Jumat, 05 Juni 2026

Monster Pabrik Rambut Bukan Sekadar Film Horor Ketika Layar Lebar Mencerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini


Jakarta, 5 Juni 2026 - Resmi meluncur di bioskop sejak 4 Juni 2026, Monster Pabrik Rambut membuka diskusi mendalam dengan mengangkat kengerian dari fenomena sehari-hari: budaya kerja toksik yang kian dianggap normal. Horor fantasi ini secara tajam mengeksplorasi praktik eksploitasi di dunia kerja yang ternyata lebih mencekam dibandingkan teror makhluk gaib..

Realitas yang ada ternyata lebih kuat dibandingkan fiksi apa pun.

Berdasarkan Survei Global 2025 Gen Z and Millennial dari Deloitte, 77% Gen Z dan 74% milenial di Indonesia menyebut pekerjaan sebagai sumber utama stres mereka. Tercatat 57% responden tertekan oleh lingkungan kerja beracun, sementara durasi kerja yang berlebihan membebani 56% Gen Z dan 51% milenial.

Statistik tersebut tercermin nyata dalam perjuangan Putri, Ida, Bona, Rudi, dan Tohar dalam film Monster Pabrik Rambut.

"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah 'monster yang sebenarnya. Ada pihak yang mengeksploitasi demi laba pribadi, dan ada yang melanggengkannya dengan membiarkan lembur yang tak wajar terus terjadi. Keduanya membentuk sistem yang harus kita kritisi," tutur Edwin selaku sutradara.

Secara umum, sebuah film mungkin tidak menawarkan solusi instan bagi masalah tersebut. Namun, Monster Pabrik Rambut hadir demi memantik hal yang jauh lebih krusial sebuah diskusi yang kerap kita hindari mengenai sistem kerja yang telah sekian lama dianggap wajar.

"Di bidang apa pun kita bekerja, situasi seperti atasan yang keras, persaingan antar-kolega yang tidak sehat, hingga beban ekspektasi yang mengorbankan kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Inilah monster yang sesungguhnya," ungkap Iqbaal Ramadhan, aktor sekaligus Produser Eksekutif. "Tidak ada ruang bagi kami untuk berpura-pura. Tubuh kami harus merespons tentang apa yang terjadi di depan mata kami." ujarnya.

Lima alasan mengapa Monster Pabrik Rambut patut Anda tonton:

Horor Indonesia pertama tanpa hantu. Alih-alih setan, Edwin menghadirkan sistem kerja tidak manusiawi sebagai sumber kengerian.

Kolaborasi internasional lima negara. Melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang. Jerman, dan Prancis dalam salah satu proyek sinematik paling ambisius.

Skenario kolaboratif bersama Eka Kurniawan. Ditulis bersama salah satu novelis sastra Indonesia paling berpengaruh di tingkat global.

Penggunaan efek praktikal sepenuhnya. Tanpa CGI, setiap adegan membutuhkan persiapan hingga 30 menit agar elemen visual tersaji sempurna.

Rambut sebagai simbol tekanan. Edwin menjadikan rambut representasi fisik dari stres kerja, seperti kerontokan atau perubahan warna yang mendadak.

Segera pesan tiket untuk Anda dan tim lembur Anda. Monster Pabrik Rambut kini tersedia di seluruh jaringan bioskop Indonesia.

Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.

Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari hari tak tak tidur karena bekerja siang dan malam. malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok, pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh Ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Flim Locamo ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas",

Beberapa fim yang pemah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berdur (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English peda periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Al & Ratu-Ratu Queens" (2021). "Aruna & Lidahnya (2018), "Posesit (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Kolaborasi Epik WeTV Indonesia dan MD Entertainment, Serial “WeTV Original: SAMUEL” Siap Menguras Emosi Mulai 12 Juni

Jakarta, 5 JUNI 2026 – Memenuhi antusiasme jutaan penggemar drama remaja di tanah air, WeTV Indonesia bersama rumah produksi ternama MD Entertainment secara resmi menggelar acara Gala Premiere untuk serial terbaru mereka yang paling dinantikan tahun ini, WeTV Original: SAMUEL. Bertempat di CGV Grand Indonesia, acara ini dihadiri oleh jajaran direksi, sutradara, kru produksi, serta seluruh pemeran utama yang menghidupkan karakter-karakter ikonis dari cerita adaptasi Wattpad populer tersebut.

Serial WeTV Original: SAMUEL mengangkat kisah romansa remaja yang penuh dinamika, dibalut dengan konflik solidaritas geng motor serta lika-liku pencarian jati diri. Melalui tagline utamanya, "It's not just a crush, it's a chapter," serial ini menjanjikan sebuah perjalanan emosional yang mendalam, tidak sekadar romansa sekolah biasa, melainkan babak baru kehidupan yang penuh komitmen dan pendewasaan diri.
Proyek ini digarap di bawah arahan sutradara kenamaan Asep Kusdinar dan diproduseri langsung oleh Manoj Punjabi (MD Entertainment). Kolaborasi strategis antara WeTV Indonesia sebagai platform streaming premium dan MD Entertainment yang berpengalaman dalam melahirkan konten blockbuster, memastikan serial ini hadir dengan kualitas visual serta sinematografi kelas atas yang memanjakan mata penonton.

Kekuatan utama dari WeTV Original: SAMUEL juga terletak pada jajaran pemainnya. Karakter utama Samuel diperankan dengan apik oleh aktor muda berbakat Fadi Alaydrus, yang beradu peran dengan aktris menawan Saskia Chadwick. Chemistry kuat di antara keduanya didukung oleh penampilan solid dari deretan bintang populer lainnya seperti Endy Arfian, Emyr Razan, Cut Tari, serta aktor dan aktris pendukung lainnya yang sukses menghidupkan dunia "Samuel" ke layar kaca.

Sebagai bagian dari promosi, materi audio dan visual dari lagu soundtrack utama berjudul "Tentang Samuel" yang dibawakan oleh penyanyi Kanya juga turut diperkenalkan untuk memperkuat atmosfer emosional di setiap episodenya.

Serial WeTV Original: SAMUEL dijadwalkan tayang secara eksklusif hanya di platform WeTV mulai 12 Juni 2026. Penonton di seluruh Indonesia dapat langsung berlangganan untuk menikmati episode terbaru setiap minggunya dan memastikan diri tidak melewatkan babak demi babak dari kisah yang paling dinantikan ini.

Rayakan Satu Dekade Perjalanan, INDOFEST 2026 Perkuat Kolaborasi dan Dorong Pertumbuhan Industri Outdoor Nasional


Jakarta, 4 Juni 2026 – Indonesia Outdoor Festival (INDOFEST) 2026 kembali hadir sebagai pameran perlengkapan kegiatan luar ruang (outdoor) dan petualangan terbesar di Asia Tenggara. Lebarannya anak outdoor ini diselenggarakan selama empat hari mulai tanggal 4-7 Juni 2026 di Hall B - JICC Senayan, Jakarta.

Memasuki usia ke-10, INDOFEST mengangkat tema yang merefleksikan perjalanan panjang festival sebagai ruang temu bagi para pegiat, komunitas, pelaku usaha, dan pencinta kegiatan luar ruang di Indonesia. Tema tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa satu dekade perjalanan bukanlah akhir, melainkan titik awal untuk melangkah menuju babak baru pengembangan ekosistem outdoor nasional.

Chief Executive Officer COS Event, Disyon Toba, mengatakan Penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum istimewa karena menandai satu dekade perjalanan INDOFEST sejak pertama kali digelar pada tahun 2016. 

“Perjalanan 10 tahun INDOFEST tidaklah mudah. Tantangan terbesar adalah menyatukan produsen, pelaku industri outdoor, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memiliki visi dan tujuan yang sama, yaitu memperkenalkan produk, aktivitas outdoor, serta mengembangkan komunitas luar ruang di Indonesia,” ujarnya.

Disyon menjelaskan, dukungan yang berbagai pihak termasuk pemerintah, masih diperlukan agar sektor ini dapat berkembang secara optimal dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

“Di banyak negara, kegiatan outdoor telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dan industri yang berkembang pesat. Indonesia memiliki potensi alam yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan potensi tersebut memiliki nilai tambah yang tinggi melalui pengelolaan yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sebagai bagian dari perayaan satu dekade, INDOFEST 2026 menghadirkan Mini Museum yang menampilkan dokumentasi perjalanan festival sejak tahun 2016. Kehadiran mini museum tersebut diharapkan dapat mengajak pengunjung melihat kembali perkembangan industri dan komunitas outdoor yang tumbuh bersama INDOFEST selama satu dekade terakhir.

Selain itu, INDOFEST 2026 juga berkolaborasi dengan komunitas Bersibersi Lemari dalam kampanye sosial pengumpulan pakaian bekas layak pakai. Melalui program tersebut, pengunjung dapat menyumbangkan pakaian yang selanjutnya akan dikelola dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Project Director INDOFEST 2026, Niken Saraswati Ratnaningtyas, menjelaskan bahwa minat masyarakat terhadap kegiatan luar ruang terus menunjukkan tren positif, khususnya di kalangan generasi muda.

“Secara global, generasi Z menjadi salah satu kelompok yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap aktivitas outdoor. Fenomena yang sama juga terlihat di Indonesia. Aktivitas luar ruang semakin diminati karena mudah diakses, beragam, dan sesuai dengan kondisi alam serta iklim Indonesia,” ujar Niken.

Pada penyelenggaraan tahun ini, INDOFEST menghadirkan sekitar 80 brand perlengkapan outdoor, dengan komposisi sekitar 80 persen merupakan brand lokal dan 20 persen brand internasional. Kehadiran berbagai merek tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi produk-produk outdoor dalam negeri di pasar nasional.

Selain menghadirkan beragam produk dan inovasi terbaru, INDOFEST 2026 juga menawarkan berbagai program promosi menarik. Pengunjung dapat menikmati potongan harga hingga 70 persen untuk berbagai kategori produk selama pameran berlangsung.

“Kami berharap semakin banyak komunitas, perusahaan swasta, kementerian, maupun lembaga pemerintah yang berpartisipasi dalam pengembangan kegiatan outdoor di Indonesia. Ke depan, kami ingin aktivitas outdoor tidak lagi dipandang sebagai kegiatan minat khusus, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia,” katanya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, INDOFEST menargetkan kunjungan sebanyak 60.000 pengunjung dengan nilai transaksi mencapai Rp60 miliar. Target tersebut sejalan dengan optimisme terhadap pertumbuhan industri outdoor nasional yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk harga tiket masuk INDOFEST sebesar Rp75 ribu. Jam operasional pukul 10:00 - 21:00 WIB. Akan ada banyak pengisi hiburan di Indofest kali ini. Mulai dari Ten 2 Five Fiersa Besari, Mocca hingga Souljah.

UFO Jatuh ke Bumi, Tretan Muslim Berteman dengan Alien di Official Teaser Trailer & Poster Film Foufo

Film Foufo tayang 9 Juli 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 5 Juni 2026 — Setelah kehebohan yang menggemparkan Indonesia dan media sosial adanya kejatuhan UFO di Madura, kini gebrakan fenomenal dihadirkan oleh Skak Studios dan Sinemart, dengan menghadirkan film komedi sci-fi berjudul Foufo karya sutradara Bayu Skak. Dalam official teaser trailer yang dirilis, memperlihatkan UFO yang jatuh ke Bumi, dan membuat Tretan Muslim berteman dengan Alien.

Teaser trailer Foufo menampilkan benturan yang sangat lucu, saat alien berada di tengah-tengah keluarga Madura. Muslim sedang berusaha mendapat pinjaman bank untuk melunasi biaya haji ibunya.

​Di tengah keterdesakan itu, Muslim diajak temannya, Kacung, untuk mencuri rel kereta. Suatu malam, keduanya bersama ipar Muslim, Ipul pun melancarkan aksi mereka.

​Namun, di tengah aksi pencurian, tiba-tiba benda asing jatuh dari langit. Ketiganya pun lalu membawa pulang benda yang penuh besi tersebut dan gagal mencuri rel kereta. Saat di rumah, benda asing itu ternyata membawa penumpang yang membuat kaget seluruh anggota keluarga besar Muslim. Apa yang akan terjadi berikutnya?

​Sementara itu, dalam official teaser poster Foufo, menampilkan fokus terhadap sosok Foufo—sang alien yang jatuh ke Madura, dengan kepala bulatnya yang besar berantena, serta wajahnya yang berbinar tersenyum lugu. Di sebelahnya, hadir Tretan Muslim, yang akan menjadi kawan si alien tersebut.

​Film Foufo disutradarai oleh Bayu Skak, dengan produser eksekutif David Suwarto, dan produser Bayu Skak bersama Ricky R. Setiawan. Film ini menggabungkan elemen animasi dan live action, dan hampir 80% dari para pemerannya adalah casting saat di Madura.

​"Kami ingin membawa sesuatu yang baru di perfilman Indonesia, yakni komedi sci-fi. Cerita awalnya adalah sangat sederhana, bagaimana jika alien jatuh di Madura, dan dia bertemu dengan keluarga Madura? Itu menjadi sesuatu yang unik," ujar produser dan sutradara Bayu Skak.

​Keterlibatan Sinemart berkolaborasi dengan Skak Studios sendiri sudah dilakukan sejak awal proyek ini berjalan. Saat itu dimulai di JAFF Market 2024, di mana Sinemart dan Skak Studios mengumumkan kerja sama untuk memproduksi film Foufo.

​"Kami melihat ide dan cerita yang unik yang dibawa Bayu Skak, yang membuat Sinemart yakin untuk turut berkolaborasi di film Foufo. Film ini juga akan menjadi penawaran baru yang segar di perfilman Indonesia, dengan mengangkat cerita keluarga Madura, serta balutan komedi sci-fi yang menjadikannya unik," ujar produser eksekutif David Suwarto.

​Selain Tretan Muslim, film ini turut dibintangi di antaranya oleh Habib Jafar, Benedictus Siregar, Mieke Shahir, dan Siti Kamariyah. Foufo juga menjadi film pertama Tretan sebagai pemeran utama.

​"80% pemain film Foufo itu casting, bahkan ada yang tidak punya latar belakang sebagai aktor. Dan ini yang menjadikan filmnya menarik, karena Bayu Skak tidak mau menjadikan orang Jakarta sebagai orang Madura, tapi memang orang Madura yang menjadi orang Madura di filmnya. Foufo akan menjadi film yang unik karena mempertemukan alien dengan keluarga Madura," ujar Tretan Muslim.

​Film Foufo akan tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Ikuti informasi terbaru mengenai perkembangan film Foufo melalui akun Instagram resmi @filmfoufo, @skakstudios, dan @sinemart_ph.

Tentang Skak Studios

​Skak Studios adalah IP Studio Company yang mengusung konsep Hyper lokal lewat konten kreatif film hingga lokadrama yang menggunakan pemain putra-putri daerah atau kita menyebutnya dengan lokatalenta. Kini, Skak Studios dengan para foundernya yaitu Bayu Skak dan Ricky Ramadhan Setiyawan telah menghasilkan beberapa produk IP Character & Story dan berkolaborasi dengan beberapa Production House menelurkan karya-karya fenomenal dalam industri film seperti Yowis Ben, Lara Ati, Lokadrama Lara Ati dan Lokadrama Rujak Cingur Lek Har.

​Lokadrama Lara Ati yang ditayangkan di OTT, telah merebut hati penonton hingga 50 juta penonton dari seluruh Indonesia, ini menorehkan penonton terbanyak sepanjang sejarah OTT. Begitu pula Yowis Ben yang lebih dahulu mencatat sebagai film terlaris Indonesia sepanjang tahun 2018-2021. Yowis Ben juga masuk nominasi film favorit pada Indonesian Movie Actor Awards (2018), Pemenang Film Favorit Remaja pada Festival Film Bandung (2018), dan masuk nominasi Piala Maya untuk kategori Skenario Asli dan Pemain Pendatang Baru Terpilih (2019). Semua film dan lokadrama yang telah mendapatkan apresiasi ini semuanya menggunakan hampir 100% bahasa daerah dan talenta daerah.

Tentang Sinemart

​Sinemart, yang diambil dari 3 kata 'Sinema', 'Art', dan 'Mart', menggambarkan secara tepat apa visi dari perusahaan kami ini. Kami berusaha menciptakan sebuah campuran sempurna antara 'seni' dan 'dagang' melalui medium film. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerinduan akan menyampaikan cerita-cerita yang inspirasional merupakan fondasi kami untuk mengembangkan sebuah serial televisi atau film layar lebar.

​Sebuah cerita inspirasional tentunya subjektif dengan selera orang, namun cara kami menceritakan adalah yang membuat kami beda dari yang lain. Gaya cerita kami bisa digambarkan sebagai kombinasi dari artistik dan komersil, yang menurut kami sangat tepat sebagai penarik perhatian untuk berbagai umur dan latar belakang.

Float Rilis Single Terbaru "The Mirror Song ( Constant Changes )", Sebuah Anthem Perayaan Ketangguhan Diri


Merajut harmoni kehidupan melalui musik selama lebih dari dua dekade, band indie Indonesia, Float, kembali menyapa pendengarnya. Menyusul perilisan "Emily" dan "Dimabuk Cahaya", Float kini bersiap meluncurkan single ketiga mereka yang bertajuk "The Mirror Song ( Constant Changes ) ", Lagu baru Float ini bukan sekadar karya musik biasa, melainkan sebuah catatan emosional yang merayakan proses pendewasaan dan penerimaan diri.

Secara musikalitas, "The Mirror Song ( Constant Changes ) ", adalah sebuah anomali yang menyegarkan dari diskografi Float. Lagu ini hadir dengan tempo yang sangat upbeat, memberikan energi yang fun dan penuh semangat. Timur (Drummer) menyebutnya sebagai sebuah penjelajahan baru. "Temponya ini kayaknya tempo paling cepat dari semua lagunya Float. Ini temannya 'Stupido Ritmo' kalau dari bassline-nya Binsar. Sangat fun, dan saya nggak sabar buat bawain secara live," ungkap Timur.

Di balik nada cerianya, lagu ini membawa DNA lirik puitis khas Float yang digawangi oleh kolaborasi Hotma "Meng" Roni Simamora (Vokalis) dan Binsar Tobing (Bassist). Bait pembuka "Some of life’s changes / Hidden from your sight / Take shape in years / Too close for your eyes" menjadi refleksi bahwa manusia kerap kali tidak menyadari evolusi di dalam dirinya sendiri. "Liriknya bercerita tentang perubahan di dalam diri kita yang prosesnya makan waktu sangat lama, sehingga kita bahkan nggak pernah ngerasa proses itu terjadi. Semua pelajaran dari keseharian menyiapkan kita, sampai suatu saat kita dihadapkan pada masalah yang kita pikir nggak bisa kita hadapi, ternyata bisa," jelas Meng.

Tema tentang menerima perubahan (acceptance) dan terus melangkah ini terasa sangat mendalam bagi David Qlintang (Gitaris). Baginya, lagu ini adalah pengingat personal tentang perjalanannya membesarkan sang anak, Arel, yang menyandang ADHD. "Lagu ini menjawab kekhawatiran soal masa depan. Ke depannya itu udahlah kita nggak usah pikiran macam-macam, kita jalanin aja. Ini yang membuat saya, dan mungkin orang tua lain, tetap semangat," tutur David.

Sebagai kawan seperjalanan bagi para Floatmates, Float menyisipkan mantra penyemangat lewat lirik chorus: "Break a leg, give a shot / When in doubt, take a break / I’m here to listen." Pesan ini diperkuat oleh aransemen paduan suara megah yang diarahkan oleh Ria Septiani, membuktikan bahwa Float selalu hadir menawarkan ruang aman untuk merenung, beristirahat sejenak, lalu bangkit kembali. Lagu ""The Mirror Song ( Constant Changes ) ", rilis serentak di seluruh Digital Streaming Platform (DSP) seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music Mari dengarkan, dan rayakan setiap ketangguhan dalam perjalananmu bersama Float.(*)

Performed by : Float

Song composed by : Hotma Roni Simamora

Lyrics written by : Hotma Roni Simamora & Binsar Tobing

Produced by : Hotma Roni Simamora

Arranged by : Hotma Roni Simamora, Binsar Tobing, David Qlintang, Timur Segara

Vocal, acoustic guitar : Hotma Roni Simamora:

Bass : David Qlintang ,Binsar Tobing

Electric guitar : Binsar Tobing, David Qlintang

Drums : Timur Segara

Backing vocals : Candice Muljadi, Prilliyanka Joannetha Triharta

Backing Vocals : Jillian Moselle Tannesa, Alice Gwen Alice

Backing vocals directed by : Ria Septiani

Mixing engineer : Hotma Roni Simamora

Mastering engineer : Andi Anggoro

Cover artwork by : Dhiya Prana Widya

Monster Pabrik Rambut Tayang Mulai Hari Ini di Bioskop! Membawa Horor yang Berani, Mengkritisi Dunia Kerja yang Eksploitatif

Tonton Monster Pabrik Rambut sekarang di bioskop!

Jakarta, 4 Juni 2026 — Film terbaru persembahan Palari Films, karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut mulai tayang hari ini di bioskop Indonesia. Film horor fantasi yang berani mengkritisi tentang dunia kerja yang eksploitatif.

​Film yang dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev ini ditujukan untuk menghibur penonton Indonesia melalui kemasan horor fantasinya yang ajaib dengan latar di sebuah pabrik rambut. Namun juga tak meninggalkan sisi kritisnya terhadap isu sosial yang saat ini perlu dibicarakan bersama.

​"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monsternya. Yang mengeksploitasi mengeruk keuntungan pribadi, sementara yang dieksploitasi turut melanggengkan kondisi ini dengan normalisasi lembur yang tidak manusiawi. Keduanya saling menopang sistem yang perlu kita kritisi," ujar sutradara Edwin.

Monster Pabrik Rambut membawa kritik itu dalam balutan horor yang campy dan menghibur.

​Setelah press screening media yang digelar Senin lalu di Jakarta, akhirnya seluruh penonton Indonesia bisa menyaksikan sendiri Monster Pabrik Rambut di bioskop Indonesia hari ini. Film yang sudah lebih dulu mendunia lewat world premiere di Berlinale 2026 (Special Midnight), dan disambut antusias oleh penonton dan sinefil di berbagai penjuru dunia. Monster Pabrik Rambut segera berkompetisi di Fantasia, Montreal, 16 Juli-2 Agustus 2026.

​Di Letterboxd, para penonton menyebut film ini sebagai karya yang menggabungkan horor, thriller, surealisme, dan absurditas komedi menjadi sesuatu yang benar-benar milik sendiri. Di X, satu penonton menulis bahwa Monster Pabrik Rambut berhasil mengembalikan harapan dan optimisme pada era sinema Indonesia yang nyentrik dan hidup.

Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengaku tema film ini sangat dekat dengan dirinya. "Dulu, saya pun belum sadar bahwa kondisi kerja seperti itu adalah eksploitasi. Karena sistemnya sudah begitu, semua orang mewajarkan. Sama seperti di film ini, lembur dan begadang dianggap normal, padahal tidak," ungkap Amanda.

​Karakter Putri adalah cerminan nyata perempuan pekerja Indonesia. "Saya paham rasanya tidak punya pilihan selain bertahan di tempat yang tidak nyaman, demi menanggung keluarga. Itu dialami banyak perempuan, termasuk mereka yang sedang hamil atau punya kondisi khusus, dan film ini mengajak kita bertanya: apakah ini sudah adil?" tambahnya.

Lutesha, yang memerankan Ida, mengingatkan bahwa kelelahan kerja bukan hanya soal buruh pabrik. "Dampaknya sama saja, di mana pun kita bekerja. Kerja sampai sakit karena stres itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele," ujarnya.

Iqbaal Ramadhan, yang hadir sekaligus sebagai aktor dan Produser Eksekutif, melihat film ini sebagai cerminan pengalaman yang dirasakan hampir semua pekerja. "Kita mungkin sama-sama bisa mengamini, mau bekerja di lini apa pun, situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa jadi karena atasan yang killer, kolega yang saling tusuk dari belakang, atau ekspektasi yang dibebani secara berlebih sehingga kita harus mengorbankan kesehatan mental atau bahkan kesehatan fisik sebagai pekerja," ungkapnya.

Kev, yang menjadikan Monster Pabrik Rambut sebagai debut aktingnya di layar lebar, menemukan kedekatan personal lewat karakternya yang terasa lebih dari sekadar akting. Dari pengalaman itulah lahir OST "Kepala, Pundak, Kerja Lagi", sebuah lagu yang menggambarkan kelelahan kerja yang sudah terlalu lama dinormalisasi. "Dipanggil Palari itu kayak dipanggil pemerintah pusat, jadi kita selalu siap untuk bergabung di proyek ini," ujarnya.

Lima fakta yang membuat Monster Pabrik Rambut sulit untuk dilewatkan:

  • Film horor Indonesia pertama tanpa setan. Edwin memilih "monster" berupa sistem kerja yang tidak manusiawi, bukan hantu. Kengerian datang dari realita sehari-hari.
  • Ko-produksi lima negara. Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, menjadikannya salah satu proyek film Indonesia paling ambisius secara internasional.
  • Skenario ditulis bersama novelis Eka Kurniawan, salah satu penulis sastra Indonesia paling diakui secara global.
  • Semua efek dibuat secara praktikal, tanpa CGI. Setiap pengulangan adegan bisa memakan waktu hingga 30 menit karena seluruh elemen harus disiapkan ulang dari awal.
  • Rambut bukan sekadar latar. Edwin memilih rambut sebagai simbol tekanan kerja secara sadar: "Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih. Respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut."
Nonton Monster Pabrik Rambut bareng geng lembur kamu hari ini. Tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.

Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.


Sinopsis


PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial, la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan ida menyelamatkan Bona?

Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Fims adalah "Kabut Berduri (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018). "Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Kamis, 04 Juni 2026

Europe on Screen 2026 Hadirkan 55 Film Eropa Wajib Tonton dengan Tema dan Perspektif Beragam

Festival film Eropa terlama di Indonesia kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 di delapan kota dengan pemutaran film gratis, kehadiran tamu internasional, serta dukungan bagi sineas muda Indonesia.

Jakarta, 26 Mei 2026 – Festival Film Uni Eropa, Europe on Screen (EoS), kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 di delapan kota di Indonesia. Selama sebelas hari, para pencinta film dapat menikmati 55 film dari 28 negara Eropa yang diputar secara gratis di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Sidoarjo, dan Semarang.

​Memasuki edisi ke-26, Europe on Screen terus memperkuat posisinya sebagai festival film Eropa terlama di Indonesia sekaligus ruang pertemuan budaya antara Eropa dan Indonesia melalui sinema. Program tahun ini menghadirkan beragam tema, perspektif dan gaya sinematik, termasuk karya dari 31 sutradara perempuan dan 9 sineas debutan, yang mencerminkan komitmen festival terhadap inklusivitas dan keberagaman dalam dunia perfilman.

​"Europe on Screen bukan sekedar ruang untuk menayangkan film-film Eropa. Festival ini adalah jembatan budaya yang mempertemukan perspektif dan pengalaman Eropa serta Indonesia melalui sinema. Sejak awal diselenggarakan, EoS juga telah memutar film pendek Indonesia yang kemudian terseleksi di festival film internasional di Eropa. Kami percaya bahwa film memiliki kekuatan untuk membuka dialog, mempererat hubungan budaya dan membangun pemahaman lintas budaya melalui cerita-cerita yang relevan dan manusiawi," ujar Stéphane Mechati, Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

Sinema Eropa dengan Perspektif Segar dan Suara yang Beragam

Film pembuka festival tahun ini adalah The Baronesses (Les Baronnes), film drama komedi produksi bersama Belgia, Prancis dan Luksemburg tahun 2025 yang disutradarai oleh duo anak dan ibu, Nabil Ben Yadir dan Mokhtaria Badaoui. Film ini mengangkat kisah sekelompok perempuan lanjut usia di Brussels yang mencoba kembali mengejar mimpi mereka dengan mengadakan pertunjukan teater yang mereka bintangi sendiri. The Baronesses mendapat perhatian internasional setelah diputar di Namur International Francophone Film Festival serta meraih penghargaan Film Terbaik kategori Rebels with a Cause di Tallinn Black Nights Film Festival 2025 di Estonia.

​Sementara itu, film penutup festival adalah Atlas of the Universe (Atlasul Universului) merupakan film coming-of-age produksi bersama Rumania dan Bulgaria tahun 2026 karya sutradara Paul Negoescu. Film ini mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang melakukan perjalanan tak terduga demi menemukan sepatu kirinya yang hilang. Film ini tayang perdana di Berlin International Film Festival 2026 dalam kategori Generation Kplus dan meraih penghargaan Special Mention.

​"Melalui EoS 2026, kami berusaha menghadirkan film-film inklusif, baik dari sisi tema, perspektif, maupun para pembuat filmnya. Tahun ini kami sangat senang tetap dapat menampilkan karya dari sutradara perempuan dan filmmaker debutan yang membawa suara-suara baru di sinema Eropa. Kami berharap penonton Indonesia bisa menemukan cerita yang terasa dekat sekaligus memperluas perspektif mereka tentang kehidupan dan budaya di Eropa," ujar Nauval Yazid, Festival Co-Director Europe on Screen 2026.

SFPP Kembali Hadir Dukung Sineas Muda Indonesia

Tahun ini, Europe on Screen kembali menggelar Short Film Pitching Project (SFPP), sebuah program pendanaan dan pengembangan film pendek bagi sineas muda Indonesia. Antusiasme terhadap program ini terus meningkat setiap tahunnya. Pada EoS 2026, SFPP menerima 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bukit Tinggi, Riau, Jember, hingga Fakfak di Papua.

​"Tahun ini program Short Film Pitching Project di EoS memasuki tahun ke-9 dimana 23 film pendek sudah berhasil diproduksi oleh ratusan kru film Indonesia dan 50% dari film-film ini berhasil terseleksi di festival film internasional, baik di Indonesia, Eropa maupun di negara lain. Kami percaya program SFPP di EoS adalah bukti nyata bahwa festival film yang baik tak hanya memutar film tapi juga bisa memberikan dampak nyata bagi industri film secara keseluruhan," ujar Meninaputri Wismurti, Festival Co-Director Europe on Screen 2026.

​Salah satu juri SFPP 2026, Asmara Abigail, aktris Indonesia, juga melihat perkembangan menarik dari tema-tema yang diangkat para peserta tahun ini.

​"Saya lihat semakin beragam tema cerita yang masuk ke SFPP EoS 2026 dan ini penting untuk regenerasi sineas-sineas Indonesia. Banyak peserta yang berani mengangkat isu minoritas, identitas, kesehatan mental, dan pengalaman keseharian yang personal. Sebagai salah satu juri, hal ini sungguh merupakan tantangan yang menarik," ujarnya.

​Kesepuluh finalis SFPP EoS 2026 adalah:

  1. Catatan si Kumal karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya asal Sidoarjo.
  2. French Kiss karya Keanu Acyuta dan Arya Pradana Sasmita asal Jakarta.
  3. The Hating Guide karya Rifki Ardishas dan Aka Witharja asal Jakarta.
  4. Kabul karya Gabriela Vanesa Karolus dan Beny Kristia asal Jakarta.
  5. Karina in Male Dominated Field karya Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma asal Tangerang.
  6. The Last Supper karya Amara W. Tunggadewi dan Linda R. Marfuah asal Jakarta.
  7. Leader karya Takha Camilla Aisha A. dan Imam Syafii asal Klaten.
  8. Lemah karya Diko Pradiva dan Ilham Mustofa asal Surakarta.
  9. Lunchtime Monsters karya Gerry Fairus dan Dhita Intani asal Jakarta.
  10. A Medicine for Macho-Only karya Iqbal Keane K. dan Zacky M. Zakaria asal Yogyakarta.

Tamu Internasional dan Venue Baru Meriahkan Festival

EoS 2026 juga akan menghadirkan dua tamu dari industri perfilman Eropa: Damian McCann, sutradara film Aontas (2025) produksi Irlandia, serta Zar Donato, aktris utama film Maricel (2025) produksi Siprus. Kehadiran keduanya memberikan kesempatan bagi penonton, komunitas film dan pelaku industri perfilman Indonesia untuk berdiskusi langsung mengenai proses kreatif, produksi film serta perkembangan sinema Eropa saat ini.

​Selain itu, EoS 2026 juga menghadirkan sejumlah tempat pemutaran film baru, yaitu Alliance Française Semarang, Gedung Oudetrap Semarang, Bali Film School, Galeri Nasional, Komunitas Salihara, dan UNIKA Atma Jaya Jakarta. Dengan total 25 tempat pemutaran di delapan kota, kehadiran beberapa tempat pemutaran baru ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati festival sekaligus memperkuat hubungan EoS dengan komunitas film dan institusi pendidikan yang sudah terjalin selama ini.

​Seluruh pemutaran film Europe on Screen 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

​Informasi lengkap tentang jadwal, lokasi, sinopsis film dan kegiatan lain dapat diakses melalui situs resmi www.europeonscreen.org serta akun media sosial resmi EoS di Instagram, X, Facebook dan YouTube.

Tatiana Mannering Comeback Rapper Perempuan dengan Aura Percaya Diri Lewat Debut “Bae Bong Bong”


Passion Vibe resmi memperkenalkan Tatiana Mannering, seorang rapper dan penulis lagu Jakarta dengan latar belakang Indonesia-Australia, melalui single debutnya yang bertajuk 'Bae Bong Bong-sebuah lagu yang tidak sekadar didengarkan, tetapi yang dapat dipinjam auranya.

Tatiana bukan nama yang sepenuhnya asing. Sebelumnya dikenal sebagai Tat Mannerz, ia memulai perjalanan musikalnya dengan menulis puisi di bangku sekolah saat tinggal di Melbourne, Australia. Kegemarannya menuangkan kata-kata berkembang menjadi eksplorasi menulis lagu di atas free beats dari YouTube, hingga akhirnya merekam lagu pertamanya di Jakarta pada tahun 2018. Kini, setelah tujuh tahun berproses, ia menemukan rumah kreatifnya di Passion Vibe.

Passion Vibe melihat sesuatu yang langka dalam diri Tatiana: seorang rapper perempuan dengan ciri khas yang sulit disamakan. Di tengah lanskap hip-hop Indonesia, suaranya hadir dengan energi feminin yang percaya diri, penuh warna, dan cerdas secara emosional-sebuah kombinasi yang melengkapi roster rapper perempuan di label ini dengan cara yang elegan dan tak terbantahkan.

"Saya mendeskripsikan diriku sebagai artist yang membawa energi feminin, percaya diri, dan penuh warna," ungkap Tatiana Mannering. "Musikku adalah perpaduan antara catchy melodies, playful attitude, dan pesan-pesan yang mengingatkan pendengar untuk menghargai diri mereka sendiri." "Bae Bong Bong lahir dari sebuah momen spontan di studio-sebuah gumaman yang mengalir begitu saja saat Tatiana mencari flow di atas beat. "Bae Bong Bong came out while I was humming over the beat. It's like I'm feeling a vibe, channeling a version of me that's confident, classy, teasing, and fully knows her worth," kenangnya. Kata itu terasa begitu catchy di telinga Belanegara Abe dan Sumantri Limin yang saat itu berada di studio. Dari situlah seluruh lagu dieksplorasi.

Namun, 'Bae Bong Bong' bukan sekadar lagu dengan judul yang unik. Di baliknya, ada filosofi yang Tatiana pegang erat: kepercayaan diri adalah aura yang bisa dibagikan. Every song we listen to carries a certain energy that can influence our mood and emotions," jelasnya. "Bae Bong Bong is wrapped in an uplifting beat designed to boost your confidence and help you power through busy days. Listening to this song is like borrowing that high-energy aura whenever you need an extra boost of confidence, attitude, and good vibes in your daily life."

Bagi Tatiana, "Bae Bong Bong' bukan hanya debut-ini adalah pernyataan. Setelah tujuh tahun berproses di dunia musik, ia akhirnya merasa berada di tempat yang selama ini ia impikan. "After 7 years in music, I finally feel like I'm in the place I've always dreamed of. I've grown alongside a supportive team at Passion Vibe, become more confident in my journey, and found peace in the path I chose, ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Namun, justru dari segala lika-liku itulah lagu ini menemukan momentumnya. "Dengan semua lika-liku yang kulewati di karier musikku, now feels like the perfect time to release a song full of confidence like Bae Bong Bong. In many ways, this song is a reminder that I made it too-not just professionally, but internally. I no longer seek validation from others. I'm simply embracing who I am, and this song celebrates that energy."

Secara musikal, Bae Bong Bong adalah perpaduan antara hip-hop upbeat dan sentuhan. elektronik yang ringan namun bertenaga. Tatiana dan tim menerjemahkan dua elemen kunci-playful summer vibes dan feminine attitude-ke dalam aransemen yang segar dan sulit untuk tidak ikut bernyanyi. "It started with rapping with short bars and adding some shouts to complete the lines. It gives a soft feminine feel that makes you want to sing along, "jelas Tatiana. "The alpha female energy is present too, it blends well with the upbeat hip-hop/electronic sound to the song."

Lagu ini awalnya digarap oleh Belanegara Abe, namun kemudian Sumantri Limin masuk ke dalam proses dan merasakan potensi besar di dalamnya. Kolaborasi ketiganya di studio melahirkan. dinamika yang menyenangkan sekaligus menantang. "Bae Bong Bong and its recording process was so fun, but the hardest part was finding the perfect flow for this type of song because personally, I have never done anything like this, "aku Tatiana. "We pulled it off because we were on the same page in a lot of aspects."

Yang membuat 'Bae Bong Bong' terasa istimewa adalah eksperimen vokal yang Tatiana lakukan. "Di lagu ini aku banyak mainin nada dan mood-dari super chill, speaking softly, ke faster flow dan penyampaian yang makin meningkat energinya. Jadi, the overall new experience for me is to create a soft build-up with a touch of attitude. Ketika ditanya apa yang ingin ia tanamkan di benak. pendengar sebagai pernyataan pembuka kepada industri musik Indonesia, jawaban Tatiana singkat, tajam, dan sulit dilupakan.

"You don't need permission to be confident. Own it." Dan tentang momen apa yang paling cocok untuk mendengarkan 'Bae Bong Bong'-apakah saat berjalan ke pesta, bersiap-siap untuk malam yang menyenangkan, atau sekadar mengingatkan diri sendiri-Tatiana menolak memilih satu.

"I think it's all of the above. Lagu ini berasal dari 'confidence' di dalam diri, and when you're feeling that high energy, you can pull off anything you want and ever wish for. "Bae Bong Bong' akan disertai dengan video musik yang dirilis pada 5 Juni 2026 melalui kanal YouTube Passion Vibe-dua hari setelah perilisan resmi audio pada 3 Juni 2026. Konsepnya? "A playful summer world where confidence shines, feminine energy leads, and attitude becomes an aura everyone can borrow."

Mengenai apakah 'Bae Bong Bong' akan menjadi awal dari proyek yang lebih besar, Tatiana membiarkannya tetap menjadi misteri yang menggoda. "We'll never know. Maybe there will be a series of Bae Bong Bong songs, or maybe it'll simply remain a song that reminds people to be confident. Whatever it becomes, it's definitely a bright start." "Bae Bong Bong' ditulis oleh Tatiana Mannering, dengan produksi oleh Belanegara Abe dan Sumantri Limin. Passion Vibe bertindak sebagai label yang menaungi perilisan ini. Simak single debut Tatiana Mannering, 'Bae Bong Bong', yang akan sudah dirili seluruh digital streaming platform. Video musiknya akan menyusul pada 5 Juni 2026 di YouTube Passion Vibe.

Exeutive Producer : Passion Vibe
Performed By : Tatiana
Track Title : Bae Bong Bong
Mixed by : Sumantri Liminbe
Written by : Tatiana, Belanegara Abe, Sumantri Limin
Produced by : Sumantri Limin
Recorded at : Passion Vibe Compound Jakarta
Mixed by : Sumantri Limin

Naura Ayu Buka Babak Baru Lewat Album Paling Personal Berjudul “Cerita Penuh Cahaya”

Melalui tujuh lagu yang lahir dari pengalaman hidupnya, Naura berbagi kisah tentang bertumbuh, keluarga, persahabatan, kehilangan, dan proses beranjak dewasa Naura Ayu kembali menyapa pendengar melalui album terbarunya bertajuk Cerita Penuh Cahaya. Album ini menjadi album kelima dalam perjalanan bermusiknya, setelah album terakhir delapan tahun lalu. Karya ini hadir di momen yang sangat penting dalam kehidupan Naura, saat ia menginjak usia 21 tahun dan memasuki fase baru sebagai seorang perempuan muda yang tengah bertumbuh. Lebih dari sekadar album, Cerita Penuh Cahaya menjadi dokumentasi perjalanan emosional Naura selama beberapa tahun terakhir. Album ini merekam berbagai fase kehidupan yang ia lalui. Tentang bertahan di tengah hari-hari sulit, menghadapi kehilangan, belajar menerima diri sendiri, hingga menemukan kembali harapan dalam orang-orang yang dicintai.

“Album ini sangat spesial buat aku karena hadir di fase hidup yang juga sangat spesial. Setelah delapan tahun tidak merilis album, aku merilis Cerita Penuh Cahaya di usia 21 tahun, saat aku sedang mengalami banyak perubahan dan pertumbuhan sebagai individu. Buat aku, album ini adalah penanda babak baru, peralihan dari masa remaja menuju kedewasaan. Aku berharap lagu-lagu di dalamnya bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang merasa sendiri, sedang bertumbuh, atau sedang mencari cahaya di masa-masa sulit mereka,” ujar Naura Ayu.

Album ini dibuka dengan lagu berjudul Cerita Penuh Cahaya, sebuah intro yang hadir sebagai doa sekaligus pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit, bahkan setelah melewati hari-hari yang paling sulit. Lagu ini menjadi pembuka yang mengajak pendengar untuk tetap percaya bahwa selama masih diberi satu hari lagi untuk bernapas, selalu ada kesempatan baru dan harapan yang menunggu di depan.

Perjalanan kemudian berlanjut melalui Lampu Jalan, yang sebelumnya sudah dirilis sebagai single. Lagu ini merupakan sebuah refleksi tentang masa kecil yang terasa begitu sederhana dibandingkan kehidupan saat dewasa. Lewat lagu ini, Naura mengajak pendengar bernostalgia dengan diri mereka yang lebih muda, sekaligus mempertanyakan berbagai perubahan, tekanan, dan overthinking yang datang seiring bertambahnya usia.

Sisi yang lebih rapuh hadir dalam Apa yang Kurang?, lagu yang lahir dari pengalaman pengkhianatan dalam sebuah pertemanan yang pernah begitu berarti bagi Naura. Lagu ini menggambarkan perasaan ketika kepercayaan yang telah diberikan sepenuhnya justru berbalas luka, hingga membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya sendiri dan bertanya, “apa yang sebenarnya kurang dari diriku?”

Di Untukmu, yang Belum Kutemui, Naura berbicara tentang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih mencari seseorang untuk mengisi kekosongan, lagu ini menjadi surat bagi sosok yang belum hadir dalam hidupnya. Sebuah cerita tentang memilih bertumbuh,memulihkan diri, dan menjaga diri dengan baik sambil percaya bahwa cinta akan datang pada waktu yang tepat.

Salah satu lagu paling personal dalam album ini adalah Pilih Kalian Lagi. Ditulis sebagai kejutan untuk kedua orang tuanya, lagu ini menjadi ungkapan cinta dan rasa syukur atas keluarga yang telah membesarkannya. Melalui lagu ini, Naura menyampaikan bahwa di tengah segala perbedaan, kesalahpahaman, dan kekurangan yang dimiliki setiap keluarga, ia akan selalu memilih kedua orang tuanya lagi dan lagi.

Pesan penerimaan diri hadir melalui Tak Ada Tata Caranya. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak ada panduan sempurna untuk menjalani kehidupan. Setiap orang pernah merasa bingung, melakukan kesalahan, merasa kurang, atau berusaha terlihat kuat di hadapan banyak orang.

Melalui lagu ini, Naura mengajak pendengar untuk menerima bahwa tidak harus selalu baik-baik saja, karena menjadi manusia berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh.

Album ini ditutup dengan Terima Kasih, sebuah surat hangat yang dipersembahkan untuk para sahabat, teman sekolah, dan guru-guru yang telah menemani perjalanan hidupnya sejak kecil.

Berangkat dari kerinduan pada masa sekolah dan rasa syukur atas persahabatan yang tetap terjaga hingga hari ini, lagu ini menjadi penghormatan bagi orang-orang yang selalu membuatnya merasa diterima, pulang, dan tetap membumi di tengah berbagai perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam proses kreatif album ini, Naura bekerja sama dengan produser Ivan Tangkulung yang membantu menerjemahkan cerita-cerita personal tersebut ke dalam lanskap musikal yang lebih matang dan modern.

“Bagi saya, album ini menunjukkan metamorfosis Naura. Dari sisi sound dan gaya bermusik, album ini tetap mempertahankan identitas musikal yang selama ini dikenal dari Naura, tetapi hadir dengan sentuhan pop modern yang lebih matang. Prosesnya juga sangat kolaboratif.

Naura banyak berbagi cerita hidup dan referensi musik yang ingin ia hadirkan, sementara saya membantu menerjemahkan cerita-cerita tersebut melalui orkestrasi dan pendekatan produksi pop modern,” ujar Ivan Tangkulung.

Melalui Cerita Penuh Cahaya, Naura Ayu tidak hanya menandai kembalinya dirinya sebagai penyanyi dengan album setelah delapan tahun, tetapi juga membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup dan bermusiknya. Sebuah karya yang lahir dari pengalaman personal, namun pada akhirnya berbicara tentang hal yang dekat dengan banyak orang: bertumbuh, menerima, dan menemukan cahaya di tengah perjalanan hidup.

Album terbaru Naura Ayu, “Cerita Penuh Cahaya”, resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 4 Juni 2026.


NAURA AYU

Artist : NAURA AYU

Album Title : CERITA PENUH CAHAYA

Executive Producer: YONATHAN NUGROHO for TRINITY OPTIMA PRODUCTION

Produced by: IVAN TANGKULUNG

Tracklist :

1. INTRO: Cerita Penuh Cahaya

2. Lampu Jalan SONGLIST

3. Cerita Penuh Cahaya

4. Apa yang Kurang?

5. Untukmu, yang Belum Kutemui

6. Tak Ada Tata Caranya

7. Pilih Kalian Lagi

8. Terima Kasih


Trinity Optima Production (TOP)

Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi “Nurturing STARS to Inspire Happiness”, TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent,perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Mengenal Edwin, Sutradara Indonesia Pemenang Banyak Penghargaan!‎Selalu Membawa Eksperimen dan Eksplorasi Sinematik Termasuk di Film Terbarunya Monster Pabrik Rambut

Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 28 Mei 2026 - Edwin adalah salah satu sutradara Indonesia yang memiliki rekam jejak filmografi menawan. Salah satu prestasi tertingginya adalah filmnya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) memenangkan penghargaan utama di ajang festival film internasional, yakni Golden Leopard di Locarno International Film Festival.
‎Kini, Edwin akan merilis film terbarunya, Monster Pabrik Rambut, yang akan tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Film ini juga telah berkeliling di berbagai festival film internasional. Monster Pabrik Rambut tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Dilanjutkan dengan tayang di Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026, dan tayang di Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.
‎Monster Pabrik Rambut menjadi film panjangnya kedelapan. Sebelumnya, Edwin telah menggarap film panjang Kabut Berduri (2024), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Aruna & Lidahnya (2018), Posesif (2017), Someone's Wife in the Boat of Someone's Husband (2013), Postcards from The Zoo (2012), dan Babi Buta yang Ingin Terbang (2008).
‎Film-filmnya telah tayang di berbagai festival film internasional dan mendapat berbagai penghargaan. Lewat filmografinya termasuk di film pendeknya, Edwin telah meraih 28 nominasi dan 15 kemenangan di berbagai ajang festival baik di dalam negeri maupun internasional. Di antaranya di FFI ia memenangkan 4 Piala Citra. Edwin juga mendapat anugerah penghargaan Edward Yang New Talent Award di Asian Film Awards 2012.
‎Dikenal lebih dulu di skena perfilman independen, Edwin dinilai mampu memadukan eksplorasi berbagai elemen di setiap film-filmnya, termasuk film-film yang dinilai lebih naratif. Edwin selalu menawarkan kebaruan pendekatan dengan imajinasi sinematiknya yang fantastis.
‎Di film Postcards from The Zoo misalnya, Edwin menghadirkan seorang pesulap koboi misterius (Nicholas Saputra) di Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Di film Aruna & Lidahnya, Edwin menampilkan fantasinya dalam mimpi Aruna (Dian Sastrowardoyo). Di Kabut Berduri, Edwin menghadirkan sosok misterius di tengah pedalaman hutan yang selalu menjadi bayang ketakutan dari Sanja (Putri Marino). 
‎"Ketika membuat film saya selalu ingin memahami karakter-karakter yang ada di kehidupan kita. Ada semacam eksperimen yang harus terus dilakukan untuk mengupayakan menunjukkan dan menampilkan manusia semaksimalnya," ujar Edwin tentang eksplorasi di setiap filmnya.
‎Di film Monster Pabrik Rambut, Edwin juga menampilkan sisi ajaib dan fantastisnya lewat karakter Monster dan Bona (Iqbaal Ramadhan). Di film ini, Edwin menghadirkan tubuh karakter manusia yang selalu bisa tumbuh kembali layaknya amfibi endemik Meksiko Axolotl.
‎"Di Monster Pabrik Rambut ini ada elemen fantasi, ada monster yang harus dibuat, dan ada sisi fantasi seperti tangannya si Bona, yang diperankan Iqbaal, itu meski putus, bisa muncul lagi. Dan itu belum pernah saya buat dan jelajahi sebelumnya," tambah Edwin.
‎Hal itu juga yang membuat Iqbaal Ramadhan tertarik untuk memerankan karakter Bona, sekaligus terlibat sebagai produser eksekutif di film ini. "Menurutku Monster Pabrik Rambut memberikan opsi baru bagi perfilman Indonesia. Ini adalah horor yang seru, fantasi, dan ajaib. Dan aku tampil sangat berbeda di film ini, belum pernah aku lakukan sebelumnya," ujar Iqbaal Ramadhan.
‎Tonton keajaiban dan kefantastisan sinematik Edwin dalam film horor fantasi terbaru Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfiiman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas. 

Monster Pabrik Rambut Bukan Sekadar Film Horor Ketika Layar Lebar Mencerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini

Jakarta, 5 Juni 2026 - Resmi meluncur di bioskop sejak 4 Juni 2026, Monster Pabrik Rambut membuka diskusi mendalam dengan mengangkat kenger...