Kamis, 04 Juni 2026

Europe on Screen 2026 Hadirkan 55 Film Eropa Wajib Tonton dengan Tema dan Perspektif Beragam


Festival film Eropa terlama di Indonesia kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 di delapan kota dengan pemutaran film gratis, kehadiran tamu internasional, serta dukungan bagi sineas muda Indonesia.

Jakarta, 26 Mei 2026 – Festival Film Uni Eropa, Europe on Screen (EoS), kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 di delapan kota di Indonesia. Selama sebelas hari, para pencinta film dapat menikmati 55 film dari 28 negara Eropa yang diputar secara gratis di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Sidoarjo, dan Semarang.

​Memasuki edisi ke-26, Europe on Screen terus memperkuat posisinya sebagai festival film Eropa terlama di Indonesia sekaligus ruang pertemuan budaya antara Eropa dan Indonesia melalui sinema. Program tahun ini menghadirkan beragam tema, perspektif dan gaya sinematik, termasuk karya dari 31 sutradara perempuan dan 9 sineas debutan, yang mencerminkan komitmen festival terhadap inklusivitas dan keberagaman dalam dunia perfilman.

​"Europe on Screen bukan sekedar ruang untuk menayangkan film-film Eropa. Festival ini adalah jembatan budaya yang mempertemukan perspektif dan pengalaman Eropa serta Indonesia melalui sinema. Sejak awal diselenggarakan, EoS juga telah memutar film pendek Indonesia yang kemudian terseleksi di festival film internasional di Eropa. Kami percaya bahwa film memiliki kekuatan untuk membuka dialog, mempererat hubungan budaya dan membangun pemahaman lintas budaya melalui cerita-cerita yang relevan dan manusiawi," ujar Stéphane Mechati, Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

Sinema Eropa dengan Perspektif Segar dan Suara yang Beragam

Film pembuka festival tahun ini adalah The Baronesses (Les Baronnes), film drama komedi produksi bersama Belgia, Prancis dan Luksemburg tahun 2025 yang disutradarai oleh duo anak dan ibu, Nabil Ben Yadir dan Mokhtaria Badaoui. Film ini mengangkat kisah sekelompok perempuan lanjut usia di Brussels yang mencoba kembali mengejar mimpi mereka dengan mengadakan pertunjukan teater yang mereka bintangi sendiri. The Baronesses mendapat perhatian internasional setelah diputar di Namur International Francophone Film Festival serta meraih penghargaan Film Terbaik kategori Rebels with a Cause di Tallinn Black Nights Film Festival 2025 di Estonia.

​Sementara itu, film penutup festival adalah Atlas of the Universe (Atlasul Universului) merupakan film coming-of-age produksi bersama Rumania dan Bulgaria tahun 2026 karya sutradara Paul Negoescu. Film ini mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang melakukan perjalanan tak terduga demi menemukan sepatu kirinya yang hilang. Film ini tayang perdana di Berlin International Film Festival 2026 dalam kategori Generation Kplus dan meraih penghargaan Special Mention.

​"Melalui EoS 2026, kami berusaha menghadirkan film-film inklusif, baik dari sisi tema, perspektif, maupun para pembuat filmnya. Tahun ini kami sangat senang tetap dapat menampilkan karya dari sutradara perempuan dan filmmaker debutan yang membawa suara-suara baru di sinema Eropa. Kami berharap penonton Indonesia bisa menemukan cerita yang terasa dekat sekaligus memperluas perspektif mereka tentang kehidupan dan budaya di Eropa," ujar Nauval Yazid, Festival Co-Director Europe on Screen 2026.

SFPP Kembali Hadir Dukung Sineas Muda Indonesia

Tahun ini, Europe on Screen kembali menggelar Short Film Pitching Project (SFPP), sebuah program pendanaan dan pengembangan film pendek bagi sineas muda Indonesia. Antusiasme terhadap program ini terus meningkat setiap tahunnya. Pada EoS 2026, SFPP menerima 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bukit Tinggi, Riau, Jember, hingga Fakfak di Papua.

​"Tahun ini program Short Film Pitching Project di EoS memasuki tahun ke-9 dimana 23 film pendek sudah berhasil diproduksi oleh ratusan kru film Indonesia dan 50% dari film-film ini berhasil terseleksi di festival film internasional, baik di Indonesia, Eropa maupun di negara lain. Kami percaya program SFPP di EoS adalah bukti nyata bahwa festival film yang baik tak hanya memutar film tapi juga bisa memberikan dampak nyata bagi industri film secara keseluruhan," ujar Meninaputri Wismurti, Festival Co-Director Europe on Screen 2026.

​Salah satu juri SFPP 2026, Asmara Abigail, aktris Indonesia, juga melihat perkembangan menarik dari tema-tema yang diangkat para peserta tahun ini.

​"Saya lihat semakin beragam tema cerita yang masuk ke SFPP EoS 2026 dan ini penting untuk regenerasi sineas-sineas Indonesia. Banyak peserta yang berani mengangkat isu minoritas, identitas, kesehatan mental, dan pengalaman keseharian yang personal. Sebagai salah satu juri, hal ini sungguh merupakan tantangan yang menarik," ujarnya.

​Kesepuluh finalis SFPP EoS 2026 adalah:

  1. Catatan si Kumal karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya asal Sidoarjo.
  2. French Kiss karya Keanu Acyuta dan Arya Pradana Sasmita asal Jakarta.
  3. The Hating Guide karya Rifki Ardishas dan Aka Witharja asal Jakarta.
  4. Kabul karya Gabriela Vanesa Karolus dan Beny Kristia asal Jakarta.
  5. Karina in Male Dominated Field karya Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma asal Tangerang.
  6. The Last Supper karya Amara W. Tunggadewi dan Linda R. Marfuah asal Jakarta.
  7. Leader karya Takha Camilla Aisha A. dan Imam Syafii asal Klaten.
  8. Lemah karya Diko Pradiva dan Ilham Mustofa asal Surakarta.
  9. Lunchtime Monsters karya Gerry Fairus dan Dhita Intani asal Jakarta.
  10. A Medicine for Macho-Only karya Iqbal Keane K. dan Zacky M. Zakaria asal Yogyakarta.

Tamu Internasional dan Venue Baru Meriahkan Festival

EoS 2026 juga akan menghadirkan dua tamu dari industri perfilman Eropa: Damian McCann, sutradara film Aontas (2025) produksi Irlandia, serta Zar Donato, aktris utama film Maricel (2025) produksi Siprus. Kehadiran keduanya memberikan kesempatan bagi penonton, komunitas film dan pelaku industri perfilman Indonesia untuk berdiskusi langsung mengenai proses kreatif, produksi film serta perkembangan sinema Eropa saat ini.

​Selain itu, EoS 2026 juga menghadirkan sejumlah tempat pemutaran film baru, yaitu Alliance Française Semarang, Gedung Oudetrap Semarang, Bali Film School, Galeri Nasional, Komunitas Salihara, dan UNIKA Atma Jaya Jakarta. Dengan total 25 tempat pemutaran di delapan kota, kehadiran beberapa tempat pemutaran baru ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati festival sekaligus memperkuat hubungan EoS dengan komunitas film dan institusi pendidikan yang sudah terjalin selama ini.

​Seluruh pemutaran film Europe on Screen 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

​Informasi lengkap tentang jadwal, lokasi, sinopsis film dan kegiatan lain dapat diakses melalui situs resmi www.europeonscreen.org serta akun media sosial resmi EoS di Instagram, X, Facebook dan YouTube.

Tatiana Mannering Comeback Rapper Perempuan dengan Aura Percaya Diri Lewat Debut “Bae Bong Bong”


Passion Vibe resmi memperkenalkan Tatiana Mannering, seorang rapper dan penulis lagu Jakarta dengan latar belakang Indonesia-Australia, melalui single debutnya yang bertajuk 'Bae Bong Bong-sebuah lagu yang tidak sekadar didengarkan, tetapi yang dapat dipinjam auranya.

Tatiana bukan nama yang sepenuhnya asing. Sebelumnya dikenal sebagai Tat Mannerz, ia memulai perjalanan musikalnya dengan menulis puisi di bangku sekolah saat tinggal di Melbourne, Australia. Kegemarannya menuangkan kata-kata berkembang menjadi eksplorasi menulis lagu di atas free beats dari YouTube, hingga akhirnya merekam lagu pertamanya di Jakarta pada tahun 2018. Kini, setelah tujuh tahun berproses, ia menemukan rumah kreatifnya di Passion Vibe.

Passion Vibe melihat sesuatu yang langka dalam diri Tatiana: seorang rapper perempuan dengan ciri khas yang sulit disamakan. Di tengah lanskap hip-hop Indonesia, suaranya hadir dengan energi feminin yang percaya diri, penuh warna, dan cerdas secara emosional-sebuah kombinasi yang melengkapi roster rapper perempuan di label ini dengan cara yang elegan dan tak terbantahkan.

"Saya mendeskripsikan diriku sebagai artist yang membawa energi feminin, percaya diri, dan penuh warna," ungkap Tatiana Mannering. "Musikku adalah perpaduan antara catchy melodies, playful attitude, dan pesan-pesan yang mengingatkan pendengar untuk menghargai diri mereka sendiri." "Bae Bong Bong lahir dari sebuah momen spontan di studio-sebuah gumaman yang mengalir begitu saja saat Tatiana mencari flow di atas beat. "Bae Bong Bong came out while I was humming over the beat. It's like I'm feeling a vibe, channeling a version of me that's confident, classy, teasing, and fully knows her worth," kenangnya. Kata itu terasa begitu catchy di telinga Belanegara Abe dan Sumantri Limin yang saat itu berada di studio. Dari situlah seluruh lagu dieksplorasi.

Namun, 'Bae Bong Bong' bukan sekadar lagu dengan judul yang unik. Di baliknya, ada filosofi yang Tatiana pegang erat: kepercayaan diri adalah aura yang bisa dibagikan. Every song we listen to carries a certain energy that can influence our mood and emotions," jelasnya. "Bae Bong Bong is wrapped in an uplifting beat designed to boost your confidence and help you power through busy days. Listening to this song is like borrowing that high-energy aura whenever you need an extra boost of confidence, attitude, and good vibes in your daily life."

Bagi Tatiana, "Bae Bong Bong' bukan hanya debut-ini adalah pernyataan. Setelah tujuh tahun berproses di dunia musik, ia akhirnya merasa berada di tempat yang selama ini ia impikan. "After 7 years in music, I finally feel like I'm in the place I've always dreamed of. I've grown alongside a supportive team at Passion Vibe, become more confident in my journey, and found peace in the path I chose, ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Namun, justru dari segala lika-liku itulah lagu ini menemukan momentumnya. "Dengan semua lika-liku yang kulewati di karier musikku, now feels like the perfect time to release a song full of confidence like Bae Bong Bong. In many ways, this song is a reminder that I made it too-not just professionally, but internally. I no longer seek validation from others. I'm simply embracing who I am, and this song celebrates that energy."

Secara musikal, Bae Bong Bong adalah perpaduan antara hip-hop upbeat dan sentuhan. elektronik yang ringan namun bertenaga. Tatiana dan tim menerjemahkan dua elemen kunci-playful summer vibes dan feminine attitude-ke dalam aransemen yang segar dan sulit untuk tidak ikut bernyanyi. "It started with rapping with short bars and adding some shouts to complete the lines. It gives a soft feminine feel that makes you want to sing along, "jelas Tatiana. "The alpha female energy is present too, it blends well with the upbeat hip-hop/electronic sound to the song."

Lagu ini awalnya digarap oleh Belanegara Abe, namun kemudian Sumantri Limin masuk ke dalam proses dan merasakan potensi besar di dalamnya. Kolaborasi ketiganya di studio melahirkan. dinamika yang menyenangkan sekaligus menantang. "Bae Bong Bong and its recording process was so fun, but the hardest part was finding the perfect flow for this type of song because personally, I have never done anything like this, "aku Tatiana. "We pulled it off because we were on the same page in a lot of aspects."

Yang membuat 'Bae Bong Bong' terasa istimewa adalah eksperimen vokal yang Tatiana lakukan. "Di lagu ini aku banyak mainin nada dan mood-dari super chill, speaking softly, ke faster flow dan penyampaian yang makin meningkat energinya. Jadi, the overall new experience for me is to create a soft build-up with a touch of attitude. Ketika ditanya apa yang ingin ia tanamkan di benak. pendengar sebagai pernyataan pembuka kepada industri musik Indonesia, jawaban Tatiana singkat, tajam, dan sulit dilupakan.

"You don't need permission to be confident. Own it." Dan tentang momen apa yang paling cocok untuk mendengarkan 'Bae Bong Bong'-apakah saat berjalan ke pesta, bersiap-siap untuk malam yang menyenangkan, atau sekadar mengingatkan diri sendiri-Tatiana menolak memilih satu.

"I think it's all of the above. Lagu ini berasal dari 'confidence' di dalam diri, and when you're feeling that high energy, you can pull off anything you want and ever wish for. "Bae Bong Bong' akan disertai dengan video musik yang dirilis pada 5 Juni 2026 melalui kanal YouTube Passion Vibe-dua hari setelah perilisan resmi audio pada 3 Juni 2026. Konsepnya? "A playful summer world where confidence shines, feminine energy leads, and attitude becomes an aura everyone can borrow."

Mengenai apakah 'Bae Bong Bong' akan menjadi awal dari proyek yang lebih besar, Tatiana membiarkannya tetap menjadi misteri yang menggoda. "We'll never know. Maybe there will be a series of Bae Bong Bong songs, or maybe it'll simply remain a song that reminds people to be confident. Whatever it becomes, it's definitely a bright start." "Bae Bong Bong' ditulis oleh Tatiana Mannering, dengan produksi oleh Belanegara Abe dan Sumantri Limin. Passion Vibe bertindak sebagai label yang menaungi perilisan ini. Simak single debut Tatiana Mannering, 'Bae Bong Bong', yang akan sudah dirili seluruh digital streaming platform. Video musiknya akan menyusul pada 5 Juni 2026 di YouTube Passion Vibe.

Exeutive Producer : Passion Vibe
Performed By : Tatiana
Track Title : Bae Bong Bong
Mixed by : Sumantri Liminbe
Written by : Tatiana, Belanegara Abe, Sumantri Limin
Produced by : Sumantri Limin
Recorded at : Passion Vibe Compound Jakarta
Mixed by : Sumantri Limin

Naura Ayu Buka Babak Baru Lewat Album Paling Personal Berjudul “Cerita Penuh Cahaya”

Melalui tujuh lagu yang lahir dari pengalaman hidupnya, Naura berbagi kisah tentang bertumbuh, keluarga, persahabatan, kehilangan, dan proses beranjak dewasa Naura Ayu kembali menyapa pendengar melalui album terbarunya bertajuk Cerita Penuh Cahaya. Album ini menjadi album kelima dalam perjalanan bermusiknya, setelah album terakhir delapan tahun lalu. Karya ini hadir di momen yang sangat penting dalam kehidupan Naura, saat ia menginjak usia 21 tahun dan memasuki fase baru sebagai seorang perempuan muda yang tengah bertumbuh. Lebih dari sekadar album, Cerita Penuh Cahaya menjadi dokumentasi perjalanan emosional Naura selama beberapa tahun terakhir. Album ini merekam berbagai fase kehidupan yang ia lalui. Tentang bertahan di tengah hari-hari sulit, menghadapi kehilangan, belajar menerima diri sendiri, hingga menemukan kembali harapan dalam orang-orang yang dicintai.

“Album ini sangat spesial buat aku karena hadir di fase hidup yang juga sangat spesial. Setelah delapan tahun tidak merilis album, aku merilis Cerita Penuh Cahaya di usia 21 tahun, saat aku sedang mengalami banyak perubahan dan pertumbuhan sebagai individu. Buat aku, album ini adalah penanda babak baru, peralihan dari masa remaja menuju kedewasaan. Aku berharap lagu-lagu di dalamnya bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang merasa sendiri, sedang bertumbuh, atau sedang mencari cahaya di masa-masa sulit mereka,” ujar Naura Ayu.

Album ini dibuka dengan lagu berjudul Cerita Penuh Cahaya, sebuah intro yang hadir sebagai doa sekaligus pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit, bahkan setelah melewati hari-hari yang paling sulit. Lagu ini menjadi pembuka yang mengajak pendengar untuk tetap percaya bahwa selama masih diberi satu hari lagi untuk bernapas, selalu ada kesempatan baru dan harapan yang menunggu di depan.

Perjalanan kemudian berlanjut melalui Lampu Jalan, yang sebelumnya sudah dirilis sebagai single. Lagu ini merupakan sebuah refleksi tentang masa kecil yang terasa begitu sederhana dibandingkan kehidupan saat dewasa. Lewat lagu ini, Naura mengajak pendengar bernostalgia dengan diri mereka yang lebih muda, sekaligus mempertanyakan berbagai perubahan, tekanan, dan overthinking yang datang seiring bertambahnya usia.

Sisi yang lebih rapuh hadir dalam Apa yang Kurang?, lagu yang lahir dari pengalaman pengkhianatan dalam sebuah pertemanan yang pernah begitu berarti bagi Naura. Lagu ini menggambarkan perasaan ketika kepercayaan yang telah diberikan sepenuhnya justru berbalas luka, hingga membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya sendiri dan bertanya, “apa yang sebenarnya kurang dari diriku?”

Di Untukmu, yang Belum Kutemui, Naura berbicara tentang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih mencari seseorang untuk mengisi kekosongan, lagu ini menjadi surat bagi sosok yang belum hadir dalam hidupnya. Sebuah cerita tentang memilih bertumbuh,memulihkan diri, dan menjaga diri dengan baik sambil percaya bahwa cinta akan datang pada waktu yang tepat.

Salah satu lagu paling personal dalam album ini adalah Pilih Kalian Lagi. Ditulis sebagai kejutan untuk kedua orang tuanya, lagu ini menjadi ungkapan cinta dan rasa syukur atas keluarga yang telah membesarkannya. Melalui lagu ini, Naura menyampaikan bahwa di tengah segala perbedaan, kesalahpahaman, dan kekurangan yang dimiliki setiap keluarga, ia akan selalu memilih kedua orang tuanya lagi dan lagi.

Pesan penerimaan diri hadir melalui Tak Ada Tata Caranya. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak ada panduan sempurna untuk menjalani kehidupan. Setiap orang pernah merasa bingung, melakukan kesalahan, merasa kurang, atau berusaha terlihat kuat di hadapan banyak orang.

Melalui lagu ini, Naura mengajak pendengar untuk menerima bahwa tidak harus selalu baik-baik saja, karena menjadi manusia berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh.

Album ini ditutup dengan Terima Kasih, sebuah surat hangat yang dipersembahkan untuk para sahabat, teman sekolah, dan guru-guru yang telah menemani perjalanan hidupnya sejak kecil.

Berangkat dari kerinduan pada masa sekolah dan rasa syukur atas persahabatan yang tetap terjaga hingga hari ini, lagu ini menjadi penghormatan bagi orang-orang yang selalu membuatnya merasa diterima, pulang, dan tetap membumi di tengah berbagai perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam proses kreatif album ini, Naura bekerja sama dengan produser Ivan Tangkulung yang membantu menerjemahkan cerita-cerita personal tersebut ke dalam lanskap musikal yang lebih matang dan modern.

“Bagi saya, album ini menunjukkan metamorfosis Naura. Dari sisi sound dan gaya bermusik, album ini tetap mempertahankan identitas musikal yang selama ini dikenal dari Naura, tetapi hadir dengan sentuhan pop modern yang lebih matang. Prosesnya juga sangat kolaboratif.

Naura banyak berbagi cerita hidup dan referensi musik yang ingin ia hadirkan, sementara saya membantu menerjemahkan cerita-cerita tersebut melalui orkestrasi dan pendekatan produksi pop modern,” ujar Ivan Tangkulung.

Melalui Cerita Penuh Cahaya, Naura Ayu tidak hanya menandai kembalinya dirinya sebagai penyanyi dengan album setelah delapan tahun, tetapi juga membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup dan bermusiknya. Sebuah karya yang lahir dari pengalaman personal, namun pada akhirnya berbicara tentang hal yang dekat dengan banyak orang: bertumbuh, menerima, dan menemukan cahaya di tengah perjalanan hidup.

Album terbaru Naura Ayu, “Cerita Penuh Cahaya”, resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 4 Juni 2026.


NAURA AYU

Artist : NAURA AYU

Album Title : CERITA PENUH CAHAYA

Executive Producer: YONATHAN NUGROHO for TRINITY OPTIMA PRODUCTION

Produced by: IVAN TANGKULUNG

Tracklist :

1. INTRO: Cerita Penuh Cahaya

2. Lampu Jalan SONGLIST

3. Cerita Penuh Cahaya

4. Apa yang Kurang?

5. Untukmu, yang Belum Kutemui

6. Tak Ada Tata Caranya

7. Pilih Kalian Lagi

8. Terima Kasih


Trinity Optima Production (TOP)

Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi “Nurturing STARS to Inspire Happiness”, TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent,perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Mengenal Edwin, Sutradara Indonesia Pemenang Banyak Penghargaan!‎Selalu Membawa Eksperimen dan Eksplorasi Sinematik Termasuk di Film Terbarunya Monster Pabrik Rambut

Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 28 Mei 2026 - Edwin adalah salah satu sutradara Indonesia yang memiliki rekam jejak filmografi menawan. Salah satu prestasi tertingginya adalah filmnya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) memenangkan penghargaan utama di ajang festival film internasional, yakni Golden Leopard di Locarno International Film Festival.
‎Kini, Edwin akan merilis film terbarunya, Monster Pabrik Rambut, yang akan tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Film ini juga telah berkeliling di berbagai festival film internasional. Monster Pabrik Rambut tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Dilanjutkan dengan tayang di Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026, dan tayang di Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.
‎Monster Pabrik Rambut menjadi film panjangnya kedelapan. Sebelumnya, Edwin telah menggarap film panjang Kabut Berduri (2024), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Aruna & Lidahnya (2018), Posesif (2017), Someone's Wife in the Boat of Someone's Husband (2013), Postcards from The Zoo (2012), dan Babi Buta yang Ingin Terbang (2008).
‎Film-filmnya telah tayang di berbagai festival film internasional dan mendapat berbagai penghargaan. Lewat filmografinya termasuk di film pendeknya, Edwin telah meraih 28 nominasi dan 15 kemenangan di berbagai ajang festival baik di dalam negeri maupun internasional. Di antaranya di FFI ia memenangkan 4 Piala Citra. Edwin juga mendapat anugerah penghargaan Edward Yang New Talent Award di Asian Film Awards 2012.
‎Dikenal lebih dulu di skena perfilman independen, Edwin dinilai mampu memadukan eksplorasi berbagai elemen di setiap film-filmnya, termasuk film-film yang dinilai lebih naratif. Edwin selalu menawarkan kebaruan pendekatan dengan imajinasi sinematiknya yang fantastis.
‎Di film Postcards from The Zoo misalnya, Edwin menghadirkan seorang pesulap koboi misterius (Nicholas Saputra) di Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Di film Aruna & Lidahnya, Edwin menampilkan fantasinya dalam mimpi Aruna (Dian Sastrowardoyo). Di Kabut Berduri, Edwin menghadirkan sosok misterius di tengah pedalaman hutan yang selalu menjadi bayang ketakutan dari Sanja (Putri Marino). 
‎"Ketika membuat film saya selalu ingin memahami karakter-karakter yang ada di kehidupan kita. Ada semacam eksperimen yang harus terus dilakukan untuk mengupayakan menunjukkan dan menampilkan manusia semaksimalnya," ujar Edwin tentang eksplorasi di setiap filmnya.
‎Di film Monster Pabrik Rambut, Edwin juga menampilkan sisi ajaib dan fantastisnya lewat karakter Monster dan Bona (Iqbaal Ramadhan). Di film ini, Edwin menghadirkan tubuh karakter manusia yang selalu bisa tumbuh kembali layaknya amfibi endemik Meksiko Axolotl.
‎"Di Monster Pabrik Rambut ini ada elemen fantasi, ada monster yang harus dibuat, dan ada sisi fantasi seperti tangannya si Bona, yang diperankan Iqbaal, itu meski putus, bisa muncul lagi. Dan itu belum pernah saya buat dan jelajahi sebelumnya," tambah Edwin.
‎Hal itu juga yang membuat Iqbaal Ramadhan tertarik untuk memerankan karakter Bona, sekaligus terlibat sebagai produser eksekutif di film ini. "Menurutku Monster Pabrik Rambut memberikan opsi baru bagi perfilman Indonesia. Ini adalah horor yang seru, fantasi, dan ajaib. Dan aku tampil sangat berbeda di film ini, belum pernah aku lakukan sebelumnya," ujar Iqbaal Ramadhan.
‎Tonton keajaiban dan kefantastisan sinematik Edwin dalam film horor fantasi terbaru Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfiiman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas. 

Eka Kurniawan Ceritakan Perbedaan Menulis Novel dan Skenario Film: Kolaborasi Terbarunya Bersama Edwin di Monster Pabrik Rambut

Eka Kurniawan menjadi salah satu penulis skenario film Monster Pabrik Rambut yang tayang mulai 4 Juni 2026

Jakarta, 25 Mei 2026 – Novelis Eka Kurniawan bercerita tentang perbedaan prosesnya dalam menulis novel dan skenario film. Eka sendiri diketahui sebelumnya telah menulis skenario untuk film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), sebuah film yang diadaptasi dari novel populernya. Di film itu, Eka turut menulis skenario bersama sang sutradara Edwin.

​Terbaru, Eka kembali berkolaborasi bersama Edwin untuk menulis skenario dalam film Monster Pabrik Rambut, yang disutradarai Edwin. Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev.

​"Orang sering tanya, apa bedanya nulis novel dan skenario? Sederhananya, menulis novel itu pekerjaan individual, sementara menulis skenario film itu pekerjaan tim. Baik sebagai co-writer, maupun dalam konteks yang melibatkan bagian produksi lain," ungkap Eka Kurniawan tentang perbedaan menulis novel dan skenario.

​Eka membeberkan, salah satu tantangan saat menulis novel adalah ia harus menanggungnya seorang diri ketika mentok. Sementara, dalam menulis skenario film, ada tantangan bersama dinamika dari anggota kru/tim lain.

​Proses terciptanya film Monster Pabrik Rambut bermula saat Eka mampir ke kantor Palari Films. Saat itu, Edwin bertanya kepada Eka terkait ajakan berkarya dan kembali berkolaborasi setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang sukses memenangkan 5 Piala Citra FFI termasuk untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik untuk Eka dan Edwin.

​"Setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Edwin bertanya, bikin apa lagi, ya? Saya memang kadang mampir kantor Palari Films dan kami ngobrol di bagian belakang. Jawaban saya, yuk, bikin cerita dari nol," ungkap Eka.

​"Saya pun mulai menulis draft pertama dari premis sederhana: bagaimana kalau kamu terpaksa kurang tidur karena lembur, terus jadi lihat hantu?" tambah Eka.

​Edwin menambahkan, banyaknya referensi Edwin bersama Eka tentang komik dan film era '80-an, menjadikan keduanya dengan mudah menciptakan sosok monster di film horor ini.

​"Komik Indonesia dibumbul dengan banyak cerita-cerita komedi, action dan sedikit banyak juga horor. Kalau kita ingat-ingat, beberapa judul yang ada bahkan komik Petruk Gareng yang harusnya komedi saja bisa jadi horor," ungkap Edwin tentang referensi menciptakan sosok horor dan monster di film ini.

​Tak hanya komik, film-film Indonesia era '80-an turut menyumbang referensi untuk Edwin dan Eka. Penggunaan practical effect yang terasa 'konyol', justru membekas bagi keduanya yang tumbuh di masa itu.

​"Saya rasa itu juga apa terbangun dari bagaimana observasi kami sebagai filmmaker-nya, saya, Mas Eka, itu melihat kembali yang urgent dan relevan saat ini. Bahwa kita berada di sebuah kondisi yang bisa dibilang cukup horor. Karena kita seperti tidak punya kontrol terhadap diri kita sendiri, terhadap kemanusiaan kita sendiri, untuk memberikan segala sesuatunya secara berlebihan, lebih-lebih lagi kepada pekerjaan. Yang bisa berakibat fatal, dan seramnya lagi itu dinormalisasikan dan dianggap sebagai risiko, jadi dari situ lah monster di film ini tercipta," cerita Edwin.

​Naskah film ini dikerjakan selama hampir dua tahun dengan belasan draft. Dari premis sederhana yang dikembangkan Eka, kemudian dibangun dari sebuah cerita yang terjadi di sebuah pabrik. Setelah Eka dan Edwin berkunjung ke sebuah pabrik wig, dan melihat gudang serta alat-alat yang terasa menyeramkan, cerita di film pun semakin solid dan terbentuk.

​Penonton Indonesia akan menyaksikan horor fantasi dari ciptaan Edwin dan Eka Kurniawan di film Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia! 

Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram resmi @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.

Sinopsis

‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".

‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Mulai Tayang Hari Ini! 'Nobody Loves Kay' Jadi Suara Perjuangan Gen Z Mengejar Mimpi dan Sebuah Pembuktian Bagi Mereka yang Meremehkan

Jakarta, 4 Juni 2026 – Mulai hari ini, Kamis, 4 Juni 2026, film drama remaja yang paling memicu perbincangan hangat tahun ini, Nobody Loves Kay, resmi tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia. Diproduksi oleh ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, Qun Films, dan bekerja sama dengan Visinema Pictures, film ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebuah manifesto dan suara lantang bagi generasi baru yang sedang berjuang mewujudkan mimpi mereka di tengah skeptisisme dunia.

​Terinspirasi dari kisah nyata perjuangan dari nol jungler andalan Landak Kuning, ONIC Kairi, film drama coming-of-age arahan sutradara debutan Bernardus Raka ini memotret realitas tajam tentang ambisi, harga sebuah pilihan, dan bagaimana rasanya berdiri tegak saat semua orang, bahkan orang tua sendiri, berhenti berpihak pada kita.

Nobody Loves Kay disambut dengan sangat meriah oleh para penonton dan reviewer film yang telah menonton sebelum rilis, tak sedikit pula yang menempatkan film ini sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Akun film WatchmenID, yang menyempatkan menonton dua kali sebelum rilis membagikan reaksi setelah keluar dari pintu bioskop. "Bagus banget, bagus ceritanya, bagus karakternya, bagus dramanya, buset bagus!" sebut WatchmenID dalam sebuah post di X.

Mimpi Besar Butuh Usaha yang Tak Kalah Besar

​Melalui karakter Kay yang diperankan oleh Bima Azriel, film ini membawa pesan mendalam bahwa sebuah mimpi yang tidak konvensional, seperti menjadi pro-player e-sport, bukanlah hal yang mustahil jika dibayar dengan dedikasi yang sepadan. Kay mengajarkan bahwa jika kita berani memiliki mimpi yang besar, maka usaha dan pengorbanan yang dikeluarkan juga harus jauh lebih besar. Ini adalah satu-satunya cara terbaik untuk berdiri tegak dan "Prove Them Wrong" di hadapan mereka yang selama ini meremehkan.

​Sutradara Bernardus Raka mengungkapkan bahwa film ini didedikasikan untuk setiap anak muda yang sedang bertaruh nyawa demi masa depannya. "Kay adalah representasi dari generasi hari ini yang sering kali harus berjalan di kegelapan sendirian karena mimpinya dianggap aneh atau tidak realistis oleh lingkungan, bahkan oleh orang tua mereka sendiri. Lewat film ini, kami ingin bilang kalau mimpi kalian itu valid. Tapi ingat, untuk membuang keraguan (prove them wrong), kalian harus membayarnya dengan kerja keras yang luar biasa," tegas Bernardus Raka.

Gejolak Emosi, Persahabatan, dan Konflik Keluarga

​Kedalaman akting di film ini didukung kuat oleh penampilan tiga aktor muda berbakat, Bima Azriel, Rey Bong serta Joshia Frederico, yang berhasil menghidupkan dinamika persahabatan yang retak akibat benturan ambisi dan kenyataan hidup yang pahit.

Bima Azriel, pemeran karakter Kay, mengaku sangat emosional saat pertama kali membaca naskah dan mengeksekusi adegan-adegan krusial di film ini. "Konflik paling berat bagi Kay adalah ketika dia tahu orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya, nggak mendukung apa yang dia kejar. Aku rasa banyak banget anak muda di luar sana yang relate dengan posisi Kay. Karakter ini mengajarkan aku, dan semoga juga para penonton, bahwa rasa sakit saat diremehkan itu bisa dijadikan bahan bakar untuk membuktikan kalau kita bisa sukses dengan jalur kita sendiri," ungkap Bima Azriel.

​Sementara itu, Rey Bong yang memerankan karakter Ido, sahabat dekat Kay, menambahkan bahwa kekuatan film ini terletak pada hubungannya yang sangat manusiawi. "Di film ini, penonton bakal lihat kalau perjuangan ngejar mimpi itu nggak pernah sendirian, ada sahabat yang ikut bertaruh di sana. Tapi, ego dan ambisi kadang bisa merusak semuanya. Menonton film ini bakal bikin kita berkaca lagi tentang arti ketulusan, persahabatan, dan sedalam apa kita mengenal diri kita sendiri," tutur Rey Bong.

​Sedangkan Joshia pemeran karakter Aurelio mengungkapkan, bahwa lewat film ini ia justru belajar kembali tentang makna berjuang bersama dengan teman-teman, mengingat di sini memang meng-highlight persahabatan Kay, Ido dan Aurelio. "Sebesar apapun tantangan saat mengejar mimpi, dengan adanya dukungan, pasti akan terasa lebih mudah, kan? Nah di film ini, sayangnya nggak semua bisa dapat dukungan itu, bahkan teman yang tadinya jalan beriringan, bisa jadi nggak lagi saling dukung. Di situlah ujian yang sesungguhnya. Banyak banget pembelajaran tentang hidup yang bisa kita ambil dari film ini," ungkap Joshia.

Siapkan Tisu dan Peluk Orang Terdekatmu!


Nobody Loves Kay adalah film yang sangat lekat dengan siapa saja yang sedang berjuang mencari jati diri, memulihkan hubungan dengan keluarga, dan membuktikan diri pada dunia. Setelah sukses memicu banjir air mata di malam Gala Premiere dan rangkaian Special Screening di berbagai kota, film ini siap mengaduk-aduk emosi penonton secara massal mulai hari ini.

Bersiap-siaplah, karena ledakan emosional di akhir film ini dijamin akan membuatmu menangis. Tiket sudah dapat dibeli di seluruh bioskop kesayangan Anda. Pantau terus akun sosial media resmi @nobodyloveskay untuk informasi theater visit, nonton bareng, dan pembaruan terkini!

Rabu, 03 Juni 2026

‎Di Luar Nurul, Drama Remaja tentang Ambisi, Persahabatan, dan Pencarian Jati Diri

Dibintangi Nayla Purnama, Gabriel Harun Giroux, Rayensyah Rassya, dan Lea Ciarachel, serial ini mengikuti perjalanan seorang remaja yang berjuang membuktikan diri di lingkungan baru demi meraih mimpi besarnya.

Jakarta, 3 Juni 2026 - Mengawali bulan Juni, Vidio kembali menghadirkan tayangan Original Series terbaru berjudul Di Luar Nurul, sebuah serial bergenre teen comedy drama yang mengangkat dinamika kehidupan remaja, perjuangan mengejar mimpi, pencarian jati diri, hingga ka-liku cinta di masa sekolah. Diproduksi oleh Screenplay Films dan disutradarai oleh Angling Sagaran dan Adis Kayl, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian generasi muda dengan balutan komedi yang ringan, hangat, dan menghibur.

Dibintangi oleh Nayla Purnama, Gabriel Harun Giroux, Rayensyah Rassya, Lea Ciarachel, Keysha Angelica, Ghina Sungkar, dan sederet bintang muda berbakat lainnya, Di Luar Nurul siap mengajak penonton mengikuti perjalanan seorang remaja yang harus keluar dari zona nyamannya demi meraih cita-cita besar.

Dunia Baru di Balik Mimpi Besar Kania

Di Luar Nurul bercerita tentang Kania (Nayla Purnama), siswi cerdas dan ambisius yang memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Oxford. Bersama sahabat-sahabatnya di geng The Centils, Jihan (Keysha Angelica) dan Aisyah (Ghina Sungkar), Kania menjalani masa remaja yang penuh warna. Ketiganya kerap diasosiasikan dengan sosok "Nurul", istilah yang lekat dengan remaja perempuan Gen Z yang autentik, ekspresif, penuh rasa ingin tahu, serta menemukan kebahagiaan dalam momen-momen sederhana masa remaja.

Di balik mimpinya yang besar, Kania tetaplah remaja pada umumnya. la senang menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya, berburu jajanan favorit sepulang sekolah, hingga menikmati live music. Kania tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri, tanpa merasa perlu mengubah siapa dirinya demi mengikuti standar orang lain.

Sumber: Vidio

Kehidupan yang selama ini terasa nyaman mulai berubah ketika Kania mendapat kesempatan untuk bersekolah di SMA Galaxy, sekolah internasional bergengsi yang dikenal. memiliki program akademik unggulan. Kesempatan tersebut membawanya selangkah lebih dekat dengan impian untuk berkuliah di luar negeri, namun juga mempertemukannya dengan dunia yang sama sekali baru.

Di SMA Galaxy, Kania mengalami culture shock karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dari sekolah lamanya. Dari kantin yang menyajikan menu-menu yang tidak familiar baginya hingga teman-teman yang datang ke sekolah dengan mobil pribadi, Kania merasa seperti memasuki dunia baru.

Jika sebelumnya Kania selalu menjadi salah satu murid paling pintar di sekolahnya, di SMA Galaxy keadaan justru berbalik, la mendapati dirinya harus berjuang mengejar ketertinggalan di tengah lingkungan yang dipenuhi siswa-siswa berprestasi. Pengalaman tersebut membuat Kania untuk pertama kalinya menghadapi rasa tidak percaya diri dan keraguan terhadap kemampuannya sendiri.

Membuktikan Bahwa Mimpi Tidak Ditentukan oleh Latar Belakang

Sumber: Vidio

Bagi Kania, bersekolah di SMA Galaxy bukan hanya tentang mengejar impian untuk kuliah di luar negeri, tetapi juga membuktikan bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh asal sekolah maupun latar belakangnya. Perjalanan Kania pun menjadi upayanya untuk mematahkan stigma sekaligus membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.

Menghidupkan karakter Kania, Nayla Purnama melihat sosok yang diperankannya sebagai representasi banyak anak muda yang berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar Impian yang lebih besar.

"Yang aku suka dari Kania adalah dia nggak gampang minder. Walaupun sering dipandang sebelah mata karena berasal dari sekolah negeri, dia tetap fokus sama tujuannya dan nggak mau membatasi dirinya karena omongan orang lain. Menurut aku, itu pesan yang relatable banget buat anak-anak muda yang mungkin pernah merasa diremehkan atau dianggap nggak mampu," ujar Nayla.


Menghadapi Perbedaan dan Menemukan Jati Diri

Selain perjalanan Kania, Di Luar Nurul juga menghadirkan karakter Lily yang memiliki dinamika menarik sepanjang cerita. Di balik kesan populer dan percaya diri yang ditampilkan di awal, Lily sebenarnya merupakan remaja yang masih mencari jati diri dan berusaha menemukan tempatnya sendiri.

Menurut Lea Ciarachel, salah satu hal yang membuat karakter Lily menarik adalah perjalanan emosional yang dialaminya sepanjang cerita.

"Lily adalah remaja yang sedang berada dalam fase mencari jati diri dan mencoba memahami dunia di sekitarnya. Di awal cerita, dia cukup arogan dan sering memandang rendah orang lain karena terbiasa berada di lingkungan seperti itu. Namun seiring berjalannya cerita, Lily menghadapi berbagai pengalaman yang membuat cara pandangnya perlahan berubah, Menurut aku, lewat karakter Lily, penonton bisa melihat bahwa kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari latar belakang atau kesan pertama. Kadang kita perlu mengenal seseorang lebih jauh sebelum memberi penilaian," jelas Lea.

Gus Ammar, Sosok Idola yang Mengubah Hidup Kania

Sumber: Vidio

Salah satu karakter yang mencuri perhatian dalam Di Luar Nurul adalah Gus Ammar, sosok siswa teladan yang dikenal baik hati, berwawasan luas, dan dikagumi banyak orang di sekitarnya, termasuk Kania dan The Centils. Untuk memerankan karakter tersebut, Rayensyah Rassya mengaku melakukan berbagai riset agar dapat memahami sosok remaja yang tumbuh dengan nilai-nilai agama yang kuat.

"Mendalami karakter Gus Ammar menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya karena banyak hal baru yang bisa dipelajari, terutama dari sisi pengetahuan agama. Saya mencari berbagai referensi dari tokoh-tokoh publik dan para gus yang sudah dikenal masyarakat. Menurut saya, Ammar memang memiliki sifat yang dewasa, tetapi tetaplah seorang remaja berusia 17 tahun yang masih berada dalam proses bertumbuh dan belajar," ungkap Rayensyah. 

Saksikan Vidio Original Series Di Luar Nurul Hanya di Vidio!

Mengangkat tema persahabatan, mimpi, pencarian jati diri, hingga cinta pertama, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Lewat perjalanan Kania dan teman-teman barunya di SMA Galaxy, penonton akan diajak menyaksikan berbagai tantangan, momen menggemaskan, konflik yang relatable, hingga proses bertumbuh yang penuh makna.

Jangan lewatkan kisah Kania dalam mengejar mimpinya, menghadapi lingkungan baru, dan menemukan dirinya di tengah berbagai perubahan. Saksikan Di Luar Nurul mulai Jumat, 5 Juni 2026, dengan episode terbaru yang hadir setiap hari Jumat, eksklusif hanya di Vidio. 


Di Luar Nurul - Informasi

  • Title: Di Luar Nurul
  • Production: Screenplay Films
  • Genre: Komedi Remaja, Drama (Teen Comedy, Drama)
  • Total Episodes: 8
  • Director: Angling Sagaran, Adys Kayl
  • Executive Producers: Sutanto Hartono, Mark Francis, Kristo Damar
  • Producer: Wicky V Olindo
  • Co-Producer: Andreas Winardi
  • Executive Producer: Anthony Buncio
  • Co-Executive Producer: Christina Tan
  • Co-Producer: Agus Wijaya Aidi
  • Supervising Producer / Story Editor: Keke Mayang
  • Written by: Candro Aditya, Sarah Adilah
Cast:
​Nayla Purnama sebagai Kania
​Gabriel Harun Giroux sebagai Bagas
​Rayensyah Rassya sebagai Gus Ammar
​Lea Ciarachel sebagai Lily
​Tika Bravani sebagai Ninik
​Joe P Project sebagai Kakek Ruslam
​Habil Nugraha sebagai Jerry
​Keysha Angelica sebagai Jihan
​Ghina Sungkar sebagai Aisyah
​Alif Rivelino sebagai Ronald
​Chelcy Clarissa sebagai Britney

Keajaiban Berawal Dari Rasa Percaya, Saksikan Garuda Di Dadaku Mulai 11 Juni 2026 Di Bioskop

Film animasi keluarga tentang keberanian bermimpi dan orang-orang yang memilih untuk percaya pada kita.

Jakarta, 3 Juni 2026 — Setelah melalui perjalanan panjang dan melibatkan ratusan kreator animasi Indonesia, film animasi keluarga Garuda Di Dadaku akhirnya siap menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 Juni 2026.

​Mengangkat kisah Putra (Keanu Azka), seorang anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pemain tim nasional Indonesia, Garuda Di Dadaku bukan hanya bercerita tentang mimpi besar seorang anak. Film ini adalah kisah tentang rasa takut, keraguan, kegagalan, dan orang-orang yang tetap memilih untuk percaya pada kita ketika kita mulai meragukan diri sendiri.

​Dalam perjalanannya, Putra ditemani oleh Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis yang membawanya menemukan kembali keberanian untuk melangkah. Ia juga ditemani oleh Naya (Quinn Salman), sahabat yang selalu hadir untuk mengingatkan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar ketika kita tidak berjalan sendirian.

​Melalui petualangan yang hangat, emosional, dan penuh tawa, Garuda Di Dadaku mengajak keluarga Indonesia melihat bahwa keajaiban sering kali tidak dimulai dari kemenangan besar, melainkan dari satu langkah kecil, satu dukungan sederhana, dan satu orang yang memilih untuk percaya.

​"Bagi saya, Garuda Di Dadaku lahir dari pengalaman yang sangat personal. Saya percaya setiap anak pernah merasa tidak cukup baik, pernah takut gagal, atau merasa mimpinya terlalu jauh untuk diraih. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Dan sering kali yang membuat kita terus melangkah bukan karena kita tiba-tiba menjadi berani, tetapi ada seseorang yang lebih dulu percaya pada kita," ujar sutradara Ronny Gani.

​Pesan tersebut juga menjadi alasan mengapa Garuda Di Dadaku dirancang sebagai film keluarga.

​"Sebagai orang tua, kadang kita lupa bahwa satu kalimat sederhana, satu bentuk dukungan kecil, bisa menentukan apakah seorang anak berani melangkah atau memilih menyerah. Garuda Di Dadaku adalah pengingat bahwa kepercayaan yang kita berikan hari ini bisa menjadi bagian penting dari mimpi besar mereka di masa depan," ujar produser Shanty Harmayn.

​Selain menghadirkan petualangan yang menghibur, Garuda Di Dadaku juga menjadi wujud kolaborasi besar para kreator animasi Indonesia. Film ini mempertemukan ratusan talenta dari berbagai disiplin kreatif dan studio animasi untuk menghadirkan sebuah cerita yang dekat dengan pengalaman keluarga Indonesia. Selain diproduksi oleh KAWI Animation, film ini turut melibatkan studio-studio animasi dan kreatif seperti Imaji Studio, Manimonki Studio, Leomotions Studio, Robot Playground Media, Ayena Studio, BRD Studio, Bara Studio, AtomicTune Studio, Loom Creations, Moving Things Production, IMV Studio, Shark Animation, LiteFX, serta Brown Bag Films Bali.

​Perjalanan Garuda Di Dadaku juga mendapat pengakuan di panggung internasional. Film ini baru saja terpilih sebagai salah satu nominasi kategori Animation dalam Golden Goblet Awards di ajang Shanghai International Film Festival 2026 dan bersaing bersama karya-karya animasi dari Brazil, Swedia, Norwegia, Denmark, Prancis, Spanyol, Chile, dan Argentina. Pencapaian ini menjadi salah satu langkah penting bagi animasi Indonesia untuk semakin dikenal dan diperhitungkan di kancah global.

​Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, Garuda Di Dadaku merupakan interpretasi animasi baru dari IP legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah hidup di hati banyak keluarga Indonesia selama lebih dari satu dekade.

​Film ini disutradarai oleh Ronny Gani, dengan Dewi Rosma sebagai Produser Pelaksana. Tim kreatif inti Garuda Di Dadaku juga mencakup R. Katamsi sebagai Art Director, Dimas Yoga MK sebagai Animation Director, Herwin Arkiando sebagai 3D Asset Supervisor, serta Dika Irami sebagai Lighting, Render & Compositing Supervisor.

Garuda Di Dadaku menghadirkan jajaran pengisi suara Keanu Azka, Kristo Immanuel, Quinn Salman, Ibnu Jamil, Revalina S. Temat, Sal Priadi, Ringgo Agus Rahman, Rizky Ridho, Zee Asadel, Oki Rengga, Emir Mahira, dan Bima Sena.

​Film ini juga menghadirkan dua original soundtrack, yaitu "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati dan "Bersama Sang Garuda" yang dinyanyikan oleh Quinn Salman.

​Saksikan Garuda Di Dadaku mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

​Tiket film animasi keluarga GARUDA DI DADAKU sudah bisa dibeli mulai hari ini di semua online platform bioskop XXI, CGV dan Cinepolis juga TIX.ID.

​Karena setiap mimpi besar selalu dimulai dari seseorang yang percaya.

​#GarudaDiDadaku

#BeraniBermimpi

​Catatan tentang Garuda Di Dadaku

​Garuda Di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission serta bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.

​Akun Resmi:

​Instagram: @base.id | @garudadidadaku.film

​TikTok: @base.id | @garudadidadaku.film

​YouTube: BASE Entertainment Indonesia | @BASEIndonesia

Tentang BASE Entertainment

BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto. Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina’s Adventure 2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Dengan komitmen kuat pada inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.

Tentang KAWI Animation

KAWI Animation adalah studio pengembangan IP animasi yang berbasis di Jakarta, dengan tim talenta terbaik Indonesia yang memiliki spesialisasi di bidang Character Designs, Environment Concepts, Narrative & Story development, dan 3D RnD. Sebagai bagian dari ekosistem BASE Entertainment, studio film terkemuka Asia Tenggara yang didirikan oleh Shanty Harmayn, Ben Soebiakto, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, KAWI Animation berkolaborasi dengan berbagai kreator dan studio untuk mengembangkan IP berkualitas yang siap diproduksi menjadi karya animasi. Dukungan dari BASE Entertainment yang telah memproduksi karya-karya seperti serial orisinal Indonesia Netflix Gadis Kretek (Cigarette Girl) dan serial animasi orisinal Netflix Trese, COMEDY ISLAND Indonesia & Filipina di Prime Video, serta film Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore), memperkuat posisi KAWI Animation sebagai pengembang IP animasi terdepan di Indonesia yang menghubungkan talenta lokal dengan standar produksi internasional.


INFORMASI FILM

  • Sutradara: Ronny Gani
  • Penulis Skenario: Sofia Lo, Makbul Mubarak
  • Berdasarkan film orisinil Garuda Di Dadaku oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn
  • Produser: Shanty Harmayn, Tanya Yuson, Aoura Lovenson Chandra, Ben Soebiakto, Ronny Gani
  • Produser Eksekutif: David Wayne Ika, Raharja Suwitono, Atta Halilintar, Peter Harjani, Jackol Kao, Agus Wibowo, Ervin Han, Bernard Toh, Adi Sumarjono, Michelle Nadya Suwarno, M Fajrin Rasyid, Yoonhee Choi, Sylvie Kim
  • Pengarah Artistik: R Katamsi
  • Animation Director: Dimas Yoga
  • Supervisor Asset 3D: Herwin Arkiando
  • Supervisor Lighting Render & Compositing: Dika Irami
  • Penyunting Gambar: Aline Jusria
  • Penata Musik: Ricky Lionardi
  • Penata Suara: Hiro Ishizaka
  • Voice Director: Rudolf Baldonado Jr.
  • Voice Coach: Jati Andito
  • Produser Pelaksana: Dewi Rosma Aswati
  • Asisten Produser: Vanesa Valensca, Theo Napitupulu
  • Eksekutif Pengembangan Kreatif: Aloysia Rarasningtyas, Sasthi Nandani
  • Penyelia Pascaproduksi: Fabrian Hendro

Pemeran:

  • ​Kristo Immanuel sebagai Gaga
  • ​Keanu Azka sebagai Putra
  • ​Quinn Salman sebagai Naya
  • ​Bima Sena sebagai Aldo
  • ​Revalina S. Temat sebagai Dewi Garuda
  • ​Revalina S Temat sebagai Dewi Garuda
  • ​Ringgo Agus Rahman sebagai Bima Garuda
  • ​Sal Priadi sebagai Jaya Garuda
  • ​Rizky Ridho sebagai Saka Garuda
  • ​Zee Asadel sebagai Isha Garuda
  • ​Emir Mahira sebagai Bayu
  • ​Ibnu Jamil sebagai Ayah Putra
  • ​Oki Rengga sebagai Coach Ronggur 

Bukan Cuma Akting, Rey Bong Bongkar Aksi Nyata Cast 'Nobody Loves Kay' Saat Dirinya Berada di Titik Terendah!

​Pujian dan respons positif terus membanjiri film drama remaja terbaru, Nobody Loves Kay usai Gala Premiere pada 28 Mei lalu. Menjelang penayangan serentak di bioskop 4 Juni 2026, film kolaborasi ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, dan Qun Films, bekerja sama dengan Visinema Pictures ini sukses membuat banyak penonton terharu dan menangis berjamaah berkat kuatnya rasa perjuangan dan kehangatan persahabatan yang disajikan.

​Namun, siapa sangka jika kehangatan, ketulusan, dan rasa kekeluargaan yang erat tersebut tidak hanya terjadi di depan kamera, melainkan juga tumpah ruah di belakang layar sepanjang proses pembuatan film. Hal inilah yang dirasakan langsung oleh aktor muda berbakat, Rey Bong, yang memerankan karakter Ido, salah satu sahabat dekat Kay.

Visi 'Gila' Sutradara dan Set Syuting yang Super Sehat

​Bagi Rey Bong, proyek film panjang perdana sutradara Bernardus Raka, menjadi salah satu pengalaman syuting paling berkesan dan tak terlupakan sepanjang kariernya. Rey menceritakan bagaimana lingkungan kerja yang dibangun di set Nobody Loves Kay terasa sangat sehat dan minim sekat, sehingga memicu rasa memiliki yang luar biasa besar di antara para pemain dan kru.

​"Selain syutingnya sehat, aku seneng banget bisa disutradarain Raka dengan visi gilanya di film ini. Di set, chemistry yang terbangun ternyata enggak cuma di antara aku, Joshia (Aurelio), dan Bima (Kay), tapi juga kami para cast dan sutradara yang udah kayak temen aja," ungkap Rey Bong dengan antusias.

​Rey bahkan membagikan satu momen unik yang memperlihatkan betapa cairnya hubungan mereka dengan sang sutradara di lokasi syuting. "Ada satu momen di mana Raka stuck saat mengerjakan satu adegan. Kami para cast melihatnya lucu, jadi kami kata-katain. Tapi abis itu, kami ngumpul bareng sama Raka dan diskusi bareng buat nyamain visi kita, dan Raka sangat open dengan itu. Sense of belonging yang aku rasain di proyek ini benar-benar luar biasa," lanjutnya sembari tertawa.

Menjadi 'Support System' Nyata Saat Mental Sedang Down

​Rasa kekeluargaan dan ikatan batin yang kuat tersebut terbukti tidak berhenti saat kamera berhenti berputar (wrap-up). Hubungan persahabatan antara Rey Bong, Joshia Frederico, dan Bima Azriel justru semakin rekat di kehidupan nyata, menjadi sahabat di dunia nyata dan bersama-sama menembus kerasnya industri perfilman.

​Saat menghadiri malam Gala Premiere beberapa waktu lalu, Rey Bong secara terbuka membagikan kisah emosionalnya mengenai bagaimana para pemeran film ini telah bertransformasi menjadi support system terbaik di titik terendahnya.

​"Baru-baru ini aku sedang down karena ada masalah pribadi yang cukup kena di mental. Tahu siapa yang ada buatku? Ya mereka-mereka ini. Bahkan tadi aku sama Joshia berangkat bareng ke gala, karena Joshi abis nginep nemenin aku beberapa hari ini," tutur Rey Bong penuh haru.

Tiket Hari Pertama Sudah Bisa Diamankan!

​Melihat begitu tulusnya chemistry nyata yang dibangun oleh para pemain di belakang layar, tidak heran jika performa mereka dalam menghidupkan konflik persahabatan di Nobody Loves Kay terasa begitu hidup, menyentuh, dan menguras air mata.

​Diproduseri oleh Nick Musa dan diperkuat oleh akting memukau dari Bima Azriel, Rey Bong, Aurora Ribero, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, Mian Tiara, hingga Melati Sesilia, film ini menjadi tontonan wajib bagi siapa saja yang sedang berjuang mencari jati diri dan mempertahankan orang-orang tersayang.

Nobody Loves Kay akan resmi mengguncang seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Kabar gembiranya, tiket hari pertama (advance ticket sales) sudah bisa kamu beli secara resmi melalui aplikasi M-TIX, TIX ID, Cinepolis, dan CGV.

​Jangan sampai kehabisan kursi di hari pertama tayang! Amankan tiketmu sekarang, siapkan tisu, dan pastikan kamu mengikuti akun sosial media resmi @nobodyloveskay agar tidak ketinggalan informasi paling up-to-date!.

VARITDA Merilis Slow Burner, Pembuka Untuk Album Contemporary Pop R&B Mendatang

​"Burn slower slow burner
I don't wanna miss a thing"

​Album Berjudul Champagne Cherry Akan Dirilis Dalam Waktu Dekat Bersama Tim Kreatif Kelas Dunia


​Setelah memperkenalkan pendengar pada nuansa bebas dan gemerlap dari "CHAMPAGNE FLYING," artis asal Thailand VARITDA kembali dengan "SLOW BURNER" — sajian kedua dari album mendatangnya, CHAMPAGNE CHERRY, sebuah proyek yang memadukan contemporary pop R&B dengan sentuhan jazz yang elegan melalui produksi berskala internasional.

​Dirilis di bawah Melodic Corner, label naungan Music Move Co., Ltd., CHAMPAGNE CHERRY menjadi arah artistik paling berani dari VARITDA sejauh ini: intim secara emosional, sophisticated secara musikal, dan digarap dengan penuh detail bersama para kolaborator dari berbagai penjuru dunia. Setiap tahap produksi — mulai dari penulisan lagu, rekaman, mixing, hingga mastering — dikerjakan dengan perhatian yang sangat matang terhadap detail.

​Perjalanan ini dimulai lewat "CHAMPAGNE FLYING," anthem feel-good tentang bangkit dengan elegan setelah patah hati dan merayakan kebebasan yang datang setelahnya. Dibungkus dengan nuansa pop R&B yang diperkaya ritme hip-hop, tekstur retro soul, serta sentuhan jazz kontemporer, lagu tersebut memperkenalkan karakter album yang sparkling dengan penuh percaya diri dan pesona.

​Kini, kisahnya berkembang lebih dalam lewat "SLOW BURNER," sebuah lagu yang merangkul kesabaran, ketegangan emosional, dan keindahan membiarkan cinta tumbuh secara alami. Dibangun di atas groove yang santai, lapisan instrumen yang subtil, dan energi intimate ala larut malam, lagu ini menangkap perasaan memilih koneksi dibanding terburu-buru — di mana setiap momen terasa cukup lama untuk meninggalkan kesan mendalam. Tetap berakar pada pop R&B dengan sentuhan jazz, "SLOW BURNER" menampilkan sisi album yang lebih lembut dan emosional.

​Pada intinya, CHAMPAGNE CHERRY mengangkat tema tentang "Confession" — proses perlahan terbukanya emosi dan isi hati seseorang. Album ini menggunakan metafora ceri di dalam segelas champagne: perlahan menyerap lingkungan di sekitarnya, menjadi semakin lembut seiring waktu, dan akhirnya memperlihatkan versi dirinya yang lebih kaya dan jujur. Dengan cara yang sama, proyek ini mengeksplorasi bagaimana manusia perlahan membuka diri ketika waktu, suasana, dan emosinya terasa tepat.

​Tak hanya dari sisi musik, baik "CHAMPAGNE FLYING" maupun "SLOW BURNER" juga hadir dengan video musik bergaya fashion film yang kuat secara visual, memperluas storytelling melalui simbolisme, mood, dan estetika sinematik. Semakin mengangkat kualitas proyek ini adalah keterlibatan tim kreatif kelas dunia. Produser asal Inggris Nick Tsang — yang pernah bekerja bersama Backstreet Boys, Ed Sheeran, Charli XCX, serta Jess Glynne lewat 5x Platinum "Take Me Home" — memegang peranan penting dalam membentuk warna musik album ini. Proyek ini juga melibatkan engineer ternama Charlie Holmes (Mixing Engineer) dan Simon Francis (Mastering Engineer), yang dikenal melalui karya mereka di album The Art of Loving milik Olivia Dean.

​Seluruh lagu dalam CHAMPAGNE CHERRY direkam di Abbey Road Studios, London - studio legendaris tempat The Beatles menciptakan sejumlah karya paling berpengaruh dalam sejarah musik modern. Rasakan dunia CHAMPAGNE CHERRY melalui "CHAMPAGNE FLYING" dan "SLOW BURNER," yang kini sudah tersedia di YouTube dan seluruh platform streaming digital melalui Melodic Corner. Masih akan ada berbagai "flavor" lain dari album ini yang akan segera diperkenalkan melalui kanal resmi Melodic Corner.

Performed By : VARITDA
Track Title : Slow Burner
Ex. Producer : VARITDA
Composer, Lyricist, Arranger : Nick Tsang, Taura Lamb
Producer, Recording Engineer : Nick Tsang
Mixing Engineer : Charlie Holmes
Mastering Engineer : Simon Francis
Danuphop Kamol : Immersive Mixing Engineer
Guitar, Bass, Keyboards, Wurlitzer : Nick Tsang
Drum Programming, Background Vocals : Nick Tsang, Taura Lamb

Abou Varitda:

​Varitda Bhirombhakdi (dikenal dengan nama panggung VARITDA) adalah artis asal Thailand yang memadukan contemporary pop dan R&B dengan elegansi serta musikalitas jazz. Memulai perjalanan musiknya dari jazz standar sebelum menjelajahi nuansa lo-fi yang lebih lembut hingga berkembang ke arah sound pop yang lebih dinamis, jazz tetap menjadi inti dari identitas musikalnya. Dikenal lewat vokal-nya yang sensual dan penyampaian emosional yang kaya, musik VARITDA menjembatani pesona timeless jazz klasik dengan pengaruh pop dan lo-fi modern, menciptakan warna musik yang terasa nostalgik sekaligus segar.

​Sering dideskripsikan sebagai pop jazz, musik VARITDA mengambil inspirasi dari jazz standards yang dicintai banyak orang sambil menggabungkannya dengan groove modern dan tekstur ambient, menjadikannya jembatan unik antara generasi pendengar musik yang berbeda. Seiring perjalanan artistiknya terus berkembang, VARITDA terus mengeksplorasi sound dan arah baru tanpa meninggalkan akar jazz yang pertama kali membentuk identitas musiknya. Jazz adalah tempat ia memulai, Pop adalah tempatnya sekarang, Dan perjalanannya masih terus berlanjut.

Access :

Instagram : @oumoum | TikTok : @varitda_music | All DSP : VARITDA | YouTube : Melodic Corner

Europe on Screen 2026 Hadirkan 55 Film Eropa Wajib Tonton dengan Tema dan Perspektif Beragam

​ Festival film Eropa terlama di Indonesia kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 di delapan kota dengan pemutaran film gratis, kehadiran tamu ...