Selasa, 13 Oktober 2026

Film Perayaan Pertama Merampungkan Syuting, Dibintangi Morgan Oey, Ladya Cheryl, dan Abby Latip, Jadi Film Kedua Sutradara Jason Iskandar, Tayang di Bioskop pada 2027

Jakarta, 13 Oktober 2026 — Rumah produksi Studio Antelope baru saja merampungkan syuting film terbaru karya sutradara Jason Iskandar, Perayaan Pertama, yang memiliki judul internasional First Breath After Coma. Film ini merupakan film panjang kedua Jason, setelah film pertamanya, Akhirat: A Love Story (2021). Perayaan Pertama akan hadir di bioskop Indonesia pada 2027.

​Film Perayaan Pertama dibintangi oleh Morgan Oey, Ladya Cheryl, dan Abby Latip. Film ini juga akan menjadi comeback Ladya Cheryl, setelah terakhir kali bermain film pada 2021, yang mengantarkannya memenangkan Piala Citra untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik pada FFI 2022. Ini juga akan menjadi duet unik dan kuat bersama Morgan, yang sebelumnya juga telah meraih Nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2025, dan menjadi Duta FFI 2026.

​Sementara itu, film Perayaan Pertama akan menjadi debut film panjang pertama dari Abby Latip. Abby sebelumnya telah membintangi beberapa film pendek, serial, dan video musik di lagu musisi internasional Niki.

​Film Perayaan Pertama telah melakukan perjalanan panjang sejak awal ide ini dikembangkan hingga selesai diproduksi. Sejak pertama kali dikembangkan di SGIFF Southeast Asian Film Lab 2015 di Singapura, Perayaan Pertama terus berkembang melalui berbagai program pengembangan proyek film internasional, termasuk EAVE Ties That Bind 2023/2024 di Taiwan dan Italia. Selain itu, proyek film ini juga telah dipresentasikan di Golden Horse Film Project Promotion 2024 di Taiwan dan Hong Kong - Asia Film Financing Forum (HAF) 2025 di Hong Kong.

​Ditulis dan disutradarai Jason Iskandar, Perayaan Pertama diproduseri oleh Florence Giovani. Film ini mengikuti perjalanan tiga kakak beradik dari keluarga Tionghoa Indonesia dan berlatar pada masa transisi Indonesia menjelang Tahun Baru Imlek pada tahun 2000, yang juga menjadi perayaan Imlek pertama setelah pemerintah secara resmi mencabut pembatasan terhadap perayaan budaya Tionghoa di ruang publik yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

​“Sejak kecil, saya memiliki hubungan yang penuh pergulatan dengan identitas saya sebagai orang Tionghoa Indonesia. Lewat film Perayaan Pertama, saya ingin mengeksplorasi pergulatan itu melalui kisah tiga kakak beradik yang berusaha terhubung kembali, bukan hanya dengan satu sama lain, tetapi juga dengan diri mereka sendiri. Kisah mereka berlangsung ketika Indonesia sedang mengalami perubahan besar setelah Reformasi, menjelang perayaan Imlek tahun 2000,” ujar penulis dan sutradara Jason Iskandar.

​“Film ini mulai kami kembangkan sejak 2015, dan akhirnya pada 2026 kami berhasil menyelesaikan proses syutingnya. Sepanjang perjalanan tersebut, kami berkesempatan mengembangkan proyek ini dan berdiskusi dengan berbagai pelaku industri film internasional. Berbagai perspektif yang kami dapatkan turut memperkaya cerita ini, sehingga kami berharap kisah yang berangkat dari pengalaman keluarga Tionghoa Indonesia ini juga dapat terasa dekat dan relevan bagi penonton dari berbagai latar belakang,” ujar produser Florence Giovani.

​Film ini juga didukung oleh jajaran kru pemenang penghargaan, termasuk sinematografer Singapura Teck Siang Lim, desainer produksi Dita Gambiro, penata busana Fadillah Putri Yunidar, dan penata rias Astrid Sambudiono.

​Ikuti informasi terbaru film Perayaan Pertama persembahan Studio Antelope, yang akan menjadi film panjang kedua Jason Iskandar, melalui akun Instagram @studioantelope @filmperayaanpertama, dan saksikan saat tayang di bioskop, segera!

​***

​Tentang Studio Antelope

​Studio Antelope adalah studio film independen yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Studio Antelope memiliki misi untuk menghadirkan cerita-cerita berani dengan suara yang khas ke layar, sekaligus menjadi ruang bagi talenta-talenta baru Indonesia yang memiliki perspektif kuat dan relevan.

​Didirikan pada tahun 2011 oleh sutradara Jason Iskandar dan produser Florence Giovani, Studio Antelope bermula sebagai komunitas film lokal. Sejak itu, karya-karya film pendeknya telah mendapatkan pengakuan dan diputar di berbagai festival film, antara lain Singapore International Film Festival, Busan International Short Film Festival, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Festival Film Indonesia, dan berbagai festival lainnya.

​Pada 2021, Studio Antelope merilis film panjang pertamanya, Akhirat: A Love Story, yang ditulis dan disutradarai oleh Jason Iskandar. Film ini diproduksi bersama BASE Entertainment dan Ivanhoe Pictures yang berbasis di New York. Setelah tayang di bioskop Indonesia pada Desember 2021.

​Setelah pencapaian tersebut, Studio Antelope terus memperluas kiprahnya dengan memproduksi berbagai serial, di antaranya Drama Ratu Drama (Vidio, 2022), CinLock: Love, Camera, Action (Vision+, 2023; Netflix, 2024), serta Ganteng Ganteng Genteng (Vidio, 2026). Pada Oktober 2026, Studio Antelope turut menghadirkan film Bapak Paling Jujur, yang disutradarai oleh Fajar Nugros, untuk tayang di bioskop Indonesia.

​Melanjutkan langkah tersebut, Studio Antelope terus mengembangkan berbagai film dan serial dengan visi kreatif yang kuat, termasuk Perayaan Pertama karya sutradara Jason Iskandar, serta sejumlah proyek lainnya dalam pengembangan.

​Melalui setiap karyanya, Studio Antelope terus memperkuat komitmennya untuk menghadirkan cerita-cerita berani, perspektif yang autentik, serta karya sinema Indonesia yang memiliki daya tarik bagi penonton lokal maupun internasional.

Senin, 12 Oktober 2026

Hasut Membawa Kesegaran Genre Horor Baru, Dibuat oleh Sutradara Perempuan, Debut dari Ilya Sigma

​Tonton film Hasut di bioskop!

​Jakarta, 12 Oktober 2026 – Film Hasut yang sedang tayang di bioskop membawa kesegaran baru untuk genre horor Indonesia. Alih-alih bermain dengan penampakan dan supernatural yang sudah dilakukan berulang kali di perfilman Indonesia, film Hasut menawarkan sisi baru lewat eksplorasi horor-misteri yang memberi efek psychological bagi penontonnya.

​Film Hasut digarap oleh sutradara perempuan, yang selama ini telah banyak menulis naskah-naskah film yang melekat dan kuat lewat berbagai genre. Hasut menjadi debut penyutradaraan yang kuat dari penulis Ilya Sigma. Sebagai karya debut penyutradaraannya, Hasut membawa tema yang dekat dengan Ilya, berbicara tentang proses penyembuhan luka batin.

​Selain berkarier di perfilman sejak 2010, Ilya juga mendirikan Aksara Jiwa, sebuah ruang kreatif reflektif yang menggabungkan penulisan, penyelidikan diri (self-inquiry), dan penceritaan berbasis pemulihan (healing).

​Penggalian tentang luka batin dan trauma masa lalu di film Hasut diwakilkan lewat kehadiran empat karakter utama, yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Keempatnya, membawa beban trauma masa lalu yang belum dilepas, saat mereka masuk ke sebuah hutan dan mendengar suara-suara yang tak bisa dipercaya.

​Di film Hasut, Ilya mendesain ketakutan horor bukan dari penampakan, melainkan lewat sesuatu yang tak terlihat. Permainan suara di film ini, akan menjadi teror utama yang memberi penonton rasa tak nyaman.

​"Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, seperti apa bentuknya atau dari mana asalnya?" Ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.

​Dengan desain utama teror yang berasal dari suara, Ilya pun memanfaatkan HT (Handy Talkie) sebagai salah satu sumber teror suara yang tak bisa dipercaya tersebut. HT sendiri menjadi salah satu benda yang tak asing di dunia produksi film.

​Dengan permainan suara HT, Ilya mengeksplorasi dari unsur suara yang sudah ada secara alamiah di benda tersebut, seperti noise, suara statik, dan frekuensi yang terputus.

​“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang sangat menarik. Karena kalau ada suara dari HT terkadang membuat aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita sudah membayangkan bentuknya seperti apa,” jelas Ilya.

​Hasut menjadi perjalanan kreatif baru bagi Ilya, yang sudah menekuni dunia film sejak 2010. Lewat karya penyutradaraannya, Ilya memberikan perspektif baru bagi genre horor Indonesia.

​Sebelumnya, Ilya lebih banyak menulis naskah film panjang, termasuk Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), A Man Called Ahok (2018), dan menjadi sutradara di film omnibus Pintu Harmonika (2013).

​“Film ini juga menjadi refleksi bagiku secara personal. Aku sudah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang sering menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri. Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan bisa menghambat kita untuk memulai dan melakukan sesuatu. Seperti saat aku membuat film feature pertamaku, aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” ujar Ilya.

​Ditulis dan disutradarai oleh Ilya Sigma, film Hasut diproduksi oleh Tuta Films, dengan produser Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, dan ko-produser Nick Musa. Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.

​Tonton film Hasut di bioskop Indonesia sekarang! Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @filmhasut & @tutafilms.

​Sinopsis

Empat orang pergi ke tengah hutan untuk menjalani sebuah ritual penyembuhan. Namun, apa yang seharusnya menjadi perjalanan untuk menemukan kedamaian justru berubah menjadi misteri yang perlahan menggerogoti rasa percaya di antara mereka. Di tengah hutan, suara-suara hasutan mulai muncul, mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya dan apa yang sebenarnya terjadi. Ketakutan, luka lama, dan kecurigaan membuat mereka semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada di dalam pikiran mereka. Hutan pun menjadi ruang yang menguji batas kepercayaan mereka. Tempat di mana setiap suara bisa menjadi petunjuk, ancaman, atau bahkan kebohongan.

Film Laut Bercerita Disambut Hangat saat World Premiere di Busan International Film Festival

Film Laut Bercerita akan tayang mulai 29 Oktober 2026 di bioskop Indonesia

​Busan, 12 Oktober 2026 — Film Laut Bercerita karya sutradara Yosep Anggi Noen, persembahan Pal 8 Pictures, adaptasi novel best seller Leila S. Chudori, mendapat sambutan hangat saat tayang perdana (world premiere) di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Laut Bercerita tayang perdana pada 11 Oktober 2026 di Busan, dan akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.

​Hampir seluruh penonton yang hadir memberikan tepuk tangan sebagai penghormatan atas film yang yang memberikan inspirasi dan membawa kisah penting tentang mereka yang hilang dalam memperjuangkan keadilan.

​Laut Bercerita menjadi salah satu pusat perhatian di Busan, sebagai salah satu film yang masuk dalam kompetisi utama festival tersebut. Cerita di film ini dianggap membawa dampak yang sangat kuat dan relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia, tentang keberanian anak muda dalam menyuarakan kegelisahan mereka demi perubahan yang lebih baik.

​World premiere Laut Bercerita di BIFF 2026 turut dihadiri oleh sutradara Yosep Anggi Noen, produser Gita Fara, produser dan direktur Pal 8 Pictures Budi Setyarso, serta jajaran pemeran Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, dan Christine Hakim.

​Busan International Film Festival merupakan festival film internasional tahunan, yang tahun ini memasuki edisi ke-31. Festival ini merupakan festival bergengsi di Asia, dan salah satu dari enam festival film internasional penting, yang sejajar dengan Cannes, Venesia, Berlin, Sundance, dan Toronto untuk memenuhi persyaratan masuk ke ajang Academy Awards (Oscar).

​“Saya sangat bersyukur film Laut Bercerita bisa disaksikan oleh penonton internasional di Busan. Ini menjadi momen yang penting untuk mengenalkan Indonesia melalui sinemanya. Semoga kita juga bisa terus menemukan harapan dan tak pernah melupakan mereka yang selalu berjuang,” ujar sutradara Yosep Anggi Noen.

​Selain berkompetisi di program utama Busan, jajaran pemeran Laut Bercerita juga turut hadir dalam acara Marie Claire Asia Star Awards 2026. Marie Claire Asia Star Awards 2026 merupakan acara penghargaan yang diselenggarakan bersama oleh majalah gaya hidup Marie Claire Korea dan BIFF. Di momen ini, jajaran pemeran Laut Bercerita bertemu dengan para pelaku industri serta bintang film dari berbagai negara Asia, berbagi kehangatan, diskusi yang menginspirasi, dan tribut bagi industri film Asia.

​Disambut dengan hangat dan disorot di Busan, gelombang antusiasme film Laut Bercerita juga sampai ke Indonesia. Film ini akan tayang lebih awal sebagai penutup Jakarta Film Week (JFW) 2026, pada 25 Oktober 2026 dan tiketnya pun telah habis diburu penonton.

​“Setelah Busan, Laut Bercerita akan pulang ke Jakarta Film Week pada 25 Oktober dan serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober. Kami merasa bersyukur film ini bisa ditonton oleh audiens internasional, dan disambut baik juga oleh penonton Indonesia. Sebuah cerita tentang keluarga yang menunggu kepulangan anggota keluarganya, yang bisa dirasakan oleh siapapun,” ujar produser Gita Fara.

​Pemeran Biru Laut, Reza Rahadian berharap film ini juga bisa memantik keberanian anak muda dan menyulut daya kritis.

​“Semoga penonton saat menyaksikan film Laut Bercerita juga bisa menebalkan dan semakin memiliki daya berpikir kritis dalam melihat, menulis bahkan bergerak untuk sesuatu. Sejak dulu, kelompok anak-anak muda selalu memperjuangkan sesuatu, dan salah satunya itu akan diperlihatkan di film ini, dan semoga ceritanya juga bisa menginspirasi anak-anak muda hari ini untuk terus percaya dan punya harapan,” ujar Reza Rahadian.

​Diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Skenario film juga ditulis oleh Leila Chudori bersama Yosep Anggi Noen. Dibintangi oleh Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Pakusadewo, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, Afrian Arisandy.

​Produser film ini adalah Gita Fara, Leila S. Chudori dan Budi Setyarso. Film ini diproduksi oleh Pal 8 Pictures dan didukung oleh VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, dan Brandlink.

​Ikuti perkembangan terbaru Laut Bercerita melalui media sosial resmi.

​TENTANG FILM LAUT BERCERITA

Genre: Drama, untuk penonton 17 tahun ke atas

Durasi: 135 menit

Tayang di Bioskop: 29 Oktober 2026

Tayang Perdana (World Premiere): Busan International Film Festival (BIFF) 2026

Produksi: Pal 8 Pictures bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film dan Brandlink

Diangkat dari novel: Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

​Sutradara: Yosep Anggi Noen

Penulis Skenario: Leila S. Chudori dan Yosep Anggi Noen

Produser: Gita Fara, Budi Setyarso, Leila S. Chudori

Produser Eksekutif: Arif Zulkifli, FX Iwan, Tony Ramesh, Rob O'Hare, Febrian Marcel, Djulianta, Reza Rahadian dan Arya Ibrahim

​SINOPSIS

Laut Bercerita adalah film yang mengisahkan rasa kehilangan, daya tahan, sekaligus harapan.

Yogyakarta, akhir 1990-an. Suasana kampus di Yogyakarta diliputi ketegangan setelah penangkapan tiga mahasiswa yang menyebarkan buku terlarang. Biru Laut, mahasiswa yang gemar membaca dan menulis, memutuskan bergabung dengan kelompok studi Winatra. Bersama Daniel, Alex, Sunu, dan sahabat-sahabatnya, Laut menyadari bahwa memperjuangkan kebebasan berekspresi bukanlah perkara mudah.

​Namun mereka terus bergerak hingga suatu malam Laut dan sejumlah kawannya menghilang tanpa kabar. Bapak, Ibu, adiknya Asmara Jati, serta sahabat-sahabat Laut kemudian menjalani pencarian panjang untuk menemukan jawaban tentang mereka yang hilang.

​TENTANG PAL 8 PICTURES

PT Layar Terkembang Senantiasa, dikenal sebagai Pal 8 Pictures, adalah rumah produksi film di bawah naungan Tempo Media Group. Berangkat dari tradisi Tempo dalam menghadirkan jurnalisme yang kritis dan mendalam, Pal8 Pictures berkomitmen mengembangkan film-film dengan cerita yang kuat dan relevan dengan persoalan masyarakat Indonesia, khususnya yang bersinggungan dengan isu sosial, sejarah, politik, dan budaya. Melalui medium sinema, Pal 8 Pictures ingin menghadirkan cerita yang tidak hanya memiliki nilai artistik dan menghibur, tetapi juga membuka ruang percakapan dan memberi dampak bagi masyarakat.

Laut Bercerita, adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang disutradarai Yosep Anggi Noen, merupakan film panjang perdana Pal 8 Pictures.

​AKUN MEDIA SOSIAL

Instagram : @filmlautbercerita, @lautbercerita, @Pal8pictures

Facebook : Film Laut Bercerita

Threads : @filmlautbercerita

Hashtag : #lautbercerita #filmlautbercerita #lautberceritamovie

Trailer SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI Dirilis, Benidictus Siregar Debut sebagai Tokoh Utama Film Drama

Jakarta, 12 Oktober 2026 — Sinergi Pictures dan Ben Film resmi merilis trailer Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, film drama garapan sutradara Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel mega best seller karya Brian Khrisna. Peluncuran trailer ini berlangsung tepat satu bulan sebelum film tersebut tayang serentak di bioskop Indonesia pada 12 November 2026.

​Melalui trailer yang dirilis, penonton dapat melihat sisi berbeda dari Benidictus Siregar. Komika yang selama ini dikenal lewat peran-peran pendukung dalam sejumlah film komedi tersebut kini menjalani debutnya sebagai pemeran utama dalam film drama. Ia memerankan Ale, pria berusia 37 tahun yang, tepat pada hari ulang tahunnya, merasa kehilangan arah dan tak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan hidup.

​Di tengah situasi tersebut, Ale memiliki satu keinginan sederhana yaitu menikmati seporsi mie ayam favoritnya. Namun, rencana kecil itu tak berjalan sesuai harapan karena gerobak mie ayam langganannya tutup. Hal yang semula tampak sepele justru menjadi awal perjalanan Ale bertemu dengan orang-orang asing dan mengalami berbagai peristiwa tak terduga. Dari pertemuan-pertemuan itulah, Ale perlahan menemukan sudut pandang baru tentang kehidupan dan menyadari bahwa terkadang, alasan untuk terus melangkah dapat hadir melalui hal-hal yang paling sederhana.

​Menghidupkan karakter dengan pergulatan emosi yang kompleks seperti Ale tentu membutuhkan pertimbangan khusus dalam pemilihan pemeran. Sejak proyek adaptasi novel ini diumumkan, pembaca ramai berspekulasi mengenai sosok yang akan memerankan Ale. Nama Benidictus Siregar pun kerap muncul dalam kolom komentar akun Instagram resmi film. Namun, bagi tim produksi, keputusan memilih Beni tidak semata-mata didasarkan pada respons pembaca, melainkan juga pada kemampuannya membawakan karakter dengan lapisan emosi yang mendalam.

​"Ale menuntut penjiwaan yang sangat dalam. Eskalasi emosinya berlapis, sehingga karakter ini perlu dimainkan oleh aktor yang punya kemampuan akting mumpuni. Setelah melalui proses casting, kami akhirnya menemukan pemeran Ale yang selama ini kami cari. Bagi kami, Beni adalah orang paling tepat dari semua pilihan yang ada," ujar Philip Lesmana, Produser Sinergi Pictures.

​Lebih dari sekadar perjalanan seorang pria yang tengah menghadapi titik terendah dalam hidupnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati mengangkat tentang pencarian makna hidup dan kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian. Film ini mengajak penonton melihat bahwa di tengah masa-masa sulit, satu hal sederhana dapat menjadi alasan untuk terus melangkah. Pertemuan dengan orang-orang baru dan kisah hidup yang mereka bagikan juga membuka kemungkinan bagi seseorang untuk menemukan perspektif berbeda, memahami dirinya sendiri, dan kembali melihat kehidupan dengan cara yang baru.

​Semangat untuk mencoba kembali dan tidak menyerah juga hadir melalui lagu tema film ini, "Coba Lagi", yang dibawakan oleh Barsena Bestandhi. Bersamaan dengan perilisan trailer, musik video lagu tersebut turut diluncurkan pada Senin, 12 Oktober 2026. Musik video ini menggambarkan pertemuan Barsena dengan Ale dan karakter-karakter lain, selaras dengan pesan lagu yang mengajak pendengarnya untuk tetap membuka diri terhadap berbagai kemungkinan dalam hidup. Pesan tersebut tergambar dalam lirik, "Hey kamu, jangan berhenti dulu. Masih banyak rasa dan warna yang bisa kau cerna untuk kau nikmati, sabarlah." Musik video "Coba Lagi" dapat disaksikan melalui kanal resmi, sementara lagunya sudah tersedia di berbagai platform streaming digital.

​Film ini turut melibatkan sejumlah nama berpengalaman di industri perfilman Indonesia. Nia Dinata bergabung sebagai ko-produser, sementara Alim Sudio menangani penulisan skenario. Benidictus Siregar juga didukung oleh jajaran pemain, di antaranya Chicco Kurniawan, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Zulfa Maharani, Nita Gunawan, Jourdy Pranata, Pangeran Lantang, dan Dewi Irawan, serta sejumlah pemain lainnya.

​Dalam perjalanannya menuju layar lebar, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Legacy Pictures, Nuon, AZ Films, Leo Pictures, Showtoken, dan Kalyana Shira Films.

​Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati siap tersaji dan dinikmati di bioskop pada Kamis, 12 November 2026.

​Informasi mengenai film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dapat diakses melalui akun Instagram @seporsimieayamfilm dan @sinergi.pictures serta @benfilm.id.

Capek Banget Selalu Bilang ‘Iya’? LYTO Pictures Rilis Trailer Film People Pleaser, Siap Nampol Kaum Nggak Enakan Mulai 19 November di Bioskop!

Jakarta, 12 Oktober 2026 — Pernah nggak sih kamu niatnya mau pasang batasan, tapi pas ada yang bilang "Punten, titip dong," refleks jari kamu langsung ngetik "Aman, santai aja!" padahal energi udah tiris banget?

​Keresahan seru yang sering banget bikin anak muda senyum getir ini resmi diangkat ke layar lebar oleh LYTO Pictures lewat film People Pleaser yang resmi merilis official trailer dan poster di Senayan City XXI, Jakarta, 12 Oktober 2026. Diproduseri oleh Andi Suryanto bareng Marcella Daryani, disutradarai Bobby Prasetyo, dan skenarionya ditulis oleh Evelyn Afnilia, proyek drama komedi ini hadir dengan gaya yang super ceria, ringan, dan pastinya bikin kita spontan nyeletuk "Wah, ini gue banget!" Tanpa kesan menggurui, film ini hadir buat nemani kita tertawa bareng sekaligus jadi pelukan hangat biar kita berani memprioritaskan diri sendiri.

​Produser LYTO Pictures, Andi Suryanto, dengan antusias membagikan semangat di balik lahirnya film ini untuk teman-teman muda. "Banyak dari kita yang sering merasa sungkan sampai akhirnya lupa merawat kebahagiaan sendiri. Bersama Mas Bobby dan Mbak Evelyn, kami ingin menghadirkan tontonan yang fun, fresh, dan relatable banget buat kalian semua. Kami berharap People Pleaser bisa jadi tontonan yang menghibur, bikin hati hangat, dan ngajak kita makin sayang sama diri sendiri," ujar Andi Suryanto.

​Sutradara Bobby Prasetyo pun ikut menimpali dengan penuh semangat tentang pesan positif di balik ceritanya. "Perjalanan Karina ini seru banget karena ini cerita tentang belajar memilih diri sendiri. Film ini mau ngasih tau kalau berani bilang 'nggak' itu bukan berarti kita egois, tapi tanda kalau kita juga menghargai diri kita sendiri," tutur Bobby Prasetyo.

​Evelyn Afnilia selaku penulis skenario pun menambahkan, "Ini film tentang momen-momen serba salah yang sering kita alami bareng, dengan pesan manis bahwa sesekali memilih diri sendiri itu beneran nggak apa-apa."

​Keseruan ceritanya berpusat pada Karina, cewek muda berhati super baik yang hobi mengiyakan permintaan orang di sekitarnya sampai sering kewalahan sendiri. Di rumah, hari-harinya rame banget nemani sang ibu, Ibu Nami, yang penuh kasih sayang tapi sama-sama punya sifat sungkan, ditambah kehebohan Tante Tanti dan sepupunya, Gina, yang lagi menumpang dengan seabrek permintaan santai tapi bikin repot.

​Di kantor pun suasananya nggak kalah seru, Karina harus mengimbangi Renata, rekan kerja single mother tangguh yang suka minta tolong straight-to-the-point, ditemani aksi kocak Pak Rahmat si satpam kantor dan Kalem, driver ojol langganan yang hobi banget oversharing sepanjang jalan. Untungnya, Karina punya adik suportif bernama Dino yang pengertian banget, serta dua sahabat setia: Dilla, pramugari ceria yang selalu bikin suasana hidup meski suka curhat non-stop, dan Raka, anak band berhati tulus yang selalu sigap mendukung Karina sambil diam-diam menyimpan rasa gemas yang belum sempat terucap!

​Petualangan batin Karina makin seru saat ia punya kesempatan emas untuk mewujudkan janji manis bersama mendiang sang ayah, yaitu pergi menikmati indahnya festival lampion di Bali. Mawar de Jongh yang memerankan karakter Karina membagikan rasa senangnya membawakan cerita yang begitu dekat dengan anak muda masa kini.

​"Karakter Karina ini gemas dan dekat banget sama kita semua yang sering lupa ngasih ruang bahagia buat diri sendiri gara-gara sibuk nyenenengin orang lain. Lewat film ini, kami pengen ngajak teman-teman nonton bareng dan ingat kalau menyayangi diri sendiri itu langkah paling awal buat bisa sayang sama orang lain secara tulus," ungkap Mawar de Jongh penuh senyum.

​Menjiwai karakter-karakter yang hadir dalam film People Pleaser, sifat Karina melekat dekat dengan Mawar bahkan ketika acara press conference berlangsung. Sulit mengatakan “tidak”, Mawar bahkan sekaligus bertindak sebagai EO seperti karakternya di film dan diminta untuk membawakan mic untuk para media yang antusias bertanya.

​Bertabur bintang seru seperti Ardit Erwandha, Ummi Quary, Fatih Unru, Vonny Cornellya, Surya Saputra, Cut Mini, Amel Carla, Taskya Namya, Sadana Agung, Arif Alfiansyah, hingga Aci Resti, film People Pleaser siap menularkan tawa ceria, kehangatan keluarga, dan manisnya persahabatan di bioskop seluruh Indonesia mulai 19 November 2026 mendatang!

​Intip gemasnya aksi Karina dan dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram resmi @peoplepleaserfilm dan @lytopictures. 

Syahrini Kembali Setelah 7 Tahun Melalui "Kau Yang Utama" dan Hebohnya Penampilan Sang Musisi di Pestapora

Setelah tujuh tahun menepi dari industri hiburan, Syahrini membuka babak baru perjalanan musikalnya melalui single 'Kau Yang Utama'. Karya ini hadir bukan sebagai upaya mengulang masa lalu, melainkan sebagai perkenalan kembali terhadap Syahrini dengan perspektif hidup yang lebih dewasa.

​'Kau Yang Utama' lahir dari pengalaman yang membentuk cara pandang Syahrini terhadap cinta, keluarga, rasa syukur, dan hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Dibawakan dengan pendekatan yang lebih intim dan elegan, lagu ini merepresentasikan transformasi personal sekaligus artistik sang penyanyi.

​Dalam penggarapannya, Syahrini menggandeng Andi Rianto sebagai komposer dan Dee Lestari sebagai penulis lirik. Perpaduan keduanya menghadirkan lagu yang memberi ruang lebih besar bagi Syahrini untuk menyampaikan cerita personalnya dengan nuansa yang hangat dan reflektif. "Selama beberapa tahun terakhir saya belajar bahwa hidup tidak selalu tentang mengejar sesuatu. Ada fase ketika kita justru menemukan diri kita saat memberi waktu untuk keluarga, menikmati setiap momen, dan belajar bersyukur. Musik selalu menjadi bagian dari hidup saya, tetapi kali ini saya kembali dengan hati yang berbeda. Saya ingin menyanyikan sesuatu yang benar-benar saya rasakan," ujar Syahrini.

​Perilisan 'Kau Yang Utama' juga menandai langkah mandiri Syahrini melalui SYR Records, label musik yang ia dirikan sebagai rumah bagi karya-karyanya. Dalam proyek ini, Syahrini turut mengambil peran sebagai executive producer bersama SYR Records, sehingga setiap proses kreatif hingga produksi dijalani secara langsung dari visi dan pengalaman pribadinya.

​Bagi publik, nama Syahrini telah menjadi bagian dari pop culture Indonesia selama lebih dari satu dekade. Lewat karya musik populer, pertunjukan panggung berskala besar, gaya fashion khas, hingga jargon yang melekat di berbagai generasi, Syahrini membangun identitas yang kuat. Kini, ia kembali membawa identitas tersebut dalam bentuk yang lebih matang melalui 'Kau Yang Utama'. Karya ini juga menjadi awal dari rangkaian aktivitas Syahrini sepanjang tahun, termasuk perilisan video musik, penampilan televisi, festival musik, showcase spesial, serta kolaborasi yang akan memperlihatkan sisi baru dirinya kepada publik.

​Momentum kembalinya Syahrini semakin terasa lewat penampilannya di Pestapora 2026 pada 27 September lalu. Menjadi panggung off-air pertamanya setelah tujuh tahun, Syahrini sukses mengundang perhatian lewat kehadiran ikonisnya di area festival, pertunjukan penuh gaya khasnya, hingga kolaborasi kejutan bersama Adrian Khalif dan NPD. Di tengah perayaan nostalgia bersama para penonton, Syahrini juga membawakan 'Kau Yang Utama', menjadikan panggung Pestapora sebagai penegasan bahwa perjalanan musikal sang Princess telah benar-benar dimulai kembali. 'Kau Yang Utama' kini telah tersedia di seluruh platform musik digital.

Track Title

: Kau Yang Utama

Performed By

: Syahrini

Executive Producer

: Syahrini & SYR Records

Composer

: Andi Rianto

Mixing dan Mastering

: Rayendra Sunito

Orkestra

: Budapest Scorinh Ocherstra

Back Vocal

: Wisha Sofia

Lyric

: Dee Lestari

Music Producer

: Syahrini, Aisyahrani dan Irvnat

Label

: SYR Records


Lyodra Merilis Album Ke Tiga Berjudul “Terkunci di Kamu”

​Terkunci di Kamu menjadi babak baru dalam perjalanan Lyodra sebagai salah satu vokalis muda paling menonjol di Indonesia. Sebagai album ketiganya, proyek ini mengikuti perjalanan sebuah hati yang patah, perlahan pulih, lalu menemukan keberanian untuk membuka diri dan jatuh cinta lagi. Alih-alih melihat patah hati sebagai satu emosi yang sama, album ini memecahnya menjadi berbagai warna: pengkhianatan, harapan palsu, kebingungan, penyesalan, kerinduan, sampai akhirnya muncul ruang untuk menerima kebahagiaan baru.

​Secara konsep, Terkunci di Kamu terasa seperti album dua bagian. Bagian pertama berada di wilayah yang lebih gelap dan "galau": tentang hati yang masih tertahan pada luka, hubungan yang tidak berjalan seperti yang diharapkan, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Emosinya bergerak dari kecewa menuju kebingungan, dari berharap menuju sadar bahwa ada hal-hal yang memang harus dilepaskan.

​Memasuki bagian kedua, warna album perlahan berubah. Setelah menghadapi luka, cerita mulai membuka ruang untuk penyembuhan, kerinduan yang lebih hangat, rasa manis saat kembali dekat dengan seseorang, dan keberanian untuk percaya pada cinta lagi. Peralihan ini membuat Terkunci di Kamu terasa bukan hanya sebagai kumpulan lagu cinta, tetapi sebagai perjalanan emosional yang utuh: dari terkunci oleh pengalaman masa lalu menuju hati yang kembali bersedia dibuka.

​Di tengah perjalanan tersebut, “Pintu Hati” hadir sebagai emotional centerpiece album. Lagu ini menjadi titik ketika seluruh cerita mulai berubah arah—dari mempertahankan luka menuju kemungkinan untuk menerima sesuatu yang baru. Dalam konteks album, “Pintu Hati” mewakili momen paling penting: saat seseorang yang sebelumnya terluka akhirnya berani memberi kesempatan pada cinta untuk masuk kembali.

​Konsep tersebut juga memperlihatkan sisi Lyodra yang semakin matang dan vulnerable. Kekuatan utamanya tetap berada pada vokal yang besar, penuh emosi, dan memiliki jangkauan impresif, tetapi di album ini kekuatan itu digunakan untuk membawa pendengar melewati perubahan rasa yang lebih berlapis. Ada momen ketika vokalnya harus terdengar terluka dan penuh pertanyaan, lalu ada momen ketika energi yang sama berubah menjadi hangat, manis, dan penuh keyakinan.

​Perjalanan menuju Terkunci di Kamu dibangun di atas rekam jejak Lyodra yang telah berkembang sejak usia sangat muda. Lahir di Medan pada 2003, ia menjadi pemenang termuda Indonesian Idol Season 10 pada usia 16 tahun. Ia dikenal lewat suara yang powerful, cara menyampaikan emosi yang kuat, serta kemampuan whistle register yang dipelajarinya secara otodidak—sebuah karakter vokal yang kemudian menjadi salah satu elemen paling khas dalam identitasnya sebagai penyanyi.

​Dalam perjalanan kariernya, Lyodra telah menghadirkan lagu-lagu seperti “Tak Dianggap”, “Sang Dewi”, dan “Pesan Terakhir”, serta berkolaborasi dengan nama-nama besar seperti Yovie Widianto dan Andi Rianto. Pengakuan terhadap kiprahnya juga datang secara regional ketika ia meraih Best New Asian Artist di Mnet Asian Music Awards 2021. Pencapaian tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu suara muda Indonesia yang mampu membawa karakter pop Indonesia ke audiens yang lebih luas.

​Namun Terkunci di Kamu tidak hanya berbicara tentang kemampuan vokal atau pencapaian. Album ini menempatkan Lyodra sebagai storyteller yang membawa satu narasi emosional dari awal hingga akhir. Bagian pertama membuat pendengar tinggal bersama rasa sakit dan “galau”; bagian kedua memberi payoff yang lebih ringan, sweet, dan romantis. Kontras inilah yang menjadi kekuatan utama album—menunjukkan bahwa jatuh cinta lagi terasa lebih berarti setelah kita memahami apa yang harus dilepaskan.

​Dengan Terkunci di Kamu, Lyodra memperkuat langkahnya sebagai diva muda Indonesia: bukan hanya lewat kemampuan vokal yang selalu menjadi cirinya, tetapi lewat keberanian membangun sebuah album dengan perjalanan rasa yang jelas. Dari heartbreak menuju healing, dari galau menuju manis, dan dari hati yang tertutup menuju keberanian mencintai lagi, album ini menangkap Lyodra dalam fase yang lebih dewasa, lebih terbuka, dan lebih dekat dengan emosi pendengarnya.

​Track List Album Terkunci di Kamu

​Teganya Kau

​Harapan Semu

Pura Pura

Apa Maksud Tuhan Pertemukan Kita?

Bodohnya Aku

Panggil Aku Bayangan

​Bersamamu ft. Bilal Indrajaya

Simpan Dulu Rindumu

​Pintu Hati

BUCIN'T

Minggu, 11 Oktober 2026

Empat Musim Pertiwi Jadi Mahakarya yang Luar Biasa Indah Dari Busan yang Festive, Disambut Hangat di Indonesia Putri Marino Raih Nominasi Best Performance

Tonton Empat Musim Pertiwi di bioskop Indonesia

​Jakarta, 11 Oktober 2026 — Film Empat Musim Pertiwi karya penulis dan sutradara Kamila Andini sedang tayang di bioskop. Setelah mendapat sambutan yang meriah saat tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2026, Empat Musim Pertiwi disambut hangat oleh penonton Indonesia. Penonton di Busan merasa Empat Musim Pertiwi membawa perasaan penuh harapan.

​Di Busan, pemeran karakter utama film ini, Putri Marino, yang memerankan Pertiwi, juga meraih penghargaan Face of Asia Awards dari majalah gaya hidup Marie Claire Korea Selatan, yang dihelat bersamaan dengan BIFF 2026. Selain itu, Putri juga kini meraih nominasi Best Performance di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026.

​Bagi Putri, memerankan Pertiwi memberinya refleksi tentang kekuatan perempuan yang ia berikan untuk orang-orang di sekitarnya.

​“Melihat betapa kuatnya Pertiwi dan juga rapuhnya Pertiwi, tapi dia juga bisa menjadi kekuatan untuk orang-orang di sekitarnya. Dan orang-orang di sekitarnya yang juga rapuh, yang juga mengalami ketidakadilan, bisa menjadi kekuatan juga untuk Pertiwi. Aku belajar banyak hal tentang kekuatan dari film ini,” ujar Putri Marino.

​Para penonton yang telah menyaksikan Empat Musim Pertiwi pun merasakan kekuatan dan keindahan film ini. Salah satunya aktor Reza Rahadian, yang mengungkapkan film ini memiliki banyak lapisan.

​“Film yang indah dan kuat. Film ini berbicara banyak tentang kekuatan perempuan dari berbagai macam lapisan, perspektif seorang ibu, perspektif seseorang yang mungkin dianggap orang yang aneh atau bahkan mereka yang tidak diterima di masyarakat, tapi ternyata punya arti yang sangat dalam bagi kehidupan Pertiwi secara khusus,” ujar Reza Rahadian.

​Sementara itu, bagi aktor muda El Putra Sarira, mengungkapkan Empat Musim Pertiwi sebagai sebuah mahakarya kelas dunia. “Mahakarya yang luar biasa indah,” ujar El Putra Sarira.

​“Sebagai perempuan, ada rasa marah. Bagaimana perempuan itu sangat mudah dikerdilkan walaupun kita sudah berupaya berani. Bagiku yang menarik itu justru tentang sisi Pertiwi yang punya keahlian lain. Itu sisi yang empowering dari Pertiwi. Dia menolak di posisi sebagai orang yang tidak punya daya, padahal dia bisa melakukan sesuatu yang lain,” ungkap Rachel Amanda yang merasa relate dengan perjalanan Pertiwi.

​Empat Musim Pertiwi ditulis dan disutradarai oleh Kamila Andini, dengan produser Ifa Isfansyah. Film ini menjadi ko-produksi enam negara, Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Film ini juga turut didukung dan kolaborasi bersama dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Film ini juga turut disponsori oleh Oriflame.

​Tonton Empat Musim Pertiwi di bioskop Indonesia. Ikuti perkembangan terbaru film Empat Musim Pertiwi melalui akun media sosial Instagram @forkafilms.

​Tentang FORKA FILMS

​Forka Films, sebelumnya dikenal sebagai Fourcolours Films, adalah sebuah perusahaan produksi film yang berbasis di Indonesia, dipimpin oleh sutradara dan produser Ifa Isfansyah. Sejak didirikan pada tahun 2001, Forka Films secara aktif memproduksi film-film yang telah mendapatkan penghargaan di berbagai festival film internasional.

​Beberapa karya terkemuka yang diproduksi oleh Forka Films, antara lain:

  • ​Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015)
  • ​Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Film Resmi Indonesia untuk OSCARS 2018)
  • ​The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto 2017)
  • ​Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzoni 2018)
  • ​Yuni (Kamila Andini, Penghargaan Platform Prize di Toronto 2021)
  • ​Before, Now & Then (Kamila Andini, Berlinale Silver Bear 2022)
  • ​Cigarettes Girl (Ifa Isfansyah & Kamila Andini, Best Mini Series Seoul International Drama Awards 2024)

​Forka Films terus mendukung keberagaman sinema Indonesia dan dunia, serta fokus pada menemukan dan membina talenta baru di Indonesia. Perusahaan ini memiliki visi untuk terus menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan memberikan kontribusi besar pada perfilman Indonesia di kancah internasional.

​AKUN MEDIA SOSIAL

Instagram : @forkafilms

YouTube : @forkafilms

Sabtu, 10 Oktober 2026

Sosok Ibu yang Menyimpan Teror dalam Official Trailer dan Poster Resmi Sumpah Darah

Bushi Bros Films dan Endorphins Entertainment Hadirkan Teror yang Mengintai di Balik Kehidupan Baru Mara

​Jakarta, 10 Oktober 2026 – Siapa sebenarnya sosok ibu yang menghantui kehidupan Mara? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu misteri yang diperkenalkan melalui official trailer dan poster film horor-thriller Indonesia terbaru, Sumpah Darah, yang dirilis hari ini oleh rumah produksi Bushi Bros Films dan Endorphins Entertainment. Disutradarai oleh Cornelio Sunny, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 26 November 2026, membawa penonton mengikuti kehidupan Mara (Asmara Abigail) yang berubah drastis setelah memutuskan untuk tinggal bersama Thomas (Dwi Sasono), seorang pria asing yang menjanjikannya kehidupan yang lebih baik.

​Official trailer Sumpah Darah dibuka dengan sebuah adegan yang mengundang tanda tanya: Mara memasuki sebuah goa. Sebelum penonton sempat mengetahui apa yang menantinya di dalam, trailer beralih ke kehidupan Mara sebelumnya, ketika ia masih menjalani profesi sebagai ladies companion (LC) di tengah gemerlap dunia malam. Perpindahan adegan ini memperlihatkan kontras antara kehidupan Mara sebelumnya dan kehidupan baru yang dijanjikan Thomas, yang perlahan membawanya ke dalam situasi yang semakin mencekam. Namun, kemunculan goa pada pembukaan trailer menyisakan pertanyaan tersendiri. Bagaimana Mara bisa sampai di tempat tersebut, dan apa yang sebenarnya ia hadapi di sana?

​Tawaran Thomas yang semula tampak menjanjikan kesempatan untuk memulai lembaran baru justru membawa Mara ke sebuah vila yang menyimpan misteri. Di balik kehidupan baru yang diharapkannya akan lebih sejahtera, ada sosok yang kehadirannya menjadi sumber ancaman baginya: ibu Thomas. Ditampilkan dalam wujud yang menyeramkan, sosok ini menjadi salah satu elemen paling misterius dalam trailer. Ia diperlihatkan sebagai figur manusia yang dikenal sebagai ibu, tetapi penampilannya jauh dari sosok manusia yang lazim ditemui. Tanpa melepaskan asal-usul maupun latar belakangnya, trailer memperlihatkan cukup banyak untuk menimbulkan pertanyaan tentang siapa dirinya dan apa yang sebenarnya ia inginkan dari Mara.

​Salah satu elemen visual yang menarik adalah penempatan sosok mengerikan ibu di tengah hari yang cerah. Alih-alih mengandalkan kegelapan sebagai pembangun suasana horor, adegan ini menghadirkan sesuatu yang mengancam di tengah lingkungan yang terlihat normal. Kontras tersebut menciptakan rasa tidak nyaman tersendiri: jika sosok yang menyeramkan itu dapat muncul bahkan dalam situasi yang tampak biasa, di mana sebenarnya Mara bisa merasa aman?

​Cornelio Sunny, sutradara sekaligus penulis naskah bersama Ike Klose, mengungkapkan bahwa pendekatan horor dalam film ini dibangun melalui kehadiran sesuatu yang seharusnya terasa dekat dan familier, tetapi justru menimbulkan ketakutan.

​“Bagi saya, salah satu hal yang menarik dari horor adalah ketika sesuatu yang kita kenal justru berubah menjadi sumber ketakutan. Kita terbiasa mengasosiasikan rasa aman dengan rumah, keluarga, atau sosok yang seharusnya melindungi kita. Namun, bagaimana jika justru dari sanalah teror itu datang? Dalam Sumpah Darah, saya ingin membangun rasa tidak nyaman itu secara perlahan, tanpa terburu-buru menjelaskan semuanya. Saya ingin penonton ikut bertanya-tanya tentang siapa sosok ini, apa yang sebenarnya terjadi, dan sejauh mana Mara bisa mempercayai kehidupan barunya,” ujar Cornelio.

​Selain official trailer, poster resmi Sumpah Darah turut dirilis untuk memperkenalkan atmosfer film kepada penonton. Bersama trailer, poster ini menjadi bagian dari pengenalan dunia Mara, yang menyimpan pertanyaan tentang kehidupan barunya, sosok ibu Thomas, dan rahasia yang menghubungkan semuanya. Alih-alih memberikan jawaban, kedua materi promosi ini mengajak penonton menelusuri petunjuk-petunjuk yang muncul sekaligus mempertanyakan apa yang sesungguhnya tersembunyi di balik teror yang dialami Mara.

​Sumpah Darah mengisahkan Mara (Asmara Abigail), seorang LC karaoke yang mendapat tawaran menikah dan menjalani kehidupan yang lebih baik dari Thomas (Dwi Sasono), pria misterius yang baru dikenalinya. Meski semula menolak, Mara akhirnya menerima tawaran tersebut setelah secara tidak sengaja membunuh seorang klien ketika berusaha menyelamatkan sahabatnya, Dini (Sara Zany), dari percobaan pemerkosaan. Mara pun meninggalkan kota bersama Thomas, berharap dapat memulai lembaran baru di tempat yang jauh dari kehidupan lamanya.

​Harapan itu membawanya ke sebuah vila terpencil, tempat Thomas tinggal bersama ibunya (Ully Triani). Namun, kehidupan baru yang semula tampak menjanjikan perlahan memperlihatkan berbagai kejanggalan. Kehadiran sosok ibu Thomas yang misterius semakin menambah kegelisan Mara, sementara rahasia mengerikan di balik tempat tinggal barunya mulai terungkap. Apa yang awalnya menjadi jalan keluar dari kehidupan lama justru mengancam nyawa dan kemanusiaannya. Mampukah Mara mengungkap kebenaran dan menyelamatkan dirinya sebelum semuanya terlambat?

​Selain Asmara Abigail sebagai Mara dan Dwi Sasono sebagai Thomas, film ini turut dibintangi oleh Ully Triani, Sara Zany, dan Ruth Marini.

​Saksikan official trailer dan poster resmi Sumpah Darah, dan bersiaplah memasuki kisah ketika kehidupan baru justru menjadi awal dari teror yang tak terduga. Siapa sebenarnya sosok ibu Thomas, dan mampukah Mara menyelamatkan dirinya dari rahasia yang mengancam hidupnya? Temukan jawabannya di bioskop mulai 26 November 2026!

​Pantau terus akun media sosial resmi Sumpah Darah untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai film ini.

Jumat, 09 Oktober 2026

Geng Arwah Ikut Pecahkan Misteri Kematian, Ghosthing Siap Tayang 15 Oktober 2026

Komedi Horor dengan Semangat Tontonan Populer Era Awal 2000-an, Menghadirkan Dunia Manusia dan Arwah dalam Kehidupan Sehari-hari

​Jakarta, 8 Oktober 2026 – Bagaimana jadinya jika seorang perias jenazah harus bekerja sama dengan sekelompok arwah untuk mengungkap misteri kematian seorang influencer? Premis unik ini hadir dalam Ghosthing, film horor-komedi terbaru produksi Imperial Pictures yang siap tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Oktober 2026.

​Disutradarai Arie Azis, diproduseri Hartawan Triguna, dan ditulis oleh Evelyn Afnilia, Ghosthing mengikuti kisah Alfian (Baskara Mahendra), seorang perias jenazah yang memiliki kemampuan melihat arwah. Kehidupannya berubah ketika bertemu Maya (Yasamin Jasem), arwah seorang influencer muda yang meninggal secara misterius dan berusaha mencari kebenaran di balik kematiannya.

​Dalam perjalanan mengungkap misteri tersebut, Alfian tidak sendirian. Ia dibantu oleh sekelompok arwah dengan karakter dan latar belakang berbeda, mulai dari Ci Nat (Leony VH), Bang Arip (Tanta Ginting), Mbak Min (Siti Fauziah), hingga Suster Wanda (Chika Waode). Namun, alih-alih membuat pencarian menjadi lebih mudah, tingkah para arwah justru kerap menghadirkan kekacauan yang mengundang tawa.

​Menghidupkan Kembali Semangat Komedi Supernatural Era 2000-an

​Berbeda dari film horor yang mengandalkan ketegangan, Ghosthing menghadirkan mereka sebagai karakter yang memiliki kepribadian, kebiasaan, dan dinamika satu sama lain. Kehadiran mereka justru menjadi salah satu sumber komedi sekaligus nyawa dalam perjalanan Alfian dan Maya.

​Interaksi antara Alfian dan kelompok arwah tersebut berkembang menjadi sebuah camaraderie yang tidak biasa. Mereka datang dari latar belakang berbeda, memiliki karakter masing-masing, tetapi kemudian bekerja bersama untuk membantu Alfian dan Maya mengungkap misteri yang ada.

​Pertemuan berbagai karakter tersebut membuat dunia Ghosthing terasa dekat dengan keseharian. Dunia manusia dan dunia arwah tidak ditempatkan sebagai dua ruang yang terpisah, melainkan dapat hadir dan berinteraksi dalam situasi-situasi yang sederhana, akrab, dan terkadang justru mengundang tawa.

​"Sejak awal, kami ingin membuat film yang bisa menghibur penonton lewat cerita yang sederhana tetapi memiliki dunia yang menarik. Kami membayangkan bagaimana kalau dunia manusia dan arwah bisa hadir berdampingan dalam kehidupan sehari-hari, lalu dari situ muncul berbagai situasi yang lucu, sekaligus tetap memiliki misteri yang ingin diikuti sampai akhir," ujar Hartawan.

​Pendekatan tersebut juga membawa semangat tontonan populer Indonesia pada era awal 2000-an, ketika cerita tentang kehidupan sehari-hari, keluarga, persahabatan, komedi, dan dunia supernatural dapat hadir secara berdampingan. Ghosthing membawa semangat kedekatan dan keseruan tersebut ke dalam format film layar lebar, dengan karakter-karakter yang kuat dan dinamika antarkarakter sebagai bagian penting dari pengalaman menonton.

​"Tantangan terbesar dalam Ghosthing adalah bagaimana menjaga komedi, horor, dan misterinya tetap berjalan bersama. Kami ingin penonton bisa menikmati misterinya, tetapi di saat yang sama tetap bisa tertawa melihat tingkah para karakter," ungkap Arie Azis.

​Ketika Misteri Bertemu Kekacauan Para Arwah

​Di balik tingkah para arwah yang mengundang tawa, Ghosthing tetap menyimpan sebuah misteri yang membuat Alfian dan Maya terus mencari jawaban. Apa yang sebenarnya terjadi pada Maya? Dan mengapa kematiannya menyisakan begitu banyak pertanyaan?

​Alih-alih membawa misteri tersebut dalam suasana yang serba serius, Ghosthing justru membiarkan pencarian jawaban berlangsung di tengah kekacauan yang ditimbulkan para arwah.

​Bagi Arie, perpaduan inilah yang menjadi salah satu tantangan sekaligus keseruan dalam menggarap Ghosthing.

​"Tantangan terbesar dalam Ghosthing adalah bagaimana menjaga komedi, horor, dan misterinya tetap berjalan bersama. Kami ingin penonton bisa menikmati misterinya, tetapi di saat yang sama tetap bisa tertawa melihat tingkah para karakter," ungkapnya.

​Dengan begitu, misteri dalam Ghosthing tidak hadir sebagai sesuatu yang berat, melainkan menjadi bagian dari perjalanan yang penuh kejutan, kekacauan, dan interaksi antarkarakter. Penonton diajak mengikuti pencarian Alfian dan Maya sambil melihat bagaimana para arwah justru ikut membuat semuanya semakin rumit—dan tentunya semakin menghibur.

​Film ini diperkuat oleh jajaran pemain lintas generasi, di antaranya Baskara Mahendra, Yasamin Jasem, Leony VH, Bang Tigor, Reinold Lawalata, Chika Waode, Siti Fauziah, Iyang Darmawan, Tanta Ginting, Mathias Muchus, Mona Ratuliu, Indian Akbar, dan Amel Carla.

​Melalui perpaduan horor, komedi, serta misteri yang dibalut interaksi karakter penuh warna, Ghosthing menawarkan pengalaman menonton yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga mengundang tawa.

​Karena terkadang, mereka yang paling membantu kita menemukan kebenaran justru datang dari dunia yang tidak pernah kita bayangkan.

​Saksikan Ghosthing di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

Film Perayaan Pertama Merampungkan Syuting, Dibintangi Morgan Oey, Ladya Cheryl, dan Abby Latip, Jadi Film Kedua Sutradara Jason Iskandar, Tayang di Bioskop pada 2027

Jakarta, 13 Oktober 2026 — Rumah produksi Studio Antelope baru saja merampungkan syuting film terbaru karya sutradara Jason Iskandar, Peray...