Jakarta, 12 Oktober 2026 – Film Hasut yang sedang tayang di bioskop membawa kesegaran baru untuk genre horor Indonesia. Alih-alih bermain dengan penampakan dan supernatural yang sudah dilakukan berulang kali di perfilman Indonesia, film Hasut menawarkan sisi baru lewat eksplorasi horor-misteri yang memberi efek psychological bagi penontonnya.
Film Hasut digarap oleh sutradara perempuan, yang selama ini telah banyak menulis naskah-naskah film yang melekat dan kuat lewat berbagai genre. Hasut menjadi debut penyutradaraan yang kuat dari penulis Ilya Sigma. Sebagai karya debut penyutradaraannya, Hasut membawa tema yang dekat dengan Ilya, berbicara tentang proses penyembuhan luka batin.
Selain berkarier di perfilman sejak 2010, Ilya juga mendirikan Aksara Jiwa, sebuah ruang kreatif reflektif yang menggabungkan penulisan, penyelidikan diri (self-inquiry), dan penceritaan berbasis pemulihan (healing).
Penggalian tentang luka batin dan trauma masa lalu di film Hasut diwakilkan lewat kehadiran empat karakter utama, yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Keempatnya, membawa beban trauma masa lalu yang belum dilepas, saat mereka masuk ke sebuah hutan dan mendengar suara-suara yang tak bisa dipercaya.
Di film Hasut, Ilya mendesain ketakutan horor bukan dari penampakan, melainkan lewat sesuatu yang tak terlihat. Permainan suara di film ini, akan menjadi teror utama yang memberi penonton rasa tak nyaman.
"Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, seperti apa bentuknya atau dari mana asalnya?" Ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.
Dengan desain utama teror yang berasal dari suara, Ilya pun memanfaatkan HT (Handy Talkie) sebagai salah satu sumber teror suara yang tak bisa dipercaya tersebut. HT sendiri menjadi salah satu benda yang tak asing di dunia produksi film.
Dengan permainan suara HT, Ilya mengeksplorasi dari unsur suara yang sudah ada secara alamiah di benda tersebut, seperti noise, suara statik, dan frekuensi yang terputus.
“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang sangat menarik. Karena kalau ada suara dari HT terkadang membuat aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita sudah membayangkan bentuknya seperti apa,” jelas Ilya.
Hasut menjadi perjalanan kreatif baru bagi Ilya, yang sudah menekuni dunia film sejak 2010. Lewat karya penyutradaraannya, Ilya memberikan perspektif baru bagi genre horor Indonesia.
Sebelumnya, Ilya lebih banyak menulis naskah film panjang, termasuk Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), A Man Called Ahok (2018), dan menjadi sutradara di film omnibus Pintu Harmonika (2013).
“Film ini juga menjadi refleksi bagiku secara personal. Aku sudah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang sering menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri. Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan bisa menghambat kita untuk memulai dan melakukan sesuatu. Seperti saat aku membuat film feature pertamaku, aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” ujar Ilya.
Ditulis dan disutradarai oleh Ilya Sigma, film Hasut diproduksi oleh Tuta Films, dengan produser Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, dan ko-produser Nick Musa. Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Tonton film Hasut di bioskop Indonesia sekarang! Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @filmhasut & @tutafilms.
Sinopsis
Empat orang pergi ke tengah hutan untuk menjalani sebuah ritual penyembuhan. Namun, apa yang seharusnya menjadi perjalanan untuk menemukan kedamaian justru berubah menjadi misteri yang perlahan menggerogoti rasa percaya di antara mereka. Di tengah hutan, suara-suara hasutan mulai muncul, mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya dan apa yang sebenarnya terjadi. Ketakutan, luka lama, dan kecurigaan membuat mereka semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada di dalam pikiran mereka. Hutan pun menjadi ruang yang menguji batas kepercayaan mereka. Tempat di mana setiap suara bisa menjadi petunjuk, ancaman, atau bahkan kebohongan.





















