Jakarta – Muhammad Rifan Prianto baru saja merilis buku kumpulan puisi perdananya berjudul Playlist Sebelum Mati pada bulan Mei lalu. Penyair asal Jakarta ini menulis sejumlah 26 puisi pada buku terbitan Sonar Pustaka tersebut. Rifan merespons berbagai polemik hidup yang menurutnya terasa absurd, seperti peperangan, keterasingan di tengah kehidupan urban, hingga tentang perasaan cinta yang tak sampai.
Buku kumpulan puisi ini merupakan hasil tugas akhirnya sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Proses penyusunan naskah dimentori oleh penyair asal Ciamis yang pernah mendapatkan anugerah Hari Puisi Indonesia pada tahun 2019, Willy Fahmy Agiska.
Merespons Budaya Populer
Puisi-puisi yang ada dalam Playlist Sebelum Mati berangkat dari reaksinya terhadap teks seni lain, seperti musik, film, seni rupa, dan teks sastra. Dalam acara diskusi buku kumpulan puisi ini yang diselenggarakan di ruang kolektif Atelir Ceremai, Jakarta (11/7), alasan Rifan menulis puisi dengan pendekatan seperti ini karena ia sudah dikenali dengan berbagai referensi budaya populer sedari kecil.
"Dulunya, keluargaku suka sekali menyetel (lagu-lagu) The Beatles selagi bebersih rumah. Atau ketika aku lagi menginap di rumah kakek, ia sering banget memutar Elvis Presley di kamarnya. Dan itu yang membuatku merasa dekat dengan berbagai budaya populer," katanya malam itu.
Elvis Presley di kamarnya. Dan itu yang membuatku merasa dekat dengan berbagai budaya populer," katanya malam itu.
Penyair yang juga sempat menjadi Ketua Umum di komunitas Arena Studi Apresiasi Sastra itu juga menceritakan tentang kedekatannya dengan musik. "Sewaktu aku lahir di tahun 2001, orang tuaku sedang menghadapi krisis finansial. Akhirnya ayahku memutuskan untuk menjual gitar Stratocaster kesayangannya untuk membayar biaya persalinan rumah sakit. Aku rasa itu menjadi salah satu pemantik kedekatan personalku terhadap musik."
Meski puisi-puisinya penuh dengan karya referensi, namun tidak membuat puisi ini sulit untuk dimengerti bagi pembaca yang tidak mengetahui karya referensinya tersebut. Opank, salah satu pembicara di acara diskusi buku itu, berkata kalau metafora serta gaya ungkap di kumpulan puisi ini mudah untuk dipahami. Sebaliknya, menurut pembacaan Opank, Rifan berhasil menciptakan ruang interpretasi yang lebih luas lewat puisi-puisi yang ditulisnya.
Kehidupan yang Absurd
Lewat berbagai referensi budaya populer, seperti lagu Outro karya John Mayer, film La Vita e Bella garapan sutradara Roberto Benigni, sampai novel The Metamorphosis karya Franz Kafka, Rifan menemukan makna kehidupan yang menurutnya begitu absurd. Menurut Rifan, kematian karena kelaparan atau peperangan adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh nalarnya. Penyair itu membagikan perasaannya perihal melihat anak kecil yang terlantar di jalanan, padahal anak itu tidak bisa meminta ingin dilahirkan atau tidak.
Sudut pandang absurdisme ini ia dapati ketika berkenalan dengan karya-karya Albert Camus, "Aku meminjam sudut pandang absurdisme dari Albert Camus karena merasa related dengan cara pandanganya. Awal-awal aku kenal sastra itu salah satunya membaca Albert Camus, dan mungkin aja aku merasa terpengaruh oleh tokoh Mersault dalam novel Orang Asing (L’ Etranger) itu."
Meski puisi-puisi yang ada terasa begitu pesimistik, tetapi Rifan menganggap bahwa gairah pesimisme dalam puisi-puisinya itu sekadar untuk menunjukkan kejujuran. Rifan menganalogikan cara pandang pesimisme ini lewat klub kesebelasan semenjana yang akan menghadapi klub kesebelasan terbaik. Menurutnya, para pemain dari klub semenjana itu tahu mereka akan kalah, dan itu yang membuat mereka bermain tanpa beban, sehingga bisa jadi memberi peluang untuk mereka menang dalam pertandingan. "Sebuah keajaiban yang berawal dari situasi pesimistik," lanjutnya.
Memandang Kematian
Penyair yang karya-karyanya telah disiarkan di berbagai media lokal dan nasional ini menganggap kematian adalah sebuah fase kehidupan yang tidak perlu ditangisi. Baginya, kumpulan puisi Playlist Sebelum Mati menjadi sebuah cara ia untuk menghadapi kematian.
"Kelak, kalau aku mati, aku nggak mau menghadapi kematian itu dengan cara yang menyedihkan. Jika ada kesempatan, aku ingin mendonorkan bagian tubuhku sebelum aku mati, atau para pengantar jenazahku tidak perlu terburu-buru di jalan. Santai aja, jangan menyusahkan kepentingan dan kenyamanan orang yang masih hidup. Dan sebelum aku mati, ayo kita dengerin Led Zeppelin dulu, ayo kita nonton film kesukaan bareng dulu, atau ayo kita melihat-lihat lukisan favorit dulu," kata Rifan menjawab pertanyaan dari salah satu peserta.
Rencana Pameran Lintas Disiplin Seni
Di akhir sesi diskusi, Rifan memiliki satu harapan terkait keberlanjutan kumpulan puisi perdananya ini, untuk mengadakan sebuah pameran lintas disiplin seni yang merespons puisi-puisi yang ada di Playlist Sebelum Mati. Hal ini ia lakukan sebagai upaya membawa teks puisi agar dapat berinteraksi secara dekat dengan karya seni lainnya.
Di pameran itu, akan ada penampilan teatrikal, musik, sampai pameran sejumlah lukisan dalam rangkaian acara yang diselenggarakan pada akhir tahun ini. Rifan sendiri dapat dijumpai melalui Instagram, @muh_rifaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar