Jakarta, 24 Oktober 2026 — Netflix, bekerja sama dengan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI), meluncurkan Cerita Anak Nusantara, sebuah program kompetisi dan pengembangan ide cerita film panjang yang berfokus pada tema anak, remaja, dan keluarga Indonesia.
Berlangsung sejak Juni 2026, Cerita Anak Nusantara menerima 499 ide cerita dari puluhan kota di Indonesia. Para kurator, Edwin Nazir dan Khozy Rizal, memilih sepuluh ide cerita terbaik dan paling potensial, yaitu Barudak Sunset (Lynx Films, Jakarta), Fitketed Halokes: Penghapus Misterius (Catchlight Pictures, Yogyakarta), Garis Lintang (DIENFI Damsphere and Films, Makassar), Meng (Aftersun Creative, Jakarta), Off-Key Rebels (Indonesia Art Movement, Papua), Operasi Semut Merah (SeStudio, Sidoarjo), Pupus Putus Sekolah: Anggrek Merapi (Manimonki Studio, Cimahi), Super Neli (Ayena Studio, Cimahi), The Last Rebound (Qun Films, Jakarta), dan The Shy Lion (POMP Films, Bandung).
Para penulis, sutradara, dan produser dari sepuluh proyek terpilih mendapatkan mentoring intensif bersama pembuat film ternama Indonesia yang berpengalaman menggarap film anak dan keluarga, yakni Gina S. Noer, Riri Riza, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, dan Muhammad Zaidy. Peserta juga mengikuti sesi bersama Ita D. Azly, psikolog sekaligus Family Wellbeing Consultant, untuk menggali aspek psikologi dan pemahaman karakter dalam pengembangan cerita anak dan keluarga. Seluruh rangkaian mentoring ini membekali peserta untuk memperkuat dan memperdalam ide cerita, persiapan produksi, hingga persiapan menghadapi sesi pitching.
Cerita Anak Nusantara hadir bersamaan dengan penyelenggaraan Jakarta Film Week 2026 melalui tiga program, dua di antaranya digelar di CGV Grand Indonesia, yaitu Pitching Session dan Industry Talks. Kolaborasi ini menjadi ruang bagi para pembuat film dan pelaku industri untuk mendorong lahirnya lebih banyak film anak dan keluarga Indonesia berkualitas.
Sesi pitching berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, dengan dukungan World Conference on Creative Economy (WCCE). Sepuluh proyek dipresentasikan dan dinilai oleh dua juri, yaitu Fauzan Zidni dari BPI dan Haykal Kamil dari APROFI. Sesi dibuka oleh Ruben Hattari, Director of Global Affairs, Southeast Asia of Netflix, dan disambut oleh Deputi Bidang Kreativitas Media Ekonomi Kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
"Senang sekali kami menerima hampir 500 ide cerita dari puluhan kota di Indonesia dan membuka kesempatan untuk 10 proyek terpilih mengembangkan ide cerita mereka dan para mentor. Kami ingin menciptakan ruang yang dapat memberikan rasa nyaman bagi orang tua, dengan cerita berkualitas yang menghibur, memperkaya pengalaman anak dan memicu percakapan bermakna," ujar Ruben Hattari.
Setelah Pitching Session, kegiatan dilanjutkan dengan Cerita Anak Nusantara: Industry Talks bertajuk "Indonesian Family Film From Time to Time", yang mengajak publik menelusuri perjalanan film keluarga Indonesia dari masa ke masa. Diskusi ini menghadirkan produser Mira Lesmana, sutradara Riri Riza, produser Anggia Kharisma, sutradara Ryan Andriandhy, serta Edwin Nazir, produser sekaligus Ketua APROFI, dengan moderator aktor Putri Ayudya.
Menurut Edwin Nazir, film keluarga memiliki peran penting dalam ekosistem perfilman nasional. "Film keluarga adalah fondasi industri kita, karena ia mempertemukan penonton lintas generasi di bioskop. Lewat diskusi ini, kami ingin melihat apa yang sudah kita capai dan bagaimana industri bisa terus menumbuhkan genre ini ke depan," ujarnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Cerita Anak Nusantara: Awarding & Networking Night. Pada malam tersebut, Netflix memberikan Development Grant kepada dua proyek terpilih, masing-masing senilai Rp50.000.000. Proyek yang meraih Development Grant adalah Super Neli (Ayena Studio, Cimahi) dan Garis Lintang (DIENFI Damsphere and Films, Makassar).
Melalui rangkaian kegiatan ini, Cerita Anak Nusantara berharap dapat memperkuat ekosistem film anak dan keluarga, mempertemukan pembuat film daerah dengan jejaring industri, serta membuka jalan bagi lahirnya karya-karya baru yang kaya akan keberagaman budaya Indonesia.
Informasi mengenai Cerita Anak Nusantara dapat diakses melalui www.ceritaanaknusantara.id.
— AKHIR —
Tentang Netflix
Netflix adalah salah satu penyedia layanan hiburan terkemuka di dunia, menyuguhkan serial TV, film, game, dan program live dalam berbagai genre dan bahasa. Anggota dapat memutar, menjeda, dan melanjutkan menonton sesuka mereka, kapan saja, di mana saja, dan dapat mengubah paket mereka kapan pun. Untuk informasi lebih lanjut mengenai berita terbaru dari Netflix, silakan kunjungi Netflix Media Center.
Tentang Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI)
Dibentuk pada 17 Oktober 2013, anggota APROFI adalah individu profesional yang memiliki perusahaan film atau tidak, yang cakupan tanggung jawabnya meliputi kepemilikan atas HAKI, Perencanaan Produksi, Manajemen Pendanaan, Manajemen Produksi, Distribusi, dan Promosi. APROFI memiliki misi mencapai industri film yang menghasilkan film Indonesia yang unggul dengan lingkungan kerja yang tidak berkompromi dalam kualitas dan selalu berinovasi dengan jangkauan distribusi yang luas sehingga menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia dan internasional.
Tentang Badan Perfilman Indonesia (BPI)
Berdiri pada 17 Januari 2014 berdasarkan UU No. 33 Tahun 2009, Badan Perfilman Indonesia adalah lembaga swasta mandiri yang dibentuk masyarakat sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen perfilman Indonesia: dikukuhkan Presiden, difasilitasi Pemerintah. BPI memiliki tugas: memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah dalam mendorong kebijakan perfilman dan mempercepat PP Rencana Induk Perfilman Nasional dan PP Sanksi. Menyelenggarakan dan mengikuti festival film di dalam dan luar negeri. Mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing. Melakukan penelitian dan pengembangan perfilman. Memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Memfasilitasi pendanaan pembuatan film bermutu tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar