Senin, 05 Oktober 2026

Madani International Film Festival 2026 Angkat Tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”

Digelar 7–11 Oktober 2026, Madani Fest menghadirkan film, musik, diskusi, pertunjukan, serta kolaborasi puluhan komunitas di berbagai ruang di Jakarta

​Jakarta, 5 Oktober 2026 – Madani International Film Festival kembali hadir pada 7–11 Oktober 2026 dengan mengangkat tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”. Tahun ini, Madani Fest memperluas perjumpaan antara film, gagasan, seni, kota, dan komunitas melalui rangkaian pemutaran film, diskusi, master class, pameran, pertunjukan, peluncuran buku, hingga program kolaboratif yang berlangsung di berbagai ruang di Jakarta.

​Madani International Film Festival merupakan festival film dan kebudayaan yang menempatkan budaya sinema sebagai ruang perjumpaan yang inklusif. Festival ini juga mengembangkan platform kolaborasi komunitas bernama Jamaah Sinema Madani, yang menjadi ruang komunikasi dan koordinasi kegiatan berbasis budaya sinema sepanjang tahun.

​Pada penyelenggaraan tahun ini, istilah “Rimpang” dipilih untuk menggambarkan sesuatu yang tumbuh dengan cara menjalar, bercabang, dan membentuk hubungan tanpa harus bertumpu pada satu pusat. Tema tersebut berangkat dari karakter perkembangan kota seperti Jakarta yang membangun ruang dan kehidupan secara menyebar, sekaligus menjadi metafora bagi cara pengetahuan yang non-linear dan tidak hirarkis. Rimpang juga merujuk pada tanaman seperti jahe dan kunyit yang secara tradisional lekat dengan manfaat kesehatan—melahirkan gagasan utama festival tahun ini: menjalar dan menyembuhkan.

​"Implementasi rimpang dalam programming film tahun ini wujudnya adalah keterhubungan. Kita tidak cuma menayangkan film dari satu kawasan, tapi menghubungkan film-film Asia Tenggara, program Indies World, Madani Kids untuk penonton muda, hingga kolaborasi lintas lembaga seperti Madani x ACFFest KPK. Semua elemen menjalar dan saling memutus sekat." — Ahmad Rifky (Festival Director)

​"Gerakan rimpang ini sendiri lahir dari kebutuhan yang ada hari ini di dunia. Kebetulan sekali Tema Madani kali ini kan memang 'Rimpang'. Jadi sebuah gerakan yang benar-benar persis kayak rimpang, kayak akar-akarnya itu. Jadi dia enggak tumbuh ke atas aja satu, tetapi menjalar, saling menopang, dan menguatkan dari dalam tanah." — Inayah Wahid (Board Madani Fest)

​Dari Film menuju Gagasan tentang Kota dan Masyarakat

​Madani Fest mengembangkan programnya melalui empat matra utama, yakni Living Islam, Civic (Madani), Civilization (Tamaddun), dan City (Madinah).

​Melalui Living Islam, festival menghadirkan film, narasi, serta gagasan tentang Islam sebagaimana dialami dalam kehidupan sehari-hari oleh berbagai kelompok masyarakat. Dimensi Civic berfokus pada kewargaan, aktivasi komunitas, dan penguatan masyarakat sipil. Sementara itu, Civilization menjadi ruang penjelajahan etika, pengetahuan, serta kesenian melalui diskusi, lokakarya, master class, pameran, dan pertunjukan. Adapun City melihat kota sebagai ruang hidup yang dapat dibaca kembali melalui aktivitas, ruang, serta mobilitas keseharian.

​"Salah satu yang menarik adalah kita melatih diri untuk menyebutnya bukan 'Timur Tengah', tetapi 'Asia Barat'. Karena 'Timur Tengah' itu istilah eurosentris dan kolonial—timur dari mana? Timur dari negara-negara Barat. Melalui perspektif rimpang, kita belajar merebut kembali cara kita memandang kawasan dan sejarah kita sendiri." — Cholil (Co-Programmer Madani Fest)

​Karena itu, program Madani Fest 2026 tidak berhenti pada pemutaran film. Festival tahun ini menghadirkan tiga rumpun besar program, yaitu Ideas, Film, dan Performance. Di dalamnya terdapat diskusi, workshop, master class, pameran, peluncuran dan bedah buku, musik, teater, monolog, tari, kompetisi film pendek, retrospeksi, serta berbagai program hasil kolaborasi.

​Efek Rumah Kaca hingga Haddad Alwi

​Salah satu program khusus tahun ini adalah co-programming bersama Efek Rumah Kaca (ERK). Efek Rumah Kaca yang memainkan set Rimpang mengajak teman-teman yang dengan liat melakukan perlawanan di sana sini. Sebagai kurator, ERK juga mengajak Harlan Boer, Bing Renang, Denisa, Adrian Yunan, Bin Idris, Dialita, Made Mawut, dan Surise WP. ERK juga mengajak seniman bebunyian eksperimental seperti Division Fracture, IcutNoise, Hvft, Wangun, Individual Distortion, dan Sawah Penderitaan. Selain itu beberapa film yang punya hubungan kuat dengan semangat rimpang dan musik akan kami sajikan seperti Galura Tropikalia Alive tentang grup band The Panturas, A Distorted Individual tentang obsesi musisi noise untuk mendapatkan AMI Awards, Muman Minggil tentang bagaimana grup Mambesak mencoba mengabadikan lagu dan bahasa rakyat Papua, dan film Sekeping Kenangan tentang upaya mengabadikan lagu-lagu yang diciptakan para tahanan politik di Bali.

​Madani Fest 2026 juga menghadirkan program Madani x Mizan x Kenduri Cinta, berupa penampilan khusus Haddad Alwi bersama Kiai Kanjeng, pemutaran film dokumenter Haddad Alwi, serta diskusi bersama Haddad Alwi dan Sabrang.

​Dalam ranah musik, program Nasjidmorphosis akan melihat perkembangan nasyid melalui format performance lecture dan perbincangan bersama sejumlah nama, di antaranya Opick, SNADA, Izzatul Islam, Ebieth Beat A, dan Agus Idwar.

​Membaca Kembali Tokoh, Sejarah, dan Kebudayaan

​Sejumlah program Madani Fest tahun ini juga dirancang sebagai ruang untuk membaca ulang tokoh dan warisan kebudayaan.

​Festival akan memperingati 100 Tahun Asrul Sani melalui pameran, pemutaran film, serta diskusi bersama Eric Sasono dan Umi Lestari. Program lain memberikan penghormatan kepada Yuki Aditya melalui retrospeksi film, diskusi, dan pameran arsip bekerja sama dengan Arkipel serta Forum Lenteng.

​Sementara itu, Madani Fest bersama UIN Jakarta mengangkat 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, melalui pemutaran dokumenter Syekh Yusuf Al-Makassari: In the Blessing of Ceylon serta diskusi tentang perlawanan dan warisan intelektual-spiritualnya.

​Program bersama COMPOSE UIII juga menghadirkan penghormatan kepada John L. Esposito melalui diskusi bertajuk "Islamophobia: Myth or Reality? An Espositian Critique", dengan Putut Widjanarko, Zainal Abidin Bagir, dan Ridwan Al-Makassary.

​Madani Talks: Membaca Isu Kontemporer dari Banyak Perspektif

​Rangkaian Madani Talks tahun ini akan mempertemukan beragam isu dan disiplin.

​Salah satunya adalah Intersectionality of Muslim Women in Indonesia bersama Feby Indirani, Neng Dara Affiah, dan Anis Hidayah, yang menghadirkan pembacaan tentang pengalaman perempuan Muslim di Indonesia.

​Program lain mencakup Alih Wahana Novel Islam ke Film bersama Helvy Tiana Rosa dan Inaya Rakhmani, serta Membaca Betawi dalam Musik bersama rapper Betawi Kojek dan pengamat musik Stanley Tulung.

​Festival juga menjadwalkan diskusi Untold Story: Global Sumud Flotilla bersama Bambang Noroyono, Wanda Hamidah, dan Thoudy Badai.

​Festival yang Menjalar melalui Kolaborasi

​Semangat "Rimpang" juga tampak melalui jaringan kolaborasi Madani Fest 2026. Sedikitnya 35 komunitas dan institusi tercantum sebagai mitra kolaborasi festival, mulai dari Kenduri Cinta, Arkipel, Forum Lenteng, perguruan tinggi, komunitas buku dan seni, hingga Mizan Pictures.

​Berbagai bentuk kolaborasi tersebut menghasilkan program yang beragam, seperti dramatic reading dari buku Tubuh yang Tumbuh karya Feby Indirani bersama Teater Ghanta; pemutaran film Anti-Corruption Film Festival bersama KPK; pemutaran dan workshop bersama Festival Film Santri; peluncuran buku bersama Marjin Kiri; hingga aktivitas bersama Jakarta Book Party, Cafe Rumi, Majelis Sayur, Alitra Publishing, Analooks.id, dan Kaiku.id.

​Dengan pendekatan tersebut, Madani Fest ingin menghadirkan festival sebagai jaringan yang hidup—bukan hanya berlangsung di dalam ruang pemutaran, tetapi juga tumbuh melalui percakapan dan kolaborasi antarkomunitas.

​Film dari Berbagai Belahan Dunia

​Sebagai festival berbasis sinema, program film tetap menjadi salah satu jantung Madani Fest 2026. Film The Stories (2025) dijadwalkan menjadi film pembuka, sementara Chronicles from the Siege (2026) menjadi film penutup.

​Program tahun ini mencakup puluhan judul film dari berbagai negara dan perspektif, antara lain Cutting Through Rocks, A Fox Under a Pink Moon, The Worker's Cup, Shape of the Moon, Cotton Queen, Position Among the Stars, Black Rabbit, White Rabbit, The President's Cake, Edward Said Between Worlds, serta Rehearsals for a Revolution.

​Sejak 2022, Madani Fest juga membuka pengiriman film dari filmmaker berbagai negara melalui FilmFreeway. Pada 2026, festival menerima 1.546 film. Dalam materi festival disebutkan bahwa setiap tahunnya karya yang masuk berasal dari lebih dari 100 negara.

​Madani Fest 2026 juga akan memberikan Madani Award dalam tiga kategori: Tokoh Madani 2026, Madani Kids Award 2026, dan Film Madani Award 2026.

​Tentang Madani International Film Festival

​Madani International Film Festival merupakan festival film dan kebudayaan yang diinisiasi oleh Mizan dan Pabrik Kultur, berfokus pada budaya sinema, kehidupan masyarakat Muslim, kewargaan, peradaban, serta kota. Melalui pemutaran film, diskusi, seni pertunjukan, pendidikan, dan kerja bersama komunitas, Madani Fest mengembangkan ruang perjumpaan lintas perspektif dan disiplin.

​Madani International Film Festival 2026

Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan

7–11 Oktober 2026

​Informasi program selengkapnya: madanifilmfestival.com

​Lampiran:

​RIMPANG (RHIZOME)

​rim·pang 1 n umbi (akar) yang bercabang-cabang seperti jari (tentang kunyit, halia); pizom; 2 a renggang jaraknya (tentang jari kaki)

​rhizome (/ˈraɪzoʊm/ RY-zohm) is a modified subterranean plant stem that sends out roots and shoots from its nodes.

​Madani Fest 2026 sebagai festival budaya berbasis sinema dunia Islam mengangkat tema Rimpang/Rhizome.

​Tema ini merujuk pada watak perkembangan kota seperti Jakarta yang membangun ruang dan kehidupan secara menjalar, merimpang. Tema ini juga bermakna sebuah watak keilmuan alternatif yang non-linear dan tidak hirarkis sebagai modalitas budaya di dunia pasca-genosida yang multipolar atau tidak lagi memusat di Barat.

​Kata ini secara persis tidak ada padanan dalam bahasa Arab. Sebagian kamus menunjuk pengertian "akar" yang dalam bahasa Arab modern, misalkan dalam ilmu botani, Rizhome diserap menjadi الجذور (Al-Jidhmur). Ada juga kata ساق أرضية (Saq Ardiyyah) yang bermakna "batang bawah tanah". Dalam bahasa Arab klasik/sastrawi, ada dua kata metaforik yang bermakna mirip: أصل (Ashl), yang jadi muasal kata "asli" dalam bahasa Indonesia; dan عرق (Irq), yang bermakna "urat" dan "akar".

​Dalam Al-Qur'an, tidak ada kata sepadan Rimpang, tapi ada sebuah tanaman yang masuk salah satu jenis Rhizoma, yakni jahe, atau زنجبيل dalam QS. Al-Insan: 17, minuman surgawi. Jahe, sebagaimana kunyit dan berbagai herbal bahan jamu, secara tradisional dianggap mengandung manfaat kesehatan.

​Itulah makna lain dari "Rimpang": tanaman yang menjalar, dan menyembuhkan.

​By: Hikmat Darmawan (Madani Board Festival)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Madani International Film Festival 2026 Angkat Tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”

Digelar 7–11 Oktober 2026, Madani Fest menghadirkan film, musik, diskusi, pertunjukan, serta kolaborasi puluhan komunitas di berbagai ruang ...