Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 November 2025

Peran Penting Universitas Menghasilkan Bukti Ilmiah Tentang Dampak Kesehatan Kental Manis terhadap anak

JAKARTA - Kebiasaan memberikan kental manis sebagai susu bagi balita masih terjadi.  Kekhawatiran atas kondisi ini mendorong akademisi dari tiga universitas melakukan  penelitian. Ketiganya adalahFakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),  Prodi Gizi UNNES, UNISA Yogyakarta, dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia  (YAICI). Penelitian dilakukan di Pamijahan Kab. Bogor, Semarang, dan Kulon Progo. 

Inisiatif penelitian tersebut, dikatakan Guru Besar Ilmu Gizi UMJ, Dr. Tria Astika Endah  Permatasari yang terlibat dalam penelitian di Pamijahan sebagai respon dari meningkatnya  konsumsi minuman tinggi gula pada anak. Selain itu, persepsi kental manis adalah susu masih  mengakar di sejumlah masyarakat.  

“Mengapa kental manis menjadi isu yang sangat menarik hingga hari ini, karena  konsumsinya yang masih tinggi pada balita. Balita memang tidak tahu, tapi perilaku orang  tua yang mengkonsumsi kental manis, yang diturunkan secara turun temurun,” kata Prof.  Tria. 

Di Pamijahan, Bogor, persoalan ekonomi dan pola asuh menjadi salah satu faktor. Salah satu  temuan yang penting untuk diperhatikan adalah kebutuhan rokok untuk suami masih lebih  diutamakan ketimbang membeli makanan bergizi untuk anak.  “Adanya pengeluaran lain selain makanan oleh rumah tangga seperti rokok, mempengaruhi  akses keluarga untuk membeli makanan bergizi,” beber Prof. Tria. 

Sementara dari Semarang, Ketua tim peneliti UNNES Dr. Mardiana, S.KM., M.Si. menemukan  konsumsi kental manis yang sangat tinggi pada 100 balita di Tanjung Mas dan Sukorejo. Ia  menilai kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular sejak dini. 

“Kalau dampaknya yang terlihat kan memang karies dan diare, yang lebih [parah] memang  belum terlihat, karena ini penggunaan dalam waktu pendek,” ujar Dr. Mardiana. 

Dalam penelitian UNNES, faktor pola asuh ikut berpengaruh. Di Tanjung Mas, banyak balita  diasuh nenek sehingga kental manis dipilih karena praktis dan dianggap aman. Di Sukorejo,  meski orang tua mengasuh sendiri, pemahaman tentang kandungan gula belum merata,  membuat konsumsi tetap tinggi. 

Di Kulon Progo, tim peneliti UNISA yang dipimpin oleh Luluk Rosida S.St., M.K.M menemukan  kuatnya aspek kultural dan kebiasaan sosial. Kental manis masih digunakan sebagai buah  tangan ketika menjenguk orang sakit, hingga bahan campuran minuman di angkringan dan  warung. Luluk menekankan bahwa pola ini punya dampak serius terhadap status gizi anak. 

“Ada kebiasaan menjenguk orang sakit dan balita sakit dengan membawakan susu dan roti.  Susu yang dimaksud ya kental manis, ini yang menjadi pembuka mengenalkan kental manis  sebagai susu kepada anak,” ujar Luluk.

Diharapkan penelitian yang terdokumentasi melalui buku ini diharapkan dapat menjadi  edukasi kepada masyarakat. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi acuan seluruh pemangku  kebijakan dalam mengambil aturan yang tepat dan matang guna mengatasi permasalahan kental manis ini.

Senin, 24 November 2025

Ramai Minum Susu Mentah, Benarkah Lebih Sehat?

Media sosial X diramaikan postingan akun @katzen_jammer yang mengaku memberikan keluarganya susu mentah. Dia menyebut pilihan mengonsumsi susu mentah untuk mengonsumsi real food atau produk pangan alami yang ia nilai lebih sehat sambil menyindir orang tua yang masih memberikan susu formula. Sontak, unggahannya memicu banyak reaksi dari warganet. 

Raw and unpasteurized milk, langsung dari peternak. Saya hanya memberi real foods untuk keluarga saya. No ultra processed foods,” tulis @katzen_jammer. 

Pandangannya akan susu mentah yang dianggap alami karena tidak melalui proses adalah keliru. Pasalnya, susu sapi yang baru diperah sangat mudah terkontaminasi bakteri dari lingkungan, alat pemerahan, kotoran hewan, atau petugas yang memerah. Tanpa proses pemanasan, berbagai patogen bisa tetap hidup dan masuk ke tubuh anak. 

Samantha Avina, kandidat Ph.D dari Rutgers University menyebut susu mentah merupakan medium ideal bagi bakteri penyebab penyakit. Bahkan, sebelum manusia mengenal pasteurisasi, susu mentah kerap memicu wabah penyakit serius. 

“Secara historis, konsumsi susu sering dikaitkan dengan wabah penyakit serius yang berasal dari kontaminasi mikroba, dan keadaan ini baru mulai berubah pada tahun 1860-an,” tulisnya. 

Ia juga menjelaskan bahwa susu mentah mengandung berbagai patogen berbahaya yang terdokumentasi luas dalam penelitian. Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit seperti listeriosis, brucellosis, hingga tuberculosis, yang risikonya meningkat pada balita, ibu hamil, lansia dan orang dengan imunitas lemah. 

“Susu mentah dapat mengandung berbagai mikroba patogen yang telah terbukti berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Campylobacter, Listeria, Mycobacterium bovis, Brucella, dan Salmonella adalah sumber kontaminasi susu mentah yang umum,” tulis Avina. 

Maka dari itu, orang tua harus sangat bijak dalam memberikan susu terutama kepada anak. Di masa tumbuh kembang, anak sangat memerlukan susu sesuai usia dan kebutuhannya. 

Untuk anak di bawah satu tahun, ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik. Setelah usia satu tahun, ada berbagai pilihan susu yang aman dikonsumsi sesuai kebutuhan gizi dan riwayat kesehatan anak seperti susu pertumbuhan. 

Selain itu, orang tua perlu berhati-hati memilih produk susu. Jangan sampai salah memilih kental manis, karena produk tersebut bukan susu dan tidak boleh diberikan sebagai minuman balita. Tingginya kandungan gula justru dapat meningkatkan risiko gizi buruk, karies gigi, hingga masalah kesehatan jangka panjang.

Senin, 03 November 2025

Maltodekstrin dalam Susu Formula, Gula Tambahan atau Sumber Serat?

Kalau kamu suka membaca label makanan, mungkin kamu pernah menemukan kata  “maltodekstrin” di daftar bahan. Namanya terdengar kimiawi, tapi sebenarnya bahan ini sangat  umum ditemukan di makanan sehari-hari, mulai dari sereal, saus salad, hingga susu formula  anak. 

Lalu, sebenarnya apa sih maltodekstrin itu? Apakah dia termasuk gula tambahan, dan benarkah  ada jenis maltodekstrin yang mengandung serat? 

Maltodekstrin adalah karbohidrat olahan yang berasal dari sumber pati seperti jagung, kentang,  gandum, atau tapioka. Proses pembuatannya disebut hidrolisis, di mana pati dipecah menjadi  rantai pendek molekul gula. Hasilnya berupa bubuk putih yang tidak berasa manis, bahkan  sering digunakan untuk menambah tekstur lembut atau membantu bahan larut dengan mudah  dalam minuman dan makanan. 

Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), maltodekstrin termasuk bahan yang aman  digunakan dalam makanan (GRAS — Generally Recognized as Safe). Fungsinya bukan hanya  sebagai pengisi, tapi juga penstabil, pengental, atau pengganti gula dan lemak dalam berbagai  produk olahan. 

dr. Rosyanne Kushardina, S.Gz., M.Si., Doktor dalam bidang ilmu gizi dari Fakultas  Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, menjelaskan bahwa  maltodekstrin merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) yang aman dan dibuat dari  bahan alami. 

“Sesuai namanya, BTP memang ditambahkan secara sengaja ke produk makanan atau  minuman untuk tujuan teknologi, baik dalam proses pembuatan maupun pengolahan pangan,  agar menghasilkan komponen tertentu atau memengaruhi sifat pangan tersebut,” jelas Dr.  Rosyanne. 

BPOM juga telah mengatur penggunaan bahan tambahan pangan ini melalui Peraturan BPOM  No. 11 Tahun 2019. Dari 27 golongan BTP yang ada, maltodekstrin termasuk yang berfungsi  beragam bisa sebagai pengawet, penguat rasa, filler (peningkat volume), penstabil tekstur,  hingga perisa. 

“Maltodekstrin biasa ditambahkan ke produk pangan sebagai pengawet, penguat rasa, filler,  untuk meningkatkan tekstur, dan ada juga yang digunakan sebagai perisa,” ujar Dr. Rosyanne. Ia menambahkan, maltodekstrin juga kerap digunakan sebagai pengganti laktosa pada produk  susu, terutama untuk mereka yang mengalami intoleransi laktosa. 

Secara alami, maltodekstrin tidak terdapat dalam bahan pangan mentah, tetapi dibuat dari  bahan alami seperti umbi-umbian, serealia, dan jagung. “Pati dari sumber karbohidrat tersebut diolah melalui proses hidrolisis hingga terbentuklah  maltodekstrin,” terang Dr. Rosyanne dalam sebuah diskusi media bersama Ngobras

Meski tersusun dari molekul gula, maltodekstrin hampir tidak memiliki rasa manis. Derajat  kemanisannya diukur dengan dextrose equivalent (DE), semakin rendah nilainya, semakin  kecil tingkat kemanisannya. Maltodekstrin umumnya memiliki nilai DE antara 3–19.

“Maltodekstrin dengan DE 10 bisa digunakan untuk produk instan seperti saus dan produk diet,  DE 15 untuk minuman isotonik, dan DE 19 untuk bubuk cokelat, produk susu, atau dessert,”  papar Dr. Rosyanne. 

Ia juga menyoroti isu yang belakangan ramai di media sosial tentang maltodekstrin yang  dikaitkan dengan peningkatan kadar gula atau gangguan ginjal pada anak. 

“Tidak tepat jika maltodekstrin dikaitkan dengan peningkatan kandungan gula pada susu atau  menyebabkan gagal ginjal pada anak,” tegasnya. 

“Susu yang mengandung maltodekstrin tidak berarti memiliki kandungan gula yang lebih  tinggi. Ini bisa dicek langsung pada label kemasan.” 

Maltodekstrin sebenarnya banyak terdapat pada berbagai jenis makanan, tidak hanya pada  produk manis seperti susu atau sereal, tetapi juga pada produk gurih seperti kaldu ayam dan  kaldu jamur, karena berperan sebagai filler

Bahkan, penelitian terkini menemukan bahwa maltodekstrin resistan (resistant maltodextrin)  dapat difermentasi di usus besar menjadi short chain fatty acid (SCFA), yang bermanfaat bagi  kesehatan mikrobiota usus. Jenis ini berfungsi seperti serat pangan (dietary fiber) yang  membantu pencernaan dan menjaga kadar gula darah tetap stabil. 

Penelitian oleh Kishimoto et al. (2006) menunjukkan bahwa resistant maltodextrin dapat  meningkatkan jumlah bakteri baik seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus di usus besar,  serta menurunkan kadar gula dan kolesterol darah. Studi lain dari Okuma & Matsuda (2002)  juga menyebutkan bahwa serat ini tidak menyebabkan gangguan pencernaan dan dapat  digunakan sebagai serat fungsional dalam produk pangan. 

Kalau kamu perhatikan label susu formula atau susu pertumbuhan anak, beberapa produk  mencantumkan bahan “Resistant Maltodextrin (Serat Pangan)”. Fungsinya adalah untuk  menambah serat sekaligus mendukung kesehatan saluran cerna anak, terutama yang sering  mengalami sembelit atau kurang konsumsi sayur dan buah. 

Menurut Jurnal Gizi Klinik Indonesia (2020), penambahan serat pangan seperti resistant  maltodextrin dalam susu pertumbuhan dapat membantu menyeimbangkan mikrobiota usus dan  mendukung daya tahan tubuh anak. 

Maltodekstrin bukan “gula berbahaya” seperti yang sering disangka. Dalam bentuk biasa, ia  berfungsi sebagai sumber energi tambahan yang aman. Sedangkan dalam bentuk resistant  maltodextrin, justru bisa memberikan manfaat serat untuk pencernaan dan metabolisme tubuh. 

Kuncinya ada pada mengenali jenis dan porsinya. Dengan membaca label dan memahami  fungsinya, kamu bisa memilih produk yang sesuai kebutuhan, tanpa perlu khawatir berlebihan.

Selasa, 23 September 2025

Viral Lagi Kental Manis Disangka Susu, Dokter Riza Beri Edukasi Untuk Ibu Hamil


JAKARTA - Belakangan ini, pembahasan tentang kesalahan konsumsi susu kental manis kembali ramai  di media sosial. Dari X, Facebook, sampai Instagram, banyak warganet yang berbagi cerita soal anak anak yang rutin minum kental manis sejak kecil. Ternyata, masih banyak yang mengira kental manis itu  sama dengan susu. 

Salah satunya datang dari curhatan seorang netizen di X tentang keponakannya yang mengalami  obesitas. Postingan itu disertai ilustrasi foto Kenzi, balita asal Bekasi yang dulu sempat viral mengalami  obesitas karena sehri-hari mengonsumsi kental manis sebagai susu. Jelas saja, konten tersebut  langsung ramai dikomentari netizen. Banyak yang bilang, kebiasaan minum susu kental manis bisa jadi  salah satu penyebabnya. Kenzi sendiri akhirnya mendapat pengawasan tim medis dari RS Cipto  Mangunkusumo.  

Cerita lain juga muncul di Instagram. Ada seorang ibu yang membagikan pengalaman anaknya sering  sakit-sakitan karena sejak umur dua tahun rutin diberi kental manis. Video lama Bu Uti yang  memberikan susu kental manis kepada anak pun kembali viral setelah diposting ulang oleh akun  parenting. 

Di masyarakat, terutama dengan hadirnya kemasan sachet, masih banyak yang menganggap susu  kental manis sama seperti susu cair biasa. 

Fenomena ini jadi pengingat penting, edukasi soal susu kental manis harus terus dilakukan. Bukan  untuk melarang orang mengonsumsinya, tapi agar masyarakat tahu cara yang tepat menggunakannya. 

Dikutip dari laman alodokter, dr. Riza Marlina memberikan tanggapannya terhadap pertanyaan ibu  yang sedang hamil 4 bulan yang sering mengonsumsi kental manis karena rasanya enak dan bikin  kenyang.  

“Sesuai dengan rasanya yang manis, susu kental manis ini mengandung tinggi gula. Merujuk pada  anjuran BPOM (badan pengawas obat dan makanan) SKM boleh disajikan sebagai toping, pelengkap  atau campuran makanan seperti roti, martabak, kopi maupun teh itu artinya anda tidak dianjurkan  menikamati SKM sebagai hidangan tunggal seperti minum susu. Dengan begitu ibu hamil tidak boleh  ya konsumsi SKM sebagai susu pada umumnya karena susu tersebut mengandung tinggi gula yang bisa  meimbulkan komplikasi nantinya seperti diabetes selain itu bisa beresiko bayi lahir dengan  keterampilan kognitif yang buruk,” jelas dr Riza.  

Lebih lanjut, ia menyarankan ibu hamil mengonsumsi susu yang memang diperuntukkan untuk ibu  hamil, guna mencegah dampak buruk dari kental manis. “Guna mencegah dampak buruk tersebut  sebaiknya ibu konsumsi susu yang sesuai yaitu susu ibu hamil yang dimana susu tersebut dikhususkan  untuk ibu hamil karena nutrisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan ibu hamil sehingga  memberikan manfaat yang lebih baik untuk ibu dan janin,” tegasnya.

Senin, 22 September 2025

PP Aisyiyah Damping 40 Balita di Ciketing Udik Bantar Gebang Untuk Perbaikan Gizi

Bekasi - Sebanyak 40 balita di Kelurahan Ciketing Udik, Bantar Gebang, Bekasi menjadi penerima  manfaat program pendampingan gizi dari PP Aisyiyah bersama YAICI. Program ini menyasar balita  dengan kondisi stunting, wasting, serta satu anak yang terdeteksi tuberkulosis (TBC) dan satu anak lain  yang tinggal bersama keluarga penderita TBC. 

Mayoritas orang tua penerima manfaat bekerja sebagai pemulung, sehingga akses mereka terhadap  makanan sehat bergizi masih terbatas. Salah satu ibu rumah tangga, Siti (34), mengaku selama ini rutin  memberikan susu kental manis kepada anaknya sebagai tambahan gizi. “Setiap hari, saya kasih susu  kental manis minimal 3 kali. Saya kira itu sudah cukup buat nutrisinya,” ujarnya. Ia baru mengetahui  dari pendampingan gizi dan kader posyandu bahwa kental manis bukan susu, melainkan lebih banyak  mengandung gula. 

Program ini mendapat dukungan pendanaan dari LazisMu dan Dompet Dhuafa. Selama dua bulan,  pendampingan dilakukan oleh kader posyandu, dengan skema 1 kader mendampingi 4 penerima  manfaat. Kegiatan yang dilakukan antara lain edukasi cara membuat menu makanan sehat,  pemantauan tumbuh kembang anak, serta kunjungan ke rumah keluarga penerima manfaat. 

Pendampingan ini diharapkan bisa membantu orang tua mengolah bahan makanan sederhana  menjadi menu sehat. Melalui program ini, PP Aisyiyah dan YAICI berharap angka stunting di Ciketing  Udik dapat ditekan, serta kesadaran masyarakat mengenai gizi seimbang semakin meningkat. 

Sebelumnya, Sosiolog Universitas Indonesia Dr. Erna Karim, M.Si. mengatakan, kesalahan konsumsi  kental manis yang masih terjadi di masyarakat harus dihadapi dengan langsung menjangkau kelompok  sasaran. Ia mencontohkan, program pendampingan yang digagas oleh Aisyiyah dan YAICI adalah satu  langkah untuk mengatasi keterbatasan informasi di masyarakat.  

"Program pendampingan gizi secara langsung akan mempunyai dampak secara langsung. Hal ini sangat  efektif dan perlu terus ditingkatkan, karena sasaran susu kental manis adalah kelas menengah bawah  yang gaptek," jelas Erna. 

Lebih lanjut, Dr. Erna menyebut Keterlibatan masyarakat seperti yang dilakukan Aisyiyah dapat menjadi  kunci keberhasilan menangani persoalan gizi dan kesehatan. Berbekal kadernya yang karena mereka  memahami kebutuhan komunitas dan mampu membangun kepercayaan, sehingga pesan kesehatan  dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. 

"Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan informasi dari tenaga kesehatan dan akademisi ke  keluarga-keluarga, menciptakan perubahan nyata di komunitas, terutama bagi kelompok yang sulit  dijangkau," ungkap Erna.

Selasa, 10 Juni 2025

Edukasi Model Pendampingan Efektif Atasi Kebiasaan Salah Konsumsi Susu pada Balita


Kental manis masih menjadi jenis susu yang dikonsumsi oleh anak-anak dan balita. Bahkan, produk dengan kandungan gula mencapai 40 gr per sachet/ per takaran saji tersebut juga ditemukan dijadikan pengganti ASI pada anak dibawah usia 12 bulan. Tingginya kandungan gula dalam satu takaran saji kental manis dapat berisiko meningkatkan diabetes, obesitas dan gangguan gizi lainnya pada anak.

Dalam survey terbaru yang menyasar balita di Kab Bogor, Jawa Barat, ditemukan sejak usia 8 bulan
bayi-bayi telah terpapar kental manis. Ketua tim peneliti yang terlibat Prof. Dr. Tria Astika Endah
Permatasari SKM., MKM mengatakan penelitian yang dilakukan awal tahun 2025 tersbeut bertujuan
menggali dampak kesehatan dan status gizi balita yang memiliki kebiasaan mengonsumsi kental manis
sebagai minuman susu. “Sebanyak 95% balita diberikan kental manis mulai usia 8 bulan ke atas” ujar
Tria.

Fakta bahwa kental manis masih dijadikan sebagai minuman susu untuk anak dan balita tidak terlepas
dari minimnya pengetahuan masyarakat akan bahaya gula berlebih pada anak, akses terhadap produk
yang murah dan mudah di temukan serta kebiasaan yang sudah tertanam di otak melalui pengulangan.
Belum lagi rasa manis yang bersifat adiktif, yang menyebabkan anak yang sudah terpapar kental manis
akan sukar untuk berhenti.

Sosiolog Universitas Indonesia Dr. Erna Karim, M.Si. mengatakan kesalahan konsumsi kental manis yang masih terjadi di masyarakat harus dihadapi dengan langsung menjangkau kelompok sasaran. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah (Makes PPA) melalui program pendampingan untuk masyarakat di 3 wilayah di Indonesia, Pamijahan di Bogor, Jawa Barat, Muaro Jambi di Propinsi Jambi dan di Kota Kupang, NTT.

Dalam pendampingan yang berlangsung selama 8 minggu tersebut, kader kesehatan Aisyiyah di masing-masing wilyah akan mendampingi sebanyak 72 keluarga dengan balita yang memiliki kebiasaan mengonsumsi kental manis sebagai minuman susu. Bahkan, tidak sedikit diantara balita peserta program ini mengonsumsi kental manis lebih dari 8 kali sehari. Harapannya, dengan edukasi yang dilakukan secara intensif tersebut, pengetahuan ibu akan gizi anak meningkat dan kebiasaan konsumsi kental manis oleh anak sebagai minuman susu perlahan-lahan dapat di atasi.

“Program pendampingan gizi secara langsung akan mempunyai dampak secara langsung. Hal ini sangat efektif dan perlu terus ditingkatkan, karena sasaran susu kental manis adalah kelas menengah bawah yang gaptek,” jelas Erna.

Lebih lanjut, Dr. Erna menyebut Keterlibatan masyarakat seperti yang dilakukan Aisyiyah dapat menjadi kunci keberhasilan menangani persoalan gizi dan kesehatan. Berbekal kadernya yang karena mereka memahami kebutuhan komunitas dan mampu membangun kepercayaan, sehingga pesan kesehatan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan informasi dari tenaga kesehatan dan akademisi ke keluarga-keluarga, menciptakan perubahan nyata di komunitas, terutama bagi kelompok yang sulit dijangkau,” ungkap Erna.

Salah satu peserta program pendampingan asal Kupang, Mama Ance mengaku senang mengikuti program yang telah berlangsung selama 2 minggu tersebut. Selama ini ia bingung anaknya yang berusia 4 tahun suka sekali minum kental manis. Padahal ke 6 anaknya yang lain tidak mengonsumsi kental manis.

“Saya tidak tahu cara menyetopnya. Selama ini terpaksa dikasih, saya pikir itu juga susu jadi tidak apa-apa,” jelas peserta asal Kupang tersebut. Setelah mengikuti sesi edukasi gizi dari ahli gizi, Mama Ance menjadi lebih paham kenapa kental manis dan minuman kemasan manis lainnya bukanlah pilihan baik untuk konsumsi harian anaknya.

“Ibu-ibu kader ini kasih tau cara kasih makan anak yang lebih bagus. Ternyata memasak makanan enak untuk anak itu mudah, kasih anak makan enak supaya tidak lagi minta kental manis,” ujarnya menjelaskan.

Senada dengan Mama Ance, Rondiyah peserta asal pendampingan Kab Muaro Jambi selama ini beranggapan, kental manis adalah susu yang baik untuk sang cucu. “Lihat di TV, iklannya kan untuk susu, diminum anak-anak,” jelas Rondiyah saat ditanya alasannya memberikan kental manis untuk cucu yang sehari-hari berada dalam pengasuhannya.

Lebih lanjut, Rondiyah mengaku senang dapat mengikuti edukasi yang diselanggaran Makes PPA tersebut. Sebab, ia jadi lebih paham apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh cucunya. “Adanya kegiatan ini sangat bagus untuk kita, saya jelas tidak akan memberikan lagi kental manis untuk cucu-cucu saya,” ujarnya tegas.

Senin, 09 Juni 2025

Susu Pertumbuhan Baik untuk Tubuh, Kenapa Justru Dilarang?


Di tengah meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya nutrisi anak, tak sedikit yang mempertanyakan, mengapa susu pertumbuhan yang mengandung berbagai vitamin dan mineral penting, justru sering diperdebatkan atau bahkan dilarang dalam beberapa panduan? Menurut Dokter spesialis penyakit dalam dr. Sukiman Rusli, Sp.PD., pelarangan atau larangan keras bukan ditujukan pada semua jenis susu, melainkan pada kesalahan persepsi masyarakat terhadap produk susu, terutama ketika susu kental manis disalahartikan sebagai susu pertumbuhan.

Menurut dr. Sukiman, susu pertumbuhan pada dasarnya adalah hasil dari kemajuan teknologi pangan yang mencoba meniru kandungan Air Susu Ibu (ASI). Susu ini diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, terutama ketika kebutuhan nutrisi meningkat setelah usia 6 bulan. “Susu pertumbuhan itu secara ilmiah dikembangkan untuk meniru ASI, meski tidak sepenuhnya sempurna. Tapi dari segi komposisi, banyak yang sudah diperkaya dengan zat penting seperti zat besi (Fe),” ujarnya.

Zat besi adalah salah satu mikronutrien yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak, terutama dalam pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan anemia, gangguan pertumbuhan, hingga penurunan kecerdasan kognitif. Di sinilah susu pertumbuhan bisa berperan. Beberapa produk bahkan sudah diperkaya dengan kombinasi zat besi dan vitamin C (Iron C) yang memudahkan penyerapan zat besi oleh tubuh.

Namun, dr. Sukiman menegaskan pentingnya memahami konteks. “Yang sering disalahpahami masyarakat adalah menyamakan semua produk susu. Padahal, susu pertumbuhan berbeda dari susu kental manis,” jelasnya. Ia menekankan bahwa susu kental manis bukanlah susu yang layak dikonsumsi sebagai sumber gizi utama anak. “Itu bukan susu. Kandungan gulanya tinggi dan sangat minim nutrisi. Bahkan bisa menyebabkan obesitas dan penyakit metabolik lain.”

Ia menambahkan, susu pertumbuhan yang sesuai usia bisa menjadi pelengkap gizi, terutama bila kondisi ibu tidak memungkinkan memberikan ASI eksklusif. Namun, ia mengingatkan agar pemilihannya dilakukan dengan cermat. “Baca labelnya, cek kandungannya. Konsultasikan dengan ahli gizi atau dokter anak,” pesannya.

Lebih lanjut, dr. Sukiman mengajak masyarakat untuk melihat gizi anak secara holistik. “Pemenuhan gizi anak tidak bisa hanya mengandalkan susu. Harus ada makanan pendamping ASI yang seimbang, tinggi protein hewani, vitamin, dan mineral. Jangan lupa pentingnya zat besi dalam proses tumbuh kembang, termasuk dalam menjaga fungsi otak dan imunitas.”

Dengan kata lain, susu pertumbuhan bukanlah musuh. Justru bisa menjadi solusi gizi bila digunakan dengan benar dan sesuai kebutuhan. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan salah kaprah seperti memberikan susu kental manis sebagai pengganti susu anak.


"Zat besi dibutuhkan dari bayi baru lahir hingga lansia. Tapi pada anak-anak, ibu hamil, dan remaja, kebutuhannya lebih tinggi. Maka, susu yang mengandung zat besi bisa menjadi solusi, bukan sesuatu yang dilarang,” tutup dr. Sukiman.

Senin, 26 Mei 2025

Anak Kecanduan Kental Manis? Begini Tips Mengatasinya


Kental manis mempunyai rasa yang nikmat karena kandungan gulanya yang tinggi. Tidak heran bila anak yang sudah dikenalkan dengan kental manis dan memiliki kebiasaan mengonsumsi setiap hari, akan kecanduan dan susah untuk dihentikan. Tidak jarang orang tua yang terlambat menyadari bahwa kental manis berbaha bagi kesehatan anak, mengaku kesulitan menghentikan kebiasaan konsumsi tersebut.

Namun, bagaimanapun kesalahan konsumsi ini harus segera diperbaiki. Karena jika tidak, dapat menimbulkan berbagai penyakit tidak menular pada anak, misalnya diabetes, obesitas hingga malnutrisi. Karena itulah, banyak dokter yang menyarankan anak-anak tidak diberi kental manis sebagai pengganti susu.

Lalu, bagaimana cara agar anak berhenti minum kental manis?

1. Pastikan anak menyantap makanan utama sesuai isi piringku

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan anak menyantap makanan utamanya di waktu dan porsi yang tepat. Sayangnya, banyak anak-anak enggan menyantap menu makanan utama dan lebih suka mengnsumsi cemilan. Menghadapi situasi seperti ini, orang tua biasanya beranggapan anak susah makan atau picky eater.

Mengatasi hal ini, salah satu trik yang dapat dicoba adalah menyajikan hidangan utama dengan menarik. Kombinasi makanan berwarna warni misalnya, dapat menarik perhatian anak. Selain itu, kreasi bentuk lauk, dipotong sesuai genggaman anak akan memudahkan anak mengenali makanannya.

Pada anak usia 4-5 tahun, sudah bisa diajak untuk ikut serta menyiapkan makanan, sehingga anak merasa senang menikmati hidangan yang disiapkannya.

2. Kurangi Frekuensinya Perlahan

Pada saat anak sudah terbiasa mengonsumsi menu utama sesuai porsi yang tepat, maka anak akan merasa cukup sehingga tidak lagi meminta cemilan lain termasuk kental manis. Jika tida, frekwensi pemberiannya dapat dikurangi secara bertahap.

3. Ganti kental manis dengan susu pertumbuhan yang sesuai dengan usia anak

Beri pengertian kepada anak bahwa susu yang sebaiknya dikonsumsi oleh anak adalah susu pertumbuhan sesuai usia anak. Orang tua dapat mulai mengenalkan jenis susu pertumbuhan ini sembari menjelaskan manfaat susu pertumbuhan untuk kesehatan tubuh dan pertumbuhan tulang anak.

4. Berikan Camilan Sehat yang Manisnya dibuat dari Bahan Alami

Anak menyukai rasa manis? Buatkan camilan seperti puding buah tanpa gula tambahan atau roti dengan selai buah alami.

Dengan pendekatan bertahap dan konsisten, anak akan lebih mudah beradaptasi dan meninggalkan kebiasaan mengonsumsi susu kental manis. Upaya ini menjadi bagian penting dalam membentuk pola makan sehat sejak dini untuk mendukung tumbuh kembang optimal.

Selasa, 29 April 2025

Cegah Defisiensi Zat Besi Sejak Dini, dr. Denta: Susu Bantu Lengkapi Asupan Anak


JAKARTA - Kekurangan zat besi atau iron deficiency masih menjadi salah satu masalah gizi yang kerap terjadi pada anak-anak Indonesia, terutama di masa pertumbuhan awal. Zat besi merupakan mineral penting yang berperan dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ketika tubuh kekurangan zat besi, anak bisa mengalami anemia yang berdampak serius terhadap energi, daya tahan tubuh, hingga perkembangan otak.

Untuk mencegah kondisi ini, pemenuhan kebutuhan zat besi harus menjadi perhatian utama orang tua sejak bayi mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). dr. dr. Kurniawan Satria, Sp.A., dokter spesialis anak dari KiDi, menjelaskan bahwa selain dari makanan dan suplemen, produk susu yang difortifikasi zat besi juga bisa menjadi alternatif tambahan dalam melengkapi kebutuhan gizi anak.

“Beberapa produk susu pertumbuhan difortifikasi dengan zat besi dan ini bisa membantu melengkapi asupan harian anak,” ujar dr. Denta. Ia menambahkan bahwa fortifikasi zat besi dalam produk susu bertujuan untuk menjawab kebutuhan anak-anak yang rentan kekurangan zat besi karena pola makan yang kurang bervariasi.

Meski demikian, dr. Denta menegaskan bahwa pemberian susu harus disesuaikan dengan usia anak. “Anak di bawah satu tahun, misalnya, belum boleh mengonsumsi susu UHT karena sistem pencernaannya belum siap. Susu formula yang diformulasikan khusus untuk usia tersebut tetap menjadi pilihan yang lebih aman,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa meskipun susu yang telah difortifikasi dapat membantu, sumber utama zat besi sebaiknya tetap berasal dari makanan sehari-hari. “Pemenuhan zat besi dari susu tidak bisa berdiri sendiri. Harus tetap diimbangi dengan sumber makanan kaya zat besi, baik dari hewani seperti daging merah, hati ayam, dan hati sapi, maupun dari nabati seperti bayam, brokoli, dan kacang-kacangan,” tutur dr. Denta.

Zat besi dari sumber hewani, menurutnya, lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan yang berasal dari nabati. Oleh karena itu, ketika orang tua mulai mengenalkan Makanan Pengganti Air Susu Ibu (MPASI) kepada bayi, penting untuk mengutamakan protein hewani sebagai bagian dari menu harian.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa untuk anak-anak usia di bawah dua tahun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian suplemen zat besi sebagai langkah pencegahan. Suplemen ini diberikan sesuai dengan dosis dan kebutuhan anak yang telah disesuaikan oleh tenaga medis.

“Kita seringkali tidak bisa memastikan apakah anak kita kekurangan zat besi hanya dengan melihat gejala luar seperti lemas atau tidak aktif. Maka penting sekali untuk berkonsultasi secara rutin ke dokter agar bisa dilakukan pemeriksaan dan intervensi sedini mungkin,” tambahnya.

dr. Denta juga mengingatkan agar masyarakat tidak salah kaprah menganggap susu sebagai solusi tunggal. “Susu yang difortifikasi itu sifatnya pelengkap, bukan pengganti. Jangan berpikir kalau anak sudah minum susu, maka tidak perlu lagi makan daging atau sayur. Semua harus saling melengkapi,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa produk susu difortifikasi yang beredar di pasaran telah melalui pengawasan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga orang tua tidak perlu khawatir selama memilih produk yang sesuai dengan usia anak dan mengikuti petunjuk penyajian.

“Saat ini sudah banyak pilihan susu yang difortifikasi tidak hanya dengan zat besi, tapi juga dengan vitamin A, D, dan zinc yang juga penting untuk daya tahan tubuh dan tumbuh kembang anak. Namun, pola makan yang seimbang tetap menjadi fondasi utama,” ujarnya.

Masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya zat besi untuk tumbuh kembang anak. dr. Denta menyayangkan rendahnya kesadaran ini, terutama karena dampaknya bisa jangka panjang. “Anak yang kekurangan zat besi tidak hanya berisiko mengalami stunting, tapi juga mengalami gangguan perilaku, kesulitan belajar, bahkan disabilitas intelektual jika tidak ditangani sejak dini,” jelasnya.

Ia berharap edukasi kepada orang tua semakin diperluas, termasuk soal pemilihan makanan yang tepat, peran suplemen, serta pemanfaatan produk fortifikasi seperti susu pertumbuhan. “Informasi memang banyak beredar, tapi tidak semuanya benar. Orang tua perlu pintar memilah dan memverifikasi informasi dari sumber yang terpercaya, termasuk dari dokter anak,” pungkasnya.

Senin, 21 April 2025

Organisasi Perempuan Aisyiyah Latih Kader Pendamping untuk Pembiasaan Makan Bergizi Balita di 3 Wilayah Rawan Stunting


Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA) memberikan pembekalan kepada lebih dari 100 kader perwakilan suluruh wilayah Indonesia. Kegiatan pembekalan tersebut bertujuan untuk menyiapkan kader sebagai pendamping masyarakat dalam pembiasaan konsumsi makanan sehat dan bergizi.

Ketua Majelis Kesehatan PPA Dr. Warsiti S.Kep., M.Kep., S.Mat pembekalan untuk kader merupakan tindak lanjut dari program sosialisasi dan edukasi gizi untuk pengentasan stunting yang telah menjadi concern Aisyiyah dalam lima tahun terakhir. Dalam implementasinya, PPA berkolaborasi dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI).

“Sudah beberapa tahun lalu kita bekerja sama dan mudah-mudahan ini menjadi kontribusi nyata Aisyiyah bersama YAICI bersama-sama membangun generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045,” kata Warsiti, Selasa (8/4).

Program pendampingan pembiasaan makan bergizi yang di gagas PPA bersama YAICI akan menyasar ibu dengan balita yang memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kandungan gula seperti minuman kemasan, kental manis ataupun makanan minim zat gizi lainnya. Sebanyak 72 ibu dengan balita dari 3 wilayah, yaitu Kabupaten Bogor, Kota Kupang dan Kabupaten Muaro Jambi telah terdata sebagai peserta pendampingan dan penerima manfaat program.

Selanjutnya, para kader yang telah mendapatkan pembekalan secara intensif akan menjalankan program pendampingan di wilayahnya masing-masing. Selama periode dua bulan, kader pendamping akan memberikan edukasi kepada ibu dan balita, membimbing ibu dalam pembiasaan anak serta mencatat perubahan-perubahan kebisaan anak. Tak hanya itu, intervensi berupa bahan pangan juga diberikan secara berkala, untuk mendukung pembiasaan makan bergizi keluarga.

Ahli gizi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof Dr Tria Astika Endah Permatasari, SKM, MKM yang turut membidani program tersebut mengingatkan salah satu fokus yang harus diperhatikan kader saat pendampingan adalah pemberian susu secara tepat pada anak. Sebab, masih banyak orang tua yang belum mengetahui jenis susu yang tepat masih tepat pada anak.

“Hati-hati kalau kita lihat susu UHT apalagi yang punya rasa ditambahkan rasa coklat itu kandungan gulanya lebih tinggi, karena ada penambah rasa manis di situ,” tutur Prof Tria.

Ketua Bidang Advokasi YAICI, Yuli Supriati sangat berharap program pendampingan gizi tersebut dapat memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat. Menurutnya, langkah ini merupakan strategi efektif untuk memperbaiki status gizi masyarakat.

“Salah satu tantangan dalam upaya pengentasan stunting selama ini adalah memutus rantai kebiasaan makan keluarga. Merubah kebiasaan itu tidak mudah, apalagi kebiasaan yang sudah turun temurun, dengan sosialisasi dan edukasi saja tidak cukup. Karena itu diperlukan pendekatan yang lebih intensif ke masyarakat, tidak hanya memberikan edukasi tapi juga membantu ibu untuk merubah kebiasaan makan keluarga menjadi lebih sehat dan bergizi,” jelas Yuli.

Ia juga mengakui, merubah kebiasaan makan bukanlah hal yang mudah. Apalagi terhadap anak-anak yang sudah terbiasa dengan cita rasa yang kuat seperti manis, asin dan gurih. Meski demikian, ia optimis akan hasil dari upaya ini dapat membantu pengentasan masalah gizi di Indonesia.

“Ini soal menghadapi anak, tidak mudah memang. Bagi ibu, kadang karena tidak tega anak tidak mau makan, akhirnya memberikan apa yang di mau anak. Apalagi bila anak sudah terbiasa dengan rasa manis, terbiasa mengonsumsi minuman kemasan, minum kental manis, karena rasa manis itu membuat ketagihan. Jadi ini tantangannya, bagaimana kitab isa mendampingi ibu untuk memperbaiki preferensi rasa anak, agar kembali mau mengonsumsi makanan sehat dan bergizi,” jelas Yuli.

Sebagaimana diketahui, Indonesia masih menghadapi 'Triple Burden of Malnutrition (TBM)', di mana gizi kurang (stunting dan wasting), gizi lebih (overweight dan obesity), dan defisiensi mikronutrien (hidden hunger) bisa terjadi dalam waktu bersamaan.

Global Health Observatory WHO yang diakses oleh Asia Pathways tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia yang berada dalam kawasan southeast asia mempunyai prevalensi tertinggi untuk masalah gizi kurang (wasting dan underweight) serta kedua tertinggi untuk masalah stunting. Penyebabnya adalah pola makan dan faktor sosial-ekonomi masyarakat yang mempengaruhi akses masyarakat terhadap bahan pangan.

Masih Banyak Anak di Beri Kental Manis, dr. Alma Ingatkan Dampak Kesehatannya


Susu kental manis ternyata masih banyak digunakan sebagai miuman susu untuk anak. Hal ini menunjukkan minimmnya pengetahuan masyarakat akan gizi untuk anak. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan dr. Alma Lucyati mengatakan praktik pemberian kental manis untuk anak sebagai minuman susu ini harus menjadi sorotan bersama.

“Banyak orang tua masih memberikan susu kental manis untuk anaknya karena rasanya enak dan harganya murah. Ini yang jadi PR kita bersama,” ujar dr. Alma dalam sesi pembekalan untuk kader Aisyiyah beberapa waktu yang lalu.

Ia menegaskan, kental manis bukanlah produk yang layak diberikan kepada anak-anak sebagai pengganti susu sapi atau susu formula. Kandungan gula yang sangat tinggi, bahkan lima kali lipat lebih banyak daripada susu sapi biasa, membuatnya justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan serius.

“Susu kental manis tidak diperkenankan untuk diberikan kepada anak, apalagi bayi. Kandungan gulanya tinggi, dan zat besi serta vitamin dan mineral di dalamnya sangat sedikit,” jelasnya.

Selain itu, yang juga harus diperhatikan orang tua adalah pemenuhan kebutuhan zat besi anak. Kekurangan zat besi pada masa pertumbuhan bisa berdampak fatal terhadap perkembangan otak, serta meningkatkan risiko anemia. Zat besi adalah salah satu mikronutrien penting yang diperlukan dalam masa tumbuh kembang, terutama pada anak usia di bawah lima tahun. Oleh karena itu, pemberian makanan yang kaya akan zat besi sangat ditekankan dalam setiap intervensi gizi.

“Salah satu penyebab stunting yang jarang disadari adalah kurangnya asupan zat besi. Anak mungkin terlihat gemuk karena banyak konsumsi manis, tapi sebenarnya gizinya tidak terpenuhi,” ujar dr. Alma.

Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan memberikan makanan atau minuman tinggi gula kepada anak sejak usia dini bisa membentuk pola makan tidak sehat yang bertahan hingga dewasa. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu gangguan metabolik seperti obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung.

Sebagai alternatif, dr. Alma menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan pertama dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang, termasuk sumber zat besi dari protein hewani seperti daging, hati ayam, dan ikan.

“Pola asuh yang baik dimulai dari pemberian makanan bergizi seimbang. Bukan hanya kenyang, tapi juga memenuhi kebutuhan mikronutrien seperti zat besi,” pungkasnya.

Selasa, 15 April 2025

Kebiasaan Minum Yang Manis-Manis Bisa bikin Meningitis?


JAKARTA - Kebiasaan konsumsi kental manis dan minuman tinggi gula lainnya kerap menjadi penyebab karies ataupun gigi berlubang. Gangguan kesehatan gigi ini sebaiknya tidak diabaikan, sebab gigi berlubang dapat menjadi pintu masuknya kuman dan infeksi ke organ tubuh lainnya, seperti meningitis dan infeksi otak.

Dokter spesialis anak RS Palang Merah Indonesia Bogor, dr. Satrio Bhuwono Prakoso mengatakan kental manis mengandung tinggi gula yang dapat memicu beragam gangguan kesehatan pada gigi. Menurutnya, gangguan pada gigi dapat berakibat fatal dan menjadi ancaman jangka panjang bagi penderitanya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh gangguan kesehatan gigi. “Jangan salah, banyak pasien saya kena meningitis, kena infeksi otak gara-gara gigi,” jelas dr. Satrio, Rabu (19/3).

Dikutip dari halaman klikdokter, gigi yang bolong akibat konsumsi makanan atau minuman yang manis seperti kental manis dapat memengaruhi otak karena lubang gigi adalah dapat menjadi pintu masuk jutaan kuman ke dalam pembuluh darah. Akibatnya, kuman bisa menyebar ke organ tubuh lainnya dan menimbulkan infeksi seperti masalah sistem pernapasan, otak, dan jantung.

Infeksi yang sudah berhasil masuk ke dalam tubuh nantinya dapat menargetkan penyebarannya ke seluruh bagian dari sistem tubuh utama. Nantinya infeksi dapat menyebar ke daerah sinus, saraf otak dan perifer, sistem kardiovaskuler, paru-paru dan mata.

Jika infeksi yang masuk ke dalam otak bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit meningitis. Bila kondisi gigi sudah menyebabkan radang pada otak, maka penderita akan terganggu kualitas hidup dan aktivitasnya sehari-hari.

“Banyak pasien saya yang kena infeksi otak gara-gara sakit gigi. Yang kena telinganya congek, karena sakit gigi itu banyak,” ucap dr. Satrio.

Senada, Kepala Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Dr. Intan Widayati, MA juga menegaskan konsumsi kental manis sebagai minuman susu oleh anak dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang cukup serius. Ia sendiri telah mengalami, saat kecilnya diberi kental manis sebagai susu, saat dewasa terkena diabetes.

"Saya dulu dikasihnya kental manis sama ibu saya, sampai saya SMA itu minumnya SKM. Dampaknya apa? Dampaknya sekarang saya diabetes,” tutur dr. Intan.

Tak hanya itu, ia juga menyebut diabetes tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan aktivitasnya, tapi juga berimbas pada anak-anaknya, yaitu berukuran lebih besar dibanding bayi lainnya.
Sebagaimana diketahui, jika diabetes tidak terkontrol dengan baik selama kehamilan, bayo akan tepapar kadar gula darah yang tinggi. Hal inilah yang dapat memengaruhi bayi dan ibu selama kehamilan, saat melahirkan, dan setelah melahirkan. Bayi dari ibu penderita diabetes (IDM) sering kali lebih besar daripada bayi lainnya, terutama jika diabetes tidak terkontrol dengan baik.

Agensi Rumah Tangga Rilis Trailer & Poster! Film Terbaru Sutradara Langganan Blockbuster Lebaran Naya Anindita, Kini Kembali Angkat Realita Anak Muda yang Terkena PHK dengan Balutan Komedi Segar

​ Film Agensi Rumah Tangga tayang mulai 10 September 2026 di bioskop ​Jakarta, 5 Agustus 2026 — Setelah sukses di box office dengan film-f...