Bocah Premiere
Selasa, 16 Juni 2026
SPECIAL SCREENING DAN KONFERENSI PERS FILM: MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula
Senin, 15 Juni 2026
NEONA TEGUR SI DIA YANG TAK KUNJUNG PASTI LEWAT SINGLE TERBARU “PLIN PLAN”
Dukung Kreativitas Industri Film, Kementerian Kebudayaan Lewat Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya Gelar Nonton Bareng dan Diskusi Bersama Sutradara ‘Nobody Loves Kay’ di Surabaya
Surabaya, 14 Juni 2026 — Menyambut antusiasme masif masyarakat, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program prioritas Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) bidang film, secara resmi menggelar acara bertajuk MTN IkonInspirasi x Nobody Loves Kay yang didedikasikan khusus untuk arek-arek Surabaya. Acara ini berupa nonton bareng dan diskusi langsung bersama sutradara film Nobody Loves Kay, Bernardus Raka, yang juga merupakan sineas kebanggaan asli Surabaya.
Acara istimewa ini diselenggarakan pada hari Minggu, 14 Juni 2026, bertempat di Grand City Surabaya. Melalui ruang ini, para penonton dan kreator lokal bakal ngobrol banyak tentang proses kreatif, tantangan selama masa produksi, hingga cerita-cerita menarik yang belum pernah terungkap di balik layar film tersebut.
Langkah dari Kementerian Kebudayaan ini diambil sebagai bentuk apresiasi dan dukungan penuh negara terhadap kreativitas di industri perfilman tanah air. Film Nobody Loves Kay dinilai berhasil memberikan warna baru yang segar dan krusial bagi lanskap sinema nasional, mengingat belum banyak sineas lokal yang berani mengangkat kisah tentang pahit-manisnya perjuangan seorang pro-player e-sport dari titik nol.
Apresiasi dari Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya
Program MTN Seni Budaya bidang film berkomitmen untuk terus mengawal, mengapresiasi, dan membuka jalan bagi talenta-talenta kreatif di bidang film agar bisa bersinar di panggung tertinggi. Perwakilan dari MTN Bidang Seni Budaya bidang film menyampaikan bahwa film ini adalah contoh nyata bagaimana industri kreatif mampu menangkap keresahan generasi masa kini secara positif.
“Melalui program MTN IkonInspirasi x Nobody Loves Kay, kami berkomitmen untuk mendukung penuh karya-karya segar yang lahir dari tangan sineas muda kita. Nobody Loves Kay bukan sekadar film hiburan, melainkan sebuah bentuk validasi negara terhadap bakat dan potensi anak muda di industri modern seperti e-sports. Kami ingin ekosistem perfilman kita terus berani mengeksplorasi tema-tema baru yang relevan dengan perkembangan zaman dan menjadi ruang aman bagi talenta muda untuk menunjukkan taringnya,” ujar Rina Damayanti, Perwakilan MTN Seni Budaya bidang film.
Kegiatan nonton bareng ini juga merupakan rangkaian acara menuju Workshop Penyutradaraan bertajuk “Wani Action” dengan tema diskusi “Time For Emerging Talents to Shine.” Workshop ini bertujuan untuk memfasilitasi talenta muda dalam memperdalam ilmu perfilman yang akan diselenggarakan dalam dua fase: Online: 24–27 Juni 2026 dan Offline: 4–5 Juli 2026 di Surabaya.
Dalam workshop ini, sutradara Bernardus Raka akan hadir sebagai narasumber bersama sutradara Agung Sentausa untuk berbagi pengalaman serta teknik penyutradaraan profesional kepada para peserta terpilih.
Sutradara Bernardus Raka: "Terima Kasih Atas Ruang Bersama Ini"
Mendapatkan dukungan penuh dan gerakan nobar serentak di 7 kota besar dari kementerian, sutradara debutan Bernardus Raka mengaku sangat terharu sekaligus bangga. Baginya, apresiasi ini adalah bentuk kemenangan bagi seluruh kreator muda dan pemilik mimpi non-konvensional.
"Jujur, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan dan program MTN Seni Budaya atas ruang bersama yang luar biasa ini. Saat pertama kali menggarap film ini, visi saya sederhana: ingin menyuarakan suara anak-anak muda zero privilege yang sering dianggap sebelah mata saat mengejar mimpinya. Dukungan negara hari ini membuktikan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu kecil atau aneh. Film ini adalah hasil akhir dari mimpi Raka umur 3 tahun yang jatuh cinta sama film karena diajak bapak nonton bioskop. Aku ini cuma bocah beruntung yang dikasih kesempatan buat mewujudkan mimpiku, dan semoga teman-teman di luar sana yang punya mimpi juga tetap berani mengejarnya. Dukungan ini adalah suntikan energi besar bagi kami para kreator untuk melahirkan karya yang jujur dan bersuara lantang bagi generasi kami," ungkap Bernardus Raka.
Bergerar ke Bioskop: Saatnya Buktikan Mimpi Kita!
Histeria positif hari ini menjadi bukti bahwa pesan yang dibawa oleh Nobody Loves Kay, yang dibintangi aktor muda berbakat seperti Bima Azriel, Ray Bang, Aurora Ribero, serta Joshia Frederico, telah bergaung kuat di hati para penonton. Bagi kalian yang belum menyaksikan, hari ini adalah momen paling tepat untuk bergerak ke bioskop terdekat di kota kalian.
Ingat, film ini bukan cuma sekadar menceritakan kisah hidup Kay. Film ini adalah cermin dari setiap peluh, air mata, dan malam-malam panjang yang kamu lewati demi mempertahankan apa yang kamu yakini. Karena pada akhirnya, bukan cuma Kay, tapi semua bentuk perjuangan, termasuk perjuangan hidup yang sedang kamu hadapi saat ini, sangat layak untuk diperjuangkan dengan segenap hati, sampai nanti kamu tiba di satu titik tertinggi di mana kamu bisa berdiri tegak dan lantang berteriak “PROVE THEM WRONG” kepada mereka yang pernah meremehkan mimpimu!
Tiket nonton Nobody Loves Kay bisa langsung kamu amankan sekarang juga melalui aplikasi pemesanan tiket resmi (M-TIX, TIX ID, CGV, Cinepolis). Jangan sampai terlewat, mari kita dukung perfilman Indonesia dan rayakan perjuangan mimpi kita bersama-sama di bioskop hari ini!
Bersiap-siaplah, karena ledakan emosional di akhir film ini dijamin akan membuatmu menangis. Pantau terus akun sosial media resmi @nobodyloveskay untuk informasi theater visit, nonton bareng, dan pembaruan terkini!
Film Drama Horor Misteri Datang Akan Pergi Memperkenalkan Jajaran Pemeran Bertabur Bintang Lintas Generasi, Kolaborasi Terbaru yang Fresh dari Upi Bersama Starvision
Jakarta, 15 Juni 2026 – Starvision kembali bekerja sama dengan sutradara Upi dalam film terbaru berjudul Datang Akan Pergi. Film bergenre Drama Horor Misteri yang ditulis dan disutradarai oleh Upi, dengan produser Chand Parwez Servia ini menjadi kolaborasi terbaru Upi bersama Chand Parwez dan Starvision setelah horor thriller yang meraih Nominasi Piala Citra FFI 2024 Sehidup Semati. Film Datang Akan Pergi dijadwalkan tayang di bioskop tahun ini.
Melalui media sosial, Starvision memperkenalkan jajaran pemeran lintas generasi yang membintangi film ini, yaitu: Iqby Gazza, Jeremie Moeremans, Nicholas Anderson, Baim Alkatiri, Widuri Puteri, Razan Zu, Surya Saputra, Amira Marissa Anita, Shareefa Daanish, Marissa Anita, Keysha Angelica, Zack Lee, Ratu Felisha, Okan Kornelius, Izabel Jahja, Jofa Knoch, Arkhan Daud, Anasya Makahekum, Alesia Nishka, Gilbert Pattiruhu, Haydar Salishz, Ina Rosalien, Sari Nila, Benjamin Malaiholo, Afrian Arisandy, Dara Warganegara, Yeremia Luddin, Daffa Saputra, dan Farell Akbar, serta penampilan spesial dari grup band Sukses Lancar Rejeki.
"Starvision selalu percaya dengan kualitas yang diberikan oleh Upi. Karya-karya sukses Starvision juga lahir dari banyak kolaborasi bersama Upi. Kali ini kami menghadirkan film Datang Akan Pergi, membawa genre drama horor misteri yang fresh. Tunggu di bioskop segera," kata produser Chand Parwez Servia.
"Film Datang Akan Pergi menjadi kolaborasi terbaru saya bersama Pak Chand Parwez dan Starvision, dengan jajaran pemeran bintang dan nama-nama baru yang saya percaya dengan kualitas mereka. Semoga akan menjadi sajian drama horor misteri yang memberikan kesegaran di layar bioskop Indonesia," ujar penulis dan sutradara Upi.
Bersama Starvision, Upi telah dipercaya untuk menulis judul-judul film ikonik dan sukses secara blockbuster. Beberapa di antaranya adalah Petaka Gunung Gede (2025), Sihir Pelakor (2025), Kafir: Gerbang Sukma (2026), dan Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018).
Film Datang Akan Pergi akan menjadi kolaborasi Upi bersama Starvision yang menyajikan drama horor misteri menegangkan, menyegarkan, dan menghibur di bioskop Indonesia!
Ikuti perkembangan terbaru film Datang Akan Pergi melalui akun media sosial resmi di Instagram @starvisionplus, @filmdatangakanpergi, dan TikTok @StarvisionMovie.
Tentang Starvision
Starvision merupakan salah satu rumah produksi film dan televisi paling berpengaruh dan terkemuka di Indonesia, dengan rekam jejak lebih dari tiga dekade dalam membentuk lanskap hiburan nasional. Di bawah kepemimpinan visioner pendiri sekaligus produser Chand Parwez Servia, perusahaan ini dikenal konsisten menghadirkan kisah-kisah yang mampu menyentuh dan dekat dengan hati penonton Indonesia.
Setiap tahunnya, Starvision merilis sekitar sepuluh judul film layar lebar, menjadikannya salah satu pemain paling stabil dan dapat diandalkan di pasar film nasional. Keistimewaan Starvision terletak pada keberanian untuk berinvestasi secara mandiri di seluruh proyeknya, sebuah komitmen yang menegaskan kemandirian kreatif sekaligus kualitas dan konsistensi dalam setiap produksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Starvision telah melahirkan sejumlah film box office yang sukses besar dan banyak diperbincangkan, di antaranya Petaka Gunung Gede, Sekawan Limo, 172 Days, Komang, Imperfect, Cek Toko Sebelah, dan Dua Garis Biru. Film-film tersebut menunjukkan kekuatan Starvision dalam menghadirkan hiburan yang tidak hanya komersial, tetapi juga penuh makna—menegaskan posisi Starvision sebagai nama terpercaya bagi penonton, mitra, maupun kolaborator di industri perfilman Indonesia.
Minggu, 14 Juni 2026
Saat Aku Bersuara, Film yang Angkat Perjuangan Penyintas Kekerasan Seksual Lawan Budaya Bungkam
Jakarta, 14 Juni 2026 — Penyintas kekerasan seksual sering menyimpan luka yang terlalu sering dipaksa diam. Penyintas kekerasan seksual kerap menghadapi kenyataan pahit: pelaku terlindungi, korban disalahkan, dan suara mereka tenggelam dalam stigma. Di tengah realita ini Arjuna Mega Films, Rain Creation, dan Lex Pictures siap menghadirkan film drama terbaru berjudul Saat Aku Bersuara yang akan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Juni 2026.
Film ini mengisahkan Nadia (Marshanda), seorang pengacara muda cerdas dengan karier cemerlang yang hidupnya tampak sempurna usai dilamar kekasihnya, Reza (Nino Fernandez). Namun kegelisahan mulai menggerogoti Nadia ketika firma hukum tempatnya bekerja memenangkan kasus yang melibatkan putra seorang pengusaha kaya sebagai terduga pelaku pemerkosaan.
Situasi semakin memanas ketika suatu malam tragedi justru menimpa Nadia sendiri, berawal dari upayanya menolong sahabat karibnya, Andien (Rini Yulianti).
Bersama Andien, Riana (Hana Malasan), dan Adrian (Ibnu Jamil) seorang Jaksa Penuntut Umum yang menyimpan luka pribadi akibat kegagalan sistem hukum, Nadia berupaya membangun kembali hidupnya. Film ini juga menggambarkan perjuangan Nadia memperbaiki hubungan yang renggang dengan sang ayah (Teuku Rifnu Wikana), sembari membuktikan bahwa keberanian untuk bersuara mampu menghadirkan harapan baru.
Saat Aku Bersuara mengangkat isu sensitif yang dekat dengan realita sosial Indonesia, kekerasan seksual, trauma, stigma, dan perjuangan para penyintas melawan budaya bungkam yang selama ini melindungi pelaku dan menyudutkan korban.
Film ini adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap hukum yang timpang, terhadap masyarakat yang lebih memilih diam daripada berpihak kepada penyintas, serta ketakutan yang selama ini membelenggu para penyintas untuk angkat bicara. Film ini hadir dengan satu janji kepada penontonnya; keluar dengan harapan. Harapan bahwa semua orang harus bersuara. Bahwa tidak ada penyintas yang harus berjuang sendirian. Dan bahwa perubahan dimulai ketika satu orang berani bersuara.
Saat Aku Bersuara juga mengajak penonton memaknai pentingnya dukungan persahabatan, keluarga, dan keberanian menyuarakan kebenaran ketika harapan mulai memudar di tengah keadilan yang sering dipertanyakan.
Didukung jajaran aktor dan aktris papan atas Indonesia, film ini menampilkan Marshanda yang beradu akting dengan Ibnu Jamil untuk pertama kalinya di film panjang. Keduanya pernah bekerja sama dalam sinetron lebih dari 16 tahun lalu. Film ini didukung oleh deretan cast lainnya, Lukman Sardi, Cut Mini sebagai Ibu Nadia, Lydia Kandou, Omar Daniel, serta Unique Priscilla.
Semua informasi mengenai film Saat Aku Bersuara dapat diakses melalui kanal resmi Instagram @saatakubersuara.
Aksi Heroik Fadi Alaydrus Selamatkan Saskia Chadwick di Gudang Sekolah, Awal Takdir Manis di WeTV Original Samuel
Sabtu, 13 Juni 2026
Dukun Magang Siap Hadirkan Horor Ringan yang Lebih Banyak Mengocok Perut
Jakarta, 13 Juni 2026 - Film Dukun Magang siap menyapa penonton Indonesia dengan sajian komedi horor yang segar. Film ini tidak hanya mengandalkan teror mistis, tetapi juga menonjolkan humor sebagai daya tarik utama.
Mengusung konsep 80 persen komedi dan 20 persen horor, Dukun Magang hadir untuk penonton yang ingin menikmati film horor tanpa tekanan rasa takut yang terlalu berat. Unsur horor tetap muncul melalui suasana desa, ritual mistis, rumah tua, dan gangguan gaib. Namun, komedi menjadi warna paling dominan dalam cerita.
Film garapan sutradara Chiska Doppert ini berpusat pada kisah Raka Mahardika, mahasiswa tingkat akhir yang skeptis terhadap dunia mistis. Raka berada di ujung masa kuliah karena skripsinya berulang kali ditolak. Dalam usaha terakhirnya, ia memilih topik penelitian tentang dunia perdukunan di Desa Kalimati, desa terpencil yang dikenal kuat dengan tradisi gaib.
Perjalanan Raka ke Desa Kalimati tidak dilakukan sendirian. Ia datang bersama Boiman, sahabatnya yang penakut, humoris, dan sering sok tahu, serta Sekar, teman kampus yang memiliki hubungan dekat dengan desa tersebut. Dari sinilah kekacauan dimulai. Raka yang awalnya hanya ingin mencari bahan skripsi justru harus berhadapan dengan ritual aneh, warga desa penuh rahasia, dan teror Kuntilanak Hitam.
Film ini dibintangi oleh Jefan Nathanio sebagai Raka, Hana Saraswati sebagai Sekar, dan Fajar Nugra sebagai Boiman. Deretan pemain lain juga memperkuat cerita, seperti Adi Sudirja, Wira Nagara, Mang Osa, Salsabila Zahra, Dodit Mulyanto, Mo Sidik, dan Yan Patroman. Beberapa karakter pendukung yang turut hadir antara lain Mbah Djambrong, Tejo, Tarno, Surti, Mas Mulyanto, Pak Arief, dan Pak Bambang.
Kehadiran para komika dan aktor komedi menjadi kekuatan utama Dukun Magang. Karakter Boiman, Tejo, Tarno, dan tokoh-tokoh desa dibuat untuk memberi ruang tawa di tengah situasi mistis. Hasilnya, film ini tidak bergerak sebagai horor murni, tetapi sebagai tontonan hiburan yang ramai, lucu, dan tetap memberi sentuhan menyeramkan.
Secara cerita, Dukun Magang juga membawa benturan antara logika modern dan kepercayaan tradisional. Raka yang tidak percaya hal mistis dipaksa melihat langsung kejadian yang tidak bisa ia jelaskan secara nalar. Konflik itu dibungkus dengan gaya ringan agar penonton tetap bisa menikmati cerita tanpa kehilangan unsur komedinya.
Dukun Magang diproduksi oleh Dens Vision Multimedia bekerja sama dengan Wahana Pictures. Film berdurasi 100 menit ini ditulis oleh Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho, serta diproduseri oleh Sahrul Gibran dan Jems Sumartumin.
Dengan kombinasi komedi yang dominan dan horor yang ringan, Dukun Magang menjadi pilihan tontonan bagi penonton yang ingin tertawa, tegang, tetapi tetap santai. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026.
Kamis, 11 Juni 2026
Film Jangan Buang Ibu Jadi Film Drama Mengharukan yang Tayang di Bulan Juni di Bioskop! Mengajak Kita untuk Memuliakan Seorang Ibu
Jakarta, 11 Juni 2026 — Leo Pictures kembali hadir dengan film drama keluarga yang mengharukan lewat Jangan Buang Ibu yang tayang bulan Juni ini di bioskop. Menghadirkan kisah tentang seorang ibu bernama Ristiana yang harus 'dibuang' ke panti jompo karena ketiga anaknya tak mampu merawatnya di rumah.
Diproduseri oleh Agung Saputra dan disutradarai Hadrah Daeng Ratu, Jangan Buang Ibu seolah menjadi tamparan kehidupan untuk kita, saat anak tak lagi mampu merawat ibunya sendiri dan harus membawanya ke panti jompo. Padahal, di masa tumbuh sang anak, ibu selalu menyempatkan waktu dan tenaga demi mereka.
"Jangan Buang Ibu adalah sebuah kisah yang akan mengajak kita kembali memahami arti cinta, pengorbanan, dan kehadiran seorang ibu dalam hidup kita. Semoga kita juga bisa berefleksi untuk terus bisa memuliakan seorang ibu yang telah melahirkan kita," ujar produser dan CEO Leo Pictures Agung Saputra.
Terobosan baru juga dibawa di film Jangan Buang Ibu dengan membuat pemeran utama Nirina Zubir bertransformasi seorang ibu berusia 60 tahun. Di film ini, Nirina memerankan karakter Ibu Ristiana, dan penonton akan mengikuti kehidupannya saat ia berusia 40 tahun, kemudian 50 tahun, dan usia 60 tahun saat sudah banyak kerutan di wajahnya.
Tampil dengan perubahan signifikan, Nirina pun mampu menghadirkan sosok Ibu yang brilian. Tak hanya transformasi fisiknya, kita juga bisa merasakan ketulusannya sebagai seorang ibu yang ikhlas untuk melihat anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi seseorang yang berhasil dalam kehidupan.
"Di film Jangan Buang Ibu, Nirina mendapat tantangan untuk memerankan karakter dengan tiga periode waktu yang berbeda; 40, 50, dan 60-an tahun. Terbayang nggak sih kita memproyeksikan diri kita sendiri 20 tahun yang akan datang, yang kita belum tahu seperti apa? Makanya setiap gerak-geriknya, jalannya, cara tatapan matanya, untuk Nirina lepas agak susah," ujar Nirina Zubir.
"Salah satu perubahan Nirina setelah memerankan Ibu Ristiana adalah sekarang Nirina kalau ngomong lebih santai. Jauh daripada Nirina dulu. Dulu kalau ngomong tuh berapi-api. Tapi setelah memerankan karakter Ibu Ristiana, seperti ada pertanyaan: 'Buat apa sih buru-buru? Santai aja lagi,'" tambah Nirina.
Jangan Buang Ibu dibintangi oleh Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Dwi Sasono, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra. Film ini juga didukung oleh Luna Maya dan Yasmin Napper sebagai produser eksekutif bersama Nur Iman Syafe'i dan Evi Surahmawati.
Film ini juga telah mendapat sambutan meriah di berbagai kota saat Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia di 20 kota sejak 30 Mei–23 Juni 2026. Setiap kota yang didatangi menyambut dengan penuh hangat sekaligus air mata dari seluruh studio bioskop yang tiketnya terjual habis.
Refal Hady, yang juga ikut dalam roadshow Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia mengaku terharu saat melihat antusiasme penonton Indonesia menyambut film ini. Ia banyak bertemu cerita-cerita haru di berbagai kota.
Bagi Refal sendiri, yang memerankan karakter Tama, sulung yang bertanggung jawab dan menanggung hidup ibu dan kedua adiknya, film ini sangat menjadi gambaran kehidupan yang terasa dekat.
"Film ini memperlihatkan perjuangan seorang ibu yang selalu memprioritaskan anak-anaknya dari kecil, dengan susah payah, sosok ibu yang tangguh, dan tanpa kehadiran sosok ayah. Tapi ketika besar, anak-anaknya mengalami dilema antara harus memprioritaskan ibu atau tidak. Ini dilema yang sekarang jadi realitas keadaan banyak dari kita," ujar Refal Hady.
"Ini sangat jadi pembelajaran bagiku. Dan menjadi refleksi, apalagi karena Mamaku sudah tidak ada. Aku jadi makin rindu sama almarhumah Mama. Seorang ibu adalah sosok yang tidak pernah tergantikan," tambah Refal.
Jangan Buang Ibu juga akan menjadi drama keluarga yang hangat dan mengharukan di bulan Juni ini di bioskop. Ikuti informasi terbaru film Jangan Buang Ibu melalui media sosial resmi Instagram @leopictures_official, @filmjanganbuangibu, dan TikTok @leopicturesofficial.
Sinopsis
Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal dengan ketiga anaknya Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) setelah ditinggal suaminya (Dwi Sasono) hidup dalam kesederhanaan dan kerja keras namun mampu membesarkan buah hatinya dengan baik dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya meninggalkan hutang yang sedemikian besar.
Terusik dengan keputusan sepihak dari ibunya, Tama, Dewi, dan Tria dilema dengan keadaan dan kondisi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, utuh sebagai keluarga harus merasakan kesenjangan jarak yang membuat kerinduan yang dalam dari Ristiana. Tak putus harapan untuk berbakti pada ibunda, akankah Tama, Dewi, dan Tria mampu mewujudkan itu sebelum terlambat?
Tentang Leo Pictures
Leo Pictures adalah rumah produksi yang hadir sejak tahun 2019. Berfokus pada pengembangan film dan series dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan berbagai genre mulai dari drama keluarga, thriller, hingga horor, Leo Pictures terus berupaya menghadirkan karya yang mengutamakan emosi, kedekatan cerita, dan pengalaman menonton yang berkesan.
Di Tengah Indonesia yang Semakin Berat, Tanah Runtuh Mengajak Kita Melihat Dunia dari Sudut Pandang Cinta Lewat Sosok Anak Down syndrome
Jakarta, 10 Juni 2026 – Hidup orang dewasa hari ini terasa semakin berat. Mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, hingga dunia yang semakin dipenuhi kemarahan dan perpecahan, banyak orang menjalani hari-harinya dalam keadaan lelah, cemas, dan terus-menerus dituntut untuk bertahan.
Di tengah situasi tersebut, film Tanah Runtuh justru hadir dengan sebuah ajakan yang sederhana, melihat dunia dengan lebih tenang dan lebih penuh cinta.
Melalui karakter Ringgo yang diperankan Ridho Khaliq, seorang anak dengan Down Syndrome, Tanah Runtuh tidak hanya menghadirkan representasi yang jarang terlihat di layar lebar Indonesia, tetapi juga mengajak penonton untuk kembali pada hal-hal yang paling mendasar dalam hidup manusia, keluarga, kasih sayang, dan kepedulian.
Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduseri oleh Denny Siregar, Tanah Runtuh mengikuti perjalanan Kai dan Ringgo yang terpisah dari ibu mereka di tengah sebuah peristiwa besar yang mengubah kehidupan mereka. Namun lebih dari sekadar kisah pencarian, film ini menjadi refleksi tentang bagaimana manusia tetap dapat memilih cinta ketika dunia di sekeliling mereka terasa runtuh.
Bagi Rudi Soedjarwo, yang paling menarik dari film ini justru bukan peristiwa besarnya, melainkan bagaimana manusia-manusia di dalamnya berusaha bertahan dan saling menjaga.
"Ketika dunia terasa runtuh, yang sering menyelamatkan kita justru bukan hal-hal besar tetapi orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal dan peduli. Saya tertarik pada manusia-manusia di dalamnya, dan melalui Ringgo, saya merasa film ini memiliki hati yang sangat kuat," ujar Rudi Soedjarwo.
Produser Denny Siregar mengatakan bahwa sejak awal Tanah Runtuh memang tidak dibuat untuk berbicara tentang konflik, melainkan tentang cinta yang tetap bertahan di tengah keadaan yang paling sulit sekalipun.
"Hari ini kita hidup di masa ketika semua orang seperti sedang marah, takut, dan lelah. Kita terlalu sering melihat dunia dengan prasangka dan kebisingan. Lewat Ringgo, saya merasa kita diingatkan kembali pada sesuatu yang sangat sederhana, bahwa manusia bisa saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa harus melihat perbedaan," ujar Denny Siregar.
Menurutnya, karakter Ringgo tidak pernah dimaksudkan sebagai simbol atau objek belas kasihan. Justru sebaliknya, sosok yang diperankan Ridho Khaliq tersebut menjadi pusat perjalanan emosional film sekaligus jembatan bagi penonton untuk melihat dunia dengan cara yang lebih tenang.
"Di tengah dunia yang semakin rumit, kadang kita justru belajar dari mereka yang memandang hidup dengan lebih jujur dan lebih tulus. Ringgo mengingatkan kita bahwa cinta dan keluarga adalah hal-hal yang membuat manusia tetap bertahan ketika semuanya terasa runtuh," lanjutnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Vino G. Bastian yang memerankan Idham, seorang anggota yang tanpa sengaja dipertemukan dengan Kai dan Ringgo di tengah perjalanan mereka mencari sang ibu.
Bagi Vino, hubungan yang terbangun dengan kedua anak tersebut menjadi inti dari film ini.
"Yang paling menyentuh buat saya bukan konflik atau kekacauan yang terjadi di sekeliling mereka. Justru bagaimana Ringgo melihat dunia dengan cara yang sangat tenang. Ada kejujuran, ada cinta, dan ada ketulusan yang mungkin mulai jarang kita temukan dalam kehidupan orang dewasa hari ini," kata Vino G. Bastian.
Sebagai seorang ayah, Vino juga merasa perjalanan Kai dan Ringgo memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat.
"Kita hidup di masa ketika orang sibuk, semua orang terburu-buru, dan semua orang dituntut untuk terus kuat. Tapi melalui Ringgo, saya merasa diingatkan bahwa kadang yang paling penting bukan menjadi yang paling kuat, melainkan tetap punya hati untuk peduli pada orang lain," ujarnya.
Tanah Runtuh tidak menempatkan karakter dengan Down Syndrome sebagai simbol inspirasi. Sebaliknya, film ini memberikan ruang bagi Ringgo untuk menjadi manusia yang utuh dengan segala rasa takut, kasih sayang, dan harapannya sendiri.
Melalui sosok Ringgo, Tanah Runtuh mengajak penonton melampaui segala keterbatasan dan melihat bahwa bahkan ketika tanah di bawah kaki terasa runtuh, manusia masih memiliki satu hal yang tidak dapat diruntuhkan: kemampuan untuk mencintai.
Dibintangi oleh Vino G. Bastian, Ridho Khaliq, Yoan, Sigi Wimala, Jenda Munthe, hingga Tike Priatnakusumah, Tanah Runtuh akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 25 Juni 2026.
SINOPSIS
Dalam kerusuhan agama di Desa Tanah Runtuh, Poso, Sulawesi Tengah, Kai (9) bersama kakaknya Ringgo (11), seorang anak dengan Down Syndrome, terpisah dari ibu mereka, Emmy (40). Bertekad menemukan ibunya, Kai membawa mereka dalam perjalanan melintasi berbagai lokasi pengungsian di tengah konflik yang terus berlangsung.
Di sisi lain, Idham, seorang anggota, ditugaskan ke wilayah tersebut untuk menangani kerusuhan. Pertemuannya dengan Kai dan Ringgo membuatnya berjanji untuk membantu mereka. Dalam perjalanan yang penuh risiko, ketiganya menghadapi berbagai situasi yang menguji batas kemanusiaan, hingga akhirnya tidak hanya menemukan apa yang mereka cari, tetapi juga membentuk ikatan keluarga yang tak terduga.
CATATAN PRODUKSI
- Judul: Tanah Runtuh
- Sutradara: Rudi Soedjarwo
- Produser: Denny Siregar
- Produksi: Denny Siregar Production
- Durasi: 2 jam 51 menit
- Genre: Drama
PEMERAN
- Vino G. Bastian
- Ridho Khaliq
- Yoan
- Sigi Wimala
- Jenda Munthe
- Tubagus Ali
- Agnes Naomi
- Jerry Likumahwa
- Royhan Hidayat
- Umar
- Tike Priatnakusumah
- Luna Allegra
- Sari Koeswoyo
TENTANG DENNY SIREGAR PRODUCTION
Denny Siregar Production merupakan rumah produksi yang dikenal melalui karya-karya dengan pendekatan cerita yang berani dan relevan secara sosial. Dengan fokus pada narasi yang kuat dan perspektif yang berbeda, perusahaan ini terus mengembangkan film-film yang membuka ruang refleksi sekaligus mendorong representasi yang lebih inklusif dalam industri perfilman Indonesia.
MAGMA Entertainment Umumkan Proyek Horor-Komedi Terbaru "Jump Scare", Siap Syuting Tahun Ini Bersama Dion Wiyoko Segera Tayang 2027
Jakarta, 11 Juni 2026 – Setelah sukses menggebrak industri perfilman Indonesia lewat deretan karya horor box office yang solid seperti Qodrat 1 & 2, Pemukiman Setan, dan yang teranyar Badut Gendong, rumah produksi MAGMA Entertainment siap kembali menyapa para pencinta sinema. Tahun ini, MAGMA mengumumkan proyek film layar lebar terbaru mereka yang diberi judul resmi Jump Scare.
Berbeda dari karya-karya menegangkan sebelumnya, melalui Jump Scare, MAGMA Entertainment akan mengeksplorasi ramuan menyegarkan yang memadukan atmosfer mencekam dengan sentuhan komedi spontan.
Film ini mengangkat premis tentang empat sekawan dengan ambisi untuk membuat sebuah film impian mereka. Setelah mendapatkan warisan sebuah rumah tua, mereka berdebat untuk menjual rumah tersebut demi mendanai mimpi. Namun, rencana tersebut berubah menjadi malapetaka ketika mereka justru menemukan sesuatu yang tak diduga-duga di dalam rumah: sesosok mayat tentara kekaisaran Cina yang telah tersegel selama berabad-abad yang kemudian bangkit meneror.
Dibangun di atas atmosfer ketegangan konstan dan rasa ketakutan yang mendalam, penonton akan diajak menyaksikan bagaimana para karakter utama harus mengandalkan keahlian seadanya serta aksi konyol yang spontan demi bertahan hidup sekaligus menjaga impian mereka tetap hidup.
Bertabur Bintang Lintas Generasi
Proses produksi Jump Scare dijadwalkan akan memulai masa syuting pada tahun ini. Untuk menghidupkan dinamika cerita yang kaya akan ketegangan dan tawa, MAGMA Entertainment resmi menggandeng jajaran aktor serta aktris papan atas, di antaranya: Dion Wiyoko, Ardit Erwandha, Yono Bakrie, Faris Fadjar, Jenny Zhang, dan memperkenalkan Angie Marcheria dalam debut peran utama layar lebar pertamanya.
Dion Wiyoko (Sore: Istri Dari Masa Depan, Cek Toko Sebelah) membagikan antusiasmenya terhadap project terbarunya ini bersama MAGMA Entertainment. "Saya excited sekali bisa ikut bergabung film ini. Saya yakin Jump Scare akan membawa angin segar untuk genre horor-komedi yang sangat dicintai penonton Indonesia, ini adalah film yang sangat unik!" Ujar aktor peraih tiga kali nominasi Piala Citra.
Kekuatan akting dalam proyek terbaru ini juga semakin lengkap dengan keterlibatan bintang senior dan aktor karakter berbakat yaitu Chew Kin Wah, Mike Lucock, Ira Maya Sopha, serta Verdi Solaiman. Jajaran pemain lintas generasi ini dipercaya akan memberikan performa yang kuat dalam memadukan ketegangan horor dengan elemen komedi yang segar.
"Lewat Jump Scare, kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda kepada penonton setelah pencapaian dari karya-karya kami sebelumnya seperti Qodrat, Pemukiman Setan, dan Badut Gendong. Kami mengeksplorasi bagaimana legenda klasik dapat berpadu apik dengan humor situasi yang organik. Kami sangat antusias memulai proses produksi tahun ini bersama jajaran pemeran luar biasa yang kami percaya mampu menghidupkan jiwa dari film ini," ungkap sutradara Charles Gozali dari MAGMA Entertainment.
Proses produksi akan segera dimulai dalam waktu dekat, dan Jump Scare direncanakan untuk "meloncat" ke layar bioskop Indonesia 2027 nanti. Ikuti terus perkembangan tentang film ini di media sosial @magmaent.
SPECIAL SCREENING DAN KONFERENSI PERS FILM: MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula
JAKARTA, 15 Juni 2026 - SPESIAL SCREENING- Di akhir sebuah film, saat credit roll bergulir, selalu muncul deretan nama yang tak kunjung hent...
-
Drama Romantis Religi Adaptasi Novel Populer Karya Diana Febi Persembahan terbaru Vidio, hadir mulai 17 Juli 2025 Sumber foto: Vidio Jakarta...
-
Jakarta, 3 November 2025 — Mentari TV dan Vidio resmi merilis trailer untuk musim perdana serial animasi “New Keluarga Somat”, menandai ter...
-
Kolaborasi Abimana Aryasatya dan Tatjana Saphira dalam series action-romance pertama di Vidio Sumber foto: Vidio Jakarta, 5 Juni 2025 – Vid...










