tepat untuk kita yang akan menikah atau mereka yang sudah menikah. Di film ini akan digambarkan apa akibatnya jika suami dan istri tidak saling bekerja sama dan saling back up. Menurut aku, orangtua dan mertua juga tidak boleh terlalu ikut campur masalah rumah tangga anak dan menantunya. Penting untuk saling respek," ujar Omar Daniel.
Raihaanun, yang dipasangkan pertama kalinya dengan Omar Daniel di film ini, mengungkapkan cerita di film ini sangat dekat dengan berbagai lapisan sosial. Sehingga baginya juga cukup mudah untuk membawakan peran sebagai Intan, sosok istri yang memiliki beban namun selalu dipendam.
"Sering banget kan dengar cerita tentang istri yang tertekan dengan mertuanya. Intan adalah satu dari sekian banyak istri yang merasakan hal itu. Dia sangat ingin sekali bisa keluar dari rumah mertuanya dan segera untuk bisa mewujudkan mimpi punya rumah sendiri dengan keluarga kecil barunya bareng Damar. Tapi, itu bukan hal mudah, situasi yang tidak ideal itu yang akan menambah konflik rumah tangga yang kadang bikin orang-orang bilang marriage is scary," kata Raihaanun.
Tonton film Keluarga Suami Adalah Hama di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.
TENTANG VMS STUDIO
Visual Media Studio (VMS) adalah rumah produksi film yang berbasis di Jakarta dan didirikan pada tahun 2022. VMS hadir dengan visi untuk menginspirasi, menghibur, dan terhubung dengan penonton, baik di tingkat lokal maupun global. Di VMS, kami berkomitmen untuk terus mendorong batasan kreativitas dan menciptakan kisah-kisah yang menggugah dan relevan lintas budaya.
Proyek perdana kami, Pemandi Jenazah, menjadi tonggak awal yang mengukuhkan posisi VMS di industri film regional. Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan ditulis oleh penulis skenario box office Lele Laila, film ini mencatat kesuksesan luar biasa dengan meraih 3,5 juta penonton di seluruh dunia. Film ini juga menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi kedua di Malaysia sepanjang masa, serta menempati posisi kedua box office nasional di kuartal pertama 2024.
Dengan semangat untuk terus menghadirkan cerita-cerita bermakna dan menginspirasi, VMS siap melangkah lebih jauh dan menjangkau lebih banyak hati penonton di masa depan.
TENTANG UMBARA BROTHERS FILM
Umbara Brothers Film adalah rumah produksi film Indonesia yang didirikan oleh Danu Umbara pada tahun 1966, dan dilanjutkan oleh Anggy Umbara serta Bounty Umbara sejak 2016, bersama partner Indah Destriana. Hingga akhir 2025, Umbara Brothers Film telah memproduksi 17 film layar lebar, 11 film digital, dan 5 serial, mencerminkan konsistensi serta adaptasi terhadap perkembangan industri.
Dikenal dengan storytelling yang emosional dan relevan, Umbara Brothers Film menghadirkan beragam genre dari komedi hingga drama berbasis kisah nyata, dengan pendekatan sinematik yang kuat dan dekat dengan penonton. Di antara pencapaiannya, Siksa Neraka dengan perolehan 2.6 juta penonton & Vina: Sebelum 7 Hari meraih 5,8 juta penonton bersama Dee Company, serta Sabar Ini Ujian bersama MD Pictures yang memperoleh berbagai penghargaan, termasuk Sutradara Terbaik dan Film Komedi Terbaik di Festival Film Wartawan 2021.
Dengan komitmen pada kualitas dan keberanian bercerita, Umbara Brothers Film terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan kreatif dalam industri perfilman Indonesia yang mampu menjangkau audiens luas sekaligus menghadirkan cerita yang bermakna.
Unit Metal Rahasia Intelijen Lepas Single "Suci Tanah Pembantaian"
Jakarta - Grup band metal alternatif, Rahasia Intelijen kembali menegaskan eksistensinya di industri musik Indonesia dengan merilis single terbaru berjudul "Suci Tanah Pembantaian". Dirilis di bawah label HALOS Records, lagu ini memuat kritik keras dalam liriknya.
Hadir dengan aransemen yang agresif, matang, dan penuh energi, karya ini hadir sebagai sebuah pernyataan musikal yang menyoroti konflik berkepanjangan atas wilayah yang telah dipolitisasi selama lebih dari 1.200 tahun.
Formasi terbaru Rahasia Intelijen terdiri dari Anindya Pramadhyana, Winky Wiryawan, Cesar Alkautsar, Topan Tofano, dan Nicko Rahmat Prabowo.
Kehadiran Winky Wiryawan, yang dikenal luas sebagai DJ, aktor, dan musisi, membawa warna tersendiri dalam eksplorasi musikal band ini. Sementara itu, Anindya yang juga dikenal sebagai vokalis band Saint Loco memperkuat karakter agresif dan intens dalam musikalitas Rahasia Intelijen.
Latar belakang para personel yang beragam, dengan pengalaman panjang di industri kreatif dan musik Indonesia, menjadikan identitas band ini semakin solid dan matang.
Berbicara dalam keterangan tertulisnya, Anindya Pramadhyana mengatakan bahwa single "Suci Tanah Pembantaian", Rahasia Intelijen mengangkat isu mengenai tanah yang disucikan dan diperebutkan oleh beberapa agama besar dunia.
Di balik narasi religius yang selama ini berkembang, kata dia, wilayah tersebut terus menjadi arena pertumpahan darah dengan lapisan kepentingan politik, sosial, ekonomi, dan perdagangan.
"Lewat lagu ini kami ingin menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung berabad-abad bukan hanya soal perebutan wilayah, tetapi juga tentang bagaimana kepentingan elit sering kali mengorbankan masyarakat sipil. Musik adalah cara kami menyuarakan keresahan itu," ucap Anindya Pramadhyana.
Dalam liriknya, single "Suci Tanah Pembantaian" membahas bagaimana nama Tuhan kerap dijadikan justifikasi atas konflik dan kekerasan, sementara pihak yang paling diuntungkan dari konflik berkepanjangan ini adalah para elit dan pemegang kekuasaan. Di sisi lain, masyarakat sipil tetap menjadi korban utama dari situasi yang tidak kunjung usai.
Meski terinspirasi dari konflik global dan perang modern yang masih berlangsung hingga hari ini, lagu ini juga merefleksikan realitas sosial yang lebih luas. Rahasia Intelijen menyoroti meningkatnya sentimen antar pemeluk agama, perang opini di ruang publik, serta derasnya arus disinformasi yang memecah masyarakat.
Dengan pesan yang kuat, band ini ingin menyuarakan pentingnya persatuan dan menjaga kemanusiaan di tengah berbagai konflik global, tanpa kehilangan fokus terhadap tanah tempat kita berpijak dan kehidupan yang kita jalani.
"Kami percaya musik adalah medium yang paling jujur untuk menyampaikan refleksi sosial. 'Suci Tanah Pembantaian' adalah ekspresi kami terhadap realitas yang sering diabaikan," tutur Winky Wiryawan.
Dengan riff gitar yang tajam, vokal intens, serta ritme drum yang menghentak, single "Suci Tanah Pembantaian" mempertegas identitas Rahasia Intelijen di skena musik Indonesia. Lagu ini bukan hanya sekadar ekspresi musikal, tetapi juga manifesto tentang bagaimana musik dapat menjadi suara perlawanan terhadap ketidakadilan.
Single "Suci Tanah Pembantaian" milik Rahasia Intelijen, sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital mulai 15 Mei 2026.
WeTV dan Magma Entertainment Garap Asmara Asrama, Produser Sebut Jadi Series Remaja Paling Segar Tahun Ini
Jakarta, 18 Mei 2026 — Platform streaming WeTV bersama Magma Entertainment resmi memperkenalkan proyek terbaru mereka bertajuk Asmara Asram...
-
Drama Romantis Religi Adaptasi Novel Populer Karya Diana Febi Persembahan terbaru Vidio, hadir mulai 17 Juli 2025 Sumber foto: Vidio Jakarta...
-
Film Lintrik bukan jenis Film Horor yang mengandalkan pada penampakan hantu yang menakut-nakuti saja, namun lebih menitikberatkan pada drama...
-
Kolaborasi Abimana Aryasatya dan Tatjana Saphira dalam series action-romance pertama di Vidio Sumber foto: Vidio Jakarta, 5 Juni 2025 – Vid...





















