Kamis, 11 Juni 2026

Film Jangan Buang Ibu Jadi Film Drama Mengharukan yang Tayang di Bulan Juni di Bioskop! Mengajak Kita untuk Memuliakan Seorang Ibu

Jangan Buang Ibu tayang mulai 25 Juni 2026 di bioskop Indonesia!

Jakarta, 11 Juni 2026 — Leo Pictures kembali hadir dengan film drama keluarga yang mengharukan lewat Jangan Buang Ibu yang tayang bulan Juni ini di bioskop. Menghadirkan kisah tentang seorang ibu bernama Ristiana yang harus 'dibuang' ke panti jompo karena ketiga anaknya tak mampu merawatnya di rumah.

​Diproduseri oleh Agung Saputra dan disutradarai Hadrah Daeng Ratu, Jangan Buang Ibu seolah menjadi tamparan kehidupan untuk kita, saat anak tak lagi mampu merawat ibunya sendiri dan harus membawanya ke panti jompo. Padahal, di masa tumbuh sang anak, ibu selalu menyempatkan waktu dan tenaga demi mereka.

​"Jangan Buang Ibu adalah sebuah kisah yang akan mengajak kita kembali memahami arti cinta, pengorbanan, dan kehadiran seorang ibu dalam hidup kita. Semoga kita juga bisa berefleksi untuk terus bisa memuliakan seorang ibu yang telah melahirkan kita," ujar produser dan CEO Leo Pictures Agung Saputra.

​Terobosan baru juga dibawa di film Jangan Buang Ibu dengan membuat pemeran utama Nirina Zubir bertransformasi seorang ibu berusia 60 tahun. Di film ini, Nirina memerankan karakter Ibu Ristiana, dan penonton akan mengikuti kehidupannya saat ia berusia 40 tahun, kemudian 50 tahun, dan usia 60 tahun saat sudah banyak kerutan di wajahnya.

​Tampil dengan perubahan signifikan, Nirina pun mampu menghadirkan sosok Ibu yang brilian. Tak hanya transformasi fisiknya, kita juga bisa merasakan ketulusannya sebagai seorang ibu yang ikhlas untuk melihat anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi seseorang yang berhasil dalam kehidupan.

​"Di film Jangan Buang Ibu, Nirina mendapat tantangan untuk memerankan karakter dengan tiga periode waktu yang berbeda; 40, 50, dan 60-an tahun. Terbayang nggak sih kita memproyeksikan diri kita sendiri 20 tahun yang akan datang, yang kita belum tahu seperti apa? Makanya setiap gerak-geriknya, jalannya, cara tatapan matanya, untuk Nirina lepas agak susah," ujar Nirina Zubir.

​"Salah satu perubahan Nirina setelah memerankan Ibu Ristiana adalah sekarang Nirina kalau ngomong lebih santai. Jauh daripada Nirina dulu. Dulu kalau ngomong tuh berapi-api. Tapi setelah memerankan karakter Ibu Ristiana, seperti ada pertanyaan: 'Buat apa sih buru-buru? Santai aja lagi,'" tambah Nirina.

Jangan Buang Ibu dibintangi oleh Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Dwi Sasono, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra. Film ini juga didukung oleh Luna Maya dan Yasmin Napper sebagai produser eksekutif bersama Nur Iman Syafe'i dan Evi Surahmawati.

​Film ini juga telah mendapat sambutan meriah di berbagai kota saat Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia di 20 kota sejak 30 Mei–23 Juni 2026. Setiap kota yang didatangi menyambut dengan penuh hangat sekaligus air mata dari seluruh studio bioskop yang tiketnya terjual habis.

​Refal Hady, yang juga ikut dalam roadshow Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia mengaku terharu saat melihat antusiasme penonton Indonesia menyambut film ini. Ia banyak bertemu cerita-cerita haru di berbagai kota.

​Bagi Refal sendiri, yang memerankan karakter Tama, sulung yang bertanggung jawab dan menanggung hidup ibu dan kedua adiknya, film ini sangat menjadi gambaran kehidupan yang terasa dekat.

​"Film ini memperlihatkan perjuangan seorang ibu yang selalu memprioritaskan anak-anaknya dari kecil, dengan susah payah, sosok ibu yang tangguh, dan tanpa kehadiran sosok ayah. Tapi ketika besar, anak-anaknya mengalami dilema antara harus memprioritaskan ibu atau tidak. Ini dilema yang sekarang jadi realitas keadaan banyak dari kita," ujar Refal Hady.

​"Ini sangat jadi pembelajaran bagiku. Dan menjadi refleksi, apalagi karena Mamaku sudah tidak ada. Aku jadi makin rindu sama almarhumah Mama. Seorang ibu adalah sosok yang tidak pernah tergantikan," tambah Refal.

Jangan Buang Ibu juga akan menjadi drama keluarga yang hangat dan mengharukan di bulan Juni ini di bioskop. Ikuti informasi terbaru film Jangan Buang Ibu melalui media sosial resmi Instagram @leopictures_official, @filmjanganbuangibu, dan TikTok @leopicturesofficial.

Sinopsis

​Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal dengan ketiga anaknya Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) setelah ditinggal suaminya (Dwi Sasono) hidup dalam kesederhanaan dan kerja keras namun mampu membesarkan buah hatinya dengan baik dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya meninggalkan hutang yang sedemikian besar.

​Terusik dengan keputusan sepihak dari ibunya, Tama, Dewi, dan Tria dilema dengan keadaan dan kondisi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, utuh sebagai keluarga harus merasakan kesenjangan jarak yang membuat kerinduan yang dalam dari Ristiana. Tak putus harapan untuk berbakti pada ibunda, akankah Tama, Dewi, dan Tria mampu mewujudkan itu sebelum terlambat?

​Tentang Leo Pictures

​Leo Pictures adalah rumah produksi yang hadir sejak tahun 2019. Berfokus pada pengembangan film dan series dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan berbagai genre mulai dari drama keluarga, thriller, hingga horor, Leo Pictures terus berupaya menghadirkan karya yang mengutamakan emosi, kedekatan cerita, dan pengalaman menonton yang berkesan.

MAGMA Entertainment Umumkan Proyek Horor-Komedi Terbaru "Jump Scare", Siap Syuting Tahun Ini Bersama Dion Wiyoko Segera Tayang 2027

Jakarta, 11 Juni 2026 – Setelah sukses menggebrak industri perfilman Indonesia lewat deretan karya horor box office yang solid seperti Qodrat 1 & 2, Pemukiman Setan, dan yang teranyar Badut Gendong, rumah produksi MAGMA Entertainment siap kembali menyapa para pencinta sinema. Tahun ini, MAGMA mengumumkan proyek film layar lebar terbaru mereka yang diberi judul resmi Jump Scare.

​Berbeda dari karya-karya menegangkan sebelumnya, melalui Jump Scare, MAGMA Entertainment akan mengeksplorasi ramuan menyegarkan yang memadukan atmosfer mencekam dengan sentuhan komedi spontan.

​Film ini mengangkat premis tentang empat sekawan dengan ambisi untuk membuat sebuah film impian mereka. Setelah mendapatkan warisan sebuah rumah tua, mereka berdebat untuk menjual rumah tersebut demi mendanai mimpi. Namun, rencana tersebut berubah menjadi malapetaka ketika mereka justru menemukan sesuatu yang tak diduga-duga di dalam rumah: sesosok mayat tentara kekaisaran Cina yang telah tersegel selama berabad-abad yang kemudian bangkit meneror.

​Dibangun di atas atmosfer ketegangan konstan dan rasa ketakutan yang mendalam, penonton akan diajak menyaksikan bagaimana para karakter utama harus mengandalkan keahlian seadanya serta aksi konyol yang spontan demi bertahan hidup sekaligus menjaga impian mereka tetap hidup.

Bertabur Bintang Lintas Generasi

​Proses produksi Jump Scare dijadwalkan akan memulai masa syuting pada tahun ini. Untuk menghidupkan dinamika cerita yang kaya akan ketegangan dan tawa, MAGMA Entertainment resmi menggandeng jajaran aktor serta aktris papan atas, di antaranya: Dion Wiyoko, Ardit Erwandha, Yono Bakrie, Faris Fadjar, Jenny Zhang, dan memperkenalkan Angie Marcheria dalam debut peran utama layar lebar pertamanya.

​Dion Wiyoko (Sore: Istri Dari Masa Depan, Cek Toko Sebelah) membagikan antusiasmenya terhadap project terbarunya ini bersama MAGMA Entertainment. "Saya excited sekali bisa ikut bergabung film ini. Saya yakin Jump Scare akan membawa angin segar untuk genre horor-komedi yang sangat dicintai penonton Indonesia, ini adalah film yang sangat unik!" Ujar aktor peraih tiga kali nominasi Piala Citra.

​Kekuatan akting dalam proyek terbaru ini juga semakin lengkap dengan keterlibatan bintang senior dan aktor karakter berbakat yaitu Chew Kin Wah, Mike Lucock, Ira Maya Sopha, serta Verdi Solaiman. Jajaran pemain lintas generasi ini dipercaya akan memberikan performa yang kuat dalam memadukan ketegangan horor dengan elemen komedi yang segar.

​"Lewat Jump Scare, kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda kepada penonton setelah pencapaian dari karya-karya kami sebelumnya seperti Qodrat, Pemukiman Setan, dan Badut Gendong. Kami mengeksplorasi bagaimana legenda klasik dapat berpadu apik dengan humor situasi yang organik. Kami sangat antusias memulai proses produksi tahun ini bersama jajaran pemeran luar biasa yang kami percaya mampu menghidupkan jiwa dari film ini," ungkap sutradara Charles Gozali dari MAGMA Entertainment.

​Proses produksi akan segera dimulai dalam waktu dekat, dan Jump Scare direncanakan untuk "meloncat" ke layar bioskop Indonesia 2027 nanti. Ikuti terus perkembangan tentang film ini di media sosial @magmaent.

Rabu, 10 Juni 2026

​"Takkan Kubiarkan Kau Menangis" Resmi Diperkenalkan, Film Drama Keluarga yang Mengangkat Cinta Orang Tua dan Anak Melalui Bahasa Musik

Jakarta, 10 Juni 2026 – Langit Pictures Indonesia secara resmi memperkenalkan film terbarunya berjudul "Takkan Kubiarkan Kau Menangis", sebuah drama keluarga yang mengangkat kisah emosional tentang hubungan ibu dan anak, pencarian jati diri, serta musik sebagai bahasa yang mampu menyampaikan perasaan yang selama ini sulit diungkapkan.

​Disutradarai oleh Ferly Halim, film ini memadukan unsur family drama, coming-of-age, dan musik dalam sebuah cerita yang dekat dengan realitas kehidupan banyak keluarga Indonesia. Dengan latar Kota Semarang yang kaya akan nilai sejarah dan budaya, film ini menghadirkan pengalaman sinematik yang hangat sekaligus menyentuh.

​"Takkan Kubiarkan Kau Menangis" berkisah tentang Dika, seorang remaja yang tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup di mata ibunya, Dini, seorang ibu tunggal yang mencintai anaknya namun dibayangi trauma masa lalu. Di tengah konflik dan kesalahpahaman yang terus berkembang, Dika menemukan tempat untuk menjadi dirinya sendiri melalui musik bersama teman-temannya. Sebuah lagu kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan kembali hati ibu dan anak.

​Ferly Halim, Sutradara sekaligus Produser "Takkan Kubiarkan Kau Menangis", mengatakan:

​Menurut Ferly, film ini mengangkat realitas yang sering terjadi dalam hubungan ibu dan anak. Bukan karena keduanya tidak saling mencintai, melainkan karena adanya perbedaan cara berkomunikasi yang kerap menimbulkan kesalahpahaman. Terkadang, bahkan hal sesederhana intonasi atau cara penyampaian dapat membuat ibu dan anak salah memahami satu sama lain. Ibu merasa anaknya tidak patuh, sementara anak merasa ibunya tidak menyayanginya.

​Melalui film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly ingin menyampaikan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci untuk menciptakan suasana rumah yang damai, hangat, dan harmonis. Selain itu, film ini juga menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi jembatan yang menyatukan hubungan yang sempat merenggang. Dalam cerita, musik hadir bukan hanya sebagai elemen hiburan, tetapi juga menjadi bahasa yang mampu menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.

​Ferly juga mengajak masyarakat, khususnya para anak, untuk menormalisasi dan membiasakan diri mengekspresikan kasih sayang kepada ibu. Bentuknya tidak harus besar atau mewah; hal-hal sederhana seperti memberikan bunga, membelikan minuman favorit, atau meluangkan waktu untuk berbincang bersama dapat menjadi wujud cinta yang bermakna.

​"Sebagai anak, kita sering kali menganggap kasih sayang kepada ibu sebagai sesuatu yang sudah dipahami tanpa perlu diungkapkan. Padahal, ibu juga perlu merasakan dan mendengar bentuk kasih sayang itu secara langsung. Melalui film ini, saya ingin mengajak semua orang untuk lebih berani menunjukkan cinta kepada ibu selagi masih memiliki kesempatan," ujar Ferly Halim.

​Tak hanya menjadi elemen penting dalam cerita, musik juga menjadi kekuatan emosional film ini. Takkan Kubiarkan Kau Menangis menghadirkan nuansa nostalgia melalui lagu-lagu legendaris Sheila On 7, seperti "Dan", "Kita", dan "Hujan Turun", yang telah melekat di hati penikmat musik Indonesia. Selain itu, film ini juga menghadirkan dua original soundtrack berjudul "Takkan Kubiarkan Kau Menangis" dan "Sahabat" yang dibawakan oleh Keisha Alvaro bersama Sand Band, melengkapi perjalanan emosional para karakter sekaligus memperkuat pesan tentang keluarga, persahabatan, dan harapan.

​Film ini dibintangi oleh Ari Irham, Shanty, Ariyo Wahab, Agoye Mahendra, Emiliano Cortizo, Teuku Rizky, Annisa Kayla, Askara Halim, Sandy Andarusman, dan Didi Riyadi, yang menghadirkan interpretasi karakter yang kuat dan dekat dengan kehidupan keluarga Indonesia.

​Melalui "Takkan Kubiarkan Kau Menangis", Langit Pictures Indonesia ingin menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk kembali menghargai komunikasi dalam keluarga, memahami arti kasih sayang, dan menyadari bahwa setiap hubungan selalu memiliki kesempatan untuk diperbaiki selama masih ada keberanian untuk saling mendengar.

​Film "Takkan Kubiarkan Kau Menangis" dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026 dan diharapkan menjadi salah satu film drama keluarga yang mampu menyentuh berbagai generasi penonton.

Tentang Langit Pictures Indonesia

​Langit Pictures Indonesia merupakan rumah produksi yang berkomitmen menghadirkan film-film berkualitas dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Pada tahun 2026, Langit Pictures Indonesia juga akan merilis 3 film kolaborasi lain diantaranya Andai Waktu Bisa Diulang Kembali pada tanggal 30 juli 2026, Sisa Waktu Senja, dan Fatima, serta mengembangkan sejumlah proyek baru seperti Lubang 13, Elegi di Atas Batu Kali, 10K Pensil Terakhir, Rayuan Istimewa, Bearlangka, Darwis Anak Kauman, dan.

Langit Pictures Indonesia

  • ​Email: langitpicturesindonesia@gmail.com
  • ​Phone: 0878 8888 6644
  • ​Instagram: @takkankubiarkankaumenangis , @langitpicturesindonesia & @itsferlyhalim

Selasa, 09 Juni 2026

Sukses Menembus Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026, MD Pictures Rilis Final Poster & Trailer "402 Rumah Sakit Angker Korea": Ketika Mistis Lokal Meneror Koridor Dunia

Jakarta, 9 Juni 2026 – MD Pictures bersama Umbara Brothers Film menggelar acara konferensi pers yang dihadiri oleh jajaran pemain dan filmmakers. Pertemuan ini menandai perilisan Final Poster dan Final Trailer dari film horor lintas negara yang dinanti-nantikan perilisannya tahun ini, "402 Rumah Sakit Angker Korea". Perilisan menuju tayang di bioskop ini menyajikan lapisan teror yang jauh lebih pekat, dan penuh teka-teki dibanding materi promosi sebelumnya.

Dalam Final Poster yang diluncurkan, sentuhan estetika Korea berpadu dengan atmosfer mistis yang sangat kental terasa begitu mencekam. Sorotan utama tertuju pada hadirnya sebuah boneka misterius berbaju tradisional Korea (Hanbok) dengan noda darah di sekitarnya, sebuah visual kuat yang langsung menjanjikan misteri kelam dari dalam koridor rumah sakit terbengkalai.

​Sementara itu, Final Trailer yang ditayangkan berhasil membuka satu tabir baru yang mengejutkan. Meski penelusuran tim kreator konten Indonesia ini dilakukan di sebuah rumah sakit angker di Korea Selatan, film ini secara berani menyisipkan unsur mistis lokal yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia: permainan Jelangkung. Apakah kehadiran ritual pemanggilan arwah khas Nusantara di tanah asing ini akan menjadi puncak plot twist yang disiapkan?

​Sutradara Anggy Umbara mengungkapkan bahwa perpaduan budaya horor ini adalah keputusan kreatif yang matang untuk memberikan kejutan baru bagi para penggemar film originalnya, Gonjiam: Haunted Asylum karya Jung Bum-Sik.

​"Kami tidak ingin sekadar memindahkan cerita. Kehadiran boneka ber-hanbok dan ritual Jelangkung di film ini hadir untuk meneror mental. Yang membuat terornya terasa dekat sekaligus tak tertebak. Ini adalah eksperimen horor paling ambisius yang pernah saya arahkan," jelas Anggy Umbara.

​Aktor utama Arbani Yasiz juga membagikan pandangannya mengenai bagaimana karakter yang ia mainkan harus menghadapi teror psikologis yang bertingkat di dalam film ini.

​"Di final trailer ini penonton bisa melihat kalau taruhannya sudah bukan lagi soal views atau popularitas, tapi bertahan hidup. Karakter Juna yang saya mainkan bakal membawa penonton merasakan langsung kepanikan saat sadar bahwa ritual lokal yang kita bawa justru memicu sesuatu yang jauh lebih gelap di sana. Tekanannya benar-benar terasa nyata sampai ke lokasi syuting," ujar Arbani Yasiz.

​Melanjutkan hal tersebut, Saputra Kori menambahkan betapa intensnya atmosfer yang dibangun demi menjaga kualitas remake yang tetap menghormati materi aslinya. "Setiap sudut Rumah Sakit Yongwon di film ini hadir untuk meneror mental. Visual boneka hanbok berdarah itu baru sebagian kecil; ketakutan saat adegan Jelangkung itu dimulai adalah momen di mana kami semua, bahkan sebagai aktor, merasa merinding beneran. Penonton bioskop harus bersiap untuk sebuah pengalaman yang sangat emosional," ungkap Saputra Kori.

Prestasi Internasional: Tembus Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026

​Kabar yang tak kalah membanggakan datang dari panggung sinema internasional. Sebelum resmi meneror bioskop tanah air, "402 Rumah Sakit Angker Korea" dinyatakan berhasil lolos Official Selection di ajang bergengsi Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026 dan akan diputar dalam program bergengsi, Gala Presentation.

​Untuk di kancah internasional, film ini akan menggunakan judul global Korean Haunted Hospital, sedangkan untuk penayangan di Korea Selatan akan menggunakan judul resmi 402 (Pye-byeong-won 402). Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kualitas dan standar teror yang disajikan mampu bersaing di level sinema dunia.

​Martin Lee, Programmer BiFan menyampaikan catatan di balik alasan lolosnya film ini di perhelatan bergensi tersebut. "Tanpa menghilangkan esensi premis dan ketegangan dari versi originalnya, film ini dengan cermat mengangkat fenomena budaya streaming dan pola konsumsi konten modern, membawa sebuah pengalaman baru yang relevan dengan masa kini. Karya ini menghadirkan keseruan baru bagi para penggemar lama, sekaligus menyuguhkan sensasi ketegangan dan ketakutan yang mendalam bagi penonton yang baru pertama kali menyelami kisahnya."

Jangan Sampai Ketinggalan Fenomenalnya!

​Ketika ritual lokal bertemu dengan tempat paling terkutuk di Korea, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Siapkan nyalimu, ajak teman-teman terdekat, dan pastikan kamu menjadi bagian dari saksi mata teror Ruangan 402 di Rumah Sakit Angker Korea yang siap menjadi perbincangan nasional.

​Ketika ritual lokal bertemu dengan tempat paling terkutuk di Korea, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Siapkan nyalimu, ajak teman-teman terdekat, dan pastikan kamu menjadi bagian dari saksi mata teror Ruangan 402 di Rumah Sakit Angker Korea yang siap menjadi perbincangan nasional.

"402 Rumah Sakit Angker Korea" siap membuka gerbang mistisnya secara serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026!

TENTANG MD PICTURES

MD Pictures adalah salah satu rumah produksi film dan konten hiburan terbesar di Indonesia yang didirikan oleh Manoj Punjabi. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen berbagai film box office, serial televisi, serta konten digital yang sukses menarik jutaan penonton di dalam maupun luar negeri.

​Sejak berdiri pada tahun 2002, MD Pictures telah memproduksi banyak film populer dari berbagai genre, mulai dari drama keluarga, komedi, hingga horor. Beberapa karya mereka bahkan mencetak rekor jumlah penonton di bioskop Indonesia dan menjadi bagian penting dari perkembangan industri perfilman nasional.

Dwi Sasono Tampil Jadi Bapak yang Problematik di Trailer Terbaru Film Jangan Buang Ibu, Tayang di Bulan Juni Ini!

Jangan Buang Ibu jadi rekomendasi film yang tayang bulan Juni ini di bioskop

Jakarta, 8 Juni 2026 – Aktor Dwi Sasono tampil berbeda saat ia menjadi sosok ayah yang problematik. Ia terlihat banyak mengeluarkan kata kasar hingga membentak, bahkan melakukan kekerasan fisik. Namun, penampilan itu ditunjukkan Dwi Sasono dalam official trailer terbaru film Jangan Buang Ibu yang akan tayang bulan Juni ini di bioskop Indonesia.

​Setelah merilis trailer sebelumnya yang mengharukan dari sudut pandang perjuangan seorang ibu dalam membesarkan ketiga anaknya, kini Leo Pictures merilis cuplikan adegan yang akan membuat penonton terhenyak saat menyaksikan penampilan Dwi Sasono yang jauh di luar dugaan.

​Di trailer terbarunya, Jangan Buang Ibu juga menampilkan kisah tiga anak yang tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ayah. Sebuah perasaan dan pengalaman yang banyak dialami anak di Indonesia.

​Memerankan seorang bapak yang problematik dan sosoknya tak hadir untuk keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi Dwi Sasono yang dikenal sebagai seorang family man. Namun, ia menyadari bahwa kondisi yang dihadapi oleh karakter Bapak di film Jangan Buang Ibu adalah karena orangtua ingin anaknya berhasil.

​"Dia punya harapan yang terbaik untuk anaknya. Dia tidak mau anaknya gagal seperti dia," kata Dwi Sasono.

​Sementara itu, Dwi sendiri menerapkan parenting bahwa anak adalah titipan, dan bukan sepenuhnya milik orangtua.

​"Parenting yang saya jalani terhadap anak-anak saya, saya percaya anak-anak saya itu bukan milik saya, tapi mereka itu milik semesta. Saya percaya setiap kelahiran itu punya misinya masing-masing, punya blueprint-nya masing-masing," tambah Dwi.

​Sementara itu, Saputra Kori, yang memerankan Tria di film ini, anak bungsu dari Ibu Ristiana, digambarkan sebagai anak yang tak memiliki kasih sayang dari bapaknya bahkan sejak ia dalam kandungan.

​Tria tak mengenal siapa sosok ayahnya, hingga ia tumbuh sebagai remaja. Dan karena situasi itu, Tria tumbuh menjadi anak yang 'cukup' nakal di sekolah. Namun, karena didikan dan kasih sayang ibunya, ia pun berusaha memperbaiki semuanya.

​"Kalau aku di kehidupan nyata jadi anaknya Ibu Ristiana, aku tidak akan melakukan hal-hal bodoh. Aku akan fokus bekerja, benar-benar segiat mungkin sampai aku bisa membalikkan derajat keluargaku dan aku enggak bakal bawa Ibu Ristiana ke tempat yang seperti di film. Aku bakal bikinin dia rumah, aku bakal ajak dia tinggal di sana, aku enggak akan pernah lupain dia," ujar Saputra Kori.

​Di film Jangan Buang Ibu yang akan tayang bulan Juni ini, Dwi Sasono beradu peran dengan Nirina Zubir sebagai suami istri. Keduanya akan menampilkan dinamika orangtua yang penuh emosi dan membawa pengalaman banyak orang dari dalam rumah.

​Selain Dwi Sasono, Nirina Zubir, dan Saputra Kori, Jangan Buang Ibu juga dibintangi oleh Refal Hady, Amanda Manopo, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra.

​Disutradarai oleh sutradara blockbuster Hadrah Daeng Ratu, produser Agung Saputra yang juga telah memproduksi banyak film blockbuster, serta penulis blockbuster Widya Arifianti, Jangan Buang Ibu akan hadir menemani keluarga Indonesia mulai 25 Juni 2026 di bioskop.

Jangan Buang Ibu juga akan melanjutkan sukses Leo Pictures setelah sukses blockbuster drama keluarga Bila Esok Ibu Tiada yang meraih 3,9 juta lebih penonton di bioskop.

​Ikuti informasi terbaru film Jangan Buang Ibu melalui media sosial resmi Instagram @leopictures_official, @filmjanganbuangibu, dan TikTok @leopicturesofficial.

​***

Sinopsis

​Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal dengan ketiga anaknya Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) setelah ditinggal suaminya (Dwi Sasono) hidup dalam kesederhanaan dan kerja keras namun mampu membesarkan buah hatinya dengan baik dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya meninggalkan hutang yang sedemikian besar.

​Terusik dengan keputusan sepihak dari ibunya, Tama, Dewi, dan Tria dilema dengan keadaan dan kondisi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, utuh sebagai keluarga harus merasakan kesenjangan jarak yang membuat kerinduan yang dalam dari Ristiana. Tak putus harapan untuk berbakti pada ibunda, akankah Tama, Dewi, dan Tria mampu mewujudkan itu sebelum terlambat?

Tentang Leo Pictures

​Leo Pictures adalah rumah produksi yang hadir sejak tahun 2019. Berfokus pada pengembangan film dan series dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan berbagai genre mulai dari drama keluarga, thriller, hingga horor, Leo Pictures terus berupaya menghadirkan karya yang mengutamakan emosi, kedekatan cerita, dan pengalaman menonton yang berkesan.

Senin, 08 Juni 2026

Jadi 'Angin Segar' di Film 'Nobody Loves Kay', Aurora Ribero Menyuarakan tentang Mimpi Itu Tidak Ada yang Lebih Tinggi atau Lebih Rendah, Semua Valid!

Sejak Gala Premiere hingga tayang perdana di bioskop, respons positif dan ulasan penuh haru terus membanjiri penayangan film drama remaja terbaru, Nobody Loves Kay. Film perdana garapan sutradara debutan Bernardus Raka ini sukses menyentuh hati ribuan penonton lewat kisah kegigihan seorang remaja bernama Kay (Bima Azriel) yang nekat mengejar mimpi tak konvensional menjadi pro-player Mobile Legends, meski dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya.

​Namun, daya tarik film kolaborasi ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, dan Qun Films, bekerja sama dengan Visinema Pictures ini tidak hanya terletak pada ketegangan arena e-sports. Kehadiran aktris muda berbakat, Aurora Ribero, yang memerankan karakter Amanda, sukses membawa bumbu romansa anak muda yang segar sekaligus penuh dilema emosional.

Bumbu Romansa yang Terhalang Tuntutan Masa Depan

​Aurora Ribero, yang merupakan peraih dua kali nominasi Piala Citra, kali ini bertransformasi menjadi Amanda, seorang siswi berprestasi, ambisius di bidang akademis, dan memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan Kay.

​Pertemuan dua dunia yang berbeda ini melahirkan dinamika hubungan yang sangat menarik. Berada di batas tipis antara persahabatan dan romansa, karakter Amanda memberikan gambaran nyata tentang bagaimana indahnya romansa masa sekolah yang sayangnya harus berbenturan dengan kerasnya tuntutan masa depan.

​Meskipun Amanda berambisi mengejar jalur konvensional untuk menjadi seorang dokter dan Kay fokus pada layar ponselnya, keduanya justru memperlihatkan hubungan yang dewasa. Di tengah badai skeptisisme lingkungan, mereka terus berusaha memahami mimpi satu sama lain dan saling menguatkan dalam menjalani beratnya fase pendewasaan remaja.

Pesan Mendalam: Tidak Ada Mimpi yang Lebih Rendah!

​Melalui perannya sebagai Amanda, Aurora Ribero mengaku sangat jatuh cinta dan percaya dengan pesan moral mendalam yang ditiupkan oleh Bernardus Raka ke dalam film ini. Bagi Aurora, film ini adalah tamparan sekaligus pelukan hangat bagi anak muda yang sering merasa mimpinya dihakimi.

​"Walau punya mimpi yang berbeda dengan Kay, menjadi dokter, sebuah mimpi yang lebih mudah diterima dan diakui oleh banyak orang, Amanda sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Kay. Keduanya punya tujuan besar yang ingin mereka raih, bagaimanapun caranya," ungkap Aurora Ribero dengan penuh keyakinan.

​Aurora juga menambahkan bahwa karakter Amanda memberikan sudut pandang baru yang sangat penting bagi generasi sekarang tentang arti menghargai pilihan hidup orang lain.

​"Aku rasa karakter ini memberi pelajaran penting ke kita semua kalau semua mimpi itu valid dan pantas diperjuangkan, bagaimanapun bentuknya. Tidak ada mimpi yang lebih tinggi atau lebih rendah," lanjutnya.

Serbu Bioskop Sekarang, Nikmati Promo Buy 1 Get 1 Free!

​Kisah kedekatan Amanda dan Kay menjadi bukti bahwa Nobody Loves Kay adalah film yang komplet. Bukan cuma soal game, tapi soal cinta, ego, persahabatan, dan keberanian untuk prove them wrong di hadapan dunia.

​Bagi kamu yang sedang berjuang demi cita-cita atau sedang merindukan hangatnya romansa masa SMA, film ini adalah tontonan yang wajib kamu saksikan minggu ini.

​Kabar gembira untuk kalian, film Nobody Loves Kay sedang menanti kalian di bioskop hari ini dengan Promo Spesial BOGOF (Buy One Get One Free) yang bisa kamu sikat langsung di aplikasi M-TIX, TIX ID, Cinepolis, dan CGV!

​Yuk, ajak orang tersayang atau gebetan kamu ke bioskop sekarang juga sebelum kehabisan tempat duduk! Jangan lupa pantau terus akun sosial media resmi @nobodyloveskay untuk kejutan dan informasi ter-update lainnya!

Agung Dorian Hadirkan Single Kolaborasi Bersama Sara Riesma di Nomor Penuh Ketulusan "Nada Untuk Dikenang"

Tahun 2026 menjadi penanda perjalanan baru bagi Agung Dorian melalui perilisan single terbarunya berjudul "Nada Untuk Dikenang". Menjadi single ke-6 dalam perjalanan musikal Agung Dorian, "Nada Untuk Dikenang" hadir dengan nuansa pop alternatif yang intim dan reflektif, serta diperkuat melalui kolaborasi bersama Sara Riesma sebagai featuring artist.

​Berbeda dari karya sebelumnya, lagu ini membawa cerita tentang ketulusan dalam melepaskan, tentang menerima bahwa tidak semua rasa harus berakhir dengan memiliki. "Kadang yang paling tulus bukan tentang memperjuangkan untuk tetap bersama, tetapi tentang belajar mengikhlaskan dan percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan terbaik untuk semua pihak," ungkap Agung Dorian.

​Melalui lirik seperti: "Hanya untaian nada yang mewakilkan untuk dikenang," Agung Dorian mencoba menggambarkan bagaimana musik dapat menjadi ruang untuk menyimpan kenangan, tanpa harus kembali membuka luka. Kehadiran Sara Riesma di lagu ini juga memberi warna emosional yang kuat. Karakter vokalnya yang lembut dan hangat menghadirkan dimensi rasa yang lebih dalam, menjadikan "Nada Untuk Dikenang" terasa seperti percakapan batin antara dua hati yang akhirnya memilih berdamai dengan keadaan.

​Bagi Agung Dorian, lagu ini bukan tentang kesedihan semata, melainkan tentang penerimaan, keikhlasan, dan doa baik bagi seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. "Nada Untuk Dikenang" resmi di berbagai platform digital musik.

  • Track Title: Nada Untuk Dikenang
  • Performed by: Agung Dorian ft Sara Riesma
  • Producer: Agung Dorian (Agung Trianto Nugroho)
  • Songwriter: Agung Dorian (Agung Trianto Nugroho)
  • Composer / Music Producer: Alit Sinyo
  • Mixing & Mastering: Alit Sinyo 

Minggu, 07 Juni 2026

90% Practical Effects, Tanpa CGI: Cara Edwin Membangun Horor Fantasi di Monster Pabrik Rambut. Ajaib, Gila dan Kreatif

Tonton Monster Pabrik Rambut sekarang di bioskop!

Jakarta, 7 Juni 2026 — Di tengah dominasi efek visual digital dalam film modern, sutradara Edwin justru mengambil jalan berbeda untuk film terbarunya, Monster Pabrik Rambut. Hampir 90 persen adegan fantasi dan horor dalam film ini dibangun menggunakan practical effects, meminimalisasi penggunaan CGI, dan mengandalkan teknik produksi yang mengingatkan pada film-film fantasi era 1980-an.

​Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Monster Pabrik Rambut terasa berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia saat ini. Film produksi Palari Films yang sedang tayang di bioskop ini menghadirkan dunia yang absurd, ajaib, sekaligus mengganggu, dengan pengalaman visual yang dibangun langsung di depan kamera.

​"Hampir 90% practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Lalu kami juga banyak menggunakan teknik sling. Rambut-rambut yang bergerak itu juga direkam di dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer sifatnya lebih pada penggabungan semuanya untuk membuatnya menjadi lebih organik," terang Edwin.

​Mulai dari monster raksasa, rambut yang bergerak sendiri, hingga berbagai elemen fantasi dalam film, sebagian besar diciptakan secara fisik selama proses produksi. Pendekatan ini memberi tekstur dan kehadiran visual yang lebih nyata dibandingkan efek digital sepenuhnya.

Menciptakan Nuansa Retro Lewat Teknologi Film Analog

​Eksperimen visual film ini tidak berhenti pada practical effects. Untuk memperkuat nuansa retro yang menjadi bagian penting dunia Monster Pabrik Rambut, Palari Films juga menggunakan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD).

​Melalui proses ini, gambar yang awalnya direkam secara digital dicetak ke pita seluloid, kemudian dipindai kembali ke format digital. Teknik tersebut menghasilkan tekstur grain, warna, dan karakter visual yang mengingatkan pada film-film klasik, sekaligus memberikan kesan organik yang sulit ditiru secara digital.

Dari Komik Petruk Gareng hingga Imajinasi Horor Fantasi

​Dalam berbagai kesempatan, penulis Eka Kurniawan mengungkapkan bahwa sosok monster dalam film ini terinspirasi dari makhluk-makhluk grotesk yang sering muncul dalam Komik Petruk Gareng karya Tatang S.

​Monster yang lucu namun menyeramkan, sekaligus menyeramkan karena kelucuannya, menjadi titik awal yang memantik imajinasi Edwin dalam membangun dunia horor fantasi yang unik.

​Hasilnya adalah sebuah film yang tidak mengikuti formula horor konvensional. Alih-alih mengandalkan jump scare atau mitologi populer, Monster Pabrik Rambut membangun ketegangan melalui visual absurd, dunia kerja yang menekan, dan karakter-karakter yang hidup di antara realitas dan fantasi.

Ketika Film Bertemu Bahasa Komik

​Eksperimen Edwin juga terlihat pada bagian akhir film. Jika sebagian horor Indonesia memilih penyelesaian yang realistis atau supranatural, Monster Pabrik Rambut justru memadukan bahasa sinema dengan estetika komik.

​Warna-warna cerah, komposisi visual yang ekspresif, dan pendekatan penceritaan yang menyerupai panel komik menciptakan pengalaman menonton yang terasa segar sekaligus tidak biasa. Kombinasi antara horor, fantasi, dan komik tersebut menjadikan film ini memiliki identitas visual yang jarang ditemui dalam perfilman Indonesia.

Kolaborasi Kreatif Edwin, Eka Kurniawan, dan Akiko Ashizawa

​Untuk mewujudkan visi visual tersebut, Edwin kembali bekerja sama dengan sinematografer Jepang, Akiko Ashizawa, yang sebelumnya terlibat dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Akiko dikenal luas melalui kolaborasinya dengan maestro horor Jepang Kiyoshi Kurosawa dalam sejumlah film seperti Tokyo Sonata dan Journey to the Shore, di mana ia mengembangkan pendekatan visual yang peka terhadap ruang, atmosfer, dan ketegangan yang muncul dari keseharian.

​Dalam Monster Pabrik Rambut, Akiko membawa sensibilitas sinematik tersebut ke dunia yang dibangun Edwin. Melalui pendekatan visual yang berani namun terukur, ia membantu menerjemahkan dunia absurd ciptaan Edwin menjadi pengalaman sinematik yang kaya detail, menghadirkan perpaduan antara realitas sehari-hari dan elemen fantastis yang terasa ganjil sekaligus memikat.

​Di sisi lain, Edwin juga kembali berkolaborasi dengan novelis ternama Eka Kurniawan dalam penulisan skenario. Melalui kisah tentang pekerja pabrik rambut dan monster yang lahir dari ​dunia kerja yang eksploitatif, keduanya menyisipkan kritik sosial terhadap budaya kerja berlebihan dan sistem yang memandang manusia hanya sebagai mesin produksi.

Mendapat Sambutan Positif dari Penonton

​Sejak tayang di bioskop, Monster Pabrik Rambut mendapat beragam respons positif dari penonton yang menilai film ini menghadirkan pengalaman horor yang berbeda.

​Penulis Ika Natassa menyebut film ini berhasil menawarkan kejanggalan yang tidak biasa ditemukan dalam film horor pada umumnya.

​"Jujur, ini bukan jenis tontonan horor yang gampang ditelan, namun berhasil menghadirkan kejanggalan-kejanggalan yang nggak biasa ditemui di sajian horor lain".

​Banyak penonton juga menangkap lapisan kritik sosial yang disampaikan film ini.

​"Monster Pabrik Rambut punya ide jelas dengan mengkritik apropriasi kultur kerja berlebihan dan memandang manusia hanya sebagai mesin," tulis akun film @ulasinema.

​Sementara sebagian lainnya melihat film ini sebagai refleksi kondisi ekonomi dan dunia kerja modern yang semakin menekan.

​Melalui perpaduan practical effects, visual retro, bahasa komik, dan kritik sosial yang tajam, Monster Pabrik Rambut menawarkan sesuatu yang jarang hadir dalam horor Indonesia: sebuah horor fantasi yang absurd, unik, dan sangat personal.

Monster Pabrik Rambut kini tayang di seluruh bioskop Indonesia.

​Ikuti informasi terbaru melalui Instagram @palarifilms dan situs resmi Palari Films.

Sinopsis

​PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

​Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021). "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Jumat, 05 Juni 2026

Monster Pabrik Rambut Bukan Sekadar Film Horor Ketika Layar Lebar Mencerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini


Jakarta, 5 Juni 2026 - Resmi meluncur di bioskop sejak 4 Juni 2026, Monster Pabrik Rambut membuka diskusi mendalam dengan mengangkat kengerian dari fenomena sehari-hari: budaya kerja toksik yang kian dianggap normal. Horor fantasi ini secara tajam mengeksplorasi praktik eksploitasi di dunia kerja yang ternyata lebih mencekam dibandingkan teror makhluk gaib..

Realitas yang ada ternyata lebih kuat dibandingkan fiksi apa pun.

Berdasarkan Survei Global 2025 Gen Z and Millennial dari Deloitte, 77% Gen Z dan 74% milenial di Indonesia menyebut pekerjaan sebagai sumber utama stres mereka. Tercatat 57% responden tertekan oleh lingkungan kerja beracun, sementara durasi kerja yang berlebihan membebani 56% Gen Z dan 51% milenial.

Statistik tersebut tercermin nyata dalam perjuangan Putri, Ida, Bona, Rudi, dan Tohar dalam film Monster Pabrik Rambut.

"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah 'monster yang sebenarnya. Ada pihak yang mengeksploitasi demi laba pribadi, dan ada yang melanggengkannya dengan membiarkan lembur yang tak wajar terus terjadi. Keduanya membentuk sistem yang harus kita kritisi," tutur Edwin selaku sutradara.

Secara umum, sebuah film mungkin tidak menawarkan solusi instan bagi masalah tersebut. Namun, Monster Pabrik Rambut hadir demi memantik hal yang jauh lebih krusial sebuah diskusi yang kerap kita hindari mengenai sistem kerja yang telah sekian lama dianggap wajar.

"Di bidang apa pun kita bekerja, situasi seperti atasan yang keras, persaingan antar-kolega yang tidak sehat, hingga beban ekspektasi yang mengorbankan kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Inilah monster yang sesungguhnya," ungkap Iqbaal Ramadhan, aktor sekaligus Produser Eksekutif. "Tidak ada ruang bagi kami untuk berpura-pura. Tubuh kami harus merespons tentang apa yang terjadi di depan mata kami." ujarnya.

Lima alasan mengapa Monster Pabrik Rambut patut Anda tonton:

Horor Indonesia pertama tanpa hantu. Alih-alih setan, Edwin menghadirkan sistem kerja tidak manusiawi sebagai sumber kengerian.

Kolaborasi internasional lima negara. Melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang. Jerman, dan Prancis dalam salah satu proyek sinematik paling ambisius.

Skenario kolaboratif bersama Eka Kurniawan. Ditulis bersama salah satu novelis sastra Indonesia paling berpengaruh di tingkat global.

Penggunaan efek praktikal sepenuhnya. Tanpa CGI, setiap adegan membutuhkan persiapan hingga 30 menit agar elemen visual tersaji sempurna.

Rambut sebagai simbol tekanan. Edwin menjadikan rambut representasi fisik dari stres kerja, seperti kerontokan atau perubahan warna yang mendadak.

Segera pesan tiket untuk Anda dan tim lembur Anda. Monster Pabrik Rambut kini tersedia di seluruh jaringan bioskop Indonesia.

Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.

Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari hari tak tak tidur karena bekerja siang dan malam. malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok, pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh Ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Flim Locamo ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas",

Beberapa fim yang pemah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berdur (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English peda periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Al & Ratu-Ratu Queens" (2021). "Aruna & Lidahnya (2018), "Posesit (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Kolaborasi Epik WeTV Indonesia dan MD Entertainment, Serial “WeTV Original: SAMUEL” Siap Menguras Emosi Mulai 12 Juni

Jakarta, 5 JUNI 2026 – Memenuhi antusiasme jutaan penggemar drama remaja di tanah air, WeTV Indonesia bersama rumah produksi ternama MD Entertainment secara resmi menggelar acara Gala Premiere untuk serial terbaru mereka yang paling dinantikan tahun ini, WeTV Original: SAMUEL. Bertempat di CGV Grand Indonesia, acara ini dihadiri oleh jajaran direksi, sutradara, kru produksi, serta seluruh pemeran utama yang menghidupkan karakter-karakter ikonis dari cerita adaptasi Wattpad populer tersebut.

Serial WeTV Original: SAMUEL mengangkat kisah romansa remaja yang penuh dinamika, dibalut dengan konflik solidaritas geng motor serta lika-liku pencarian jati diri. Melalui tagline utamanya, "It's not just a crush, it's a chapter," serial ini menjanjikan sebuah perjalanan emosional yang mendalam, tidak sekadar romansa sekolah biasa, melainkan babak baru kehidupan yang penuh komitmen dan pendewasaan diri.
Proyek ini digarap di bawah arahan sutradara kenamaan Asep Kusdinar dan diproduseri langsung oleh Manoj Punjabi (MD Entertainment). Kolaborasi strategis antara WeTV Indonesia sebagai platform streaming premium dan MD Entertainment yang berpengalaman dalam melahirkan konten blockbuster, memastikan serial ini hadir dengan kualitas visual serta sinematografi kelas atas yang memanjakan mata penonton.

Kekuatan utama dari WeTV Original: SAMUEL juga terletak pada jajaran pemainnya. Karakter utama Samuel diperankan dengan apik oleh aktor muda berbakat Fadi Alaydrus, yang beradu peran dengan aktris menawan Saskia Chadwick. Chemistry kuat di antara keduanya didukung oleh penampilan solid dari deretan bintang populer lainnya seperti Endy Arfian, Emyr Razan, Cut Tari, serta aktor dan aktris pendukung lainnya yang sukses menghidupkan dunia "Samuel" ke layar kaca.

Sebagai bagian dari promosi, materi audio dan visual dari lagu soundtrack utama berjudul "Tentang Samuel" yang dibawakan oleh penyanyi Kanya juga turut diperkenalkan untuk memperkuat atmosfer emosional di setiap episodenya.

Serial WeTV Original: SAMUEL dijadwalkan tayang secara eksklusif hanya di platform WeTV mulai 12 Juni 2026. Penonton di seluruh Indonesia dapat langsung berlangganan untuk menikmati episode terbaru setiap minggunya dan memastikan diri tidak melewatkan babak demi babak dari kisah yang paling dinantikan ini.

Film Jangan Buang Ibu Jadi Film Drama Mengharukan yang Tayang di Bulan Juni di Bioskop! Mengajak Kita untuk Memuliakan Seorang Ibu

Jangan Buang Ibu tayang mulai 25 Juni 2026 di bioskop Indonesia! ​ Jakarta, 11 Juni 2026 — Leo Pictures kembali hadir dengan film drama ke...