Jumat, 30 Januari 2026

Film Sadali Siap Tayang di Bioskop 5 Februari 2026 Ketika Cinta Tak Pernah Benar-Benar Selesai


Jakarta, 30 Januari 2026 - Film drama romantis terbaru "Sadali" siap menyapa penonton Indonesia. Menjelang penayangan nasionalnya, film ini menggelar Pemutaran Perdana di Cinema XXI Epicentrum sebagai penanda peluncuran resmi, sebelum tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.

Sadali melanjutkan kisah yang telah menyentuh banyak penonton melalui film sebelumnya, Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu. Film ini kembali membawa penonton menyelami konflik perasaan yang belum usai dalam hubungan cinta segitiga antara Sadali, Meira, dan Arnaza. Sadali masih mengejar dan menyimpan harapan untuk kembali bersama Meira, sementara Arnaza pun belum mampu melepaskan cintanya kepada Sadali. Di tengah tarik-ulur perasaan tersebut, ketiganya dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah mereka akan menemukan cinta masing-masing, atau justru terjebak dalam kisah yang tak pernah selesai?

Film ini dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris lintas generasi, antara lain Adinia Wirasti, Ajil Ditto, Hanggini, Ciara Nadine, Faiz Fishal, dan Deasy Natalia. Masing-masing menghadirkan performa yang emosional dan autentik, memperkuat dinamika karakter serta konflik batin yang menjadi jantung cerita film ini.


Disutradarai oleh Kuntz Agus, Sadali dikemas dengan pendekatan penceritaan yang intim dan sinematografi yang puitis. Film ini menyoroti sisi rapuh seorang pria ketika kehilangan sosok perempuan yang dicintainya, sekaligus menggambarkan bagaimana cinta dapat menjadi sumber harapan sekaligus luka. Kekuatan cerita juga diperkuat oleh gaya khas penulis Pidie Baiq, yang kembali menghadirkan dialog-dialog penuh rasa dan "gombalan" sederhana namun membekas di hati penonton.

"Sadali adalah film tentang perasaan yang sering kita pendam-tentang cinta yang tidak selesai, pilihan yang tertunda, dan keberanian untuk menerima kenyataan," ujar Kuntz Agus, sutradara Sadali. "Saya ingin menghadirkan cerita yang terasa dekat dengan penonton, personal, dan jujur secara emosi."

Sementara itu, Raam Punjabi selaku produser menyampaikan bahwa Sadali hadir sebagai kelanjutan yang matang dari kisah sebelumnya. "Melalui Sadali, kami ingin melanjutkan cerita yang sudah memiliki tempat di hati penonton dengan pendekatan yang lebih emosional dan relevan. Film ini kami harapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan makna cinta, kehilangan, dan keikhlasan," ungkapnya.

Pemutaran perdana film Sadali ini menjadi momen spesial bagi para pemain, kru, sineas, serta rekan media untuk menyaksikan film ini untuk pertama kalinya di layar lebar. Acara ini juga menjadi selebrasi atas proses kreatif panjang dan kolaborasi di balik layar yang melahirkan kisah penuh emosi ini.

"Akhirnya film Sadali tayang juga. Aku sudah lama menunggu film ini. Walaupun aku tahu garis besar ceritanya, aku tetap penasaran dengan hasil akhirnya-terutama bagaimana editing dan ending-nya," ujar Ajil Ditto, pemeran utama dalam film ini.

Melalui Sadali, para pembuat film berharap dapat menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman emosional yang membekas dan membuka ruang refleksi bagi penonton tentang cinta, pilihan, dan keberanian untuk merelakan.


Film "Sadali" dapat disaksikan mulai 5 Februari 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

Melawan Sepi di 2026 Dengan Album Perdana Ricecooker, “Favorite Dinner Guest”


Sebulan telah berlalu di tahun baru ini. Bagaimana resolusimu? Apakah ada yang mengingatkanmu untuk konsisten? Ataukah hari ini kamu pulang dari kantor ke rumah yang sepi? Untuk Ricecooker, melawan sepi menjadi benang merah pada album perdana mereka, “Favorite Dinner Guest”. Berartikan “Tamu Makan Malam Favorit”, band asal Jakarta ini siap menemani anda tahun ini dalam mencari orang tersebut dihidupmu.

Dua tahun merilis lagu demi lagu, Ricecooker sudah banyak menjalani fase dan meraih pencapaian. Dari lagu Moving On dan Sunday Song yang dipakai dalam series “My Nerd Girl 3” di layanan streaming Vidio, hingga Original Soundtrack (OST) pertama mereka, If You Let Me, untuk film “Cinta Tak Seindah Drama Korea”, yang sempat menjadi film nomor 1 di Netflix seluruh Indonesia. “Setelah mendapatkan banyak oportunitas yang sangat kami syukuri, kami rasa sudah saatnya untuk merilis sebuah album.” Ujar Will Mara, salah satu personil Ricecooker dan produser untuk penyanyi-penyanyi terkemuka Indonesia seperti Nadin Amizah dan Raissa Anggiani. 

Bayangkan sebuah keseharian tipikal zaman sekarang. Setelah seharian penuh di kantor dan bersempitan di kereta, kamu pulang ke kosan dan duduk di meja untuk menyantap makan malam yang kamu beli dijalan pulang. Disitu kamu menonton livestream favoritmu bersama ribuan orang lain yang saling berbincang. Namun kamu menulis “hahaha” dengan muka yang rata, sendirian. “Loneliness Epidemic (epidemi kesepian) adalah tema yang kami angkat di album ini”, ujar Alif Ibrahim, gitaris Ricecooker yang sebagai seorang penulis telah merilis artikel di Inggris dan German. Dia menambahkan, “menurut WHO, kekurangannya koneksi yang bermakna bisa menjadi bibit penyakit dari depresi bahkan ke penyakit jangka lama seperti serangan jantung. Oleh karena itu, album kami memfokuskan cerita dan cara-cara untuk kita menerima rasa sakit dan kembali membuka hati untuk orang lain sehingga akhirnya mendapatkan seorang Favorite Dinner Guest.”  

“Untuk perilisan album ini, kami merasa lagu Smitten berperan sebagai benang merahnya.” ucap Jerome Kurnia, vokalis Ricecooker, yang tahun lalu mendapatkan nominasi Indonesian Film Festival (IFF) untuk perannya di film Perang Kota. “Kalau dalam Bahasa Indonesia, Smitten sebenarnya artinya jatuh cinta atau terpikat. Tapi perasaannya lebih intens, manis, dan tidak rasional. Seperti kegembiraan yang tidak dapat diucapkan lewat kata-kata,” tambahnya. Khusus untuk lagu tersebut, Ricecooker meminta bantuan oleh Arash Buana untuk menciptakan dan memproduserinya. “Rasa indahnya jatuh cinta tidak cukup rasanya jika hanya diucapkan oleh kata-kata dan melodi yang manis. Buat kami, Arash [Buana] memiliki talenta dalam bermain piano yang tidak ada duanya.” 

Memang benar, dari pertama kali memutar lagu Smitten, yang menjadi fokus album ini, terdengar iringan piano yang begitu manis dan lembut, beserta suara biola dan alat-alat tiup yang dilengkapi oleh iringan paduan suara yang menyelimuti seluruh badan. Lagu ini, beserta dengan sepuluh lagu lainnya di album Favorite Dinner Guest tersedia di seluruh platform musik digital mulai 30 Januari 2026.

 

Track List Album Favorite Dinner Guest

 

Talk To Me

I Gotchu

Sundang Song

Smitten

Learn on a Friend

Good Morning, Goodbye

Ghost On The Dancefloor

Lost in Seoul

Woul U Mind

forevermore

Moving On

Mario G Klau Rilis Single Terbaru ‘Salah Kaprah’, Tentang Berani Maju Sebelum Terjebak Persepsi

Mario G Klau kembali dengan single terbarunya berjudul ‘Salah Kaprah’, sebuah lagu yang mengangkat kisah tentang keberanian menghadapi rasa, alih-alih terjebak pada asumsi dan ketakutan yang belum tentu nyata. Dengan nuansa hangat dan emosional, lagu ini merefleksikan pengalaman jatuh cinta yang kerap dimulai dari prasangka, lalu berubah ketika keberanian akhirnya mengambil alih.

‘Salah Kaprah’ berangkat dari kisah personal Mario, tentang mengenal seseorang dari kejauhan terlalu lama hingga akhirnya menyimpulkan banyak hal tanpa pernah benar-benar mencoba mendekat. Menurut Mario, terlalu sering seseorang memilih mundur sebelum memberi dirinya sendiri kesempatan. “Kadang kita keburu nyerah dan ambil kesimpulan sebelum benar-benar mencoba. Padahal kalau kita nggak maju dulu, kita nggak akan pernah tahu jawabannya. Ditolak atau diterima itu urusan belakangan, yang penting berani maju,” ungkap Mario G Klau.

Lagu ini juga menangkap momen ketika pertemuan yang selama ini ditakuti justru berujung pada kehangatan yang tak terduga. Perasaan jatuh cinta yang hadir dengan cepat menjadi inti emosi dalam ‘Salah Kaprah’, digambarkan melalui lirik-lirik visual dan intim. “Pertemuan itu ternyata nggak seseram yang aku bayangkan. Justru indah, seolah tanpa banyak kata kita sudah saling mengerti, padahal baru pertama kali benar-benar bertemu,” tambahnya.

Salah satu lirik kunci dalam lagu ini, “tanggung jawab aku jatuh cinta pada dirimu”, menjadi pernyataan emosional yang kuat. Bagi Mario, cinta bukan hanya soal perasaan, tetapi juga keberanian untuk menyampaikannya. “Buat aku, tanggung jawab dalam cinta itu berani menyampaikan rasa. Memberi ruang supaya perasaan itu bisa direspons. Mau atau nggak, yang penting kita sudah jujur,” kata Mario.

Dari sisi musikal, ‘Salah Kaprah’ dibalut dengan aransemen yang hangat dan sedikit upbeat, mencerminkan fase jatuh cinta yang bahagia. Lagu ini ditulis dan dibawakan oleh Mario G Klau, diproduseri oleh Mardenwil, dengan sentuhan piano dari Willy Alexander serta aransemen yang memperkuat nuansa ceria tanpa kehilangan kejujuran emosinya. Proses vokal turut diarahkan oleh Mohammed Kamga, memastikan penyampaian rasa yang dekat dan tulus.

Melalui ‘Salah Kaprah’, Mario G Klau berharap lagu ini dapat menemani para pendengar, terutama mereka yang kerap meragukan diri sendiri, untuk berani melangkah dan tidak terjebak pada asumsi. Sebuah pengingat bahwa terkadang, satu-satunya kesalahan adalah tidak mencoba sama sekali. Single terbaru Mario G Klau, ‘Salah Kaprah’ kini telah tersedia di seluruh platform digital streaming.

 

Executive producer: Wecord Evermore Indonesia

Atmosen by: Mario G klau

Performed by: Mario G klau

Produced by: "Mardenwil" music

Piano by: Willy alexander

Keys & Synth by: Denny Erka, Willy alexander

Guitars By: Lutfi Firmansyah

Bass By: Rudy Zulkarnaen

Percussion By: Ayla Adjie

Drums & Programming by: Denny Erka

Backing Vocals By: Mario g klau & Lula Maura

Vocals directed: kamga Mo

Vocals recorded at: Sony Music Studio, engineered by : Yusuf Albantani

Vocal edited by: Denny Erka

Mixed and Mastered by: Ano stevano

Kamis, 29 Januari 2026

Penyanyi Cilik, Lindee Cremona Lepas Single "Senyum Papa"


Jakarta - Penyanyi cilik, Lindee Cremona kembali menghadirkan karya terbaru berupa single berjudul "Senyum Papa" dalam format digital, setelah sebelumnya menyentuh hati pendengar melalui single "Mama".


Lagu ini menjadi lanjutan cerita tentang cinta keluarga dari sudut pandang seorang anak, kali ini menyoroti sosok ayah yang kerap terlihat kuat dan penuh senyum, meski menyimpan banyak pengorbanan demi keluarga namun selalu disimpan dalam diam.


Lagu "Senyum Papa" diciptakan oleh Albert Kenchen. Lewat karya ini, Lindee menyampaikan rasa cinta, kebanggaan, dan doa tulus agar sang papa selalu sehat dan bahagia menjalani hidup.


Jika lagu "Mama" berbicara tentang kasih ibu yang tak tergantikan, maka single "Senyum Papa" hadir sebagai pelengkap yang mengangkat peran ayah dalam kehangatan keluarga.


Lindee Cremona, yang akrab disapa Lindee, lahir di Jakarta pada 24 April 2014 dan kini berusia 11 tahun. Ia mulai menekuni dunia tarik suara sejak tahun 2023, saat pertama kali tampil di panggung sekolah dan menunjukkan ketertarikan yang kuat pada musik.


Sejak saat itu, Lindee terus mengembangkan kemampuannya melalui latihan vokal dan mulai merilis karya-karya dengan pesan positif dan nilai keluarga.


Dibawakan dengan vokal dan penghayatan yang natural, single Senyum Papa" terasa hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lagu ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, tetapi juga dapat dinikmati oleh orang tua dan keluarga secara luas.


Kesederhanaan lirik dan penyampaian menjadi kekuatan utama yang membuat lagu ini mudah menyentuh perasaan pendengarnya.


Melalui rangkaian lagu "Mama" dan "Senyum Papa", Lindee Cremona membangun identitas musikal yang konsisten dengan tema cinta keluarga. Orang tua Lindee berharap musik dapat menjadi media positif bagi tumbuh kembang Lindee, sekaligus bekal untuk masa depannya.


Ke depannya, Lindee direncanakan untuk terus berkarya dan merilis lagu-lagu baru sebagai bagian dari perjalanan musik jangka panjangnya. Lindee berharap lagu "Senyum Papa" dapat menghadirkan senyum dan kehangatan bagi siapa pun yang mendengarkannya, serta menjadi pengingat sederhana tentang arti kasih sayang seorang ayah.


Single "Senyum Papa" milik Lindee Cremona resmi dirilis pada 25 Januari 2026 di YouTube serta seluruh platform pemutar musik digital.

Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) Jadi Obat Pusing Nasional! Suguhkan Cerita yang Relevan Sekaligus Menyegarkan

Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) tayang mulai 5 Februari 2026 di bioskop

Jakarta, 29 Januari 2026 - Amanda Manopo dan Fajar Sadboy kembali mencuri perhatian dalam peran mereka sebagai kakak-adik Tina dan Umski di film drama komedi persembahan Scovi Films & Rapi Films, Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Film yang mengangkat cerita tentang dinamika orang-orang yang terjerat pinjol dan mereka yang berada di balik gurita pinjol ilegal ini memberikan kesegaran komedi, dengan cerita yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat.

Awalnya, hidup Tina tampak baik-baik saja. Dia adalah pemenang kontes kecantikan di sebuah mall. Tapi, karena Tina boros dan gila belanja, ia pun sampai melakukan pinjaman online (pinjol).

Karena utangnya yang menumpuk, ditambah ia harus membiayai adiknya, Umksi, Tina akhirnya kalap! Ia pun menjadi 'buronan' para penagih utang. Karena tak sanggup bayar, Tina akhirnya membuat kesepakatan untuk bisa bekerja di kantor pinjol yang ia utangi.

Di tengah perjalanan, Tina justru bertemu dengan Mail (Devano), seorang DJ yang adiknya juga terlilit pinjol. Bersama Mail, Tina justru mengarungi perjalanan yang tak terduga. Mereka mengungkap bisnis pinjol ilegal yang telah memakan banyak korban.

Cerita di film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) dibangun dengan lensa yang dekat dengan penonton. Sutradara Surya Ardy Octaviand menampilkan realitas masyarakat kelas bawah secara real dengan permasalahan yang dihadapi. Film ini semakin menghibur dengan penampilan para karakternya yang tak terduga, dan seperti cerminan yang juga mengajak kita untuk menertawakan nasib.

"Karakter-karakter yang ada di film CAPER ini menjadi perwakilan dari masyarakat kelas bawah urban. Kami ingin film CAPER menjadi Obat Pusing Nasional," ungkap produser, penulis, dan sutradara film CAPER Surya Ardy Octaviand.

Film CAPER diproduseri oleh Surya Ardy Octaviand bersama Sunar S Samtani. Selain memproduseri dan menyutradarai, Ardy juga turut menulis naskahnya bersama penulis naskah pemenang Piala Citra FFI 2025 Widya Arifianti.


Selain Amanda Manopo, Fajar Sadboy, dan Devano, film ini juga dibintangi oleh Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Merry Sanger, Martin Carter, Sastra Silalahi, Jovial Da Lopez, Richard Derrick, dan Arnold Kobogau.

Produser Sunar S Samtani mengungkapkan film CAPER ingin menghadirkan hiburan dengan nilai yang bisa menjadi pelajaran bagi penonton dan masyarakat Indonesia.

"Mungkin banyak dari kita yang pernah berada di titik nol, sama seperti karakter-karakter yang ada di film CAPER. Film ini ingin mengajak kita semua memiliki resiliensi terhadap masalah yang sedang dihadapi dalam hidup, lewat komedi," ujar produser Sunar S Samtani.

Bagi Amanda Manopo, karakter Tina bisa menjadi ruang untuk berefleksi terutama untuk para perempuan dalam memilih jalan hidup saat ini, terlebih di era serba flexing di media sosial. Menurut Amanda, Tina jadi contoh yang sangat relevan jika kita tak mampu mengontrol hasrat kesenangan duniawi.

"Jangan jadi Tina yang kalap dan boros. Kalau kita enggak pandai-pandai mengatur finansial kita, bisa-bisa jadi seperti Tina yang cari jalan instan dengan pakai pinjol demi kesenangan sesaat. Film CAPER itu bisa mengingatkan kita pada hal yang penting banget untuk dilakukan saat ini, dan ngasih tahunya dengan cara yang fun lewat komedi yang bikin kita ngakak saat nonton," kata Amanda Manopo.

Fajar Sadboy, yang mendapat kesempatan memiliki peran besar untuk pertama kalinya di layar lebar mengungkapkan dirinya merasa beruntung bisa belajar akting dari sesama rekan pemain, termasuk dari mereka yang telah memulai lebih dulu di dunia seni peran.

"Dari film ini, aku bisa belajar lebih banyak lagi tentang akting. Senang bisa ketemu sama teman-teman pemain lainnya, jadi aku bisa nambah ilmu. Belum lagi film ini juga ngajarin kita buat bisa lebih bijak mengatur keuangan," kata Fajar Sadboy.

Penampilan berbeda sekaligus tantangan dihadapi oleh Devano. Ia yang sebelumnya memerankan karakter yang serius, kini harus berubah 180 derajat. Devano menjelma menjadi seorang jamet tulen, dengan musik DJ funkot-nya.

Tak hanya memerankan sebagai seorang DJ bernama DJ Smile atau Mail, Devano juga ditugaskan untuk mengisi OST film yang terdengar syahdu dan mengajak kita untuk bergoyang.

"Pak Ardy memberikanku karakter yang berbeda dari pengalaman aktingku sebelum-sebelumnya. Sebagai yang baru memulai akting, aku merasa penting sekali untuk bisa mencapai berbagai peran dan karakter. Dan karakter DJ Smile di film ini membantu aku untuk semakin mematangkan aktingku ke depan," ungkap Devano.

Jadilah saksi dari aksi kocak yang bikin rahang capek tertawa bersama Amanda Manopo dan Fajar Sadboy, serta penampilan paling berbeda dari Devano di film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Tonton mulai 5 Februari 2026 di bioskop Indonesia. Ikuti perkembangan terbaru film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) melalui akun media sosial resmi.


Sinopsis
Demi melunasi utang pinjaman online, Tina (Amanda Manopo) perempuan pemenang kontes kecantikan murahan yang boros dan gila belanja, terpaksa bekerja di kantor pinjaman online tersebut, demi membiayai adik semata wayangnya Umski (Fajar Sadboy) dan untuk melunasi utang-utangnya.

Selama perjalanan mengungkap bisnis pinjol illegal, ia juga bertemu dengan korban pinjol ilegal yang lain, Mail (Devano). Tanpa sadar, mereka mengungkap sosok di balik gurita bisnis pinjol ilegal yang melibatkan orang-orang penting di dalamnya.

Catatan Produksi:
Judul Film : Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER)
Produksi : Scovi Films & RAPI Films
Sutradara : Surya Ardy Octaviand
Penulis : Widya Arifianti & Surya Ardy Octaviand
Produser : Sunar Samtani & Surya Ardy Octaviand
Genre : Drama komedi
Pemain : Amanda Manopo, Fajar Sadboy, Devano, Jovial Da Lopez, Sastra Silalahi, Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Merry Sanger, Richard Derrick, Arnold Kobogau, dan Martin Carter.

Dilema Ruko dan Karpet Merah: "AIU-EO MACAM BETOOL AJA!" Bawa Napas Pasar ke Panggung Elit XXI Epicentrum



Jakarta, 28 Januari 2026 – Ada pemandangan yang tak biasa di XXI Epicentrum, Jakarta, pada Rabu petang ini. Kawasan bioskop kelas atas tersebut mendadak berubah menjadi arena perayaan budaya pop yang membumi. Tunas Citrasinema Kreatif Entertainment menggelar malam puncak selebrasi untuk film *"AIU-EO MACAM BETOOL AJA!"* , sebuah karya yang membuktikan bahwa cerita dari lorong-lorong ruko pasar memiliki daya pikat yang sejajar dengan gemerlap layar lebar.

Acara yang merangkum Press Screening, Press Conference, hingga Gala Premiere ini menjadi ajang pembuktian bagi Sutradara Etiene Caesar dan Executive Produser Cing Kyatt dalam meramu komedi situasional yang sarat akan kritik sosial namun tetap menghibur.

Karnaval di Karpet Merah: Sebuah Deklarasi Seni

Alih-alih hanya sesi foto statis, rangkaian red carpet malam ini bertransformasi menjadi pertunjukan teatrikal yang megah. Penonton disuguhi koreografi tarian yang sinkron dengan alunan musik enerjik, disusul dengan gelaran fashion show yang menampilkan para pemeran utama dalam balutan busana yang memadukan estetika jalanan (streetwear) dengan sentuhan elegan.

Suasana semakin hidup dengan kehadiran berbagai tenant gaya hidup—mulai dari kuliner artisan hingga pajangan outfit eksklusif—menciptakan ekosistem promosi film yang modern dan terintegrasi. Hal ini menunjukkan ambisi produser untuk menjadikan film ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah tren gaya hidup baru.

Sinematika Kehidupan: Dilema Moral AIU-EO


Film yang akan tayang secara nasional 12 Februari 2026 ini mengeksplorasi perjalanan Alung (Lolox), Igor (Oki Rengga), dan Ujay (Adi Sudirja). Sebagai tim Event Organizer (EO) freelance yang mencoba peruntungan dengan mendirikan usaha mandiri di ruko pasar, ketiganya terjebak dalam pusaran konflik yang tak terduga.

Mimpi mereka untuk naik kelas melalui proyek pernikahan mewah milik konglomerat Udin (Ronny P. Tjandra) seketika goyah. Kehadiran Sofia (Michelle Ziudith) sebagai calon mempelai wanita sekaligus masa lalu Igor, memicu konflik batin: haruskah mereka tetap profesional mengejar keuntungan, atau mengkhianati klien demi menyelamatkan hati orang tersayang?

Benturan Genre dan Kedalaman Akting

Keberhasilan film ini terletak pada kemampuannya menyeimbangkan slapstik dengan drama yang dewasa. Trio Lolox, Oki Rengga, dan Adi Sudirja memberikan performa komedi yang eksplosif, namun tetap terkontrol. Kontras tersebut semakin tajam berkat kehadiran Mathias Muchus yang memberikan kewibawaan pada narasi, serta Andri Mashadi dan Gemi Nastiti yang memperkuat lapisan konflik antarkarakter.

Penampilan Michelle Ziudith sebagai Sofia patut mendapat sorotan khusus. Ia berhasil melepaskan citra protagonis manisnya menjadi sosok yang manipulatif namun rapuh, memberikan dimensi psikologis pada film yang semula dikira komedi ringan ini.

Visi Sinema Berbasis Kedekatan Sosial

Dalam sesi konferensi pers, Executive Produser Cing Kyatt menekankan bahwa pemilihan ruko pasar sebagai latar bukan tanpa alasan. "Kami ingin menghadirkan film yang berbicara tentang ketahanan mental masyarakat kita. Bagaimana kita menertawakan kemalangan sambil tetap berjuang mempertahankan prinsip," tuturnya.

Didukung oleh jajaran pemain berbakat seperti Nella Regar, Rina Sidabutar, Karyn Putri, Ciax, hingga Ronny P. Tjandra, film ini secara cerdik membedah struktur sosial tanpa harus terasa menggurui.

Analisis Singkat Redaksi:

"AIU-EO MACAM BETOOL AJA!" adalah sebuah anomali yang menyegarkan. Di tengah tren film horor yang mendominasi bioskop, film ini berani bertaruh pada kekuatan naskah komedi romantis dan kedekatan karakter dengan penonton. Dengan eksekusi Gala Premiere yang begitu meriah, film ini mengukuhkan diri sebagai tontonan "paket lengkap" yang merayakan kemanusiaan melalui tawa.


Informasi Film:
Produksi: Tunas Citrasinema Kreatif Entertainment
Sutradara: Etiene Caesar
Jadwal Tayang: Mulai 12 Januari 2026 di seluruh Indonesia.
Pemain:  
1. Michelle Ziudith sebagai Sofia 
2. Oki Rengga sebagai Ujay
3. Lolox sebagai Alung
4. Andri Mashadi sebagai Igor (Anggota AIU-EO) 
5. Adi Sudirja sebagai Udin
6. Saurina Sidabutar sebagai Mamak Udin
7. Mathias Muchus sebagai Ayah Sofia
8. Nella Regar sebagai Ibu Sofia
9. Wak Limpol sebagai Ayah Ujay
10. Ronny P. Tjandra sebagai Papih Alung 
11. Muhammad Rizky sebagai Ciax (bodyguard Udin)
12. Ilham Abay sebagai Preman Pasar
13. Gemi Nastiti sebagai Debora (Sahabat Sofia)
14. Karin sebagai Klien Nikah (Trio AIU-EO)
15. Suci sebagai Penjual BH
16. Joel Purba sebagai Komika
17. Arief Muhammad sebagai William
18. Hasan Gokong sebagai Steven Fengshui (Si Paling ahli fengshui, yaitu salah satu sosok saksi perjuangan Trio AIU-EO dalam titik balik kisah perjuangan Alung, Igor, dan Ujay)

Rabu, 28 Januari 2026

Film Na Willa Karya Kreator JUMBO Resmi Merilis Teaser Poster, Hadirkan Kekaguman Terhadap Banyak Hal dari Sudut Pandang Anak

Film Na Willa tayang Lebaran tahun ini di bioskop

Jakarta, 28 Januari 2026 - Visinema Studios resmi merilis teaser poster terbaru film Na Willa, yang akan tayang di bioskop Indonesia pada Lebaran 2026. Poster ini mengajak penonton melangkah lebih dekat ke dunia Na Willa dunia yang dilihat dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun, di mana hal-hal sederhana terasa besar, ajaib, dan penuh imajinasi.

Berbeda dari poster sebelumnya, teaser poster terbaru Na Willa menangkap bagaimana seorang anak memandang dunia di sekitarnya. Tubuh Na Willa terasa kecil, sementara benda-benda yang akrab dalam keseharian seperti kaleng kerupuk, radio, hingga buah pisang hadir dalam skala yang terasa raksasa, magis, dan sinematik. Inilah petunjuk awal tentang perasaan yang akan dibawa film ini saat ditonton di bioskop: keajaiban-keajaiban kecil yang lahir dari cara anak memaknai dunia.

Karakter utama Na Willa yang diperankan Luisa Adreena, sangat menyukai pisang dan mendengarkan radio. Kedua benda itu pun dimunculkan dalam teaser poster yang menggemaskan dan terasa magical dalam dunia realis. Sementara itu, tangan Na Willa menggapai tutup kaleng kerupuk yang dilihatnya begitu besar.

"Lewat sudut pandang Na Willa, kami ingin mengajak penonton kembali merasakan bagaimana melihat dunia dengan rasa kagum seperti anak-anak di dalam diri kita yang penuh imajinasi, rasa ingin tahu, dan kehangatan yang kerap terlupakan seiring bertambahnya usia," ujar Anggia Kharisma, produser Na Willa, Jumbo yang juga Chief Content Officer Visinema Studios. "Hal Ini sejalan dengan misi Visinema Studios untuk menghadirkan film keluarga yang bukan hanya ditonton, tetapi juga dirasakan bersama."

Na Willa digarap oleh tim kreator Jumbo, film mega blockbuster Indonesia yang meraih lebih dari 10 juta penonton. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy, dengan Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai produser. Film ini dibintangi oleh pendatang baru Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama Irma Rihi (nominasi Aktris Pendukung Terbaik Film Pilihan Tempo 2024) sebagai Mak, serta Junior Liem sebagai Pak. Selain itu, turut bermain Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, dan Putri Ayudya.

Na Willa merupakan film live-action pertama yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy, yang juga merupakan penulis naskah. "Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton menyusuri Indonesia di era 1960-an dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun ketika dunia kecil terasa luas dan penuh kemungkinan," ujar Ryan. "Dari kacamata anak, hal-hal sederhana seperti rumah, gang, radio, atau kaleng kerupuk bisa terasa hidup dan magis. Perspektif inilah yang ingin kami hadirkan: cara melihat dunia dengan rasa ingin tahu, imajinasi, dan kepekaan yang jujur."

Penulis buku Na Willa, Reda Gaudiamo, menyambut dengan antusias perilisan teaser poster film ini. "Ada perasaan yang sangat hangat saat melihat cerita Na Willa hadir di layar lebar. Ryan Adriandhy dan Visinema Studios mampu menghidupkan imajinasi Willa kecil menjadi sebuah karya baru yang terasa begitu hangat dan memeluk - baik untuk anak-anak maupun orang dewasa," ujar Reda.

Diceritakan dari sudut pandang anak kecil, Na Willa adalah film keluarga Lebaran yang hangat dan magis, menghadirkan pengalaman menonton yang mengajak anak-anak dan orang dewasa melihat kembali dunia dengan rasa kagum dan imajinasi.

Tonton petualangan yang penuh keajaiban dan kehangatan bersama film Na Willa pada Lebaran 2026 di bioskop Indonesia!

Sinopsis

Na Willa mengisahkan Willa, gadis kecil enam tahun yang percaya dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan magis. Tempat di mana lagu dari radio terasa hidup, kios langganan yang selalu penuh kejutan, dan setiap hari adalah hari untuk bertualang bersama teman-temannya.

Namun ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan satu per satu teman bermainnya mulai masuk sekolah, dunia Willa perlahan berubah dan terasa semakin sepi, membuat Willa bertekad mengikuti teman-temannya ke bangku TK, dengan harapan semua bisa kembali seperti semula.

Masuk sekolah justru membuka dunia baru yang terasa asing: penuh aturan, batasan, dan rasa tidak dimengerti. Di sanalah Willa perlahan belajar bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan. Bahwa keajaiban tidak selalu hilang hanya berpindah tempat.

Diceritakan dari sudut pandang anak kecil, Na Willa adalah film keluarga Lebaran yang hangat dan magis, menghadirkan pengalaman menonton yang mengajak anak-anak dan orang dewasa melihat kembali dunia dengan rasa kagum dan imajinasi.

Catatan Produksi:
Judul Film : Na Willa
Genre : Drama, Keluarga
Sutradara : Ryan Adriandhy
Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem
Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari
Ko-Produser : Mia A. Santosa
Produser Lini : Tersi Eva Ranti
Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda
Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya
Sinematografer : Yadi Sugandi
Desainer Produksi : Sri Rini Handayani
Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak
Penata Rias : Notje M. Tatipata
Penata Suara : Siti Asifa Nasution
Penyunting : Teguh Raharjo
Komposer : Ofel Obaja
Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya.

Marcell dan Rima Melati Adams Sajikan Sebuah Refleksi Tentang Cinta, Komitmen dan Pilihan “Mulanya Disini”

Penyanyi ternama Indonesia, Marcell Siahaan, kembali menghadirkan karya terbaru berjudul ‘Mulanya Disini’, sebuah intepretasi ulang dari lagu klasik tahun 80-an milik band Malaysia bernama Freedom. Dalam versi terbarunya ini, Marcell menggandeng Rima Melati Adams, yang tak hanya hadir sebagai kolaborator, tetapi juga sebagai pasangan hidupnya.  Lewat ‘Mulanya Disini’, Marcell memilih pendekatan yang jujur nan bersahaja. Lagu ini disampaikan tanpa upaya untuk membesarkannya secara berlebihan, justru dengan menjaga ruang agar maknanya tumbuh secara alami. Pesan tentang kebersamaan, kesabaran serta tanggung jawab dalam sebuah hubungan menjadi inti yang ingin disampaikan Marcell dan Rima di lagu ini.

“Lagu ini tidak perlu dibuat lebih besar dari dirinya sendiri,” kata Marcell. “Keindahannya ada pada kejujuran. Tugas kami hanya menyampaikannya dengan tulus,” lanjutnya. Kehadiran Rima Melati Adams justru memberikan lapisan makna yang sangat personal di lagu ini. ‘Mulanya Disini’ sudah dia kenal sejak kecil, saat dirinya tumbuh besar di Singapura. Kini, setelah menjalani lebih dari tujuh belas tahun pernikahan bersama Marcell, ‘Mulanya Disini’ hadir kembali bukan untuk sekedar sebagai nostalgia semata, melainkan jadi sebuah refleksi perjalanan hidup yaitu tentang cinta yang terus dipilih, dipelihara dan dimulai kembali.

Partisipasi Rima dalam lagu ini juga bukan hal yang asing. Dia juga memiliki rekam jejak panjang di dunia seni dan pertunjukan, termasuk tampil di berbagai program televisi nasional di Singapura dan Malaysia, serta pernah terlibat juga dalam kolaborasi musikal bersama Marcell sebelumnya.  Direkam dengan pendekatan yang intim dan minim ornamen, ‘Mulanya Disini’ mempertemukan dua suara yang dibentuk oleh waktu, kebersamaan dan pertumbuhan. Lagu ini berbicara tentang cinta bukan sebagai konsep ideal, melainkan sebagai keputusan yang diambil setiap hari dan sering kali dimulai kembali dari titik awal. ‘Mulanya Disini’ single kolaborasi dari Marcell Siahaan bersama Rima Melati Adams sudah tersedia dan dapat dinikmati di seluruh digital streaming platform di Indonesia.

 

Track Title: Mulanya Disini

Performed by: Marcell & Rima Melati Adams

Composer: Royston Santa Maria & Syed Haron Ahmad

Producer: Rishanda Singgih

Ex. Producer: Marcell & Rima Melati Adams

Mixing: Rayendra Sunito

PERAHU Kertas adalah salah satu karya Dee Lestari paling populer dan telah berkali-kali lahir dalam berbagai format

Setelah menjadi cerbung digital pertama di Indonesia tahun 2007 silam, ia lahir menjadi buku cetak tahun 2008. Enam tahun setelahnya, tepatnya tahun 2012, buku itu diadaptasi dan lahir menjadi film Perahu Kertas 1 & 2 tahun 2012—yang juga menandai lahirnya lagu OST “Perahu Kertas”, dinyanyikan oleh Maudy Ayunda sebagai pemeran Kugy dalam film. Lagu “Perahu Kertas” pun beroleh Piala Maya 2012 sebagai original soundtrack terbaik. 

Empat belas tahun kemudian, tepatnya akhir Januari 2026 ini, Perahu Kertas lahir menjadi pentas musikal yang digawangi oleh Trinity Optima Production dan Indonesia Kaya. Namun, perjalanannya tak berhenti sampai di sana.  Untuk mengisi album solo ketiganya, Dee Lestari, penulis buku dan skenario film Perahu Kertas, akhirnya menyanyikan sendiri lagu “Perahu Kertas” yang diciptakannya empat belas tahun silam. 

Tentunya, membuat versi baru lagu yang amat populer dengan ratusan juta streaming merupakan tantangan tersendiri. Untuk itu, Dee Lestari dan Tim Management memutuskan beberapa langkah strategis, antara lain dengan menggandeng salah satu Produser terbaik saat ini, Petra Sihombing.  Di tangan Petra, aransemen “Perahu Kertas” berhasil dibarukan dan memiliki distingsi serta karakter tersendiri. Alih-alih gitar akustik, pada aransemen baru ini, Petra mengangkat gitar elektrik yang lebih edgy. Grafik lagu dibuat lebih dinamis dan klimaks. Bersama vocal director Kamga Mo, yang juga ikut mengisi suara latar, harmoni vokal dalam aransemen baru “Perahu Kertas” menjadi lapisan kaya yang ikut menambah kedalaman dimensi lagu ini. 

“Perahu Kertas” versi Dee Lestari terasa dewasa, megah, tanpa kehilangan magis yang membuat lagu ini begitu digemari.  Kelanggengan “Perahu Kertas” membuktikan bahwa keajaiban perjalanan manusia dalam mewujudkan impian, menemukan cinta, dan tambatan hati, merupakan peristiwa universal yang bisa terjadi pada fase apa pun dalam kehidupan.  Video lirik yang melibatkan beberapa footage dari para pembaca buku Dee Lestari yang menginterpretasikan lirik lagu “Perahu Kertas”. Dirajut dengan footage gambar dari lokasi pantai Gili Terawangan, video tersebut semakin menegaskan keindahan relasi manusia—baik persahabatan maupun kisah cinta. 

 

Lagu “Perahu Kertas” rilis serempak di berbagai platform streaming pada 28 Januari 2026 bersamaan dengan video liriknya. Lagu ini akan menjadi single kedua dari album solo Dee Lestari yang rencananya dirilis pada pertengahan tahun 2026.  Dee Lestari menyanyikan dan melahirkan baru lagu “Perahu Kertas” merupakan penegasan atas sosoknya sebagai salah satu penyanyi dan pencipta lagu garis depan

 

Track Tittle: Perahu Kertas

Performed By: Dee Lestari

Composer & Writer: Dee Lestari

Producer: Petra Sihombing

Vocal Director: Kamga Mo

Ex. Producer: Today N' Tomorrow

Mixing & Mastering: Dimas Pradipta

Photography: dr. Tompi

Selasa, 27 Januari 2026

Gala Premiere “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua” Hadir Meriah di Jakarta


Jakarta, 27 Januari 2026 - XXI Epicentrum menjadi saksi kemeriahan gala premier film anak karya Anggi Frisca, Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua. Acara yang digelar secara eksklusif di bioskop ini dihadiri sederet pejabat negara, artis papan atas dan tokoh masyarakat, membawa malam penuh bintang di red carpet yang memukau.

Film ini melanjutkan kisah Tegar dari film sebelumnya, yang bertemu Maira, gadis 12 tahun asal Papua, dalam perjalanan menakjubkan mengangkat persahabatan, keberanian anak-anak, dan perjuangan masyarakat adat menjaga hutan sebagai sumber kehidupan.

“Film ini bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, tapi juga tentang menyelamatkan cara kita memandang hidup,” ujar Anggi Frisca, sutradara Teman Tegar: Maira. “Kami ingin menyederhanakan isu besar seperti krisis iklim menjadi cerita anak-anak yang hangat, jujur, dan membumi.”

Gala premier ini juga menampilkan pendekatan musikal unik, kolaborasi dengan masyarakat Papua, serta kehadiran pemeran utama M Aldifi Tegarajasa dan Elisabet Sisauta, yang membawa karakter Tegar dan Maira hidup di layar.

Acara malam ini menegaskan bahwa Teman Tegar: Maira bukan sekadar film, tetapi gerakan edukatif dan sosial yang lahir dari Bandung, tumbuh hingga Papua, dan kini siap menyapa penonton Indonesia.

Velix Wanggai, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, menegaskan pentingnya optimisme dalam pembangunan Papua.

"Bicara Papua bukan bicara ketertinggalan, tapi tentang peradaban Indonesia ke depan. Malam ini kami hadir untuk memberikan semangat baru bagi agenda pembangunan yang berkelanjutan, menghormati alam dan masyarakat adat."

Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta mengingatkan pentingnya pembangunan yang selaras dengan alam dan manusia. 

"Papua harus menjadi masa depan kita. Kita membangun Indonesia tanpa merusak alam, memastikan masyarakat Papua tetap terkoneksi secara mendalam dengan bangsa."

Sementara itu, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyoroti hubungan manusia dengan hutan dan budaya di Papua.

"Kisah Tegar, Maira, dan masyarakat adat sejalan dengan komitmen kementerian untuk percepatan pengakuan hutan adat. Target kami hingga 2029 adalah 1,4 juta hektar hutan adat yang diakui secara resmi. Film ini mengingatkan kita bahwa hutan bukan sekadar kayu atau bentang alam, tapi ekosistem yang menopang kehidupan dan generasi mendatang."

Gala premier Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua menegaskan bahwa film ini lebih dari sekadar hiburan. Ia merupakan gerakan edukatif dan sosial, mengangkat cerita lokal, pelestarian lingkungan, dan inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk peduli terhadap alam dan budaya.


Dari Inklusi ke Krisis Iklim

Jika film pertama yang diproduksi Aksa Bumi Langit berjudul Tegar berbicara tentang inklusi dan hak anak penyandang disabilitas, maka Maira memperluas semangat tersebut ke isu global yakni climate crisis dan ketahanan masyarakat adat. Film ini tidak memposisikan anak-anak sebagai korban, melainkan sebagai subjek yang punya suara, keberanian dan kemampuan untuk bertindak.

Produser film, dr. Chandra Sembiring, seorang dokter kemanusiaan yang telah bertugas dari satu bencana ke bencana lain, termasuk misi internasional di Afghanistan, menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang.

“Di lapangan kemanusiaan, kita selalu bicara soal kampanye dan sosialisasi, tapi film punya keunggulan: ia masuk ke ingatan orang,” kata Chandra.

“Lewat satu film, kita bisa menjangkau jutaan orang dan menggerakkan empati dengan cara yang lebih manusiawi.”

Berangkat dari pengalaman panjangnya di wilayah konflik, bencana, hutan dan gunung-gunung, Chandra melihat bahwa masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat, sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern.

“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ucap Chandra.

Diproduksi Bersama Papua

Maira – Whisper from Papua tidak hanya mengambil lokasi di Papua, tetapi juga diciptakan bersama Papua. Sebanyak 70 persen kru adalah anak muda Papua, dan mayoritas pemeran merupakan masyarakat lokal yang menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.

Film ini mengambil gambar langsung di kawasan pedalaman Papua, tempat hutan hujan tropis masih berdiri megah, dengan kehadiran burung cendrawasih, rangkong dan lanskap alam yang nyaris tak tersentuh. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pendekatan kolaboratif bersama masyarakat adat, kepala suku, dan seniman lokal.

“Kami tidak ingin Papua hanya jadi latar. Kami ingin ini menjadi karya bersama, dari Papua untuk hutan Indonesia,” tegas Anggi.

Musik sebagai Suara Alam

Keunikan Maira juga terletak pada pendekatan musikalnya. Film ini memadukan dongeng, musik, dan lanskap alam sebagai satu kesatuan narasi.

Penyanyi dan aktris asal Papua Joanita Chatarine memerankan karakter utama Maira, sekaligus memimpin pengembangan musik film. Bersama musisi lokal dan nasional, ia menciptakan komposisi orisinal yang menggabungkan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.

“Banyak anak di Papua yang mungkin tidak bisa membaca, tapi mereka tidak buta nada,” ujar Anggi.
“Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani cerita, alam dan emosi.”

Jejak Prestasi Film Tegar di Panggung Internasional

Kesuksesan Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua tidak lahir dari ruang hampa. Film ini merupakan kelanjutan dari Tegar (2022), film anak karya Anggi Frisca yang telah menjelma menjadi fenomena sosial dan meraih pengakuan luas di tingkat nasional maupun internasional.


Sejak dirilis di Indonesia pada 24 November 2022, Tegar telah ditonton oleh lebih dari 1,7 juta pelajar dari jenjang SD hingga SMA di lebih dari 4.000 sekolah di seluruh Indonesia, serta menjadi bagian dari program edukasi karakter dan inklusi di berbagai daerah.

Di panggung internasional, Tegar membuktikan bahwa kisah lokal dengan nilai kemanusiaan universal mampu menembus batas geografis dan budaya. Film ini meraih berbagai penghargaan bergengsi di lebih dari 22 negara, antara lain:
* Golden Taiga Award, Rusia (2024) – Film Terbaik (Kategori Keluarga)
* Universal Kids Film Festival, Turki (2024) – Film Terbaik
* Golden Butterfly Awards, Iran (2023) – Film Internasional Terbaik & Aktor Terbaik (Pilihan Juri Anak)
* Bulbul Children Film Festival, India (2023) – Film Terbaik
* Children Care International Film Festival, Paris (2023) – Film Terbaik
* Chinese International Children’s Film Festival (2024) – Pemeran Anak Terbaik
* Hungarian Special Film Festival (2024) – Sutradara Terbaik & Aktor Terbaik
* Children’s Film Festival of Wales, Inggris (2024) – Nominasi Sutradara Terbaik & Aktor Terbaik

Pemeran utama Tegar, M Aldifi Tegarajasa, juga mencatat prestasi internasional dengan meraih penghargaan Aktor Terbaik di berbagai festival film anak di Iran, Rusia, Hungaria, dan negara lainnya, menjadikannya salah satu aktor anak Indonesia paling diakui di kancah global.

“Kesuksesan Tegar memberi kami keberanian untuk melangkah lebih jauh,” ujar Anggi Frisca.

“Lewat Maira, kami ingin memperluas percakapan, dari inklusi disabilitas ke isu krisis iklim dan hak masyarakat adat, tanpa kehilangan kejujuran dan keberpihakan pada anak-anak,” jelasnya.

Anggi menambahkan, “Saya menyebut diri saya petani film. Film ini adalah bibit yang kami tanam dengan puluhan tahun pengalaman, kegelisahan, dan cinta pada Indonesia,” ungkapnya.

Melanjutkan Semangat Tegar

Aktor muda M Aldifi Tegarajasa kembali memerankan karakter Tegar, tokoh yang sebelumnya meraih berbagai penghargaan internasional. Ia hadir sebagai sahabat setia Maira, membawa kehangatan, rasa ingin tahu dan perspektif baru tentang dunia di luar kota.

Seperti film pertamanya, Maira tetap mengusung prinsip “Nothing About Us Without Us”, dengan pendekatan produksi yang inklusif, beretika, dan berpihak pada komunitas.

Dengan biaya produksi mencapai Rp9,5 miliar, Teman Tegar: Maira menjadi langkah strategis Aksa Bumi Langit sebagai rumah produksi, bersama KUN Humanity sebagai mitra gerakan sosial.


Tentang Film

Judul: Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua
Genre: Film Anak, Petualangan, Musikal
Tema: Persahabatan, Hutan Adat, Krisis Iklim, Ketahanan Masyarakat Adat
Produksi: Aksa Bumi Langit
Mitra: KUN Humanity
Di tengah hutan Papua, dua anak dari latar belakang berbeda memulai perjalanan yang mengubah hidup mereka, berawal dari rasa ingin tahu terhadap burung cendrawasih, hingga keberanian untuk memperjuangkan hak hutan sebagai masa depan bersama.

Official Trailer Film LIFT Dirilis, Ismi Melinda dan Shareefa Daanish Tampil Intens dalam Drama Psikologis


Jakarta, 27 Januari 2026 — Setelah memperkenalkan atmosfer ceritanya melalui teaser, rumah produksi Trois Films resmi meluncurkan official trailer Film LIFT, sebuah drama psikologis bermuatan misteri yang mengangkat tekanan emosional, rasa bersalah, dan pilihan hidup dalam situasi paling sempit. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.

Film LIFT mempertemukan dua aktris dengan karakter kuat, Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, dalam cerita yang berfokus pada konflik batin dan emosi manusia saat berada di titik terendah. Official trailer yang baru dirilis ini menampilkan sisi emosional para karakter dengan lebih dalam, memperlihatkan bagaimana rasa bersalah, ketakutan, dan naluri bertahan hidup saling berbenturan.

Disutradarai oleh Randy Chans dan diproduseri oleh Ario Sagantoro—produser di balik Merantau dan The Raid 1 & 2—Film LIFT mengajak penonton menyelami konflik batin para karakternya, ketika konsekuensi yang terjadi di masa lalu yang terkubur perlahan kembali menuntut pertanggungjawaban.

Official trailer Film LIFT memperlihatkan lapisan cerita yang lebih utuh dan emosional. Ketegangan tidak hanya hadir dari situasi berbahaya, tetapi juga dari hubungan antar karakter yang dipenuhi rahasia. Ekspresi dan dinamika karakter yang diperankan Ismi Melinda dan Shareefa Daanish menjadi poros utama cerita,menegaskan Film LIFT sebagai drama psikologis yang bertumpu pada emosi, dan tekanan situasi.

Cerita Film LIFT bercerita tentangi Enam tahun pasca kecelakaan maut yang menewaskan Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land, perusahaan konstruksi itu kembali diteror.

Hansen (Verdi Solaiman), sang direktur pengganti, menghilang secara misterius. Linda (Ismi Melinda), staf humas terjebak di dalam lift yang berhenti mendadak. Bersamanya ada Anton (Max Metino), mantan jurnalis rekanan yang kini menjadi podcaster vokal. Melalui interkom, sebuah suara misterius mendikte pergerakan mereka, mengancam membongkar keterlibatan Linda dan Anton dalam menutupi insiden lift enam tahun lalu.

Situasi kian pelik saat Linda menyadari bahwa anaknya, Jonathan (Luthi Saputra), juga telah disandera oleh si pengancam. Pada saat yang sama, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, ikut terseret ke dalam teror setelah menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor malam itu juga. Terkurung dalam ruang sempit dan waktu kian menipis, Linda menghadapi pilihan mustahil: terus menjaga nama baik perusahaan, atau mengkhianatinya demi keselamatan anaknya.

Siapa dalang di balik semua ini, dan apa yang sebenarnya terjadi saat insiden lift enam tahun silam?

Sekitar 60 persen cerita Film LIFT berlangsung di dalam lift, menjadikannya bukan sekadar latar, melainkan ruang psikologis tempat karakter-karakter terdesak oleh waktu, tekanan, dan pilihan yang semakin sempit.

“Saya tidak membuat Lift untuk menjawab pertanyaan penonton, tetapi untuk menempatkan mereka di dalam situasi di mana pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan sendirinya.” ujar sutradara Randy Chans. “Jika penonton beruntung, film ini akan pulang bersama mereka sebagai rasa, atau sebagai pertanyaan yang bertahan lebih lama dari durasinya.”

Ismi Melinda pemeran Linda juga sekaligus produser menyampaikan tantangan harus berakting lebih banyak adegan di dalam sebuah set lift “tantangannya adalah bagaimana menjaga ragam emosi tetap hidup dan membuat penonton terus terhubung, meski ruang dan geraknya sangat terbatas.

Ismi juga menambahkan “Ini juga tantangan tersendiri buat tim produksi, Sutradara, dan DOP bermain dalam pemilihan dan pengambilan shot melalui banyak pendekatan kreatif” Sebelum dirilis di bioskop, Film LIFT telah lebih dulu mendapatkan perhatian di kancah internasional dengan terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, serta meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasy Fest 2025, termasuk kategori Best Feature Film.


Official trailer Film LIFT kini telah dapat disaksikan melalui kanal resmi dan media sosial terkait. Pantau terus akun media sosial resmi kami @lift.movie dan @trois.films untuk mendapatkan kabar terbaru mengenai Lift!

Ceria, Ngakak, Baper dan Bikin Misuh-Misuh! Balas Budi Jadi Tontonan Wajib Bagi Kamu yang Pernah Dikecewakan Cinta

Misi Balas Budi Siap Dijalankan Mulai 5 Februari 2026

Selasa, 27 Januari 2026 - Bersiaplah untuk tertawa sekaligus misuh-misuh serta bisa bikin baper. Rumah produksi Im-a-gin-e, Anami, dan Ten Cuts segera merilis film terbaru mereka karya sutradara Reka Wijaya, Balas Budi, sebuah drama komedi romantis yang ringan namun menggigit. Film ini mengangkat fenomena love scamming (penipuan cinta) yang akan tayang serentak mulai 5 Februari 2026 di seluruh bioskop di Indonesia. Film ini dibintangi oleh Yoshi Sudarso, Michelle Ziudith, Gisella Anastasia, Niken Anjani, Givina hingga aktor senior Asri Welas dan Ferry Salim.

Balas Budi membawa penonton mengikuti perjalanan Alma, seorang wanita yang terjebak tipu daya Budi, pria dengan seribu identitas, mulai dari koki palsu hingga pengusaha gadungan. Alih-alih terpuruk dalam kesedihan, Alma memilih jalan yang lebih seru yakni mengumpulkan sesama korban, Ayu, Uli, dan Thalita, untuk membentuk sebuah tim "detektif amatir" demi membongkar kedok sang penipu.

Komedi romantis yang relate dengan kehidupan perempuan, film ini sengaja dikemas dengan mood yang ringan dan cocok dijadikan tontonan pelepas penat. Penonton tidak akan disuguhi drama yang berat, melainkan aksi-aksi kocak dan dialog spontan khas persahabatan perempuan saat menyusun strategi "balas dendam" yang cerdik. Dinamika antara Alma, Ayu, Uli dan Thalita menunjukkan bahwa di balik setiap musibah, selalu ada ruang untuk tawa jika dihadapi bersama sahabat.

"Film ini sebenarnya punya nilai kuat untuk perempuan di Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa saat perempuan bersatu, tidak ada yang tidak mungkin bahkan menangkap penipu ulung sekalipun. 'Balas Budi bukan tentang kesedihan, tapi tentang bagaimana kita menertawakan masa lalu atau kebodohan yang pernah kita lakukan dan bangkit dengan cara yang seru. Premis film ini tentu memberikan sesuatu yang fresh di bulan Februari ini" ujar produser Im-a-gin-e, Chetan Samtani.

Selain menawarkan hiburan, Balas Budi juga menyelipkan pesan reflektif tentang maraknya penipuan berbasis relasi emosional yang kerap menyasar perempuan. Film ini tidak menggurui atau menghakimi para korbannya, melainkan menempatkan mereka sebagai subjek yang cerdas, dan mampu mengambil kembali kendali atas hidup mereka. Dengan pendekatan yang hangat dan penuh empati, kisah Alma, Ayu, Uli, dan Thalita menjadi representasi bahwa pengalaman pahit bisa diubah menjadi kekuatan ketika dihadapi bersama.


Kami ingin menghadirkan tontonan yang menjadi 'feel good movie' bagi penonton. Isu penipuan memang menyebalkan, tapi lewat pendekatan komedi dan fokus pada persahabatan perempuan, kami ingin memberikan energi positif. Ini adalah film tentang perempuan yang dibalut dengan kumpulan tawa yang bikin penonton games, baper, bahkan sampai. misuh-misuh." jelas sutradara Balas Budi, Reka Wijaya.

Didukung oleh jajaran pemain dengan chemistry yang kuat, Balas Budi berhasil menangkap keintiman persahabatan perempuan yang khas, mulai dari obrolan receh, saling menguatkan, hingga keberanian untuk tertawa atas keputusan bodoh dalam hidup.

Kehadiran karakter-karakter yang dekat dengan keseharian penonton membuat film ini terasa relevan, sekaligus menjadi pengingat bahwa solidaritas dan humor seringkali menjadi senjata paling ampuh untuk melewati masa sulit dan patah hati.

"Syuting 'Balas Budi' terasa seperti nongkrong bareng sahabat sendiri. Energi 'girl power'-nya sangat terasa. Saya rasa penonton perempuan akan banyak melihat diri mereka atau sahabat mereka di dalam karakter-karakter film ini. Lucu, gemas, tapi tetap punya pesan yang kuat papar Gisella Anastasia yang memerankan karakter Thalita.

Dengan pendekatan visual yang penuh warna seperti kisah hidup para korban Budi, bersiaplah untuk tertawa, ikut misuh-misuh, sekaligus terbawa perasaan. Balas Budi menjanjikan pengalaman menonton yang menyegarkan bagi siapa pun yang pernah dikecewakan oleh cinta, namun beruntung memiliki sahabat yang selalu hadir memberi dukungan.


Pastikan Anda menjadi bagian dari Misi Balas Budi yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.

Gala Premiere Film Rajah


Jakarta, 26 Januari 2026 - Rajah itu adalah sebuah karya sastra, sebuah karya lukis dekoratif. Rajah biasanya berisi tentang doa, doa itu adalah harapan baik.

Rajah sebagai tolak bala, tolak sihir, dan lain-lain. Biasanya orang pemegang Rajah rata-rata orangnya diam, hati-hati dalam ucapan, karena pemegang Rajah mempunyai keampuhan ucapan yang mujarab dan tidak mau bicara sembarangan.

Rajah yang sejati akan muncul dari hati yang murni (ketulusan). Apakah kamu memilikinya?

Film RAJAH, Film bergenre Horror Thriller yang disajikan dengan teror psychology yang mencekam, dengan disuguhkan bumbu-bumbu seni tradisi, budaya dan ajaran agama sebagai ajaran luhur leluhur Bangsa Indonesia.


Dengan Latar belakang sejarah sebagai pemantik generasi bangsa untuk selalu mengingat sejarah bangsanya dan lebih mencintai seni budaya bangsa Indonesia.

Film ini di Produksi oleh Eight Senses Film, di Produseri oleh Ditha Samantha, di Sutradarai oleh R Jiwo Kusumo, di bintangi oleh Samuel Rizal, Ditha Samantha, Aditya Zoni, Panji Zoni dan Angel Lisandi Putri.

Film ini akan tayang serentak pada tanggal 26 Februari 2026 di seluruh bioskop Indonesia.


Film Rajah, salah satu film Horror Thriller yang ditunggu-tunggu tahun 2026. Selain banyak adegan-adegan yang menyeramkan dan menegangkan yang dibalut vibes khas Jawa, film ini mengangkat ajaran adiluhur Nusantara. Pada gelaran Gala Premiere tanggal 26 Januari 2026, Film Rajah tampil bukan sekedar sebagai tontonan, melainkan menjadi sebuah terror yang menggemparkan. Film Rajah meramu terror bukan hanya lewat jumpscare, tetapi melalui ketegangan psikologis intens. Film Rajah menjadi salah satu film horror yang wajib di tonton di tahun 2026.

PAMERAN "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar" Siap Dikunjungi di Galeri Lokananta, Surakarta Mulai 27 Januari 2026


Surakarta, Januari 2026 - Masih dalam rangkaian perayaan tiga dekade perjalanan kreatifnya, Miles Films mempersembahkan pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar", sebuah ekshibisi yang mengajak publik menyelami hubungan erat antara musik dan film dalam karya-karya Miles Films. Pameran yang digarap oleh Miles Films berkolaborasi dengan this/PLAY dan Lokananta ini akan berlangsung mulai 27 Januari hingga September 2026 di Ruang Pamer Temporer Galeri Lokananta, Surakarta.

Musik dan film menjadi benang merah yang menautkan perjalanan Miles Films sejak berdiri pada 1995. Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri jejak bunyi, nada, dan gambar yang membentuk identitas estetika Miles Films, dari era analog hingga digital, dari layar lebar hingga ingatan kolektif penonton Indonesia.

Tiga Dekade Sinema dan Musik

Sejak Petualangan Sherina (2000) hingga Rangga & Cinta (2025), rumah produksi Miles Films pimpinan Mira Lesmana dan Riri Riza dikenal konsisten menghadirkan film dengan kekuatan artistik sekaligus kualitas produksi yang tinggi.

Creative Director Miles Films, Riri Riza, menyampaikan, "Musik dalam film memegang peran penting sebagai elemen yang menyatu dengan dialog dan desain suara, membangun emosi dan ritme serta mendukung adegan. Nada-nada dalam film-film Miles bukan sekadar pelengkap, melainkan unsur penting yang membentuk pengalaman emosional penonton dan menandai zamannya."

Deretan penata musik seperti Elfa Secioria, Thoersi Argeswara, Djaduk Ferianto, Melly Goeslaw & Anto Hoed, Indra Lesmana, Andy Ayunir, Aksan Sjuman, Basri S. Sila, Erwin Gutawa, Juang Manyala, Lie Indra Perkasa, hingga Aria Prayogi dan Sherina Munaf menjadi bagian dari perjalanan kreatif Miles Films. Begitu pula para musisi dan band yang melahirkan lagu-lagu ikonis untuk film, di antaranya Eross Candra, Garasi, Mocca, Float, Nidji, Gigi, Bubugiri, Anggun C. Sasmi, Endah N Rhesa, RAN, dan Iwa K yang melekat kuat dalam budaya populer Indonesia.

Eksplorasi Miles Films terhadap musik juga tercermin dalam genre film musikal. Petualangan Sherina membuka kembali ruang musikal anak di layar lebar, disusul Untuk Rena (2005), hingga Rangga & Cinta yang menghadirkan musikal percintaan remaja dalam bahasa generasi baru. Melalui aktor-aktor yang bernyanyi dan menari, film musikal menunjukkan bagaimana musik dan lagu, dengan dukungan gerak tubuh dan ekspresi, berperan besar dalam penceritaan.

Isi Pameran

Melalui pengalaman mendengar dan melihat secara lebih dekat, pameran ini menampilkan proses kerja kreatif di balik produksi musik dan film, mulai dari beragam arsip rilisan musik, artefak kreatif dari lirik hingga notasi musik yang digunakan Miles Films dan instalasi tentang musik dan film serta hubungan erat di antara keduanya. Pengunjung juga diajak "masuk" ke instalasi studio rekaman untuk merasakan magisnya gema suara dan musik yang berpadu dalam gambar.

this/PLAY Studio, studio desain multidisiplin yang dikenal lewat pendekatan eksperimental dan interaktif dalam merancang ruang dan instalasi, merancang pameran ini sebagai ekshibisi yang terus berkembang. Seiring perjalanannya, materi pameran akan diperkaya dengan penambahan konten dan pendekatan presentasi baru, membuka kemungkinan pembacaan yang semakin luas. Dengan demikian, setiap kunjungan, baik di awal maupun di tahap selanjutnya, menawarkan pengalaman yang utuh sekaligus berlapis, memperlihatkan dinamika riset, arsip, dan narasi yang terus hidup.

Sigit D. Pratama, Founder & Lead Spatial Designer .this/PLAY, menambahkan, "Pameran ini secara personal memberikan gambaran bagaimana musik menjadi bagian dari perjalanan visual dalam tubuh film yang utuh. Pameran ini hadir dengan pendekatan tematik dan ruang eksperimental dalam linimasa 30 tahun Miles Films, menjadi perayaan atas relasi dua arah bagaimana Musik/Suara dan Film melalui metode gambar bergerak menjadi satu, utuh dan melengkapi untuk bercerita. Ruang yang menjadi ringkasan perjalanan selama 30 tahun terus hadir mendekatkan gambar dan suara dengan berbagai medium kepada kita para penikmat melalui karya-karyanya."

Lokananta dan Sejarah Musik Indonesia

Pemilihan Lokananta di Surakarta sebagai lokasi pameran memiliki makna tersendiri. Sebagai destinasi cagar budaya musik Indonesia, Lokananta menjadi ruang yang relevan untuk membaca perjalanan musik film dalam konteks yang lebih luas. Pameran ini sekaligus menempatkan karya Miles Films dalam lintasan sejarah sinema dan musik Indonesia, dari era awal film nasional hingga generasi kontemporer.

Wendi Putranto, CEO Lokananta, mengundang semua kalangan, baik penikmat film, pecinta musik, termasuk generasi muda di seluruh nusantara untuk datang berkunjung, "Sungguh kehormatan dan kebanggaan besar bagi Lokananta, dalam perayaan menuju 70 tahun, dapat berkolaborasi dengan Miles Films melalui pameran ini. Selama tiga dekade, Miles Films telah menjadi zeitgeist perfilman Indonesia, melahirkan terobosan-terobosan yang menghidupkan kembali sinema nasional, membuka ruang bagi narasi-narasi baru, serta menegaskan kuatnya relasi antara film, musik, dan gagasan budaya. Kami mengundang publik untuk mendengar kembali, memahami ulang, dan merayakan jejak kreatif Miles Films sebagai bagian tak terpisahkan dari petualangan budaya populer Indonesia."

Produser Mira Lesmana turut menyampaikan harapannya, "Pencarian musik untuk film adalah sebuah proses panjang, yang dilakukan sejak awal menggagas film dengan berkolaborasi bersama musisi. Bersama-sama kami melalui proses belajar dan melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan bentuk musik yang dapat memperkuat film sekaligus bermakna sebagai karya musik itu sendiri. Semoga lewat jejak bunyi, nada dan gambar yang kami tampilkan dalam pameran ini, publik yang berkunjung bisa merasakan semangat kami dalam berkarya, bagaimana perjalanan kreatif ini proses yang menantang sekaligus menyenangkan!"

Pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar" akan diresmikan pada tanggal 26 Januari di Galeri Lokananta, Surakarta, dan terbuka untuk pengunjung umum mulai tanggal 27 Januari hingga September 2026.

MAGMA Entertainment Rilis Poster Resmi Film 'Badut Gendong': Memperkenalkan Wajah Baru dari Universe Qodrat

Jakarta, 18 Maret 2026 - Rumah produksi MAGMA Entertainment resmi menyingkap tabir misteri dari proyek horor-aksi terbarunya, Badut Gendong...