Sabtu, 31 Oktober 2026

SOLD OUT! UNGU RAYAKAN 30 TAHUN PERJALANAN MUSIK LEWAT KONSER

ANTAM Presents

Ungu – Waktu Yang Dinanti: Final Chapter

Promoted by TipTip.id

30 LAGU NOSTALGIA. SATU PANGGUNG. 30 TAHUN PERJALANAN MUSIK UNGU 

image.jpeg 

ANTAM Presents UNGU: Waktu Yang Dinanti – Final Chapter sukses menghadirkan perayaan tiga dekade perjalanan musik UNGU di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, bersama ribuan Cliquers dan penampilan spesial Lesti Kejora, Rossa, Andien, Kiesha Alvaro, serta Zara Leola.

Jakarta - Sabtu, 31 Oktober 2026 — Grup musik legendaris Indonesia, UNGU, sukses merayakan tiga dekade perjalanan berkaryanya melalui konser “ANTAM Presents UNGU: Waktu Yang Dinanti – Final Chapter” yang berlangsung di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada Jumat (30/10). Dipromotori oleh TipTip.id dan didukung oleh Trinity Entertainment Network, konser yang tiketnya terjual habis (sold out) ini menjadi momentum istimewa yang mempertemukan perjalanan panjang UNGU dengan antusiasme para penggemarnya, Cliquers, dalam sebuah perayaan musik lintas generasi.

image.jpeg

Digelar mulai pukul 19.30 WIB, konser ini menghadirkan 30 lagu yang merangkum perjalanan musikal UNGU selama 30 tahun di industri musik Tanah Air. Deretan karya yang telah melekat di hati pendengar dibawakan sebagai bagian dari perayaan atas perjalanan, konsistensi, dan kedekatan emosional yang telah terbangun antara UNGU dan para penggemarnya selama tiga dekade.

Mengusung tajuk Waktu Yang Dinanti – Final Chapter, konser ini menandai sebuah babak istimewa dalam perjalanan musikal UNGU. Bukan sekadar pertunjukan, malam tersebut menjadi ruang untuk kembali merayakan lagu-lagu yang telah menemani berbagai fase kehidupan pendengarnya, sekaligus mengenang perjalanan panjang sebuah band yang karya-karyanya terus hidup lintas generasi.

 30 LAGU NOSTALGIA, TIGA DEKADE KENANGAN

Sepanjang pertunjukan, UNGU mengajak Cliquers menelusuri perjalanan musik mereka melalui 30 lagu yang merepresentasikan beragam fase perjalanan karier band tersebut. Mulai dari lagu-lagu yang mengukuhkan identitas musikal UNGU hingga karya-karya yang terus dinyanyikan bersama oleh para penggemarnya, setiap penampilan menghadirkan kembali cerita dan kenangan yang telah menjadi bagian dari kehidupan banyak pendengar.

Lagu-lagu seperti “Demi Waktu”, “Cinta Dalam Hati”, “Kekasih Gelapku”, “Tercipta Untukku”, “Andai Ku Tahu”, dan “Waktu Yang Dinanti” menjadi bagian dari repertoar yang memperkuat nuansa nostalgia sepanjang konser.

Antusiasme Cliquers turut menciptakan suasana penuh energi dan kehangatan. Kebersamaan antara band dan penonton menjadi gambaran nyata bagaimana musik mampu melampaui batas generasi, menghadirkan kembali kenangan, serta mempertahankan ikatan emosional yang terbentuk melalui karya-karya yang menemani perjalanan hidup pendengarnya.

Konser ditutup melalui sesi encore dengan lagu “Bayang Semu”, melengkapi rangkaian pertunjukan yang merayakan tiga dekade perjalanan UNGU bersama Cliquers.

Berikut daftar lagu yang dibawakan dalam konser “ANTAM Presents UNGU: Waktu Yang Dinanti – Final Chapter”:

1.     Karena Dia Kamu

2.     Ciuman Pertama

3.     Percaya Padaku

4.     Sejauh Mungkin

5.     Berikan Aku Cinta

6.     Saat Bahagia feat. Andien

7.     Cinta Gila

8.     Seperti Yang Dulu

9.     Cinta Dalam Hati

10.  Hati Yang Kau Sakiti feat. Rossa

11.  Tercipta Untukku

12.  Laguku – Zara Leola feat. Kiesha Alvaro

13.  Itu Yang Terbaik

14.  Aku Bukan Pilihan Hatimu

15.  Cinta Yang Lain

16.  Para Pencarimu

17.  Dengan Nafasmu

18.  Andai Ku Tahu

19.  Bismillah Cinta feat. Lesti Kejora

20.  Udang Dibalik Batu feat. Lesti Kejora

21.  Utara Selatan

22.  Luka Di Sini

23.  Di Sini Untukmu

24.  Untuk Selamanya

25.  Waktu Yang Dinanti

26.  Kekasih Gelapku

27.  Demi Waktu

28.  Hampa Hatiku

29.  Seperti Mati Lampu

30.  Bayang Semu (Encore)

image.jpeg

KOLABORASI LINTAS GENERASI MERIAHKAN PANGGUNG

Perayaan tiga dekade UNGU semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah bintang tamu, yaitu Lesti Kejora, Rossa, Andien, Kiesha Alvaro, dan Zara Leola. Kehadiran mereka menambah dimensi tersendiri dalam konser, mempertemukan karakter musikal dan generasi yang berbeda dalam satu panggung perayaan.

Kolaborasi tersebut memperkuat pesan bahwa perjalanan musik UNGU tidak hanya berkaitan dengan karya yang telah dihasilkan, tetapi juga dengan pengaruh dan kedekatan yang terus terbangun bersama musisi serta pendengar lintas generasi.

Melalui konser ini, Waktu Yang Dinanti – Final Chapter menghadirkan pengalaman yang menyatukan nostalgia dan semangat untuk terus merayakan musik Indonesia. Kehadiran para bintang tamu turut memperkaya perayaan perjalanan UNGU, sekaligus memberikan pengalaman istimewa bagi Cliquers yang memenuhi Tennis Indoor Senayan.

ANTAM HADIR DALAM PERAYAAN LEGASI MUSIK INDONESIA

Sebagai Presenting Partner, ANTAM hadir dalam perayaan perjalanan panjang UNGU yang telah menjadi bagian dari perkembangan musik populer Indonesia. Kolaborasi ini mempertemukan dua perjalanan yang dibangun melalui konsistensi, nilai, dan kedekatan dengan masyarakat.

Selama tiga dekade, UNGU telah menghadirkan karya-karya yang menemani berbagai fase kehidupan pendengarnya. Lagu-lagu mereka tidak hanya dikenal melalui popularitasnya, tetapi juga melalui kenangan dan ikatan emosional yang terbentuk bersama para penggemar.

Semangat tersebut selaras dengan pentingnya menjaga nilai dan legasi agar tetap relevan dari generasi ke generasi. Melalui dukungannya dalam konser ini, ANTAM turut menjadi bagian dari sebuah perayaan yang mengapresiasi perjalanan, pencapaian, dan kontribusi musik dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

image.jpeg

TIPTIP.ID HADIRKAN PERAYAAN MUSIK BERSKALA BESAR

Sebagai promotor, TipTip.id menghadirkan “ANTAM Presents UNGU: Waktu Yang Dinanti – Final Chapter” sebagai perayaan atas perjalanan 30 tahun UNGU sekaligus pengalaman konser yang mempertemukan musisi dan penggemar dalam satu momentum istimewa.

Status sold out mencerminkan tingginya antusiasme publik terhadap UNGU dan karya-karyanya yang tetap memiliki tempat kuat di hati pendengar. Pencapaian ini juga menegaskan bahwa karya yang dibangun melalui perjalanan panjang dapat terus menemukan relevansinya di tengah perkembangan industri musik dan perubahan generasi.

Didukung oleh Trinity Entertainment Network, konser ini menjadi wujud kolaborasi dalam menghadirkan pertunjukan musik yang tidak hanya mengedepankan pengalaman hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk merayakan karya dan perjalanan musisi Indonesia.

Melalui penyelenggaraan konser ini, TipTip.id terus mengambil bagian dalam menghadirkan pengalaman hiburan yang mempertemukan musik, komunitas penggemar, dan mitra pendukung dalam sebuah perayaan yang bermakna.

TIGA DEKADE PERJALANAN, KENANGAN YANG TERUS HIDUP

“ANTAM Presents UNGU: Waktu Yang Dinanti – Final Chapter” menjadi momentum untuk merayakan perjalanan sebuah band yang telah tumbuh bersama para pendengarnya selama 30 tahun. Melalui 30 lagu, kolaborasi bersama para bintang tamu, serta antusiasme Cliquers yang memenuhi Tennis Indoor Senayan, konser ini menghadirkan kembali berbagai cerita yang telah melekat dalam perjalanan musik UNGU.

Dengan seluruh tiket terjual habis, malam tersebut menegaskan bahwa hubungan antara musisi dan penggemar dibangun bukan hanya melalui pertunjukan, melainkan juga melalui karya yang terus hidup dalam ingatan dan pengalaman personal pendengarnya.

Bagi UNGU dan Cliquers, Waktu Yang Dinanti – Final Chapter menjadi perayaan atas perjalanan yang telah dilalui bersama. Sebuah pengingat bahwa waktu dapat terus berjalan, tetapi lagu-lagu yang memiliki makna akan selalu menemukan tempatnya di hati mereka yang tumbuh bersamanya.

Informasi Tentang Acara

Nama Acara

ANTAM Presents Ungu: Waktu Yang Dinanti - Final Chapter

Tanggal

Jumat, 30 Oktober 2026

Waktu

19.30 WIB

Lokasi

Tennis Indoor Senayan, Jakarta

Bintang Tamu

Lesti Kejora, Rossa, Andien, Kiesha Alvaro dan Zara Leola

Promotor

TipTip

Didukung Oleh

Trinity Entertainment Network

Tiket

Sold Out

"UNGU – Waktu Yang Dinanti: Final Chapter (30 Tahun Berkarya)" telah diselenggarakan pada Jumat, 30 Oktober 2026, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Dipromotori oleh TipTip.

Jumat, 30 Oktober 2026

Apa Rahasia Asrama Putri Cempaka? Film ORANG SEBELAH Rilis Poster dan Trailer

Terinspirasi dari kisah nyata, film ORANG SEBELAH mengajak penonton mengikuti perjalanan lima mahasiswa yang berhadapan dengan teka-teki yang penuh tanda tanya.

​Jakarta, 30 Oktober 2026 — Seberapa jauh seseorang berani mencari jawaban ketika sebuah teka-teki menyimpan sesuatu yang tak terduga? Pertanyaan tersebut menjadi awal rasa penasaran yang diperkenalkan melalui peluncuran official poster dan official trailer film ORANG SEBELAH. Diproduksi oleh AVANTGARDE PRODUCTION, yang disutradarai oleh Chiska Doppert. Mengangkat kisah lima mahasiswa yang berusaha memecahkan sebuah teka-teki, film ini menghadirkan rangkaian misteri yang perlahan membuka pertanyaan baru di sepanjang perjalanan mereka. Film ORANG SEBELAH dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.

​Asrama Putri Cempaka menjadi sebuah pencarian yang memancing rasa penasaran. Berbekal keinginan untuk mengungkap teka-teki dan membagikan pengalaman mereka melalui konten, kelima mahasiswa itu memulai perjalanan dengan banyak pertanyaan yang masih tersimpan. Apa yang awalnya terlihat seperti pencarian untuk menghasilkan konten, kemudian menjadi bagian dari misteri yang ingin diungkap melalui film ini.

​Terinspirasi dari kisah nyata, ORANG SEBELAH membawa cerita yang terasa dekat dengan kehidupan, sekaligus menyisakan pertanyaan bagi penonton untuk menerka apa yang sebenarnya terjadi. Melalui official poster dan trailer yang diperkenalkan, penonton mulai mendapatkan gambaran mengenai perjalanan kelima mahasiswa.

​Selain menghadirkan teka-teki dan ketegangan horor, ORANG SEBELAH juga dibalut drama kehilangan orang tersayang yang memberikan lapisan emosional pada ceritanya. Unsur ini membuat penonton tidak hanya merasakan ketegangan saat mengikuti misteri yang dihadirkan, tetapi juga terhubung dengan sisi emosional para karakter.

​"Melalui ORANG SEBELAH, kami ingin menghadirkan pengalaman horor yang tidak hanya mengandalkan misteri dan ketegangan, tetapi juga menyentuh sisi emosional penonton melalui kisah kehilangan orang tersayang. Harapan kami, film ini bisa membuat penonton ikut merasakan perjalanan emosional para karakter, sekaligus membawa pulang pengalaman menonton yang membekas setelah film berakhir," ujar Samina Purnawan sebagai Eksekutif Produser.

​Pencarian yang dilakukan Evelyn (Cassandra Lee) dan temannya menjadi titik awal perjalanan yang dipenuhi tanda tanya. Setiap petunjuk membuka kemungkinan baru, sementara jawaban yang dicari justru memunculkan rasa penasaran lebih jauh. Berangkat dari rasa penasaran, ORANG SEBELAH mengajak penonton untuk ikut menyusun potongan-potongan teka-teki dan mencari tahu bagaimana kisah ini akan terungkap.

​"Yang menarik dari ORANG SEBELAH adalah bagaimana rasa penasaran bisa membawa seseorang masuk ke dalam situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Lima mahasiswa ini datang dengan tujuan memecahkan teka-teki dan menjadikannya konten. Saya ingin membangun cerita yang membuat penonton ikut bertanya-tanya, mencoba membaca petunjuk, dan terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Chiska Doppert.

​Lewat perjalanan lima mahasiswa dalam memecahkan teka-teki di Asrama Putri Cempaka, film ini ingin mengajak penonton ikut menelusuri petunjuk dan merangkai berbagai kejanggalan yang mereka temui. Berawal dari keinginan membuat konten, pencarian tersebut menjadi pintu masuk menuju cerita yang menyimpan banyak tanda tanya.

​"Menurutku, yang menarik dari cerita ORANG SEBELAH adalah perjalanan lima mahasiswa yang awalnya ingin memecahkan teka-teki di Asrama Putri Cempaka untuk dijadikan konten. Dari situ, mereka mulai menemukan berbagai petunjuk dan kejanggalan yang membuat pencarian ini semakin menarik untuk diikuti. Aku merasa penonton juga bisa ikut bertanya-tanya dan mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi, sampai akhirnya menemukan jawaban dari misteri yang dihadirkan dalam film ini," ujar Cassandra Lee.

​Melalui peluncuran poster dan trailer, ORANG SEBELAH memperkenalkan sekilas atmosfer serta konflik yang mengiringi perjalanan para karakternya. Alih-alih mengungkap seluruh jawaban sejak awal, ini justru menjadi pintu masuk bagi penonton untuk mengenal misteri yang dihadirkan filmnya.

​Selain Cassandra Lee, ORANG SEBELAH turut dibintangi oleh Esta Pramanita, Lunafathia, Savira Aulia, Sadiya Eisye, Ryuken Lie, Yando Adrian, Monique Henry dan Ananda George.

​Persembahan AVANTGARDE PRODUCTION yang disutradarai oleh Chiska Doppert, ditulis oleh Ery Sofid. Film ini diproduksi oleh Maya Savitri dan Jhony Fam dengan associate produser Yeyet Sugriyati, dan Samina Purnawan sebagai Produser Eksekutif.

​Kini, pertanyaannya adalah: Sudah siap mencari teka-teki dan mengikuti perjalanannya? Jawabannya akan terungkap ketika ORANG SEBELAH tayang di bioskop pada 26 November 2026.

​Ikuti informasi terbaru mengenai ORANG SEBELAH melalui akun media sosial resmi film ini di @filmorangsebelah dan @avantgarde.tv serta temukan jawabannya di bioskop Indonesia.

​Sinopsis

Evelyn masih berduka atas kematian ibunya dan berusaha fokus menjalani perkuliahan sambil menjaga adiknya, Lala. Suatu hari, Evelyn dan temannya mendengar kisah misterius yang meneror penghuni Asrama Putri. Rasa penasaran membuat Evelyn dan teman-temannya tertarik mengungkap misteri tersebut melalui sebuah konten. Namun, pencarian mereka justru membawa teror yang mengancam keselamatan, sekaligus membuka rahasia kelam yang menguji keberanian dan ikatan mereka.

​Fact Sheet

  • ​Genre Film : Dark, Horor

  • ​Eksekutif Produser : Samina Purnawan

  • ​Produser : Maya Savitri, Jhony Fam

  • ​Sutradara : Chiska Doppert

  • ​Penulis : Ery Sofid

  • ​DOP : Rizal Wimba

  • ​Produksi : AVANTGARDE PRODUCTION

​Pemain

  • ​Cassandra Lee

  • ​Ryuken Lie

  • ​Esta Pramanita

  • ​Lunafathia

  • ​Savira Aulia

  • ​Sadiya Eisye

  • ​Yando Adrian

  • ​Monique Henry

  • ​Ananda George

Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono Tebar Romantisme dalam Official Trailer Film Yang Datang Dan Yang Pergi, Reuni Bersama Sutradara Nurman Hakim dan Nan Achnas

​Film Yang Datang Dan Yang Pergi tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026

​Jakarta, 30 Oktober 2026 — Dian Sastrowardoyo tampil manis dalam peran terbarunya di film persembahan Triximages & Dash Pictures, Yang Datang Dan Yang Pergi, yang akan tayang di bioskop mulai 3 Desember 2026. Di film ini, Dian akan terlibat romansa bersama Roy Sungkono, dalam sebuah guest house yang telah menjadi warisan keluarga, serta kisah di antara datang dan perginya kabut pegunungan.

​Dalam official trailer Yang Datang Dan Yang Pergi, menampilkan kisah yang mengikuti Sinta (Dian Sastrowardoyo). Sinta bertemu dengan orang-orang yang datang dan pergi di guest house tua milik keluarganya, yang penuh dengan rahasia dan memori. Banawan (Roy Sungkono), laki-laki yang merupakan teman masa kecilnya hadir kembali ke kehidupan dewasa Sinta. Beberapa laki-laki lain yang juga menjadi tamu, datang dan pergi di tempat itu, menanam harapan dan cinta pada Sinta.

​Ditulis, diproduseri, dan disutradarai oleh Nurman Hakim bersama Nan Achnas, film Yang Datang Dan Yang Pergi juga menjadi reuni keduanya bersama Dian. Dian sebelumnya berkolaborasi bersama Nurman lewat film 3 Doa 3 Cinta (2008), sementara bersama Nan, Dian menjalani karier awalnya di industri perfilman lewat Pasir Berbisik (2001) yang fenomenal dan ikonik.

​Selain Dian dan Roy, Yang Datang Dan Yang Pergi juga dibintangi oleh Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Selain Dian yang kembali reuni dengan Nurman dan Nan, aktor Dimas Aditya juga kembali reuni dengan Nurman Hakim, yang sebelumnya keduanya berkolaborasi di film Bid'ah Cinta (2017).

​"Melalui film Yang Datang dan Yang Pergi, kami ingin mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan tersebut untuk menentukan masa depannya. Setiap generasi tentunya mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, tidak semua cerita harus berakhir dengan cara yang sama," ujar penulis, produser, dan sutradara Nurman Hakim.

​Bagi Nan Achnas, kisah di film Yang Datang Dan Yang Pergi, yang mengikuti karakter utama perempuan bernama Sinta dalam menentukan arah hidupnya di tengah kekangan dan warisan keluarga, perempuan memiliki pilihan dalam menentukan kehidupan mereka. 

Alih-alih sekadar menawarkan drama romantis, Yang Datang Dan Yang Pergi juga membicarakan tentang pergulatan perjalanan perempuan dalam menemukan identitasnya, menghadapi krisis kehidupan, serta memilih keputusan tanpa terganggu oleh lingkungan sekitarnya.

​"Setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin ditinggalkan. Bagi perempuan, pilihan tersebut juga berkaitan dengan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, di film ini, Dian sangat kuat memerankan Sinta yang sedang menceritakan fase-fase kehidupannya," ujar penulis, produser, dan sutradara Nan Achnas.

​Dian Sastrowardoyo, yang memerankan karakter Sinta, mengungkapkan antusiasmenya saat kembali reuni dengan Nurman dan Nan setelah sekian lama lewat karya terbaru. Bagi Dian, film Yang Datang Dan Yang Pergi memberikan perspektif tentang perempuan, warisan, dan pilihan hidup.

​"Di film ini, karakter Sinta diperlihatkan sebagai perempuan yang bukan hanya sebagai penerima warisan masa lalu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pilihan terhadap masa depannya, dan menurut saya itu juga sangat merefleksikan apa yang dialami oleh banyak perempuan hingga saat ini," ujar Dian Sastrowardoyo.

​Bagi Roy, film Yang Datang Dan Yang Pergi memberinya pengalaman baru. Di film ini, Roy dan Dian untuk pertama kalinya dipasangkan sebagai pasangan romansa, lewat karakter Banawan dan Sinta, yang menampilkan dinamika unik, hangat, dan penuh menyimpan rahasia.

​"Banawa adalah orang lama dari masa lalu Sinta, yang kembali datang di kehidupannya saat dewasa. Guest house tua keluarga Sinta di film ini akan menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, yang memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga bisa mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya," ujar Roy Sungkono.

​Film Yang Datang Dan Yang Pergi akan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026. Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram @filmyangdatang. 

Cerita ini dikisahkan melalui sudut pandang Sinta (Dian Sastrowardoyo) di masa lalu, yang disampaikan di masa kini, mengenai orang-orang yang datang dan pergi di sebuah guest house tua milik keluarga Sinta yang penuh dengan rahasia dan memori. Terutama kisah Sinta dengan seorang laki-laki teman masa kecilnya yang hadir pada masa kini.

​Beberapa laki-laki lain yang datang dan pergi di tempat itu, menanam harapan, cinta dan juga melakukan pengkhianatan pada Sinta, yang kemudian membawa masalah pada Sinta dan keluarganya.

​Kisah ini terjadi dalam tiga periode waktu berbeda (1965, 1999, dan 2026) yang melibatkan sejarah keluarga Sinta dan guest house tua milik keluarga.

​Tentang TRIXIMAGES

​Triximages adalah production house yang didirikan oleh Nan Achnas dan Nurman Hakim, yang bergerak dalam pembuatan karya audio-visual berkualitas seperti film panjang dan film dokumenter. Proyek pertama production house ini adalah film bioskop berjudul Bendera (The Flag) disutradarai oleh Nan Achnas, terpilih untuk berkompetisi di Tokyo International Film Festival 2003.

​Film The Photograph memenangkan penghargaan Grand Prix di Karlovy-Vary International Film Festival. Film 3 Doa 3 Cinta (Pesantren: 3 Wishes 3 Loves) disutradarai oleh Nurman Hakim, memenangkan Grand Jury Prize di Vesoul International Film Festival dan penghargaan Film Terbaik di Jakarta International Film Festival (Jiffest). Pada tahun 2011 film panjang kedua karya Nurman Hakim yang berjudul Khalifah memenangkan Audience Award di Vesoul 2012. Pada tahun 2016, Triximages berkolaborasi dengan Dash Pictures merilis film berjudul The Window, yang ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

​Pada tahun 2026, untuk kedua kalinya bersama Dash Pictures, Triximages memproduksi film baru berjudul Yang Datang dan Yang Pergi yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Roy Sungkono dan Dimas Aditya.

​Tentang DASH PICTURES

​Dash Pictures adalah production house yang didirikan oleh M. Rochadi. Produksi film bioskop pertamanya berjudul The Window (2016), join produksi dengan Triximages Production. Film tersebut disutradarai oleh Nurman Hakim. Film panjang ke-2 berjudul Yang Datang Dan Yang Pergi (2026), juga join produksi dengan Triximages production dam disutradarai oleh Nurman Hakim.

Kamis, 29 Oktober 2026

Film Gak Masuk Akal Tayang Januari 2027, Komedi-Horor Bertabur Bintang, Seperti Kamal Rasyid, Sahil Mulachela, Luna Maya, Anya Geraldine, Amanda Manopo, Ria Ricis dan Vior

​Film Gak Masuk Akal tayang Januari 2027 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 29 Oktober 2026 — Setelah sukses dengan berbagai judul horor dan drama, Leo Pictures kini mempersembahkan film genre komedi-horor lewat Gak Masuk Akal, dari produser Agung Saputra, kreator Hadrah Daeng Ratu, dan sutradara Deni Saputra. Film Gak Masuk Akal akan tayang di bioskop Indonesia pada Januari 2027.

​Film Gak Masuk Akal menjadi kolaborasi terbaru bagi Agung Saputra dan Leo Pictures bersama Hadrah Daeng Ratu, setelah sukses Jangan Buang Ibu yang meraih 3.3 juta lebih penonton di bioskop tahun ini. Bintang muda Asha Assuncao dan Aqeela Calista turut menjadi produser eksekutif di film ini.

​Melalui Gak Masuk Akal, Leo Pictures menghadirkan cerita yang belum pernah disentuh sebelumnya, tentang kisah tiga pengangguran yang membuka praktik perdukunan demi bertahan hidup.

​Film Gak Masuk Akal dibintangi oleh Kamal Rasyid yang akan memerankan Iman, Sadana Agung (Suparno), Bonar Manalu (Togar), Luna Maya (Nia), dan Anya Geraldine (Lilis). Tak hanya mereka, film Gak Masuk Akal turut dibintangi sederet nama top dari jajaran komika, selebgram, penyanyi, hingga aktor senior.

​Gak Masuk Akal turut diramaikan oleh rekan siaran Kamal, Sahil Mulachela, serta Amanda Manopo, Oki Rengga, Asri Welas, Ria Ricis, Nita Vior, Harashta, Sridevi DA, Jarwo Kwat, Nunung, Afan DA, Antonio Blanco Jr, Agung Karmalogy, Radja Nasution, Sania Leonardo, Anisa Marbun, Rif at, Mpok Atiek, Uni Bakwan, Yatie Surachman, Lina Marpaung, Raffan Al Aryan, dan Fara Shakila.

​"Bagi Leo Pictures, keberanian bercerita tidak pernah dibatasi oleh genre. Kami tidak ingin berhenti pada formula yang sudah berhasil, tetapi terus mencari perspektif baru yang relevan dengan kehidupan penonton hari ini," ujar Produser Leo Pictures Agung Saputra.

​"Setelah drama dan horor, melalui Gak Masuk Akal, kami menghadirkan komedi-horor yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga merefleksikan absurditas kehidupan modern ketika kenyataan terkadang jauh lebih tidak masuk akal daripada fiksi. Bagi kami, setiap film harus punya identitas, keberanian, dan alasan untuk hadir. Karena industri film tidak tumbuh dengan mengulang keberhasilan, melainkan dengan keberanian menciptakan sesuatu yang baru," tambah Agung. 

​"Film Gak Masuk Akal membawa cerita yang sangat dekat dan banyak orang merasakannya saat ini. Ketika biaya hidup tinggi tapi banyak dari kita yang juga mengalami sulitnya mencari pekerjaan, tiga tokoh utamanya, Iman, Suparno, dan Togar mulai mencari jalan yang gak masuk akal, karena hidup sudah semakin brutal. Mereka bertiga bakal mengajak kita untuk melihat seberapa kerasnya bertahan hidup dengan komedi-komedi menghibur dan mistis horor yang tetap bikin menegangkan," ujar Hadrah Daeng Ratu.

​Kamal Rasyid, yang tahun ini namanya melejit bersama Sahil, merasa terhormat mendapat kesempatan untuk memerankan pemeran utama di dalam film. Ia juga akan memiliki hubungan yang dekat dengan Luna Maya di film ini.

​"Ini pertama kalinya saya jadi pemeran utama, dan terima kasih sekali untuk Leo Pictures dan Mas Agung atas kesempatannya. Saya merasa Iman itu ada banyak kita temui di keseharian, dia orang biasa seperti kita yang terus berjuang demi hidupnya, walau kebutuhan dan ekonomi terus bikin kita tergencet, Iman cuma mau bisa bertahan," ujar Kamal Rasyid.

​"Buat aku, Gak Masuk Akal jadi film yang fresh dari Leo Pictures. Termasuk untuk karakterku, Nia, yang sangat jauh berbeda dari peran-peran yang pernah aku mainkan sebelumnya. Aku di sini bakal dangdut banget," ujar Luna Maya.

​Film Gak Masuk Akal akan tayang di bioskop Indonesia mulai Januari 2027. Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram @leopictures_official, @filmgakmasukakal, dan TikTok @leopicturesofficial.

​Tentang Leo Pictures

Leo Pictures adalah rumah produksi yang hadir sejak tahun 2019. Berfokus pada pengembangan film dan series dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan berbagai genre mulai dari drama keluarga, thriller, hingga horor, Leo Pictures terus berupaya menghadirkan karya yang mengutamakan emosi, kedekatan cerita, dan pengalaman menonton yang berkesan.

Bawa Armada Damkar Asli & Wahana Bus Interaktif ke Epicentrum XXI: Konferensi Pers GJLS: Berapi-Api Resmi Luncurkan Komedi Penuh Empati

​Jakarta, 29 Oktober 2026 — Menjelang penayangan resminya di bioskop tanah air, rumah produksi Amadeus Sinemagna menggelar agenda Konferensi Pers dan Gala Premiere film komedi aksi keluarga, GJLS: Berapi-Api di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Oktober 2026.

​Peluncuran ini tampil memukau dan menyedot perhatian publik dengan memboyong langsung dekorasi armada mobil pemadam kebakaran (damkar) sungguhan serta instalasi Bus Wahana Damkar GJLS yang dapat dinaiki dan dicoba langsung oleh pengunjung maupun rekan media.

​Di pelataran bioskop, para pengunjung diajak merasakan simulasi taktis menjadi petugas damkar di dalam bus interaktif, mulai dari menjajal atribut helm keselamatan, mencoba perlengkapan pemadaman, hingga mengabadikan momen di depan mobil damkar berukuran raksasa. Kehadiran instalasi ini mempertegas pesan utama film: sebuah penghormatan hangat atas dedikasi dan nilai BerAKHLAK ksatria pemadam kebakaran yang dibungkus dalam petualangan komedi sarat makna.

​Komedi Keluarga Penuh Hati & Nilai BerAKHLAK

​Disutradarai oleh sineas kawakan Monty Tiwa dan diproduseri oleh Indra Yudhistira, GJLS: Berapi-Api menegaskan lompatan kualitas dari karya sebelumnya. Film ini menolak sekadar mengulang formula lama, melainkan memadukan humor khas trio GJLS dengan nilai-nilai pelayanan damkar yang BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) serta pesan kemanusiaan yang mendalam.

​"GJLS: Berapi-Api hadir dengan skala produksi yang jauh lebih ambisius dan cerita yang lebih dekat secara emosional dengan masyarakat. Kami ingin film ini menjadi tontonan wajib di bioskop yang tak hanya mengocok perut, tetapi juga memberikan pesan positif dan kehangatan yang dapat dinikmati bersama keluarga tercinta," ungkap Indra Yudhistira, sang Executive Producer dan CEO Amadeus Sinemagna.

​"Tantangan terbesar mengarahkan trio GJLS adalah menjaga keaslian humor mereka tanpa terjebak repetisi formula lama. Di film ini, komedi mereka kami bawa ke ranah yang punya aksi nyata, empati, dan konflik yang menyentuh. Penonton diajak tertawa lepas sekaligus istirahat sejenak dari keresahan duniawi," tutur Monty Tiwa, Sutradara.

​Dari Tugas Remeh Hingga Misi Berbahaya Menyelamatkan Anak-Anak

​GJLS: Berapi-Api mengikuti kisah tiga sahabat masa kecil: Rigen (Rigen Rakelna), Rispo (Ananta Rispo), dan Hifdzi (Hifdzi Khoir) yang terobsesi menjadi pemadam kebakaran heroik. Namun, kegagalan saat proses pelatihan bersama regu elite legendaris Algojo Api membuat ketiganya terperangkap dalam tugas-tugas pelayanan non-kebakaran yang kerap diremehkan. Ketika berniat mencari jalan pintas untuk membuktikan diri, ketiganya bersama Bu Guru Nana (Grace Emmanuela) justru terseret ke dalam konspirasi berbahaya demi membongkar sindikat perdagangan anak.

​"Karakter Rigen di sini mewakili siapa pun yang punya mimpi berapi-api tapi jalannya gak selalu mulus. Perjuangan di film ini mirip banget sama perjalanan kami bertiga di dunia hiburan, harus konsisten, berani mencoba, dan gak gengsi meski dipandang sebelah mata," jelas Rigen Rakelna.

​"Di film ini karakter Rispo punya sisi lembut yang berbeda, terutama kepeduliannya yang besar terhadap anak-anak panti. Lucunya tetap ada, tapi penonton bakal lihat kalau di balik kebodohan kita bertiga, ada persaudaraan yang gak pernah padam," tambah Ananta Rispo.

​"Hifdzi di sini membuktikan kalau mantan korban bully bisa punya hati besar buat nolong sesama. Di dunia nyata maupun di film, kami bertiga memang hobi saling ledek, tapi kalau urusan saling jaga, persahabatan kami pantang padam," pungkas Hifdzi Khoir.

​Jajaran Bintang Lengkap & Soundtrack Megah Barasuara

​Konferensi pers di Epicentrum XXI turut dihadiri jajaran pemeran lengkap lintas generasi: Carissa Perusset (Bondan), Aurra Kharisma (Jayanti), Inayma (Joana), Sadha Triyudha (Sugeng), Nigel Siwabessy (Sentot), Ebel Cobra (Komandan Toni), Grace Emmanuela (Nana), Khairul Umam, Rio Dumatubun, Yono Bakrie (Romli), Rizky Ritonga (Tonga), serta aktor cilik Raffan Al Aryan (Daffa) dan Mikhaira Embun (Farra). Kemegahan film kian bergelora lewat iringan lagu tema orisinal bertajuk "Api dan Mimpi" garapan grup rock kenamaan Barasuara.

​Catat Tanggal Tayang Serentak di Bioskop!

​GJLS: Berapi-Api siap tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 November 2026. Ikuti terus seluruh informasi resmi dan keseruan aktivasi armada damkar melalui akun media sosial @sinemagna, @gjlsberapiapi, dan @gjlsentertainment.

Selasa, 27 Oktober 2026

Menguak Rahasia di Balik Hajatan dan Kutukan Keluarga, 'Hajatan Setan' Rilis Trailer dan Poster Resmi

​Dibintangi Ari Irham, Alika Jantinia, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, film horor produksi MBK Productions dan Drias Film Production siap menghantui bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026 dan menjangkau penonton di sejumlah negara Asia Tenggara.

​Jakarta, 27 Oktober 2026 — Setelah memperkenalkan atmosfer supranaturalnya melalui teaser trailer pada April lalu, film horor Hajatan Setan resmi merilis trailer dan poster terbarunya. Diproduksi oleh MBK Productions dan Drias Film Production, film yang disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristanto ini membawa penonton lebih jauh ke dalam misteri sebuah kampung terisolasi, tempat ritual turun-temurun menyimpan rahasia kelam yang berkaitan dengan masa lalu sebuah keluarga. Hajatan Setan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026, dengan rencana distribusi di sejumlah negara Asia Tenggara.

​Melalui trailer resmi yang dirilis hari ini, Hajatan Setan memperlihatkan lebih banyak petunjuk mengenai hubungan antara ritual misterius, kutukan keluarga, dan rahasia yang tersembunyi di balik sebuah hajatan. Dua kalimat, “Satu Malam, Satu Hajatan” dan “Malam Hajatan, Malam Kematian”, menegaskan bahwa perayaan yang semestinya identik dengan kebahagiaan justru menjadi pintu masuk menuju rangkaian peristiwa mengerikan. Namun, di balik teror yang menyelimuti kampung tersebut, terdapat persoalan yang lebih personal: masa lalu yang belum selesai dan rahasia yang perlahan menuntut untuk diungkap.

​Di pusat cerita, Dara (Alika Jantinia), menjadi sosok yang membawa penonton menyusuri lapisan-lapisan misteri tersebut. Terjebak dalam situasi yang tidak sepenuhnya ia pahami, Dara mulai berhadapan dengan berbagai kejanggalan di sekitarnya. Pencariannya perlahan mengarah pada rahasia ibunya, Mbok Darmi (Karina Suwandi) serta keterkaitan keluarga mereka dengan keluarga Santoso (Indra Birowo).

​Hubungan antara dua keluarga ini menjadi salah satu simpul penting dalam cerita. Dalam trailer, Santoso dan Mbok Darmi ditampilkan melalui potongan-potongan adegan yang membangun kesan tertentu tentang posisi mereka di tengah peristiwa yang berlangsung. Namun, gambaran yang muncul dari potongan tersebut belum sepenuhnya menjelaskan siapa mereka sebenarnya, apa yang mendorong tindakan mereka, dan bagaimana masa lalu mengikat mereka satu sama lain. Seiring Dara menggali lebih jauh, penonton diajak mempertanyakan kembali kesan awal yang dibangun oleh cerita—tanpa harus mengetahui seluruh jawabannya sebelum menyaksikan film.

​Bagi sutradara Bambang Drias dan Eko Kristanto, misteri dalam Hajatan Setan tidak hanya dibangun melalui ritual dan kehadiran makhluk gaib, tetapi juga melalui hubungan antarakarakter dan rahasia yang tersimpan di balik keputusan mereka.

​“Bagi kami, salah satu hal yang menarik dari Hajatan Setan adalah bagaimana penonton diajak menyusun sendiri potongan-potongan informasi yang mereka temukan. Apa yang terlihat di permukaan belum tentu menjelaskan keseluruhan persoalan. Melalui perjalanan Dara, penonton akan mengikuti proses terbukanya rahasia sedikit demi sedikit, sekaligus mempertanyakan kembali hal-hal yang sebelumnya mereka anggap benar,” ujar Bambang Drias.

​Sebagai protagonis, Dara menjadi perwakilan penonton dalam mengurai hubungan antara masa kini dan masa lalu. Ia bukan hanya berhadapan dengan ancaman yang muncul di kampung tersebut, melainkan juga harus memahami sosok ibu yang selama ini dikenalnya dan rahasia yang mungkin mengubah pandangannya terhadap keluarganya sendiri.

​“Dara berada dalam situasi ketika banyak hal di sekelilingnya tidak seperti yang ia bayangkan. Ia ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi, terutama yang berkaitan dengan ibunya dan masa lalu keluarga mereka. Namun, semakin banyak yang ia ketahui, semakin rumit pula persoalan yang harus dihadapinya,” ujar Alika Jantinia.

​Di sisi lain, Hajatan Setan juga menghadirkan hubungan Dara dengan Gaung (Ari Irham), kawan masa kecilnya. Di tengah misteri dan ancaman yang terus membayangi, relasi keduanya menghadirkan dimensi emosional yang berbeda. Hubungan mereka menyimpan perasaan yang tidak sederhana, ketika harapan untuk saling mendekat harus berhadapan dengan keadaan yang semakin sulit dan rahasia yang membayangi kehidupan mereka. Unsur kasih tak sampai ini memberi lapisan tragis pada perjalanan Dara dan Gaung, sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman dalam film tidak hanya menyentuh keselamatan, tetapi juga kemungkinan untuk mempertahankan hubungan yang berarti bagi mereka.

​Melalui trailer resminya, film ini turut memberi petunjuk mengenai asal-usul ritual dan kepercayaan yang bertahan di kampung tersebut. Sejumlah adegan kilas balik mengisyaratkan terbentuknya sebuah kultus, sementara potongan-potongan cerita lainnya membuka pertanyaan tentang bagaimana keputusan di masa lalu terus memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

​Selain Alika Jantinia, Ari Irham, Indra Birowo, dan Karina Suwandi, Hajatan Setan turut dibintangi oleh Giselma Firmansyah, Luna Maya, Asri Welas, Bima Zeno, Sita Permata Sari, Tanta Ginting, Abigail Gabriela, Masayu Anastasia, dan Hassan Sule.

​Disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristanto, Hajatan Setan ditulis oleh Andhy Pulung, BW Purba Negara dan Vidya T. Ariestya. Film ini diproduseri oleh Rendy Gunawan, Drias, dan Marlia Nurdiyani, dengan Budi Yulianto sebagai produser eksekutif.

​Tak hanya menyasar penonton Indonesia, Hajatan Setan juga direncanakan hadir di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Rencana distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan film ini kepada penonton regional, sekaligus memperkenalkan kisah horor yang berangkat dari ritual, kepercayaan, dan rahasia keluarga kepada audiens yang lebih luas.

​Ikuti perkembangan terbaru film Hajatan Setan melalui akun media sosial resmi @filmhajatanfilm, @multibuanakreasindo dan @driasfilm menjelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 3 Desember 2026.

​Bersiaplah, karena tidak semua perayaan berakhir dengan kebahagiaan...

Jakarta Film Week 2026 Ditutup dengan Laut Bercerita, Filipiñana dan Nobody Loves Kay Raih Penghargaan


​Jakarta, 25 Oktober 2026 — Jakarta Film Week 2026 menutup rangkaian festival pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, di CGV Grand Indonesia dengan mengumumkan para pemenang kompetisi film, termasuk Filipiñana karya Rafael Manuel yang meraih Global Feature Award. Malam penutupan dilanjutkan dengan pemutaran Laut Bercerita sebagai film penutup, setelah pengumuman penerima JFWNET—Industry Program Awards yang memberikan dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia dan membuka peluang kolaborasi dengan jaringan industri internasional.

​Berlangsung selama lima hari, sejak 21 Oktober 2026, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan tamu industri dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, serta 5000+ penonton. Selain menjadi ruang pertemuan bagi sineas dan penonton, festival ini juga mempertemukan para pelaku industri melalui program pengembangan proyek, forum presentasi, serta kesempatan kolaborasi lintas negara.

​Penutupan Jakarta Film Week 2026

​Malam penutupan festival berlangsung di ScreenX 1 CGV Grand Indonesia. Turut hadir dalam momen tersebut para sineas, pelaku industri perfilman, tamu mancanegara, mitra festival, serta perwakilan dari berbagai komunitas film yang telah menjadi bagian dari rangkaian festival tahun ini. Pertemuan tersebut menjadi penanda berakhirnya Jakarta Film Week 2026, sekaligus ruang bagi para tamu untuk merayakan karya dan koneksi yang terbangun selama festival.

​"Jakarta Film Week bukan hanya tentang film yang ditayangkan selama festival, tetapi juga tentang orang-orang yang bertemu, gagasan yang dibagikan, dan kolaborasi yang mulai terbangun. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penyelenggaraan tahun ini. Semoga pertemuan selama festival menjadi awal dari perjalanan dan karya-karya baru yang akan terus berkembang setelah Jakarta Film Week berakhir," ujar Rina Damayanti.

​Sementara itu, Ahmad Mahendra menyampaikan apresiasi kepada para sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Ia berharap pengalaman dan hubungan yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi bagi perkembangan perfilman Indonesia.

​"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Selama lima hari, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi berbagai cerita, gagasan, dan perspektif melalui film. Kami berharap pengalaman dan koneksi yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut, serta membawa semangat baru bagi perkembangan perfilman Indonesia," ujar Ahmad Mahendra.

​Filipiñana Raih Global Feature Award serta Pengumuman JFWNET—Industry Program Awards

​Salah satu sorotan penghargaan kompetisi Jakarta Film Week 2026 adalah kemenangan Filipiñana karya Rafael Manuel, produksi Filipina, Inggris, Singapura, Prancis, dan Belanda, yang meraih Global Feature Award. Dalam pernyataan resminya, juri mengapresiasi film ini atas penggambaran persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese dan dibayangi warisan kolonial.

​"Film ini dengan tajam menelusuri persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese dan dibayangi warisan kolonial. Hierarki yang diwariskan terus mengatur tubuh dan tenaga kerja. Ketika tatanan tersebut runtuh, film ini mengubah kehancuran menjadi puisi melalui gambar-gambar yang menghadirkan keindahan liris di tengah keruntuhan," demikian pernyataan juri.

​Nobody Loves Kay karya Bernardus Raka meraih Direction Award, penghargaan tertinggi untuk kategori film Indonesia di Jakarta Film Week, berkat penggambaran hubungan dan proses tumbuh dewasa dalam dunia esports. Selain itu, Bleat! karya Ananth Subramaniam memenangkan Global Short Award atas premis unik, humor yang tidak biasa, dan penulisan naskah yang cerdas; serta What We Leave Behind karya Jean-Sébas­tien Hamel dan Alexandra Myotte yang meraih Global Animation Award atas pendekatan animasi yang segar dalam mengangkat isu yang relevan. Penghargaan lainnya, Jakarta Film Fund Award diberikan kepada The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan, yang diapresiasi karena memotret kehidupan Jakarta masa kini dengan kepekaan dan kejujuran.

​Selain penghargaan kompetisi film, malam penutupan juga mengumumkan penerima JFWNET—Industry Program Awards. Program ini memberikan dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia, kebutuhan produksi dan pascaproduksi, serta kesempatan untuk terhubung dengan jaringan industri internasional.

​Dalam kategori Producers Lab Development Grant, dukungan diberikan kepada Utari Hanif Assyuri melalui proyek SALTSTORM!. Sementara itu, tiga proyek terpilih untuk mengikuti Platform Busan 2027, yaitu A Burnt Engine Who Can't See the Light karya Jonathan Gradiyan, Rollinghead karya Panji Respati, dan Irama Rama karya Dendy Ariza Putra.

​Pitching Forum Development Grant diberikan kepada Gokill, yang disutradarai Amanda Iswan dan diproduseri James Erlangga. Proyek My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, karya sutradara Andrea Nirmala Widjajanto dan produser Nirartha Bas Diwangkara, memperoleh Jakarta Film Commission Development Grant sekaligus QCinema Special Prize. Adapun program Producers Lab, Talents Hub, dan Pitching Forum didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN), Kementerian Kebudayaan RI.

​Dukungan internasional lainnya diberikan melalui HKIFF Industry Award kepada Holy Mother, yang disutradarai Sinung Winahyoko dan diproduseri Fadhila Ristianty. Sementara itu, Bunga Ineza terpilih mengikuti EFM Toolbox Berlinale 2027.

​Untuk mendukung kebutuhan pascaproduksi, Super 8mm Studio Post Production Support diberikan kepada Gabriela Serrano melalui proyek Music Memory.

​Dukungan produksi juga diberikan kepada tujuh proyek melalui BSM Premiere Gear Fund, yaitu Badass Boi, Push Rank, My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, Script: Maria, Holy Mother, Gokill, dan Oh... Marijuana!.

​Ragam dukungan tersebut mencakup berbagai tahap perjalanan sebuah film, mulai dari pengembangan cerita dan presentasi proyek hingga kebutuhan produksi, pascaproduksi, serta kesempatan membangun koneksi dengan jaringan industri internasional. Daftar lengkap penerima penghargaan dan dukungan dicantumkan dalam lampiran siaran pers ini.

​Laut Bercerita Menjadi Film Penutup

​Pemutaran Laut Bercerita menjadi salah satu momen utama dalam penutupan Jakarta Film Week 2026 di CGV Grand Indonesia, Minggu malam, 25 Oktober 2026. Setelah lima hari diisi pemutaran film, diskusi, dan pertemuan para pelaku industri, malam penutupan menjadi momen berkumpulnya kembali sineas, tamu festival, dan penonton sebelum rangkaian acara tahun ini berakhir.

​Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut dan kawan-kawannya yang terlibat dalam gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru. Di tengah perjuangan menyuarakan perubahan, mereka menghadapi penangkapan, penghilangan paksa, dan ketidakpastian. Kisah ini juga mengikuti keluarga yang terus mencari jawaban atas hilangnya orang-orang yang mereka cintai, menghadirkan perspektif tentang perjuangan, kehilangan, dan ingatan.

​Sejumlah pemeran Laut Bercerita turut hadir dalam pemutaran tersebut, di antaranya Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy.

​Kehadiran para pemeran menambah makna pada pemutaran penutup, mempertemukan para pemain dengan penonton yang menyaksikan kisah tersebut di layar lebar. Lewat cerita tentang aktivisme, kehilangan, dan keluarga yang terus mencari jawaban, Laut Bercerita menutup festival dengan membawa isu ingatan dan sejarah ke ruang perjumpaan antara film dan penontonnya.

​Ragam Sorotan Program Hari Kelima

​Hari terakhir Jakarta Film Week 2026 menghadirkan sejumlah program pemutaran film, diskusi, dan kegiatan industri di berbagai lokasi.

​Dalam program Family Time, Forza diputar di CGV Grand Indonesia, disertai sesi tanya jawab bersama produser Shierly Kosasih dan para pemeran Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, serta Tio Pakusadewo. Film ini mengikuti perjalanan Bima dalam mengejar mimpinya menjadi pesepak bola, dengan hubungan keluarga dan kehidupan desa sebagai bagian penting dari cerita.

​Hari terakhir juga menghadirkan world premiere Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, film drama-komedi garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel karya Brian Khrisna. Setelah pemutaran, sesi diskusi menghadirkan sejumlah pemeran, yakni Nia Daniaty, Bene, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, dan Chicco Kurniawan. Perbincangan membahas proses mengadaptasi cerita dari novel ke layar lebar serta pesan tentang harapan di tengah situasi hidup yang sulit. Proses pengembangan film juga melibatkan konsultasi dengan psikiater untuk membantu penggarapan cerita, sementara tim turut membuka kemungkinan pengembangan semesta cerita ini lebih lanjut.

​Pada program Global Feature Official Selection, Too Many Beasts (L'Espèce explosive), film panjang debut sutradara Sarah Arnold, menghadirkan satire politik dalam balutan komedi gelap. Berlatar di sebuah desa Prancis yang dilanda masalah populasi babi hutan, film ini mengangkat ketidakadilan dan kepentingan elite melalui cerita yang absurd. Sarah Arnold dan penulis naskah Jérémie Dubois hadir dalam sesi diskusi bersama penonton, didampingi Cultural Attaché Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Carol Meyer. Sarah menjelaskan bahwa humor gelap menjadi cara untuk merespons situasi ketika harapan terasa menipis. "Humor is dark because we have to continue to laugh amidst all that's happening," ujarnya. Sementara itu, Dubois berbagi tentang keberanian mengambil risiko dalam penulisan naskah dan berharap penonton dapat terhubung dengan film tersebut. "I hope you guys can connect to the film. Feel free to laugh!"

​Program lainnya mencakup The Girl With The Leica dalam Herstory, A Bowl of Chicken Noodles Before I Die dalam Global Feature Official Selection, serta Couture dalam Currents.

​Sementara itu, program Classique menghadirkan Stepping on the Flying Grass karya Eugene Panji di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki. Film yang juga dikenal dengan judul Cita-Citaku Setinggi Tanah ini mengikuti kisah Agus dan tiga sahabatnya dalam memaknai cita-cita dan kebahagiaan melalui pengalaman sederhana. Sepanjang pemutaran, tawa penonton beberapa kali terdengar, menghadirkan suasana hangat sekaligus memperlihatkan kedekatan cerita dengan pengalaman masa kecil. Melalui kepolosan tokoh-tokohnya, film ini mengajak penonton melihat bahwa sebuah keinginan tidak harus besar untuk memiliki arti.

​Program Family Time di CGV FX Sudirman turut menghadirkan Papaya, sebuah film animasi asal Brazil karya Priscilla Kellen. Untuk penonton anak-anak dan keluarga, Layar Anak Indonesia­nans TV yang dipersembahkan oleh Balai Media Kebudayaan (BMK) di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, menampilkan Katumbiri Nutug Leuwi (Pelangi yang Jatuh ke Sungai), Samasta Allegra, Meong, Bikul, dan Kisah si Pemburu, serta Pasukan Singa Kardus, dengan kehadiran Arfi SN dan Ayu Pamungkas.

​Melalui beragam pemutaran, diskusi, dan pertemuan industri, hari terakhir Jakarta Film Week 2026 mempertemukan cerita dari berbagai genre dan perspektif dengan penontonnya. Rangkaian program tersebut sekaligus menegaskan peran festival sebagai ruang bagi sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton untuk bertukar gagasan serta membuka peluang kolaborasi baru.

​LAMPIRAN: Daftar Penerima JFWNET—Industry Program Awards 2026

  • ​Producers Lab MTN Development Grant
    • ​Utari Hanif Assyuri — SALTSTORM!

  • ​Platform Busan ACFM 2027
    • ​Jonathan Gradiyan — A Burnt Engine Who Can't See the Light
    • ​Panji Respati — Rollinghead
    • ​Dendy Ariza Putra — Irama Rama

    • ​Pitching Forum MTN Development Grant
      • ​Gokill — Amanda Iswan (sutradara), James Erlangga (produser)

    • ​Jakarta Film Commission Development Grant
      • ​My Tears, A Sea for Jakarta to Sink — Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)

    • ​QCinema Special Prize
      • ​My Tears, A Sea for Jakarta to Sink — Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)

    • ​Hongkong Asian Financing Forum HKIFF Industry Award
      • ​Holy Mother — Sinung Winahyoko (sutradara), Fadhila Ristianty (produser)

    • ​BSM Premiere Gear Fund
      • ​Badass Boi — Andara Fembriarto (sutradara), Robby UL Pratama (produser)
      • ​Push Rank — Deo Mahameru (sutradara), Andreas Sihombing (produser)
      • ​My Tears, A Sea for Jakarta to Sink — Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)
      • ​Script: Maria — Devina Sofiyanti (sutradara), Tomomi Furuyama dan Jason Christian (produser)
      • ​Holy Mother — Sinung Winahyoko (sutradara), Fadhila Ristianty (produser)
      • ​Gokill — Amanda Iswan (sutradara), James Erlangga (produser)
      • ​Oh... Marijuana! — Arli Yandhi Achbar (sutradara), Teresa Katarina (produser)

      • ​Super 8mm Studio Post Production Support
        • ​Gabriela Serrano (Peserta Talents Hub Filipina) — Music Memory

      • ​Selected Participant Jakarta Film Week to EFM Toolbox Berlinale 2027
        • ​Bunga Ineza

      ​Daftar Pemenang Jakarta Film Week Awards 2026

      • ​Global Feature Award
        • ​Filipiñana — Rafael Manuel

      • ​Direction Award
        • ​Nobody Loves Kay — Bernardus Raka

      • ​Global Short Award
        • ​Bleat! — Ananth Subramaniam

      • ​Global Animation Award
        • ​What We Leave Behind — Jean-Sébastien Hamel dan Alexandra Myotte

      • ​Jakarta Film Fund Award
        • ​The Year Without Summer — Rayhan Dharmawan

      ​TENTANG JAKARTA FILM WEEK

      ​Jakarta Film Week merupakan festival film tahunan yang digagas pada 2021 oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta untuk mendukung perkembangan perfilman Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Setiap tahunnya, Jakarta Film Week menghadirkan film dari Indonesia dan berbagai negara penonton. Lebih dari sekadar festival, Jakarta Film Week juga menjadi ruang bagi pembuat film untuk berkembang, bertemu, dan membangun koneksi di dalam ekosistem perfilman.

      ​TENTANG JFWNET—Industry Program

      ​JFWNET—Industry Program merupakan program paralel Jakarta Film Week yang menjadi ruang pertemuan dan pengembangan bagi para pelaku industri film Indonesia. Melalui berbagai program seperti lab, workshop, talks, focus group discussion, dan pitching forum, JFWNET—Industry Program mempertemukan filmmaker, produser, festival, distributor, pendana, dan pelaku industri lainnya untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan proyek, serta membuka peluang kolaborasi.

      ​NARAHUBUNG

      • ​Instagram : @jakartafilmweek

      • ​X : @jakartafilmweek

      • ​TikTok : @jakartafilmweek

      • ​Facebook : Jakarta Film Week

SOLD OUT! UNGU RAYAKAN 30 TAHUN PERJALANAN MUSIK LEWAT KONSER

ANTAM Presents Ungu – Waktu Yang Dinanti: Final Chapter Promoted by TipTip.id 30 LAGU NOSTALGIA. SATU PANGGUNG. 30 TAHUN PERJALANAN MUSIK U...