Rabu, 05 November 2025

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 “Transfiguration”: Merayakan Dua Dekade Festival Film Asia Terbesar di Indonesia


JAFF20 berlangsung 29 November - 6 Desember 2025 dengan pemutaran “Opera Jawa” dalam format 35mm sebagai pembuka festival 
Jakarta, 5 November 2025 - Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) akan kembali digelar, tahun ini akan berlangsung selama 8 hari, dari 29 November sampai 6 Desember 2025. Tahun ini sangat istimewa karena menjadi perayaan dua dekade sejak festival ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2006. Mengusung tema “Transfiguration”, JAFF ke-20 menggarisbawahi transformasi krusial sebuah festival film yang telah berlangsung selama dua puluh tahun, sebuah periode panjang sebuah festival untuk merefleksikan secara mendalam dengan menakar capaian selama ini maupun cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud. 

Merayakan perjalanan 20 tahunnya, JAFF tahun ini akan dibuka dengan rangkaian acara yang spesial. Seremoni pembukaan serta pemutaran film pembuka akan dilakukan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta. Film musikal Opera Jawa karya sutradara Garin Nugroho, yang pertama kali dirilis pada JAFF edisi pertama tahun 2006, akan diputar sebagai film pembuka dalam format aslinya, yaitu format seluloid 35mm. Dan sebagai penutup, adalah film debut penyutradaraan film panjang dari Aco Tenriyagelli, Suka Duka Tawa, produksi Bion Studios dan Spasi Moving Image. 

“Sinema kita terus memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan. Pada kuartal pertama 2025 saja, sudah tercatat 35 juta penonton bioskop, atau sekitar 44% dari total jumlah penonton bioskop pada 2024. Salah satu catatan mengesankan adalah pencapaian film animasi panjang Jumbo yang memecahkan rekor dan menjadi film bioskop terlaris dengan lebih dari 10 juta penonton. Belum lagi film-film Indonesia yang hadir dan tayang perdana di festival internasional bergengsi serta memenangkan berbagai penghargaan internasional. Juga pelaku-pelaku sinema kita yang ditunjuk untuk menempati posisi-posisi penting, seperti anggota dewan juri pada ajang penghargaan internasional,” ujar Ifa Isfansyah, Direktur Jogja-NETPAC Asian Film Festival. “Semangat Transfiguration yang diangkat sebagai tema JAFF tahun ini juga menjadi simbol perayaan dua puluh tahun JAFF dalam transformasi sinema kita yang cemerlang di tengah sinema Asia yang terus bergerak dinamis,” lanjutnya.


Pada tahunnya yang istimewa ini, JAFF20 akan menghadirkan 227 film dari 43 negara yang akan ditayangkan dalam program kompetisi dan non-kompetisi yang semakin berwarna dan beragam. Sebelas film panjang telah terpilih untuk berkompetisi di program Main Competition untuk memperebutkan Golden dan Silver Hanoman Awards. Beberapa di antaranya adalah A Useful Ghost dari Thailand, karya debut film panjang sutradara Ratchapoom Boonbunchachoke, yang memenangkan penghargaan Grand Prix di Critics’ Week Cannes Film Festival 2025. Juga dua film dari aktor-aktor ternama yang melakukan debut penyutradaraanya, yaitu Girl, karya Shu Qi, yang ditayangkan perdana pada 82nd Venice Film Festival, dan Pangku, karya Reza Rahadian, yang menerima penghargaan White Light Post-Production Award pada JAFF Future Project di JAFF Market 2024 serta telah memenangkan 4 penghargaan dari Busan International Film Festival pada September 2025. 

Dalam program Indonesian Screen Awards, sebanyak tiga belas film Indonesia akan berkompetisi memperebutkan penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Naskah Terbaik, Pemeran Terbaik, dan Sinematografi Terbaik serta tambahan kategori baru di JAFF edisi ke-20 adalah Penata Artistik Terbaik, Penata Suara Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Desainer Poster Terbaik. Dua di antara film Indonesia yang akan ikut berkompetisi adalah Ikatan Darah karya sutradara Sidharta Tata dan Esok Tanpa Ibu karya sutradara Ho Wi Ding, di mana keduanya akan tayang perdana untuk wilayah Indonesia di JAFF20. 

Dikenal sebagai festival yang memberikan apresiasi kepada talenta-talenta filmmaker muda berpotensi, JAFF20 juga akan kembali menggelar kompetisi film pendek dalam program Light of Asia, di mana 17 film akan memperebutkan Blencong Awards. Dan program kompetisi NETPAC Awards, JAFF20 akan memberikan penghargaan kepada para sutradara yang menampilkan karya film panjang pertama atau keduanya. 

Hubungan kerjasama JAFF dengan jaringan eksibitor Cinema XXI kembali terjalin tahun ini sebagai penyedia venue utama penayangan film-film JAFF20. “Cinema XXI merasa terhormat kembali dipercaya sebagai partner dalam penyelenggaraan JAFF, sebuah festival film yang telah dikenal luas sebagai ajang bergengsi dan kredibel dalam mempromosikan karya perfilman berkualitas. Sejak 2011, Empire XXI Yogyakarta konsisten menjadi lokasi penyelenggaraan JAFF. Pada penyelenggaraan JAFF20 ini, Cinema XXI berkesempatan memperluas kolaborasi dengan turut mendukung sesi Inclusive Screening sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dukungan ini sejalan dengan komitmen kami menghadirkan pengalaman menonton yang inklusif dan bermakna bagi seluruh penonton,” ujar Corporate Secretary Cinema XXI, Indah Tri Wahyuni.

Pada program non-kompetisi, JAFF20 akan kembali mempersembahkan sejumlah film pendek dan film panjang terbaik Asia Pasifik. Sebanyak 22 film panjang dan 27 film pendek akan tayang dalam program Asian Perspectives dan 9 film panjang Indonesia dalam program Indonesian Film Showcase, salah satunya adalah Lupa Daratan, film yang menandai kembalinya Ernest Prakasa sebagai sutradara setelah cukup lama menekuni posisi sebagai produser. Dalam program Emerging, yang memutarkan film-film pendek Indonesia karya sutradara-sutradara baru berpotensi, jika tahun-tahun sebelumnya hanya memutar 10 judul, tahun ini JAFF telah mengkurasi dan memilih 12 judul untuk dihadirkan. 

Pada program Panorama yang menayangkan film-film pilihan dari sutradara ternama Asia, di antaranya adalah It Was Just An Accident dari sutradara Iran, Jafar Panahi, yang memenangkan piala Palme d’Or di Cannes Film Festival 2025. Dan Two Seasons, Two Strangers karya sutradara Sho Miyake yang telah memenangkan penghargaan Golden Leopard di 78th Locarno Film Festival 2025. Serta tiga film yang akan tayang perdana di Indonesia, yaitu Kokuho karya Lee Sang-il, The President’s Cake dari sutradara Hasan Hadi, dan Scarlet, film animasi karya sutradara Mamoru Hosoda. Pemutaran film Scarlet di JAFF20 menjadi kesempatan istimewa bagi penonton karena penayangannya merupakan Indonesian Premiere sebelum nantinya tayang di jaringan bioskop nasional. 

JAFF20 akan kembali menjalin kolaborasi bersama rekan-rekan yang selama beberapa tahun terakhir telah bekerjasama, salah satunya Asian Film Academy, untuk menghadirkan Ann Hui, salah satu sutradara perempuan ternama di sinema Asia, ke dalam sebuah masterclass serta menayangkan dua karya pentingnya, A Simple Life (2011) dan July Rhapsody (2002) dalam format restorasi 4K. Hasil kolaborasi JAFF dengan Asian Film Academy tahun ini juga akan menghadirkan tujuh film panjang dan empat film pendek Hong Kong lainnya dalam program Hong Kong Film Gala Presentation

Akan hadir pula program-program spesial lainnya untuk merayakan sinema Asia Pasifik di JAFF20. Program Cinematic Concert yang dihadirkan oleh JAFF selama tiga edisi terakhir ini menjadi salah satu program yang paling diantisipasi penonton. Tahun ini, Cinematic Concert akan menghadirkan penampilan live White Shoes and the Couples Company yang akan diawali dengan pemutaran film dokumenter berjudul White Shoes and the Couples Company in Cikini yang disutradarai oleh Henry Foundation. Selain itu, program Rewind juga akan kembali hadir dengan tujuh film panjang, di antaranya adalah yang banyak dinantikan, yaitu Yi Yi: A One and A Two dalam format hasil restorasi dan Battle Royale. Serta empat film panjang klasik Indonesia, salah satunya adalah Asrama Dara yang juga akan ditayangkan dalam format hasil restorasi. Penayangan karya-karya klasik ini akan menjadi kesempatan langka yang dinantikan oleh mereka yang ingin kembali merayakan sinema Asia di layar lebar hingga ke era tahun ‘50-an.

“Pada JAFF tahun lalu, untuk pertama kalinya kami hadirkan program Sneak Peek sebagai kesempatan istimewa bagi pembuat film memperlihatkan ke publik lebih awal potongan kecil film-film mereka yang kelak akan tayang reguler di bioskop. Sneak Peek tahun ini akan menghadirkan Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini,” tutur Alexander Matius, Direktur Program JAFF. “Setiap tahunnya kami terus mencoba merespon dinamika dan perkembangan sinema melalui program-program baru. Namun tentunya kami berharap program-program ini pun bisa terus konsisten diselenggarakan di JAFF edisi-edisi selanjutnya sehingga menjadi pemantik bagi ekosistem untuk terus juga berinovasi,” lanjutnya. 

Melanjutkan kesuksesan perdananya tahun lalu, di momen spesial 20 tahun JAFF ini, JAFF Market akan kembali hadir sebagai bentuk komitmen JAFF yang secara sinambung mendukung sinema independen Asia serta memberikan ruang bagi karya Indonesia untuk tumbuh tidak hanya di negeri sendiri, namun juga mampu bersaing di pasar global. JAFF Market 2025 akan menghadirkan enam program, yaitu JAFF Future Project, Content Market, Talent Day, Film & Market Conference, Market Screening, dan Film Lab. JAFF Market 2025 akan diselenggarakan pada 29 November sampai 1 Desember 2025 di Jogja Expo Center (JEC). 

Penyelenggaraan JAFF tahun ini terselenggara berkat dukungan berbagai rekan-rekan mitra. Apresiasi kami kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Juga atas dukungan rekan-rekan venue penyelenggara, Cinema XXI, Artotel Suites Bianti, dan KlikFilm. Selain itu, kolaborasi program bersama Netflix, Asian Film Awards Academy, dan Vidio turut memperkaya dan memeriahkan perhelatan JAFF20, dengan harapan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi para pelaku industri film. 

Jadwal program JAFF20 dan cara membeli tiket dapat ditemukan di akun media sosial resmi @jaffjogja dan situs resmi, jaff-filmfest.org. Tiket dapat diakses melalui situs resmi jaff-filmfest.org dan dibeli di TIX.ID mulai 20 November 2025.

Bukan Film Horor, "Pesugihan Sate Gagak" Siap Jadi Obat Manjur Bikin Tertawa Satu Indonesia

Aksi 'Trio Gagak' Bikin Ngakak Mulai 13 November 2025 Di Bioskop

Jakarta, 5 November 2025 - Cerita tentang pesugihan sering kali identik dengan tumbal manusia dan kisah yang mencekam. Namun, film terbaru produksi Cahaya Pictures dan BASE Entertainment, berkolaborasi dengan PK Films, Arendi, Laspro, IFI Sinema, dan Anami Films, berjudul Pesugihan Sate Gagak, justru mengemas tema itu dalam balutan komedi horor super ringan yang menjadi obat penghilang stres buat penonton.

Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta terancam gagal. Itulah nasib trio gagak, Anto (Ardit Erwandha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) yang menjadi awal kisah Pesugihan Sate Gagak. Mereka pun resmi capek miskin!

Selain dibintangi oleh Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benidictus Siregar sebagai pemain utama, film ini juga didukung oleh Yoriko Angeline, Nunung, Arief Didu, Firza Valaza, serta diramaikan Arif Alfiansyah, Ence Bagus, Niniek Arum, Akbar Kobar dan Ciaxmen,

Pesugihan Tanpa Tumbal, Demit Sakau Sate!

Jika biasanya makhluk halus dalam cerita pesugihan mengejar nyawa manusia, di film ini mereka malah antre layaknya pembeli setia warung. Ritual telanjang, hantu-hantu ketagihan, dan kekacauan absurd di warung sate menjadi sumber tawa sepanjang film.

Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi kekasihnya, Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai leher. Dalam keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling gila: coba pesugihan tanpa tumbal, cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit! Namun bukannya berakhir bahagia, para demit justru ketagihan sate dan terus datang menagih.

Aksi Kocak Trio Gagak & Pengalaman Jadi Pemeran Utama

Kekuatan film ini bertumpu pada tiga komika ternama: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benedictus Siregar yang berperan sebagai Trio Gagak. Untuk pertama kali, ketiganya tampil sebagai pemeran utama dalam satu film layar lebar. Chemistry alami mereka memunculkan dinamika persahabatan yang cair dan komedi yang spontan membuat setiap adegan terasa hidup, lucu, sekaligus hangat di tengah absurditas cerita. Terlebih beradu akting dengan kondisi telanjang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain.

"Berakting komedi sudah biasa saya lakukan di film-film sebelumnya, tapi berakting komedi sekaligus horor sambil telanjang, sepertinya cuma akan terjadi di film ini," ujar Ardit Erwandha, pemeran Anto. "Ini jadi tantangan sekaligus cara saya keluar dari zona nyaman. Buat kami bertiga, ini bentuk totalitas dan keseriusan sebagai aktor."

Yono Bakrie menambahkan bahwa ini adalah kesempatan langka baginya untuk dipercaya sebagai pemeran utama. Sebelumnya, ia lebih sering tampil sebagai pemeran pendukung atau cameo. la juga mengakui bahwa cerita film ini sangat dekat dengan pengalaman hidupnya di masa lalu.

"Nyari duit susah itu memang benar adanya. Sebelum merantau ke Jakarta, saya pernah mengalami berbagai kesulitan ekonomi dan harus membantu orang tua agar bisa bertahan hidup. Kedekatan saya dengan cerita ini sangat membantu saya dalam. mendalami karakter Dimas", kata Yono.

Sementara itu, Benidictus Siregar mengakui bahwa proyek ini terasa sangat spesial baginya. Dari berbagai peran yang pernah ia mainkan, Beni lebih sering tampil dalam. genre komedi. Namun, di film ini ia justru ditantang untuk menampilkan sisi drama yang jarang ia eksplor sebelumnya.

"Meskipun unsur komedinya cukup kuat dan saya juga banyak bertemu dengan para. komika, di film ini ternyata saya harus menampilkan adegan drama. sesuatu yang jarang saya lakukan sebelumnya. Itu yang membuat Pesugihan Sate Gagak jadi salah satu proyek yang paling spesial sepanjang karir berakting saya", ungkap Beni.

Debut Penyutradaraan Dua Sutradara Berbakat

Pesugihan Sate Gagak menjadi panggung debut penyutradaraan layar lebar bagi Etienne Caesar (EC) dan Dono Pradana (Dono). Sebelumnya, Etienne telah berpengalaman sebagai asisten sutradara di berbagai produksi film, sementara Dono dikenal sebagai kreator konten sekaligus komika asal Surabaya. Keduanya membawa kekuatan tersendiri dalam menggarap film ini.

Dengan bekal pengalamannya, Etienne Caesar berhasil menghadirkan rangkaian adegan yang membekas dan mampu mengarahkan para pemain untuk tampil maksimal terutama keluar dari zona nyaman mereka di ranah komedi menjadi drama.

"Salah satu adegan yang menurut saya luar biasa adalah adegan drama yang dimainkan oleh Trio Gagak. Kemampuan tiga aktor itu keluar dari zona nyaman mereka patut diapresiasi. Bagi saya, adegan yang baik tidak hanya lahir dari komposisi teknis yang mumpuni, tetapi juga dari permainan emosi para pemainnya," jelas EC, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Ernest Prakasa.

Melengkapi visi penyutradaraan EC, Dono Pradana berangkat dari sensitivitasnya dalam membaca keresahan banyak orang terhadap tekanan hidup, utang, dan keinginan untuk cepat sukses. Melalui film ini, Dono ingin menghadirkan potret sosial dengan cara yang ringan, dekat, dan tetap menghibur.

"Buat saya, film ini bukan tentang menghalalkan pesugihan, tapi tentang bagaimana orang bisa tersesat ketika terlalu tertekan oleh hidup. Lewat pendekatan komedi, kami ingin mengajak penonton melihat realitas itu dengan cara yang ringan dan mudah. Hal yang ringan dan mudah dalam hidup ini ya tertawa bersama," tutur Dono.

Relevansi Nyata Potret Masyarakat

Meski dikemas dengan humor yang ngawur dan absurd, Pesugihan Sate Gagak sejatinya menyoroti realitas sosial yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang Indonesia. Desakan ekonomi, tekanan sosial untuk terlihat sukses, hingga mentalitas "yang penting cepat kaya" menjadi latar yang relevan dan mudah dikenali penonton.

"Premis tentang para demit yang ketagihan sate, dipadukan dengan ritual absurd yang mengharuskan pesertanya telanjang, menjadi alasan utama kenapa kami di Cahaya Pictures begitu jatuh cinta pada cerita ini. Ada keabsurdan, kegilaan, namun juga jadi potret sosial masyarakat sekarang. Ini pure bukan film horor, tapi sebuah feel good movie yang akan mudah disukai banyak orang. Kami berharap film ini bukan cuman. sebagai film, tapi juga punya pesan positif dan jadi optimisme di tengah kesulitan ekonomi yang dialami banyak orang", papar Aoura Lovenson, produser film Pesugihan Sate Gagak."

Selain itu, film ini harapannya bisa menyadarkan penonton jika sesuatu yang niatnya. benar namun dilakukan dengan cara yang salah maka akan berakhir tidak baik. Maka, cara instan yang salah seharusnya diganti dengan kerja keras dan rasa syukur.

Pesugihan Sate Gagak akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 13 November 2025, dan pembelian tiket untuk hari pertama sudah bisa dilakukan mulai 9 November 2025.

Awas Ketagihan!



SINOPSIS PESUGIHAN SATE GAGAK

Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta terancam gagal tiga sahabat Anto (Ardit Erwand ha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) alias Trio Gagak resmi capek miskin!

Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi kekasihnya Andini (Yoriko Angeline), Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai leher.

Dalam keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling gila: coba pesugihan tanpa tumbal -cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit!

Awalnya mereka nekat mencoba jalan pintas agar bisa keluar dari lilitan hidup dan tiba-tiba, pembeli pertama mereka datang... bukan dari dunia manusial Genderuwo, pocong, sampai kuntilanak antre dan rela bayar mahal untuk sate gagak mereka.

Trio Gagak mendadak kaya raya: utang lunas, hidup mapan, bahkan cinta Anto dan Andini sempat terasa bahagia. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama rahasia. pesugihan yang disembunyikan, perlahan menghancurkan semuanya. Tawa mereka berubah jadi ketakutan saat para demit tak berhenti datang dan terus menagih sate lapar, rakus, dan tak terkendali!

Apakah mereka akan lanjutkan pesugihan demi kekayaan, atau kabur sebelum dimakan keserakahan?


INFORMASI FILM

Judul: Pesugihan Sate Gagak
Genre: Komedi Horor
Sutradara: Etienne Caesar & Dono Pradana
Penulis: Nuugro Agung
Produser: Aoura Lovenson Chandra, Fauzar Nurdin
Pemeran: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, Benidictus Siregar, Yoriko Angeline, Nunung, Arief Didu, Firza Valaza
Produksi: Cahaya Pictures
Rilis bioskop: 13 November 2025

Selasa, 04 November 2025

Perjalanan Film Sore: Istri dari Masa Depan Masih Berlanjut di Bioskop Jaringan Nasional Sembari Melaju Menuju Oscar 2026!

Yandy Laurens, Suryana Paramita, dan Sheila Dara Hadiri 

Rangkaian Pemutaran Film di Los Angeles dan New York City. 

Jakarta, 4 November 2025 — Sejak pertama kali tayang di jaringan bioskop Indonesia pada 10 Juli 2025, film Sore: Istri dari Masa Depan telah membawa pengalaman sinematik di layar lebar untuk penonton Indonesia. Sampai hari ini, terhitung 118 hari penayangan dan perjalanannya di bioskop jaringan nasional masih terus berlanjut. 

Pada hari pertama tayangnya, film Sore: Istri dari Masa Depan memulainya dengan 263 layar serta harus berhadapan dengan dua film dari studio besar Hollywood yang memiliki banyak penggemar. Namun, seiring berjalannya waktu, Sore tampil sebagai film yang begitu dicintai oleh penonton Indonesia. Terhitung sampai tanggal 3 November 2025 film Sore: Istri dari Masa Depan telah ditonton oleh 3.112.639 penonton dan mampu mengungguli judul-judul populer internasional! Capaian yang masih cukup jarang terjadi untuk sebuah film Indonesia bergenre drama romansa fantasi. Film Sore: Istri dari Masa Depan juga menjadi film terlaris penulis dan sutradara Yandy Laurens, serta rumah produksi Cerita Films yang didirikan Yandy bersama produser Suryana Paramita. 

“Terima kasih yang tak terhingga kepada penonton Indonesia yang sudah percaya dan menerima film Sore: Istri dari Masa Depan. Dukungan yang luar biasa sejak hari pertama tayang hingga hari ini membuat saya merasa bahwa film Sore: Istri dari Masa Depan begitu dicintai dan dirayakan sepenuh hati,” kata produser Suryana Paramita

“Penuh sekali perasaan ini. Banyak yang memberikan cinta dan kepercayaan yang mengiringi perjalanan untuk dilalui bersama Waktu. Sebuah kebahagiaan bagi kami ketika Sore bisa sampai ke hati teman-teman penonton, terima kasih,” kata penulis dan sutradara Yandy Laurens

Penayangan film Sore: Istri dari Masa Depan di bioskop ternyata juga telah menciptakan berbagai tren di kalangan masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah viralnya lagu Terbuang dalam Waktu dari Barasuara yang menjadi OST film ini, reka ulang foto poster di tangga yang melingkar, hingga konten jabat tangan ala Sore dan Jonathan di media sosial. Secara pengakuan kritis, Sore: Istri dari Masa Depan juga berhasil meraih 8 nominasi Piala Citra FFI 2025, termasuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik.

Film Sore: Istri dari Masa Depan telah memulai perjalanannya keluar Indonesia saat mulai tayang di bioskop jaringan Malaysia, Brunei, dan Singapura mulai 25 September lalu. Dan kini, setelah terpilih sebagai perwakilan Indonesia untuk kategori Best International Film Festival 98th The Academy Awards, film Sore: Istri dari Masa Depan akan melakukan serangkaian pemutaran film di Los Angeles dan New York City, Amerika Serikat. Pemutaran tersebut menjadi bagian dari kampanye For Your Consideration Campaign 98th The Academy Awards. Saat ini, film Sore Istri Dari Masa Depan sudah tayang di Academy Screening Room. 

Film Sore: Istri dari Masa Depan dipilih oleh Komite Seleksi Oscar Indonesia (The Indonesian Oscar Selection Committee), yang dibentuk setiap tahun oleh PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia) dan telah divalidasi oleh pihak Academy Awards bertugas untuk memilih satu film terbaik yang mewakili Indonesia. 

Pemutaran film Sore: Istri dari Masa Depan di Amerika Serikat dan Amerika Utara juga akan dihadiri oleh penulis dan sutradara Yandy Laurens, produser Suryana Paramita, dan pemeran utama Sheila Dara. Film Sore: Istri dari Masa Depan akan memulai penayangan perdananya pada minggu pertama November di Los Angeles dan dilanjutkan di New York City. 

Selain menjalankan kampanye For Your Consideration, film Sore: Istri dari Masa Depan juga terpilih dalam kompetisi Snow Leopard Awards di Asian World Film Festival (AWFF) ke-11. Ini sekaligus menjadi ajang perdana film Sore diputar di Amerika Utara. 

“Ini adalah rangkaian dari film Sore: Istri dari Masa Depan untuk memulai kampanye For Your Consideration di Oscar 2026. Menjadi sebuah kesempatan yang luar biasa bagi kami untuk berada di titik ini dan menjadi pengalaman yang sangat berharga,” kata produser Suryana Paramita

“Dalam rangkaian pemutaran film Sore: Istri dari Masa Depan di Amerika, kami juga terpilih untuk ikut berkompetisi di Asian World Film Festival (AWFF). Terima kasih telah memberikan ruang bagi film kami untuk bisa bertemu dengan penonton yang lebih luas lagi di Amerika Utara,” tambah penulis dan sutradara Yandy Laurens

“Semoga tayangnya film Sore di Amerika Serikat dan Amerika Utara juga bisa bertemu dengan penonton barunya dan berharap yang terbaik untuk perjalanan ke depan film ini,” kata Sheila Dara

Film Sore Istri dari Masa Depan diproduksi oleh Cerita Films dan didukung oleh Melyana Tjahyadikarta, Queen Yeap, Slingshot Pictures, Imajinari, Miles Films, Studio Artemis, Jagartha, Trinity Entertainment Network, dan Dwidaya Amadeo Gemintang sebagai jajaran produser eksekutif dan kolaborator. Serta para partner resmi Artotel Wanderlust, SukkhaCitta, dan HMNS. 


Ikuti perkembangan film Sore: Istri dari Masa Depan melalui akun Instagram resmi @cerita_films.

Gala Premiere “Sampai Titik Terakhirmu” Banjir Air Mata, Kisah Nyata Albi & Shella Siap Menguras Emosi di Bioskop

Plaza Senayan Berubah Jadi Lautan Haru, Penonton Nobatkan Sebagai "Film Tersedih Tahun Ini"

Jakarta, 4 November 2025 – Suasana haru tak terbendung. Isak tangis, pelukan hangat, dan standing ovation panjang menggema di Plaza Senayan (4/11), menandai Gala Premiere dan Press Conference film "Sampai Titik Terakhirmu" yang telah lama dinantikan.

Film produksi LYTO Pictures ini sukses menerjemahkan kisah nyata cinta viral Albi dan Shella ke layar lebar, sebuah elegi tentang kesetiaan abadi, perjuangan melawan kehilangan, dan keberanian merayakan hidup hingga napas terakhir.

Momen ini terasa semakin sakral dengan kehadiran para pembuat film dan jajaran pemain bertabur bintang: produser Marcella Daryanani dan Andi Suryanto, sutradara Dinna Jasanti, penulis skenario Evelyn Afnilia, serta ensemble cast memukau: Mawar de Jongh, Arbani Yasiz, Unique Priscilla, Kiki Narendra, Yasamin Jasem, Shakeel Fauzi, Tika Panggabean, Siti Fauziah, TJ Ruth, Alfie Alfandy, Dana Wardhana, Ricky Cemor, Verina Ardiyanti, dan Vonny Felicia.

Namun, pusat perhatian emosional malam itu adalah kehadiran Albi Dwizky, sosok nyata di balik kisah yang menginspirasi film ini, yang turut menyaksikan ceritanya dihidupkan di layar lebar.

Bukan Sekadar Film, Ini Perayaan Kehidupan

Produser Marcella Daryanani menyampaikan rasa syukurnya melihat reaksi luar biasa dari para penonton perdana. “Bagi kami, Sampai Titik Terakhirmu bukan sekadar film romantis. Ini adalah perayaan kehidupan, tentang bagaimana cinta bisa menjadi kekuatan untuk terus melangkah, bahkan dalam kehilangan. Melihat reaksi malam ini, kami bersyukur pesan itu sampai dan berharap penonton bisa menemukan harapan baru di dalamnya,” ujar Marcella.

Mawar de Jongh, yang tampil memukau sebagai Shella, mengaku peran ini menjadi perjalanan batin yang mendalam. “Shella bukan hanya karakter, tapi seseorang yang benar-benar pernah ada dan memberi banyak makna. Aku hanya ingin setiap emosi yang dia rasakan bisa sampai ke hati penonton, dan melihat tangis mereka tadi, rasanya bebanku terangkat.”

Arbani Yasiz, yang memerankan Albi, menambahkan, “Peranku sebagai Albi membuatku belajar banyak tentang cinta yang nggak mengenal batas waktu. Ini peran yang sangat personal, dan aku rasa banyak orang akan melihat diri mereka sendiri lewat kisah ini.”


Jangan Ketinggalan “Film Tersedih Tahun Ini”

Sejak menit pertama pemutaran, studio bioskop telah dipenuhi isak tangis. Banyak penonton dan tamu undangan yang keluar dari teater dengan mata sembab, sepakat menjuluki Sampai Titik Terakhirmu sebagai film tersedih tahun ini..

Emosi yang kuat, chemistry luar biasa antara Mawar de Jongh dan Arbani Yasiz, serta kedalaman pesan tentang ketulusan, membuat film ini menjadi sebuah tontonan wajib yang tak hanya menguras air mata, tetapi juga memberi ruang perenungan tentang arti mencintai.

Siapkan Tisu Anda: Tayang Serentak 13 November 2025



Usai Gala Premiere yang sukses besar, Sampai Titik Terakhirmu siap menyapa dan menguras air mata penonton di seluruh Indonesia. Ini bukan sekadar tontonan, tapi sebuah pengingat bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai titik terakhir.


Sampai Titik Terakhirmu tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 13 November 2025. Pastikan kamu menjadi bagian dari penonton dengan emosi haru yang luar biasa ini.

Kejahatan Alexandra Gottardo Terbongkar, Apakah Perseteruannya dengan Yasmin Napper akan Berakhir?

JAKARTA - Episode ketujuh WeTV Original Balas Dendam Istri Yang tak Dianggap semakin  mendebarkan. Kinara (diperankan oleh Yasmin Napper) akhirnya bekerja sama dengan Robert  (diperankan oleh Reynold Surbakti) untuk mendapatkan bukti pembunuhan sang ayah, Bram  (diperankan oleh Lukman Sardi). Robert adalah pengacara keluarga yang ternyata memalsukan  surat wasiat sang ayah atas permintaan ibu tirinya, Sandra (diperankan oleh Alexandra Gottardo). 

Pada episode sebelumnya, Kinara dikejutkan oleh kenyataan bahwa sang ayah ternyata  meninggal karena dibunuh. Menjelang episode terakhir, penonton akan disuguhkan perjuangan  Kinara dalam menuntut keadilan bagi dirinya dan sang ayah. Robert akhirnya bersedia membantu  Kinara mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh Sandra, setelah keduanya sepakat bahwa  Kinara akan membantunya bertemu sang cucu. 

Hal pertama yang dilakukan Robert adalah berpura-pura ingin tinggal di rumah Sandra. Tak  hanya itu, ia juga membantu Aluna (diperankan Laura Theux) kabur untuk mencari Andreas. Misi  tersebut berjalan lancar, Robert berhasil mendapat laptop yang berisi rekaman video yang dapat  menjadi barang bukti pembunuhan Bram.  

Berbekal bukti tersebut, Kinara menggelar konferensi pers di hadapan awak media. Di sana,  Robert akhirnya mengakui bahwa ia memang memalsukan surat wasiat ayah Kinara. Tentu saja,  pengakuan itu membuat Sandra tersudut. Ia kemudian berusaha menegosiasikan perdamaian  dengan Kinara, meminta agar Aluna mau meminta maaf agar semua perseteruan dapat berakhir.  

Namun, bukannya minta maaf, Aluna justru melakukan tindakan yang membuat Kinara sampai  pada puncak kesabarannya. Kesempatan terakhir Aluna untuk menebus kesalahannya pun  hilang sudah. Sandra sangat kecewa, sebab semua upaya yang dia lakukan selama ini adalah  demi menyelamatkan Aluna dan calon bayi yang dikandungnya menjadi sia-sia. 

Apa yang sebenarnya dilakukan Aluna? Lalu bagaimana akhir dari kisah drama perseteruan  keluarga ini? Apakah pengakuan Robert akan menyelesaikan segala persoalan? Saksikan  episode terakhir WeTV Original Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap, yang sudah bisa ditonton  lebih dulu melalui fitur Fast Track di aplikasi WeTV.

Road to Konser Suarasmara: Andien Ajak Publik Rawat Bumi Lewat Plogging


Kolaborasi Andien, Rekosistem, dan Kitabisa Experience Hadirkan Gerakan Plogging

Jakarta, 1 November 2025 - Sebagai rangkaian kegiatan menuju konser Suarasmara, penyanyi Andien menggandeng Rekosistem dan Kitabisa Experience untuk menghadirkan sebuah inisiatif yang menyatukan gerak tubuh, kolaborasi sosial, dan kepedulian terhadap bumi yaitu plogging.

Plogging adalah gabungan dari kegiatan jogging dan memungut sampah (picking up litter). Nama ini berasal dari gabungan kata dalam bahasa Inggris "jogging" dan kata dalam bahasa Swedia "plocka upp" yang berarti "mengumpulkan".

Kegiatan ini akan berlangsung pada Sabtu, 2 November 2025, dengan rute Bundaran HI menuju Waste Station Rekosistem di Dukuh Atas. Sebanyak 75 peserta yang telah mendaftar melalui Kitabisa Experience akan berlari santai sambil mengumpulkan sampah di sepanjang rute. Sampah yang terkumpul kemudian akan diserahkan di fasilitas pengelolaan sampah milik Rekosistem sebagai wujud nyata aksi keberlanjutan lingkungan.

“Melalui Konser Suarasmara, kami ingin menunjukkan bahwa konser bisa punya gema lebih luas dari sekadar panggung musik. Gerakan kecil seperti jogging sambil memungut sampah pun bisa menjadi bentuk nyata cinta pada bumi,” ujar Andien.

Kegiatan ini juga didukung oleh Tuku dan Kotara, dua brand lokal yang konsisten mendukung gerakan gaya hidup berkelanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan semangat Konser Suarasmara: mengajak masyarakat untuk tidak hanya bersenang-senang di konser musik, tapi juga bertindak dan menyuarakan perubahan untuk bumi lewat langkah-langkah sederhana.

Harapannya, kegiatan ini dapat menular menjadi kebiasaan sehari-hari,  bahwa olahraga, gaya hidup sehat, dan kepedulian terhadap sampah bisa berjalan beriringan.

Lewat kegiatan plogging, Konser Suarasmara  tidak hanya menggelar konser, tapi juga menghidupkan gerakan menuju kesadaran bahwa bumi membutuhkan suara kita semua.

UNGU Resmi Rilis Music Video "Utara - Selatan", Awali Perjalanan Menuju Konser 30 Tahun "Waktu Yang Dinanti: Final Chapter"

​ Music Video Disutradarai Pasha, Hadirkan Kolaborasi Dua Generasi Keluarga UNGU melalui Kiesha Alvaro dan Zara Leola ​ Jakarta, 5 Agustus ...