Kamis, 04 Juni 2026

Eka Kurniawan Ceritakan Perbedaan Menulis Novel dan Skenario Film: Kolaborasi Terbarunya Bersama Edwin di Monster Pabrik Rambut

Eka Kurniawan menjadi salah satu penulis skenario film Monster Pabrik Rambut yang tayang mulai 4 Juni 2026

Jakarta, 25 Mei 2026 – Novelis Eka Kurniawan bercerita tentang perbedaan prosesnya dalam menulis novel dan skenario film. Eka sendiri diketahui sebelumnya telah menulis skenario untuk film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), sebuah film yang diadaptasi dari novel populernya. Di film itu, Eka turut menulis skenario bersama sang sutradara Edwin.

​Terbaru, Eka kembali berkolaborasi bersama Edwin untuk menulis skenario dalam film Monster Pabrik Rambut, yang disutradarai Edwin. Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev.

​"Orang sering tanya, apa bedanya nulis novel dan skenario? Sederhananya, menulis novel itu pekerjaan individual, sementara menulis skenario film itu pekerjaan tim. Baik sebagai co-writer, maupun dalam konteks yang melibatkan bagian produksi lain," ungkap Eka Kurniawan tentang perbedaan menulis novel dan skenario.

​Eka membeberkan, salah satu tantangan saat menulis novel adalah ia harus menanggungnya seorang diri ketika mentok. Sementara, dalam menulis skenario film, ada tantangan bersama dinamika dari anggota kru/tim lain.

​Proses terciptanya film Monster Pabrik Rambut bermula saat Eka mampir ke kantor Palari Films. Saat itu, Edwin bertanya kepada Eka terkait ajakan berkarya dan kembali berkolaborasi setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang sukses memenangkan 5 Piala Citra FFI termasuk untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik untuk Eka dan Edwin.

​"Setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Edwin bertanya, bikin apa lagi, ya? Saya memang kadang mampir kantor Palari Films dan kami ngobrol di bagian belakang. Jawaban saya, yuk, bikin cerita dari nol," ungkap Eka.

​"Saya pun mulai menulis draft pertama dari premis sederhana: bagaimana kalau kamu terpaksa kurang tidur karena lembur, terus jadi lihat hantu?" tambah Eka.

​Edwin menambahkan, banyaknya referensi Edwin bersama Eka tentang komik dan film era '80-an, menjadikan keduanya dengan mudah menciptakan sosok monster di film horor ini.

​"Komik Indonesia dibumbul dengan banyak cerita-cerita komedi, action dan sedikit banyak juga horor. Kalau kita ingat-ingat, beberapa judul yang ada bahkan komik Petruk Gareng yang harusnya komedi saja bisa jadi horor," ungkap Edwin tentang referensi menciptakan sosok horor dan monster di film ini.

​Tak hanya komik, film-film Indonesia era '80-an turut menyumbang referensi untuk Edwin dan Eka. Penggunaan practical effect yang terasa 'konyol', justru membekas bagi keduanya yang tumbuh di masa itu.

​"Saya rasa itu juga apa terbangun dari bagaimana observasi kami sebagai filmmaker-nya, saya, Mas Eka, itu melihat kembali yang urgent dan relevan saat ini. Bahwa kita berada di sebuah kondisi yang bisa dibilang cukup horor. Karena kita seperti tidak punya kontrol terhadap diri kita sendiri, terhadap kemanusiaan kita sendiri, untuk memberikan segala sesuatunya secara berlebihan, lebih-lebih lagi kepada pekerjaan. Yang bisa berakibat fatal, dan seramnya lagi itu dinormalisasikan dan dianggap sebagai risiko, jadi dari situ lah monster di film ini tercipta," cerita Edwin.

​Naskah film ini dikerjakan selama hampir dua tahun dengan belasan draft. Dari premis sederhana yang dikembangkan Eka, kemudian dibangun dari sebuah cerita yang terjadi di sebuah pabrik. Setelah Eka dan Edwin berkunjung ke sebuah pabrik wig, dan melihat gudang serta alat-alat yang terasa menyeramkan, cerita di film pun semakin solid dan terbentuk.

​Penonton Indonesia akan menyaksikan horor fantasi dari ciptaan Edwin dan Eka Kurniawan di film Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia! 

Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram resmi @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.

Sinopsis

‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".

‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Mulai Tayang Hari Ini! 'Nobody Loves Kay' Jadi Suara Perjuangan Gen Z Mengejar Mimpi dan Sebuah Pembuktian Bagi Mereka yang Meremehkan

Jakarta, 4 Juni 2026 – Mulai hari ini, Kamis, 4 Juni 2026, film drama remaja yang paling memicu perbincangan hangat tahun ini, Nobody Loves Kay, resmi tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia. Diproduksi oleh ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, Qun Films, dan bekerja sama dengan Visinema Pictures, film ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebuah manifesto dan suara lantang bagi generasi baru yang sedang berjuang mewujudkan mimpi mereka di tengah skeptisisme dunia.

​Terinspirasi dari kisah nyata perjuangan dari nol jungler andalan Landak Kuning, ONIC Kairi, film drama coming-of-age arahan sutradara debutan Bernardus Raka ini memotret realitas tajam tentang ambisi, harga sebuah pilihan, dan bagaimana rasanya berdiri tegak saat semua orang, bahkan orang tua sendiri, berhenti berpihak pada kita.

Nobody Loves Kay disambut dengan sangat meriah oleh para penonton dan reviewer film yang telah menonton sebelum rilis, tak sedikit pula yang menempatkan film ini sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Akun film WatchmenID, yang menyempatkan menonton dua kali sebelum rilis membagikan reaksi setelah keluar dari pintu bioskop. "Bagus banget, bagus ceritanya, bagus karakternya, bagus dramanya, buset bagus!" sebut WatchmenID dalam sebuah post di X.

Mimpi Besar Butuh Usaha yang Tak Kalah Besar

​Melalui karakter Kay yang diperankan oleh Bima Azriel, film ini membawa pesan mendalam bahwa sebuah mimpi yang tidak konvensional, seperti menjadi pro-player e-sport, bukanlah hal yang mustahil jika dibayar dengan dedikasi yang sepadan. Kay mengajarkan bahwa jika kita berani memiliki mimpi yang besar, maka usaha dan pengorbanan yang dikeluarkan juga harus jauh lebih besar. Ini adalah satu-satunya cara terbaik untuk berdiri tegak dan "Prove Them Wrong" di hadapan mereka yang selama ini meremehkan.

​Sutradara Bernardus Raka mengungkapkan bahwa film ini didedikasikan untuk setiap anak muda yang sedang bertaruh nyawa demi masa depannya. "Kay adalah representasi dari generasi hari ini yang sering kali harus berjalan di kegelapan sendirian karena mimpinya dianggap aneh atau tidak realistis oleh lingkungan, bahkan oleh orang tua mereka sendiri. Lewat film ini, kami ingin bilang kalau mimpi kalian itu valid. Tapi ingat, untuk membuang keraguan (prove them wrong), kalian harus membayarnya dengan kerja keras yang luar biasa," tegas Bernardus Raka.

Gejolak Emosi, Persahabatan, dan Konflik Keluarga

​Kedalaman akting di film ini didukung kuat oleh penampilan tiga aktor muda berbakat, Bima Azriel, Rey Bong serta Joshia Frederico, yang berhasil menghidupkan dinamika persahabatan yang retak akibat benturan ambisi dan kenyataan hidup yang pahit.

Bima Azriel, pemeran karakter Kay, mengaku sangat emosional saat pertama kali membaca naskah dan mengeksekusi adegan-adegan krusial di film ini. "Konflik paling berat bagi Kay adalah ketika dia tahu orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya, nggak mendukung apa yang dia kejar. Aku rasa banyak banget anak muda di luar sana yang relate dengan posisi Kay. Karakter ini mengajarkan aku, dan semoga juga para penonton, bahwa rasa sakit saat diremehkan itu bisa dijadikan bahan bakar untuk membuktikan kalau kita bisa sukses dengan jalur kita sendiri," ungkap Bima Azriel.

​Sementara itu, Rey Bong yang memerankan karakter Ido, sahabat dekat Kay, menambahkan bahwa kekuatan film ini terletak pada hubungannya yang sangat manusiawi. "Di film ini, penonton bakal lihat kalau perjuangan ngejar mimpi itu nggak pernah sendirian, ada sahabat yang ikut bertaruh di sana. Tapi, ego dan ambisi kadang bisa merusak semuanya. Menonton film ini bakal bikin kita berkaca lagi tentang arti ketulusan, persahabatan, dan sedalam apa kita mengenal diri kita sendiri," tutur Rey Bong.

​Sedangkan Joshia pemeran karakter Aurelio mengungkapkan, bahwa lewat film ini ia justru belajar kembali tentang makna berjuang bersama dengan teman-teman, mengingat di sini memang meng-highlight persahabatan Kay, Ido dan Aurelio. "Sebesar apapun tantangan saat mengejar mimpi, dengan adanya dukungan, pasti akan terasa lebih mudah, kan? Nah di film ini, sayangnya nggak semua bisa dapat dukungan itu, bahkan teman yang tadinya jalan beriringan, bisa jadi nggak lagi saling dukung. Di situlah ujian yang sesungguhnya. Banyak banget pembelajaran tentang hidup yang bisa kita ambil dari film ini," ungkap Joshia.

Siapkan Tisu dan Peluk Orang Terdekatmu!


Nobody Loves Kay adalah film yang sangat lekat dengan siapa saja yang sedang berjuang mencari jati diri, memulihkan hubungan dengan keluarga, dan membuktikan diri pada dunia. Setelah sukses memicu banjir air mata di malam Gala Premiere dan rangkaian Special Screening di berbagai kota, film ini siap mengaduk-aduk emosi penonton secara massal mulai hari ini.

Bersiap-siaplah, karena ledakan emosional di akhir film ini dijamin akan membuatmu menangis. Tiket sudah dapat dibeli di seluruh bioskop kesayangan Anda. Pantau terus akun sosial media resmi @nobodyloveskay untuk informasi theater visit, nonton bareng, dan pembaruan terkini!

Rabu, 03 Juni 2026

‎Di Luar Nurul, Drama Remaja tentang Ambisi, Persahabatan, dan Pencarian Jati Diri

Dibintangi Nayla Purnama, Gabriel Harun Giroux, Rayensyah Rassya, dan Lea Ciarachel, serial ini mengikuti perjalanan seorang remaja yang berjuang membuktikan diri di lingkungan baru demi meraih mimpi besarnya.

Jakarta, 3 Juni 2026 - Mengawali bulan Juni, Vidio kembali menghadirkan tayangan Original Series terbaru berjudul Di Luar Nurul, sebuah serial bergenre teen comedy drama yang mengangkat dinamika kehidupan remaja, perjuangan mengejar mimpi, pencarian jati diri, hingga ka-liku cinta di masa sekolah. Diproduksi oleh Screenplay Films dan disutradarai oleh Angling Sagaran dan Adis Kayl, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian generasi muda dengan balutan komedi yang ringan, hangat, dan menghibur.

Dibintangi oleh Nayla Purnama, Gabriel Harun Giroux, Rayensyah Rassya, Lea Ciarachel, Keysha Angelica, Ghina Sungkar, dan sederet bintang muda berbakat lainnya, Di Luar Nurul siap mengajak penonton mengikuti perjalanan seorang remaja yang harus keluar dari zona nyamannya demi meraih cita-cita besar.

Dunia Baru di Balik Mimpi Besar Kania

Di Luar Nurul bercerita tentang Kania (Nayla Purnama), siswi cerdas dan ambisius yang memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Oxford. Bersama sahabat-sahabatnya di geng The Centils, Jihan (Keysha Angelica) dan Aisyah (Ghina Sungkar), Kania menjalani masa remaja yang penuh warna. Ketiganya kerap diasosiasikan dengan sosok "Nurul", istilah yang lekat dengan remaja perempuan Gen Z yang autentik, ekspresif, penuh rasa ingin tahu, serta menemukan kebahagiaan dalam momen-momen sederhana masa remaja.

Di balik mimpinya yang besar, Kania tetaplah remaja pada umumnya. la senang menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya, berburu jajanan favorit sepulang sekolah, hingga menikmati live music. Kania tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri, tanpa merasa perlu mengubah siapa dirinya demi mengikuti standar orang lain.

Sumber: Vidio

Kehidupan yang selama ini terasa nyaman mulai berubah ketika Kania mendapat kesempatan untuk bersekolah di SMA Galaxy, sekolah internasional bergengsi yang dikenal. memiliki program akademik unggulan. Kesempatan tersebut membawanya selangkah lebih dekat dengan impian untuk berkuliah di luar negeri, namun juga mempertemukannya dengan dunia yang sama sekali baru.

Di SMA Galaxy, Kania mengalami culture shock karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dari sekolah lamanya. Dari kantin yang menyajikan menu-menu yang tidak familiar baginya hingga teman-teman yang datang ke sekolah dengan mobil pribadi, Kania merasa seperti memasuki dunia baru.

Jika sebelumnya Kania selalu menjadi salah satu murid paling pintar di sekolahnya, di SMA Galaxy keadaan justru berbalik, la mendapati dirinya harus berjuang mengejar ketertinggalan di tengah lingkungan yang dipenuhi siswa-siswa berprestasi. Pengalaman tersebut membuat Kania untuk pertama kalinya menghadapi rasa tidak percaya diri dan keraguan terhadap kemampuannya sendiri.

Membuktikan Bahwa Mimpi Tidak Ditentukan oleh Latar Belakang

Sumber: Vidio

Bagi Kania, bersekolah di SMA Galaxy bukan hanya tentang mengejar impian untuk kuliah di luar negeri, tetapi juga membuktikan bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh asal sekolah maupun latar belakangnya. Perjalanan Kania pun menjadi upayanya untuk mematahkan stigma sekaligus membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.

Menghidupkan karakter Kania, Nayla Purnama melihat sosok yang diperankannya sebagai representasi banyak anak muda yang berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar Impian yang lebih besar.

"Yang aku suka dari Kania adalah dia nggak gampang minder. Walaupun sering dipandang sebelah mata karena berasal dari sekolah negeri, dia tetap fokus sama tujuannya dan nggak mau membatasi dirinya karena omongan orang lain. Menurut aku, itu pesan yang relatable banget buat anak-anak muda yang mungkin pernah merasa diremehkan atau dianggap nggak mampu," ujar Nayla.


Menghadapi Perbedaan dan Menemukan Jati Diri

Selain perjalanan Kania, Di Luar Nurul juga menghadirkan karakter Lily yang memiliki dinamika menarik sepanjang cerita. Di balik kesan populer dan percaya diri yang ditampilkan di awal, Lily sebenarnya merupakan remaja yang masih mencari jati diri dan berusaha menemukan tempatnya sendiri.

Menurut Lea Ciarachel, salah satu hal yang membuat karakter Lily menarik adalah perjalanan emosional yang dialaminya sepanjang cerita.

"Lily adalah remaja yang sedang berada dalam fase mencari jati diri dan mencoba memahami dunia di sekitarnya. Di awal cerita, dia cukup arogan dan sering memandang rendah orang lain karena terbiasa berada di lingkungan seperti itu. Namun seiring berjalannya cerita, Lily menghadapi berbagai pengalaman yang membuat cara pandangnya perlahan berubah, Menurut aku, lewat karakter Lily, penonton bisa melihat bahwa kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari latar belakang atau kesan pertama. Kadang kita perlu mengenal seseorang lebih jauh sebelum memberi penilaian," jelas Lea.

Gus Ammar, Sosok Idola yang Mengubah Hidup Kania

Sumber: Vidio

Salah satu karakter yang mencuri perhatian dalam Di Luar Nurul adalah Gus Ammar, sosok siswa teladan yang dikenal baik hati, berwawasan luas, dan dikagumi banyak orang di sekitarnya, termasuk Kania dan The Centils. Untuk memerankan karakter tersebut, Rayensyah Rassya mengaku melakukan berbagai riset agar dapat memahami sosok remaja yang tumbuh dengan nilai-nilai agama yang kuat.

"Mendalami karakter Gus Ammar menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya karena banyak hal baru yang bisa dipelajari, terutama dari sisi pengetahuan agama. Saya mencari berbagai referensi dari tokoh-tokoh publik dan para gus yang sudah dikenal masyarakat. Menurut saya, Ammar memang memiliki sifat yang dewasa, tetapi tetaplah seorang remaja berusia 17 tahun yang masih berada dalam proses bertumbuh dan belajar," ungkap Rayensyah. 

Saksikan Vidio Original Series Di Luar Nurul Hanya di Vidio!

Mengangkat tema persahabatan, mimpi, pencarian jati diri, hingga cinta pertama, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Lewat perjalanan Kania dan teman-teman barunya di SMA Galaxy, penonton akan diajak menyaksikan berbagai tantangan, momen menggemaskan, konflik yang relatable, hingga proses bertumbuh yang penuh makna.

Jangan lewatkan kisah Kania dalam mengejar mimpinya, menghadapi lingkungan baru, dan menemukan dirinya di tengah berbagai perubahan. Saksikan Di Luar Nurul mulai Jumat, 5 Juni 2026, dengan episode terbaru yang hadir setiap hari Jumat, eksklusif hanya di Vidio. 


Di Luar Nurul - Informasi

  • Title: Di Luar Nurul
  • Production: Screenplay Films
  • Genre: Komedi Remaja, Drama (Teen Comedy, Drama)
  • Total Episodes: 8
  • Director: Angling Sagaran, Adys Kayl
  • Executive Producers: Sutanto Hartono, Mark Francis, Kristo Damar
  • Producer: Wicky V Olindo
  • Co-Producer: Andreas Winardi
  • Executive Producer: Anthony Buncio
  • Co-Executive Producer: Christina Tan
  • Co-Producer: Agus Wijaya Aidi
  • Supervising Producer / Story Editor: Keke Mayang
  • Written by: Candro Aditya, Sarah Adilah
Cast:
​Nayla Purnama sebagai Kania
​Gabriel Harun Giroux sebagai Bagas
​Rayensyah Rassya sebagai Gus Ammar
​Lea Ciarachel sebagai Lily
​Tika Bravani sebagai Ninik
​Joe P Project sebagai Kakek Ruslam
​Habil Nugraha sebagai Jerry
​Keysha Angelica sebagai Jihan
​Ghina Sungkar sebagai Aisyah
​Alif Rivelino sebagai Ronald
​Chelcy Clarissa sebagai Britney

Keajaiban Berawal Dari Rasa Percaya, Saksikan Garuda Di Dadaku Mulai 11 Juni 2026 Di Bioskop

Film animasi keluarga tentang keberanian bermimpi dan orang-orang yang memilih untuk percaya pada kita.

Jakarta, 3 Juni 2026 — Setelah melalui perjalanan panjang dan melibatkan ratusan kreator animasi Indonesia, film animasi keluarga Garuda Di Dadaku akhirnya siap menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 Juni 2026.

​Mengangkat kisah Putra (Keanu Azka), seorang anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pemain tim nasional Indonesia, Garuda Di Dadaku bukan hanya bercerita tentang mimpi besar seorang anak. Film ini adalah kisah tentang rasa takut, keraguan, kegagalan, dan orang-orang yang tetap memilih untuk percaya pada kita ketika kita mulai meragukan diri sendiri.

​Dalam perjalanannya, Putra ditemani oleh Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis yang membawanya menemukan kembali keberanian untuk melangkah. Ia juga ditemani oleh Naya (Quinn Salman), sahabat yang selalu hadir untuk mengingatkan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar ketika kita tidak berjalan sendirian.

​Melalui petualangan yang hangat, emosional, dan penuh tawa, Garuda Di Dadaku mengajak keluarga Indonesia melihat bahwa keajaiban sering kali tidak dimulai dari kemenangan besar, melainkan dari satu langkah kecil, satu dukungan sederhana, dan satu orang yang memilih untuk percaya.

​"Bagi saya, Garuda Di Dadaku lahir dari pengalaman yang sangat personal. Saya percaya setiap anak pernah merasa tidak cukup baik, pernah takut gagal, atau merasa mimpinya terlalu jauh untuk diraih. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Dan sering kali yang membuat kita terus melangkah bukan karena kita tiba-tiba menjadi berani, tetapi ada seseorang yang lebih dulu percaya pada kita," ujar sutradara Ronny Gani.

​Pesan tersebut juga menjadi alasan mengapa Garuda Di Dadaku dirancang sebagai film keluarga.

​"Sebagai orang tua, kadang kita lupa bahwa satu kalimat sederhana, satu bentuk dukungan kecil, bisa menentukan apakah seorang anak berani melangkah atau memilih menyerah. Garuda Di Dadaku adalah pengingat bahwa kepercayaan yang kita berikan hari ini bisa menjadi bagian penting dari mimpi besar mereka di masa depan," ujar produser Shanty Harmayn.

​Selain menghadirkan petualangan yang menghibur, Garuda Di Dadaku juga menjadi wujud kolaborasi besar para kreator animasi Indonesia. Film ini mempertemukan ratusan talenta dari berbagai disiplin kreatif dan studio animasi untuk menghadirkan sebuah cerita yang dekat dengan pengalaman keluarga Indonesia. Selain diproduksi oleh KAWI Animation, film ini turut melibatkan studio-studio animasi dan kreatif seperti Imaji Studio, Manimonki Studio, Leomotions Studio, Robot Playground Media, Ayena Studio, BRD Studio, Bara Studio, AtomicTune Studio, Loom Creations, Moving Things Production, IMV Studio, Shark Animation, LiteFX, serta Brown Bag Films Bali.

​Perjalanan Garuda Di Dadaku juga mendapat pengakuan di panggung internasional. Film ini baru saja terpilih sebagai salah satu nominasi kategori Animation dalam Golden Goblet Awards di ajang Shanghai International Film Festival 2026 dan bersaing bersama karya-karya animasi dari Brazil, Swedia, Norwegia, Denmark, Prancis, Spanyol, Chile, dan Argentina. Pencapaian ini menjadi salah satu langkah penting bagi animasi Indonesia untuk semakin dikenal dan diperhitungkan di kancah global.

​Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, Garuda Di Dadaku merupakan interpretasi animasi baru dari IP legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah hidup di hati banyak keluarga Indonesia selama lebih dari satu dekade.

​Film ini disutradarai oleh Ronny Gani, dengan Dewi Rosma sebagai Produser Pelaksana. Tim kreatif inti Garuda Di Dadaku juga mencakup R. Katamsi sebagai Art Director, Dimas Yoga MK sebagai Animation Director, Herwin Arkiando sebagai 3D Asset Supervisor, serta Dika Irami sebagai Lighting, Render & Compositing Supervisor.

Garuda Di Dadaku menghadirkan jajaran pengisi suara Keanu Azka, Kristo Immanuel, Quinn Salman, Ibnu Jamil, Revalina S. Temat, Sal Priadi, Ringgo Agus Rahman, Rizky Ridho, Zee Asadel, Oki Rengga, Emir Mahira, dan Bima Sena.

​Film ini juga menghadirkan dua original soundtrack, yaitu "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati dan "Bersama Sang Garuda" yang dinyanyikan oleh Quinn Salman.

​Saksikan Garuda Di Dadaku mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

​Tiket film animasi keluarga GARUDA DI DADAKU sudah bisa dibeli mulai hari ini di semua online platform bioskop XXI, CGV dan Cinepolis juga TIX.ID.

​Karena setiap mimpi besar selalu dimulai dari seseorang yang percaya.

​#GarudaDiDadaku

#BeraniBermimpi

​Catatan tentang Garuda Di Dadaku

​Garuda Di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission serta bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.

​Akun Resmi:

​Instagram: @base.id | @garudadidadaku.film

​TikTok: @base.id | @garudadidadaku.film

​YouTube: BASE Entertainment Indonesia | @BASEIndonesia

Tentang BASE Entertainment

BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto. Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina’s Adventure 2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Dengan komitmen kuat pada inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.

Tentang KAWI Animation

KAWI Animation adalah studio pengembangan IP animasi yang berbasis di Jakarta, dengan tim talenta terbaik Indonesia yang memiliki spesialisasi di bidang Character Designs, Environment Concepts, Narrative & Story development, dan 3D RnD. Sebagai bagian dari ekosistem BASE Entertainment, studio film terkemuka Asia Tenggara yang didirikan oleh Shanty Harmayn, Ben Soebiakto, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, KAWI Animation berkolaborasi dengan berbagai kreator dan studio untuk mengembangkan IP berkualitas yang siap diproduksi menjadi karya animasi. Dukungan dari BASE Entertainment yang telah memproduksi karya-karya seperti serial orisinal Indonesia Netflix Gadis Kretek (Cigarette Girl) dan serial animasi orisinal Netflix Trese, COMEDY ISLAND Indonesia & Filipina di Prime Video, serta film Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore), memperkuat posisi KAWI Animation sebagai pengembang IP animasi terdepan di Indonesia yang menghubungkan talenta lokal dengan standar produksi internasional.


INFORMASI FILM

  • Sutradara: Ronny Gani
  • Penulis Skenario: Sofia Lo, Makbul Mubarak
  • Berdasarkan film orisinil Garuda Di Dadaku oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn
  • Produser: Shanty Harmayn, Tanya Yuson, Aoura Lovenson Chandra, Ben Soebiakto, Ronny Gani
  • Produser Eksekutif: David Wayne Ika, Raharja Suwitono, Atta Halilintar, Peter Harjani, Jackol Kao, Agus Wibowo, Ervin Han, Bernard Toh, Adi Sumarjono, Michelle Nadya Suwarno, M Fajrin Rasyid, Yoonhee Choi, Sylvie Kim
  • Pengarah Artistik: R Katamsi
  • Animation Director: Dimas Yoga
  • Supervisor Asset 3D: Herwin Arkiando
  • Supervisor Lighting Render & Compositing: Dika Irami
  • Penyunting Gambar: Aline Jusria
  • Penata Musik: Ricky Lionardi
  • Penata Suara: Hiro Ishizaka
  • Voice Director: Rudolf Baldonado Jr.
  • Voice Coach: Jati Andito
  • Produser Pelaksana: Dewi Rosma Aswati
  • Asisten Produser: Vanesa Valensca, Theo Napitupulu
  • Eksekutif Pengembangan Kreatif: Aloysia Rarasningtyas, Sasthi Nandani
  • Penyelia Pascaproduksi: Fabrian Hendro

Pemeran:

  • ​Kristo Immanuel sebagai Gaga
  • ​Keanu Azka sebagai Putra
  • ​Quinn Salman sebagai Naya
  • ​Bima Sena sebagai Aldo
  • ​Revalina S. Temat sebagai Dewi Garuda
  • ​Revalina S Temat sebagai Dewi Garuda
  • ​Ringgo Agus Rahman sebagai Bima Garuda
  • ​Sal Priadi sebagai Jaya Garuda
  • ​Rizky Ridho sebagai Saka Garuda
  • ​Zee Asadel sebagai Isha Garuda
  • ​Emir Mahira sebagai Bayu
  • ​Ibnu Jamil sebagai Ayah Putra
  • ​Oki Rengga sebagai Coach Ronggur 

Bukan Cuma Akting, Rey Bong Bongkar Aksi Nyata Cast 'Nobody Loves Kay' Saat Dirinya Berada di Titik Terendah!

​Pujian dan respons positif terus membanjiri film drama remaja terbaru, Nobody Loves Kay usai Gala Premiere pada 28 Mei lalu. Menjelang penayangan serentak di bioskop 4 Juni 2026, film kolaborasi ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, dan Qun Films, bekerja sama dengan Visinema Pictures ini sukses membuat banyak penonton terharu dan menangis berjamaah berkat kuatnya rasa perjuangan dan kehangatan persahabatan yang disajikan.

​Namun, siapa sangka jika kehangatan, ketulusan, dan rasa kekeluargaan yang erat tersebut tidak hanya terjadi di depan kamera, melainkan juga tumpah ruah di belakang layar sepanjang proses pembuatan film. Hal inilah yang dirasakan langsung oleh aktor muda berbakat, Rey Bong, yang memerankan karakter Ido, salah satu sahabat dekat Kay.

Visi 'Gila' Sutradara dan Set Syuting yang Super Sehat

​Bagi Rey Bong, proyek film panjang perdana sutradara Bernardus Raka, menjadi salah satu pengalaman syuting paling berkesan dan tak terlupakan sepanjang kariernya. Rey menceritakan bagaimana lingkungan kerja yang dibangun di set Nobody Loves Kay terasa sangat sehat dan minim sekat, sehingga memicu rasa memiliki yang luar biasa besar di antara para pemain dan kru.

​"Selain syutingnya sehat, aku seneng banget bisa disutradarain Raka dengan visi gilanya di film ini. Di set, chemistry yang terbangun ternyata enggak cuma di antara aku, Joshia (Aurelio), dan Bima (Kay), tapi juga kami para cast dan sutradara yang udah kayak temen aja," ungkap Rey Bong dengan antusias.

​Rey bahkan membagikan satu momen unik yang memperlihatkan betapa cairnya hubungan mereka dengan sang sutradara di lokasi syuting. "Ada satu momen di mana Raka stuck saat mengerjakan satu adegan. Kami para cast melihatnya lucu, jadi kami kata-katain. Tapi abis itu, kami ngumpul bareng sama Raka dan diskusi bareng buat nyamain visi kita, dan Raka sangat open dengan itu. Sense of belonging yang aku rasain di proyek ini benar-benar luar biasa," lanjutnya sembari tertawa.

Menjadi 'Support System' Nyata Saat Mental Sedang Down

​Rasa kekeluargaan dan ikatan batin yang kuat tersebut terbukti tidak berhenti saat kamera berhenti berputar (wrap-up). Hubungan persahabatan antara Rey Bong, Joshia Frederico, dan Bima Azriel justru semakin rekat di kehidupan nyata, menjadi sahabat di dunia nyata dan bersama-sama menembus kerasnya industri perfilman.

​Saat menghadiri malam Gala Premiere beberapa waktu lalu, Rey Bong secara terbuka membagikan kisah emosionalnya mengenai bagaimana para pemeran film ini telah bertransformasi menjadi support system terbaik di titik terendahnya.

​"Baru-baru ini aku sedang down karena ada masalah pribadi yang cukup kena di mental. Tahu siapa yang ada buatku? Ya mereka-mereka ini. Bahkan tadi aku sama Joshia berangkat bareng ke gala, karena Joshi abis nginep nemenin aku beberapa hari ini," tutur Rey Bong penuh haru.

Tiket Hari Pertama Sudah Bisa Diamankan!

​Melihat begitu tulusnya chemistry nyata yang dibangun oleh para pemain di belakang layar, tidak heran jika performa mereka dalam menghidupkan konflik persahabatan di Nobody Loves Kay terasa begitu hidup, menyentuh, dan menguras air mata.

​Diproduseri oleh Nick Musa dan diperkuat oleh akting memukau dari Bima Azriel, Rey Bong, Aurora Ribero, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, Mian Tiara, hingga Melati Sesilia, film ini menjadi tontonan wajib bagi siapa saja yang sedang berjuang mencari jati diri dan mempertahankan orang-orang tersayang.

Nobody Loves Kay akan resmi mengguncang seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Kabar gembiranya, tiket hari pertama (advance ticket sales) sudah bisa kamu beli secara resmi melalui aplikasi M-TIX, TIX ID, Cinepolis, dan CGV.

​Jangan sampai kehabisan kursi di hari pertama tayang! Amankan tiketmu sekarang, siapkan tisu, dan pastikan kamu mengikuti akun sosial media resmi @nobodyloveskay agar tidak ketinggalan informasi paling up-to-date!.

VARITDA Merilis Slow Burner, Pembuka Untuk Album Contemporary Pop R&B Mendatang

​"Burn slower slow burner
I don't wanna miss a thing"

​Album Berjudul Champagne Cherry Akan Dirilis Dalam Waktu Dekat Bersama Tim Kreatif Kelas Dunia


​Setelah memperkenalkan pendengar pada nuansa bebas dan gemerlap dari "CHAMPAGNE FLYING," artis asal Thailand VARITDA kembali dengan "SLOW BURNER" — sajian kedua dari album mendatangnya, CHAMPAGNE CHERRY, sebuah proyek yang memadukan contemporary pop R&B dengan sentuhan jazz yang elegan melalui produksi berskala internasional.

​Dirilis di bawah Melodic Corner, label naungan Music Move Co., Ltd., CHAMPAGNE CHERRY menjadi arah artistik paling berani dari VARITDA sejauh ini: intim secara emosional, sophisticated secara musikal, dan digarap dengan penuh detail bersama para kolaborator dari berbagai penjuru dunia. Setiap tahap produksi — mulai dari penulisan lagu, rekaman, mixing, hingga mastering — dikerjakan dengan perhatian yang sangat matang terhadap detail.

​Perjalanan ini dimulai lewat "CHAMPAGNE FLYING," anthem feel-good tentang bangkit dengan elegan setelah patah hati dan merayakan kebebasan yang datang setelahnya. Dibungkus dengan nuansa pop R&B yang diperkaya ritme hip-hop, tekstur retro soul, serta sentuhan jazz kontemporer, lagu tersebut memperkenalkan karakter album yang sparkling dengan penuh percaya diri dan pesona.

​Kini, kisahnya berkembang lebih dalam lewat "SLOW BURNER," sebuah lagu yang merangkul kesabaran, ketegangan emosional, dan keindahan membiarkan cinta tumbuh secara alami. Dibangun di atas groove yang santai, lapisan instrumen yang subtil, dan energi intimate ala larut malam, lagu ini menangkap perasaan memilih koneksi dibanding terburu-buru — di mana setiap momen terasa cukup lama untuk meninggalkan kesan mendalam. Tetap berakar pada pop R&B dengan sentuhan jazz, "SLOW BURNER" menampilkan sisi album yang lebih lembut dan emosional.

​Pada intinya, CHAMPAGNE CHERRY mengangkat tema tentang "Confession" — proses perlahan terbukanya emosi dan isi hati seseorang. Album ini menggunakan metafora ceri di dalam segelas champagne: perlahan menyerap lingkungan di sekitarnya, menjadi semakin lembut seiring waktu, dan akhirnya memperlihatkan versi dirinya yang lebih kaya dan jujur. Dengan cara yang sama, proyek ini mengeksplorasi bagaimana manusia perlahan membuka diri ketika waktu, suasana, dan emosinya terasa tepat.

​Tak hanya dari sisi musik, baik "CHAMPAGNE FLYING" maupun "SLOW BURNER" juga hadir dengan video musik bergaya fashion film yang kuat secara visual, memperluas storytelling melalui simbolisme, mood, dan estetika sinematik. Semakin mengangkat kualitas proyek ini adalah keterlibatan tim kreatif kelas dunia. Produser asal Inggris Nick Tsang — yang pernah bekerja bersama Backstreet Boys, Ed Sheeran, Charli XCX, serta Jess Glynne lewat 5x Platinum "Take Me Home" — memegang peranan penting dalam membentuk warna musik album ini. Proyek ini juga melibatkan engineer ternama Charlie Holmes (Mixing Engineer) dan Simon Francis (Mastering Engineer), yang dikenal melalui karya mereka di album The Art of Loving milik Olivia Dean.

​Seluruh lagu dalam CHAMPAGNE CHERRY direkam di Abbey Road Studios, London - studio legendaris tempat The Beatles menciptakan sejumlah karya paling berpengaruh dalam sejarah musik modern. Rasakan dunia CHAMPAGNE CHERRY melalui "CHAMPAGNE FLYING" dan "SLOW BURNER," yang kini sudah tersedia di YouTube dan seluruh platform streaming digital melalui Melodic Corner. Masih akan ada berbagai "flavor" lain dari album ini yang akan segera diperkenalkan melalui kanal resmi Melodic Corner.

Performed By : VARITDA
Track Title : Slow Burner
Ex. Producer : VARITDA
Composer, Lyricist, Arranger : Nick Tsang, Taura Lamb
Producer, Recording Engineer : Nick Tsang
Mixing Engineer : Charlie Holmes
Mastering Engineer : Simon Francis
Danuphop Kamol : Immersive Mixing Engineer
Guitar, Bass, Keyboards, Wurlitzer : Nick Tsang
Drum Programming, Background Vocals : Nick Tsang, Taura Lamb

Abou Varitda:

​Varitda Bhirombhakdi (dikenal dengan nama panggung VARITDA) adalah artis asal Thailand yang memadukan contemporary pop dan R&B dengan elegansi serta musikalitas jazz. Memulai perjalanan musiknya dari jazz standar sebelum menjelajahi nuansa lo-fi yang lebih lembut hingga berkembang ke arah sound pop yang lebih dinamis, jazz tetap menjadi inti dari identitas musikalnya. Dikenal lewat vokal-nya yang sensual dan penyampaian emosional yang kaya, musik VARITDA menjembatani pesona timeless jazz klasik dengan pengaruh pop dan lo-fi modern, menciptakan warna musik yang terasa nostalgik sekaligus segar.

​Sering dideskripsikan sebagai pop jazz, musik VARITDA mengambil inspirasi dari jazz standards yang dicintai banyak orang sambil menggabungkannya dengan groove modern dan tekstur ambient, menjadikannya jembatan unik antara generasi pendengar musik yang berbeda. Seiring perjalanan artistiknya terus berkembang, VARITDA terus mengeksplorasi sound dan arah baru tanpa meninggalkan akar jazz yang pertama kali membentuk identitas musiknya. Jazz adalah tempat ia memulai, Pop adalah tempatnya sekarang, Dan perjalanannya masih terus berlanjut.

Access :

Instagram : @oumoum | TikTok : @varitda_music | All DSP : VARITDA | YouTube : Melodic Corner

Selasa, 02 Juni 2026

Bukan Pahlawan, Bukan Iblis: "Badut Gendong" Bawakan Sosok Anti-Hero Wong Kalahan di Layar Lebar Indonesia

Jakarta, 31 Mei 2026 – Penggemar film laga superhero dengan aksi yang seru? Atau selalu nungguin horor Indonesia yang kelas dunia? Rumah produksi MAGMA Entertainment (Qodrat, Pemukiman Setan) membawakan gabungan dari keduanya dalam film terbarunya, Badut Gendong.

​Film yang hadir sebagai cross-universe dari semesta Qodrat ini membawakan kisah Darso dan Darsi, sepasang penari Badut Gendong yang selalu dihadapi ketidakadilan dari orang-orang disekitarnya. Mereka hanya memiliki satu sama lain, serta harapan untuk anaknya yang berada dalam kandungan Darsi.

​Namun hidup Darso hancur ketika perilaku sekelompok preman menyebabkan kematian tragis Darsi dan bayi dalam kandungannya. Di tengah runtuhnya segala harapan dan kebahagiaan Darso, sebuah kuasa gelap membangkitkan arwah istri tercintanya—bukan sebagai Darsi, namun sebagai wajah teror baru, Badut Gendong.

Amarah Wong Kalahan yang Melawan

​Mereka yang sudah menyaksikan teror Badut Gendong di bioskop banyak yang mengungkapkan kalau akhirnya Indonesia memiliki film “anti-hero” yang berhasil menimbulkan perasaan campur aduk bagi para penonton. Di satu sisi, kepedihan yang dialami Darso sangat dekat dengan banyak orang, namun teror yang disebarkan oleh Badut Gendong. Bahkan, tak sedikit juga orang yang menyamakan karakter ini dengan Joker yang selalu dihakimi sekitarnya, atau John Wick yang membantai semuanya ketika kehilangan anjing peliharaannya.

​"Badut Gendong adalah pengalaman menonton yang suram, disturbing, dan intens, yang secara tidak terduga membuat saya terpukul secara emosional. Tidak seperti banyak cerita tentang villain yang hanya mengandalkan ledakan, film ini membuat penonton merasakaan rasa sakit, pedih, dan kehacuran emosional yang dialami oleh orang baik, yang secara perlahan berubah menjadi monster yang menakutkan akibat lingkungan di sekitarnya," sebut sebuah review di Letterboxd.

​Kisah Darso, sebagai seorang wong kalahan yang selalu dianggap remeh dan diperlakukan tidak adil berhasil menyentuh empati banyak penonton. Aktor Bhisma Mulia bahkan mengaku akan mendukung karakter ini bila berhadapan dengan Ustadz Qodrat di film-film selanjutnya. "Maaf banget Pak CG (Charles Gozali), kalau mereka berhadapan nanti, saya ada di tim Darso!" Ujar Bhisma.

Lawan yang Emosional Bagi Ustadz Qodrat

​Digadang-gadang akan menjadi lawan baru bagi Ustadz Qodrat, Badut Gendong hadir bukan hanya sebagai lawan yang lebih kuat secara kemampuan bertarung, namun sebagai lawan yang emosional baginya.

​"Ustadz Qodrat akan kembali, mendapatkan lawan yang jauh lebih berat lagi. Bukan karena bersekutu dengan iblis, tapi dia adalah Ustadz Qodrat dalam sisi yang lain. Jika cobaan Ustadz Qodrat membawanya kembali ke jalan Allah, cobaan yang sama terhadap Darso dan Darsi justru membawanya ke jalan yang salah. Jalan keputusasaan, dendam, kehancuran, dan malapetaka," sebut sang pemeran Qodrat, Vino G. Bastian.

Gerakan MBG: Menonton Badut Gendong

​Saksikan langsung kisah tragis Darso, dan lihat bagaimana jika si wong kalahan memilih untuk melawan! Badut Gendong sedang tayang di bioskop Indonesia, kunjungi @magmaent dan @badutgendong untuk informasi lebih lanjut.

Kenalan Chaeroel Musisi Asal BekSel Yang Bergabung Major Label Merilis Single Electrodut berjudul "Cinta Pertama

​Chaeroel, musisi dan produser asal Bekasi Selatan yang konsisten menghadirkan lagu-lagu bergenre Electrodut, kini siap merilis single baru bersama label Floor Inc/Sony Music Entertaiment Indonesia berjudul "Cinta Pertama". Memadukan musik elektronik dan dangdut, single ini menghadirkan nuansa yang emosional, tapi tetap mengajak pendengarnya untuk bergoyang. "Lagu ini bercerita tentang seorang cowok yang tidak pernah diperlakukan spesial oleh pasangannya. Sebelum menjalin hubungan, pasangan si cowok ini terus mengejar dan memohon perhatian mantan yang tidak menghargainya. Saat bersama si cowok ini, yang tersisa justru hanya rasa sakit. Hingga pada akhirnya, saat si cowok menghilang, si perempuan memilih bersikap cuek dan tidak lagi peduli."

​Dikerjakan kurang lebih selama satu bulan, dalam proses pengerjaannya, pemilik nama lengkap Chairul Ramadhan ini, berkolaborasi dengan Kaila, atau yang akrab disapa Kailol. "Tantangan terbesar waktu bikin lagu ini ada di proses mixing vocal dan beat. Aku harus memastikan semuanya sudah cocok dan enak didengar sehingga harus didengarkan berulang-ulang," jelasnya.

​Lewat "Cinta Pertama", musisi kelahiran Bekasi Selatan (BekSel) ini ingin membawa kembali era musik EDM, namun dengan tambahan sentuhan dangdut. "Aku memang fokus ke genre ini, begitu juga untuk single pertamaku di bawah Floor Inc. Aku yakin, beberapa orang pasti rindu masa-masa EDM, seperti yang dibawakan The Chainsmokers, Alan Walker, atau Marshmello. Tapi, aku juga terpikir untuk memberikan kesan unik, yaitu menggabungkannya dengan musik dangdut, jadilah electrodut. Electrodut ini biasanya memperkuat instrumen yang vibes-nya serupa dengan Alan Walker atau biasa disebut NCS (No Copyright Sound). Mungkin, kita lebih mengenalnya dengan sebutan 'Intro Youtube'," papar musisi kelahiran Bekasi, 9 November 2003, ini.

​Bergabung dengan label Floor Inc subs label Sony Music Entertainment Indonesia merupakan salah satu pencapaian besar Chaeroel saat ini. "Aku sangat senang dan masih tidak menyangka. Bisa bergabung ke dalam label ini jelas tidak mudah karena butuh waktu dan tenaga yang dihabiskan hingga bisa ada di titik ini. Aku bersyukur atas prestasi ini dan akan terus berusaha melahirkan musik yang tidak akan mengecewakan para pendengarku ke depannya. Dengan bergabung ke Floor Inc. ini, aku juga berharap orang-orang akan semakin mengenal genre electrodut karena memang jarang sekali musisi yang berkecimpung di genre ini."

​Dengan harapannya tersebut, Chaeroel berjanji bahwa para pencinta musik Indonesia akan semakin sering mendengar karya-karyanya di masa yang akan datang. "Sejauh ini, aku masih betah di genre electrodut ini karena genre ini cukup asyik dan bikin goyang terus. Semoga suatu saat aku bisa berkolaborasi dengan Tenxi, Dia, dan Naykilla karena mereka sangat cocok untuk masuk ke genre ini." Lewat "Cinta Pertama", Chaeroel ingin menyampaikan pesan sederhana untuk para pendengarnya. "Tetap joget segalau apa pun diri kita karena cuma itu yang bisa menyembuhkan kita dari patah hati," tutupnya. Single terbaru Chaeroel, "Cinta Pertama", didengarkan di platform musik digital.

Executive Producer Indonesia : Muhammad Soufan for Floor inc / Sony Music Entertainment

A&R : Wisnu Oeboer

Performed by : Chaeroel, Kailol

Composed by : Chairul Ramadhan

Written by : Chairul Ramadhan, Haya Kaila Athifa

Music produced by : Chaeroel

Vocal directed by : Chaeroel

Vocal recorded by : Revin Zefanya at Sony Music Studios Indonesia

Mixed & Mastered by : Chairul Ramadhan

Dolby atmos by : Gamaliel Abram Pradipta at Sony Music Studios Indonesia

Published by : Sony Music Publishing Indonesia

Senin, 01 Juni 2026

Film Monster Pabrik Rambut Menyajikan Horor Fantasi Retro dengan Pengalaman Sinematik yang Berbeda, Mengangkat Secara Jujur Keresahan Jutaan Pekerja Tentang Normalisasi Lembur Kurang Tidur

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 1 Juni 2026 — Palari Films mempersembahkan film terbaru karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut, yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev, Monster Pabrik Rambut menghadirkan pengalaman horor fantasi retro dari latar pabrik rambut dan situasi para pekerjanya yang kurang tidur.

​Edwin menghadirkan sosok monster, yang turut menawarkan keberagaman genre horor di Indonesia. Situasi-situasi horor di film ini dibangun dari atmosfer pabrik rambut yang creepy, sosok Bos Maryati (Didik Nini Thowok) yang tersenyum manis namun eksploitatif, serta serangkaian kejadian janggal yang menimpa para pekerja mereka.

​Sebagai sutradara yang karya-karyanya telah diakui secara internasional dari berbagai festival dan ajang penghargaan, Edwin kembali membawa kebaruan dengan eksperimen visual dan eksplorasi cerita yang inovatif di Monster Pabrik Rambut. Di film ini, Edwin mengkritisi hustle culture yang justru diglorifikasi, dengan menghadirkan ketegangan horor yang berasal dari rutinitas kerja sehari-hari, bukan horor spiritual.

​Film ini menyoroti realita bahwa kerja berlebihan juga bisa membawa pada situasi yang menyeramkan. Dengan mengangkat keresahan jutaan pekerja saat lembur dinormalisasi, Monster Pabrik Rambut secara jujur meneriakkan jeritan yang sudah terlalu lama ditahan oleh para pekerja Indonesia.

Eksplorasi Edwin di Monster Pabrik Rambut salah satunya ditunjukkan dengan pendekatan practical effect tanpa CGI, untuk menampilkan sisi retro yang ada di film ini. Menjadi sebuah tawaran yang segar dan berbeda di tengah lanskap film horor Indonesia saat ini.

​Edwin juga kembali bermain-main dengan fantasinya yang unik dan eksentrik dengan hadirnya sosok Monster di film ini, Bos Pabrik, Maryati, yang memanfaatkan persona misterius Didik Nini Thowok, serta kehadiran karakter Bona yang didesain mampu meregenerasi tubuhnya. Visualisasi yang tampak 'liar dan berani' adalah sisi fantasi film Monster Pabrik Rambut, meneruskan visi sinematik dari filmografinya terdahulu.

​Lewat Monster Pabrik Rambut, Edwin menghadirkan gagasan horor yang hadir dari rutinitas keseharian para pekerja. Menggabungkannya dengan genre yang paling populer, menjadi sebuah pengalaman menonton horor yang berbeda.

​Di Monster Pabrik Rambut, Edwin bermain dengan bentuk horor. Bukan dalam bentuk horor spiritual, namun terinspirasi dari horor dan film retro Indonesia era '80-an, dengan menciptakan ketegangan dari nuansa atmosferik dan banyak mengandalkan practical effect.

​“Ketegangan dan teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror,” ujar sutradara Edwin.

​Untuk menciptakan nuansa atmosferik horor fantastis retro di Monster Pabrik Rambut, Edwin menggandeng desainer produksi Menfo Tantono, Pemenang Piala Citra FFI 2024 untuk Penata Artistik Terbaik. Edwin dan Menfo menyulap Studio PFN menjadi sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli hingga sekitar dua truk, beserta manekin, prostetik, sisir paku, dan berbagai elemen yang ada di pabrik rambut/wig di dunia nyata.

​Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut turut menjadi ko-produksi internasional lima negara, Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Film ini lebih dulu tayang perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival 2026. Monster Pabrik Rambut juga telah tayang di berbagai festival film internasional termasuk Brussels Fantastic Film Festival, Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026, dan yang akan datang Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.

​“Keinginan Palari Films membuat film horor adalah sebuah kebutuhan untuk mencoba menghasilkan karya baru, sambil memperkaya khasanah film horor Indonesia. Ide awal film Monster Pabrik Rambut muncul saat Edwin datang dengan pernyataan bahwa sepertinya tempat kerja kita bisa lebih horor dibandingkan film horor itu sendiri. Kita semua pernah merasakan ini, apapun bidang pekerjaan kita. Bagaimana bentuk Monster di tempat kerja kamu?,” ujar produser Meiske Taurisia.

​Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengungkapkan Monster Pabrik Rambut membawa tema yang sangat dekat untuk kelas pekerja di segala lini. Film ini menjadi refleksi terhadap kondisi kerja yang belum ideal.

​“Paling relate dari film ini adalah kita para pekerja kan sering sekali lembur, bahkan terkadang sampai harus mengorbankan beberapa hal di hidup kita seperti waktu dengan keluarga atau waktu luang. Cerita dan para karakter di film ini memperlihatkan betapa horornya dunia kerja yang terkadang bahkan dinormalisasi. Sakit dianggap kerja keras, tapi apakah sistem kerjanya itu benar?” ujar Rachel Amanda.

Sementara Iqbaal Ramadhan, yang memerankan Bona, menyebutkan karakternya sangat unik dan imajinatif. Untuk menciptakan Bona, Iqbaal banyak berdiskusi dengan Edwin.

“Bona adalah karakter yang unik, ajaib, fantastis, dan aneh. Bentuknya berbeda tapi tetap punya keterkaitan yang penting dengan cerita yang diangkat di film ini. Monster Pabrik Rambut adalah horor retro fantasi yang keren dari Edwin, nikmati perjalanannya,” ujar Iqbaal.

“Bona juga menjadi simbol resistansi terhadap standar produktivitas gila-gilaan yang dipaksakan oleh sebuah sistem kepada diri kita yang banyak terjadi saat ini dan banyak dinormalisasi,” tambah Iqbaal.

Saksikan Monster Pabrik Rambut yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.



Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah “Kabut Berduri” (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya “Dear David” (2023), omnibus “Piknik Pesona” (2022), “Ali & Ratu-Ratu Queens” (2021), “Aruna & Lidahnya” (2018), “Posesif” (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Réjizz Merilis “Uncomfortable Situations”, Sebuah Titik Balik yang Lebih Gelap dan Sinematik

“Uncomfortable Situations. It’s creeping on me”

​Artis hip-hop asal Thailand, Réjizz, kembali dengan single terbarunya, ‘Uncomfortable Situations’ yang menjadi rilisan kedua untuk EP terbarunya “The Era” yang akan dirilis tahun ini melalui Marshall Records. Membangun momentum dari rilisan sebelumnya, track ini menyajikan sisi yang lebih gelap dan sinematik sekaligus menunjukkan seberapa jauh versatilitas dari Réjizz sebagai seorang artis.

​Sebagai bagian dari “The Era”, sebuah project berisi 5 lagu yang mengeksplorasi aspek-aspek yang berbeda dari kehidupan Réjizz, ‘Uncomfortable Situations’ berusaha menangkap tensi dari cara cerdas untuk bernavigasi dalam industri musik saat ini. Berlatar di sebuah pesta industri kelas atas, lagu ini dibuka dengan nuansa glamor yang terasa hanya di permukaan saja, sebelum perlahan mengungkap sisi yang jauh lebih mengganggu di baliknya. Seiring Réjizz menjalani malam tersebut, ilusinya mulai terlihat, para tamu memperlihatkan wujud asli mereka sebagai alien dan monster, menjadi metafora atas tekanan, kepalsuan, serta sifat performatif dalam industri ini.

​Setiap track di “The Era” hadir dengan persona semesta sonik nan emosionalnya masing-masing, dan disini Réjizz lebih mengeksplorasi storytelling yang sinematik untuk merefleksikan momen dilusi serta kesadaran diri. Single tersebut juga memegang peranan penting dalam alur besar project ini yaitu bergerak dari ketidakpastian dan tekanan eksternal menuju pemahaman diri serta arah yang lebih jelas.

​Melalui ‘Uncomfortable Situations’, Réjizz terus melampaui batasan hip-hop konvensional dengan memadukan warna khas ‘Thai-Funk’ miliknya dengan narasi konseptual yang berani. Sebagai artis Thailand pertama yang bergabung dengan Marshall Records, Réjizz berada di garis depan gelombang global baru, menjembatani kultur lokal dengan perspektif internasional. Perjalanannya mencerminkan jangkauan global yang semakin luas, sekaligus komitmen label dalam mendukung talenta baru dari berbagai penjuru dunia.

About Réjizz

Réjizz is a Bangkok-born rapper, singer, and producer. He has carved out a distinct lane with his signature Thai-Funk sound—a blend of jazz phrasing, deep soul textures, and Mo-Lam rhythms woven into modern hip-hop and R&B. Moving fluidly between Thai and English, his music is grounded in local storytelling, yet resonates far beyond borders. Crowned Thailand’s Hip-Hop Artist of the Year, Réjizz transforms traditional influences into immersive, groove-driven performances. As the first Thai artist signed to Marshall Records, he represents a new chapter for Thailand’s independent music scene on the international stage.

​Apakah Anda ingin saya membantu merangkum informasi utama mengenai perilisan musik Réjizz ini?

Film Kado Untuk Ibu, Drama Keluarga Paling Plot Twist Tahun Ini! Masuk Ketawa, Keluar Nangis Sesenggukan

  ​ Film Kado Untuk Ibu tayang mulai 6 Agustus 2026 di bioskop ​ Jakarta, 29 Juli 2026 — Starvision bekerja sama dengan FMM Studios memper...