Jakarta, 23 Oktober 2026 — Memasuki hari ketiga penyelenggaraannya, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan beragam program yang mempertemukan perspektif tentang film anak dan keluarga, proses kreatif pembuat film, serta peluang kolaborasi di industri sinema. Melalui pitching session, masterclass, diskusi industri, networking antarsineas, dan pemutaran film, festival ini membuka ruang bagi pembuat film dan penonton untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan dalam bercerita sekaligus memperluas koneksi di ekosistem perfilman.
Merawat Cerita Anak untuk Lintas Generasi
Program Cerita Anak Nusantara menghadirkan Pitching Session yang memberikan kesempatan kepada para kreator untuk mempresentasikan gagasan cerita mereka. Dari 499 ide cerita yang masuk, sebanyak 10 proyek terpilih untuk mengikuti sesi pitching. Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya cerita anak yang relevan dengan pengalaman dan kehidupan keluarga Indonesia.
Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan Industry Talk bertajuk Indonesian Family Films: From Time to Time. Dipandu oleh Putri Ayudya, diskusi ini menghadirkan Mira Lesmana, Riri Riza, Anggia Kharisma, Ryan Andriandhy, dan Edwin Nazir untuk membahas perkembangan film keluarga Indonesia serta tantangan dalam menghadirkan cerita yang dekat dengan anak-anak masa kini.
Dalam diskusi, Mira Lesmana dan Riri Riza merefleksikan pengalaman mereka menggarap Petualangan Sherina, ketika referensi film anak Indonesia masih terbatas. Sementara itu, Anggia Kharisma membahas pendekatan dalam Na Willa yang melihat cerita melalui dua perspektif, yakni anak dan orang tua.
Diskusi juga menyoroti perubahan kebiasaan anak dalam mengonsumsi media dan pentingnya menempatkan orang tua sebagai bagian dari audiens film keluarga. Film anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi titik awal percakapan antara orang tua dan anak mengenai pengalaman, emosi, dan cara memahami dunia.
Neo Sora Mengajak Pembuat Film Menemukan Gagasan
Di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, sutradara dan produser Neo Sora berbagi pendekatan kreatifnya melalui masterclass The Wonder of Ideas: A Masterclass with Neo Sora. Program JFWNET Industry Program yang berkolaborasi dengan Japan Foundation ini dimoderatori oleh sutradara dan penulis skenario Tumpal Tampubolon.
Dalam sesi tersebut, Neo Sora membahas bagaimana pengalaman personal, pengamatan sehari-hari, serta realitas sosial dan politik dapat menjadi sumber gagasan dalam pembuatan film. Ia turut membicarakan Happyend (2024) dan konsep affect, yaitu pengalaman emosional yang ingin dibangun dan dirasakan penonton melalui film.
"Ketika membuat film saya memulai dari affect yang berasal dari pengalaman personal. Saya menggunakan berbagai teknik dalam sinema, pembuatan film, dan penceritaan untuk merekonstruksi dan menyusun kembali materi serta gagasan yang saya miliki menjadi sesuatu yang utuh dan koheren. Dengan begitu, penonton diharapkan meninggalkan bioskop dengan affect yang serupa dengan apa yang saya rasakan," ujar Neo Sora.
Ia juga membagikan kebiasaannya mencatat detail-detail kecil yang ditemui sehari-hari, mulai dari perilaku manusia hingga pengamatan sederhana terhadap lingkungan. Catatan tersebut dapat menjadi bahan untuk mengembangkan karakter, adegan, dan gagasan film di kemudian hari.
Industry Talks Membuka Peluang Kolaborasi
Rangkaian Industry Talks di Mercure Jakarta Cikini turut membahas perkembangan cerita di berbagai medium melalui sesi Stories Beyond Medium. Diskusi ini menyoroti bagaimana perubahan medium mempengaruhi cara cerita disampaikan dan bagaimana audiens berinteraksi dengan konten.
"Every medium offers a different way of experiencing a story. As creators, we need to understand these changes and how they shape the way audiences engage with content," ujar Titis Sapto Raharjo.
Sesi berikutnya, Find Your Ways to Co-Production, membahas proses membangun kolaborasi produksi film dengan mitra yang tepat. Alexandra Zakharchenko menekankan bahwa ko-produksi tidak hanya berkaitan dengan pendanaan, tetapi juga pengembangan proyek dan perluasan jaringan.
"The journey to co-production is about more than finding funding. It's about developing your project, connecting with the right people, and creating opportunities for your film to travel further," ujar Alexandra.
Selain diskusi, Jakarta Film Week 2026 juga menghadirkan Filmmakers Lounge: Director to Director bersama IFDC di Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated. Program ini menjadi ruang pertemuan dan networking bagi para sutradara untuk saling terhubung dan bertukar gagasan.
Pada hari yang sama, program talk What Goes Unspoken? menghadirkan sutradara Ravi Bharwani, produser Wilza Lubis, dan Agam Karim selaku Content Manager Netflix Indonesia, dengan Nadine Alexandra sebagai moderator. Sesi ini membahas cerita yang disampaikan melalui keheningan, ekspresi, dan perasaan yang tidak terucapkan, sekaligus menghadirkan exclusive first look film Secrets.
Disutradarai oleh Ravi Bharwani, Secrets merupakan drama thriller yang menjadi bagian dari jajaran film Indonesia Netflix tahun 2026. Film ini mengikuti Parni, seorang ibu tunggal yang berusaha membangun masa depan lebih baik bersama putrinya, Riska, ketika masa lalu kelamnya kembali menghantui.
Harga Teman Menyoroti Dinamika Pekerja Kreatif
Salah satu film yang menarik perhatian penonton pada hari ketiga adalah Harga Teman, film panjang perdana sutradara Andrew Kose yang diproduseri Wregas Bhanuteja melalui Rekata Studio. Diadaptasi dari novel Harga Teman: Design, Resign, Redesign karya Debora Danisa, film berdurasi 117 menit ini mengikuti Uji, seorang desainer grafis dari Dieng yang kehilangan pekerjaan impiannya di Jakarta dan kemudian membangun agensi kreatif bersama teman-temannya.
Melalui komedi dan drama pertemanan, film ini mengangkat pengalaman pekerja kreatif, termasuk tantangan membangun karier dan menghadapi situasi ketika profesi mereka belum sepenuhnya dipahami atau dihargai.
"Gue pernah menghidupi itu sih, sebelum jadi filmmaker bertahun-tahun gue palu gada jadi fotografer, pernah di creative agency juga. Kebetulan pas baca bukunya, terasa deket banget sama pengalaman gue," ujar Andrew, dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran.
Debora Danisa juga menyampaikan kepuasannya terhadap adaptasi film tersebut. "Apa yang tersaji di film ini benar-benar beyond my expectations, dan ending-nya aku puas banget. Sesuai dengan visi aku," ujarnya.
Beragam program pada hari ketiga menunjukkan luasnya ruang eksplorasi yang ditawarkan Jakarta Film Week 2026, mulai dari pengembangan cerita anak dan proses kreatif hingga pertemuan antarsineas serta peluang kolaborasi industri. Festival ini berlangsung pada 21–25 Oktober 2026, menghadirkan 157 film dari 59 negara melalui rangkaian pemutaran dan program di sejumlah lokasi di Jakarta.
TENTANG JAKARTA FILM WEEK
Jakarta Film Week merupakan festival film tahunan yang digagas pada 2021 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta untuk mendukung perkembangan perfilman Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Setiap tahunnya, Jakarta Film Week menghadirkan film dari Indonesia dan berbagai negara melalui rangkaian pemutaran, diskusi, masterclass, program industri, hingga kegiatan komunitas. Lebih dari sekadar festival, Jakarta Film Week juga menjadi ruang bagi pembuat film untuk berkembang, bertemu, dan membangun koneksi di dalam ekosistem perfilman.
TENTANG JFWNET—Industry Program
JFWNET—Industry Program merupakan program paralel Jakarta Film Week yang menjadi ruang pertemuan dan pengembangan bagi para pelaku industri film Indonesia. Melalui berbagai program seperti lab, workshop, talks, focus group discussion, dan pitching forum, JFWNET—Industry Program mempertemukan filmmaker, produser, festival, distributor, pendana, dan pelaku industri lainnya untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan proyek, serta membuka peluang kolaborasi.
NARAHUBUNG
- Website: www.jakartafilmweek.com
- Instagram: @jakartafilmweek
- X: @jakartafilmweek
- TikTok: @jakartafilmweek
- Facebook: Jakarta Film Week









